Thursday, April 7th, 2011

now browsing by day

 

Gerhana Membawa Duka

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

Sekedar ingin melihat langit yang terang pada pukul 11.35 WIB, langit menyiratkan hal yang sangat indah.

“Ibu… Ibu… Lihat ke langit. Cepat, Bu!” Dengan wajah riang dan sambil berlari tergesa, seorang anak memanggil ibunya.

“Apa, Nak? Ada apa? Apa yang kau lihat?”

Soedibio mengangkat lengannya ke atas dan menunjuk ke arah matahari yang tertutup perlahan. “Gerhana akan terjadi sebentar lagi, Bu.”

Ibu terdiam melihat ke arah langit. Ini merupakan kejadian alam yang baru pertama kali ia lihat seumur hidupnya. Dengan wajah yang tercengang Soedibio dan ibunya terus melihat bayangan bulan yang menutup matahari perlahan.

Cahaya langit semakin redup dan mata tetap setia memandang kegelapan total yang akan terjadi sebentar lagi. Gerhana total akan menunjukkan makna dari kuasa Ilahi. Inilah kebesaran Allah.

“Ibu, gerhana ini sangat indah bukan?” ujar Soedibio sambil terus menatap langit.

Ibunya mengangguk perlahan dan tetap melanjutkan melihat gerhana.

totalitas bulan
akankah aku bisa meniru geraknya
perlahan dan memastikan gaya
tarik ulur waktu
seiring bermain waktu
manusia hanyalah sekecil debu
jauh tak tertandinggi
aku ingin menirumu bulan
terang dan pelan
terang dan menerawangkan bayang
pasti menghujamkan makna
yang menyirat
yang usiakan manusia untuk berjalan
tegap dan tetap
teguh dan menyeluruh
elok dan menari tanpa lelah
asa pun ikut gentayang

***

Kami terhipnotis dengan keindahan gerhana yang terjadi, tanpa mengetahui penyebab gerhana dan asal usulnya. Kami hanya bisa terpukau dan terus menyaksikan keajaiban alam yang satu ini, tanpa mengetahui dampak yang timbul ketika cahaya yang begitu terang tiba-tiba datang setelah gelap total secara penuh.
Sesaat matahari tertutup penuh. Tiba-tiba, sekilat cahaya menyembur dari balik bayangan bulan. Cahaya yang dipancarkan begitu terang dan…

“Aaaaa…aaaaa!!” aku dan ibu berteriak kesakitan setelah menerima cahaya kilat yang keluar barusan. Cahaya itu membuat mataku dan ibu sakit.

Ayah terkejut mendengar dari dalam rumah, dan panik mengejar kami ke luar, “Hah?! Ada apa, Bu, Dibyo?”

“Mata ibu sakit, Yah…”

Aku terdiam dan mengusap-usap mataku dengan kedua tangan. Ada apa ini? Kenapa penglihatanku semakin kabur setelah kuusap?

Dengan panik kutanyakan pada ibu, “Ibu, bagaimana mata Ibu?”

“Kabur, Nak,” terdengar olehku suara lemah ibu.

***

Pak Marno terdiam. Ia bingung memikirkan pertolongan pertama untuk istri dan anaknya yang tiba-tiba tidak bisa melihat dengan jelas. Kabur dan berbayang, itu yang dikatakan istri dan anaknya.

Akhirnya, ia membawa istri dan anaknya menuju Rumah Sakit St. Boromeus untuk diperiksa matanya.

Pukul 12.00 WIB, sesampainya di rumah sakit, Dokter Frans langsung memeriksa istri dan anaknya yang berbaring di tempat tidur, “Saya periksa dulu ya, Bu.”

“Iya, Dok,” Bu Marno mempersilahkan.

Setelah memeriksa Bu Marno, Dokter Frans beralih memeriksa Soedibio. Setelah keduanya diperiksa, dokter mempersilahkan mereka untuk duduk.

“Ini adalah dampak dari intensitas cahaya berlebih yang tiba-tiba diterima oleh mata manusia saat pupil sedang membesar, Pak. Jadi, sebelum semuanya terlambat, ibu dan anak Bapak harus dirawat secara intensif secepatnya. Semoga tidak terjadi hal-hal yang lebih parah.

