Sunday, November 7th, 2010
now browsing by day
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Di tepi temaram senja, Eyang Putri seorang diri merajut nostalgia – @puisikita
by Dian Harigelita @harigelita
Izinkan aku berbagi cerita mengenai nenekku di sini.
Hj. Nabawiyah Almh.
Apabila duduk di sisinya kamu akan mencium bau sabun antiseptik. Ia pandai menavigasi dirinya dalam kamar yang gelap. Ia tahu persis kantung sebelah mana di dalam tas sandang hitamnya tempat peniti yang dengan gesit dipasangkannya pada stagen panjang penghalau angin menyusup ke tubuhku. Masuk angin itu melalui pusar, katanya. Di dalam tas hitam itu pula selalu ada uang receh walau sedikit untuk cucunya yang merengek minta jajan. Dalam tidurnya ia sering bernafas melalui mulut. “Hhhhhhhh….” ia menarik nafas, “puuuuuuuhhh…” bunyi helaan nafasnya dari bibir yang kering.
Tengah malam, ia duduk di pinggir kasur. Melafazkan sesuatu dalam gelap. Ayat-ayat. Kebaya encim melapis kutang kendur yang menutupi hal-hal lain pada tubuhnya yang juga sudah kendur. Rambut putihnya yang panjang menipis akan disisirinya pelan-pelan sekali seolah takut setiap tarikan akan memutus hidup beberapa helai yang masih bertahan hidup tersebut. Bijil-bijil jeruk nipis yang mengering berjatuhan dari kepalanya. Obat ketombe, katanya. Lalu digulunglah rambut panjang itu menjadi bola rambut putih keabu-abuan. Aku memejamkan mata memimpikan masa ketika rambut itu masih hitam lebat menggelombang, terayun-ayun irama gitar yang dipetik beliau di suatu ketika.
“Mundur!” adalah kata yang tak lelah ditujukan pada cucu-cucu yang asik menonton tipi terlalu dekat yang dipastikan akan mencibir sambil tetap melaksanakan perintah karena lebih takut sama marahnya anaknya Maktuo daripada sama Maktuo. Setelah perjalanan 8 jam melintas lautan Pasifik di usia 60 bahkan untuk pertama kalinya seorang diri, kata ‘mundur’ mengalami penyesuaian untuk cucu-cucu yang mungkin telah lupa bahasa. Jadilah nenek tua yang ketika itu masih kuberi label cerewet, memakai istilah “Move Back… Your eyes! Your eyes!” dan masih dibalas dengan cibiran tapi masih juga dilaksanakan permintaannya.
Aku cucu yang badung. Judes. Diajari mengaji, bawaannya jengkel terus. Baru ‘yaa ayyu khalladii…’ beliau akan menyela membenarkan, ‘yaa ayyuhalladzii..”memintaku mengulanginya secara baik dan benar. Dengan suara menghentak-hentak lantaran kesal karena dibenahi terus bacaannya, aku menurut. Satu ‘ain setiap minggu siang serasa siksaan seabad. Mengapa anak kecil sudah bisa dihuni setan senakal itu ya? Kadang aku mengalihkan perhatian dengan menarik-narik kulit punggung tangannya yang seolah kain kusut pelapis tulang. Ga apa-apa, nanti gantian aku yang mengajari bahasa Inggris pakai flash card dari Mrs. Hiu. Kita lihat, apa enak disuruh mengulang-ulang terus? Itu pikiranku dulu. Pikiran seorang anak yang mengambil sebutir telur dari kulkas, membawanya ke kamar Maktuo, meletakkannya di atas karpet lalu berusaha mengeraminya selayak ibu ayam. Harap maklum. Maktuo kemudian dengan sabar dan ikhlas membersihkan bekas-bekas keluguan cucunya.
Kini, aku hanya bisa berharap tiap huruf pada ayat suci yang terlepas dari bibir ini akan terbang menuju alam bazrakh tempat beliau laksana kupu-kupu cahaya ilahi yang akan menghiburnya di istana penantiannya. Setiap tetes wudlu yang membasahi tubuh ini akan mengalir meresap ke dalam bumi menuju makamnya dan menyampaikan salam bahwa kepandaian anak cucunya mengambil wudlu adalah berkat beliau. Meski ia tak selalu ada dalam doa-doaku, kuyakin bacaan Al Qur’an anak cucunya serta murid-muridnya adalah nikmat yang takkan terputus dan senantiasa menerangi ruangnya.
Maktuo, Mengaji dan Cokelat Macadamia Nut
Maktuo, Hj. Nabawiyah almh. Guru Agama di Aisiyah, adalah nenek dari 15 cucu. Tubuh tingginya yang kurus selalu dibalut kebaya panjang atau baju kurung. Terkadang, jika udara dirasanya terlalu dingin, beliau mengenakan sweater pink yang dirajutnya sendiri menggunakan tali wol oleh-oleh putri bungsunya dari Amerika.
