Friday, June 10th, 2011
now browsing by day
Sebuah Tamparan Penuh Kasih
By Bunga S. Putri @bunga_sp
Hari ini. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Jakarta. Beasiswa dari universitas ternama membawaku ke kota besar ini. Aku harus jadi sarjana! Itu janjiku pada nenek di kampung.
***
“Din, mau cari uang tambahan gak? Di Jakarta kita harus tampil semaksimal mungkin dan untuk itu perlu biaya yang banyak. Gampang kok? Mau?” Tina, teman sekamarku.
“Maksudnya, Na?
“Nanti malam ikut aku. Kukenalkan pada tante Lidya. Dia baik banget kok, tenang aja.”
Aku menurut saja. Sebenarnya masih tidak mengerti apa maksud Tina.
***
“Maam.. Mamiiii.. Aku bawa temen nih. Cantik lhooo.” Tina berteriak-teriak.
Aku menunduk saja. Tidak berani melihat sekitar. Tempat ini aneh.
PLAKKK!!!
“Hidupku memang sudah rusak. Tapi tidak dengan anakku!! Pergi!!”
Transaksi
by Te@embunbeningpagi
Lidya menghembuskan asap yang mengepul. Duduk di sofa merah. Posisi mengangkang lepas. Koper terbuka di atas meja berisi segepok bundel uang. Nilainya lebih dari harga-harga laku tubuhnya dimasa lalu. Perempuan anggun duduk hati-hati di sofa berhadapan.
“Cukupkah?” Perempuan anggun itu bertanya. “Kapan aku bisa membawanya?”
Asap tebal dari bibir merah Lidya makin menyesaki ruang itu. Seorang centheng membawa masuk keranjang besar.
“Bawalah,” kata Lidya. “Sampaikan pada Frid, suamimu, aku juga mencintainya. Ibu bayi itu sudah mati saat melahirkan. Terlalu muda. Dan Frid, pelanggan terbaiknya di sini.”
Melengos. Tanpa kata. Perempuan itu berlalu dengan keranjangnya. Kini juga anaknya, setelah sekian tahun perkawinan tanpa keturunan. Dibeli dari seorang germo.
Apa Ada Bedanya?
by Ben Nazwar @benjalang
“Apa-apaan ini Siska!! Jadi kamu anak wanita ini? Batalkan semua, aku tidak rela anakku menikah denganmu. Apalagi berbesan seorang germo”.
“Aku memang seorang germo yang hina, sampah masyarakat. Lantas kau ini disebut apa? Pria hidung belang yang suka mengencani pelacur-pelacur di tempatku. Apa istri dan anakmu tau perihal kebiasanmu?” Aku menyerang balik laki-laki itu. Dia terhenyak, mungkin ia lupa di sini ada istri dan anaknya.
“Apa maksudmu Lidya, kau jangan sembarangan menuduhku”.
“Menuduh kau bilang. Kau memang sangat bodoh Herman. Jika kau bilang aku menuduhmu, lalu dari mana kau tahu namaku, bagaimana kau mengetahui aku ini seorang germo, bisa kau jelaskan pada kami semua di sini?”, wajahnya yang angkuh kini memucat.
Bocah Pencopet
by Isyia Ulfa @IsyiaAyu
“Benar, Pak! Dia yang mencopet dompet saya!”
“Baik, Bu, akan segera kami proses. Lagipula sudah ada beberapa saksi yang juga mengatakan hal sama. Jadi ibu tidak usah khawatir.”
“Oke, pokoknya hukum dia! Masih kecil sudah mencopet. Bagaimana sih orangtuanya mengajarinya?”
Lalu wanita paruh baya itu meninggalkan kantor polisi.
Nana, bocah berusia sepuluh tahun itu hanya diam, menunduk, dengan tatapan kosong.
**
“Sekarang kau bebas. Jangan mencopet lagi, kami bosan melihatmu keluar masuk penjara anak-anak ini.”
“Tapi aku pasti kembali, Pak. Lebih enak di sini. Lagipula, tidak ada yang akan mencariku kan?” katanya sambil tersenyum.
“Dasar bocah!”
**
Bocah perempuan itu termangu di pinggir rel. Di sini, setahun lalu, orangtuanya meregang nyawa.
Bonus
by Inne @susterinne
“Mam, mana bonus minggu ini?” tanya Rita seorang anak asuhku.
“Iya nanti si boss mau bayar plus bonus katanya, jangan lupa ya 30%-nya bagian mami” ucapku sambil menghisap sebatang rokok.
“Sip. Bagian mami tinggal ambil sendiri aja” jawabnya dengan senyum yang mengembang.
***
BERITA PAGI
Seorang wanita ditemukan tak bernyawa di semak-semak di bawah jalan tol. Diduga dibunuh 6 jam yang lalu.
***
“Mana uangku?”
“Si boss belum transfer!”
“Mana uangku?” bentak Rita padaku.
“Ini yang disebut adil? Aku menyerahkan keperawananku dan kau menikmati uangnya? Germo sialan!”
Perutku tetiba basah, pecahan botol anggur itu menancap di pinggangku. Mataku tak dapat berkedip lagi. Sakit sekali.
Aku meregang nyawa di sebuah bagasi mobil.
