Wednesday, December 1st, 2010
now browsing by day
Dunia Fantasi
by Dian Harigelita @harigelita
Ada seorang anak yang hidupnya baik-baik saja dari hari ke hari.
Sebutlah ia, Anak Baik-Baik Saja.
Bangun tidur ia terus mandi dan tidak pernah lupa menggosok gigi.
Sehabis mandi ia menolong ibunya merapihkan tempat tidurnya.
Kalau pagi ia makan nasi dan malam minum susu ditemani belalang dan kupu-kupu.
Setelah itu ia berangkat ke sekolah, sambil duduk manis di belakang Pak Supir yang sedang bekerja.
Di sekolah, ia belajar dengan penuh semangat.
Di sekolah, ia selalu rajin.
Di sekolah, ia selalu menghormati guru dan menyayangi teman.
Tentu saja, karena ia adalah murid yang budiman.
Tidak ada yang salah dari kehidupannya. Ia baik-baik. Itu saja.
Anak Baik-baik Saja ini satu kelas dengan seorang anak dengan kehidupan yang penuh warna.
Sebutlah ia Anak Penuh Warna.
Baginya pelangi bukan sekedar ciptaan Tuhan yang elok dipandang.
Pelangi di benaknya adalah perosotan 7 rasa.
Pelangi merah rasa stroberi yang manis dan genit.
Pelangi jingga rasa jeruk yang kecut dan lucu.
Pelangi kuning rasa lemon yang asam menyegarkan.
Pelangi hijau adalah rasa apel yang renyah saat dikunyah.
Pelangi biru rasa blueberry yang buah aslinya belum pernah dia makan. Mamanya bilang harganya mahal, cukup cicipi eskrimnya saja.
Pelangi nila adalah yang paling pahit. Harus dihindari sebab suka merusak susu. Susu yang suka sekali Anak Penuh Warna minum.
Pelangi ungu berperisa anggur buah favoritnya dan juga warna kesukaannya.
Anak Penuh Warna akan mendaki pelangi, menitinya sedikit demi sedikit.
Bila haus, ia tinggal menciduk rasa yang disuka dengan tangannya, lalu meminumnya “Sluuurrrpp!”
Sesampainya di puncak pelangi, ia akan menduduki rasa favoritnya dan meluncur… Syuuuuuurrr!!
Ia lalu tertawa-tawa gembira, dari balik jendela kamarnya, kepada pelangi yang sedang tersenyum padanya, meski terbalik. Tak mengapa.
Suatu pagi, pagi sekali. Di sekolah.
Anak Penuh Warna bertemu dengan Anak Baik-baik Saja.
Hari itu kebetulan mendung, tetes-tetes hujan menggelantung.
Anak Penuh Warna tertawa-tawa, seakan yakin setelah hujan kawannya, Pelangi, akan tiba.
Anak Baik-Baik Saja heran melihat kelakuan temannya.
“Mengapa kamu tertawa?” tanyanya.
“Karena aku senang.”
“Kok kamu bisa senang di cuaca seperti ini?”
“Karena aku masih bisa berfantasi.”
“Fantasi? Apa itu? Dunia Fantasi? Saya pernah ke sana bersama Ayah, Ibu, Adik dan Kakak.” Anak Baik-baik Saja sedikit menyombong.
“Saya selalu ke Dunia Fantasi. Setiap hari!” timpalnya riang.
“Kok bisa? Kamu kan bukan anak orang kaya? Apa kamu tidak sekolah?”
“Kata Mama, dunia fantasi saya ada di dalam sini.” Anak Penuh Warna menunjuk kepalanya sendiri.
“Bagaimana caranya?”
Anak Penuh Warna berpikir sejenak.
“Apa yang kamu suka?”
“Aku suka Transformers!”
“Hey, aku juga!” Anak Penuh Warna terkekeh, “Apa lagi yang kamu suka?”
“Aku suka Pop Corn Caramel!”
“Baik. Sekarang bayangkan Robot Transformers yang bisa bikin Pop Corn Caramel.”
Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing. Senyum perlahan menyembul di wajah keduanya.
Senyum yang semakin mengembang. Seiring berkembangnya imajinasi Transformer Pop Corn Caramel.
Pop corn Caramel yang menggunung melebihi tinggi Transformers itu sendiri. Menggembung di alam pikiran Anak Baik-Baik Saja dan Anak Penuh Warna. Transformers berenang-renang dalam lautan Pop Corn. Kewalahan seorang diri.
Anak Baik-baik Saja dan Anak Penuh Warna saling mengintip fantasi masing-masing dan spontan meledaklah mereka dalam tawa.
Tawa rasa Caramel. Tentu saja.
Patung Darati
by Ekastri @ekastri
Di desa Sapana terdapat sebuah patung wanita cantik. Oleh penduduk desa patung itu diberi nama Patung Darati. Penduduk desa senang melihat Patung Darati, karena wajah Patung Darati selalu tersenyum.
Pagi itu, penduduk desa Sapana gempar. Wajah Patung Darati berubah sedih. Penduduk desapun ikut menjadi menjadi sedih.
Karena semakin banyak penduduk yang bersedih. Pak kepala desa lalu mengumpulkan penduduknya di balai desa untuk bermusyawarah. Membicarakan apa yang akan dilakukan agar Patung Darati dapat kembali tersenyum dan penduduk kembali senang.
Penduduk desa sepakat untuk mengadakan pertunjukan di depan patung Darati. Pertunjukan drama, tari-tarian, nyanyian dan lain-lain. Semua penduduk desa baik laki-laki, perempuan, orang tua dan anak-anak semua ikut terlibat dalam pertunjukan itu.
Sudah tiga hari pertunjukan itu diadakan. Tapi Patung Darati tidak juga tersenyum. Penduduk desa pun mulai kelelahan. Bahkan beberapa anak sampai tertidur di dekat Patung Darati.
Sore itu, karena kelelahan Lara dan teman-temannya tertidur dekat kaki patung Darati. Dalam tidurnya Lara bermimpi melihat patung Darati sedang sedih. Lara lalu mendekati patung Darati dan bertanya kepada Patung Darati.