Pak Marno mengangguk pelan. “Baiklah, Dok. Jika harus dirawat, maka saya hanya bisa mengandalkan Dokter untuk kesembuhan mata anak dan istri saya.”

“Semoga saja, Pak. Kalau begitu saya akan suruh suster menyiapkan ruang inap.”

***

Aku dan ibu terpaksa dirawat untuk diperiksa. Hari semakin sore dan mataku semakin kabur. Tulisan-tulisan pada dinding kamar ini tak dapat kubaca.

“Apa ibu sama sepertiku, tak dapat melihat dengan jelas juga?” tanyaku dalam hati.

Tak berapa lama kemudian, terdengar olehku Dokter Frans datang bersama seorang suster dan seorang lelaki tua yang setelahnya kuketahui juga seorang dokter.

Aku dan ibu kembali diperiksa. Dokter Frans memeriksaku menggunakan senter dan memberikan isyarat-isyarat jari. Aku hanya bisa menjawab satu isyarat dengan benar.

“Angka dua, Dok,” kataku. Pertanyaan lainnya tak dapat kujawab. Aku semakin was-was. Apakah aku akan buta? Bagaimana pula dengan ibu?

Terdengar pembicaraan para dokter di dekat tempatku berbaring, ada kata-kata operasi dan perban.

“Operasi? Hah…” Aku tersentak terkejut. Keringatku mengucur deras. Kututup mata dan mulai berdoa.

Setelah pergi beberapa menit, Dokter Frans kembali ke ruanganku. Mataku dan mata ibu diperban, agar visualisasi yang diterima mata tidak semakin parah. Mata harus ditutup agar keadaan bisa kembai normal besok. Itu pun baru kemungkinan akan sembuh. Jika tidak, aku dan ibu harus dioperasi.

***

Pagi telah kembali. Keputusan akan diambil setelah perban mataku dan perban mata ibu dibuka.
Keadaan tetap tidak berubah, mataku tetap kabur, sesekali hanya bisa melihat kelebat wajah orang-orang sekitar. Keadaan ibu lebih parah lagi, ia tidak bisa melihat apapun.

Operasi akhirnya dijalankan hari ini. Ayah memegang erat tangan ibu. Aku masih bisa melihat dengan kabur ketika ayah menangis mengantar kami ke ruang operasi.

Lampu merah di atas pintu operasi dinyalakan. Operasi mulai dilaksanakan.

Enam jam operasi sepertinya berjalan sukses. Mataku dan mata ibu diperban lebih erat.

Setelah kembali ke ruang inap, aku berkata pada ibu, “Bu, Su minta maaf. Gara-gara Su, semua ini terjadi.”

“Sudahlah, Nak. Ini cobaan dari Allah. Kita berdoa saja, meminta pertolongan-Nya.”

“Iya, Bu…,” aku menyentuh pelan perban pada mataku, dan berharap esok atau lusa penglihatanku kembali normal.

***

Sabtu, 28 Oktober 1995, ternyata Tuhan berkata lain. Perban dibuka dari mata dengan hasil mengagetkan. Ibu tetap tak bisa melihat, sedang mataku kembali pulih.

Aku menggenggam tangan ibu. Ayah memeluk erat ibu sambil menangis.

“Sudahlah. Ini semua sudah terjadi, Yah. Mungkin sudah jalannya Ibu menjadi buta”.

“Tidak!!!” ayah berteriak, “Tidak, Bu, masih ada jalan. Operasi pergantian kornea mata. Ibu harus bisa melihat kembali, melihat dunia dan taman kecil kita.

Terdengar ibu menangis kemudian terdiam, “Iya, Yah… Semoga Ibu bisa melihat kembali.”

Akulah yang bersalah atas kejadian ini, aku tidak akan pernah memaafkan diri ini. Karenaku, ibu menjadi buta.
Gerhana dan kejadian alam lainnya adalah kebesaran Tuhan. Manusia hanya insan biasa yang dapat menikmati keindahannya. Tapi sekarang apa yang dapat dilihat ibu setelah mengalami kebutaan? Semua gelap, semua tiada, yang ada hanyalah sesal yang teramat duka.

