Wednesday, January 12th, 2011

now browsing by day

 

Balon untuk Anakku

By Ekastri @ekastri

Dorrr!!!

Lagi-lagi balon yang terikat di pegangan pintu itu meletus.

Anakku yang terbaring di ranjangnya menoleh lemah ke arah balon-balon itu.

‘Ibu, masih ada balon yang tergantung di sana?’

‘Masih banyak nak. Tadi pagi Tuhan menitipkan balon-balon baru kepada ibu.’

Aku pun duduk dengan sabar di samping ranjang menungguinya sampai tertidur.

Begitu ia tertidur cepat-cepat aku keluar dan meniup balon-balon baru. Entah sudah berapa ratus balon yang kutiup sejak ia terbaring lemah di ranjangnya.

Aku takut apa yang selalu dikatakan anakku akan menjadi kenyataan. Sudah puluhan kali ia mengatakan hal itu kepadaku.

‘Ibu, jika balon-balon itu habis, Tuhan akan menjemput dan mengajakku pergi berjalan-jalan untuk membeli balon baru yang lebih bagus.’

Balon Pengacau

by Vira Cla @veecla

Meletus balon hijau. Dor! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat. Sesungguhnya, balonku tak berjumlah empat, apalagi yang berwarna-warni.

Ketika masih kecil, aku tak pernah bermain balon. Mainanku hanya asap knalpot. Recehan di sakuku adalah bonusnya. Kadang aku nyanyikan lagu ‘balonku’ kala mengamen. Aku suka lagu itu yang seketika bisa kuhapal saat tak sengaja mendengarnya di sebuah TK di pinggiran Jakarta.

Dahulu, aku berharap bisa memiliki lima balon sebagai penghiburku. Sekarang, keseharianku adalah balon-balon. Tapi, bukan balon berwarna-warni yang melayang di angkasa. Payudaraku telah disumpal dengan silikon hingga terbuai seperti balon. Menggoda lelaki yang menyarungkan penisnya dengan kondom yang bisa disulap menjadi balon.

Jalan nasibku belum berubah. Hatiku bertambah kacau.

Aku Tahu Mereka Warna-Warni

by Bunga S. Putri @bunga_sp

Merah

Seperti darahku. Seperti nyala api. Kalau sedang kesal wajah ibu juga akan memerah. Merah tanda berani pada bendera Indonesia.

Hijau

Dedaunan pada dahan pohon. Sayur yang kumakan. Rerumputan yang kupijak.

Kuning

Bendera yang menandakan adanya seseorang yang meninggal. Tapi juga menjadi warna paling cerah di antara yang lain. Gelas untukku minum juga kuning!

Biru

Langit! Laut! Juga dinding kamarku. Biru menyejukkan.

Sekarang aku memegang erat tali yang menyambungkannya pada balon merah, kuning, hijau dan juga biru. Kata ibu jangan terlepas karena nanti mereka semua akan terbang ke langit yang biru.

Aku tahu semua punya warna. Seperti yang dikatakan ibu di atas. Semua katanya. Karena yang ada di mataku semua gelap.

Tak Butuh Pemberian Tahu

by Tenni Purwanti @rosepr1ncess

Angin sudah membisikkan padaku ke mana arah pergimu. Matahari telah menerangkan padaku dengan siapa kau menghabiskan harimu. Senja pernah mengabarkan, kepada perempuan mana kau selalu merindu. Tapi aku butuh pengakuanmu.

Di malam larut saat tak tahu ke mana harus mengadu pilu, aku berjalan tak tentu arah, membiarkan kaki kecil ini membawa tubuh mungilku. Tanpa meminta, aku justru melihat sosokmu. Mesra itu bukan bersamaku.

Aku menghubungi ponselmu, langsung kau terima. Aku bertanya di mana kau berada. Kau jawab singkat, “Kantor,” lalu ponsel kau matikan.

Aku langsung menemuimu yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Botol minuman yang kau pegang langsung kupukulkan ke kepalamu.

Kau selingkuh! Aku tak butuh lagi pemberian tahu.

Sayangi Aku, Nak

by Tenni Purwanti @rosepr1ncess

Ibu dan anak itu jarang bertemu. Mereka berada dalam satu atap tapi terasa berada di dua benua yang terpisah samudera. Ini berlangsung sejak sang ayah kembali kepada Yang Menciptakannya. Sejak itu, sang ibu sibuk mencari nafkah untuk menghidupi dirinya dan puteri satu-satunya. Peninggalan dari sang ayah bukan warisan harta, melainkan hutang yang bertumpuk dan membebani orang-orang yang ditinggalkannya.