Oleh-oleh dari Amerika lainnya berupa kacang assorted merek Planters’serta dua kotak Hawaiian Host Chocolate Covered Macadamia Nuts tersimpan dengan amat terawat di dalam lemari Maktuo. Kami cucu-cucu sudah lama meminta-minta agar Maktuo merelakan coklat-coklat itu untuk kami. Akan tetapi, rupanya rencana Maktuo lain lagi.
Rumah putri sulung dan putri bungsu Maktuo hanya berjarak 100m. Di kedua rumah tersebut tersedia kamar untuk Maktuo bila suka. Ketika peristiwa di bawah ini terjadi, Maktuo sedang berdomisili di rumah si bungsu, Inon, my mom.
Maktuo adalah nenek sekaligus guru agama bagi kami. Uni Vera, Dewi, Renny, Pilar, Yogas, dan Dian. Kamar Maktuo selalu terasa lebih hangat, karena semua jendela ditutup rapat, udara yang dingin sering menusuk tulang-tulang tuanya yang tak lagi kuat. Maktuo akan duduk di pangkal tempat tidur, menanti cucunya yang dapat giliran belajar mengaji. Biasanya kami bergantian dari yang paling tua urut ke yang paling muda. Setiap selesai sholat Maghrib, satu cucu membaca satu ‘ain atau tergantung kemampuan. Kebetulan waktu itu aku baru memulai pegang al Quran, panjang pendek bacaannya masih kacau balau menjadikan kegiatan belajar al Quran sesuatu yang tidak menyenangkan karena sebentar-sebentar diperbaiki, sebentar-sebentar disuruh mengulang bacaannya berkali-kali sampai betul. Tak jarang pula jadinya aku belajar al Quran dengan suara menghentak-hentak kesal. Dasar setan ya, anak kecil lagi belajar al Quran pun masih bisa dia ganggu.
Murid kesayangan Maktuo tentunya adalah Dewi. Sepupuku yang mirip keturunan bangsa Arab berhidung mancung, rambutnya ikal yang lebat, berkulit kuning langsat dan lembut (cenderung lembek, hihihi -omongan cewek syirik). Ah, tentu saja bukan fisik yang Maktuo senangi dari Dewi melainkan kesabaran, kerajinan, dan kelembutan hatinya yang menambah keindahan eksteriornya.
Lalu ada dua ‘murid’ lelaki Maktuo yakni kakak-kakakku, Pilar dan Yogas, yang pelajarannya berjalan biasa saja tanpa hambatan atau keistimewaan, menurutku ketika itu. Siapa menduga, beberapa bulan setelah Maktuo berpulang, justru Yogas bermimpi bertemu dengan Maktuo dan dipesankan untuk terus mempelajari al Quran.
Uni Vera yang ketika itu sudah menjadi mahasiswi dianggap sudah lulus dan hanya sesekali saja ikut pelajaran mengaji jika ingin atau jika Papi (pakde, kakak ipar Mama, ayahnya Uni Vera) tiba-tiba menyuruh.
Suatu sore, ketika kehabisan permainan dan merasa cukup bosan, kami terpikir untuk merayu Maktuo membuka ‘harta karun’ cokelatnya agar dibagi-bagikan pada cucu-cucunya. Tepatnya sih, nodong. Maktuo pun tak mau menyerahkan cokelat istimewa itu begitu saja. Harus ada usaha dari kami. Jadilah ‘lomba/ujian mengaji’ mendadak.
Yogas diminta ke rumah Mami ( rumah kakak Mama yang jaraknya 100m tadi ) untuk memanggil Dewi dan Renny. Uni Vera juga kebetulan tidak disibukkan dengan urusan kampus sehingga ikut datang ke rumah karena tergoda prospek cokelat enak apalagi saingannya adik-adik kemarin sore.
Bertujuh kami bergantian duduk di meja makan memberikan bacaan sesanggupnya sebanyak 2 ‘ain. Ada yang terbata-bata, dengan kesalahan yang lebih banyak dari biasanya, kemungkinan karena tekanan. Seperti biasa, Dewi yang paling tenang dan mengalir bacaannya. Patut kami akui meski dengan sedikit rasa iri karena yang paling canggih mengajinya akan beroleh 5 onggok cokelat sendiri, sedangkan yang lain hanya dapat satu.
