Tuesday, November 2nd, 2010
now browsing by day
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Ruang Gelap
by Ekastri @ekastri
Bagai seorang tahanan, itulah yang harus kujalani selama beberapa bulan belakangan ini.
Mereka membiarkanku meringkuk seorang diri dalam ruang yang gelap, lembab, sempit dan sepi.
Tak tahu apa yang mereka mau dariku. Kadang mereka memanggil dan menggodaku. Di lain waktu mereka sibuk dan tak mengindahkanku.
Belakangan ruang gelap ini semakin tak nyaman. Dinding dalam ruangan semakin menghimpitku, akupun tak dapat bergerak bebas seperti sebelumnya.
Sabar…, hanya itulah yang dapat kulakukan. Jika waktunya tiba aku pasti terbebas dari ruang gelap ini.
Hari yang kutunggu akhirnya datang juga. Seberkas cahaya masuk kedalam ruangan ini.
Dari luar sana kudengar suara berat seseorang.
‘Ibu, ayo dorong yang kuat. Kepala bayinya sudah terlihat, sedikit lagi bu..’
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | 2 Comments »
Tags: Ekastri
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Aku (Bagian 2)
by Daniel Prasatyo (@daprast)
Tak pernah terpikir olehku bahwa takdirku hanyalah menunggu. Menunggu dan menunggu dan menunggu.
Aku telah menunggu cukup lama hingga aku dinyatakan layak memulai perjalananku. Dan ujung pengembaraanku ternyata adalah penantian – penantian lain. Menanti jodohku. Dan kini menanti waktu yang tepat untuk memasuki dunia baru.
Sejak kami bertemu dan bersatu, banyak sekali yang terjadi. Aku dan dia, yang sebenarnya sangat berbeda, justru saling melengkapi. Dia menyempurnakanku. Aku menyempurnakannya. Aku dan dia, saling menyempurnakan. Sepertinya memang inilah yang disebut rencana Tuhan.
Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu pun berlalu. Aku semakin lengkap, semakin sempurna. Semakin hari, tempatku bersandar dan bersemayam menjadi semakin sempit. Nyaman dan hangat. Tetapi sempit dan sesak.
Beberapa waktu yang lalu, aku mulai mendengar suara – suara. Suara yang belum pernah kudengar sebelumnya. Ada suara yang menenangkan, mengalun lembut dan membuai tidur nyenyakku. Ada suara yang menyapaku hangat, memberi kedamaian dalam setiap patah katanya. Ada juga suara yang menggelegar, yang kadang mengejutkanku dan mengusik hatiku. Setiap suara ini terdengar, entah kenapa denyut jantungku menderu.
Untung saja tidak terlalu sering terjadi.
Dan aku telah lelah menunggu. Sebenarnya, aku sudah mulai merasa tak nyaman di sini. Terlalu sempit. Aku tak leluasa bergerak. Dan aku merasa, ada sesuatu yang lebih menarik di luar sana.
Sepertinya, waktu penantianku sudah akan segera berakhir. Tanpa kusadari, aku sudah terdesak. Ada kekuatan yang tak terlihat yang mendorongku keluar. Di satu sisi, aku enggan meninggalkan ruang hangat ini, namun di sisi lain, aku sudah tak sabar melihat dunia baru. Dorongan itu semakin lama semakin kuat. Aku sengaja tidak melawan. Seperti yang pernah dipesankan padaku.
Tiba – tiba aku merasakan sesuatu yang aneh. Tidak ada lagi dinding hangat. Tidak ada lagi ruang. Ada sesuatu yang menangkapku, menahanku, dan menuntunku keluar. Sesuatu yang dingin, tetapi memberi kehangatan. Sesuatu yang .. sulit kujelaskan.
Lalu ada hal lain yang mengejutkanku. Tiba – tiba saja, ada udara segar yang merasuk masuk ke dalam setiap sel paruku. Kesegarannya memberi kenikmatan, yang tidak terlukiskan dengan kata – kata. Kenikmatan yang hanya bisa kugambarkan dengan suara yang kukeluarkan dari dalam tubuhku. Aku menjerit, menangis, penuh syukur dan nikmat.
