Friday, June 3rd, 2011

now browsing by day

 

Telah Memilih

by Te @embunbeningpagi

“Cindy!” sebuah teriakan keras memanggil dari dalam mobil yang melambat. Tersenyum dan melambai. Segera memasuki mobil yang telah dibukakan pintunya.

Cindy dan seorang pria melaju menembus nafsu satu malam.

***

Hari berganti. Siang yang penat seusai kuliah yang padat. Cindy bersiap untuk satu malam lagi. Pelanggan telah menanti.

Rambut berwarna terpasang.  Lentik bulu mata buatan. Bibir memerah.  Rok  menutup sekedarnya. Dada penuh.

Helaan nafas. Entah. Apakah sebuah doa memohon rejeki masih pantas dibisikkan.

Perlahan memasuki  kamar sebelah. Diciumnya seorang perempuan  yang tengah tertidur. Ibunya sedang sakit.  Ranjang berikut, bocah perempuan 2 tahun.

***

Cindy, 22 tahun, asli perempuan. Memilih berdandan sebagai waria di pinggir jalan, karena lebih laku. Demi Ibu dan anaknya.

Liontin Angka Delapan

by Kukamocca

Masih tergantung di leherku, sebuah liontin berangka delapan. Masih sama dengan yang dulu, aku masih menyimpan rasa.

Ketika suatu pagi, aku terbangun dari mimpi, kuraba dadaku, tak kurasa adanya barang itu, yang kurasa dan kulihat, hanyalah sebuah lubang mendekam dalam dada.

Perih. Menitikkan darah luka. Kau tahu, penantian itu menyakitkan. Kau hanya memberi sebuah kalung, yang kau yakini, akan mengingatkanku padamu. Tapi ternyata apa? Tepat pada hari di mana janji kita dulu, kau yakin kau akan datang menemuiku. Membawa sebuket mawar merah untukku, dan berjanji akan melamarku saat itu juga.

Tapi mana? Hanya kata-kata dustamu saja. Kau datang dengan muka tebal, membawa sebuah kartu berlapis pita emas, dengan isi “Dimas dan Retha”.

Kau tahu bagaimana lepuhnya dada sebelah kiriku? Saat masih bisa tersenyum di depanmu, adalah saat terbodoh yang pernah aku lakukan.

Mungkin ini ujian, karena pada saat kematianmu kemarin, aku datang, tanpa menangis setitik pun.

Lebih Indah dari Senja

by Vira Cla @veecla

Ia berjalan anggun di atas panggung, tak jauh beda dengan caranya menyusuri pantai. Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya takjub. Keindahannya mengalahkan pesona senja. Tak ada yang bisa mengalihkanku dari pijar matahari terbenam menjelang tenggelam. Namun, kala itu, momen favoritku terlewat sudah karena keindahan hawa yang tak bisa kulupakan hingga kini ia tampil bak ratu tercantik di dunia.

Lewat layar kaca, tanpa sengaja mengganti saluran televisi, aku bertemu ia lagi. Aduhai! Lenggok-lenggok yang tampak begitu alamiah. Begitu perempuan! Dan, hanya ia yang sangat hangat disambut sorak-sorai penonton yang menyaksikannya langsung.

“Cindy, 22 tahun!” teriak MC penuh semangat.

Akhirnya, kuikuti acara itu sampai selesai. Sesuai dengan keyakinanku, selempang Miss Ladyboy 2011 memang hanya untuknya.

Di Stasiun Aku Menunggu

By Bunga S. Putri @bunga_sp

Aku mematut diriku di cermin. Gaun putih pemberian Genta terlihat begitu manis. Hari ini ia akan pulang. Suamiku yang paling aku cintai. Kubiarkan rambut panjangku terurai karena Genta senang membelai rambutku, indah dan halus katanya.

Aku bergegas menjemputnya di stasiun, sebentar lagi keretanya tiba. Aku tidak mau terlambat. Betapa aku merindukannya.

