Saturday, June 18th, 2011

now browsing by day

 

Kupu-kupu Kesayanganku

by Imamul Muttaqin @Imamul_

Aku mempunyai seekor kupu-kupu yang kupelihara di sebuah tempat kaca berbentuk hati. Namanya Viani. Sayapnya kuning. dan ada bercak biru di sekitarnya. Ia baik hati. Selalu mengajakku ngobrol saat aku kesepian.

***

Hari ini aku kehilangan dia. Kupu-kupu yang pernah aku pelihara dulu. Ia telah memecahkan rumah kacanya. Lalu pergi, dan hinggap di hati orang. Walaupun sudah pergi, terkadang ia suka menghampiriku setiap malam. Ia muncul tiba-tiba di jendela kamarku. Lalu berubah menjadi anjing, mirip dengan anjing rumahku. Matanya merah. Liurnya menetes dari lidahnya yang terjulur keluar. Lolongannya selalu menambah kesunyian hatiku.

Sejak kejadian itu, aku tak ingin lagi memelihara kupu-kupu. Semoga ia betah tinggal di hati orang, dan tak datang lagi.

Gadis Itu

By Nesiana Yuko Argina @nesianayuko

“Kau tau, apa wanita waras?” Aku menyipitkan mata. menunjuk seseorang.

“Entahlah, sudah  empat kali aku melihatnya berada di cafe ini. Selalu sendiri. Di ujung sana. Memesan minum yang sama. Bersikap sama. Dingin.” Dee menjelaskan, raut wajahnya serius.

“Bah! Lengkap kali kau tau tentang dia. Jangan-jangan kau suka ya?”

“Apa kau bilang? Sialan! Aku masih normal, Bodat!” Dee mengumpat, menirukan logat Batakku.

Aku masih tertawa terbahak.

**

Sialan! Aku melihatnya. Ya, aku melihatnya! Lelaki itu, lelaki yang baru mengantarkan surat cerai padaku dua hari lalu. Dia datang ke kafe ini. Ya, kafe tempatku makan siang hari ini! Melamar gadis tadi di hadapan seluruh pengunjung kafe!

**

Semua jadi gelap seketika. Aku tak sadarkan diri.

Rokok dan Ibuku

By Nesiana Yuko Argina @nesianayuko

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika aku menyebut sebuah kata, ‘Rokok’? Laki-laki? Jika aku punya cerita tentang ‘rokok’, aku yakin kalian para lelaki juga punya.

Tidak, aku tidak merokok. Hanya saja, rokok bagian dari hidupku. Entahlah, itu kalimat yang menohok.

**

“Bu, sampai kapan begini? Ibu bukan cuma menyiksa diri, tapi juga aku. Putri semata wayangmu!”

“Diam! Tau apa kau tentang ibumu ini? Hah?” Tangan keriputnya mendorongku kasar. Aku terjerembab.

“Waktumu tak banyak, Bu. Aku ingin..” Bungkus tembakau mendarat tepat di pelipisku. berdarah.

sepuluh menit, sebungkus tembakau lenyap. Rentenir sukses menggerogoti kesehatan, kebahagian, dan nyaris kewarasan ibuku. Aku pun ‘dituntut’ tetap waras.

**

TPU Jeruk Purut. 21 Desember 2002.

Senyumku mengembang. tangisku pecah.

Siapa Hebat

By Arya Pradhana

“Ayo cepat berjalan, kamu ketinggalan dengan yang lain. Dasar kura-kura! Jalan saja lambat!”

“Bagaimana kamu akan mengalahkan dunia?” kata buaya, sang sahabat.

“Kamu jalan duluan saja,” teriak kura-kura.

Kura-kura merayap pelan.  Tetap saja tidak bisa mengubah takdir yang ditetapkan padanya.

Leher menyeruak, mengatur  keempat  langkah kaki tidaklah mudah.

“Manusia itu sudah siap memburu kita!” teriak buaya dengan kesal.

“Berlarilah dulu, aku tahu apa yang harus kulakukan,” sergah kura-kura.

Buaya kesal,  seakan  tidak peduli lagi dengan sahabat seperjuangannya, berjalan cepat

mencari tempat perlindungan.

“Tarr!”

Suara senapan terdengar di udara.

Buaya semakin laju, kura-kura jauh tertinggal di belakang.

“Ah, dunia juga tahu umurku lebih panjang dari manusia yang memburuku”

Kura-kura pun menutup tempurungnya.

Katakan Jangan

By Ade Yusuf @sibangor

“Tok.. Kek..”

“Bilang..”

“Tok.. Kek..”

“Jangan..”

“Tok.. Kek..”

“Bilang..”

“Tok.. Kek..”

“Jangan..”

“Tok.. Kek..”

“Bilang..”

“Tok.. Kek..”

“Jangan..”

Rany tersenyum pada Robert, suaminya, sepulang kerja. Memang sebaiknya tak perlu diberitahu. Toh, ia dan John, sudah sepakat tak akan mengulangi lagi perbuatannya. Peristiwa sebulan lalu di Ritz Carlton adalah sebuah kekhilafan besar. Cinta Rani pada Robert tak pernah pudar sedikitpun.

“Tok.. Kek..”

“Bilang..”

“Tok.. Kek..”

“Jangan..”

“Tok.. Kek..”

“Bilang..”

“Tok.. Kek..”

“Jangan..”

