Wednesday, January 5th, 2011

now browsing by day

 

Surat Matahari Kepada Bintang

by Dian Utami @dianids

Positif?

Aku lemas seketika begitu membaca lembaran hasil tes laboratorium Mas Adit. Ia, lelaki kebanggaanku satu-satunya ternyata mengidap HIV. Tak banyak yang kami ketahuai tentang kesehariannya di Bandung, kota tempatnya menempuh pendidikan. Aku hanya menegtahui sisi baiknya. Mas Adit yang ceria, tak pernah terlihat di wajahnya duka. Tugas kampus pun tak pernah ia bawa pulang ke rumah, selalu ia kerjakan bersama kawan-kawannya. Aku hanya tahu bahwa Mas Adit adalah seorang yang sholih, ia rajin mengaji. Jika sedang pulang, setiap habis sholat di musholla dekat rumah Mas Adit selalu menyempatkan diri membaca Al Qur’annya. Kadang ia pun mengajariku mengaji Al Qur’an yang basih terbata. Ah, Mas.. apa yang terjadi denganmu?

Aku tak sanggup menahan sedihku. Lembaran uji laboratorium itu pun basah. Robbi, lindungilah kakakku satu-satunya dari kekejian dan fitnah dunia. Aku masih sesenggukan ketika pintu kamar Mas Adit terbuka. Ia datang akhirnya.

“Bintang, kenapa nangis?”

Aku menggeleng, masih sibuk dengan badai yang berkecamuk di hatiku. Aku marah semarah-marahnya kepada Mas Adit. Ternyata dibalik sikapnya yang seperti malaikat, ia menyimpan kebusukan. Aku tak menjawab, kusodorkan kertas hasil tes yang sudah basah dengan air mataku itu.

“Ini apa, Mas?”

“Maafkan Mas Adit, ya?” Ia mencoba memelukku. Aku menghindar.

“Mas Adit jahat!” Aku meninggalkannya, tak sengaja membanting pintu hingga mengagetkan ibu yang sedang menjahit di ruang sebelah.

***

Dua hari aku sama sekali tak menyapa Mas Adit, meski ia berusaha tetap berkomunikasi denganku. Hari ini adalah saat Mas Adit kembali ke Bandung, aku tak mengantarnya seperti biasa. Aku menyibukkan diriku di sekolah, sengaja pulang telat supaya tidak bertemu Mas Adit. Tapi Mas Adit tetap berpamitan denganku. Ia meninggalkan sebuah surat di meja belajarku. Aku masih marah, surat itu kuabaikan begitu saja.

“Mira, lagi kenapa to? Kok dari kemarin ibu lihat kamu urung-uringan terus? Lagi berantem sama Edo?”

Rupanya ibu memperhatikan sikapku akhir-akhir ini. Apa mungkin Mas Adit tidak bercerita pada Ibu. Sikap ibu biasa saja, tak ada perubahan selama Mas Adit di rumah kemarin. Bu, apa ibu tau jika Mas Adit mengidap HIV? Aku dilema. Ingin sekali berbagi pada ibu tentang perasaanku. Ingin sekali bertanya pada ibu tentang Mas Adit.

“Tidak, Bu. Mira ga apa-apa. Mungkin memang karena lagi datang bulan aja, makanya Mira uring-uringan.”

“Bener ga apa-apa?”

Aku menghampiri Ibu yang sedang sibuk dengan jahitannya, pesanannya bulan ini banyak sekali, Alhamdulillah, aku bersyukur masih bisa hidup layak meski pemasukan keuangan keluarga hanya dari Ibu dan kadang dibantu Mas Adit. Segera kukecup kening ibu untuk menenangkannya.

“Bener Bu, Mira baik-baik aja kok. Nih, Mira sehat kan?” Aku berusaha merubah ekspresiku. Terpaksa. Terlalu nyata.

***

Tengah malam, tiga hari setelah Mas Adit berangkat ke Bandung, rumah kami kedatangan tamu yang sungguh tidak diduga, polisi. Mereka membawa kabar duka tentang Mas Adit. Baru enam bulan yang lalu Ayah meninggalkan kami dan kini Mas Adit harus menyusulnya. Mereka menjelaskan musibah yang menimpa Mas Adit, motornya dirampas, lalu ia dibunuh. Jenazahnya baru ditemukan sore tadi di sekitar Cianjur. Aku tak sanggup mendengar keterangan pihak kepolisian. Duniaku gelap seketika.

Ketika sadar, yang kuingat hanyalah aku mencintai kakakku satu-satunya itu, tak ada lagi benci seperti sebelumnya, aku sangat kehilangan. Tiba-tiba aku ingat, ia meninggalkan surat untukku sebelum ia ke Bandung. Surat itu masih di kamarku, teronggok di tempat sampah sebelum kubaca. Aku cepat-cepat kembali ke kamar dan mencari-cari surat itu di tumpukan sampah kamarku. Kotor sekali, nyaris robek disana-sini, tapi masih bisa kubaca. Aku tersimpuh di sudut kamar, membaca hati-hati setiap kata yang ada dalam surat terakhir Mas Adit.

Bogor, 2 Januari 2011

Assalamu’alaikum Bintangku yang cantik,

Ketika membaca surat ini, Mas yakin Bintang lagi sendirian memendam marahmu kepada Mas, ga cerita ke Ibu, seperti biasa. Bintangku, Mas kangen kamu yang ceria, yang selalu cerita ke Mas setiap kamu ada masalah, yang selalu menghibur Mas setiap Mas lelah, Mas kehilangan ceriamu itu setelah kejadian kemarin. Mas tau, Bintang pasti ga suka punya kakak yang mengidap HIV, Bintang pasti malu sama temen-temen Bintang kan? Mas paham itu Bintangku.. maafin Mas ya harus seperti ini..

Maafin Mas ya Bintangku, Mas merahasiakan ini demi kebaikan kamu. Mas tau, pekan lalu kamu disibukkan dengan ujian akhir semester, Mas ga mau ganggu itu. Mas ingin melihat Bintang yang tetap ceria, Mas ingin melihat Bintang yang tidak tertekan, Mas ingin Bintang selalu terang. Maafin Mas ya harus bermain rahasia-rahasiaan. Bukan Mas ga percaya sama Bintang, Mas tau Bintang pasti bisa terima jika Mas ceritakan semuanya. Mas harap tempo hari Bintang ga su’udzon sama Mas. Ingat lho, kita ga boleh berpikiran buruk sama saudara kita. Mas tau, berbagai pikiran pasti sempat terlintas di kepala Bintang, syaithan-syaithan itu membisikkan tipu dayanya supaya kamu berpikiran buruk tentang Mas dan proses Mas terkena HIV.  Bintangku, maafkan Mas ya jarang bercerita tentang kehidupan Mas di Bandung. Mas tidak mau membebani kamu.

Hmm, Bintang masih ingat ga saat-saat terakhir bersama Ayah? Satu bulan setelah Ayah tiada, Mas mengalami kecelakaan di Bandung. Rupanya Mas kelelahan, ketiduran di motor sepulang kerja. Bintang ga tau ya? Maaf ya Mas ga cerita. Mas memang berpesan sama kawan-kawan di sana supaya ga menghubungi Bintang dan Ibu. Mas ga mau menambah kesedihan kalian dengan kabar Mas yang terkena musibah. Alhamdulillah mereka menjaga amanah yang Mas berikan. Kebetulah saat itu Mas banyak mengeluarkan darah. Malam itu juga Mas masuk kamar operasi dengan bantuan dana dari kawan-kawan Mas. Alhamdulillah, mereka membantu Mas hingga proses pemulihan, hingga seperti sekarang, Mas ga keliatan bekas kecelakaannya kan? Hehe..

Bintang pernah mendapat materi tentang penyebaran HIV kan ya di sekolah? Ternyata ketika transfusi, Mas mendapatkan darah dari seorang donor yang terjangkit HIV. Mas sedih sekali mengetahui hal itu, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin ini memang takdir Mas harus bergabung dalam barisan ODHA. Kita harus tetap husnudzon pada Allah Bintangku. Mas ingin kamu pun berhusnudzon pada-Nya. Mungkin saja ini teguran dari-Nya karena Mas jarang memperhatikan orang-orang dengan HIV AIDS, mungkin ini jalan baginya supaya Mas bisa lebih mendengar mereka, tidak meremehkan mereka. Maafkan Mas ya, kamu harus ikut menanggung derita juga. Mas berharap kamu dapat bersinar lagi setelah membaca surat ini.