Suhu dingin di ruang yang jauh lebih besar itu perlahan memudar. Aku merasakan kehangatan. Kehangatan dan kelembutan yang membungkusku, menyentuh kulitku yang masih sangat peka, masih perawan. Lalu kudengar suara itu.
Suara yang lembut, yang selalu bisa mendamaikan dan menenangkanku. Ada isak tangis di sana, namun tidak ada kesedihan yang terasa. Tangisan itu, tangisan bahagia.
Tangisan bahagia seorang ibu, yang sedang menimang buah hatinya yang baru lahir.
(ke seri sebelumnya) (ke seri berikutnya)
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | No Comments »
Tags: Daniel Prasatyo
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Tiara Titan Toto
by Dian Harigelita @harigelita
“Titan udah telpon?” kepala Toto muncul dari balik pintu. Tiara yang sedang bersandar pada tumpukan bantal di sudut kamar hanya menggeleng. Matanya kembali terpaku pada tayangan infotainment, sambil sesekali ia membelai perutnya yang membumbung.
“Eh? Dedeknya nendang yaaa?” Toto memekik riang dan tergopoh meletakkan kantong belanjaannya di lantai, begitu saja. Toto meraba perut Tiara seolah biasa. Tidak ada risih, meski Tiara pacar Titan, sahabatnya.
Antusiasme Tiara tak sebanding Toto yang asyik berbicara dengan permukaan daster biru menggunung kembang-kembang yang dikenakannya. “Beli apa? Laper nih…”
“Oh iya! Tadi aku mampir Kolombo, beli lotek. Sayur bagus, bukan, buat janin? Susu juga sih, tapi kiriman dari Mama belum masuk. Jadi lotek aja sementara,” diambilnya piring dari rak plastik dan sepasang sendok-garpu. Dengan telaten, disajikannya lotek untuk Tiara. Tiara yang selalu luput berterima kasih.
***
Kenyang makan, Tiara tertidur. Telentang pada bantal-bantal. Terdengar dengkuran halus pulas.
Dini hari sebuah motor berhenti di depan kamar kost Toto. Titan! Toto segera menghampiri. Tangannya mengambil helm dan jaket Titan, untuk disimpankan.
“Tiara tidur?”
“Iya, kekenyangan makan lotek kayaknya.”
Lampu teras belum dinyalakan. Gelap dan hanya bayang-bayang samar. Tak terlihat sesiapa bagaimana Titan meremas gemas bokong Toto. Toto yang mengikik tertahan sambil menggelinjang senang.
Mereka berciuman. Pintu mereka tutup dari luar.
“Anakmu tadi nendang tanganku.”
“Anak kita.”
“Hihi, iya ding. ‘Anak kita’,” disandarkannya kepala pada bahu Titan. Titan mengecup ubun-ubunnya mesra.
“Tadi aku udah ketemu dokternya. Yang bisa membuat Tiara terlihat meninggal karena kehabisan darah.”
“Bagus! Aku sudah muak dengan sikapnya yang sok ratu. Biar mampus!” bisik Toto dengan mata nyalang. Ia melorot duduk, merunduk di antara kaki Titan.
Di dalam kamar, Tiara mendengar semua. Ia terbangun karena ketubannya pecah.
***
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | 2 Comments »
Tags: Dian Harigelita
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Kelahiran
by Meliana Indie @melianaindie
Apakah semua perjalanan harus selalu menuju? Tidak bisakah ia menetap dalam rengkuh nyaman yang sunyi seperti rahim? Dalam diam dunia kecil tanpa warna ini, aku berputar serupa rotasi lingkaran yang menghikayati permulaan. Dengannya aku mencintai bau dekapan ibu dalam semesta yang ditandainya hanya denganku.