Hawaiian Host Macadamia Nut Chocolates adalah oleh-oleh khas dari negara bagian Amerika, Hawaii (baca : hava’ii) yang indah. Sebutir kacangMacadamia yang renyah dan gurih dengan tekstur dan bentuk seperti kemiri, dicemplungkan dalam cetakan cokelat kaya susu yang sebesar 2 ibu jari anak kecil. Onggok-onggok kenikmatan itu menanti dengan manisnya dalam plastik masih membungkus, di dalam lemari.
Setelah semua mendapat giliran ujian, Maktuo beranjak menuju lemari dengan tatapan penuh minat kami. Dari bagian dada kebaya tuanya, Maktuo mengeluarkan kunci lemari. Di dalam lemarinya tersusun bermacam-macam pernik dan harta kesayangan Maktuo. Mulai dari perhiasan emas, baju-baju khusus hajatan, benang rajut dari wol, bahan-bahan pakaian lain dan beberapa lipat kain batik dan tak ketinggalan stagen-stagen yang sering dipakainya untuk membalut perut cucu-cucunya yang mulas melilit.
Tibalah saat yang dinanti-nanti. Maktuo kembali duduk di meja makan, Dewi yang otomatis diakui kemenangannya tak dapat menyembunyikan rasa bangga, duduk di hadapan Maktuo. Yang lain bergerombol di belakang keduanya, ingin menyaksikan lebih dekat onggok-onggok kenikmatan tersebut.
Plastik beningnya terbuka, lalu diikuti oleh bagian atas kotak. Harum coklat menyapa hidung. Hmmm… Lalu dengan pelan-pelan Maktuo memreteli plastik steril yang melindungi kolom-kolom tempat masing-masing cokelat menanti dikonsumsi.
Pertanda buruk pertama adalah, tidak mengkilapnya coklat-coklat itu seperti biasanya. Hati kami, dan barangkali Maktuo saat itu sedikit menciut. Lalu Dewi dipersilahkan untuk mengambil hadiahnya. Dengan sedikit malu-malu Dewi menjulurkan jarinya yang halus, menyentuh cokelat yang paling sudut dan ‘bless..’ Lhoo???!!! Cokelat itu tidak lagi padat dan boro-boro masih bisa dikatakan cokelat. Cokelat itu sudah menjadi debu.. Pilar meraih kotaknya untuk diteliti tanggal kadaluwarsanya dan alamak, sudah setahun yang lalu..
Maktuo, Maktuo.. Seharusnya kami mengerti bahwa itu caramu mengajarkan bahwa imbalan dari kebolehan membaca Al Quran adalah berjuta-juta karunia Tuhan yang beranak pinak, tentulah tidak sebanding dengan 5 keping cokelat.
Alhamdulillah..
Maktuo, we miss you. Sampai ketemu..
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | No Comments »
Tags: Dian Harigelita
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Lelaki Senja
by Meliana Indie @melianaindie
Pada sepasang mata kelam lelaki tua itu, kutemukan senja yang paling sempurna. Semburat jingga, merah dengan saputan kuning dan emas seperti berkumparan dalam binar yang kontras dengan tubuhnya yang menekuk oleh pusingan musim. Lelaki itu dikisahkan berasal dari negeri yang begitu jauh. Ia datang saat senja, dan berada pada setiap senja yang biasa maupun gemilang, barangkali juga pada senja yang hujan. Lelaki itu. Lelaki senja.
Pernah, lelaki itu berkisah:
Senja adalah dongeng yang diceritakan oleh peri-peri kepada langit, pada setiap doa dan airmata manusia yang terpetik oleh mereka. Dengannya, senja menjadi semacam perayaan semesta, yang hanya dapat ditafakuri oleh pejalan-pejalan sunyi.
Saat itu, aku tidak mengerti. Bagiku, memandang matahari yang jatuh lepas di ujung tepi langit dan samudera, mendengar lagu laut adalah sama dengan menatap senja yang menetap di bulir mata lelaki itu. Menyimak seribu ceritanya yang seperti berasal dari gaung di dasar samudera adalah seperti membaca kesepianku sendiri, yang jingga, seperti senja.
Senja selalu beranjak, sebab ia mewaktu di antara kedatangan dan kepergian yang kadang tersendat. Setiap kali hati merindu, senja akan mewujud, sesederhana seperti kau menatap matamu dan mencintai cerita-cerita di dalamnya.
Di suatu sore terakhir pertemuanku dengan lelaki itu sebelum keberangkatanku ke negeri yang tidak mengenal senja, ia memberiku senja yang tersimpan dalam sebuah botol kaca transparan. Untuk kau, yang sepertiku, mencintai senja, demikian ujarnya.
Setelahnya, kumulai hari baru dalam kehidupanku di negeri tempat matahari tidak pernah tenggelam ini. Aku bekerja sepanjang hari, menikmati cahaya yang tak pernah memudar dan terpesona oleh kilaunya. Sebotol senja yang kubawa menyepi di antara tumpukan buku-buku dongeng yang tidak lagi kubaca.
