Sunday, December 5th, 2010
now browsing by day
Kinanti, Anak Paling Beruntung Di Seluruh Dunia
by Emiralda Noviarti @emiralda
Sore itu, Kinanti duduk termenung di depan meja belajarnya. Ia sedang risau, memikirkan tugas bahasa Indonesia yang harus dikumpulkan besok.
Ia teringat tugas dari Ibu Rini, guru bahasa Indonesianya, “Anak-anak, minggu depan kalian harus mengumpulkan tugas mengarang. Kembangkan kalimat berikut ini, “Aku beruntung karena …”
“Alangkah sulitnya tugas kali ini”, pikir Kinanti. “Atau, ah.. memang tidak seberuntung teman-temanku yang lain, tak ada yang bisa kubanggakan dari diriku.”
“Aku tidak sepandai Syarifah. Ia selalu ranking satu. Setiap hal yang dibacanya dari buku selalu tinggal di otaknya, tak akan terlupa. Semua soal matematika, serumit apapun, dengan hanya melihat sekilas saja, Syarifah pasti tahu jalan keluarnya. Seberapa rajin pun aku belajar, aku takkan pernah bisa seperti dia.”
“Aku tidak seperti Meutia yang pandai bernyanyi. Suara Meutia indah sekali, dia selalu terpilih mengikuti lomba menyanyi mewakili sekolah atau mengisi acara pentas seni. Meutia juga pandai bermain piano untuk mengiringi nyanyiannya.”
“Aku tidak seperti Aditya yang pandai berbahasa Inggris dan Jepang. Sungguh beruntung dia, karena ayahnya diplomat, maka sejak kecil ia berpindah-pindah tempat tinggal di luar negeri. Aditya juga pandai menggambar. Komik Jepang karyanya selalu menjadi rebutan bacaan teman-teman di kelas.”
“Aku juga tidak cantik seperti Lalita. Kulitnya putih cemerlang. Rambutnya lurus hitam terurai. Dia selalu ceria. Semua orang senang melihatnya dan senang berteman dengannya.”
“Aku sama sekali tidak beruntung.” pikir Kinanti sedih.
“Kinaaann, ayo makan dulu..” suara Ibu terdengar memanggil. Dengan langkah gontai, Kinanti keluar kamar menuju ruang makan.
“Kenapa, kok tidak semangat begitu ?” tanya Ayah.
“Hm, nggak apa.” Kinanti melanjutkan makan malam tanpa suara, lalu segera kembali ke kamarnya setelah selesai makan malam.
Suara ketukan di pintu kamar memutus lamunan Kinanti. Ternyata Ibu.
“Boleh Ibu masuk ? Ada apa, sayang ? Tidak biasanya kamu pendiam begitu. Cerita dong, sama Ibu..”
Ibu duduk di pinggir tempat tidurnya. Lalu mengalirlah cerita itu dari bibir mungil Kinanti. Ibu tersenyum. Tak lama kemudian, Kinanti mulai mengerjakan tugasnya dengan penuh semangat. Seperti biasa, Ibu tak pernah gagal menunaikan tugasnya.
***
Keesokkan paginya. Pelajaran bahasa Indonesia.
“Siapa yang mau membacakan tugasnya di depan kelas ?”
“Saya !” “Saya !” “Saya !”
“Ayo, Kinanti. Ibu dan teman-temanmu ingin mendengar ceritamu.”
Kinanti maju ke depan kelas, lalu mulai membaca.
“Aku Kinanti, anak paling beruntung di seluruh dunia. Teman-temanku adalah teman-teman terbaik.
Syarifah yang pandai selalu mau bersabar mengajariku ketika aku kesulitan mengerti pelajaran. Semua soal matematika menjadi mudah karena Syarifah.
Meutia yang pandai bernyanyi selalu menghiburku kalau aku sedang bersedih. Dengan suaranya yang indah, ia akan menyanyikan lagu-lagu gembira untukku. Sesekali, ia mengajakku ke aula sekolah dan mengajariku bermain piano.
Aditya selalu meminjamkan komik buatannya kepadaku. Ia juga sering bercerita sambil menunjukkan foto, kartu pos, bahkan membawakan banyak oleh-oleh dari perjalanan ayahnya ke luar negeri.
Lalita, teman sebangkuku, cantik sekali. Ia selalu ceria. Sedikit saja aku muram, pasti dia akan langsung menghiburku. Aku selalu senang duduk sebangku dengannya.
Aku Kinanti, anak paling beruntung di seluruh dunia.”