‘Patung Darati mengapa bersedih?’ tanya Lara dengan sedikit ketakutan.
Patung Darati lalu menjawab ‘Aku sedih karena melihat penduduk desa membuang sampah sembarangan dan membuat desa Sapana menjadi kotor.’
Patung Darati lalu menjelaskan kepada Lara bahwa sampah yang dibuang sembarangan bisa menyumpat selokan dan menyebabkan air tak dapat mengalir. Jika hujan turun maka air akan menggenang dan menyebabkan banjir. Patung Darati juga mengatakan sampah yang bertumpuk bisa menjadi sarang nyamuk. Dan akan menimbulkan penyakit.
‘Lalu apa yang harus penduduk desa lakukan supaya Patung Darati bisa kembali tersenyum?’ tanya Lara.
‘Penduduk desa harus membersihkan sampah-sampah yang berserakan dan selalu menjaga agar desa Sapana tetap bersih,’ jawab Patung Darati.
Patung Darati pun pergi meninggalkan Lara sendirian setelah selesai bercerita.
‘Lara…, Lara…., bangun hari sudah gelap ayo kita pulang.’ terdengar suara ibu membangunkan Lara.
Lara pun terbangun dan menceritakan mimpinya kepada ibu. Ibu pun segera menceritakan mimpi Lara kepada kepala desa.
Esok harinya kepala desa mengumpulkan penduduk desa dan menceritakan tentang mimpi Lara. Kepala desa lalu mengajak penduduk desa untuk bekerja bakti membersihkan sampah-sampah yang berserakan dan meminta penduduk untuk selalu menjaga kebersihan desa.
Setelah penduduk selesai membersihkan sampah-sampah. Akhirnya patung Darati bisa kembali tersenyum. Penduduk desa pun lega dan senang melihatnya.
Petarung Mimpi
by Laksmi @Hei_L
Mimpi Vanya malam ini….
Vanya meletakkan telunjuk kanannya di bibir, segera ia menggandeng tangan Naia dan mengajak si kembar Fadli dan Fadlan ke garasi rumahnya. Dengan jalan mengendap-endap layaknya dalam film Detektif mereka membuat barisan sambil melihat keadaan sekeliling. “Aman” Fadli berbisik sambil membawa kaca pembesar ala detektif cilik Conan.
“Aku bisa terbang” pekik Vanya.
Naia dan si kembar saling berpandangan, tak kurang dari satu menit mereka sudah berdebat seru layaknya anak umur 6 tahun yang tak mau kalah mengenai kehebatan mereka. Vanya tersenyum girang melihat tingkah teman-temannya, lalu ia memejamkan mata. Perlahan tubuh kecilnya melayang tak berpijak pada telapak bumi. Vanya sedikit berteriak untuk menghentikkan perdebatan teman-temannya, “Lihat aku!!!” Seketika baju mainnya berubah menjadi gaun putih yang menjuntai ke lantai, lalu muncul sayap kecil yang menempel pada punggungnya, berkilau. Vanya tertawa riang, ia menari-nari mengelilingi garasi. Naia dan kembar Fadli dan Fadlan membelalakan matanya, mulut mereka membentuk gua kecil. Terpukau.
Mimpi Naia Malam ini….
Naia tersenyum congkak melihat Vanya menatap iri pada gaun dan sepatu cantik barunya. Pikirnya pasti ia barbie tercantik di pesta nanti. Sambil bersiap diri, dayangnya dengan sigap menyisir rambut Naia sampai seratus kali agar berkilau.
Naia berkaca di depan cermin, “Hai cermin, siapakah wanita yang paling cantik di negeri ini?” Bagai tersihir sang dayang menjawab pasrah, “Yang Mulia Tuan Putri”. Naia tersenyum manis sekali pertanda puas. Vanya mengerucutkan bibirnya sebal.
Mimpi Fadli malam ini….
Dibalik sebuah pintu ia mendengar suara-suara yang dikenalnya, Jenderal Kumis sedang menyalakan korek api gas, Nyonya Gendut cemas bertanya sambil melirik lemari yang sedikit terbuka, “Jadi bagaimana?” Jenderal Kumis berdeham, “Kita habisi si Tompel, hanya dia saksi kunci, Nyonya jangan khawatir, asal Nyonya tidak bicara macam-macam di Pengadilan nanti, sebaiknya Nyonya pergi sekarang!”
Fadli cepat-cepat pergi, dengan sekali kerjapan mata ia menghilang dari balik lemari ketika Nyonya Gendut memeriksanya. Huffftttt… Hampir saja. Aku harus memberi tahu Detektif Gundul, penyamaran Jenderal Kumis harus segera terbongkar. Disiapkannya rekaman pembicaraan tadi, senyumnya mengembang membayangkan dirinya menjadi asisten cilik tetap Detektif Gundul.
Mimpi Fadlan malam ini….
Dilihatnya api yang menjilat-jilat, membuat Kapten Fadlan sigap membalikkan badan pesawat. Tangan kecilnya berkeringat memegang kendali pesawat Jet. Kapten Fadlan berteriak kesal, “Kapten Fadli lindungi aku, aku akan memutar menembak mata Naga berkepala dua”. Tapi di ujung sana tak pernah ada tanda-tanda jawaban dari Kapten Fadli. Naga berkepala dua terus menerus menyemburkan api dari mulutnya. Kapten Fadlan pasrah, ia berjuang seorang diri kini. Tak sadar ia bernyanyi dengan kencang, mengeluarkan suara merdunya yang lembut. Tak disangka sang Naga berkepala dua beringsut mundur, dilihatnya sepasukan peri yang terbang menutupi mata sang Naga. Kapten Fadlan terus bernyanyi sambil menyiapkan serangannya. Pasukan peri memberi tanda agar Kapten Fadlan cepat-cepat menembaknya, sang Naga berkepala dua semakin liar menyemburkan api, dilihatnya pasukan peri mulai kewalahan. Dengan gesit akhirnya ia menembakkan peluru dari Pesawat Jetnya dengan hati-hati. Naga
berkepala dua akhirnya mati melalui pertahanan yang kuat. Kapten Fadlan tersenyum kepada pasukan Peri, nyanyiannya membangunkan mereka, dengan penuh rasa hormat ia masih bernyanyi sampai lagunya berakhir dan pasukan Peri menghilang dari pandangan.