Tahun dan tahun berganti. Tapi di negeri baruku ini, matahari tetap bersinar tanpa henti. Aku sendiri sudah lama meninggalkan sepiku. Sebuah rumah besar yang menjulang ke arah matahari dengan seorang istri dan tiga orang anak adalah semesta yang kini melingkupiku dengan kebahagian semata. Dan senja. Ia lebih berupa samar-samar hikayat yang pernah ada.
Tapi waktu memang adalah rahasia yang paling diam. Ia bisa saja memutar rotasi takdirmu dengan cara yang begitu mengherankan. Mendadak, aku kehilangan semua yang kupunya. Anak lelakiku meninggal dalam keliling obat-obatan di kamar tidurnya dan istriku pergi tak lama sesudahnya bersama kedua bidadari kesayanganku. Aku tidak lagi bekerja. Terlalu lelah. Terlalu merasa ringkih di bawah cahaya matahari di negeri yang tidak mengenal senja ini.
Lalu rindu membimbingku kembali ke mari. Pantai dengan sebuah bangku kayu tempat pernah seorang lelaki tua yang menyintai senja duduk dan mendongeng kepada seorang lelaki muda yang di dadanya berkibaran sunyi dan cinta. Di pengujung barat langit, matahari membusur dalam lengkung sempurna. Cahayanya membias dalam gradasi jingga dengan larik-larik keemasan yang seperti untaian pita melukisi cakrawala biru tua. Aku memandang senja sore ini yang begitu gilang gemilang dengan rasa yang membuncah. Sketsa tentangnya seolah membias di mataku, seperti rindu yang menemu dan menetap. Dengannya aku menatap refleksi diriku sendiri, menemukan sesosok lelaki dengan kulit yang dipenuhi garis waktu, juga sepasang mata yang berbinar senja. Aku. Lelaki senja.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Kurasi Puisi | No Comments »
Tags: Meliana Indie
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Akrostik: Renta
by Angghie Gerardini @njiegerardini
Rayapan lekukan senja menguliti masa. Elegi menderu deras, bebayang makin jelas, merenangi khayali yang menetas. Nanar, seakan dibebat traumatik hebat akan dengung-dengung kematian menggelegar. Tepian prolog sederet ceritera tiap manusia. Adalah suatu awal muara alir usia.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Kurasi Puisi | No Comments »
Tags: Angghie Gerardini
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Gadis Berambut Kemoceng
by Laksmi @Hei_L
“Hei gadis berambut kemoceng, kamu sudah datang”
Sapaan khas kakek membuatku tersenyum. Ia hanya ingat aku, si gadis berambut kemoceng yang suka berbagi cerita hidupnya, bukan cucu yang sangat senang kalau Sabtu tiba untuk mengunjungi kakeknya.
Di suatu sore 2 bulan yang lalu, Kakek di vonis menderita Alzheimer. Penyakit ini semakin membuatnya terlihat tua. Terkadang ia marah tanpa sebab, pikunnya membuat kami sekeluarga bersedih. Satu persatu keluarga tak dikenalinya. Aku lebih suka mengunjungi kakek sendirian, menemaninya di pagi hari setelah aku berolahraga.
“Nenek cantik ya, ia awet muda tidak beruban dan keriput seperti aku”, ia terkekeh mengajakku duduk disampingnya. Suster Inne yang ramah memakluminya, ia pamit meninggalkan kami berdua. Kakek cemberut ketika Suster Inne pergi. Aku memegang tangannya, membelainya menenangkan. Ia menatapku, aku tersenyum lalu memeluknya. Kakek memintaku untuk memotret dirinya lagi, berdua denganku. Ia memberi lihat hasil foto yang 2 minggu lalu aku berikan. Dengan bangga ia menunjukan sisi belakang foto, disana tertulis dengan rapih: Gadis Berambut Kemoceng. “Nenek yang menuliskannya untukku”, Kakek berbisik lalu cepat-cepat memasukan fotonya di kantong jaketnya. Aku terharu menahan tangis, memegang tangannya kembali bercerita. Entah apa Kakek mengerti dan akan tetap ingat ceritaku aku tak perduli. Aku selalu merasa lega setelah bercerita semua masalahku padanya. Tak terasa matahari sudah menanjak di atas kepala kami, Kakek merasa sangat lelah dan lapar. Aku menggamitnya
berdiri. Aku sampai hapal suster Inne dan Donepezil seperti satu kesatuan, Kakek tidak mau minum obat kalau bukan “Nenek” yang memberinya. Ia selalu berhasil membuatku tersenyum. Akupun pulang setelah ia tertidur.
