August, 2011
now browsing by month
Berpacu di Jalanan
by Ben Nazwar @benjalang
“Aman, Bro?”
“Tenang, buruan. Gue juga ga tahan nih.”
“Santai, Bro, nanggung nih.”
***
“Sumpah demi apapun, aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain.”
“Lantas, bagaimana mungkin kau hamil. Apa Jibril yang menitipkanmu bayi itu? Aku tidak sebodoh itu!”
“Sepi amat. Laki semua, kalaupun cewek paling banter emak-emak.”
“Hahaha. Sabar, Bro. Belum rejeki kita.”
“Bahasa lo, gue suka, re-je-ki.”
***
“Kita putus. Aku tak mau menikah dengan wanita hina seperti kamu.”
“Aku memang tidak bisa membuktikan, tapi aku benar-benar tidak pernah selingkuh.”
“Bayi dalam perutmu itu apa namanya?!”
***
“Nah, rejeki kita datang, Bro. Cewek muda yang kecelakaan.”
“Mantap, siapa duluan nih yang nyicipinnya.”
“Lo aja, biar gue yang nyetir.”
“Tapi pelan-pelan bawa ambulannya”
Emma
By Johan Mahardi @jpmahardi
Kamu pasti tak percaya kalau kubilang OCD membuat hidupku lebih berwarna.
Lihat, aku baru saja menyusun bumbu-bumbu dapur berdasarkan abjad pertamanya: Bawang Merah, Bawang Putih, Baking Powder, Cengkeh, Garam, Gula, Kayu Manis, Kunyit, Merica, Oregano, Pala, Vanelli, dan Vetsin.
Manis, bukan?
Dan ketika suamiku pulang nanti, ia akan terkejut dan mencoba menemukan pola susunannya. Tebakannya selalu kutunggu-tunggu.
***
Sewaktu remaja dulu, mulanya kupikir hanya sekadar perfeksionis. Tapi lama kelamaan perasaanku selalu resah dan galau jika sesuatu tak tersusun rapi sesuai keinginanku.
Aku mulai mengatur segalanya berdasarkan susunan tertentu.
Berbulan-bulan aku akan memperhatikan rak buku dan mengubah susunannya 1-2 minggu sekali. Sekali kususun berdasarkan tinggi buku, kemudian kuubah berdasarkan tema buku, kuubah lagi menurut judul buku, warna buku, pengarang, penerbit, demikian berbulan-bulan hingga aku bosan dan mengalihkan perhatian pada hal yang lain.
Hingga dewasa dan menikah, aku sudah silih berganti ribuan kali mengatur susunan sepatu di rak, baju-baju di lemari, peralatan makan, pot-pot di taman, hiasan meja dan dinding, apa saja yang bisa kususun dengan urutan pola tertentu untuk menghilangkan keresahanku.
***
Setelah berumah tangga, terkadang ini jadi masalah yang serius. Paling tidak membuang waktu dan menghabiskan energi.
Aku selalu tak bisa tenang jika sedikit saja merasa resah. Aku akan mencari pelampiasan, barang apa saja yang ada dekat denganku, akan kususun rapi dengan pola tertentu yang kubuat-buat.
Beruntung suamiku adalah pria paling sabar yang pernah kukenal. Ia hanya akan membiarkanku hingga aku puas, kemudian dengan nada riang ia akan menebak pola susunan yang kubuat.
”Honey, perhiasan kamu ini disusun menurut harga belinya ya?” Dan ia tertawa sambil memandangku jenaka. Ia membuatku tak terlalu merasa bersalah dan jauh lebih tenang.
Ada waktu-waktu ketika aku tak bisa mengendalikan keresahanku, hingga menghabiskan sepanjang malam menyusun batu kerikil di pinggir kolam ikan. Ada pula waktu ketika suamiku kehabisan kesabaran, marah, dan meninggalkanku sendirian di rumah suatu malam.
Aku sesekali mengikuti terapi, agar penyakitku tak bertambah parah.
***
Suatu pagi, lima tahun yang lalu, suamiku baru selesai mandi dan menuju ke lemari pakaian hanya dengan mengenakan handuk dililitkan di pinggangnya.