Air Mata Putri
by Susy Haryani @susyillona
Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Makmur, Kerajaan tersebut merupakan Kerajaan yang paling kaya. Rakyatnya hidup makmur, bahan makanan melimpah ruah, hingga lumbung penyimpanan bahan makanan dibangun di berbagai tempat dengan ukuran yang besar. Akan tetapi rakyat Kerajaan Makmur menjadi sombong dan angkuh, mereka lupa untuk bersyukur pada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan-Nya.
Tak berapa lama keadaan berbanding terbalik. Rakyat Kerajaan Makmur kini hidup penuh penderitaan, kemarau panjang yang melanda kerajaan tersebut membuat tanaman dan hewan ternak mati. Sumber air terletak jauh dari desa, sehingga masyarakat kesulitan untuk mengambil air untuk ternak dan tanaman. Air hanya cukup untuk kebutuhan sehari hari seperti minum dan memasak, itu pun kalau mereka mendapat bahan makanan untuk dimasak.
***
Raja Kerajaan Makmur akirnya jatuh sakit. Ia terbaring lemas ditampat tidur, prihatin dengan keadaan rakyatnya. Sudah tujuh tahun hujan tidak turun di wilayah kekuasaannya. Simpanan bahan makanan yang ada dilumbung penyimpanan pun sudah menipis, tidak dapat lagi dibagikan pada rakyatnya, karna hanya cukup untuk kebutuhan istana selama beberapa bulan kedepan. Berbagai cara telah dilakukan sang Raja, mulai dari memanggil para pawang hujan, hingga sayembara yang disebarkan sampai ke kerajaan seberang, bahwa siapa saja yang bisa mendatangkan hujan untuk Kerajaan Makmur bila lelaki akan diperkenankan mempersunting Putri Welas, putri satu-satunya di Kerajaan Makmur, dan bila perempuan akan dijadikan Putri di kerajaan. Namun hingga kini tak ada satupun orang yang berhasil mendatangkan hujan. Raja hampir putus asa dengan keadaan yang kini dialami oleh Kerajaan Makmur.
***
Putri Welas memiliki paras yang ayu, hatinya pun putih tak memiliki rasa dengki sedikit pun, ia juga memiliki sifat yang bersahaja dan baik terhadap semua orang. Dan ia adalah satu-satunya orang yang masih percaya pada kekuasaan Tuhan.
Suatu malam sang Putri pergi ke ruang doa, ruangan itu memang ruangan khusus yang digunakan oleh keluarga istana untuk berdoa. Namun ruangan itu tak pernah digunakan. Hanya Putri welas yang selalu berdoa disina setiap malam.
Putri Welas mulai berdoa kepada Tuhan.
”Tuhan ku, ujian ini teramat berat bagi kami, kerinduan kami akan air yang turun dari surgamu kian tak terbendung, kini aku mohon pada-Mu Tuhan berilah kami hujan, yang akan mengembalikan kehidupan kami.” air mata Putri Welas turun dengan deras hingga baju yang dipakainya basah kuyup. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu bahwa jika ia bisa terus menangis maka air akan terkumpul dengan sangat banyak. Lalu sang Putri pun berdoa kembali ”Jika Engkau tidak berkenan menurunkan hujan bagi Kerajaan Makmur ini Tuhan, maka biarlah aku mengis selamanya dan jangan hentikan airmata ini sebelum datang kehendak-Mu”
Tiba tiba petir menyambar dengan suara yang amat mengerikan, namun tetap tak ada hujan. Hanya kini sang Putri tampak berubah menjadi batu dengan mata yang terus mengalirkan air mata.
Esok paginya, Istana dikejutkan dengan air yang menggenang, setelah dicari sumbernya, Sang Raja mampak terkejut melihat ada batu yang menangis di ruang doa, tak berapa lama kemudian ia pun menyadari bahwa batu itu adalah putri
kesayangannya. Wajah batu sama persis dengan Putri Welas. Rajapun bersedih.
Beberapa saat kemudian Raja memberikan pengumuman bahwa telah ditamukan sumber air dari patung yang ada dalam istana. Rakyat Kerajaan Makmur pun bersuka ria dengan berita tersebut, mereka segera membuat aliran air agar bisa sampai ke rumah dan sawahnya. Sebulan kemudian keadaan Kerajaan Makmur mulai normal kembali, rakyatnya mulai bisa bercocok tanam kembali.beberapa waktu kemudian Kerajaan Makmur mulai makmur kembali, meskipun tidak ada air hujan yang turun di kerajaan Tersebut, namun air mata Putri Welas cukup untuk kehidupan Kerajan Makmur.
Lambat laun tabiat buruk dari rakyat tumbuh kembali, mereka makin ingkar pada Tuhan, mereka mengangap tanpa Tuhan mereka tetap dapat menikmati kemakmuran. Mereka lupa bahwa air mata Putri Welas dapat mengalir karna kuasa Tuhan. Bahkan mereka lupa berterima kasih kepada Putri welas yang sudah rela berkorban.
Dalam tubuh batu tersebut sebenarnya Putri welas masih memiliki jiwa yang bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi di Kerajaan Makmur. Ia pun sangat bersedih akan tabiat dari Rakyatnya. Ia merasa pengorbananya malah menjadikan rakyatnya semakin angkuh. Ia pun berdoa kembali pada Tuhan.
”Ya Tuhan ku, bila karenaku kini mereka semakin menjauhi-Mu maka kini aku rela Engkau meletakkan kehendak-Mu atas Kerajaan Makmur,” usai berkata demikian, airmata yang mengalir dari mata patung Putri Welas kian deras. Dalam waktu semalam Kerajaan Makmur telah dipenuhi air. Seluruh rakyat tak menyadari akan datangnya bencana sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan diri waktu air menenggelamkan mereka.