***
Me Versus MOM episode 2
by Rocketeer Ksatriansyah @garibaud
Terkadang… well, mungkin bukan terkadang sih, tapi seringkali, kita teringat kenangan masa kecil, yang ternyata beda sama apa yang diingat sama Mama kita. Suatu hari kita nonton Little Mermaid bareng dia, eh, dia ingetnya film Ikan Duyungnya Benyamin S. Pas nonton Harry Potter, tuh rame anak-anak, malah disama-samain Hari Potretnya TPI. Yang jelas, mamaku, dengan tanpa bermaksud menceritakan kebohongan, kerap menambah-nambahi adegan dengan bumbu drama… kata dia, di situ menariknya gosip. Walhasil, aku pernah ‘seharusnya’ jadi juara I Nasional Lomba Matematika, thanks to my MOM, tapi karena sakit pada saat final, aku harus mundur dari pertempuran. Kenyataannya, urutanku memang 13 Nasional pas SD, itu sudah pol. Soalnya, yang lain pada pinter-pinter semua… masalah sakit emang bener, tapi bukan itu yang jadi penyebab kekalahanku. Orang aku sakitnya beberapa hari setelah pengumuman nggak masuk final kok. Hehehe, itulah, orang gagal bisa jadi kedengeran seperti pahlawan dengan sedikit bumbu.
Here are some:
Harry Potter and the Quidditch
Aku ingat betul, waktu itu lagi booming film Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Aku, Mama, dan beberapa sepupu dari paman yang lebih muda pergi menontonnya. Antriannya bukan main. Lebih lama daripada nonton filmnya.
Aku: (nonton)
Mama: (tidur)
Sepupu-sepupu: (ga tahu mereka sibuk ngapain, yang jelas tiketnya tanggungan bokap mereka)
Film selesai. Sepupu-sepupu terpukau dan menirukan beberapa adegan dalam perjalanan pulang.
Mama: Apa ceritanya itu tadi film kah?
Aku: Anu… Penyihir anak2… masuk sekolah sihir… belajar naik sapu terbang… (menjelaskan satu per satu detail yang ditayangkan dalam film Harpot sambil berpikir, bukankah semuanya lebih sederhana kalau Mama tadi nonton aja)… Trus main quidditch
Mama: Oooh (sok sok ngerti)
Akhirnya kami semua pulang dengan hati gembira ria. Sepupu-sepupu masih asik menayangkan ulang adegannya.
Babe: Jadi bagaimana filmnya?
(Aku blom sempat menjawab)
Mama: Bagus banget. Seru… tentang penyihir anak2… masuk sekolah sihir… (5 menit pertama, detailnya masih bagus, and then…)
Mama: … trus disuruh nyapu sama gurunya, eh, sapunya terbang… (nah lho…)
Mama: (ngelanjutin) ada acara bikin-bikin kue naga
Mama: (ngelanjutin) trus itu si Ari sama anu, temannya, si anu, bertempur melawan monster…
Saat menceritakan bagian bertempur melawan monster ini, penonton Mama bertambah hingga 20 orang yang terdiri dari tetangga-tetangga.
Mama: yang paling seru, main pukul2 bola pake sapu… sapunya dijadikan raket… apalagi namanya… (Oh My, Here She Comes!)… Kudis
Para penonton yang terdiri dari Papa dan para tetangga melongo.
Salah seorang tetangga: Kok kayak nama penyakit kulit?
Babe: (sotoy) mungkin karena yang nyiptain permainannya kena kudis? Kan mainnya pake sapu…. (nyambung ga sih?)
———————————————————————————————————-
==Monolog Internal==
Me: OK Harpot versi baru… tunggu sampai yang lain pada nonton… Tau rasa nanti!!!
Mom: Kudis apa Kubis yah???
———————————————————————————————————-
Juara Nasional Matematika
Setelah dinyatakan nilai kumulatif tidak cukup untuk masuk final lomba Matematika tingkat Nasional.
Aku: Mam, kayaknya perutku sakit deh…? (memegang perutku yang betul-betul melilit)
Mama: Apaa?!?!? Jangan-jangan kamu ga bisa jawab soal-soalnya gara-gara sakit perut yah?!?!? (Mama masih tidak percaya kalo anak laki-lakinya bukan yang terpintar Matematika di Indonesia)
Aku: Ngng… iya kali… (pengen percaya kalo aku ga cukup bego untuk kalah)
Begitu pulang ke Makassar, aku langsung masuk RS. Diagnosanya adalah sakit kuning. Ga tahu kenapa waktu itu diawali dengan sakit perut. Banyak sekali yang menjenguk. Saking banyaknya, kita bisa buka toko dari barang bawaan penjenguk. Aku seperti pahlawan. Aku rawat inap di RS selama dua Minggu.