Lama sekali ia memandangi deretan baju-bajunya di lemari, tapi ia tak bisa menemukan pola susunannya. Bukan tersusun berdasarkan warna, jenis kain, corak, brand, ataupun ukuran. Lima belas menit ia habiskan dalam keadaan setengah telanjang mencari petunjuk dan akhirnya ia menyerah.
”Honey, aku gak tau apa polanya…,” Ia terduduk lunglai di sisi tempat tidur.
Hari itu adalah pertama kalinya OCD menghilang dari hidupku. Entah bagaimana, mungkin karena terapi dan obat penenang yang kuminum, sejak hari itu tak ada lagi rasa resah ketika melihat benda-benda di sekitarku tak tersusun rapi.
Aku merayakan hari itu dengan membiarkan suamiku menyusun segalanya sesuai keinginannya, dan aku benar-benar tak merasa gelisah dengan hasilnya. Tak pernah ada lagi acara tebak-menebak dan pertengkaran ketika habis kesabaran.
***
Tapi itu sudah lima tahun yang lalu.
Beberapa bulan terakhir ini rasa resah dan galau itu datang kembali, akibat tergila-gila pada karakter tokoh guru SMA di sebuah serial TV. Seorang guru BK yang mengidap OCD dan menjalin kisah cinta dengan guru bahasa Spanyol.
Seorang pengidap OCD belum tentu tidak bahagia dan selalu galau, ia bisa juga sangat menarik dan pandai bernyanyi. Sweet and adorable! Ia mengingatkanku pada diriku sendiri dan kehidupan ’berwarna’ yang kumiliki lima tahun yang lalu.
Tiba-tiba saja, hari itu aku menyusun foto-foto di album keluarga berdasarkan jumlah orang yang ada di dalam foto. Foto sendirian diletakkan di bagian awal album, hingga foto bersama rombongan piknik sekompleks berada di paling belakang.
***
Nah, itu suara suamiku baru saja masuk ke rumah.
Aku tahu benar rutinitasnya: ia akan melepas sepatu, menuju kamar, meletakkan tas, dan membasuh muka. Aku diam-diam tersenyum di dapur.
Lima menit berlalu, tak terdengar suara apapun setelah ia masuk dan menutup pintu.
Tapi akhirnya, “Honeeeyyy!” Itu dia teriakan khasnya.
Aku menghampiri dan mendapatinya berdiri di depan rak sepatu sambil bertolak pinggang. Dahinya berkerut dalam. Ia memandangku dengan mata melotot. Sesaat saja, kemudian senyumnya mengembang lebar, lebar sekali.
”Ini kamu susun bedasarkan ketebalan sole sepatunya ya?”
Matanya jenaka. Aku seperti tersengat listrik. Begitu rindu mendengar tebakan jitunya lagi setelah bertahun-tahun. Aku pun tertawa dan memeluknya.
Ah, kamu pasti tak percaya kalau kubilang OCD membuat hidupku lebih berwarna…
Makanan Pak CEO
By Damay Dante @nongdamay
Minggu depan akan ada acara gathering untuk para karyawan di kantor ini, aku bertugas untuk mengurus konsumsi acara ini.
Managerku hanya berpesan “Milih menu yang enak-enak ya, Sus, soalnya acara ini beda dari biasa karena mau ada penghargaan buat karyawan langsung dari Pak CEO.”
Berdasarkan pesan itu, aku susun menu mulai dari nasi putih, nasi goreng sosis, ayam kecap, gurame asam manis, sop bakso ikan, serta sate ayam. Tidak ketinggalan makanan penutupnya.
“Yup, menu yang sempurna,” gumahku sambil menahan air liur membayangkan betapa enaknya makanan-makanan itu.
Rapat terakhir menjelang acara dilakukan, setiap penanggung jawab dipastikan sudah siap untuk acara tersebut.
“Susi, gimana dengan konsumsi?” tanya Bu Ita sebagai ketua acara ini.
“Siap, Bu, menunya seperti yang saya email ke ibu dan saya pesan untuk porsi yang nggak akan kurang, Bu,” jawabku dengan mantap.