Pukul tiga pagi sang ibu sudah berangkat ke pasar untuk berjualan sayuran. Saat ia kembali ke rumah pukul tujuh, sang anak sudah meninggalkan rumah. Puterinya itu baru pulang setelah sang ibu terlelap malam harinya. Begitu seterusnya. Sang ibu tak pernah tahu apa yang dilakukan puterinya setiap hari. Komunikasi diantara keduanya hanya berlangsung lewat surat yang ditulis di secarik kertas dan ditaruh begitu saja di meja makan.

Sebelum berangkat ke pasar, sang ibu selalu menuliskan kata-kata yang sama di kertas itu :

Ibu ke pasar,Nak. Ibu sudah siapkan sarapan dan uang sakumu hari ini.

Ketika kembali dari pasar, sang ibu akan membaca surat balasan dari sang anak :

Sarapan sudah ku makan. Uang sudah ku ambil.

Begitu seterusnya setiap hari. Sepulang dari pasar, sang ibu kembali berjualan di rumah. Ia berjualan nasi uduk dan nasi kuning yang kemudian diserbu oleh para tetangga yang bekerja di kantoran dan berlangganan nasi uduknya untuk dibawa ke kantor. Para tetangga yang bekerja di kantoran itu juga kadang membeli sarapan sambil menitipkan pakaian kotor untuk dicuci dan disetrika. Uangnya lumayan untuk menambah penghasilan sang ibu. Meski anaknya tak pernah pulang di siang hari, sang ibu selalu menyiapkan makan siang untuk dua orang, begitupun makan malam. Kadang makan malam disantap sang anak saat pulang, kadang utuh sampai basi di pagi hari. Keadaan ini telah berlangsung satu tahun dan keduanya menjalani ini tanpa berusaha untuk membicarakan nasib mereka berdua selanjutnya. Sang ibu hanya bisa pasrah pada nasibnya dan berharap kelak sang anak akan menemuinya untuk membantunya mencari nafkah atau minimal menemuinya untuk sekadar minta tambahan uang jajan. Ia tak akan menolak jika sang anak minta dibelikan sesuatu atau minta tambahan uang, asal sang anak bahagia, itu juga membuatnya bahagia. Tapi kehidupan mereka begitu bisu dan teramat datar.

Suatu hari yang juga masih bisu diantara mereka berdua, sang ibu menangis membaca surat dari sang anak. Surat yang lebih panjang dari surat-surat biasanya.

Ibu, aku pergi. Aku tidak bisa hidup seperti ini sampai mati. Sejak ayah mati lebih dulu, hidupku datar, tidak juga ada perubahan. Ibu pernah janji akan membiayai kuliahku, tapi sudah satu tahun aku masih saja begini. Makan sarapan dari ibu, lalu mencari kasih sayang di tempat lain. Akhirnya ada orang yang mau membiayai hidupku, sekaligus menjamin kuliahku sampai lulus. Aku memilih pergi dari ibu karena aku sayang pada diriku, tak seperti ayah dan ibu yang hanya bisa memberiku malu. Aku malu punya ayah yang suka main judi dan mati meninggalkan hutang. Aku malu punya ibu yang tiap hari cuma bisa termenung di depan kompor dan menangisi nasib sambil merokok. Aku tahu ibu bekerja dari dini hari sampai malam larut hanya untuk membayar hutang-hutang ayah dan untuk memberi makan kita berdua. Tapi sampai kapan aku harus hidup dalam keadaan ini? Aku harus pergi. Aku mau hidup yang lebih baik. Lebih baik, bu …Aku bahkan sudah malas menulis kata IBU di surat ini …

Sang ibu tak menyangka sang anak akan meninggalkannya dengan cara seperti itu. Kalau saja sang anak memang menemukan jodohnya, lalu pergi dengan cara yang normal seperti pernikahan, tentu sang ibu akan melepasnya dengan tenang. Tapi dengan cara yang tidak jelas seperti ini, sang ibu justru khawatir pada masa depan puterinya. Apa benar ada orang yang ingin membiayai kuliah dan hidupnya tanpa meminta imbalan? Siapa orang itu? Mengapa dia begitu baik kepada puterinya? Apa yang diinginkan dari laki-laki itu kepada puterinya? Lagipula, mana ada orang baik-baik yang mengambil puterinya tanpa izin?

