Monday, June 27th, 2011
now browsing by day
Sang Penjaga
By Indah Lestari @indaah_lestari
“Dasar anjing! Perempuan tidak berguna! Kamu bisa apa sih selain menangis? Perempuan sialan!”
Plak!
Suara merintih dan isak tangis yang tertahan samar-samar kudengar dari dalam rumah. Ah, wanita muda itu kembali disakiti tanpa ada yang menolongnya. Dia terlalu baik untuk disamakan denganku. Aku ingin sekali menolongnya dari laki-laki jahat itu, tapi apa yang dapat kulakukan? Aku tidak dapat melakukan apa-apa selain ikut merintih dan terkadang menangis.
Semenjak dia kecil aku selalu bersamanya. Aku melindungi dan selalu menemaninya. Aku ingin terus melakukan itu, tapi sekarang aku tak mampu. Laki-laki itu memberikan jarak untuk kami bisa dekat. Aku ditaruhnya di luar. Dirantai di depan garasi rumah. Tugasku bukan lagi menjaganya tetapi menjaga rumah.
Saling Tipu
By Irfan @vortgaz
Aku masih tertawa geli saat memikirkan kejadian minggu lalu, entah itu nyata atau tidak. Setahuku, saat itu aku masih dalam keadaan mabuk di sebuah klab malam terkemuka di kotaku.
Seorang gadis di seberang meja menghampiri, menawariku minum bersama. Wajahnya pernah kulihat entah di mana, mungkin teman sekolahku dulu. Kami saling berkenalan hingga terbawa mabuk (mungkin dia tidak). Tanpa aku sadari, aku sudah berada di dalam kamar hotel, dengan dia berada di sebelahku. Terisak, dia menuntut tanggung jawab dariku.
“Tanggung jawab!” teriaknya. “Jika aku hamil, kau harus menjadi ayahnya,” sambungnya lagi.
Terdiam, aku mengintip dari balik selimut tebal yang menutup badanku. Kondom dari pagi ini masih kering. Terlintas di pikiranku untuk mengerjainya…
Saksi Beringin
by Te @embunbeningpagi
Berempat kami tumbuh bersama. Terpisahkan jarak dan jeda. Waktu dan kisah berbeda.
Orangtua kami? Tak pernah kami mengenalnya. Sejak kecil kami berempat bersaudara. Ketika kami mulai tumbuh dan kuat. Segera kami dipindahkan.
Aku di daerah pertigaan Kronggahan. Dua saudara kami di daerah pertigaan Cebongan Utara dan Cebongan Selatan. Terakhir bertempat di perempatan Seyegan.
Jaman terus berubah dengan sejuta kisah tentang kehidupan. Kelahiran hingga kematian. Panas, hujan, angin ribut, gempa bumi, hujan abu. Perang dan kemerdekaan. Panen dan kegagalan.
Kamilah saksi mereka dan kehidupan yang terus bertumbuh dan menua.
Hanya kepada angin berhembus kami saling sampaikan kabar. Suka dan duka. Menitipkan sebuah pelukan kerinduan. Hingga kelak berakhir tugas kami di tanah ini.
Pencuri Misterius
By Sary Ahd @saryahd
Ibu marah-marah lagi. Sebabnya sepele. Buah rambutan yang dibelinya raib, hanya tersisa kulit dan bijinya saja. Padahal itu buah kesukaannya.
“Kalian semua, ayo mengaku! Siapa yang mencuri rambutanku?” Lagi-lagi aku mendengar Ibu memarahi Karsiyem dan Sidik, asisten rumah tangga kami.
“Bukan kami, Bu. Sungguh, berani sumpah!” Sidik menjawab pelan tapi pasti. Karena tidak punya bukti, seperti biasa Ibu langsung masuk kamar sambil uring-uringan.
***
Ini sudah kelima kalinya dalam seminggu buah kesukaan Ibu menghilang tanpa jejak. Aku jadi penasaran. Tidak mungkin ada hantu mencuri siang bolong begini kan? Selagi sibuk mencari rambutan yang hilang, tiba-tiba aku mendengar suara pelan dari kolong mobil.
***
Akiko, anjing Siberian Husky peliharaan kami sedang asyik makan rambutan.
Parman, Sembunyi Sekarang!
By Novita Poerwanto @LVCBV
“Lalu, Mbah, apa yang terjadi setelah itu? Apa yang mereka lakukan pada Mbah di dalam gudang mesiu tadi?”
Mbah Tarjo menggeser duduknya sedikit ke kanan. Membetulkan letak bantal pada punggungnya. Mengambil kaca mata yang gagangnya tanpa ampun dikelupas jaman, lalu mengenakannya pada matanya yang rabun.
“Parman, kenapa kamu ada di sini? Cepat sembunyi! Aku bisa mendengar langkah mereka dari tempatku meringkuk”
“Tapi, Mbah, aku Abi…”
“Tidak ada waktu lagi Parman, sekarang!”
Seorang wanita berkerudung jambon memasuki kamar. Meletakkan gelas air hangat dan obat-obatan di samping ranjang Mbah Tarjo. Pelan didekatinya anak lelaki yang sebentar lagi remaja itu. Mengacak-acak lembut rambutnya. “Walau Mbah nggak ingat, bukan berarti Mbah nggak sayang kamu, Nak”
Kotak Pandora
By Ade Yusuf @sibangor
Matanya terpejam saat aku mencium keningnya. Seolah dia sedang menyesap bibirku yang menempel di keningnya.
