June, 2011
now browsing by month
Merah Sepuluh Detik
By Evan Saap @evansaap
Tadi sore aku mengendarai mobil melewati sebuah perempatan kecil. Ada sebuah rumah kuno bercat putih di kiri jalan. Saat lampu merah menyala, kuhentikan mobilku sejenak.
Detik pertama. Aku melihat seorang gadis cantik membuka pintu rumahnya.
Detik kedua. Gadis itu keluar.
Detik ketiga. Dia menuruni undak-undak kecil menuju halaman.
Detik keempat. Dia mengambil embrat.
Detik kelima. Dia mulai menyiram tanaman.
Detik keenam. Kucuran air dari embratnya bergeser menyirami tanaman lain.
Detik ketujuh. Mataku mencuri pandang.
Detik kedelapan. Kepalaku menoleh. Mataku tidak mau beranjak.
Detik kesembilan. Aku menggumam, ”Cantiknya!”
Detik kesepuluh. Aku tersenyum. Dia juga tersenyum.
Lampu hijau menyala. Aku harus pergi.
Besok sore aku akan menemui gadis itu dan menanyakan namanya.
Traffic Light Pernikahan
By Evi Aulia @butirhujan
Hijau; “Saya membuka lowongan seluas-luasnya. Untuk Anda yang tentu saja memenuhi kualifikasi, akan dihubungi via telepon untuk mengikuti tes psikologi. Silahkan tunggu kabar baik paling lambat seminggu setelah ini. Harap hadir tepat waktu menemui Bu Daya, pukul 09.00 keesokan harinya setelah menerima panggilan.” Lalu wanita yang mengenakan blazer putih bergaris hitam itu meninggalkan ruangan dengan 27 pria di dalamnya.
Kuning; “Selamat untuk Anda. Saya yakin Anda yang terbaik. Tes bisa anda lalui dengan sempurna. Sekali lagi, selamat!”
“Terima kasih.. Terima kasih. Akhirnya peluh saya terbayar. Inilah bukti, Saya Pria!”
“ Taken kontrak akan dilakukan besok di kamar hotel 369. Sudah kami siapkan penghulu dan saksi-saksi. Setelahnya.. terserah anda.”
Merah; “Saya mens..”
Belajar Membuka Hati
By Petronella Putri @petronellalau
Siang ini aku terjebak di traffic light dengan antrean amat panjang. Aku mengumpat dalam hati, ibukota memang tidak pernah tidur.
“Bu, saya belum makan.. Kasihan, Bu..” Seorang anak jalanan mengeluh sambil mengetuk kaca mobilku. Aku diam saja, bukan waktunya jadi sok mulia. Setelah sekian menit, aku berhenti mengetikkan BBM dan melemparkan ponselku ke dasbor, tapi..
“Bella!” Jantungku berdegup kencang, Bella–anakku—tidak ada di tempatnya, ke mana dia?!
Aku nekat meninggalkan mobil tanpa menguncinya terlebih dahulu lalu mulai mencari-cari Bella. Dia baru lima tahun, bagaimana kalau..
“Bella!?” kulihat Bella di sana, “Bu, tadi anak ini tertabrak waktu menolong Bella. Hampir saja anak ibu kecelakaan..” Seorang pemuda menyahut.
Dia. Anak jalanan tadi.
Si Mata Tiga yang Tegak Berdiri
By Angi Sonia @anggi_
Terik matahari menyengat di atas kepalaku. Badanku lemas. Entah berapa gelas aku minum, kerongkonganku minta disiram. Hilir-mudik kendaraan di jalan ini menentukan nasibku setiap hari. Bersama beberapa teman yang juga hidup di sini, separuh hari kuhabiskan dengan menjual diri.
“Koran, Pak, beli korannya,” tawaranku setiap kalinya mobil berhenti. Menyusuri ruas tubuh abu-abu. Tubuhku sendiri setinggi mobil yang biasa kuhampiri, memungkinkan pemilik mobil melihat koran dan tabloid yang kutawarkan. Sebagian menoleh, melihat judul besar headline, sebagian melihat pakaian lusuhku, sebagian melihat hape yang ada di genggamannya.
Tanda waktu si mata tiga yang tegak berdiri di persimpangan jalan memberiku kesempatan. Seringnya traffic light itu mengulur waktu. Penuh sesaknya mobil menentukan nasib mereka, sepertiku.
Sepuluh Ribu
By Nurul Humaeroh @_nurulch
Hari ini kulewati kota kecil, dengan bergerak pelan, benda-benda ringan di jalanan kuterbangkan sembarangan.
Saat melewati sebuah salon, kulihat bocah perempuan duduk di depannya, mengemis. Kuhampiri bocah itu, ia tersenyum menyambutku. Setidaknya kehadiranku bisa menyejukkannya di siang yang panas.
Tak lama, seorang wanita keluar dari salon. Dengan genit ia berjalan menuju kami. Harapanku ia akan memberi uang pada bocah ini. Tidak, ia lewat begitu saja.
**
“Lucu.. Berapa?” tanya wanita tadi pada penjual topi di belokan.
“50 ribu!” jawab penjual.
“Aku ambil satu!” Saat ia membuka dompet, uang 10 ribunya terjatuh. Tanpa buang waktu, kuterbangkan uangnya menuju depan salon. Si bocah terkejut, “Uang siapa ini?!”.