Pikiran sang ibu langsung melanglang buana kemana-mana. Ia tak henti memikirkan keselamatan puterinya, terutama keperawanan gadisnya itu. Ah, ingin rasanya berteriak dan menangis sejadinya, tapi kali ini ia hanya bisa melampiaskan kecewanya pada rokok. Seperti biasa, ia termenung di depan kompor di dapur sambil merokok dan minum kopi hitam. Aroma kopi hitam dan asap rokok yang kental sanggup menenangkan hatinya perlahan. Sang ibu menjadi perokok sejak suaminya meninggal. Beban hutang yang banyak membuatnya hampir gila. Saat mencoba merokok dengan minum kopi hitam pekat, ia merasakan beban hidupnya sedikit berkurang. Sejak itulah ia punya kebiasaan merokok dan minum kopi hitam di dapur, di depan kompor sebelum masak. Sang anak pernah memergokinya merokok. Sejak itulah kehidupan bisu keduanya dimulai, dan hanya dihubungkan dengan surat-menyurat di meja makan yang berakhir hari ini.

Mungkin kehidupan bisu itu adalah reaksi kecewa sang anak kepada ayahnya sekaligus ibunya. Mungkin sang ibu tidak peka ketika kehidupan bisu itu dimulai, hingga akhirnya harus berakhir dengan perginya sang anak untuk selamanya. Mungkin sang ibu tak harus kehilangan puteri satu-satunya itu jika saja sang ibu yang memulai untuk berbicara dari hati ke hati, bukan hanya menanti puterinya menemui dan mendekatinya suatu hari. Pada akhirnya hanya penyesalan yang dirasakan sang ibu di hari ini, penyesalan karena ia baru menyadari semua kesalahannya saat semuanya mungkin sudah terlambat. Ia hanya bisa berdoa, berdoa semoga puterinya selalu dilindungi Tuhan, agar puterinya mau memaafkannya, mau kembali padanya, mau berjuang bersamanya. Tak ada dendam dalam hatinya pada sikap puterinya itu karena ia sadar sepenuhnya, semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri. Ia hanya berharap puterinya kembali.  Kembali ke pelukannya.

***

Enam ratus dua puluh hari berlalu sejak kepergian sang puteri kesayangan. Tubuh sang ibu yang biasanya kuat bekerja sejak dini hari hingga malam larut, mulai sakit-sakitan. Ia tak akan selemah itu jika saja sang puteri mau menemani sisa hidupnya. Apa lagi yang ia harapkan dari sekadar melanjutkan hidup jika tak punya anak, tak punya suami?

Pada puncak rasa sakit dan kelemahan hatinya, sang ibu mendapati puterinya pulang dalam keadaan sudah membawa seorang cucu baginya. Sang ibu tak pernah tahu kapan puterinya hamil dan melahirkan.

“Ibu, ibu kenapa? Ibu sakit apa?”

“Tidak penting tentang ibu. Siapa anak ini?”

“Ini anakku, bu. Cucu ibu,”

“Kapan kamu menikah? Mengapa tidak memberi tahu ibu? Siapa suamimu dan dimana dia sekarang?”

“Aku tidak pernah menikah, bu. Aku jadi simpanan pengusaha. Selama ini aku hidup di apartemen mewah dan seluruh kebutuhan hidupku terpenuhi. Aku juga bisa kuliah. Tapi sejak tahu aku hamil, laki-laki itu meninggalkanku. Dia tidak mau punya anak dariku. Aku lantas meninggalkan apartemen itu dan hidup di kontrakan dengan tabungan yang pernah ku miliki. Lama kelamaan uangku habis, aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup dengan harus membiayai dua nyawa. Aku rindu ibu. Maafkan anakmu yang durhaka, ibu …”

Sang anak sujud di kaki ibunya. Sang ibu langsung mengangkat kepala puterinya dan memeluk tubuh puteri yang dirindukannya.

“Ibu sudah memaafkanmu sejak kamu pergi. Ibu tidak akan menyesali apapun yang pernah menimpamu selama ini. Kamu hanya khilaf, ibu harus menerima apapun keadaanmu sekarang. Justru ibu yang minta maaf karena tidak bisa menjagamu selama ini, membiarkanmu pergi diberi makan orang lain,”

Sang anak menangis dalam pelukan ibunya. Ia begitu terharu dengan ketulusan sang ibu. Ia begitu takjub pada keikhlasan sang ibu yang mau menerimanya kembali. Menerima seorang anak durhaka yang meninggalkan ibunya demi lembaran-lembaran uang yang kata orang bisa memberi segalanya.