Bintangku, tetaplah terang, menjadilah cahaya di keluarga kecil ini. Tetaplah berhusnudzon pada-Nya. Jangan pernah tinggalkan Dia ya Bintangku. Maafkan Mas ya..

Mataharimu,

Heru Kusumo Adityo

Duniaku pun kembali gelap.

Memilih Menyerah

by Naishakid @naishakid

Rumah sakit siang ini panas. Lucia menyusuri selasar ruangan dokter dengan tergesa. Shift kerjanya dimulai jam 12.00 sampai 8 jam berikutnya. 15 menit sebelum tengah hari, Lucia tiba di ruang tempatnya bertugas. Ruang rawat inap kelas VVIP. Kosong, Suster Fanny yang seharusnya jaga bersamanya mungkin sedang berkeliling kamar. Diperhatikannya daftar pasien yang ada di tangan, lengkap dengan penyakit, jenis obat sampai dokter yang menanganinya.

Diedarkan pandangan ke sekitar. Hening. Jenis hening yang sebenarnya sangat tidak disukai Lucia. Jenis hening yang mampu membuat suara hatimu terdengar sangat jelas dan kecamuk pikiran menjadi keributan yang riuh. Lucia menghela napas, dia sudah menghabiskan ribuan hari di tempat semacam ini dan tetap saja, hening sebening kristal ini menusuk hati.

Ibunya sedang tergolek lemah, berjuang dengan penyakitnya dan koma berkepanjangan. Rumah sakit yang sama, hanya berbeda ruang. Keuangan keluarga mereka tak memungkinkan untuk membayar sekelas VVIP. Maka ibu harus bersabar dengan pelayanan kelas III.

Tadi pagi Lucia sempat menjenguk beliau. Masih belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Lucia tahu, ibu tak mungkin sembuh. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia tak ingin menyerah. Menyerah artinya membunuh ibu. Tak terbayangkan beban hidupnya menanggung beban penyesalan seberat itu.

Tiba-tiba pintu kamar 207 terbuka. Seorang wanita yang tampak sedang hamil muda menjerit panik memanggil suster. Lucia tergerarap, bergegas menghampirinya. Suaminya sedang berjuang melawan maut. Napasnya tersengal, mulai tersisa satu-satu. Lucia melirik sepintas papan di atas ranjang, Pak Anthony, baru operasi jantung semalam, dirawat oleh Dokter Lukas. Segera dia keluar ruangan, menelepon dokter yang bersangkutan.

Tak lama, Dokter Lukas masuk ke ruangan dengan wajahnya yang terjaga tenang. Lucia diminta mengajak istri Pak Anthony keluar kamar, sekaligus memanggil perawat jaga lain untuk membantunya. Lucia baru saja mempersilakan si ibu muda yang tampak shock duduk di sofa depan kamar ketika Suster Fanny yang baru kembali kontrol pasien menyapanya, “Ada apa Lucia? Kok panik?”

“Pak Anthony, pasien 207 kritis. Dokter meminta saya menemani istrinya di luar, karena tadi Suster Fanny tidak ada.” Jawab Lucia setengah berbisik.

Baru saja mereka hendak melanjutkan pembicaraan, Dokter Lukas meminta Lucia masuk untuk membantunya. Bersamaan dengan itu, telepon meja jaga berdering. Suster Fanny yang menjawab panggilan itu. Sementara Lucia masuk ke kamar Pak Anthony.

Pak Anthony semakin melemah. Kondisinya semakin tak stabil. Suasana di dalam ruangan tegang. Dokter Lukas menginstruksikan Lucia untuk membantu tindakan yang diambilnya. Lalu mereka menunggu, keajaiban itu datang. Keajaiban yang sama, batin Lucia. Ibunya juga membutuhkan keajaiban itu. Mungkin lebih dari yang dibutuhkan Pak Anthony. Lucia mencatat dalam hati, dia harus ke kamar ibu setelah ini.

20 menit berselang, Dokter Lukas dan Lucia keluar dengan raut lega. Pak Anthony berhasil ditolong, masa kritisnya telah berlalu. Mereka lega berhasil menyelamatkan satu nyawa. Tapi tidak demikian dengan Suster Fanny. Wajahnya pucat. Gemetar dia menggenggam tangan Lucia dengan jemarinya yang dingin.

Telepon yang diangkat Suster Fanny tadi dari ruang perawatan ibu Lucia. Beliau akhirnya sadar. Namun hanya sebentar. Lalu meminta selang-selang penopang hidupnya dicabut. Beliau tahu pasti, berapa lama pun dirawat, tak akan pernah sembuh. Beliau tidak ingin memaksa, menentang takdir, dan alasan utamanya adalah tidak ingin membebani keluarga.

Adik-adik Lucia masih kecil. Ibu tak ingin mereka putus sekolah. Ibu tak ingin keluarga mereka berantakan. Meski sesungguhnya telah begitu keadaannya sejak Bapak yang gila judi dipenjara. Karena itu beliau harus memilih. Kematian, menurut ibu itulah jalan keluarnya. Keluarga mereka akan punya cukup uang untuk membiayai Lucia dan adik-adiknya. Lalu mereka akan lebih konsentrasi menjalani kehidupan tanpa harus terbebani merawatnya. Begitulah jalan pikiran ibu, ketika beliau memilih untuk menyerah.

Lucia terbelalak tak percaya, wajahnya pucat pasi, seluruh tulang persendiannya melemah. Lucia jatuh bertumpu pada lututnya, menangis tanpa suara, bahkan tanpa air mata. Dunianya runtuh, hidupnya hancur. Bagaimana tidak? Hanya ibulah alasannya menulikan telinga dari bening hening selasar rumah sakit ini. Kini alasan itu telah pergi, tinggal Lucia didekap erat senyap hingga suara hati pun tak terdengar lagi. Hati mati dalam sunyi.

Menikah

by Ika @ikavuje

Sejak dulu aku tidak suka les privat dirumah. Tapi ayahku memang keras. Sejak meninggalnya ibu ia bahkan lebih cerewet dari semua ibu yang ada di dunia ini.

Sebagai anak perempuan, dan tunggal pula, aku di didik dengan keras, disiplin dan teratur. Ayahku yang kaya raya tak menjamin kehidupanku bak putri raja. Bayangkan, aku bahkan ke sekolah jalan kaki! (Sebenarnya wajar, toh sekolahnya hanya dua rumah dari rumahku)

Hampir setiap hari aku harus belajar, ditambah les privat yang membosankan. Aku muak!

Hari ini ayah pulang dari Jepang, katanya ia ingin bertemu dengan guru privatku, ingin mengetahui sejauh apa peningkatan hasil belajarku. Aku tidak takut, toh kemarin aku ranking 1 dikelas.

Sesampai ayah dirumah mereka langsung berbincang, lalu tak lama mereka berdua pergi. Dan aku tak di ajak! Bagus sekali Ayah!

Seminggu setelahnya…

“Nina, bagaimana kalau ayah menikah lagi?menurut ayah kamu butuh seseorang untuk menemanimu saat ayah tak ada,” katanya di suatu makan siang kami dirumah.

“Oh..” Jawabku tenang.

“Sebentar lagi ia akan datang, kamu sudah kenal kok.” Kata ayah sumringah.

‘Aku sudah kenal?siapa?’ Dalam hatiku

Tak lama guru privatku datang, dan ikut makan bersama kami.

“Nina, bagaimana kamu setuju kan?”Kata ayah.

“TIDAK!!!” Jawabku, sambil meninggalkan meja makan.

Aku berlari berurai airmata. Aku tak terima hal ini.

Bukan karena apa-apa, aku tidak membenci guru privatku. Tapi mengapa harus Pak Andi yang jadi pengganti ibu.

Tanpa Duka

By Adellia Rosa @adelliarosa

Ayahku entah siapa dan ibuku pelacur. Setiap malam, rumahku dipenuhi para pelacur tua yang menemani para lelaki penjudi. Semua itu normal bagiku, aku terbiasa dengan suasana itu sejak kecil.

Ibuku memaksaku untuk memanggil ayah pada laki-laki setengah tua berwajah runcing dan licik yang tinggal bersama kami. Aku menolak memanggilnya ayah. Setauku, seorang ayah tidak akan memaksa anak gadisnya untuk melayaninya. Ya, aku menjadi bulan-bulanan bejat lelaki itu. Tubuhkulah dipaksa melayaninya. Tidak masalah, aku menganggap tubuhku hanya bagian yang terpisah dari jiwaku yang murni, yang tidak tersentuh.