Bayang Mencandu Layang

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

Selayang wajahmu meliuk gairah di depan tubuhku
kau menari dengan diam pada sebuah dinding tua
matamu berbicara pada bening terang
tentang mau dan sapa

Sapalah manusia yang ingin kau sapa
aku pilih wajahmu dalam sebentuk rangkaian menggebu
dari detak tak menentu
kau saksikan suara mercusuar hatiku tak henti menyala

Dari balik wajahmu ada bayang anggun
berkelit naluri
menyapa esok;
semoga saja kulayangkan taji

03.04.11

Rampas Bara

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

malam merancang kompas ke arah utara
di sana aura harta mengajak tersenyumku
tahu mengapa?
karena ada banyu yang luas

arungkan bantal dalam wajah tuan
maaf malammu menjadi gusar
petiklah senarmu
karena buah keras telah kulumat sekali teguk

03.04.11

Detak Prematur

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

menyerupai wajah abstrak pada layar-layar USG menari-nari
ini anakku!
tatap wajah, sudahlah ia prematur
tertawa tanpa alasan
merias tangis dalam rengek
bayi mungilku menyerupai paruh dewa
separuhnya ruh debu
ciptakan nyawa
ciptakan pusara
kelak hidup sampai redup

03.04.11

Dasi-Dasi Pemerintah

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

berjas menenteng mewah memasuki kantor
menuakan jubah-jubah rakyat
karikatur wajah menciut melebihi dasi-dasi busuk

di mana harammu menyambut harta
demi sesuap harga mati berucap
kemewahan tiada mengharap halal
dasiku haram, engkau pun haram pada meja kerjaku

03.04.11

Menitip Hidup Pada Kanvas

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

Ibu inilah karyaku dalam diam 7 hari 7 malam
Ibu inilah tanyaku putih atau naturalis
pilihlah salah satudan lempar koin itu ke hidupku

Melukis untuk hidup
pada kanvas-kanvas perawan
seniman sibuk mencari awan
sedang ku telah melukis awan
tanpa warna

pilihlah diri
warna atau abstraksi
ilusi atau halusinasi pasti
karya adalah istri matiku

03.04.11

Melilit Duka

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

Musim semi berkutat di bukuku
ceritakan masa lalu yang gemparkan awan
gemparkan transfusi darah dan nafas menyingsup bengis
Ibu sudahlah; merasa darah ayah mari kita angsur tanda duka atas bencana bandang.

04.04.11

Nyawa Di Titik 0

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

Aku langkahkan kaki ini tepat di induk bumi
Goncangan itu ada di hatiku
Ketika kumulai mencoba di titik 0
Seketika matilah nyawa, matilah langkah
Skak mat!

7 Maret 2010

Kutuk

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

tak pantas menari di atas jemari
kita t’lah kalah dengan lumuran sari-sari suci
kutuklah sang raja yang memanja

18 Mei 2008

Air Mata Jude

by Irene Wibowo @sihijau

Jude menatap cahaya terang yang terpancar dari atap. Teriakan suara bersahutan tidak kunjung berhenti. Dengan terpaksa telinganya harus terbuka mendengar semuanya. Jude menyadari bahwa ia hanya bisa menangis. Pada tahun kesepuluh hidupnya, dia hanya melihat rumah yang jauh dari bayangan surga. Lelah. Jude sudah lelah TUHAN! Dia berharap ketika menatap ke atas, air matanya yang hendak tertumpah masuk kembali.

“Jude, maafkan Mama!”

“PERGI KAU!” teriak ayahnya sambil menarik ibunya keluar.

Jude hanya bisa menangis melihat peristiwa demi peristiwa yang berlalu. Tuhan, Jude lelah!

Hingga waktu berputar, berhenti pada satu tusukan luka.

“Kami turut berduka cita”.

Lima tahun berlalu. Tidak lagi atap yang terlihat, namun langit sebagai tanda telah berakhir.