“Ibu, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku di masa lalu?”

“Sayangi aku, Nak. Hanya itu yang ibu inginkan,”

Sang ibu kemudian terbatuk-batuk. Saking kuat batuknya, darah segar kemudian keluar dari mulutnya. Sang anak yang panik langsung membawa sang ibu ke rumah sakit.

Kata dokter sudah terlambat. Sang ibu menderita kanker paru-paru stadium tinggi. Sang ibu harus segera dioperasi agar bisa bertahan hidup. Sang anak bingung. Untuk makan saja ia kini tak punya pegangan, apalagi untuk biaya rumah sakit.

Sang ibu memaksa minta pulang. Ia tak mau dioperasi, ia tak mau dirawat. Sesungguhnya ia  hanya tak ingin puteri satu-satunya itu susah payah mencari uang untuk biaya pengobatannya. Ia tak butuh lagi hidup lama. Puterinya sudah kembali dan sudah menunjukkan rasa penyesalannya. Ia hanya ingin dirawat sampai mengehmbuskan nafas terakhir. Ia hanya ingin ditemani di sisa hidup.

***

Hanya selang satu bulan sejak menolak dioperasi, sang ibu akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Ia pergi dalam bisu, ketika sang anak dan cucunya masih terlelap.

Usai pemakaman, sang anak mendekap hangat puterinya. Ia kini juga seorang ibu yang tak punya suami. Ia kini merasakan betul apa yang pernah dirasakan ibunya dahulu, ketika harus membesarkannya seorang diri.

Ia menatap hangat seorang bayi yang masih belum genap satu tahun itu. Ia bisikkan sebuah pesan yang mungkin belum bisa dimengerti puterinya saat ini, tapi ia berharap pesan itu akan melekat abadi.

“Sayangi aku, Nak. Jangan pernah tinggalkan ibu karena harta dunia yang fana. Ibu adalah hartamu yang paling nyata berharga, bagaimanapun keadaannya.”

Balon Biru

by Mega Dian @me_gaa

Kesedihanku, karena cinta tak pernah sirna. Aku masih menangis di taman itu saat dia memberikanku sebuah balon biru.

“Nona manis, lepaskanlah balon biru ini agar membawa pergi semua kesedihanmu,” ucapnya sambil tersenyum.

Erlang namanya, dia hanya teman biasa. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba saja dia datang dalam hidupku. Selalu ada mengisi hari-hariku. Selalu berusaha menghapus air mataku ketika kristal-kristal itu membasahi pipiku. Hari-hari yang kujalani indah bersamanya. Kecupan, sentuhannya, menghapus laraku.

***

Sekarang Erlang jatuh cinta, bukan padaku, pada yang lainnya. Hariku jadi sebiru balon yang pernah dia berikan. Tapi aku yang salah, melupakan pesan yang pernah dia ucapkan:

“Aku boleh minta sesuatu? Jangan pakai perasaan, ya?”

Sekarang, aku memilih pergi.

Terbanglah Surat Rinduku

by Teddy Andika @teddyandika

Sungguh aku tidak tahu, sekarang kau di mana. Menyelusuri hidupmu di masa lalu. Aku tidak menemukanmu di sana. Setiap kumerindu, aku menulis surat untukmu. Ada enam surat. Tak pernah kukirim. Hari ini, tiga tahun perpisahan kita. Aku menulis surat ketujuh.

Sore hari. Kulihat tukang balon gas melintas. Kupanggil. Aku lari ke kamar. Mengambil semua surat untukmu. Setiap surat kumasukkan ke masing-masing balon. Balon berisi surat untukmu diisi gas.

Kulepaskan balon gas berwarna Merah,  Jingga,  Kuning,  Hijau , Biru , Nila dan Ungu. Dirimu pernah memberiku cinta seindah pelangi.  Aku tak peduli di mana balon itu akan singgah. Aku menatap balon gas beterbangan mengikuti ke mana angin pergi. Seperti dirimu yang kini telah kurelakan pergi.