Malam itu kembali berulang. Lelaki runcing itu kembali memasuki kamarku, entah dia selalu berhasil membuka pintu kamarku yang terkunci. Lelaki itu juga selalu berhasil menghindari ranjau-ranjau jebakan yang kupasang di muka pintu. Sekali lagi, lelaki itu bebas menjamah tubuhku. Aku tak mau lagi berontak. Sudah cukup aku merasakan cambukan lelaki itu akibat aku meronta. Ini tubuh bukan milikku.

Paginya, aku terbangun dengan badan sakit luar biasa. Memar dimana-mana. Lelaki yang mengaku suami ibuku itu, mencengkeramku terlalu kuat saat melampiaskan hasratnya. “Kenapa badanmu?!” Tanya ibuku penuh selidik saat aku menghidangkan sarapan pagi. Lelaki itu duduk membelakangiku, keringat muncul dari balik kepalanya yang setengah botak. “Jatuh, terbentur.” Jawabku pendek. Percuma jika aku bercerita, ibuku si wanita jalang ini tak kan peduli. Dia sudah terbiasa memaksaku melayani tamunya dengan bayaran lebih mahal darinya.
Tentu bukan masalah bagi ibuku jika tahu aku melayani suaminya setiap malam.

“Ambilkan aku air Hera.” Tukas lelaki itu padaku. “Air sudah ada didekatmu Dick.” Tukasku masam. “Sampai kapan kau tidak mau memanggil dia ini ayah? Paling tidak tunjukkan hormatmu, panggil dia om dicky!” Murka ibuku. Piring sarapannya melayang mengenai kepalaku. Lelaki bernama dicky itu hanya menyeringai kearahku. Aku mengabaikan perih yang mendera kepalaku. “Tidak ini tidak sakit! Tubuhmu terpisah dari jiwamu!” Jerit batinku sendiri.

Tubuhmu terpisah dari jiwamu.. Tubuhmu terpisah dari jiwamu.. Berkali-kali kuucapkan mantra itu. Selalu berhasil. Mantra itu berhasil menulikan emosiku. Mematikan rasaku. Jiwaku murni. Silakan ambil tubuhku, itu tidak berharga lagi.

Aku tersenyum melihat kobaran api yang membesar dari sekitar ranjangku, merembet ke tubuhku, menjalar ke dinding kayu sekitarku. Dibalik dinding ibuku menjerit-jerit kesakitan, lelaki itu juga sama saja berteriak kesetanan. Api sudah sampai mereka pula rupanya. Tak pernah ada duka, aku memang tak pernah punya keluarga.

Kedua Kalinya Bayiku Dirampas

by Andy Saputra @Creandivity

“Ris, kamu nikah lagi saja. Pokoknya Ibu mau kamu punya anak sendiri. Tidak boleh adopsi-adopsi segala!” Kalimat itu terlontar dari mulut mertuaku, yang kelihatannya sudah tidak bisa lagi mentolerir kekuranganku sebagai wanita. Setahun lalu, aku sudah divonis dokter tidak akan pernah bisa mengandung lagi. Entah kenapa, tahun lalu, aku mengalami hari tersial di tanggal yang pula. Tanggal 13 Juli, aku tidak akan pernah bisa lupa. Ketika itu, di suatu siang, aku sedang mengobrol dengan bayiku yang masih ada di dalam rahimku. Kuelus-elus perutku, sambil mendongeng cerita pendek. Aku tidak tahu, apakah bayiku sudah bisa mendengar atau tidak. Tapi, 2 bulan lagi, dia akan segera lahir. Tidak ada salahnya mengajak ngobrol sejak saat itu, pikirku.

Tiba-tiba saja, perutku mulas bukan main. Aku pun mulai cemas, segera menelepon suamiku. Singkat kata, aku minta diantarkan oleh sopirku ke Rumah Sakit, dan suamiku akan langsung menuju ke sana. Sakit yang kurasakan benar-benar menjadi-jadi. Keringat dingin mengucur deras, campuran antara ketakutan dan rasa sakit yang tak tertahankan lagi. Sesampainya di Rumah Sakit, sopirku segera membantu memapah aku ke pintu masuk, yang selanjutnnya disambut oleh petugas. Pandanganku semakin kabur. Aku masih sempat melihat suamiku, sedang kebingungan mencariku. Setelah itu, semuanya gelap. Aku tidak tahan lagi. Kesadaranku pun hilang.

Ketika bangun, aku mengharapkan kabar gembira, bahwa paling tidak, kandunganku tidak apa-apa. Atau, separah-parahnya, bayiku lahir prematur dan berhasil diselamatkan. Namun, dari raut wajah orang-orang yang menemaniku di sana, suamiku, orang tua dan mertuaku, aku bisa tahu apa yang kira-kira sudah terjadi. Suamiku masih memegang tanganku, tertegun, seolah tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya menyodorkan handphone, menunjukkan foto seorang bayi sangat mungil. Badannya kebiru-biruan, tanpa aura kehidupan. Itulah anak kami, yang gagal menghirup udara bumi ini. Aku pun mulai berteriak, menangis. Belum cukup dengan kematian anakku, suamiku memberitahukan kenyataan yang lebih pahit, bahwa rahimku pun harus diangkat. Teriakanku mulai menjadi-jadi. Aku tidak percaya, kenapa harus terjadi begini.

Setahun berselang, aku sudah mulai bisa hidup berbahagia. Paling tidak, tidak seperti ketika aku baru keluar dari rumah sakit. Waktu itu, wajahku benar-benar buruk rupa, akibat tiap hari aku menangis. Aku tidak pernah keluar kamar, selalu mengurung diri. Baru beberapa bulan terakhir ini, aku berhasil mendapatkan kembali semangat hidupku. Belum lama berselang, cobaan datang kembali menerpaku, dengan paksaan ibu mertuaku yang memaksa suamiku mencari istri kedua, untuk memberikan keturunan. Hatiku meragu. Sebagai seorang istri, jelas aku tidak rela jika ada perempuan lain untuk suamiku. Namun, aku bisa memahami permintaan mertuaku. Suamiku adalah anak tunggal. Garis keturunan keluarganya menjadi tanggung jawabnya juga.

Setelah berpikir panjang, berdiskusi dengan orang tuaku, dan tentu saja dengan suamiku, akhirnya kami mengambil keputusan untuk menyewa rahim saja. Dengan cara ini, tidak perlu lagi ada pernikahan kedua. Toh, aku masih bisa menghasilkan sel telur, hanya tidak memiliki rahim untuk tempat bermukim anakku. Kami dikenalkan seorang kenalan kepada Anna. Dia seorang gadis yang cukup baik dan saleh, kelihatannya. Satu-satunya alasan kenapa dia mau menyewakan rahim adalah karena keterbatasan ekonomi yang melanda keluarganya. Suaminya sakit-sakitan, anaknya sudah 4, sementara ayah ibunya juga menumpang di rumahnya. Kami pun menyanggupi, dan menandatangani kontrak tertulis untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Uang muka pun kami berikan, untuk membantu perekonomian keluarga Anna. Setelah itu, serangkaian proses medis harus kami jalani, dan selang 3 bulan kemudian, anakku dan suamiku sudah ditanamkan di perut Anna.

Demi menjaga bayi kami, kami ingin agar Anna pindah ke rumah kami dan menjadi pembantu rumah tangga di sana. Anna menyanggupi saran itu. Kami pun tinggal di bawah satu atap. Seiring dengan membesarnya perut Anna, perhatian mertuaku pun lebih tertuju padanya. Tidak heran, mungkin di benak mertuaku, percuma saja memperhatikanku. Toh, tidak akan ada anak dari suamiku yang lahir dari rahimku lagi. Untungnya, suamiku tidak ikut-ikutan terlalu dekat dengan Anna. Dia memang suami yang baik, dan sejak awal menegaskan bahwa istrinya hanya satu saja, yaitu aku.