Dari kabar yang sesekali tersampaikan oleh udara, pun cerita-cerita yang dikisahkan lebih sebagai dongeng dari negeri jauh, kehidupan di luar sana adalah cuaca yang tak pernah pasti terbaca. Seekor kupu-kupu ungu yang kebetulan hinggap di atas permukaan pernah menyanyikan balada tentang air yang dijatuhkan tanpa jeda dari langit, membuat tanah tergenang dan rerumputan tenggelam tanpa udara. Di waktu berbeda, sehelai daun yang menguning luruh berkisah tentang panas yang membakar dari bola api besar di atas langit yang bernama matahari. Belum lagi dari potongan-potongan bisikan yang tertangkap olehku akan bahaya yang dapat menghampiri dalam bentuk lumpur lengket yang menjijikkan, serangga-serangga nakal yang rakus atau bahkan tangan-tangan yang tidak mengerti cinta.
Apakah waktu yang terus berganti mesti selalu menumbuhkan? Tidak bisakah ia berdiam dalam senyap atau mungkin bergelung seperti pusaran tempatku berpusat? Kata ibu, akan ada saatnya aku mendapati sudut yang tepat untuk menerobos ke luar sana. Itu ketika pertumbuhanku yang vertikal secara naluri mencari titik matahari. Ibu bercerita tentang busur pelangi berwarna-warni yang melengkungi langit kemilau seusai hujan, juga tentang bulir air bernama embun yang menggantung di ujung dedaunan pada sapa pertama anak matahari. Tapi, ibu, aku hanya ingin menari di sini, berada dalam ayunan dada ibu yang kukenal. Dunia di luar sana, begitu mencengangkan dan tak terduga. Dan aku tidak ingin membuka mata. Aku takut.
Sayup-sayup kudengar cericit burung yang bersahutan dalam nada yang berloncatan riang, seperti suara yang mengaliri seluruh diriku dengan puisi dari negeri jauh yang bahagia. Kurasakan angin demikian lembut menggoyangkan diriku dalam rengkuhan yang menyenangkan, membuatku sedikit menari dalam iramanya. Pelan-pelan kubuka mataku, merasakan sinar lembut dari langit yang seketika melimpahiku dengan kehangatan. Kuhirup udara yang beraroma pagi, rumput basah dan manis semerbak bunga-bunga jingga. Aku tersenyum, bercermin pada genangan air yang berkilauan di depanku. Lihatlah aku. Sebatang tunas kecil baru tumbuh yang berani. Suatu saat nanti, aku akan menjulang dan berbunga, memancarkan cinta dengan harum, mengundang kupu-kupu dan capung untuk berumah. Tentang dunia baruku yang senantiasa diintai badai dan bencana, aku tak peduli. Sebab bukankah seperti kata ibu, lengkung warna-warni pelangi hanya dapat dilukiskan oleh usai hujan.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | 2 Comments »
Tags: Meliana Indie
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Aleda: Melahirkan Bayang Kesedihan
by Adellia Rosa @adelliarosa
Dua tahun aku terpisah dari pemukiman kampung nelayan yang telah menjadi bagian dari hidupku. Kini aku menjadi pelayan toko yang jauh dari kampungku. Tsunami telah menceraiberaikan segala yang kupunyai. Suami, anak perempuanku, serta harta bendaku lenyap entah ke mana. Rupanya Tuhan masih menyayangiku, Dia membiarkanku hidup dengan harapan suatu hari nanti aku akan bertemu dengan anakku.
**
Aku sedang melayani pengunjung toko ketika aku melihat bocah perempuan yang mirip benar dengan Sisma, anakku. Tanpa pikir panjang aku berteriak memanggilnya. “Sisma! Sisma!” lalu aku berlari menghampirinya. Gadis kecil itu menoleh padaku. “Itu Sisma!” batinku berteriak. Bukan main senangnya aku melihatnya, sampai tanpa sadar aku menabrak seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Wanita itu mengumpat-umpat kasar padaku. Aku buru-buru minta maaf padanya, dan saat aku menoleh, kulihat Sisma sudah tak ada lagi di trotoar tempatnya berada tadi. Seperti kesetanan aku terus meneriakkan namanya. Beberapa orang melihatku keheranan. Aku tak peduli, yang ada di pikiranku hanyalah menemukan Sisma. Aku tak tahu berapa lama aku berteriak dan berlari di trotoar itu, mencari Sisma. Saat kelelahan menderaku, aku terkulai lemas, terjatuh mencium trotorar.