Tempatku Layak, Mereka?

by Damay Iriani @nongdamay

Tepuk tangan semua hadirin mengiringi langkahku di atas catwalk, inilah akhir dari pagelaran akbar designer terkenal itu. Aku dipercaya menjadi model yang menggandeng sang designer dan mengenakan rancangan terbaiknya.
***
Aku Lena Lukmansyah, mungkin belum banyak yang mengenalku sekarang ini namun di dunia permodelan khususnya model catwalk namaku sedang di perbincangkan. Baru 2 tahun aku kembali lagi ke Indonesia setelah selama 5 tahun aku menata hidupku, mencari keyakinan siapa diri aku yang sebenarnya sampai akhirnya aku mantap dengan yang aku pilih.
Walaupun baru 2 tahun kembali ke Indonesia dengan postur tubuhku yang tinggi semampai, rambut panjang dan hitam, kulit mulus dan wajah yang cantik menjadi modalku masuk ke dunia model seperti yang dulu aku impikan. Orang-orang industri ini bilang wajahku unik sehingga banyak produk yang menginginkan aku menjadi model iklan produknya, sedangkan para designer mengincarku karena postur badanku yang ideal.
Jadi inilah aku sekarang dengan segala yang aku punya, pekerjaan sebagai model iklan dan catwalk tak henti datang. Limpahan materi pun mengiringinya aku sudah bisa membeli apartemen kecil dan mobil sendiri. Kehidupan sosialku pun sangat baik, aku punya banyak teman dan kami berpesta setelah setiap minggunya. Aku bahagia dengan semua ini, walaupun aku memulainya dari nol.
Memulai dari nol? Iya karena sebenarnya waktu kecil aku sebenernya sudah memulai karir di negeri ini, bukan sebagai model tapi sebagai penyanyi. Memang albumku tidak semeledak para penyanyi cilik seangkatanku tapi aku cukup sering di tampil di acara anak-anak. Dulu aku terkenal dengan nama Leo Lumansyah.
Iya, aku adalah seorang transgender. Sisi feminime di tubuhku sangat kuat, aku senang melihat jejeran make up yang ada di meja rias mamaku, aku senang kalau ada fans yang memberiku boneka dan aku selalu iri melihat para penyanyi perempuan memakai baju-baju cantik saat show.
Aku perempuan yang terkurung dibadan laki-laki itu kesimpulanku, sampai SMP aku masih harus bersekolah dengan seragam laki-laki. Mamaku nyadari ada yang salah dengan diriku, dia membawaku ke seorang psikolog dan psikolog itu meminta mama untuk mengikhlaskan apa yang terjadi sama aku.
Mama mungkin malu dengan keluarga dan tetangga, mama mengajakku tinggal diluar negeri. Di Negara yang baru aku menjadi seseorang yang baru juga dengan identitas yang baru. Walaupun awalnya mama malu dan ingin menyangkal keadaan ini, tapi akhirnya mama ikhlas dan membantu aku sepenuhnya berbentuk wanita. Aku dibawa ke dokter ahli untuk menangani hormon priaku, aku melakukan operasi kelamin dan pembuatan payudara.
Setelah aku menjadi seorang wanita baik secara mental dan fisikku, barulah mama membawaku kembali ke Indonesia lengkap dengan nama baruku. Inilah aku hari ini.
***
Fashion show tadi sukses dan aku sangat letih, aku harus segera pulang karena besok siang aku harus bersiap latihan blocking untuk fashionshow besok malam. Jalan menuju apartemenku melewati Taman Lawang, aku lihat mereka yang bernasib sepertiku namun tak dapat kehidupan layak. Mereka kaum yang masih dipandang sebelah mata di negera ini.

Bagaimana Nasibku?