Hari-hari terus berlalu. Kini, sudah ada tangisan bayi yang mewarnai rumah kami. Anna baru saja melahirkan bayinya kemarin lusa. Segera saja, bayi itu menjadi pusat perhatian keluarga kami. Kami masih memperkerjakan Anna sebagai suster ketika dia sudah sehat kembali. Dan kami juga meminta dirinya untuk membantu menyusui Risa, nama anak kami yang cantik itu. Entahlah, dia anak kami ? ataukah anak kami dan Anna ? Kami juga tidak tahu. Yang jelas, aku merasa terbantu dengan kehadiran Anna yang jauh lebih cekatan mengurus bayi daripada aku. Tapi, perlahan-lahan, Anna mulai lebih sering memperhatikan Risa, seolah itu adalah anaknya sendiri. Jujur, terkadang aku merasa cemburu.

Ternyata, cobaan tidak berhenti ketika aku kehilangan rahim dan bayiku beberapa waktu lalu. Suatu hari, beberapa bulan setelah kelahiran Risa, aku tidak menemukan Risa dan Anna di kamar mereka, di seluruh rumahku. Ketika memasuki kamar Anna, aku hanya menemukan sepucuk surat, bertuliskan

” Maaf, Bapak, Ibu, saya tidak bisa berpisah dengan anak ini. Saya juga mencintainya sebagai anak saya sendiri. Semakin saya melihatnya, menggendongnya, semakin saya tidak bisa berpisah dengannya. Maafkan saya. Tolong jangan cari saya. Saya sudah berada di tempat yang aman, baik untuk saya dan anak ini. Sekali lagi, saya minta maaf.”

Hatiku bagai disambar guntur membaca surat itu. Aku hanya bisa tertegun, air mata kembali mengalir. Luka kehilangan bayi pertamaku belum sembuh benar. Sekarang, lubangnya semakin dalam setelah bayiku yang kedua pun dicuri orang. Orang yang dapat disebut ibu kandungnya, walaupun itu anakku dan suamiku. Itulah kali kedua bayiku dirampas.

ASI untuk Kasih

by Damay Iriani @nongdamay

Aku hanya punya seorang kakak laki-laki, mas Deny namanya. Aku selalu mendampakan punya kakak perempuan karena selama ini tidak ada temanku di rumah. Duniaku dan dunia mas Deny beda tapi kita tetap kompak kok.

Tiga tahun yang lalu aku menikah dan melangkahi mas Deny, mas Deny belum mempunyai calon yang pas jadi dia tidak ingin aku menunggu kelamaan jadi aku di izinkan menikah lebih dahulu.

Dua bulan setelah  aku melahirkan anak pertama, mas Deny pun melangsungkan pernikahan dengan mbak Nisa. Kakak ipar yang sudah benar-benar aku anggap mbakku sendiri, kehadiran mbak Nisa seperti mimpi jadi kenyataan yaitu aku punya kakak perempuan.

Setiap aku membeli sebuah baju maka aku akan membelikan yang sama untuk mbak Nisa, begitu juga dengan mbak Nisa. Saat aku sedang ada masalah dengan suamiku maka aku akan curhat ke mbak Nisa. Rasa bahagiaku bertambah saat aku tahu mbak Nisa hamil itu berarti aku akan segera mempunyai ponakan jadi aku dan mbak Nisa bisa sama-sama mengurus anak.

***

Mas Deny dan mbak Nisa tinggal di Surabaya karena mas Deny di tugaskan disana, makanya saat mbak Nisa melahirkan kami sekeluarga ke Surabaya. Mbak Nisa melahirkan anak perempuan juga seperti aku, sebuah nama cantik  diberikan dan kami memanggilnya Kasih. Anakku Sita juga senang akan kehadiran adek sepupunya ini.

Sejak melihat Kasih aku jatuh cinta, selama seminggu di Surabaya aku menghabiskan waktuku bersama Kasih,sampe mbak Nisa bilang “ kamu kangen punya anak bayi lagi ya? Ya udah toh dek nambah anak aja kan Sita juga udah mau dua tahun”

Aku tertawa mendengar kata-kata mbak Nisa “iya mbak, kangen punya anak bayi tapi nanti deh tiga tahun lagi baru kasih Sita adek, lagian ini aja Sita masih ASI mbak”

“Sita masih ASI ya Rasti, kamu hebat ya..kamu ibu yang hebat” puji mbak Nisa kepadaku

“Ah mbak, mbak juga hebat kok, mbak pasti bisa memberi ASI kepada kasih”

Waktuku mengunjungi mbak Nisa di Surabaya sudah habis, aku harus kembali ke Jakarta dan melanjutkan peranku sebagai seorang istri dan ibu.

***

Selang dua bulan sejak melahirkan Kasih, aku sudah kangen sama Kasih aku ingin ke Surabaya.Tapi suamiku mas Doni masih sibuk jadi rencananya akhir tahun kami sekeluarga aku, mas Doni, Sita, mama dan papa akan ke Surabaya.

Rencana sudah dirancang hanya tinggal memesan tiket pesawat sampai sebuah telpon dari mas Deny yang di terima oleh ayah. Ternyata mas Deny mengabarkan kalau mbak NIsa sakit, demam tinggi katanya. Kami diminta tenang oleh mas Deny katanya sudah ke dokter dan akan segera sembuh, mas Deny meminta kami mendoakan mbak Nisa.

Namun keesok harinya mas Deny  kembali menelpon dan mengabarkan kalau mbak Nisa harus di rawat di rumah sakit. Ayah dan Ibu langsung memutuskan untuk berangkat ke Surabaya malam itu juga untuk menemani dan menguatkan mas Deny dan Kasih. Aku ingin ikut,tapi ibu bilang aku jaga rumah aja, toh mbak Nisa segera sembuh.

***

Ayah meminta aku menyusul mereka ke Surabaya. Aku kesana untuk memberikan ASI ku kepada Kasih, dia masih sangat membutuhkan ASI. Berangkatlah aku, Sita anakku sedangkan Doni akan menyusul aku jumat malam nanti.

Terkadang aku ingin ASI ku segera berhenti agar Sita mau berhenti minum ASI karena di usia Sita yang hampir dua tahun masih belum mau berhenti, tapi hari ini aku bersyukur ASI ku masih berproduksi dengan baik sehingga aku dapat memberikan ASI kepada Kasih.

Sesampai di Surabaya aku ingin segera ke rumah sakit untuk melihat mbak Nisa tetapi mama mencegahku, mama minta aku untuk ke rumah mas Deni saja dulu.

“Rasti, kamu nanti malam aja ya ke rumah sakitnya” kalimat pembuka mama saat menelpon aku, seperti biasa mama selalu tahu apa yang mau aku lakukan.

“Kenapa ma? aku mau lihat keadaan mbak Nisa sekarang”

“ Kasih lebih butuh kamu, dia butuh ASI kamu Rasti sudah 2 hari ini dia tidak minum ASI.” Mama memberikan penjelasan kenapa aku harus ke rumah mas Doni lebih dulu.

“Iya ma, Kasih jauh lebih perlu aku sekarang ini” jawabku mengakhiri telpon.

Sesampai di rumah mas Deni, aku langsung mencari Kasih dan Sita aku titipkan kepada si mbok. Ternyata Kasih sedang menangis, segera ku angkat Kasih dari dalam box, aku cium dan peluk bayi mungil ini, di dalam dekapanku tangisannya berhenti.

“Kasih, kamu kangen pelukkan Bunda Nisa ya nak. Tenang ya nak sekarang sudah ada mama Rasti disini” ucapku sambil terus memeluk Kasih.

Segera aku membersihkan diri karena saatnya aku menjadi ibu susu bagi Kasih, awalnya aku cemas takut kalau Kasih menolak meminum ASI ku, namun kecemasanku purnah saat Kasih mau meminum ASI ku, ternyata anak ini kuat juga minumnya.

Malam harinya aku diantar kerumah sakit, kakiku lemas melihat keadaan mbak NIsa. Banyak selang di tubuhnya, aku tak mengerti selang apa saja itu, aku tak paham penyakit apa yang diderita mbak Nisa karena yang mau aku mengerti dan pahami adalah mbak Nisa sembuh dan bisa merawat Kasih kembali.

***

Dua hari aku di Surabaya, belum ada perkembangan dari kondisi mbak Nisa malah semakin memburuk. Malah hari ini mbak Nisa  harus masuk ke ICU. Semua berusaha ikhlas namun tak putus berdoa.

Setiap hari aku memberikan ASIku untuk Kasih, sekarang prioritasku Kasih sekalian mengajarkan Sita untuk minum susu instan. Setelah memberi ASI aku berangkat ke rumah sakit untuk menemani mas Deny dan menguatkan mas Deny.