Masuk sekolah teman-teman menyambutku.
Teman I: Hebat yah kamu! Kita hampir dapat piala Nasional kalo bukan gara2 sakit perut!!!
Teman II: Lhooo Typhus kan loe? Bukan sakit perut…
Teman III: waktu aku datang mamanya bilang Bronchytis…
Teman IV: Ah yang penting sekarang dia udah sembuh… Mama kamu cerita tentang perjuanganmu menjawab pertanyaan-pertanyaan sambil menahan rasa sakit gara2 usus buntumu meradang… katanya semua menahan nafas loohhh
Aku: ……!?!?!?
———————————————————————————————————
==Monolog Internal==
Aku: Ya Allah, sebetulnya aku kena penyakit apa sih? Kok kayaknya ada adegan seru tentang perjuanganku melawan sakit pas lagi lomba yang ga bisa kuingat…
Mama: (nun jauh di rumah, menceritakan pertarunganku yang cuma beda satu pertanyaan dari juara I-nya tapi gagal karena bermacam-macam penyakit)… ya Allah seandainya aku bisa mengingat dengan benar apa nama penyakitnya…
(baru tahu, ternyata dokter pake istilah yellow fever, dan Mama bukan orang yang terbiasa dengan bahasa Inggris)
———————————————————————————————————
Friend Status Terbaik 4: Ngawur to the Max
by Rocketeer Ksatriansyah @garibaud
Indra Ardianti Atmorejo A : nama saya NITRA. B : siapa? RITRA? A : bukan, NITRA… B : siapa? MITRA? A : (kesal).NITRA pak… November India Tanggo Romeo ALpha. B :oalah… novembernya tanggal brp? A : T_T….
friend kalo di jawab, paling nanya lagi Indianya sebelah mana???
Natali Kristin Sibarani kesusahan satu hari hanya buat satu hari jadi nikmatilah hari ini karena hari ini adalah besok yang kita khawatirkan kemarin…semangat!!!
friend iihhh Rendra banget kata-katanya… WS Rendra maksudnya nat… bukan Rendra jakadilaga dodol
Nines Saragih … God grant us the Serenity to accept the things we cannot change, the Courage to change the things we can, and the Wisdom to know the difference…
friend …and above all, the Will to choose between the three, in correct ocassion
Emmanuella Fransiska Hard work never killed anybody, but why take a chance?
friend moral of the story: it’s wise to stay put when everyone works their bone out…
Novan Wahyu yeah…but believe me…sometimes…kiling is more fun than hard work…killing is a good way to release some strees. especially if you are killing your boss…LOL…
friend ………i don’t know what to say Novan, in a way, you have a point, …………..
Nadyah Haruna Astaga pantas ngantuk mau belajar knp baca doa makan
friend mungkin kamu puasanya terlalu dihayati sampai sampai buku yang dipelajari juga buku masakan???
Rista Suryaningsih Perjelas: ngantuk atau lapar ?
Seno Aji Wijanarko Dari dulu emang suka tidur di kelas mo.pake nyalahin doa makan ha9x
Benny Julianda Belum jelas masalah 6.7 Trilliun-nya Century, sudah turun lagi 3.4 Milliar untuk biaya pelantikan anggota DPR dkk, saya mau membuat klub “bicara bajingan” untuk melepaskan unek2 ini, memang bajingan……
friend iya sedih banget, padahal dananya bisa dipakai untuk bantu korban gempa…
Imam San Ben emangnya duit mu ono piro di century?
friend atau bajinganmu ono piro… meh mainan mafia wars wae…
Я. Doroii Hansen Godeus est mortuus. Kala malaikat menjadi iblis untuk membunuh tuhannya sendiri.
friend whew! berat… berat… rawan hujatan nih status kalo ga ngerti falsafahnya…
Maya Setiawati Busyeet..kembalian dr angkot ribuan semuaaa!!
friend kaget amat, May… kalo kembaliannya ratusan ribu semua baru deh loe stress
SoNny EnGko Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kita sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu. I Love Monday…
friend bang Son… kalo ga bawa kompas gimana nehhh???
Iwal Islamuddin Ikhlas = reaksi berbuat amal baik. Smakin cepat reaksinya, smakin ikhlas perbuatannya. Saking cepatnya, dia tidak sempat lagi pikirkan balasan maupun risiko perbuatannya. Dgn kata lain, ikhlas = ndak pake mikir. Kata orang bugis, “just do it”
friend kebanyakan disiksa di dungeonnya mata pelajaran kimia duluuuu… reaksi kimiaaaa…..