Kemudian kutitipkan kotak pandora yang belum terbuka segelnya. Ia menggenggamnya sambil melepas kepergianku dari kamar kostnya.
Pasti kau bertanya, apa isi kotak pandora itu?
Kondom. Tapi aku lebih suka menyebutnya pandora karena sekali kotak itu terbuka, dia tak akan bisa ditutup kembali.
Seberapa pentingnya untuk kami berdua?
Penting. Karena diperlukan kedewasaanku dan pacarku untuk memutuskan waktu yang tepat membuka segelnya. Demi cinta bukan nafsu semata.
Kini, setelah bertunangan, aku dan dia berada dalam momen yang tepat untuk membuka segel itu. Dia menyerahkan kotak yang waktu itu kutitipkan. Saat kuterima, segelnya sudah terbuka dan isinya tinggal dua.
Karpet
By Angi Sonia @anggi_
Ukuran 2m x 1,5m terbentang sebagai alas kakiku. Dia bukan kain biasa. Corak warna-warni, lukisan abstrak nan indah.
Halus, lembut, dan empuk. Duduk di atasnya membuatku terhanyut di keramaian. Semilir angin menyapa wajah lembabku bendesir lembut di wajahku, melewati ratusan detik, tak terasa.
**
Sebelum matahari terbit, saat matahari tepat di atas kepala, saat matahari menampakkan bayanganku, di waktu senja, hingga matahari berganti bulan. Kulukiskan perasaanku di atas kain 2m x 1,5m. Mengadukan asaku. Sebagian perkataan orang yang menyayati hati, welas asih orang bijak, hingga semua harapanku. Cerita yang kupendam kadang ada yang kunyatakan. Hanya segelintir orang yang memperhatikan kebiasaanku. Aku seperti ini di dalam kesunyian relung hatiku. Sunyi di dalam keramaian.
Jangan Bersedih
By Nurul Humaeroh @_nurulch
“Indah tidak bentukku?” tanya awan berbentuk bunga kepada awan besar di sebelahnya. Awan besar hanya tersenyum.
***
Sudah setahun ini kemarau melanda Desa Hijau. Mereka kekurangan air, sehingga harus ke desa tetangga yang sangat jauh hanya untuk memperoleh air bersih. Penduduk desa berharap hujan segera turun.
***
“Mengapa aku tak seperti yang lain? Gerakku lambat, bentukku tak indah!” ucap awan besar sedih, “Aku tak berguna, aku…” ia menangis.
***
“Hujan! Akhirnya hujan turun!” teriak penduduk Desa Hijau gembira.
“Terima kasih Tuhan!” ucap mereka serentak.
***
“Masih bersedih?” tiba-tiba angin menghampirinya, “Lihat, kau berguna! Tuhan menciptakan kita pasti ada tujuannya!” ucap angin sambil meninggalkan awan yang masih menangis. Kali ini ia tidak bersedih, ia menangis bahagia.
I.D.E.
By Ali @maulaali
“Jadi idenya…” Obrolan serius di sebuah ruang keluarga dengan karpet krem membentang, di sana masih terlihat kehangatan, walau sejak lama tuannya menikah lagi.
“…Lalu, bagaimana menurutmu?”
Terdiam dengan kertas dan pensil. Lalu tangannya seperti mata, menangkap sesuatu. Suara tenor menyusul suara gesekan pensil.
“Menurutku, sudah cukup. Masalah hidupnya cukup banyak. Sekarang, dengan atasan, dan rekan-rekan kerjanya.”
“Apa kita selesaikan hari ini juga?”
“Menurutmu?” Dia tersenyum, memicingkan matanya yang licik.
**
Garry yang sedang asyik memainkan gelas anggur terhenti, sebuah sketsa yang mirip foto di meja mengalihkan perhatiannya. Tiba-tiba pula gelas di tangannya pecah, warna merah menghujani karpet, lalu di susul tubuhnya mencium karpet kesayangan itu.
Lembar bergambar perlahan berubah sehelai bulu hitam.
Doa Untuk Ayah
by Indah Lestari @indaah_lestari
Hari ini tepat hari kelahirannya. Dia bersorak riang karena kedatangan teman dan hadiah yang diberikan omanya. Aku menahan marah yang tak terkira. Aku benci anak itu. Dia pembunuh istriku.
“Pembunuh kecil, bahagia sekali kau hari ini, lima tahun lalu kau telah membunuh istriku,” gumamku dalam hati.
“Rere ayo tiup lilinnya dan ucapkan apa yang kamu inginkan,” terdengar suara ibuku memanggilnya di tengah keriuhan pesta.
Dengan senyum mengembang dia meniup lilin berbentuk angka lima itu dan kemudian memejamkan matanya. “Ya Allah, aku ingin menggantikan ibu di tempat-Mu supaya Ayah bisa bertemu ibu kembali karena aku sangat menyayangi ayah.”
Aku kelu. Aku diam mematung dan tanpa terasa sebutir air mata menetes di pipiku.












D5 Creation