Wasiat Bulu Elang (3 – End)
by Ika @ikavuje
Dua helai bulu Elang yang kumiliki, berwarna Hitam dan Putih. Hadiah dari seorang kakek ajaib, yang memberikan kedua bulu ini lewat mimpi. Hadiah karena telah menyelamatkan seekor Elang yang hampir di panah oleh ayahku.
Namaku Meto. Masih kelas 2 SD, sekolah negeri 234 kabupaten Pasir.
Sebelumnya aku punya 3 helai bulu, hitam, coklat dan putih. Yang coklat sudah kugunakan untuk membantu menemukan temanku yang hilang dihutan.
Hari ini hari minggu. Aku, ayahku dan ibuku pergi ke sungai untuk piknik dan berburu ikan. Ayahku berjanji mengajariku menangkap ikan dengan tombak bambu. Hatiku sangat gembira, tak sabar untuk segera tiba disana.
Sesampai kami disana, aku langsung menuju sungai. Di sungai ini penduduk desa dilarang mandi, karena ini adalah ‘rumah ikan’ . Banyak ikan yang hidup disini, sehingga sungai tak boleh dikotori. Lihatlah, sungainya jernih sekali.
“Horee,” teriakku, aku berhasil menangkap seekor ikan, walau masih dengan bantuan ayah. Ayah sudah menangkap 3 ekor. Wahh, ayahku memang jagoan.
Cukup empat ekor ikan untuk kami makan. Piknik ini menyenangkan. Matahari tidak begitu menyengat, angin juga berhembus dengan lembut. Pohon-pohon rindang menjadi tempat kami berteduh. Semoga tidak ada orang yang sembarangan memotong pohon. Kan kasihan burung-burung dan tupai, mereka tidak punya rumah lagi. Lagipula, hutan tak akan indah tanpa pohon.
Di kejauhan kami mendengar anak-anak bersorak. Awalnya kami mengira mereka bersenang-senang, namun suaranya menjadi semakin jelas yaitu, “Tolooonggg..”
Aku dan ayah segera bangkit menuju asal suara. Ternyata seorang anak hanyut di sungai. Ia berenang sekuatnya, namun arus sungai begitu deras.
Dasar anak nakal, fikirku. Sudah dilarang berenang di ‘rumah ikan’ masih saja melawan. Lihat akibatnya. Jadi hanyut terbawa arus. Ayahku langsung masuk ke air untuk menyelamatkannya, awalnya ayahku berhasil, namun kemudian ada putaran air yang kencang, ayahku terikut arus deras itu.
Aku berlari mengikutinya sambil terus berteriak, ”Ayah, ayahh, ayo terus berenang, ayaahh, ayah!!” Ayah semakin tak terlihat, aku tinggal sendiri. Anak-anak yang lain berlari ke desa memanggil penduduk lain untuk membantu bersama ibuku.
Aku teringat kedua bulu Elang, tapi aku tidak membawa korek api. Setengah panik dan gugup aku mencari kerikil-kerikil untuk membuat api. ”Menyala! Menyalaa!” kataku berteriak pada batu-batu yang kugesekkan. Akhirnya terbakar bulu hitam, dan datanglah seekor buaya. Aku terpelanting, aku menjauh ketakutan.
“Tolong ayahku yang tenggelam, ia menyelamatkan seorang anak kecil di sungai,” kataku penuh harap terbata ketakutan. Sang Buaya bergegas kesungai, aku melihatnya dari pinggir sungai dengan cemas, apakah sang buaya memakan ayahku? Oh tidak, Tuhan, tolonglah mereka, doaku dalam hati.
Tak lama sang buaya menyeret ayahku dan anak kecil itu dengan mulutnya, aneh, ia tak punya gigi. Aku segera mencoba menyadarkan ayahku.
“Ayah, bangun, Ayah, Ayah” kataku sambil menekan-nekan dadanya, sesekali ku tempelkan telingaku di dada Ayah. Ingin mendengar detak jantungnya.
Buaya kembali ke sungai, aku mengucapkan terimakasih padanya. Tak berapa lama ibuku datang bersama mantri, Ayah dan anak kecil itu dibawa pulang. Anak kecil tersebut telah sadar. Namun, ayahku tak bangun-bangun. Dokter sudah pasrah, aku hanya diam. Aku menangis diam-diam. Tak mau ibu sedih.
“Ayah, apakah engkau akan pergi meninggalkan kami?” isak ku dalam hati.
Tinggal satu bulu lagi, aku berharap, apakah bulu ini bisa membantu menghidupkan ayahku? Apakah bisa? Sedikit harapan dihatiku, namun aku tak mau menyerah, buru-buru aku ke kebun belakang.
“Ya Tuhan, jika memang ini adalah jalanMu, berilah ayahku kehidupan,” doaku pasrah. Lalu kubakar satu bulu terakhir, bulu putih sang Elang.
Ayah datang di depanku. Ia tersenyum. Aku memeluknya. ”Anak ku, tetaplah jadi anak yang baik. Jangan membuat ibu menangis. Jagalah ia baik-baik. Rajinlah belajar. Ayah akan menjaga kalian dari jauh.. ”
“Ayah mau kemana?”Tanyaku
“Ayah harus menemui Tuhan, Ia sudah memanggil ayah. Selamat tinggal sayang,” kata ayah sambil mengecup keningku.
Aku jatuh terduduk. Dan menangis memanggil-manggil ayah…
Tamat
Kerajaan Semut
by Adellia Rosa @adelliarosa
Pagi ini, Dona makan dengan tergesa-gesa, dia harus segera berangkat ke sekolah. Dona kesiangan bangun karena dia semalam tidak mendengarkan perintah ibunya agar tidak menonton tivi sampai terlalu malam. Sekarang, ayah dan ibunya sudah berangkat ke kantor, tinggalah Dona makan sendirian ditemani oleh Mbak Siska, pengasuhnya.