Mohammad Baagil bugis basa pengantarnya basa inggris ya wal?
wah keren juga
Rick Hansen |jiwaku berteriak “lepaskan mawar itu!kau hanya akan kembali terluka oleh durinya!” sementara hatiku berbisik “kumohon bertahanlah,aku akan hancur jika mawar itu kau lepaskan…”
friend kan sudah dibilang, ganti lagu jadi bunga melati sajja…
Irvan Herniwan jiwa dan hati gw juga lagi begitu rick :(
Rick Hansen Kenapa gua merasa pas baca komen ini…background nya berubah jadi angin musim gugur dgn daun yg beterbangan ya?he3.
Ako Aja Cita2 Alex..Ktnya kalo gede nanti pengen gantian nyuapin ayah, mandiin, ngajak jalan2 pake mobil alex, trus kalo ayah nangis mau dipeluk sama digendong.. That’s the sweetest thing i’ve ever heard in my entire life!!
friend waduuuhhh… so sweet bangeut nih anak… kapan gw punya satu yah…
Adityo Triwinarko serius: terharu
Ako Aja gue juga langsung berlinangan air mata ama tenggorokan mampet.. hehehe…
Iwan Candra Agnostic bible (Human Idiocy 12:14) : insulting stupid people is not a sin.
friend 12:15 keeping quiet about their idiocy is
Henny Kwok AGREE!
Iwal Islamuddin ini bukan nguping, trjadi beberapa waktu lalu. Seorang rekan berkata ke rekan lain yg masih jomblo, “Lu mau nggak dikenalin ama cewe2 di kantor gw? Manis-manis lho, pinter-pinter pula. Cuma yaa itu, pada malas sholat. Tapi kalo jadi sama lu kan bisa disholati..”. (hening) Didengar oleh rekan lain yg menanti jawaban si jomblo, apakah dia bersedia jadi imam sholat jenazah.
friend kita lagi bicarain cewek beneran nih??? kok gw merinding ROFL
Ahmad Zakhri Hamzah kalo cewe2nya malas tidur jadinya apa dong… hihihihih
Daeng Akri Ya, kita yg tiduri.. Hahahahah
Iwal Islamuddin hahaha.. kak akri, bagaimana mau jadi menteri agama kalo kerjanya meniduri mlulu..
Daeng Akri Kan sesuai judulnya aktif dan pasif, kalau malas sholat ya kita sholati, kalau malas tidur, ya kita tiduri… Hahahah, kurang mi sedeng pahala ku..
Veronica P Riyanti Sharian stress ga bisa buka FB,kirain hp-ku or indosat yg lg trouble,eh….ga taunya pulsaku yg hbs (Rp. 0,)….konyol…konyol… dasar o’on…. hahahahaha….
friend memang paling enak nyalahin operator dulu mbak
Veronica P Riyanti Kebiasaan ga pernah ngecek pulsa sih,hehehehe….
Chicko Handoyo Soe is ha to the us… :P
friend are you also la to the par???
Galuh Parantri Pramonoso just tu to the nggu time for breakfasting
Ardian Farhan Artis Indonesia banget dah… dari artis mau jadi penyanyi bisa, dari penyanyi mau jadi pemain sinetron bisa… dari pelawak yang suka nyelain orang mau jadi USTADZ bisaaa…
friend welcome to your country!!! Yang belum mungkin: penonton sepakbola menjadi pelatih… bisanya ngomong doang
Ihda Taftazani yang namanya taubat mah siapa saja mas……mumpung mereka lagi baik ayo didukung.
Ardian Farhan didukung sih dukung, tapi khawatir aja… jangan2 ada grand scenario melemahkan umat. kenapa yang macam Quraish Shihab dah gak ada regenerasinya. takutnya ustadz jadi jadian makin merajalela… ya wallah’alam…
Elfia Prihandini Iya,ada ustadz yg ngelawak di acara saur …bikin mual…
Eka Kurniawan suatu masa saya meminta seorang teman kerja untuk membuat email agar memudahkan komunikasi. besoknya ia datang dan menyodorkan secarik kertas, sambil berkata, “Ini email saya, dan ini passwordnya.”
friend …didengar oleh seorang fesbuker yang langsung memeriksa apakah semua passwordnya sudah didistribusikan kemana-mana.lol
M Aan Mansyur Kejadian lain, seorang anggota dewan di sebuah kota ditanya, “Apakah Bapak punya e-mail?” Bapak itu, di depan laptopnya, menjawab, “Maaf, saya lupa membawanya.”
Eka Kurniawan @aan: ada juga yang jawab: “dulu saya punya, tapi sudah dijual.”