**
“Kau kenapa Aleda?” suara wanita paruh baya membangunkanku. Wanita itu bernama Ibu Rahma, pemilik toko tempatku bekerja. Wanita yang memungutku dari pengungsian karena ibanya padaku. Dia sama denganku, kehilangan keluarganya saat ada kebakaran di rumahnya. “Aku melihat Sisma Bu, anakku…,” jawabku dengan lemah. Tubuhku lemas mengingat kejadian siang tadi. Aku begitu dekat dengan Sisma, dan sekarang aku kehilangan dia lagi. Buliran air mata mulai menuruni kedua belah pipiku. “Anakmu? Kau yakin? Bagaimana mungkin dia di sini Aleda?” tanya Bu Rahma sembari mengusap airmataku. “Mungkin kau berhalusinasi, sama seperti saat di pengungsian. Saat itu kau juga bilang sering melihat Sisma bukan?” lanjut Bu Rahma. Aku mengigil ketakutan, apakah aku berhalusinasi? Sedangkan tadi Sisma tampak begitu nyata.
**
Aku melihat Sisma lagi, kali ini dia sedang bersandar di palang pintu tokoku. Aku yakin itu Sisma! Aku segera merengkuh anak itu dalam pelukanku. Kupeluk dia dengan erat. Namun anak itu malah meronta-ronta dan berteriak dalam pelukanku. Ya Tuhan apakah Sisma tak mengenaliku? Saat kulihat Sisma, aku terkejut, aku berteriak. Bagaimana mungkin? Ini bocah laki-laki! Dia bukan Sisma! Sementara itu orang-orang berbaju putih mengerubungiku, menarik tubuhku, lalu membawaku dan meninggalkanku di ruangan yang terkunci.
**
Aku ditinggalkan di ruang terkunci ini sendirian. Ruangan berwarna putih yang tak berjendela. Aku selalu melihat Sisma di sini, sesekali diam, terkadang berlarian. Namun aku tak pernah bisa menyentuhnya. Sesekali terlintas tanya dalam benakku, benarkah itu Sisma? Ataukah ini hanya bayangan yang terlahir dari kesedihanku semata? Aku tak pernah punya jawabannya, yang jelas Sisma masih terus berlarian di sini bersamaku.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | 2 Comments »
Tags: Adellia Rosa
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Jelita
by Bunga S. Putri @bunga_sp
“Kelahiranmu adalah bencana!”
Kalimat itu selalu terngiang di telingaku. Ayah penuh amarah saat mengucapkannya. Aku tak mengerti apa salahku. Semua perkataannya, semua perintahnya, selalu aku laksanakan dengan sempurna, tanpa pernah kulanggar. Entah apa perbuatanku sehingga ayah begitu murka padaku. Salah sedikit aja, tangan besarnya mendarat di pipiku.
Betapa aku iri pada teman-teman sebayaku kala itu, saat akan memulai masuk sekolah. Ayah dan ibu mereka penuh senyum, penuh kasih, penuh rasa bangga saat mengantar anaknya masuk dunia sekolah. Sedangkan aku, hanya Bi Ijah yang mengantar. Saat aku meraih juara kelas, tak ada ucapan selamat dari ayah. Saat aku lulus dengan nilai terbaik, tak ada pelukan hangat dari ayah. Tidakkah ayah bangga padaku?
***
Ibu, sekarang aku tahu, mengapa ayah begitu benci padaku. Yang selama ini kupanggil Ibu, ternyata bukan ibuku. Maafkan aku ibu, demi aku kau meregang nyawa, demi aku kau meninggalkan ayah…. Aku mengerti ibu, aku memang bencana dalam kehidupan ayah dan ibu, tapi ibu, aku hanya titipan Tuhan bukan? Aku tidak sekejap saja hadir dalam rahim ibu dulu…. Mengapa harus aku, bu? Aku merasa lebih baik tidak dilahirkan, Bu, jika kelahiranku hanya bencana untuk ibu dan ayah. Aku hanya bisa menangisi pusara ibu, dan menangisi ayah yang begitu membenci aku, serta mengelus dada untuk perlakuan ibuku di rumah serta adik-adikku. Tapi aku tahu, ibu di surga selalu mendoakan aku, dan mengirim malaikat Tuhan untuk menjagaku.