Sabtu ini aku kembali dari Dubai khusus untuk mengunjungi kakek. Pekerjaan aku tinggal sementara waktu. “Maaf Kek aku baru sempat datang”. Aku terisak, tak lagi perlu menahannya. Lalu aku menebarkan bunga dan tak lupa menaruh foto baru yang seharusnya sempat Kakek lihat diatas pusaranya. Ibu lalu memelukku, “Zev… Suster Inne memberikan ini ke Mama”, disodorkannya sebuah foto dengan tulisan di sisi belakang: si Gadis Berambut Kemoceng.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | No Comments »
Tags: Laksmi
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Drama Bolu Pecak
by Rendra Jakadilaga @therendra
Ibunda tercenung memandangi bahan-bahan untuk membuat Bolu Pecak di atas meja itu. Benci sekali ia pada kue itu. Tapi, berkali-kali jua ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia harus membuat Bolu itu untuk orang-orang kesayangannya. Orang-orang selalu bilang, Bolu Pecak Ibunda paling enak sejagad raya. Tidak main-main. Semua orang selalu memesan padanya.
Masih jelas teringat, lekat dalam benaknya, bagaimana suatu sore ayah berpamitan untuk meeting keluar kota bersama sang sekertaris. Dengan senyum termanisnya, sekertaris itu member ibunda sekotak Bolu Pecak. Tidak seenak buatan Ibunda. Terlalu manis. Ibunda mencicipinya dua jam kemudian, dan menemukan secarik kertas itu.
“Seharusnya kamu lebih tahu apa yang disukai suamimu… salam, Dina”, tulisan itu berkata. Sang sekertaris. Sejak sore itu, ayah tak pernah pulang ke rumah. Pergi bersama tabungannya yang 300 juta. Tanpa tanda-tanda sebelumnya. Aku masih ingat ibunda tersedu di depan kue yang baru sesendok tergigit itu. Dihancurkannya kue tak enak itu. Bolu Pecak kesukaan ayah.
Diaduknya lagi telur dan gula itu sambil merengut. Ia tak menyangka. Bolu terkutuk itu menjelma kue favorit anaknya. Lalu cucunya. Usianya sudah enam puluh satu, ibunda itu, tapi tak sedikitpun kemampuan membuat kuenya menumpul. Semakin enak saja! Kali ini tangannya mengocok adonan dengan nafsu amarah. Ia menahan napas.
Ibunda ingat, pada hari ulang tahunku tiga tahun silam, untuk mengirimiku sekotak Bolu Pecak lagi. Ia menepis amarahnya kepada ayah, dan menemukan kekuatan untuk meramu adonan lagi. Hari itu ada sedikit kecelakaan. Becak ibunda tertabrak motor, ia lecet sedikit dan dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Istriku yang panic menjemputku di kantor setelah menitip anak kami ke tetangga. Hari itu jualah, ibunda kehilangan anak tunggal dan mantu tersayangnya. Tersisa sekotak Bolu Pecak setengah hancur karena jatuh dari Becak. Ia kembali tersedu.
Ibunda menyeka air matanya. Cucunya yang berusia lima tahun menarik-narik dasternya untuk mencari tahu apakah kue yang dibuatnya sudah jadi. Ibunda tersenyum dan menyabarkan cucunya untuk menunggu sebentar lagi. Sang cucu bermain ke ruang tamu, dan ibunda sekali lagi menepis rasa bencinya pada adonan kue itu. Dibuatnya dengan sepenuh hati, setelah tempo hari sang cucu menghabiskan setalang di rumah saudara jauhnya.
Terdengar suara berisik dari luar rumah. Ibu-ibu berteriak. Ada anak terserempet bajaj, katanya. Ibunda mendadak kaget, dan memanggil si cucu yang tak jua menyahut. Panik, ibunda berlari keluar dengan talang berisi adonan yang baru hendak ia masukkan ke dalam oven. Beliau menarik napas lega, cucunya memandang dari teras. Seorang anak tetangga yang jadi korban. Ibunda menyuruh si kecil bermain di dalam, lalu ia menghampiri ibu si korban untuk sedikit menunjukkan empati.
Belum sepatah kata terucap, suara ledakan mengejutkan kerumunan tadi. Ibunda terhempas kuat karena tekanan dari ledakan di dapurnya. Beliau terpelanting di jalan dengan talang penuh adonan Bolu Pecak. Berantakan. Rumahnya meledak dan dalam sekejap di lalap api. Ibunda merangkai logika dengan sangat cepat. Ia tadi memastikan cucu tersayangnya masuk rumah, sepuluh detik sebelum tabung gas ovennya meledak.