Sri Haryanto Ada jg yg bertanya, “alamat emailnya mana mas?” Lalu di jawab, “o sy dari Bantul Jogja”
Remi G Saptomo jadi ingat di kost, teman di sebelah marah-marah waktu dibangunin sahur, besoknya dia dibangunin pake secarik kertas bertuliskan BANGUN, SAHUR!!! yang diselipin lewat celah di bawah pintu kamarnya…
Rima Fauzi A husband is someone who after taking the trash out, gives the impression he just cleaned the whole house.
friend A wife is someone who sighs when asked if she’s alright. and feels that she had shared all the problems in life verbally
Doddy W Sandjaya it is partly true since everything’s in the plastic bag now was all over the place
Rima Fauzi Doddy: Not at all cos all he does is take out the bloody bag while we clean everything and put everything in the bag, tie it up and put it near the door so that he doesn’t have to go all the way to the kitchen to take it.
Rama Fauzi and a wife is someone who after taking the trash out, still doesn’t feel like she just cleaned the whole house until she gets rid of that one big trash sitting on the couch watching sports…
friend @Rama: damn right!
Ditalova Maharani lesson 2 : menyukai seseorg bisa membuat anda melakukan hal nekat, bahkan memfitnah saingan anda sekalipun.
friend all is fair in love and war…. fitnah ajaaa…
Adhara Indi : seorang teman bertanya, “sebenernya, apa sih alasan punya cowo? karena lu jomblo? karena temen2 lu punya pacar? karena nafsu? karena dah kebelet? atau karena beneran suka?”
friend karena saya butuh alasan untuk mengenakan gaun merah itu?
Rick Hansen Karena lo normal,makanya lo punya cowok…kalo lo abnormal,lo bisa punya cewek,ato malah banci…
Badgust Artdark Leonard Karena segala swt yg km sbutin td kalo dgabung smua = cinta
Iwal Islamuddin aarggh… baju besi emasku mulai bereaksi! Mana Chan Ou Wan!!?
friend ini jaman apa yah??? ngucek-ngucek mata…
Mohammad Baagil whei, besi besi, emas emas, emg ada besi emas?
Satria Perdana disini cuma ada tiger wong….
supreme dan chan ou wan mengacau lagi… mari kita bahu membahu hentikan mereka, gold dragon!
Iwal Islamuddin @Moch: biasa moch.. itu nama pasaran untuk aurum ferro oksida.. (halah.. senyawa apa pula tuh?)
@tia: gapapa tia. mau tiger wong, ato baim wong, nda masalah.. yang penting bisa menjajal cakar peremuk tulang
Affan Loebis Yang jelas aku bukan malaikat… Tak terpelihara aku dari salah dan kesalahan… Tapi kalau kemudian engkau melabeliku sebagai Setan, aku serahkan penilaian itu padamu…
friend nanti kukasih label halal aja deh… kamu gak mengandung babi khan???
Psyche Delica happiness is on sale again…
friend traktirin gw atu dong riii…
Just Steve sleeps handsomely …..
friend teacher!!! permission to puke please….
Indra Ardianti Atmorejo “Behind every great man there is a great woman and behind that another man looking at her ***”
friend yes. he’ll check her out…
Miranda Harlan : Lalu tugu batu, di mana kamu dulu menyimpan latu, meradak lagi di simpangan jalan tengah malam. Nanar kususuri wajahmu medan kurusetra yang menumpahkan panah matahari luka. Tak ada bait sajak di sana. Hanya requiem. Sanktuari : yang membuatku ngilu rindu.
friend kemanakah darahdarah yang kautumpahkan mengalir setelah pedang, setelah tameng, setelah tombak dan anakpanah…
Asrini Mahdia mba, tulis buku prosa dong (bukan puisi)… trus diterbitin… pasti aku beli deh… aku seneng baca prosanya mba mia… bahasanya lembut, tapi meaning banget, gak membosankan ^___^
Wicak Baskoro status mu di gawe kumpulan puisi wae Mi… :)
Hari ini merangkum semua yang terstatus hari senin kemarin… banyak sekaliii yang serius… tapi untuk kali ini, kita tidak akan mengundang jeng niina dulu yg seedaaank mencriii cindt dmnaa2…. wakakakak
enjoii!! just enjoii!!