***
Bahkan ayah tak peduli saat aku memberinya berita baik. Ia akan punya cucu. Ayah tak pernah bertanya akan mempunyai cucu perempuan atau laki-laki. Ayah tak pernah bertanya bagaimana keadaan janin di rahimku. Aku selalu bilang pada suamiku, ayahku seorang yang sibuk dan aku yakin ayah turut berdoa untuk cucunya.
Saat aku berkunjung ke rumah, ayah tidak menghiraukan keberadaanku. Saat aku pamit pulang, ayah tak peduli.
Tiba saat aku akan melahirkan putri pertama kami, semua menjadi gelap, napasku sesak. Aku melihat ibu di ujung jalan, dan sekarang aku tahu, Bu, bagaimana Ibu dulu berjuang untuk sebuah kehidupan, kehidupanku. Tunggu aku, Bu, aku ingin ikut Ibu saja.
***
Nak, kembalilah…. Lihat putri mungilmu, cucu ibu…. Lihat menantu ibu…. Mereka menunggumu. Ibu tahu, putri ibu wanita yang kuat. Ibu bahagia di sini. Ibu bahagia melihatmu tumbuh menjadi wanita penuh cinta. Maafkan ayahmu…, sampaikan salam cinta dan rindu ibu untuk ayahmu.
Kembalilah nak.
***
Sosok yang paling aku takutkan itu muncul di hadapanku saat aku untuk pertama kalinya membuka mata setelah proses persalinan itu.
“Selamat untuk putri pertamamu, nak. Bolehkah aku menyumbangkan nama untuknya? Jelita, sepertinya sesuai.”
Terima kasih ibu. Salam rindu dari ayah. Aku tahu ayah sangat mencintai ibu, dan ayah pun sangat mencintaiku. Juga wujud baru ibu dalam Jelita.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | 2 Comments »
Tags: Bunga S. Putri
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Tujuh Persalinan dan Dua Pemakaman
by Rendra Jakadilaga (@therendra)
~1~
Aku ingat betul RS Bersalin itu. Tanggal 26 Mei bertahun yang lalu. Kami, jiwa-jiwa yang sebentar lagi didaulat menjadi manusia. Kami bertujuh. Aku, Dira, Lintang, Ardi, Mia, Chelsea, dan seorang lagi yang terus murung enggan berkenalan. Rega, bisiknya. Ya, kurasa itu namanya. Kami duduk di sebuah kursi panjang, yang bisa menyesuaikan ukuran dengan jumlah orang yang duduk. Aku duduk urutan kelima, kurasa ini berkaitan dengan urutan lahir kami. Ruangan putih ini serupa lorong tanpa marka dengan sebuah jendela panjang yang tembus ke dunia manusia. Di ujungnya, pintu, atau hanya ujung belaka, dengan cahaya yang terlalu terang.
Kami masing-masing memegang sebundel kontrak berisi bagaimana kehidupan kami nantinya. Di akhir bundel, ada kolom di mana kami harus menandatangani persetujuan melanjutkan kehidupan. Malaikat mengingatkan untuk membaca tulisan kecil-kecil berbunyi: “Semua bisa berubah tergantung usaha kalian mengubah nasib.” Aku menengok isi kontrak dengan antusias. Hidupku menarik!
~2~
Wanita pertama datang tergopoh. Suaminya panik sekali. Mereka jelas sekali orang kaya. Disambut bidan, ia terlihat super manja. Ah, bidannya muda, tapi pasti mengerti, ia juga sedang hamil besar. Wanita itu menunggu ditemani suaminya di sebuah kamar inap. Baru bukaan dua, kata bidan. Masih lama, keluhnya. Tak lama kemudian, sekelompok orang — yang kurasa keluarga besarnya — menghambur memenuhi kamar VIP itu, dengan perlengkapan melahirkan yang sebagian besar belum perlu. Ia tersenyum mendapati perhatian keluarganya yang demikian.