“Lalu kamu sudah pesan makanan untuk CEO kita kan? Dia seorang vegetarian ya, kamu jangan sampe salah pesan menu, nanti beliau tidak mau makan,” tambah Bu Ita yang khawatir aku salah belum memesan makanannya
“Iya, Bu, tadi Bu Wina sudah info ke saya, dan sudah saya pesankan makanan khusus untuk baPak CEO itu,” jawabku dengan senyum pasti.
***
Harinya tiba, tempat sudah didekor dengan sempurna, para karyawan sudah berkumpul di ballroom hotel, pegawai-pegawai yang akan menerima penghargaan juga sudah duduk di tempat khusus.
Acara berlangsung lancar tanpa hambatan, para penerima penghargaan tampak senang dengan hadiah yang perusahaan berikan. Sekarang saatnya makan malam bersama.
Menu makanan terbaik yang aku susun sudah ditata rapi dalam bentuk buffet. Khusus untuk para direksi disiapkan meja tersendiri.
“Sus, mana menu special buat Pak CEO?” Bu Ita mengecek makanannya
“ Ini, Bu,” jawabku sambil menunjuk sebuah piring cantik yang berisikan makanan khusus CEO kami yang seoranng vegetarian.
“SUSI…..!!!!!!” Bu Ita setengah berteriak memanggil namaku sambil melotot. “Cepat kamu cari makanan lainnya untuk Pak CEO, masa dia dikasih kayak gini, katanya sudah siapin menu khusus. Cepet! kamu cepet cari gantinya!” Bu Ita dengan nada tinggi memarahi aku.
Aku setengah berlari mencari makanan lain dan meninggalkan sepiring nasi goreng tanpa lauk di meja itu. Dalam hati aku bergumam, “Katanya vegertarian murni, nggak mau makan apa-apa. Giliran disiapin nasi goring, aku dimarahin.”
“Susi, cepat dicari!!!” Teriakan Bu Ita kembali terdengar sehingga aku mempercepat lariku mencari makanan utuk Pak CEO
Ini Support Atau…?
By Damay Dante @nongdamay
Dino pacarku tak henti-hentinya menyuruh aku untuk mengikuti pemilihan. Iya, memang Dino sudah lama ada di dunia permodelan (itu sebutan aku untuk dia).
Sampai suatu hari Dino menelpon aku hanya untuk bilang “Mira sayang, kamu mau ya ikut pemilihan duta wisata itu.”
Spontan aku menjawab, “Nggak mau ah. Kamu aja yang ikut!” jawab aku seketika.
“Ini anak susah banget sih disuruh ikut kayak gitu, buat kamu juga tau. Nanti kamu bakal punya banyak pengalaman dan teman, udah cari infonya ya, nanti aku BBM kamu websitenya,” jelas Dino panjang lebar sebelum menutup telponnya.
Setelah telpon dari Dino, aku coba memikirkan kata-kata Dino. “Iya juga sih, nggak ada buruknya juga kalau ikut pemilihan itu.” Aku liat bbm dari Dino untuk membuka website pemilihan itu.
***
“Sayang, aku senang deh kamu nurutin kata-kata aku, mau ikut pemilihan itu.” Suara Dino terdengar sangat senang di telpon malam ini.
“Iya, Sayang,” jawabku.
“Gimana, gimana? Kamu udah buka websitenya kan? Apa aja persyaratannya?”
“iya aku udah buka. Eh iya, itu pemilihannya buat cewe sama cowo ya?”
“Iya, Sayang, kan duta wisata jadi sepasang gitu. Terus apa aja syarat-syaratnya? Kamu belum jawab.”
“Iiih kok jadi kamu yang penasaran sih, syarat-syaratnya itu…” Aku sebutkan syarat-syarat yang aku temukan di website pemilihan itu.
“Ya udah sayang, kamu siapin ya syarat-syaratnya, nanti aku bantuin deh buat persiapannya. Terus audisinya kapan? Nanti aku anter dan temenin kamu.” Dino sangat bersemangat mempersiapkan aku.
Tampaknya dia seperti seorang pacar yang sangat mendukung untuk aku dalam hal-hal positif. Tapi memang nyatanya iya, Dino bahkan juga mempersiapkan penampilan aku untuk audisi nanti.