12 Desau Angin: Losing A Whole Year Part.6
by Rendra Jakadilaga @therendra
Mentari. Usia menjelang 30 tahun. Single. Karena pilihan, bukan tidak laku. Pekerjaan: editor muda. Hobi: hang out di cafe. Penampilan: sangat menarik; senyum simpul selalu menghiasi area bawah hidung, dipadu dengan lesung pipit yang membuatnya makin imut, rambut tergerai sebahu, tidak pernah dalam keadaan acak-acakan–entah kenapa, kulit kuning langsat dan halus bukan main, hidung mungil mancung. Perangai susah ditebak, kadang panas luar biasa, kadang meredup sedikit, tapi paling sering menyengat.
Itulah aku. Sudah enam tahun aku bekerja di kantor penerbitan ini, menyaring setidaknya seribuan buku per tahunnya dan meloloskan sebagian kecil untuk dicetak. Aku menghargai semangat, hasrat, dan keteguhan mereka, tapi Percayalah, separuhnya menulis sampah. Seperti copy-paste kisah sinetron, atau sekedar menyadur kisah teenlit sedikit dari sana sedikit dari sini. Ada yang bahkan menerjemahkan plek sebuah karya yang tidak terkenal dari Rusia. Dipikirnya aku tak punya sentuhan wawasan sampai ke utara situ mungkin. Well, singkat kata, aku membangun karir dan reputasiku dengan sangat gemilang. Jika tak ada aral melintang, dalam setahun ini aku akan menjadi editor senior.
Sayangnya, aralnya betul-betul ada, dan melintang begitu saja di jalan yang susah payah kubangun enam bulan lalu. Namanya, Hujan. Percayalah, ia betul-betul seperti namanya. Laki-laki yang selalu membawa kesejukan ke mana pun dia pergi. Ada yang bilang hujan itu muram: mereka salah besar. Hujan itu keriangan. Butir-butiran air berlompatan dengan ceria dalam setiap kata-kata yang ia keluarkan. Semangatnya. Antusiasmenya. Bakatnya. Dengan sekejap, ia memukau seluruh jajaran editor senior. Tentunya, dihitung dari lama bekerja, aku masih jauh lebih senior darinya. Maksudku enam bulan dan enam tahun… kau tahu maksudku. Intinya hujan enam bulan bisa betul-betul menghapus panas enam tahun.
Hari ini sudah genap sebulan, naskah yang masuk berbau busuk. Sampah! Sampah! Sampah! Kalau aku disuruh menyunting teenlit, itu bisa kulakukan dalam waktu sejam, itu pun dengan cara memangkas habis semua kata di dalamnya. Arrrggghhh!!! Bahkan hak terbit Winner Stands Alone-nya Paolo Coelho gagal kuperoleh. Hujan? Dia sudah menggolkan judul ke dua puluh enam bulan ini. Hak terbit remake Adventure of Huckleberry Finn pun dalam seminggu dia peroleh. Langsung dari penulisnya.
Dalam keadaan seperti ini, posisiku terancam. Bisa-bisa kursi editor senior diserahkan ke dia sepeninggal Pak Hartoko. Editor senior tersenior. 67 tahun usianya. Aku tentunya tak akan mengacak-acak rambut tanpa tujuan di kubikelku. Ini bukan tanpa solusi. Yang aku butuhkan hanya satu judul yang bisa jadi best seller dengan mudah. Easy Reading. Berbobot. Tidak Umum. Dan hari itu akhirnya tiba.
Hari itu seingatku panas sekali. Aku selalu menyenangi cuaca yang cerah ini. Bahkan meski sebagian besar penumpang bus mengumpati. Aku tahu sesuatu yang baik akan terjadi. Di halte busway itu aku mendapati sosoknya. Seorang laki-laki berpostur menarik. Tampan yang agak tenggelam dalam kekumuhan yang tampak jelas berusaha dikemas dengan kemeja yang mungkin paling baik yang ia miliki. Aku selalu bisa menilai orang dalam sekali pandang. Di dadanya didekap sebuah amplop yang kemungkinan besar berisi beberapa surat lamaran (karena tentunya ia seorang pencari kerja, aku bahkan bisa memberitahu itu dari sepatunya yang tua tapi kinclong). Laki-laki yang beberapa menit lagi memberiku jawaban atas doa dan pengharapanku.
Setelah mengalihkan perhatian darinya, yang memang cuma kugunakan untuk latihan analisis Sherlock Holmes-ku, aku kembali terpekur tentang bagaimana aku akan mendapatkan naskah yang bagus. Dan baru saja aku menari di pelataran kemungkinan untuk apakah menelepon penulis-penulis segar yang sudah beberapa kali menerbitkan buku lewat kami atau menggali naskah-naskah jadi yang mungkin sudah ditulis setengah leh para penulis senior. Aku betul betul mati akal.