***

Kulirik lagi jam tanganku. Sepuluh menit lagi seharusnya kereta itu tiba. Di temani novel yang juga pemberian Genta. Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan betapa aku bahagia akan bertemu Genta lagi setelah sekian lama.

Suara roda kereta yang bergesekan dengan relnya sudah terdengar. Itu pasti kereta yang membawa Genta pulang. Kereta berhenti. Penumpang mulai melintas keluar pintu kereta. Mataku menerawang, mencari-cari sosok Genta yang kutunggu-tunggu. Satu persatu penumpang keluar tapi Genta tak kunjung terlihat. Sampai stasiun ini hampir sepi. Hanya tinggal satu dua orang yang masih terlihat di dalam kereta. Aku mulai gemetar. Kemana Genta. Ia janji akan pulang.

Aku menunduk lemas. Genta tak juga terlihat.

“Terimakasih masih menungguku, sayang.” Suara itu. Suara yang sangat kukenal. Ia meraba pundakku. Aku berbalik. Dan benar saja, itu Genta. Aku serta merta memeluknya erat seakan tak ingin kulepas.

Airmataku tak terasa mengalir. Rasa rinduku padanya begitu meluap-luap. Ia menyeka airmataku seraya mengecup keningku. Kami bercengkrama kecil. Aku memeluknya lagi. Erat. Sampai aku merasakan seseorang mencengkram tanganku begitu kuatnya.

“Indah! Ayo pulang! Genta tak akan pernah kembali! Suamimu sudah meninggal, nak!”

Reuni

By Bunga S. Putri @bunga_sp

“Sempurna!”

Aku tersenyum lebar memandangi diriku dicermin. Tampan, aku membatin. Hari ini teman-temanku semasa SMA mengadakan acara temu kangen di kediaman Rina, sang ketua kelas.

Jalan Matahari 2 No 10. Aku mengingat-ingat alamat itu sambil juga mengingat kembali kata-kata Rina seputar tempat-tempat yang dilewati menuju rumahnya. Aku bergegas meraih kunci mobil dan melangkah riang ke garasi. Tidak boleh telat, ini acara penting.

***

Laju mobilku terhenti di sebuah perempatan jalan dalam satu komplek perumahan yang tidak terlalu ramai. Aku mengingat-ingat perkataan rina, setelah bertemu perempatan belok kanan atau kiri ya. Hmm aku lupa! Tidak terlihat orang setempat lalu lalang. Dan baru kusadari ponselku tertinggal. Huuf! Aku menghela napas dalam-dalam. Baiklah aku kekanan saja, kalau salah tinggal putar balik, toh rumah Rina tidak jauh dari perempatan ini, pikirku. Aku mengemudikan mobilku sepelan mungkin sambil melihat-lihat rumah demi rumah.

Seorang laki-laki terlihat ada di depan rumah yang kulewati. Kuperhatikan sejenak. Rinto! Ya Rinto! Teman sekolahku, pasti ini rumah Rina, pikirku. Aku segera memarkir mobil dan bergegas menghampirinya.

“Hey Rin! Inget gw gak?” Aku menepuk pundaknya.

“Anas! Hey nas, mau kerumah Rina juga kan? Yuk bareng kebetulan rumah Rina gak jauh dari sini, gw udah lama tetanggaan sama dia.” Aku terdiam. Ini berarti bukan rumah Rina. Tapi tak apalah, toh Rinto juga akan kesana.

“Oh ya, masuk sebentar yuk Nas, gw kenalin sama anak dan istri gw.” Aku mengikuti Rinto dari belakang.

“Maaa.. Mamaaa..” Rinto memanggil-manggil istrinya.

“Kok belum jalan sih pa, katanya mau reunian.” Terdengar suara pelan dari dalam kamar.

Seorang wanita cantik keluar dari kamar. Aku melotot. Itu istriku. Pramugari, 3 hari lalu ia izin tugas terbang ke Kalimantan.