Bukan Salah Ibu
by Nurul Humaeroh @_nurulch
“Kamu tidak ingin menikah, Lid?” tanya Ibu.
“Sudah 48 tahun dan kamu masih sendiri,” lanjut ibu lagi. Lidya menatap wanita yang sudah berusia 70 tahun itu. “Siapa yang bersedia menikah denganku, Bu?” ucap Lidya lirih.
“Lelaki tua dan jelek sekalipun akan berpikir seribu kali untuk menikahiku!” kesal Lidya. Air matanya perlahan mengalir.
“Ibu malu…” ucap sang ibu sambil beranjak meninggalkan puteri sulungnya.
**
Aku hanya lulusan SD, tak punya keahlian dan harus menghidupi ibu serta tiga adik lelaki yang lumpuh sejak balita.
Tapi tolong, jangan salahkan ibuku mengapa selama 20 tahun aku bertahan menjadi germo.
**
Bolehkah aku meminta, Tuhan? Jika neraka tempatku, jangan seret ibu bersamaku.
“Berdoa? aku lupa bagaimana cara berdoa..”
Dan Kini Dia Sangat Membenciku
by Ben Nazwar @benjalang
“Aku mencintaimu, izinkan aku menjadi Ayah bagi anakmu.” Dia hanya diam.
**
Namaku Adam, 18 tahun. Sementara wanita itu adalah Nona, 24 tahun, anak majikan di tempatku bekerja sebagai tukang kebun.
Nona seorang gadis cantik dan sangat baik terhadapku. Semua itu yang membuatku jadi melunjak, tertarik padanya. Bahkan sangat terobsesi untuk memilikinya.
**
“Pasti karena aku cuma seorang tukang kebun?”
“Adam, kamu lelaki baik. Sejujurnya aku juga menaruh hati padamu. Apa kamu tidak menyadari sikapku selama ini terhadapmu?” Matanya berkaca-kaca.
“Seharusnya aku bersyukur, karena kamu mau menikahiku, memikul tanggung jawab pemerkosa bejat itu. Tapi ini tak adil bagimu.” Air matanya meluruh.
Aku bersujud di kakinya, “Akulah pemerkosa bejat itu, ampuni aku”.
Kamar Rahasia
by Pramoeaga @pramoeaga
Sedari sore hingga tengah malam ini hujan dan petir belum juga reda. Aku meringkuk di pojok ranjang sambil menangis ketakutan. Beruang Teddy kupeluk erat, seakan dia yang paling memahami ketakutanku ini. Saat seperti ini, aku sangat rindu orangtua yang sudah meninggal empat bulan lalu. Rindu pelukan hangat Ayah, juga senandung lembut Ibu yang menenangkan.
Aaaaaaa!!
Aku berteriak kecil saat petir memecah hujan untuk kesekian kali. Sambil terus menangis, aku berharap bahwa bisa langsung tertidur saja daripada ketakutan seperti ini. Sungguh keadaan yang membuatku tak nyaman. Aku merangkak menuju pojok kamar. Satu, empat.. nah, ubin ketigabelas. Kuketuk tiga kali, lalu kurapatkan pipiku di atas ubin.
“Yah, Bu, Nana takut…” bisikku sambil terisak.
Tanda Lahir
by Pramoeaga @pramoeaga
Hari-hariku berubah setelah tak sengaja berpapasan dengan pemuda belasan tahun yang menjadi tukang kebun di rumah Tarunodirja, tetanggaku. Wajah tampan, kulitnya yang merah terbakar, dan badan atletis berbalut singlet itu berhasil memenuhi pikiranku.
Sebagai istri simpanan, malamku lebih sering kesepian. Berbekal basa-basi busuk dua hari lalu, malam ini aku mengundang Adam minum wine di sebuah vila pinggir kota. Tentu saja ini adalah kode. Dan benar, ia menyetujui tanpa banyak syarat.
Dua jam berlalu.
Sembari meneguk gelas ketiga, ia membuka kemejanya. Jantungku berdetak cepat, bukan karena dada bidang telanjang dan perut yang terpahat. Tapi, tanda lahir di dada kiri yang mengingatkanku pada bayi 6 bulan yang kutinggal 18 tahun lalu. Tuhan, diakah…
Pria Beruntung
by Saryahd @saryahd
Dari jendela kamarku di lantai dua, aku bisa puas mengamati dia. Namanya Adam, umurnya 18 tahun. Dia menolongku waktu jatuh dari motor. Karena tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan tetap di Jakarta, aku mengajaknya bekerja di rumah sebagai tukang kebun.
Sudah setahun dia bekerja di sini. Tahun ini dia akan mulai kuliah di jurusan Teknik Arsitektur. Ternyata Adam juga pintar. Aku berinisiatif membiayai kuliahnya dengan syarat dia tetap mengurusi tanaman-tanamanku setelah pulang kuliah.
Satu tahun sudah cukup bagiku untuk mengenal Adam. Selain pintar, dia juga baik hati dan jujur. Wajahnya juga tampan. Aku sudah bulat dengan keputusanku, menjodohkan Adam dengan Ranti anak semata wayangku dan mewariskan seluruh kekayaanku kepada mereka berdua.












D5 Creation