“Mbak, Dona makan di kamar saja!’ rengek Dona. “Dona, tidak boleh ya, makan di kamar, nanti kalau tercecer bisa dikerubuti semut, nanti malam pas Dona tidur, Dona bisa gatal-gatal.” Bujuk Mbak Siska. Dona tetap merengek dan menolak makan di meja makan. Mbak Siska terpaksa menyiapkan sarapan Dona di meja kamar, karena jika tidak bergegas, Dona bisa terlambat ke sekolah.
Sepiring roti isi keju dan segelas susu telah tersaji di meja kamar Dona. Dona yang sedang memakai pakaian seragam SDnya segera menyambar roti isi kejunya. Dia tak mempedulikan rotinya berceceran di lantai kamarnya. Mbak Siska sedang sibuk mempersiapkan tas sekolah Dona sehingga tidak memperhatikan Dona makan dengan sembarangan. Susu yang ada di mejapun segera diteguk Dona sekaligus, dia tak menyadari susu yang diminumnya juga menetes-netes ke lantai. setelah Dona menghabiskan sarapannya, Mbak Siska segera mengantar dan menunggui Dona d sekolah.
Saat Dona pulang dari sekolah, ayah dan ibunya juga belum pulang. Kata Mbak Siska, ayah dan ibu akan pulang malam lagi hari ini. Dona sudah terbiasa di rumah sendirian dengan Mbak Siska yang selalu menuruti permintaanya. Dona adalah anak yang manja serta cengeng. Dia selalu merengek-rengek jika menginginkan sesuatu.
Sesampainya di kamar, Dona sangat terkejut. Dia langsung berteriak memanggil Mbak Siska “Mbaaakk… Banyak semuuuut!!” ujarnya sambil berlari keluar kamar. Mbak Siska tergopoh-gopoh menghampiri Dona dengan wajah yang cemas. “Ada apa Dona?” tanya Mbak Siska. “Banyak semut merah di lantai kamarku!” seru Dona sambil menangis. “Sudah jangan menangis, ayo kita bersihkan. Tadi pagi Dona makan di kamar kan, nah lihat banyak semut sekarang.” bujuk Mbak Siska sabar.
Mbak Siska segera mengambil sapu untuk membersihkan lantai kamar Dona. Dona mengikuti Mbak Siska dengan pandangan ingin tahu. Dia ingat, ayahnya sering membakar semut-semut yang suka mengerubungi makanan. Dona ingin melakukan hal yang sama seperti ayahnya. “Mbak, kita bakar saja semutnya.” Kata Dona sambil mencari korek api dan kertas bekas, persis seperti yang dilakukan ayahnya.
“Jangan Dona, kasihan kan semutnya, lagipula nanti rumah kita bisa kebakaran.” Kata Mbak Siska memegangi tangan Dona. Dona langsung meraung-raung karena Mbak Siska melarangnya. “Pokoknya aku mau bakar semut!!!!” teriaknya. Mbak Siska hanya bisa pasrah menuruti kemauan Dona. Akhirnya Dona membakar semut-semut yang ada di kamarnya dengan koran bekas. Ratusan semut mati terbakar hidup-hidup. Dona merasa sangat senang.
Keesokan harinya sepulang sekolah, kamar Dona kembali dipenuhi semut-semut yang berbaris rapi. Dona kembali membakar semut-semut itu, Mbak Siska sudah berkali-kali melarang, namun Dona tetap saja melakukan apa yang diinginkannya. Hari-hari selanjutnya, kamar Dona selalu dipenuhi oleh semut-semut, namun Dona malah semakin kegirangan, dia bisa membakar semut setiap hari.
Suatu hari, Dona sedang asik membakar semut-semut yang memenuhi dinding kamarnya. Tiba-tiba badannya mengecil dan dia berada tengah-tengah para semut yang mati terpanggang. Beberapa semut yang masih selamat lantas memegangi tangannya dan menyeret Dona memasuki sarang mereka. Tangan dan kaki Dona diikat oleh para semut, sesekali bahkan Dona digigit oleh semut-semut yang kini seukuran dirinya. Dona ketakutan dan menjerit-jerit, namun para semut itu semakn marah padanya. Mulut Dona dijejali telur-telur semut yang sudah membusuk agar tidak berteriak-teriak lagi. Dona hanya bisa menangis tanpa suara.
Dona terus-menerus diikat dan tidak diberi makanan. Para semut mulai menari mengelilinginya serta menyanyikan sebuah lagu yang menyeramkan dengan suara mereka yang seperti peluit. Beberapa prajurit semut tampak sedang menyalakan obor besar didekat badan Dona. Dona menggigil ketakutan, dalam hati ia ingin berteriak memanggil ayah dan ibunya, namun Dona tak bisa bersuara karena mulutnya dipenuhi telur busuk yang berwarna coklat. Telur itu rasanya sangat menjijikkan, namun Dona juga tidak berani memuntahkannya. Dia takut para semut akan mengigitnya lagi. Gigitan para semut itu sangat menyakitkan. Dona memilih memejamkan mata sambil berdoa semoga ayah dan ibu datang membantunya.
Dona tidak tahu berapa lama ia berada di kerajaan semut dengan tangan dan kaki terikat serta mulut yang penuh telur busuk. Saat ia tersadar, para semut yang mengelilinginya tampak sedang berlutut seperti berdoa. Para prajurit yang memakai tameng serta baju perang juga tampak berlutut. Dona berpaling, dan dia kaget luar biasa melihat ada semut yag berukuran dua kali semut biasanya, dua kali ukuran tubuh Dona. Rupanya, semut raksasa itu adalah Ratu Semut. Ia memakai mahkota yang terbuat dari butiran gula Kristal. Cemerlang sekali warnanya. “Anak nakal, sekarang pilihlah. Kau mau jadi pekerja? Atau mau jadi santapan makan malam kami?” tanya Ratu Semut.