***
Hari Audisi pun tiba, segala persyaratan pun sudah aku bawa. Dino menepati janji dengan menjemput aku dan mengantarkan aku ke tempat audisi. Sesampainya tempat audisi.
“Kamu ikut turun, Din?” tanyaku.
“Iya, aku anterin kamu sampe tempat penyerahan berkas,” jawab Dino.
Aku dan Dino berjalan menuju tempat pendaftaran dan penyerahan berkas persyaratannya.
“Silakan, Mbak, di sini tempat pendaftaran buat yang cewe , kalau yang cowo di meja sana ya,” kata mbak panitia sambil menunjuk meja di seberang.
“Ngga kok, Mbak, cuman saya yang ikut, dia cuman…” Belum selesai kata-kata aku saat aku mendengar suara Dino.
“Makasih ya, Mbak,” jawab Dino sambil menuju ke meja pendaftaran peserta cowo.
Dino…!! Aku kira kamu bener-bener support aku, taunya kamu mau ikut juga. Dasar kamu!!!
Di Kesalahan yang Sama
By Damay Dante @nongdamay
Aku pria yang paling bahagia tampaknya saat ini. Aku berhasil keluar dari jebakan narkoba, aku berhasil memulai hidup baru di kota ini, teman baru, kampus baru, dan wanita baru di hidupku.
Narkoba menghancurkan empat tahun dalam hidupku, melihat wajah ibu membuatku berhenti dan sembuh. Di kampus baru ini tak ada yang tahu tentang masa laluku. Kalau mereka mempertanyakan mengapa di usiaku sekarang baru masuk kuliah, aku selalu bilang kalau aku dulu lebih memilih bekerja dibanding kuliah.
Di kampus karena usiaku berbeda empat tahun dengan teman-teman, mereka sangat respek kepadaku. Aku sangat mereka andalkan saat ada tugas-tugas dari dosen. Aku sangat menikmati keadaan ini, keadaan diterima.
Puncaknya saat wanita tercantik di kelasku, aku dekati dan menerima cintaku. Hidupku benar-benar sudah kembali. Bahkan aku sudah melupakan masa laluku yang kelam. Rutinitasku setiap selesai kuliah adalah mengantar Dini pulang. Ya, itu nama wanita cantikku.
Suatu hari saat aku sedang melewati senja bersama Dini di sebuah Café, seseorang memanggil namaku. Saat aku palingkan wajah dan mencari siapa yang memanggilku ternyata ada sekelompok orang di meja sana. Ternyata mereka teman-teman SMA aku di kota yang lama.
**
Dini memutuskan hubungan kami sesaat setelah dia memergoki aku sedang menyuntikkan obat ke nadiku di dalam kamar mandi rumahnya. Itu puncak kehancuranku menyusul hancurnya nilai-nilai kuliahku karena aku tidak pernah masuk dan melewatkan berbagai ujian, teman-teman sudah mulai tidak respek kepadaku.
Ya, pertemuanku dengan teman-teman lama di kafe itu menjadi awal kehancuran ini. Aku mulai sering bermain dengan mereka yang kembali mengajakku ke dunia narkoba. Dan bodohnya aku kembali mau terseret arus untuk menggunakan narkoba. Dan kembali menghancurkan hidupku.
Seandainya aku tidak terbawa arus lagi. Seandainya aku tidak bodoh menghancurkan hidupku.. Ya, seandainya.
Kini tinggal penyesalan yang ada. Semua hilang, termasuk senyum ibu untukku.
Selalu
By Rafael Yanuar @opiloph
Engkau menamainya rindu
: sepasang mata, penyimpan detak waktu
SELALU
– Sajak Kepada Severus Snape dan Lily Evans
Pada hujan tengah hari – kau belajar menyendri
sampai tak kau rasakan lagi
takdir menyentuh getir hidup.
Di beranda timur, langit meredam detak
menetaskan rindu pada dekap
- tebing waktu.
Detik berlalu
sebatang lilin berpendar di secarik kertas
meminjam hangat kenangan – pada teduh masa lalu.