Bus berhenti. Beberapa orang beranjak keluar. Tinggal aku, sekelompok ibu yang kelihatannya baru kelar pengajian karena di tangan mereka ada nasi dus dan pakaian mereka nyaris seragam, sepasang muda mudi, beberapa orang tanpa hubungan yang beragam dari dekil banget hingga rapi jali, dan sebuah amplop tebal. Aku baru sadar setelah beberapa detik, amplop itu milik pemuda yang tadi kuamati. Aku menoleh keluar bus yang baru saja berjalan mendapati ia berlari dengan putus asa di belakang bus. Ia tersadar rupanya.
Terlintas niatku untuk mengembalikan amplop itu. Makanya, aku turun di halte sebelah. Tapi, aku duduk sejenak di halte itu. Mungkin aku bisa membantunya mendapat posisi di penerbitanku. Office Boy mungkin. Mari kita periksa latar belakangnya.
Aku sedikit terkesima mendapati isi amplop bukan segepok lamaran kerja untuk ke mana-mana, melainkan sebuah naskah novel. Kebetulan yang dibuat-buat, pikirku. Aku menengadah, mencoba mencuri dengar dari angkasa, siapa tahu ada malaikat yang bercanda atas nama Tuhan. Tak ada. Kubuka halaman pertama, karena dalam sekejap intuisi editor langsung menguasaiku. Apakah ini sampah, emas, atau permata.
Halaman pertama. Pembuka yang indah dan halus. Kata-katanya mengalir dengan emosi yang wajar. Bab pertama selesai dengan cepat sekali. Konflik yang akan timbul tidak terbaca. Penasaran. Tokoh-tokohnya saling beradu kecerdasan dan kebodohan sekaligus. Cinta. Ah, bukan. Tapi mungkin cinta. Bukan. Kelihatannya bukan. Pintar sekali menyembunyikan ide, penulis ini! rutukku. Bab Tiga selesai dalam lima belas menit. Aku merasa kepiawaianku sebagai editor muda ditantang oleh naskah ini, untuk menemukan celah-celah tolol yang bisa menghancurkan jalan cerita. Bahkan ketidaklogisan yang beberapa kali muncul segera dicounternya dengan smash keras beberapa halaman berikutnya. Gila! Ini harta karunku.
Maaf pemuda yang naas, kelihatannya aku tak akan mengembalikan naskah ini. Aku menyukainya. Kaukah penulisnya? Kau tentu merasa sangat kehilangan saat ini. Tak apa. Kita akan sedikit bermain. Kalau kau sebegitu sialnya, naskah ini tentu akan jadi milikku. Tanpa orang tahu ini milikku tentunya.
RUMPUT. Namamu aneh pemuda! Mungkin itu sebabnya nasib menggilasmu!
***
“Naskah ini kita terbitkan, Tari”, pak Kepala Editor memutuskan. Aku seribu persen pasti, editor manapun yang membaca naskah itu, akan memutuskan untuk menerbitkannya.
“Ini akan jadi best seller kita dan aku yakin, ini bisa mendongkrak peluangmu menduduki kursi senior”, lanjutnya. Ia selalu ramah? Atau ada U di balik B? Entahlah.
“Terima kasih Pak…”, sambutku, “cuma ada sedikit masalah.”
“Apa itu?”
“Mungkin kita akan sedikit mengalami hambatan dengan promosi.”
“Maksudmu?”
“Penulis ini introvert. Tidak akan menyetujui acara peluncuran besar-besaran yang mengharuskan ia hadir dan berbicara tentang bukunya. Yah… dia bahkan meminta agar namanya ditulis dengan sebuah spasi saja”
“Yang pertama aku mengerti. Tapi, spasi…? Maksudmu dengan dua buah kurung siku?”
“Tidak. Hanya spasi saja. Penjelasan mengenai nama itu spasi akan ada di dalamnya. Saya sendiri akan menulis kata pengantarnya”, lanjutku. Tentu saja, ini skenarioku. Tanpa nama bukan berarti tanpa nama bukan? Ini untuk main aman saja. Kalau ada tuntutan di masa yang akan datang tentunya akan lebih mudah mengembalikan hak dia akan royalti, kalau-kalau secara hukum aku sudah tersudut. Saat itu aku sudah menjadi editor senior. Dan aku hanya editor tak bersalah yang menerima naskah dan permintaan penerbitan lewat surat menyurat. Aku akan main rapi. Main cantik. OKE, sekarang separuh kisah ini sudah seperti sinetron busuk. Demi Tuhan, niatku tidak buruk, cuma untuk melicinkan jalanku. Aku menengadah ke atas untuk mendapati ada telunjuk yang menggeleng. Tidak ada.