“Itu rezekimu..” bisikku. Rambutnya tertiup angin.
Ketika Cinta Menjadi Buta
By Petronella Putri @petronellalau
Dear Diary,
Ternyata dugaanku benar. Aku hamil. Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan pada Bambang? Apa ia akan menceraikan istrinya demi menikahiku? Aku tidak begitu yakin, tapi ia selalu berkata bahwa ia mencintaiku, melebihi istrinya sendiri. Setahuku Bambang dan Aini memang sering ribut, bahkan Bambang kadang tidak betah di rumah karena ulah istrinya itu. Tapi apa ia berani menceraikan istrinya dan kehilangan seluruh kemewahan yang diperolehnya dari Aini selama ini? Diary, aku.. takut..
“Bik Surtiii!..” Terdengar seruan seorang gadis belia dari ruang tamu.
Gawat, itu Non Aurel, udah ya Diary.. Aku harus buru-buru,
Surti..
“Bik, Mama sama Papa ke mana?” Gadis itu bertanya.
“Tuan Bambang sama Nyonya Aini ke kondangan, Non..”
Ada Apa Dengan Cinta?
by Ben Nazwar @benjalang
“Rangga, boleh aku meminta sesuatu?”
“Tentu saja, Cintaku. Permintaanmu adalah perintah bagi hamba.”
“Aku ingin kau membuktikan cintamu padaku.”
“Maksudmu bukti yang seperti apa Cinta?”
“Begini, kamu selalu bilang cinta padaku, mau melakukan apapun untukku. Bukankah demikian?”.
“Iya, benar.”
“Kalau sekarang aku menagih ucapanmu itu, apakah kamu bersedia?”
“Cinta, aku tidak mengerti, bisakah kamu perjelas?”
“Aku inginkan seekor tiger fish. Maukah kau memenuhinya?”
“Tapi…”
“Tapi apa?”
“Itukan ikan buas yang sangat berbahaya, apalagi habitatnya jauh di pedalaman Afrika sana.”
“Jadi cintamu kalah buas dari ikan itu, Rangga?”
“Baik!! Akan kuambilkan untukmu ikan itu, dan buktikan cintaku”.
**
“Sampai jumpa lagi Rangga sayang. Aku akan menunggu kedatanganmu. Di sini, di makam kita berdua”.
Surat Kepada Awan
By Sary Ahd @saryahd
Dear awan,
Memandangmu dari bawah sini rasanya menyenangkan.
Apalagi saat langit biru yang menjadi kanvasmu.
Apakah kau hangat?
Empuk?
Apakah kau memiliki rasa seperti aku?
Saat kau melayang.
Aku membayangkan kau sedang bahagia seperti aku.
Tapi kau sering juga terlihat menyeramkan.
Saat itu kau hitam, kelam.
Kau bergulung seperti ombak lautan.
Apakah itu pertanda kau sedang marah?
Apakah kau sedang menantang matahari?
Jangan-jangan kau memiliki rasa seperti aku.
Saat marah, aku pun merasa hitam.
Dadaku sesak bergulung-gulung.
Dear awan,
Apakah kau ada di surga?
Atau… setidaknya kau pernah ke sana?
Kalau iya, kapan kau mau ke surga lagi?
Beritahu aku ya..
Aku ingin menitipkan cinta untuk ayahku.
Salam,
Aku di Bumi.
Pintu
by Dalias Lisdiarum @daliaslisdia
Sudah kubilang padamu.
Ikatan bagiku hanya ruang kubus tanpa pintu.
Di mana aku hanya akan duduk membatu, sedang kamu sibuk menata lampu.
Kamu bilang, “Akan kubuat indah untukmu”. Aku bilang, “Aku hanya ingin sebuah pintu”.
**
Dua tahun berlalu sejak kejadian itu. Mataku tertuju padamu. Kamu menangis dengan pisau di tanganmu, kemarahanmu memburu. Darah membuncah dari tubuhku. Lalu semua hilang kecuali suaramu. Kamu mendudukkanku di tempat tidurmu, berjanji bahwa kamu tak akan membiarkanku menjadi debu. Kamu memandikanku dengan air yang tidak biasa, membuat tubuhku membeku.
**
Angin datang membuyarkan buku-buku manteramu. Memadamkan lilin-lilin yang menyerupai lampu, yang selalu kautata mengelilingi tubuhku. Pintu terbuka, yang selama ini kutunggu. Relakan aku, kekasihku, aku hanya hantu.
Persaingan
By Sary Ahd @saryahd
Pendatang baru ini sungguh menarik perhatian. Kabarnya Tuan membawanya dari tempat yang jauh sekali dari sini. Dengan mata biru, bulu tebal berwarna abu-abu dan putih, serta perawakan besar. Jelas sekali terlihat perbedaannya dengan kami yang asli dari kampung sini.
Tapi ternyata dia juga menyebalkan. Sikap arogannya jelas terlihat sejak pertama kali dia datang. Di hari kedua lagaknya sudah sok jadi jagoan. Setiap waktu makan tiba, dia akan berjalan hilir mudik, memastikan tidak ada seorang pun dari kami yang makan lebih dulu dari dirinya.
Huh, ini harus segera diakhiri. Memangnya siapa dia. Kami sudah lebih dulu di sini. Aku dan kedua anakku sudah merencanakan pembalasan malam nanti. Dia atau kami yang mati.












D5 Creation