Ini terlalu cepat, hanya dalam hitungan seminggu mbak NIsa jatuh sakit sampai akhirnya meninggalkan kami semua. Saat mas Deny masuk ke ICU dan benar-benar ikhlas melepas mbak Nisa, maka mbak NIsa pun pergi untuk selamanya.

Semua hancur, aku juga ikut hancur. Kenapa hanya sebentar Tuhan membuatku merasa memiliki kakak perempuan. Tapi semua meminta aku kuat karena Kasih dan Sita membutuhkan aku.

Mas Doni dan papa sudah lebih dahulu kembali ke Jakarta karena harus bekerja, sedangkan aku dan mama akan kembali ke Jakarta setelah acara tujuh harian mbak NIsa. Berdasarkan kesepakatan keluarga, Kasih di percayakan pengasuhannya ke aku untuk di bawa ke Jakarta karena Kasih masih sangat membutuhkan sentuhan seorang ibu dan ASI. Mas Deny pun ikut kembali ke Jakarta untuk menenangkan diri sementara waktu.

***

Sudah setahun kepergian mbak Nisa, Kasih tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar. Anak yang penuh senyuman seperti Bundanya. Mas Deny sudah bisa menjalani kehidupannya di Surabaya dan bekerja lagi namun mas Deny masih memintaku menjaga Kasih di Jakarta.

Sita anakku pun sudah merasa bahwa Kasih adalah adiknya walaupun terkadang dia masih bertanya kepadaku “ Ibu, kenapa adek Kasih ada di rumah kita terus? Trus…trus kenapa om Deny nya di Surabaya ibu, dan kemana Bunda Nisa bu, kok aku ngga pernah liat lagi”

Ah anakku memang kritis, aku hanya bisa menjawab “ nanti kalau Sita besar pasti tahu semua jawaban itu, sekarang Sita harus sayang sama adek Kasih ya”. Hanya itu jawaban yang bisa aku berikan ke Sita.

Melihat Kasih terkadang aku ingin menangis karena mengingat mbak Nisa, tapi saat ini Kasih dan Sita membutuhkan aku, aku harus kuat, aku ngga boleh stress karena Kasih masih membutuhkan ASI ku setahun lagi.

PS: Mbak Nisa, engakau akan terus menjadi Bunda nya Kasih yang hebat dan luar bisa.

Senyuman dari Balik Puing

by Ekastri @ekastri

Malam itu bayangan bulan yang melingkar sempurna tampak sangat elok dari jendela kecil di rumah tua tempat aku menunggu Aldo kekasihku.

Sudah hampir setahun ini  aku dan Aldo menjalani hubungan kami secara sembunyi-sembunyi. Meskipun kami saling mencintai, tapi latar belakang keluarga kami yang berbeda, membuat orang tuanya tak setuju Ando menjalin kasih denganku. Aldo adalah putra satu-satunya dari keluarga kaya dan terpandang di kotaku. Sedangkan aku hanya anak seorang buruh kecil.

Rumah tua ini merupakan tempat favorit kami berjumpa. Letaknya yang terpencil dan bentuk bangunannya yang tertutup, membuat kami dapat bertemu dan melepaskan rindu  tanpa perlu khawatir orang luar akan mengetahuinya. Rumah tua ini adalah salah satu rumah milik keluarga Aldo yang lama tak dihuni. Meskipun tak berpenghuni, kondisinya masih terawat. Ada seseorang yang ditugasi oleh orang tua Aldo untuk rutin membersihkannya.

***

Seperti malam-malam yang lain, lagi-lagi aku datang terlalu awal ke rumah tua ini. Keinginan untuk dapat melepaskan rindu dengan Aldo selalu membuatku ingin segera berada di rumah ini. Dalam keheningan malam tiba-tiba aku merasakan bumi tempatku berpijak bergetar hebat dan sebuah balok kayu jatuh menimpa kepalaku. Kegelapan pun menyelimuti seluruh pengelihatanku.

Aku tak tau telah berapa lama aku tergeletak tak sadarkan diri di lantai rumah tua ini. Ketika sadar aku masih merasakan sakit di kepalaku, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkramnya.

Rupanya semalam telah terjadi gempa. Kini aku terkurung seorang diri dalam rumah ini, seluruh jalan keluar tertutup oleh reruntuhan batu. Berbagai cara kucoba untuk dapat keluar dari rumah ini. Mulai dari berteriak sekuat tenaga dengan harapan ada orang lewat yang mendengarnya. Sampai usaha menyingkirkan bebatuan yang menutupi jalan keluar. Tapi karena kondisiku yang lemah semua usaha yang telah kulakukan sia-sia belaka.

Setelah beberapa hari terkurung di rumah tua ini, badanku mulai terasa lemas. Tak ada sesuap makanan pun yang masuk ke perutku sejak aku terjebak di sini. Dan tak ada air yang dapat kuminum sama sekali di rumah ini. Tenggorokanku yang kering serasa semakin panas karena tak ada setetes air pun yang membasahinya.

Dalam kondisi yang sangat lemah aku hanya dapat pasrah menunggu Aldo datang menyelamatkanku. Hanya dia yang tahu keberadaanku di rumah ini.

***

Sore itu, sayup-sayup kudengar suara Aldo memanggil.

‘Rika.. Rika… di mana kau?’

‘Aldo.., kau kah itu?’ kukerahkan seluruh tenaga untuk menjawab panggilannya. Tubuhku yang lemah tergeletak di lantai, suaraku terdengar lirih dan serak.

‘Rika.., maafkan baru sekarang datang menjemputmu.’

Begitu kulihat wajahnya, senyumku pun langsung mengembang. Entah kekuatan dari mana aku langsung berdiri dan memeluknya erat.

‘Rika, mari ikut aku pulang.’

‘Pulang!! Kamu yakin??’

Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku lalu menggenggam tangannya dan mengikutinnya dari belakang. Sebelum meninggalkan ruangan ini, mataku menyapu semua sudut ruangan, aku ingin mengenangnya untuk terakhir kali.

Di dalam ruangan kulihat tubuhku tergeletak kaku di lantai. Seulas senyum terlukis di wajahku yang sudah pucat.

(Ternyata) Luar Biasa

by Gisha Prathita @geeshaa

(taken from the scene of my novel Point of past and Regret—the unfinished one. :P )

“Keluarga kita ini apa sih, Ma?! Mama sama Papa gak ada yang peduli sama Dasha! MAMA PAPA LEBIH SAYANG SAMA PEKERJAAN DARIPADA SAMA DASHA!” Dasha berteriak dari pintu kamarnya sambil melempar tas selempangnya ke tempat tidur. Ia lalu menutup daun pintunya dengan kasar.

“Dasha, Mama sama Papa kemarin itu memang benar-benar tidak bisa hadir ke konser piano kamu itu, Nak. Mama harus menyambut tamu dari Swedia di hotel, dan Papa kamu kan memang sedang di Kalimantan. Coba mengerti donk, sayang…” Mama menjelaskan dengan lembut dari samping kamar yang kini pintunya telah tertutup rapat. Samar-samar Dasha mendengar isakan pelan dari arah luar kamar, ia sadar mamanya menangis karena kelakuannya. Tapi ia terlalu kesal untuk tidak berteriak ke arah mamanya. Dan tak lama, terdengar suara ayahnya, pelan, menenangkan mamanya. Sepertinya beliau baru pulang kerja, semalam ini, tentu saja.

Man! Konser piano ini setahun sekali! Dan tahun depan mungkin tidak ada lagi! it’s an impotant event!

“Sudahlah, Ma! Dasha mau tidur!” katanya ketus. Ia menggerutu tanpa akhir, sambil mengganti bajunya dengan piyama. Kenapa sih keluarganya sibuk dengan urusan kerja terus? Tidak pernah ada untuknya! Ia selalu sendiri di rumah, pagi-pagi, siang, sore, tidak ada siapa-siapa. Baru ada penghuni selain dirinya setelah tengah malam, itupun baru ketemu kalau ia begadang mengerjakan tugas. Kalau tidak, ya tidak ketemulah.
Kenapa keluarga saya seperti ini sih Tuhan?!

Dasha tidak bisa menahan kesalnya, sedihnya, dan protesnya pada Tuhan tentang keluarganya, yang menurutnya tidak menyayanginya seperti keluarga lainnya. Karena itulah, ia segera melancarkan senjata andalannya saat sedang kesal… tidur!

