Ternyata Seperti Itu

by Ben Nazwar @benjalang

“Oke, mari kita sarapan pagi, Boy.” Kutarik nafas melihat tumpukan berkas di meja.

“Aneh, waktu pacaran semangat banget buat kawin, setelah menikah ada-ada saja alasan untuk cerai, dasar manusia labil.” Aku terus mengoceh, sembari memeriksa berkas pemotongan hubungan kontrak mereka dengan Tuhan. “Maafkan aku, Tuhan. Aku hanya pengacara yang mencari sesuap nasi.”

“Riko, ke ruangan saya sekarang.”

“Baik, Mbak.” Kutinggalkan ocehan dan pekerjaan yang belum selesai tadi. “Tumben doi nyuruh ke ruangan segala, ada angin apa nih.”

**

“Kamu hebat! Baru kali ini saya merasa sangat terpuaskan.”

“Mbak juga luar biasa. Menggairahkan.”

“Ya begitulah, Riko, suamiku sudah tua, dia tidak mampu mengimbangiku di ranjang, jadi gairahku sering terpendam.”

“Ceraikan saja Mbak!”