by Damay Iriani @nongdamay

Dari tempatku berada saat ini aku bisa melihat Mira yang sedang sibuk menarik keluar kopernya dari lemari. Dari tempatku ini aku juga dapat mendengar percakapan antara Mira dan Ibu.
“ Mir, seminggu lagi loh”
“Iya bu, jadi ngga sabar deh”
“Kamu bawa barang yang perlu aja ya, ngga usah semuanya dibawa”
“Iya bu” Mira masih terus memilih barang untuk dimasukkan ke koper.
Sambil mengelus kening Mira “ ngga terasa ya kamu udah besar, sudah mau kuliah.”
“Iya dong bu, masa aku kecil terus” Mira menjawab sambil memeluk ibu.
Aku iri melihat dan mendengar percakapan Mira dan ibu. Seketika kenangan itu muncul saat pertama kali Mira membawaku ke rumah ini tepatnya kamar ini. Aku tidak hanya diam di tempat karena Mira selalu menggendongku kemanapun, hanya saat dia mandi baru dia melepaskan aku. Aku pun rela saat badanku kotor terkena makanan Mira karena Mira terus ingin menggedongku saat dia sedang makan.
Saat malam tiba dan Mira bersiap tidur maka Mira akan memeluk erat diriku dan aku akan ikut tertidur bersamanya. Dan saat pagi tiba, saat Mira membuka mata maka aku yang pertama dia cari karena aku terlepas dari pelukkannya.
Aku menemani Mira setiap hari, aku tahu apa yang Mira alami di sekolah, aku tahu kapan Mira senang, sedih atau bahkan pada saat Mira jatuh cinta untuk pertama kali karena Mira selalu bercerita kepadaku. Saat Mira duduk di bangku SMP, Mira mulai jarang menggendongku tapi tak masalah bagiku karena Mira masih memelukku setiap malam.
Tapi sejak SMA , Mira sudah benar-benar jarang menggendong dan memelukku, Mira hanya memelukku saat dia bercerita sambil menangis kalau ada laki-laki yang menyakitinya. Terkadang malah Mira mengganti tempatku dengan sesuatu yang diberi oleh pria tercintanya Mira, “ah, aku ngga suka kalau ada penghuni baru di kamar Mira apalagi kalau menjadi pusat perhatian Mira” keluhku saat itu tapi Mira tidak pernah mengdengarnya.
Sekarang Mira dihadapanku dengan bantuan ibu sedang mengemas barang-barangnya ke dalam koper. Aku tau Mira akan pergi ke Bandung karena waktu pengumuman hasil seleksi mahasiswa baru aku dipeluknya, Mira senang karena diterima di Universitas Negeri di Bandung aku pun ikut senang karena setelah hampir 6 bulan tak dipeluk aku di peluk kembali.
Aku tidak mau mengalihkan pandanganku dari Mira, minggu depan Mira akan pergi ke Bandung. Mira akan meninggalkan kamar ini dan meninggalkan aku. Selama ini walaupun Mira sudah mulai tidak peduli dengan aku tapi aku masih bisa melihat Mira setiap hari, lalu bagaimana nasibku setelah Mira pergi nanti. Aku tak sanggup membayangkan hari-hariku tanpa Mira, lebih baik aku bunuh diri saja.
Bunuh diri? Ya tampaknya menjatuhkan diri dari tempat tidur Mira merupakan jalan terbaik untuk menentukan nasibku, karena tanpa Mira apalah artinya aku. Ok aku akan loncat sekarang 1,2,3…
***
Bruuk…
Mira dan Ibu yang sedang memasukkan barang ke koper menoleh bersamaan, keduanya langsung menatap ke bawah tempat tidur arah suara itu berasal. Mira langsung berlari
“Ya ampun, bu kok ini Teddy Bear ku bisa jatuh ya dari tempat tidur” bertanya kepada ibunya “masa gara-gara angin ya bu? Teddy kan gede banget” Mira masih dengan muka bingungnya membawa Teddy Bear itu mendekat ke ibu nya.
“Kamu mau bawa Teddy Bear ke Bandung” tanya ibu seolah mengerti apa yang Mira pikirkan
“Boleh bu?” Mira menunggu jawaban ibu
Ibu pun mengangguk dan tersenyum. “Ma’kasih bu” Mira sambil mencium ibunya.
***
Ah ternyata usaha bunuh diriku gagal, Mira dan Ibu tahu apa yang aku lakukan. Tapi tak apalah, kegagalan bunuh diri itu membuat aku dibawa Mira ke tempat kosnya di Bandung,

Bencana

by Sutan Ar Rum @sutan_arrum

Bekas ini tidak akan pernah hilang, tetap terlukis diwajahku. Lukisan kemuraman, kebencian dan penyesalan. Kau pergi.

Aku mempunyai seorang kekasih yang imut. Hidup bahagia, menanti detik-detik ke pernikahan. Wajah imutnya menular ke sifatnya. Begitu sempurna cobaanpun enggan menghampiri.

Hari itu, kami ke dufan. Berpegangan tangan, tertawa dan tersenyum. Waktu berlalu, malam tiba, cahaya mulai padam pertanda dufan akan segera ditutup.

Tiba-tiba angin berhembus menerbangkan mainannya dan tersangkut di bianglala. Dengan wajah murung yang siap berurai air mata, dia meminta aku mengambilnya. Demi cintaku padamu, aku memanjat bianglala itu. Sesaat ingin mengapainya angin kencang bertiup kembali dan aku terjatuh. Hanya bisa melihat Balon itu terbang ke langit sebelum dunia menggelap di sekitarku.