Dasha merasa dirinya terjatuh ke dalam jurang berwarna putih tanpa ujung, dan tanpa ada titik apapun. suara deru angin membuat telinganya nyaris tuli. keras sekali. badannya melayang lurus ke depannya, entah mengarah kemana. sampai akhirnya matanya tak kuasa lagi menghadapai terpaan angin di wajahnya. dasha menjerit selayaknya orang yang terhempas dari roller coaster, ia menutup matanya yang perih. ini memang bukan pengalamannya yang pertama, namun sensasi jatuh ke dalam jurang itu selalu membuatnya ngeri.

Ia lalu merasa dirinya dilempar dari ayunan yang kencang, melayang lebih lambat di sepetak udara. sekelilingnya kini gelap, namun ia bisa melihat sebongkah cahaya di hadapannya. berbentuk persegi, seperti sebuah pintu yang terbuka, dan lagi-lagi ia tersedot ke dalamnya dengan cepat. lalu…

GUBRAK!

“Aduduuuuh…!” Dasha jatuh terguling di hadapan sebuah pintu yang bercat cokelat tua dan kini kepalanya kejeduk sebuah kursi. kursi meja makan. ia lalu bangkit perlahan dan melihat ke sekelilingnya. sebuah rumah yang luas dan bisa dibilang mewah. di hadapan ruang makan ini terdapat halaman belakang yang luas, lengkap dengan kolam ikan dan fountain sederhana namun maembuat semuanya terlihat asri. ia melihat ke pintu seberang tepat ia terguling. di sana terdepat koridor berlantai kayu yang cukup membentang menuju ke ruangan lainnya.

“Ini dimana ya?” gumamnya, bertanya pada dirinya sendiri. ia berjalan menyusuri koridor itu. namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara ribut dari ruangan yang ada di sampingnya. lebih terdengar seperti dua orang yang sedang bertengkar hebat–pertengkaran suami istri yang luar biasa. rasa penasarannya membuat dasha mengintip dari jendela ruangan itu. tepat di sebalah pintunya.

Benar saja, ia melihat sepasang suami istri yang bertengkar sengit.

“MEMANGNYA KERJAMU APA SAJA SELAMA INI?! PERNAH KAU MEMBERIKU SARAN?? TIDAK! DAN SEKARANG KAU MENYALAHKAN SEMUANYA PADAKU? ISTRI MACAM APA KAMU INI???” sang suami marah besar sambil menunjuk-nunjuk istrinya.

“KAMU PIKIR KAMU SUAMI YANG SEMPURNA?! SELAMA INI KAN KAMU HANYA BISA MENGHABISKAN HARTA WARISAN KELUARGAKU, DENGAN DALIH MODAL BISNIS BARU! NYATANYA SEMUA BANGKRUT!!! KAMU SENDIRI YANG TIDAK BECUS!!” kini giliran sang istri yang meninggi nadanya.

“JAGA MULUT KAMU, PEREMPUAN JALANG!!”

PLAK!

Perempuan berusia tiga puluh tahunan itu menampar suaminya. matanya berkaca-kaca. “Kamu yang seharusnya jaga mulut! aku ini istri kamu dan kamu gak berhak menghina aku seperti itu! PARASIT!”

Mereka berdua terus bertengkar. namun di sela-sela suara adu mulut itu, Dasha mendengar suara isakan seseorang. tepatnya, isakan anak kecil. mata dasha lalu mencari dimana asal suara itu, dan ia menemukan seorang anak laki-laki duduk di lantai, di pojok ruang itu. wajahnya kacau, sepertinya ia menangis karena ngeri melihat apa yang terjadi di hadapannya.

Anak laki-laki yang mungkin baru berusia lima tahu itu lalu berlari menuju ke arah ayahnya, bermaksud untuk mencegah ayahnya yang akan menampar ibunya. “Ayah!! jangan pukul mama lagi!” anak itu memeluk kaki ayahnya dengan erat, namun dihempaskan oleh ayahnya dengan keras sampai-sampai ia terjungkang ke lantai.

Dasha terhenyak melihat kejadian itu. benar-benar ayah yang tidak berperasaan. Dasha ngeri melihatnya. dan satu hal yang membuatnya semakin miris, ia mengenal wajah anak itu. ia menebak–hampir pasti–anak itu adalah Rechan saat masih kecil.

“RENDRA!! JANGAN KASAR BEGITU! DIA ITU ANAKMU!!” sang ibu menjerit histeris melihat anaknya tersungkur di lantai.

“DIA JUGA ANAKMU! SURUH DIA JANGAN BERISIK!”

“Rechan, kamu masuk kamar sekarang, nak! Ayahmu sedang kacau!”

Rechan kecil itu berjalan perlahan menuju ke pintu berukir yang cukup besar. matanya memancarkan ketakutan yang sangat. “KAU BILANG APA? KACAU?! KAU YANG KACAU SEBAGAI ISTRI!”

“Ayah! jangan marah lagi sama Mama!!” Rechan menjerit saat ibunya mulai menitikkan air mata di pipinya.

“DIAM KAMU ANAK KECIL JANGAN IKUT-IKUTAN!!!” Ayahnya lepas kendali, ia melayangkan sebuah vas bunga kaca ke arah Rechan dan… mengenai dahi anak kecil malang itu. tepat di atas mata kirinya.

Sekali lagi Dasha terkesiap. ia menutup mulutnya untuk menahan jeritan keluar dari mulutnya. ini benar-benar kejadian yang sudah sangat keterlaluan. dasha ingin sekali berlari masuk, namun ia sadar bahwa ini adalah masa lalu orang lain, masa lalu teman barunya, Rechan.

Rechan kecil itu tidak menangis ataupun menjerit saat vas bunga itu pecah di dahinya. ia hanya menganga, pucat pasi dan jelas terlalu kaget dengan apa yang ia alami. darah mengucur dari dahinya, dan dari sela-sela rambutnya. tak lama kemudian mata kirinya merah berlinang kucuran darah dari dahinya. dasha benar-benar tidak tega melihat kejadian ini, ia mulai mengeluarkan air mata di ujung matanya.

“YA TUHAN!! RECHAN!!” Ibunya segera berlari meraih anaknya yang shock di dekat pintu. namun tiba-tiba ia memegangi dadanya. wajahnya pucat. napasnya tiba-tiba tersengal-sengal berat. wanita itu roboh di lantai. tangannya menjulur ke arah anaknya yang masih tidak bergeming, pandangannya kosong. wanita itu ambruk seketika itu juga.

Sang suami akhirnya sadar dengan apa yang terjadi. ia segera meraih istrinya yang tergeletak di lantai. kini giliran pria itu yang berwajah pucat. ia lalu bergegas ke arah telepon dan–sepertinya, memanggil ambulans. Dasha masih berada di balik jendela di samping pintu menuju koridor. sang suami terlihat frustasi lalu menggendong istrinya ke arah pintu keluar menuju koridor. menuju ke tempat dasha. Segera, Dasha sadar bahwa ia tidak boleh terlihat orang-orang di masa ini. ia segera berlari secepatnya ke arah pintu ruang makan sebelum tersusul oleh pria itu. dengan terengah-engah dan jantung yang berdebar-debar, ia kembali berada di ruang makan dan menuju pintu dimana ia terjatuh tadi. Dasha lalu membuka pintu itu. cahaya menerpa mata Dasha lagi, sama seperti saat ia sampai di sini. lalu, ia kembali tersedot ke suatu pemandangan putih. dengan deru angin di telinganya. keras. semakin keras.

Dasha membuka matanya. Napasnya terengah-engah akibat kejadian yang menimpanya tadi, telinganya terasa pengang.

Keluarga itu. Syukurlah itu bukan keluarganya. Syukurlah hal itu tidak pernah terjadi di keluarganya. Syukurlah anak kecil yang tadi lihat itu bukan dirinya. Syukurlah…

Astaga.

Apa yang telah kulakukan sebelum tidur tadi, Tuhan?

Dasha menyibakkan selimutnya, ia turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamarnya. Ia beranjak menuju ke kamar orang tuanya, dibuka pintunya, dan dipeluknya Mama-Papa yang sedang berbicara serius. Mamanya terlihat masih berusaha menahan tangisannya.

“Dasha?” kedua orang tuanya terlihat heran saat ia muncul di sana.