Dona menangis sesenggukan, seumur hidup dia belum pernah mengalami kejadian begitu menakutkan seperti ini. “Jawablah, kalau kau diam, kami akan segera memanggangmu. Lihatlah, obor sudah menyala sedemikian besar.” Ucap Ratu Semut lagi. Dona memuntahkan telur-telur yang ada dimulutnya. “Jangan makan aku..” ratap Dona. Ratu Semut mengangguk “Baiklah, mulai sekarang, kau harus bekerja seperti semut pekerja lainnya. Ini hukuman karena kau selalu membunuhi pekerja semut yang sedang mengumpulkan makanan.” Kata Ratu Semut sambil membuka ikatan Dona.
Sejak saat itu, Dona selallu bekerja keras mengumpulkan remah-remah roti bersama pekerja semut lainnya. Terkadang bahkan Dona memasuki kamarnya, mencari remah-remah roti, sesekali berlarian ketakutan karena ada sapu atau ada api yang menyala tiba-tiba. Dona sangat menderita, dia merasa sangat kelelahan dan juga sedih. Dona merindukan ayah dan ibunya. Dona juga merindukan mbak Siska yang selalu sabar padaya. Dona mulai mengerti, bahwa para semut hanya mencari makanan, tidak boleh dibakar sembarangan. Dona juga mulai menyadari, bahwa perbuatan manja itu tidak baik.
Dona tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang terasa amat panjang. Saat terbangun, ia mendapati dirinya sudah berada di kasurnya yang lembut. Rupanya Dona hanya bermimpi. Dia tidak berada di kerajaan semut yang menakutkan itu! Dona gembira bukan main, dia langsung berlari memeluk ayah dan ibunya, juga mbak Siska. Sejak saat itu, Dona berubah menjadi anak yang baik. Dia tidak lagi manja dan cengeng. Kalau ada semut di kamarnya, Dona tidak pernah mengganggunya. Dona tidak ingin menjadi pekerja semut lagi, apalagi menjadi santapan mereka. Namun karena Dona menjaga kebersihan kamarnya, tidak ada lagi semut-semut yang berkerumun di kamarnya.
Pelukis Pelangi
by Icha @sachakarina
Awan yang tadinya cerah perlahan bergeser, digantikan oleh awan gelap yang menggumpal-gumpal tanda hujan akan turun sebentar lagi. Jika awan itu disingkap, maka akan tampak sebuah istana megah di atas langit, rumah para peri keindahan. Negeri Bianglala.
***
Negeri itu sangat indah, terdapat taman-taman penuh bunga, danau-danau dengan warna beragam dan istana putih yang terbuat dari awan. Disanalah para peri keindahan tinggal, mereka adalah peri yang melukis pelangi saat hujan reda. Warna-warna indah pelangi mereka dapatkan dari danau khusus, danau Iris namanya.
“Hoammm.”
Arabel yang baru saja bangun meregangkan tangannya lalu menguap lebar, dia ternyata tertidur di bawah pohon. Arabel adalah pelukis pelangi berusia delapan tahun yang sangat berbakat. Lukisannya sangat cantik dan dia bangga dengan hal itu.
Arabel melirik ke arah langit yang ada di bawah dan melihat hujan akan segera turun. Arabel tersenyum senang, itu tandanya sebentar lagi dia akan melukis pelangi lagi. Arabel mempercepat kepakan sayapnya agar segera sampai di istana. Dia ingin mengambil kuas bulu yang biasa mereka gunakan untuk melukis. Gerakan Arabel terhenti karena mendengar suara yang melibatkan namanya.
Karena penasaran, Arabel menguping.
“Arabel memang pelukis pelangi berbakat. Masih kecil tapi dia melukis dengan sangat hebat!” kata salah satu peri.
“Iya memang, apakah dia bisa melukis pelangi sendiri yah?” gumam peri satunya lagi.
“Wah, tidak mungkin. Arabel masih kecil, dia tentu belum mampu. Lagian kita harus bekerja sama jika harus melukis pelangi, supaya hasilnya lebih bagus dan cepat selesai.”
“Iya juga yah. Ayo kita segera siap-siap. Hujan akan segera turun. Kita harus segera melukis pelangi.” Kedua peri itu pun menjauh.
Arabel tersenyum mendengar percakapan dua peri tadi. Dia jadi merasa tertantang dengan apa yang dikatakan peri. Arabel akan melukis pelangi sendiri. Semua orang pasti akan memujinya jika dia bisa menyelesaikan pelangi itu. Sendirian.
Di negeri ini ada banyak pelukis pelangi. Mereka saling berkelompok untuk menyelesaikan pelangi di tempat yang baru saja hujan. Setiap kelompok terdiri dari tujuh peri, masing-masing memegang warna tersendiri. Dengan saling berkelompok maka hasil dari lukisan mereka akan jauh lebih indah dan akan selesai dengan cepat.
Arabel mendekati gudang penyimpanan warna kelompoknya dengan mengendap-endap. Setelah yakin tidak ada yang melihat, Arabel mengambil cat-cat itu dan membawanya keluar. Dia hanya menyisakan sedikit warna untuknya sendiri.
***
Langit kembali mulai cerah, tanda hujan akan segera reda. Para peri mendatangi gudang dan sangat kaget karena cat-cat yang sudah mereka siapkan hilang. Tidak ada sama sekali. Sedangkan untuk kembali ke danau Iris sudah tidak cukup waktu lagi.
“Aku punya sedikit cat, pasti cukup untuk melukis pelangi. Aku akan melukisnya sendiri.” Kata Arabel pada teman kelompoknya, mereka semua hampir sebaya.
“Kami akan membantumu. Kamu bisa membagi catmu pada kami?” tanya Kuni, peri yang berwarna kuning.
“Tidak. Aku bisa menyelesaikannya sediri, aku kan peri kecil yang sangat berbakat! Aku pasti bisa menyelesaikannya sendiri.” kata Arabel menyombongkan diri. Ke enam temannya mencibir.