Sementara luka tak lagi tertampung kata,
kau diam
berdamai dengan hati
membiar sunyi meredam mimpi-mimpi.
Kini kau paham
Setangkai bunga, sekalipun tercerabut badai waktu
tetap harum aromanya.
Pun dia -
semoga selalu sedekat nadi di hela napasmu
dengan segala keindahannya.
Sebab bagimu
tak ada tungku sehangat ingatan
di tengah musim berkabut
di hatimu.
“After all this time?”
Selama itu?
-
“Always”
Selalu
(23 Agustus 2011)
Salah
By Rafael Yanuar @opiloph
Aku memandangmu.
Pertumbuhanmu tak normal. Kemarin kau masih memakai sepatu berukuran 35, sekarang ukurannya bahkan melebihi besar tubuhku. Jarimu sudah mampu mencengkeram seluruh pinggangku. Wajahmu melebar, kakimu juga, tanganmu lebih-lebih. Rambutmu terurai. Jika kau menengok, aku bisa merasakan angin besar berhembus di sekitarku. Meski kau tak bisa dikatakan gemuk, tubuhmu membesar dengan seimbang. Kau masih cantik, hanya saja berbentuk raksasa. Seperti Goliat di kisah Daud.
Ya, Tuhan. Sekarang kau bahkan bisa menyentuh atap rumah kita!
Aku takut terjadi apa-apa padamu. Benarkah kau sudah konsultasi pada dokter?
Kau mengangguk. Aku memintamu mengambilkan resep-resepnya. Lalu kau menunjukan sesuatu padaku. Botol kecil, ukurannya sebesar jari telunjukmu.
“Sepertinya,” aku menepuk kening, “dia salah memberi obat.”
(21 Agustus 2011)
Hujan
By Rafael Yanuar @opiloph
Suatu malam di bulan Agustus. Kau datang, membawa seloyang kue buatku. Ada lilin usia di atasnya, meski tak kau nyalakan. “Tapi tanggalnya masih seminggu lagi.”
“Terimalah,” pintamu. Kau menaruhnya di meja. “Aku takut tak bisa memberikannya tepat waktu.”
Aku tersenyum, “Buatanmu sendiri?”
Kau mengangguk, “Hehe, amatir!” Tanganmu membentuk huruf V, sambil nyengir.
Tak lama, hujan turun, aku langsung mengambil obat di almari. Asmaku kambuh.
“Tak apa?” Kau terlihat cemas.
“Tenang saja.” Aku mengusap kepalamu.
Kemudian, kita hanya diam.
“Tahukah, Jingga? Setiap kita mengobrol, Tuhan telah memberikan kado terindah buatku.”
**
Keesokan hari, kudengar kau dirawat di rumah sakit. Kau terkena kanker darah. Stadium akhir. Dan aku sama sekali tak pernah kau beritahu.
(21 Agustus 2011)
Happy Ending
By Irene Wiibowo @sihijau
“Hai,” ucapnya. Aku membalasnya dengan senyum dan berlalu.
Dia seorang pria yang menarik perhatianku selama ini. Pada saat dia menyapa, aku hanya bisa diam dan tersenyum? Bodoh.
“Hei, tunggu!” panggilnya menghampiriku. Aku berhenti. Sial! Jantungku berdetak cepat sekali!
“Em, sepertinya kita kenal. Aku suka ngeliat kamu! Tapi di mana ya?” Apakah dia menyadari bahwa aku suka menatapnya diam-diam?
“Mungkin aku mirip dengan temanmu?” jawabku sambil tersenyum.
Dia menatapku, memperhatikan wajahku.”Sudah, lupakan! Donny!” Kata-katanya seperti mimpi.
“Emma,” jawabku.
“Nice to meet you! Kau suka nulis ya?”
“How do you know?”
Dia tersenyum. Sekarang aku ingat aku pernah ngobrol dengannya!
“Kau temannya Rey?”
“Ya! Di situ kita bertemu! Ya ampun!!! Aku selalu memperhatikanmu, ternyata aku memang kenal!”
Aku tersenyum. Ah, betapa bahagianya mimpi ini terwujud. Terima kasih, Tuhan.












D5 Creation