Dasha tidak menjawabnya, ia hanya bergegas memeluk erat kedua orang tuanya. Erat sekali.

Terima kasih, Tuhan, telah memberiku keluarga yang (ternyata) luar biasa.

Untaian Kata Milik Ayah

by Trias Susanti @triassusanti

Sudah hampir tiga tahun perceraian orang tuaku terlewatkan. Ironis memang, saat umurku 15 tahun orang tuaku berpisah, dan aku menjadi anak pilihan. Pilihan bagi kedua orang tuaku yang tak bersatu. Selama ini aku hidup dengan memilih. Hari Senin aku memilih tinggal dengan ibuku, hari Kamis aku memilih berdiam dengan ayahku, begitulah seterusnya. Yah itulah hidup pilihan yang aku jalani. Kadang aku berpikir, kenapa seseorang memilih bersatu dengan pasangannya kalau dikemudian hari mereka berpisah. Sudah jalannya? Aku pikir tidak seperti itu. Mereka menganggap itu permainan dengan mengatasnamakan masalah.

“Maafkan ibu dan ayah, Rena.. Ini demi kebaikan kita, hanya perceraian solusi masalah kami.”

Kata-kata itulah yang diucapkan ibuku sebelum memasuki ruang sidang tiga tahun yang lalu. Aku memang tak mengerti apa yang mereka permasalahkan saat itu. Aku hanya diam. Kehidupan keluarga yang kelam karena perceraian.

***

Kamis…

Ibu mengajakku bertemu. Di sebuah resto aku melihat ibu dengan laki-laki seumur ayahku.

“Rena, ini om Randy, salam dulu!”

Aku mengulurkan tangan tanpa senyum. Inti pertemuan siang itu adalah ungkapan ibuku tentang laki-laki bernama Randy yang akan meminangnya. Aku hanya menarik nafas panjang dan mengganggukkan kepala. Itulah yang mungkin oleh ibu dianggap restu. Sejujurnya aku tak pernah ingin itu terjadi.

Setelah pertemuan dengan ibuku dan laki-laki itu, maaf aku memang tak suka menyebut namanya, aku kembali menapaki rumah ayahku. Tiba-tiba aku merasa iba melihat ayahku. Bagaimana jika ayahku tahu ibuku akan menikah lagi setelah tiga tahun perceraian? Ingin aku memberitahukan berita ini, tapi aku rasa itu tak perlu. Biarlah aku yang tahu.

“Kamu kenapa nak?”

Aku hanya menggeleng lalu memeluk ayahku. Berbisik:

“Ayah, Rena nggak akan pernah ninggalin ayah. Rena akan selalu di samping ayah.”

Ayahku tak menjawab. Ayah mendekapku, terus mendekap erat. Hingga aku tersadar aku telah tertidur dalam dekapannya. Dekapan ayahku.

***

Kamis…

Aku mendatangi kediaman ibuku. Ramai sekali. Tenda putih, bunga mawar, entah apalagi aku berusaha buta. Satu lagi aku melihat ibuku dengan kebaya warna emas, aku akui ibuku terlihat cantik. Namun, aku tak mau memujinya. Aku mendatanginya hanya karena permintaannya. Laki-laki itu memakai jas warna senada dengan ibuku, tersenyum padaku.

Setengah jam kemudian…

Aku merasakan sesuatu tentang ayahku. Handphoneku berdering. Pembantu rumah ayahku meneleponku, berbicara terbata.

“Non, bapak non…”

“Kenapa ayah Bi?”

Secepat kilat aku ke luar ruangan menuju mobilku kemudian melaju. Ibuku terkejut dan mengikutiku bersama laki-laki itu. Tak jadi mengikat janji. Semua berpandangan, bertanya, aneh.

Kubuka pintu rumah ayahku dengan sedikit mendorong, ibuku dan laki-laki itu mengikutiku. Menuju kamar ayahku dan aku melihat darah di nadi ayahku, pembantu terisak di ujung pintu. Ayahku menyayat nadinya. Aku terbelalak melihat hal itu juga ibuku dan laki-laki itu.

“Ayaaahhhhh!!!!”

Kupeluk ayahku. Kugoyangkan kepalanya. Darah mengucur dari nadinya.

Hari itu Kamis, berawal dan berakhir di ayahku. Pernikahan ibuku batal dan digantikan oleh pemakaman ayahku. Tak hanya rumah ibuku, rumah ayahku pun ramai karena kehadiran pelayat ayahku. Aku merasakan ada duka di rumah ayahku dan di relung hati keluargaku. Aku menemukan untaian kata milik ayah, ibuku juga ikut membacanya.

Bunga Hatiku Tak Abadi

Dua bunga taman hatiku,

aku merindunya tiap kali waktu,

meruntuh saat satunya mati,

aku menyimpan satu bunga namun tak abadi.

Detak waktu membangunkanku,

bunga telah merindu,

mendekap pada tangkai palsu,

senyum kecut menari di wajahku.

Lebah mencumbu wangi,

teriris hati,

melangkah dan berlari,

mencium nadi.

Surat Ayah untuk Lana

by Vira Cla @veecla

Lana, anakku tersayang,

Sebatas itu saja Yuri sanggup menorehkan tinta penanya ke atas selembar kertas putih. Matanya tertuju lagi pada sebuah pigura di atas meja samping kasur. Ia pandangi dirinya memangku Lana yang ketika itu berumur 2 tahun. Memandang lama hingga matanya berkaca-kaca. Memandang lama hingga ia jatuh tertidur.

***

“Mama, kapan kak Lana pulang?” tanya Alina putri bungsu Mala. Perempuan berusia 50 tahun itu masih tampak segar parasnya. Mala membelai rambut Alina yang duduk di sampingnya. “Mama nggak tahu, sayang. Kita doakan saja kak Lana segera pulang, ya?!” jawab Mala sambil tersenyum. Tampak gigi depannya rapi dan bersih. Keindahan Mala sedari muda masih terjaga hingga tuanya. Ia masih kuat melahirkan Alina 8 tahun yang lalu. Ia pun begitu disayangi Lana. Mala bagaikan sahabat terdekat bagi Lana sampai 23 tahun usia Lana. Sampai suatu masa yang memisahkan Mala dan Lana. Suatu masa ketika Lana memilih untuk pergi meninggalkan Mala, Alina, dan Yuri. Yuri suami Mala yang begitu terpukul dengan minggatnya Lana bersama pacarnya yang entah siapa.

Lima tahun Lana menghilang. Semua usaha dikerahkan untuk mencari Lana. Namun, Lana hilang bagai ditelan bumi. Lana tak pernah ditemukan. Bahkan, pacarnya yang diduga membawa kabur Lana juga tak pernah ditemukan. Semenjak kehilangan Lana, Yuri pun sering jatuh sakit. Sakit diabetesnya menjadi tak terkendali. Setahun kehilangan Lana, Yuri merelakan kaki kirinya diamputasi. Dua tahun kemudian, kaki kiri itu harus diamputasi lagi sampai lututnya. Dan, sekarang tahun kelima kepergian Lana, Yuri tak memiliki kedua kakinya lagi. Penyakitnya bertambah parah. Tubuh Yuri kurus kering. Yuri menjadi tak berdaya. Beruntung ia masih didampingi oleh Mala yang setia. Mala dengan aura kecantikan yang tak sirna dimakan usia.

“Mala, bisa bawa aku ke luar? Aku rindu sinar matahari pagi.” Yuri meminta bantuan Mala bangkit dari kasurnya, berpindah ke kursi roda. Mala mendorong Yuri dengan kursi rodanya. Di teras rumah, Yuri dan Mala menikmati hawa sejuk pagi. “Mala, tidakkah kau merindukan Lana?” tanya Yuri. “Ya, aku rindu Lana.” jawab Mala ringkas. “Tidakkah Lana merindukan kita juga, Mala?” tanya Yuri lagi dengan suara tenang. “Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu, mas.” Mala menjawab dengan kesah. “Jika Lana rindu, ia pasti kembali pada kita.” akhirnya Mala berkata, namun segera berlalu dari Yuri. Yuri menolehkan kepalanya untuk melihat Mala masuk ke dalam rumah. Ada getir yang ia rasa begitu sangat. Jadi selama ini, Lana tak pernah merindukan dirinya dan Mala? Pertanyaan-pertanyaan yang terus mengaduk pikiran Yuri.