***
Hujan sudah reda tapi pelangi yang digambar Arabel belum juga selesai. Masih ada warna biru, nila dan ungu yang belum selesai. Lukisannya juga tidak terlalu bagus dan dia sudah lelah sekali. Arabel mengusap keringat di keningnya lalu mulai melukis lagi. Kalau dia tidak bisa menyelesaikan pelangi secepatnya maka dia akan membuat kecewa orang-orang di bumi yang mencintai keindahan.
“Arabel, hujan sudah reda. Mengapa pelangi belum juga selesai kamu lukis. Manusia di bumi sudah menunggu.” Kata Vio.
“Maaf Vio, aku sepertinya tidak bisa menyelesaikannya. Masih banyak warna yang belum aku lukis, bagaimana ini?” Arabel hampir saja menangis. Dia merasa menyesal sudah menyembunyikan cat-cat itu.
“Bukankah kamu peri yang berbakat? Harusnya kamu bisa!”
“Maaf, akulah yang sombong. Aku sengaja menyembunyikan cat-cat itu agar kalian tidak bisa melukis dan hanya aku yang bisa. Aku berharap orang-orang akan memujiku jika aku bisa menyelesaikannya. Tapi ternyata jika tidak bekerja sama pelangi tidak akan segera selesai.” Ke enam peri kecil itu kaget mendengar pengakuan Arabel.
“Ayo kita segera selesaikan bersama! Semua sudah menunggu pelangi muncul!” Kata Anila dan mengeluarkan kuasnya. Yang lain mengikuti.
“Tidak. Aku tidak mau membantunya. Dia harus menyelesaikannya sendiri.” Vio menolak membantu. Kuni mendekatinya dan memegang pundaknya.
“Vio, kita harus saling membantu. Ini tugas kita bersama. Arabel sudah meminta maaf, jadi kita harus memaafkannya.”
Vio berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah, aku memaafkannya. Ayo kita mulai melukis.” Arabel langsung memeluk Vio dan berterima kasih. Arabel juga meminta maaf pada teman-teman yang lain dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Mereka lalu melukis pelangi dengan riang, hanya sekejap dan pelangi itu sudah selesai. Mereka puas dengan hasilnya. Akhirnya, mereka bisa menyelesaikan pelangi dengan tepat waktu. Orang-orang di bumi pasti sangat senang melihatnya.
Wasiat bulu Elang (2)
by Ika @ikavuje
Namaku Meto. Masih kelas 2 sekolah dasar. Di sekolah negeri 234 , kabupaten pasir. Kecamatan tritura.
Ayahku adalah pemburu Elang. Pernah aku sekali menyelamatkan seekor Elang, dari panah ayahku. Kira-kira satu minggu yang lalu. Karena kejadian itu kemudian aku mendapatkan tiga helai bulu pemberian seorang kakek tua, yang ajaib, dari sebuah mimpi.
Tiga helai bulu itu tiga warna, hitam, coklat dan putih. Aku tidak tahu apa gunanya. Pesan si kakek, aku hanya boleh menggunakannya saat butuh bantuan. Tapi, tidak boleh untuk perbuatan jahat.
Hari ini aku sekolah. Seperti biasa aku selalu pergi sekolah naik sepeda. Rumahku tak jauh dari sekolah, hanya saja harus melewati hutan agar lebih cepat sampai. Jika tidak, maka aku harus memutar melewati pasar buah.
Keesokan harinya disekolah kami mendengar kabar buruk. Satu dari 3 temanku menghilang dihutan, awalnya karena mereka bermain petak umpet. Padahal hari sudah gelap, tapi mereka tetap nakal, akhirnya Bona menghilang.
Semua penduduk dan masyarakat sekitar ikut mencari. Namun kami tak berhasil menemukan nya. Tiba-tiba aku teringat denga bulu Elang ajaib itu. Ketika tidak ada orang aku pun membakar bulu yang berwarna coklat. Seketika seekor Elang berdiri didepanku.
“Tolong cari kan temanku ia menghilang dihutan. Bantu ia pulang” kataku gugup
Sang elang langsung melesat terbang, ia sepertinya mengerti ucapanku. Aku menunggu dengan was-was. Didalam hati aku terus berdoa. Karena hari semakin gelap, akupun pulang.
Sekitar pukul 7 malam ada yang mengetuk pintu rumahku. Ketika kubuka…
“Bona! Kau baik-baik saja?”Kataku riang.
“Iya, aku dibimbing seekor Elang, ia yang menunjukan jalan pulang.” Katanya tersenyum
“Syukurlah, ayo kuantarkan kau pulang.”
Aku permisi pada ayah dan ibu sebelum mengantar Bona, ayahku khawatir terjadi apa-apa, maka ia pun turut mengantar Bona.
Seluruh penduduk kampung gembira menyambut Bona, terutama ibunya, yang menangis terus menerus kehilangan anaknya.
“Lain kali kalau sudah gelap jangan main-main dihutan ya Bona.” Kataku
“Iya, maafkan aku ya, telah membuat semuanya khawatir.”
Setelah berbincang-bincang sebentar, aku dan ayah pulang kerumah. Ayah membelai kepalaku, katanya aku teman yang baik.
Setelah sampai dikamar, aku melihat dua helai bulu elang yang tersisa. Hitam dan putih.
Dua Putri Negeri Pelangi
by Angghie Gerardini @njiegerardini
Tersebutlah sebuah kisah dari Negeri Pelangi. Konon, ini adalah negeri para dewi. Mentari setia menyapa setiap pagi dan menemani hari-hari para dewi hingga matahari bersembunyi. Begitu juga sabit, purnama, dan taburan bintang. Senantiasa meramaikan malam bersama kunang-kunang yang menari. Negeri Pelangi, negeri elok dengan sejuta warnai-warni. Setiap sisi jalan berhias anggrek, mawar, kamboja, dan lili. Rumput pun menghijau setiap hari. Bersahabat dengan awan dan hujan yang mengatur kehadiran. Hingga musim kemarau juga tak pernah datang.