Napasnya memburu. Ia gemeletar, tanpa bisa berkata. Seorang nenek yang terbayang kesendirian. Airmata mulai melumuri wajah kisutnya. Terbata ia memanggil sang cucu. Sejak hari itu, ia kehilangan seluruh kemampuan kognitifnya. Ibunda masih menjalani empat tahun tersiksa dalam kelumpuhan dan bayang-bayang keluarga yang pergi meninggalkannya satu persatu. Bibirnya menggeramkan satu kalimat terus menerus…
“Bolu pecak Keparat…!”
PS: Bolu Pecak adalah Bolu khas Makassar yang berwarna coklat dan basah karena mengandung air gula.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | No Comments »
Tags: Rendra Jakadilaga
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Senja Menari
by Adellia Rosa @adelliarosa
Aku masih menari senja ini. Senja, kala sang surya mulai bersembunyi di balik cakrawala. Senja, kala usiaku beranjak dari bilangan 55. Aku penari sekaligus dosen tari, di sebuah Perguruan Tinggi swasta di Solo. Panggilanku Bu Sintren karena kecintaanku akan tari Sintren.
Aku hanya jatuh cinta pada kesenian tari. Khususnya Sintren. Itulah mengapa sampai usiaku sesenja ini, aku belum pernah menikah. Kecintaanku inilah yang menyebabkan desas-desus berhembus si kanan kiriku, bahwa aku tak menikah karena seorang penari Sintren haruslah seorang perawan suci, agar bisa dirasuki bidadari yang membuat Sintren menjadi sempurna. mungkin benar, mungkin juga tidak. Bagiku, belum ada pria yang sesuai yang mengajakku menikah. Itu saja.
Siwi, mahasiswaku yang bermata lentik pernah bertanya suatu ketika “Bu Sintren, benarkah kita akan kerasukan saat menarikan Sintren?” aku mengangguk, lalu menatap lekat mahasiwaku satu persatu. “Kalian akan kerasukan irama yang mengalun, Jangan berpikir, biarkan saja tubuh kalian bergerak.” Aku ingin mereka merasakan sendiri, bukan kerasukan yang kurasa saat menarikan Sintren. Aku hanya merasakan kehausan untuk terus bergerak mengikuti irama yang mengalun.
Senja yang teramat indah, saat aku merasakan bumi berguncang begitu hebatnya. Aku melihat mahasiswaku kocar-kacir menyelamatkan diri dari guguran atap ruang tari. Beberapa diantara mereka berteriak-teriak padaku untuk menyelamatkan diri. Aku beranjak untuk lari ketika gelap mendadak menyergapku, saat balok penyangga atap menjatuhi kakiku.
Saat aku tersadar, tubuhku dipenuhi balutan perban. Selang infus menempel di hidung dan tanganku. Kulihat adikku, satu-satunya keluargaku sedang menangis memegang tanganku. Aku hidup, dan aku baik-baik saja, mengapa dia menangis begitu rupa? Namun aneh, aku tak merasakan kakiku. Adikku masih saja menangis saat kusibakkan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhku, dimana yang harusnya ada kaki, tak kulihat lagi. Senja ini teramat kelabu. Perih didadaku saat kuucapkan selamat tinggal pada kostum tariku.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | No Comments »
Tags: Adellia Rosa
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Balada Bambu Runcing
by Arco Transepto @arcokimzy
Putih selimuti kepala
tak mampu ia berbahak tawa
senyum kecil saja
lusuh tampak perawakan
senyum kadang menenangkan
meski hidup sebatang kara
lupa mereka bambu dibawa!
sebelum dia dulu bisa tersenyum,
sebelum bisa matahari dinikmati,
dan cekam malam nan selalu,
hidup antara todong bedil
dan dengan sebatang bambu
berkaca ia, salah apa?
Mimpinya adalah nikmat pagi
secangkir kopi dan sekerat roti
berteman bingkai istri sewaktu muda
belum ia merdeka
masih air hujan basahi batik
tiap senja pun merintik airmata
nafas bersyukur termiliki
kardus lepas, tempat tinggalnya
tak di akui ia
bukan Jenderal ia
hanya ingin merdeka ia, saat muda
di lempar ketika tanpa daya.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Kurasi Puisi | No Comments »
Tags: Arco Transepto
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Pengantar #NovemberMenulis 07 Matang dalam Usia
by Cubiculum Notatum @jejakubikel
Tak ada yang bisa banyak menulis tentang drama pada usia lanjut, kecuali mereka melalui garis waktu itu sendiri. Seorang manula memandang tragedi jauh lebih dalam daripada seorang pemuda. Mereka melihat rincian kejadian dengan lebih selektif dan memfokuskan kepada pelajaran apa yang bisa mereka tarik dari tragedi itu. Tawa merekapun tidak semembahana ketika waktu mudah bila bertemu dengan komedi hidup. Mereka bukan menahan tawa, atau kehilangan ketajaman indera melucu. Mereka sudah pernah menonton semua lelucon itu berkali-kali sampai mereka sudah tak merasa perlu tertawa jika hanya sekedar menunjukkan kegeliannya.