“Terserahmulah. Dapatkan kontrak penerbitannya. Pembagian royalti 60:40. Draft kesepakatan standard saja. Bisa hari ini?”
Singkat kata, sebuah kontrak dengan tanda tangan palsu dikirim dari sebuah alamat catutan, dan sebuah nomor rekening atas nama pengarang tanpa nama. Cantik. Permainanku. Dalam dua setengah minggu, novel itu mendarat di toko buku. Serba cepat.
***
“Tari, ada seseorang bernama Angin mau bicara dengan kamu mengenai novel itu”, seru hujan dari ujung kubikel sana. Tak nyaman bukan kerja dalam kubikel? Sementara mereka yang senior sudah menikmati kamar ber-AC empat kali tiga meter. Aku mengangkat telepon.
Pria itu mengaku bernama Angin. Ia menceritakan tentang bagaimana naskah itu tercecer dalam bus transjakarta dan mungkin seseorang membawanya ke penerbitan kami dan tiba-tiba kami menerbitkannya. Jadi dia bukan RUMPUT? Siapa Rumput? Baru saja aku membatin seperti itu, ia kembali pada penjelasannya bahwa naskah itu milik pacarnya. Dan mungkin kejadian ia menghilangkan naskah dan kami menerbitkannya tanpa nama bisa membuat pacarnya itu jatuh kecewa padanya. Pria malang. Lebih malang lagi perempuan yang memutuskan pacaran dengannya.
“Anda bisa datang ke kantor kami besok. Kita akan bicarakan lebih lanjut”, saranku.
Terus terang saja, tidak banyak editor yang bisa menera bahwa novel LELAKI JUARA PEREMPUAN PEMENANG itu adalah bagian kedua dari dua bagian novel. Ada kemungkinan sekuel bagian ketiga. Ini seperti menerbitkan “the Da Vinci Code” sebelum “Angels and Demons”. Tak ada masalah seharusnya. Tapi kalau benar pacarnya penulisnya, ia pasti punya bagian dahulu naskah ini. Bisa kumanfaatkan keadaan ini. Ho-ho! Manis. Siasatku.
Mungkin aku akan bisa jadi PEMENANG seperti PEREMPUAN dalam novel itu.
Pintu Masuk 04: Dia Sahabatku
by Rendra Jakadilaga @therendra for Cubiculum Notatum @jejakubikel
Alif punya seorang teman. Namanya Galih. Mereka biasanya bermain bersama di lapangan sekolah. Mereka sama-sama suka bermain bola. Galih adalah anak yang lincah dan cekatan. Ia lihai menggiring bola dan sering memasukkan gol. Alif sendiri adalah kiper andalah yang satu tim dengan Galih.
Suatu ketika, Pak Guru menempatkan mereka berdua pada tim yang berbeda. Galih dan Alif jadi bingung. Permainan mereka mulai kacau. Galih tak tega membobol gawang Alif, sedangkan Alif tak tega menahan bola Alif. Hingga setengah permainan, mereka tak ada yang memasukkan atau kemasukan. Galih selalu menembak ke arah yang salah. Akhirnya Alif pun menyadari gelagat Galih.
Ia menghampiri Galih pada istirahat paruh pertama.
“Galih, Kamu sakit?” tanya Alif.
“Tidak. Kenapa Lif?”
“Sepertinya tembakanmu meleset terus…” Alif menjelaskan.
Galih terdiam sejenak lalu menjelaskan bahwa ia tak suka bermain dalam tim yang berlawanan. Alif lalu tertawa dan menjelaskan hal yang sama. Mereka berangkulan. Ternyata satu pemikiran.
“Begini saja. Bermainlah seperti biasa. Aku juga begitu. siapapun yang menang, tak boleh ada sakit hati…” ikrar Alif. Galih tersenyum mengiyakan.
Pada paruh kedua, Galih menunjukkan kemampuannya. Ia berhasil memasukkan satu gol ke gawang Alif. Tetapi, itu setelah mencoba belasan kali dan selalu ditangkap Alif. Tim Galih menang dan Alif menyelamatinya. Mereka tampak sama-sama senang.
“Terima kasih. Itu permainanmu yang terhebat yang pernah kulihat, Lih. Kamu ngotot sekali.”
“Itu karena belum pernah ada penjaga gawang yang begitu jago menahan setiap jurus rahasiaku”
Alif dan Galih tertawa bersama. Alif mengajak Galih makan siang bersama. Ia juga berniat untuk menunjukkan rahasia terbesarnya pada Galih.
Sebuah kotak yang penuh dengan petualangan.












D5 Creation