Lalu dua wanita datang bersamaan. Keduanya tanpa suami. Tapi ibu yang keriting kelihatannya ditemani adiknya. Wanita yang berambut lurus, tampak ceking dan lelah. Ini membuat perutnya terlihat sangat menonjol. Ia tak banyak bicara, meski ibu yang keriting tak berhenti mengajaknya bicara. Ini anak ketiga, kata ibu yang keriting. Ibu yang berambut lurus hanya menyengir dan mengangguk ketika ditanya apakah ini kali pertamanya. Bidan datang menyambut mereka. Kelihatannya, ibu yang berambut lurus sebentar lagi akan melakukan persalinan. Ia sudah bukaan sembilan. Ibu keriting menyemangati.
Sepasang anak muda menerobos kerumunan di depan UGD dan terus masuk ke bagian penerimaan pasien persalinan. Si cewek muda tampak cemberut. Ia tadinya hendak mengugurkan kandungan ini. Betapa tidak, melahirkan di usia 17, sangat merepotkan dan mungkin menghancurkan hidup. Sang pemuda malah sangat bersemangat. Ia sepertinya menantikan betul kelahiran jabang bayinya.
Bidan bolak-balik mengurusi semua ibu hamil yang hendak melahirkan itu. Keringatnya membanjir saking makin ramainya bagian persalinan sore itu. Ia teringat belum mengecek seorang ibu yang sudah dua hari menginap di salah satu kamar. Ini usia kehamilannya kesebelas. Ia kuatir bayinya keracunan air ketuban. Semua masih normal, tapi ibu itu harus melahirkan hari ini juga, gumamnya setelah memeriksa rekam medis.
Keramaian itu diperparah oleh kedatangan mendadak pasien hamil yang pendarahan. Ketuban sudah pecah sejak beberapa jam lalu. Semua personil langsung siaga melakukan pertolongan. Ia masuk ruang operasi. Sesar kelihatannya. Ibu itu pingsan.
~3~
Chelsea keluar duluan. Ia selamat. Persalinan berhasil. Kami berenam memandang keluar jendela. Oh, ia menjadi bayi yang mungil, kata Dira. Ibunya masih tak sadarkan diri. Tapi kelihatannya stabil. Dokter menyerahkan ia pada ayahnya. Chelsea kecil tak henti menangis. Ia ingin segera merasakan sentuhan ibunya.
Ardi berpamitan. Ternyata ia anak si ibu berambut lurus. Ia sempat sedih. Di dalam kontrak disebutkan ayahnya meninggalkan ibunya. Tapi, ia memutuskan menandatanganinya, karena ia tak ingin ibunya menjalani semuanya sendiri. Lalu tiba giliran Rega. Ia masih gemetar. Ia enggan berdiri dari tempat duduknya.
“Bagaimana?”
“Saya tidak bisa keluar. Saya dituliskan akan menjadi anak yang menyusahkan orang tua… Saya…,” keluhnya. Ia mantap. Bahkan, aku tak bisa membujuknya untuk mengubah pendirian. Ibu dari keluarga kaya itu menangis tersedu mendapati bayinya lahir dalam keadaan meninggal. Ia meraung-raung. Rega memandang sedih. Malaikat mengantarnya kembali ke ruangan muasal.
Mia ceria. Ia menunjuk pasangan muda itu. Hari ini ia akan membuat ibunya tak menyesali keputusannya melahirkannya, ikrarnya dalam bisik ke telingaku. Aku senang, ia optimis. Pasti isi kontraknya bagus. Sejam kemudian, ia melangkah keluar. Sang ibu muda menangis haru menyambut kehadirannya. Tentunya diiringi senyum sang ayah yang memang menantikannya.
Tiba giliranku. Aku menoleh ke arah Dira dan Lintang. Sepertinya kami akan lahir dalam waktu berdekatan. Kami terkejut. Di jendela, kami melihat sang bidan jatuh pingsan. Mungkin kelelahan. Kami berpandangan. Ibu siapa itu? Namaku dipanggil. Aku sekilas mengintip Ibu keriting itu mengejan. Aku tersenyum dan berlari keluar. Tak sempat lagi kulihat Dira dan Lintang. Tangisku berbarengan dengan tangis gembira ibuku.