Kebijaksanaan meranum pada benak mereka. Sikap menemukan kestabilan. Emosi jauh lebih teredam. Senyum-senyum mereka bermakna. Kesah-kesah mereka bukan perlambang resah. Standard kebahagiaan mereka berbeda. Semangat mereka mungkin sudah kalah oleh rapuhnya tubuh. Kepala mereka sarat pesan.
Beberapa waktu yang lalu, saya menonton film Korea bertajuk The Way Home. Film ini menceritakan kunjungan seorang cucu (yang dipaksa ibunya menginap beberapa hari karena alasan tertentu) ke rumah neneknya. Sang nenek yang bisu dan bungkuk, dipertemukan dengan pribadi cucu yang lincah dan ngutho. Keegoisan-keegoisan sang cucu yang permintaannya macam-macam, tak menggoyahkan kasih sayang sang nenek. Adalah beberapa adegan lucu ketika mereka tidak bisa berkomunikasi pada tataran yang sama. Pengorbanan demi pengorbanan, perlakuan buruk demi perlakuan buruk sang cucu, si nenek tak kunjung goyah. Diamnya bukan karena bisu, tapi usaha untuk memaklumi tingkah cucunya yang kerap membuatnya susah sebagai wujud keinginan bermanja. Pada akhirnya, kasih sayang memenangi pertarungan, cucu luluh. Ia mengakhiri cerita dengan semalaman membuatkan kartu pos untuk nenek yang buta huruf itu kirim kapanpun ia merasa rindu.
Mungkin, dalam kepala manula, pencapaian bukan lagi karir, harta, atau apapun yang sifatnya fisik. Mungkin, pencapaian mereka adalah ketika perasaan mereka tersampaikan kepada orang yang mereka sayangi. Ah, setelah kupikir, tak tersampaikanpun, mungkin bagi mereka tak masalah.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Rendrologi | No Comments »
Tags: Rendra Jakadilaga
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Teori Kita dan Ide Gilaku
by Lely Pangerang @eLpangerang
Kalau saja hubunganku dengan Fikri tidak berakhir, Nanna (begitu aku memanggil nenek) tidak akan melaksanakan niatnya yang telah lama ia kubur. Dan ide gilaku juga tidak akan muncul.
Kamu ingat teori kita? senjata andalan kita yang selalu berhasil menangkis gurauan serius dari temanmu, temanku, atau teman kita; yang mulai terusik melihat persahabatan kita. “Kelihatannya kalian tidak hanya cocok sebagai sahabat, kalian pasangan yang serasi, kenapa kalian tidak pacaran saja? atau sekalian nikah”. Kamu, aku, tak suka kata-kata itu. Lalu dengan cepat kita mengeluarkan teori kita. “Ketika 2 anak manusia yang berbeda jenis kelamin terlalu mirip satu sama lain dalam segala hal, tak bisa menjalani sebuah ikatan seperti pacaran ataupun pernikahan karena tak akan ada saling melengkapi disana. Karena cinta menurut kami adalah saling melengkapi”. Teori yang mereka benci itu, teori yang kita bangun dan berdiri kokoh itu, akan runtuh jika aku menceritakan ideku ini dan kamu menyetujuinya.
Awalnya aku juga kaget. Ini terbersit begitu saja dan tiba-tiba, beberapa hari lalu ketika aku melihatmu ikut membantu persiapan pernikahanku dengan Alif–ya, Alif..lelaki pendiam tapi baik hati—yang dipilihkan Nanna untukku. Apa mungkin ini bentuk penolakan bawah sadarku terhadap perjodohan ini? yang tidak mungkin ku lakukan karena itu sama saja menyakiti Nanna yang mengasuhku sejak kecil. Aku tak tahu pasti.
“Assalamu alaikum”
“Wa alaikum salam” membalas salam, seketika lamunanku terhenti.
“Hai Wen, kapan datang?”
“Ini baru dari airport langsung ke sini”
“Duduk yuk Wen… Gun… aku panggilin Nanna dulu”
Aku tersenyum kecil. Mana mungkin kita, 2 sahabat, menikah; kamu sudah punya Wenny. Ah, ideku memang gila.
Dan teori kita pun masih tetap berdiri disana, dengan kokohnya. Atau mungkin dengan angkuhnya?.