Negeri Pelangi dipimpin oleh Permaisuri. Cantiknya seperti tak tertandingi. Memiliki dua putri jelita, pandai melukis dan menari. Adorablia dan Fairini. Juwita bagai peri.
Putri pertama, namanya Fairini. Santun dan dermawan. Pandai memikat hati. Ia juga gemar menari. Gerakannya segemulai pelangi. Ia gemar menari di tepian danau setiap pagi.
Putri kedua, bernama Adorablia. Sikapnya lembut dan baik hati. Dicintai seluruh penghuni negeri. Ia pandai melukis, mulai pesona bunga hingga keindahan Negeri Pelangi, semua digambarnya. Adorablia senang melukis di tepi danau saat sore tiba.
Pada suatu siang, dua putri dalam perjalanan pulang. Setelah belajar menjahit di atas rumah pohon di seberang istana. Mereka melewati danau indah tempat mereka menyalurkan kegemaran. Danau berair jernih yang penuh teratai dengan pepohonan sejuk di tepian.
Mereka terkejut melihat pelangi yang membentuk lingkaran. Seperti sedang berputar. Mereka segera melebarkan selendang, terbang mendekati awan. Dayang-dayang seketika menahan, membujuk mereka untuk segera pulang sesuai perintah Ratu Baginda. Dua putri pun segera turun dan pulang, memenuhi pesan ibu tersayang.
Esok harinya, Adorablia melihat lingkaran pelangi di tempat yang sama. Kali ini ia tak dapat. menahan keinginan melukis pesona pelangi dari dekat. Tanpa sepengetahuan kakak dan dayang-dayang, ia melayang ke angkasa.
Ketika mendekat lingkaran, pelangi berputar semakin cepat. Angin pun berhembus tak kalah hebat. Adorablia tak lagi mampu menahan kekuatan selendangnya. Ia terhisap putaran. Ia pasrah ketika sadar telah ada di Negeri Seribu Penyihir. Ia ketakutan. Penuh penyesalan telah mengabaikan pesan Bunda tersayang.
Pohon Ajaib
by Ricky Rinaldo @IniRickRick
Suatu hari Pak Amir dan Pak Ito pergi berburu ke hutan. Di tengah hutan mereka melihat seorang kakek yang sedang diserang oleh seekor harimau. Mereka berdua segera menakut-nakuti dan mengusir harimau itu dengan senapan yang mereka bawa. Sebagai tanda terima kasih, kakek itu memberi mereka masing-masing sebutir bibit tanaman ajaib. Kakek itu mengatakan bahwa jika bibit itu ditanam di halaman rumah mereka masing-masing, maka akan mendatangkan berkah buat mereka berdua. Namun mereka harus bijaksana dalam memanfaatkan berkah tersebut, karena sewaktu-waktu berkah itu akan diambil lagi untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan. Setelah itu si kakek pun pergi. Pak Amir dan Pak Ito pun kembali ke rumah mereka masing-masing, yang letaknya bersebelahan, dan menanam bibit ajaib itu di halaman rumah mereka.
Keesokan harinya mereka terkejut karena di halaman rumah mereka telah tumbuh pohon mangga yang berbuah sangat banyak. Dengan riang gembira mereka pun mulai memetik buah-buah mangga itu. Dan ajaibnya, setiap kali buah mangga terakhir dipetik, maka dalam 10 menit buah-buah mangga yang baru akan tumbuh lagi di dahan-dahan pohon ajaib itu. Maka semakin bertambahlah kegembiraan mereka.
Pak Amir dan Pak Ito segera mengisi keranjang mereka sampai penuh. Setelah itu mereka membawa mangga-mangga tersebut ke kota dan menjualnya ke seorang pengusaha yang bersedia membeli semua mangga mereka dengan harga yang layak. Maka Pak Amir dan Pak Ito pun setiap hari memanjat pohon mangga mereka, memetik buahnya, lalu menjualnya ke pengusaha di kota itu. Mereka mendapat keuntungan yang lumayan setiap harinya dari hasil menjual mangga-mangga itu.
Pak Amir menggunakan keuntungannya untuk membeli sebidang tanah yang digunakannya untuk menanam lebih banyak pohon mangga. Tentu saja kali ini yang ditanam bukanlah pohon ajaib. Melainkan pohon mangga biasa saja yang buahnya hanya akan tumbuh sesuai musimnya.
Sementara itu Pak Ito menggunakan keuntungannya untuk berfoya-foya. Dia malah mengejek Pak Amir yang bersusah-payah menanam pohon mangga biasa. Pak Amir tidak ambil pusing dengan ejekan Pak Ito. Dia tetap tekun dalam melakukan usahanya.
Suatu hari kakek yang dulu memberikan mereka bibit pohon ajaib itu muncul lagi di depan mereka. Kakek itu berkata bahwa ia datang untuk mengambil kembali bibit pohon ajaib itu dari Pak Amir dan Pak Ito. Kakek itu berkata bahwa bibit itu sudah memberi cukup banyak berkah untuk Pak Amir dan Pak Ito. Dan sekarang saatnya bibit itu diberikan kepada orang lain yang membutuhkan berkah tersebut. Lalu kakek itu menyentuh kedua pohon itu, dan secara ajaib kedua pohon itu langsung berubah kembali menjadi bibit seperti sedia kala. Lalu kakek itu kembali pamit.
Maka sejak itu, tidak ada lagi pohon mangga ajaib di halaman rumah Pak Amir dan Pak Ito. Pak Ito pun menjadi sedih karena sekarang ia tidak lagi bisa berfoya-foya, karena ia tidak bisa lagi mendapat keuntungan dari menjual mangga. Sebab ia tidak punya lagi mangga untuk dijual. Sementara Pak Amir tetap bisa berjualan mangga dan mendapat keuntungan. Karena meskipun pohon mangga ajaib miliknya sudah tidak ada. Ia masih punya banyak pohon-pohon mangga biasa yang ia tanam dulu dengan susah payah.












D5 Creation