Wednesday, June 15th, 2011

now browsing by day

 

Belum Lunas

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Mau apa kamu ke sini lagi?” tanya Intan tanpa ekspresi.

“Aku ingin minta maaf,” jawab Sammy pelan.

“Sudah kumaafkan,” Intan membuang pandangannya.

“Aku ingin rujuk,” suara Sammy mendesak.

“Kau tahu jawabanku, Sam,” Intan mulai jengah.

“Aku cemburu pada Victor.”

“Baguslah.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius.”

“Intan… Benarkah tak ada harapan lagi kita untuk bersama?”

“Gombalmu menyebalkan, Sam. Tolong tinggalkan aku. Sudah cukup!”

“Tapi aku khilaf, Tan.”

“Kamu memohon seperti ini dipengaruhi siapa? Aku bingung melihatmu. Tetiba ingin kembali padaku, setelah apa yang kaulakukan terhadapku?”

“Tan, kita pernah bahagia…”

“Pernah. Dan itu masa lalu. Cukup!” Intan melotot.

“Tapi kamu masih muda dan cantik.”

“Itu urusanku.”

“Juga urusanku! Utangmu masih limaratus juta lagi!”

Ini #kode

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Anto! Itu gulungan selang kenapa masih berantakan?” teriak Vera dari arah dapur.

“Maaf, Bu. Nanti saya bereskan. Ini lagi ngerapiin cemara,” jawab Anto dari kebun belakang.

“Anggrek yang baru saya beli, sekalian ditata ya? Terserah deh di mana.”

“Iya, Bu.”

“Kalau sudah selesai, bantu saya bereskan dapur.”

“Iya, Bu.”

**

“Inah kapan pulang, Bu?” tanya Anto pelan.

“Hm, siapa? Inah? Oh, baru minggu depan. Sekalian ngaji seribu hari neneknya.”

“Bapak kapan pulang, Bu?”

“Harusnya nanti malam, tapi tadi BBM katanya langsung meeting di Paris tiga hari. Kenapa?”

Anto mendekati Vera dan langsung memeluknya dengan penuh hasrat. “Aku merindukanmu. Aku selalu menanti saat seperti ini,” bisiknya.

Vera langsung gemetar. Ia tak menolak.

Kebahagiaan Sesaat

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Mam, ada stok baru datang. Pesanan Mami tempo hari,” bisik Ujang di dapur kantor lantai lima.

“Di mana?” Lisye balik bertanya.

“Di lantai dua. Suruh naik aja?”

“Jangan. Suruh tunggu di kantin belakang yang sepi.”

Ujang mengangguk.

Di kantin, Lisye melihat lima orang gadis muda duduk dengan patuh dan kikuk. “Selamat sore. Yuk, kita lanjutkan perjalanan. Saya tahu kalian lelah. Nanti sekalian makan malam.”

**

Di sebuah rumah mewah. “Bos, stok baru. Semuanya masih orisinil. Udah transfer?” bisik Lisye pada Adam.

“Barusan. Menurut lu mana yang oke?”

“Tuh, yang pakai baju biru. Kamar biasa, kan?”

Adam mengangguk.

**

“Panen!” Lisye menenggak birnya. Tak lama ia tergeletak dan tewas seketika. Serangan jantung.

Cerita Dua Generasi

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Jadi, dulu Eyang perangnya pake bambu runcing? Hebat dong! Penjahat itu semua kalah sama Eyang, ya?” mata Vano bersinar. Eyang Guntur terkekeh.

“Tapi Eyang juga pernah dipenjara,” ujar Eyang Guntur menatap penuh sayang cucunya.

“Kenapa? Emangnya Eyang salah apa? Mereka yang salah, kan?” tetiba Vano sedikit emosi. Ia berlagak memegang mainan pistol dan bersiap menghadang penjajah.

“Gak bisa gitu, Eyang. Masa pahlawan dipenjara?” Vano tetap ngotot.

“Saat itu keadaannya kan berbeda dengan sekarang, Vano. Mereka yang punya kuasa. Senjata mereka juga lebih lengkap,” jawab Eyang.

“Huh, untunglah mereka kalah!” seketika Vano memeluk Eyangnya penuh sayang.

“Jagalah semangat kemerdekaan itu dengan belajar yang benar ya?” nasihat Eyang bijak.

“Siap!” Vano memberi hormat.

Mimpi yang Sederhana

by Diana Siti Khadijah @andiana

Meisya duduk dengan kaku memandang ke segala penjuru sekolah. Sesekali dia menelan ludah sambil mengusap airmata yang mau jatuh. Keinginannya untuk dapat bersekolah tak pernah dapat terwujud. Menggelandang sendirian di belantara Jakarta sangatlah menakutkan bagi gadis kecil seusianya.

Yang Meisya ingat hanyalah kedatangannya ke Jakarta karena bujukan paman yang menjanjikannya kehidupan lebih baik.

Tetapi pamannya tewas akibat salah tembak oknum polisi. Ia tak memiliki siapa pun lagi di Jakarta. Tak memiliki tempat tinggal karena dia diusir dari kontrakan pamannya. “Pamanmu sudah mati! Pergi sana! Kamu kagak bisa bayar sewa!” bentak Pak Wiryo, pemilik kontrakan dua minggu yang lalu.

Gerimis. Meisya tetap tak bergeming. Ia ingin sekolah di sini. Seperti janji paman.