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | 2 Comments »
Tags: Lely Pangerang
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 7, 2010
Aku (Bagian 6)
by Daniel Prasatyo (@daprast)
Aku tak pernah lagi bertemu dengan Hendra, setidaknya selama dua tahun terakhir ini. Malam itu, Retha dan Hendra sama – sama menangis. Aku terdiam. Sumpah serapah mengalir deras dalam kubangan air mata Retha.
Tak ada yg perlu dijelaskan lagi. Apa yg disaksikan Retha sudah sangat jelas. Konsekuensinyalah yang masih kabur, masih buram. Retha tidak ingin meninggalkanku.
Akhirnya Hendralah yang harus pergi dari kehidupanku. Atau sebenarnya, akulah yang harus meninggalkanku kehidupanku sendiri, selamanya. Sejak malam itu, Retha tinggal di apartemenku. Mobilku di bawah kekuasaannya, juga ponselku. Aku terpenjara. Aku mati.
Delapan bulan terakhir, kami disibukkan dengan persiapan pernikahan kami. Well, sesungguhnya, aku sama sekali tidak punya peran di sini. Semua keputusan dan pilihan ada di tangan Retha. Aku hanya wajib berada di sana, dan tentu saja, membiayai semuanya.
Setiap malam, Retha selalu menuntutku untuk mencumbunya. Terapi, katanya. Suatu saat aku pasti akan bisa melupakan orientasiku, menurutnya. Aku menyangsikannya, namun aku tak punya pilihan. Aku hanya bisa berusaha semampuku, menuruti kemauannya agar ia bahagia.
Karena bila ia bahagia, aku takkan lebih menderita.
Persiapan kami sudah hampir matang. Gedung, undangan, gaun pengantin, semuanya sudah dipesan. Dan untuk yang mengenal Retha dengan baik, pilihannya tak pernah yang nomor dua. Tabunganku hampir kandas dibuatnya.
Dan hari ini genap dua tahun sejak malam itu. Aku tak lagi punya akses untuk sekadar mencari tahu kabar terbaru tentang Hendra. Jujur, aku sangat merindukannya. Hanya dia yang mampu membuat hidupku seimbang. Lengkap. Sempurna.
Malam ini, Retha pulang ke rumah orang tuanya. Tradisi. Karena hari Minggu ini kami akan melangsungkan pernikahan kami. Aku menangis sejadi-jadinya. Jiwaku terluka. Aku kehilangan cinta yang paling berharga dalam hidupku. Dan dalam hitungan hari, aku akan kehilangan hidupku karena cintanya.
Teleponku berdering. Tanpa kulihat siapa yang menelepon, langsung kujawab dengan sapaan sayang.
“Mas.., ini Hendra.”
Aku terdiam, terpaku. Seluruh sel-sel dalam tubuhku seakan luruh, runtuh, luluh. Ia menangis.
Ia menceritakan penderitaannya dua tahun terakhir. Ia memutuskan untuk pindah sekolah, pindah kota, segera setelah malam itu. Ia merasakan kehampaan — persis seperti yang kurasakan.
Tak ada bendungan di dunia ini yang mampu menahan luapan air mataku. Meski hampir tiap malam aku menangis, masih banyak sekali pasokan air mata dalam diriku.
Ia mengakhiri pembicaraan kami dengan doa, agar aku bahagia. Tak sedikitpun ia memintaku kembali padanya, meski aku tahu itulah yang ia dambakan. Yang aku dambakan.
Malam ini adalah malam terpanjang dalam hidupku. Aku bahkan tak mampu merasakan apakah kakiku masih menginjak lantai, atau sudah melayang, mengambang.
Jack Daniel menemaniku melewati malam, mengarungi lautan dilema. Kepulan asap rokokku seakan kabut yang meliputi kegelisahanku. Tatapanku tak mampu kulepaskan dari tuxedo yang sudah siap di hadapanku. Pikiranku tak mampu kulepaskan dari laki – laki yang paling mengisi hatiku.
Jiwaku mengembara entah ke mana.
Alarm ponselku berbunyi. Sudah saatnya aku bersiap. Sudah saatnya aku mengakhiri kebebasanku. Sudah saatnya aku menjalani perbudakan seumur hidup.
Kukenakan tuxedo hitam itu tanpa semangat. Aku melangkah gontai keluar dari apartemenku, penjaraku selama dua tahun terakhir dan sepanjang sisa hidupku kelak. Kujalankan mobilku. Menuju gereja, menuju neraka.
Panggilan terakhir boarding. Tanpa persiapan apapun. Tunggu aku di kotamu, Hendra.
(ke bagian sebelumnya) (ke bagian berikutnya)
Posted in 02 NovemberMenulis, A Circle of Life, Cerita-cerita | No Comments »
Tags: Daniel Prasatyo












D5 Creation