~4~
Rendra, dalam hati kubaca gelang namaku. Aku bahagia menghirup udara. Selirik kulihat hidung ayah menempel di kaca di luar kamar bayi. Aku menoleh mendapati Dira di boks sebelah. Lalu Lintang. Aku penasaran, siapa ibu mereka.
Sore itu, pertanyaanku terjawab ketika suster memandikan aku. Lintang, lahir dari ibu yang hamil 11 bulan itu. Mereka menamainya Lintang karena posisinya waktu lahir memang melintang. Dira, lahir dari rahim bidan baik hati itu, namun beliau meninggal ketika melahirkan Dira. Aku entah sedih, entah gembira (karena Dira berhasil lahir selamat). Dira mungkin sudah tahu kejadiannya dari bundel kontraknya.
~5~
“Pa,” panggil ibuku. Papa menoleh.
“Ibu Indah yang bayinya meninggal itu, meminta ijin pihak RS dan keluarga bidan Erna untuk mengadopsi anak Bu Bidan… Ayahnya sudah lebih dulu nggak ada rupanya!”
Percakapan singkat itu menandai akhir dari ingatan infancy-ku. Dira sudah tahu bahwa dia akan menggantikan posisi Rega menjadi anak ibu kaya itu. Tentu saja ia sedih ditinggal mati ibunya, tetapi itu bukan alasan untuk tidak meneruskan semangat ibunya, yang sudah banyak membantu kelahiran. Ia harus terus hidup, belajar mengubah nasib. Mungkin tak sama semangatnya seperti bidan yang melahirkannya, tapi setidaknya ia punya tujuan. Ia punya keluarga baru.
Dua hari di dunia kami masih bisa mengingat semua yang terbawa dari dunia sana. Lalu, Tuhan mengosongkan kepala kami kecuali oleh naluri dan takdir. Pengetahuan tentang tujuan hidup dan isi kontrak? Harus kami pelajari sendiri.
~akhir~
Posted in 02 NovemberMenulis, 9 JejakKarya 2010, A Circle of Life, Cerita-cerita | 3 Comments »
Tags: Rendra Jakadilaga
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 2, 2010
Pengantar #NovemberMenulis 02: Makna pada Suatu Awal
by Rendra Jakadilaga @jejakubikel @therendra
Apa makna yang ada pada setiap lahir?
Aku selalu merenung dan membatin, kembali ke hari waktu aku dilahirkan. Adakah sedetik sebelum itu, aku benar-benar memikirkan perjanjian dengan sang Pencipta? Apa isi kontraknya? Kenapa aku tak bisa mengingat semuanya? Pernahkah terpikir untuk mundur, bila terpapar betapa berat kehidupan yang akan kita jalani di dunia nanti?
Ya. Ketika aku berpikir tentang hari lahirku, memang hanya semua tentang diriku yang berusaha kuurai. Aku lupa di sana terlibat seorang wanita yang meregang dengan peluh berbulir jagung mendesak kepalaku yang besar dan bahuku yang lebar melalui mulut rahimnya yang mungil. Aku bahkan tak pernah peduli, wanita itu mendadak berubah gemuk setelah persalinanku.
Lahir, selalu memiliki maksud tertentu. Kita ada di dunia ini untuk mencapai suatu tujuan. Mungkin seseorang agak terlambat menemukan tujuan itu dibanding yang lain, tetapi haruslah ia cukup berbangga jika bisa menemukan misi itu. Tuhan membekali kita segala yang kita perlukan untuk mencapai tujuan hidup. Karenanya, jangan pernah mengutuk apa yang tidak kita miliki. Mungkin sebenarnya kita tak membutuhkannya untuk melakoni peran kita.
Dunia ini sempit. Waktu kita terbatas. Tak banyak ruang untuk mengeluh. Jika bias menjawab pertanyaan saya yang pertama, mungkin langkah pertama anda dalam hidup sudah terayun!
Posted in 02 NovemberMenulis, 9 JejakKarya 2010, A Circle of Life | No Comments »
Tags: Rendra Jakadilaga












D5 Creation