Yuri memandangi langit. Awan gemawan putih berarak. Ia bayangkan ada pelangi di sana. Lalu, turunlah seorang bidadari melewati tangga di pelangi itu. Menghampirinya yang sekarang cacat. Seorang bidadari yang menyerupai Lana. Memberinya sepasang kaki yang kuat. Sepasang kaki yang membuatnya bisa berlari kencang. Berlari mengejar Lana.

***

“Lana…” panggil Yuri menggelegar. Lana terus berlari meniti tangga rumahnya. Lana tak menggubris lagi kata Yuri, ayahnya. Lana membanting pintu kamarnya. Kesabarannya habis. Tekadnya sudah bulat meninggalkan rumah. Ia sesakkan tas ranselnya dengan segala keperluannya. Ia buka jendela kamar. Di luar kelam. Ia harus berhati-hati melangkah. Lalu, terdengar ketukan di pintu. Suara mungil memanggil namanya.”Kak Lana…” begitu pelan dan halus. Alina, batin Lana. Ia kembali ke pintu kamar. Haruskah ia berpamitan pada Alina? Adik perempuan yang membuatnya merasa tersingkir dari ayah dan ibunya. Lana tak membenci Alina. Lana menyayangi Alina. Perhatian ayah dan ibu memang lebih tertuju pada Alina. Lana tak mempermasalahkan itu. Tapi, Lana tak mengerti kenapa ayahnya menjadi lebih keras padanya. Lana merasa terbuang dari pangkuan manja ayah. Lana dididik lebih keras. Tak ada lagi keinginan yang selalu dikabulkan ayah. Lana mencoba mengerti. Ia bukan lagi anak semata wayang yang digadang-gadang selama belasan tahun. Ia memang harus lebih dewasa. Mungkin ayahnya ingin ia menjadi kakak yang teladan bagi Alina. Ya, Lana mencoba mengerti itu, walau ia terus merasa tersingkir. Namun, suatu hal membuat ia harus lari dari rumah. Permintaan Lana untuk menikah dengan pacarnya tidak diindahkan. Lana masih muda, Yuri tak ingin anaknya terburu-buru. Lagian, Yuri tak pernah suka sama kekasih Lana yang pelukis itu.

Lana masih berdiri di balik pintu. Mencoba meraba apakah Alina masih berdiri di sana. Adiknya masih usia 3 tahun, Lana merasa bersalah tak bisa jadi kakak yang baik bagi Alina. Ia putar knop pintu. Pelan, mengintip. Alina masih di sana. “Jangan pergi, kak Lana.” kata Alina sedih. Lana berlutut, memeluk Alina. Bagaimana Alina bisa tahu ia ingin kabur. “Maafkan, kak Lana, Alina. Kak Lana harus pergi. Sebentar saja, kok. Okay? Kamu masuk kamar, ya. Jangan bilang-bilang, ayah.” Lana menatap mata Alina yang tak bersalah. Dada Lana sesak. Tidak, ia tak ingin menangis di depan Alina. Lana kembali menutup pintunya. Pecah sudah tangisannya. Ia tak ingin lama-lama lagi. Kekasihnya sudah menunggu di seberang jalan depan rumah.

***

Suatu malam, Yuri berbaring di kasurnya. Di laci meja samping, ia ambil kertas yang pernah ia tulis beberapa hari lalu. Malam ini, ia tepat berusia 70 tahun. Dengan tangan gemetar, ia coba ukirkan lagi kata-kata untuk Lana.

Lana, anakku tersayang,

Apa kabarmu, nak? Semoga kau baik-baik saja di mana pun kau berada. Kapan kau kembali pulang, nak? Tidakkah kau rindu pada ayah? Terlalu lama kau pergi dari pelukan ayah. Ayah sangat merindukanmu, Lana. Sangat rindu hingga harus kutuliskan di atas kertas yang kelak bisa kau baca.

Lana, maafkan atas keegoan ayah. Ayah rasakan menjadi manusia tak berarti ketika kau pergi. Ayah menjadi keras padamu karena ayah sangat menyayangimu, Lana. Ayah tahu anak itu tak baik untukmu. Tapi kau bersikeras juga. Kau malah memilih kabur bersamanya. Kuharap kau benar baik-baik saja bersama pilihanmu itu.

Lana, anakku yang sangat cantik bagai bidadari. Tidakkah kau rindu juga pada ibumu? Ibumu sungguh perempuan kuat, Lana. Ia turunkan kecantikannya padamu. Begitu pun kekuatannya semoga kau juga kuat seperti Mala ibumu.

Lana, ketika kau baca surat ini, mungkin ayah sudah tak ada lagi. Mungkin ayah sudah pergi dengan kenangan dan kerinduan padamu. Tidak usah khawatir, sayang, ayah pastilah pergi dengan bahagia bersama kenangan-kenangan dan kerinduan itu. Ayah berharap kau tetap akan kembali pulang ke pelukan ibumu, ke pelukan Alina, adikmu yang periang seperti dirimu dulu ketika kecil. Alina-lah sahabat ayah sejak kau pergi. Alina selalu sabar menghadapi ejekan kawan-kawannya terhadap ayah. “Ayah Alina tua seperti kakek-kakek,” begitu Alina mengadu pada Ayah tapi tetap dengan hati riang. Lana, pastilah kau juga merindukan Alina, bukan?

Lana, suatu saat nanti, ayah percaya, kau pasti akan mengerti. Semua hal yang terjadi di keluarga kita bukanlah tanpa arti. Semuanya akan tergambar indah ketika nanti kau mengerti, semuanya demi kebaikan kita bersama. Demi kita yang selalu saling menyayangi. Kembalilah pada kehangatan keluargamu, Lana. Jangan pernah kau tinggalkan lagi.

Dengan penuh cinta segenap jiwa,

Yuri, ayah Lana dan Alina.

Yuri menitikkan air matanya. Ia lipat kertas itu dan ia masukkan ke dalam amplop bercap lambang huruf kanji bertuliskan Yuri. Ia simpan di dalam laci meja samping kasur. Mala, istrinya yang anggun dan setia, telah lama terlelap di sampingnya. Ia kecup kening Mala, pelan, perlahan. Yuri memejamkan matanya. Memori-memori masa lalau berputar ulang. Surat wasiat sudah ia tulis bersama pengacaranya. Semua harta dibagi dua sama rata untuk Lana dan Alina. Surat istimewa untuk Lana pun sudah ia siapkan. Yuri merasa siap untuk pergi malam ini. Raganya pun membeku setelah jiwanya yang lima tahun lebih dulu membeku.

***

Lima tahun yang lalu.

“Cepat, Lana.” Suara pria yang menunggangi motor di seberang jalan depan rumah Lana. Lana membonceng di belakangnya. Motor segera melaju. Ia pandangi lagi rumah mewah yang ia tempati belasan tahun. Menangis. Hatinya tercabik luka. Ia merasa sangat bersalah.

“Kenapa kita ke sini, Ndru?” tanya Lana ketika motor yang ditumpanginya berhenti di sebuah gang gelap. Di depan rumah tak terurus baik, Lana keheranan. Lelaki berambut gondrong sebahu itu hanya diam, sambil menarik lengan Lana. “Lana, sudahlah. Kamu diam saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Ini demi kita, demi kamu.” Lana benar-benar tak mengerti. Ia dijanjikan pergi ke stasiun kota. Ia akan tinggal bersama di sebuah kota terpencil. Jauh dari pantauan keluarga Lana. Untuk sementara waktu. Sampai ia melahirkan dan menitipkan anaknya di panti asuhan di kota itu.

“Aku tidak mau menggugurkan kandungan ini, Ndru.” Lana terus berteriak histeris. Ia dipaksa patuh pada kehendak lelaki yang ia kira benar menyayanginya. Lana teringat ayah. Tak berapa lama kemudian, Lana tak sadar diri.

Di suatu pagi yang masih berkabut, sebuah kantong hitam terikat dilempar ke arus sungai yang mengalir deras. Lelaki bernama Ndru berhasil menjalankan rencana busuknya. Kehamilan Lana yang sudah tiga bulan telah digugurkan paksa pada seseorang yang entah siapa. Namun, komplikasi terjadi. Lana tak kuat menahan cara aborsi yang demikian menyakitkan. Lana tewas. Ndru bersekongkol dengan pengaborsi janin Lana. Tubuh Lana dimutilasi. Dan di arus deras sanalah potongan-potongan tubuh Lana dibuang.

***

Jkt, 5.1.11