Robert membalas senyuman Rany dengan memberinya ciuman hangat di kening dan bibirnya. Memang sebaiknya Rany tak perlu tahu, kalau sahabatnya, John, telah mati di tangannya. Keutuhan rumah tangga lebih utama. Ia mengelus perut Rany. Mereka sedang menantikan anak pertama.

Sepasang Cincin Kawin Dari Perak

By Ipong

Beberapa hari lagi kami akan menikah. Segala sesuatunya telah kami siapkan. Aku melihat lagi check list yang telah kami buat sebelumnya. Catering: tidak pakai, dekorasi dan sewa gedung: tidak pakai, mobil pengantin: tidak pakai, kostum: jas hitam dan kebaya pink.

“Apa yang kurang ya?” gumamku sambil mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terasa kurang.

“Cincin kawin! Wah aku hampir lupa, kami harus pakai cincin.”

“Tapi aku tidak punya cukup uang untuk membeli cincin emas. Gimana ya?” kataku dalam hati.

“Yah, sudahlah cincin perak pun tidak apa. Lumayan, sekilas seperti emas putih waktu masih baru dibeli.”

Hingga hari ini cincin perak itu masih aku pakai. Mungkin selamanya, sepanjang tidak membuat jari gatal-gatal tentunya.

Produk Impor

By Ade Yusuf @sibangor

“Hitamnya, begitu mengilat seperti Hajarul Aswad. Putihnya, begitu bersih bagai kapas.”

“Oh, ya? Pasti cantik.”

“Tubuhnya, wiih… Montok, tok, tok. Tapi yang paling luar biasa, kamu tahu apa? Payudaranya…”

“Woow! Pastilah. Australia gitu loh. Terkenal air susunya paling banyak.”

“Nah… Tuh, kamu tahu.”

“Beruntung sekali kamu. Aku cuma kenal yang lokal aja. Sudah kurus, air susunya pun juga sedikit. Terus, ke mana dia sekarang?”

Yang ditanya berubah paras sambil menunduk.

“Mati.”

“Ough. Tragis sekali. Kenapa?

“Mendadak gila. Jadi harus ditembak.”

“I am sorry to hear that.”

“It’s ok.”

“Kamu kangen?”

Temannya membisu.

“Masih beruntung aku. Biar pacarku lokal, kurus dan susunya sedikit, tapi sehat,” ucapnya dalam hati.

Keduanya mengibaskan ekor masing-masing.

Duda dan Jacka

By Teguh Santoso @mastegue

“Mas, kau tidak menyesal dengan semua ini?”

“Kenapa?”

“Melepas istrimu untuk lelaki lain.”

“Aku hanya menyesal pernah menyakitinya. Itu saja.”

“Jadi?”

“Tapi aku bersyukur ada si kecil yang ditinggalkan bersamaku kini.”

“Mas Ryan, kau lelaki paling aneh yang pernah kukenal.”

“Aneh apanya, Jack? Kau sendiri, lelaki muda yang seharusnya bersenang-senang di luar sana. Apa kau tidak lebih aneh tidur seranjang dengan duda 35 tahun beranak satu?”

“Tidak, karena aku menikmatinya.”

Keduanya saling pandang. Tak mampu keluar dari jalan yang terlanjur mereka lewati. Dan kemudian gelap menggerayangi keduanya di dalam kamar. Berdua, sementara si kecil terlelap di kamar satunya di rumah itu. Dengan aura kegelapan yang berbeda. Dan kehangatan yang berbeda pula.

Gadis yang Sendirian di Kafe

By Krisna @kriznaaa

Cafe ini adalah tempat penuh kenangan untukku. Dulu sebelum kematianku, cafe ini begitu ramai dan penuh tawa, namun kini cafe ini selalu sepi pengunjung karena kehadiranku. Pemiliknya kerap mendatangkan paranormal untuk mengusirku.Tentu saja aku enggan pergi, karena aku masih menunggu kematian kekasihku di sini. Lagipula aku juga tidak pernah menggangu pengunjung lain. Aku hanya duduk malam hari di pojok kanan dekat jendela, sambil menangis tentunya. Kenapa mereka takut mendengar tangisku? Memangnya hantu tidak boleh menangis?

Entahlah aku tak tahu. Tapi aku tahu para manusia itu telah menjual berita tentangku, berita nyata tentunya. Bila kalian ingin tahu silahkan beli majalah horor minggu ini dan baca artikel tentangku “Gadis yang Sendirian di Cafe”.

Hidup di Surga

by Inne @susterinne

Dulu aku adalah makhluk yang tak pernah dilirik orang, tak punya tempat tinggal. Selalu sendiri meniti hari.

Suatu hari, seseorang mengajakku ke suatu tempat, di sana aku bertemu beberapa teman senasib. Mereka bilang di sini mereka bahagia. Diberi makan, ditanggung semua kebutuhan sehari-harinya, diberi tempat berlindung.

Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tinggal bersama mereka. Kehidupanku kini seperti di surga, tak perlu berfikir bagaimana mencari makan dan di mana harus tidur.

**

“Tokek-tokek itu sudah mulai gemuk, Bos.”

“Bagus! Sebentar lagi bisa dijual dengan harga tinggi”

“Mereka dijual hidup-hidup?”

Lelaki paruh baya itu menghantamkan palu pada kepala seekor tokek, perutnya disayat dan tokek itu dibentangkan pada kayu-kayu kecil lalu dijemur di terik matahari.