Mertua Ikut Campur

by Diana Siti Khadijah @andiana

Marni berusaha menahan airmata yang menggenang. Keguguran untuk yang ketiga kalinya tentu menyakitkan. Ia sedih mengingat ucapan pedas Bu Asih, mertua suaminya.

Ya, Marni adalah istri kedua. Istri pertama Mas Imron bernama Endang.

Baru tadi sore…

“Sudah Ibu bilang, Imron! Kamu tak usah menikah lagi! Perempuan tua dan jelek ini pun tak bisa memberikan keturunan. Apa yang kaucari? Seks? Tidakkah Endang cukup bagimu? Kamu gak kasihan pada Rafa dan Fitri? Mereka berdua lebih butuh perhatianmu ketimbang perempuan ini!”

“Bu, sudahlah,” Endang berusaha menenangkan.

“Kamu juga! Bukannya ngelarang suami kawin lagi, malah ngijinin!”

“Bu, saya ikhlas ijinkan Mas Imron menikahi Mbak Marni,” Endang mengingatkan.

“Ceraikan dia!” suara Bu Asih meninggi. Semua terdiam.

Celoteh Chika

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Papa, besok kita jadi ya ke Kidzania?” tanya Chika sambil mengunyah biskuit cokelatnya.

“Jadi dong, Sayang,” jawab Farhan tersenyum.

“Abis itu kita ke rumah eyang uti ya, Pa?”

Farhan mengangguk sambil tetap membereskan sampah yang berserak di dapur. “Trus kita beli kado buat Jihan, kan? Papa inget gak?”

Farhan menghentikan kegiatannya dan menatap Chika. “Iya Sayang. Sekarang habiskan biskuitmu dan kita harus siapsiap. Jangan sampai telat les baletnya.”

“Oia, apakah Papa tidak lupa juga daftarin aku les biola? Minggu depan pendaftarannya ditutup.”

“Sudah kemarin.”

“Papa repot ya? Capek ya? Ah, kalo Mama masih ada, pasti beban Papa lebih ringan,” celetuk Chika yang menyentak.

Farhan melirik foto almarhumah Tanti, istrinya, dengan nanar.

WC Pria

by Diana Siti Khadijah @andiana

Revan memilin ujung kemejanya dengan gelisah. Ia takut menatap wajah polisi yang sedang menginterogasinya.  Matanya seperti hendak menusuk Revan. “Pak, saya boleh ke kamar kecil gak?” tanya Revan takut.

“Mau apa?” tanya Briptu Joko galak.

“Pipis, Pak,” jawab Revan gugup.

“Kamu bahkan belum menjawab pertanyaan saya satu pun!” bentak Briptu Joko.

“Sa… Saya pipis dulu ya? Nanti saya jawab,” janji Revan memohon.

“Kamu pakai WC pria atau perempuan?” tanya Briptu Joko tanpa perasaan.

“Ya… Laki dong, Pak,” jawab Revan pelan.

“Ya sudah sana. Diantar Briptu Iwan. Tas kamu tinggal di sini.”

“Kenapa?”

“Mau cari kondom yang biasa kamu pakai, Ratna Juwita,” jawab Briptu Joko memanggil nama malam Revan. Mendadak Revan pucat.

Dendam

By Arya Pradhana

“Jangan menuju ke sana sayang, terlalu berbahaya buatmu?” Induk patin mengingatkan anaknya,

“Tidak, Ibu. Aku ingin belajar mengenal wilayah ini?”

“Tidak, Anakku. Belum waktunya kamu berenang ke hulu.”

“Ibu, aku ingin tahu hulu. Aku ingin mencari ayah. Selamat tinggal, Ibu, hanya sebentar, aku akan kembali. Doakan saja aku. Ibu.”

Patin kecil berenang ke hulu, tak peduli arus yang deras.

Dengan gesit ia mengibaskan ekornya menghindari pusaran air.

Berenang dan berenang, semakin jauh.

Induk patin perlahan  menepi, bergumam  lirih, “Anakku yang pemberani.”

Tidak lama kemudian, nampak sesosok ikan besar dengan tiga puluh dua gigi tajam siap memangsa.

“Tiger fish, akan ada yang mengalahkanmu.”

“Anakku  akan membalas kematian ayahnya.’’

Induk  patin berkelebat pergi.

Tertangkap Basah

By Ben Nazwar @benjalang

“Dasar jalang!! Tidak pernah bisa melihat lubang menganggur!” Tiba-tiba ia menghardikku.

“Tapi sayang…” Aku berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya.

“Apa, kau tak suka dengan perkataanku? Atau mau berkelit dengan berbagai alasan? Kemarin aku masih coba menahan diri, tapi tidak kali ini. Karena aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri. Kau bersetubuh dengannya.” Ia tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan.

“Sabar, Sayang. Aku terpaksa melakukan semua itu.”

“Terpaksa? Kau bilang terpaksa, bukannya kau menikmati bersenggama dengannya. Tidak perlu munafik!” Sepertinya ia benar-benar terbakar cemburu.

“Maaf, saya cuma meminta bantuan pasangan Anda, untuk memberikan saya nafkah batin untuk menghidupkan jiwa saya. Pasangan saya menghilang entah kemana.” Akhirnya ponsel yang sedari tadi aku charge angkat bicara.