Hujan

By Rafael Yanuar @opiloph

Suatu malam di bulan Agustus. Kau datang, membawa seloyang kue buatku. Ada lilin usia di atasnya, meski tak kau nyalakan. “Tapi tanggalnya masih seminggu lagi.”

“Terimalah,” pintamu. Kau menaruhnya di meja. “Aku takut tak bisa memberikannya tepat waktu.”

Aku tersenyum, “Buatanmu sendiri?”

Kau mengangguk, “Hehe, amatir!” Tanganmu membentuk huruf V, sambil nyengir.

Tak lama, hujan turun, aku langsung mengambil obat di almari. Asmaku kambuh.

“Tak apa?” Kau terlihat cemas.

“Tenang saja.” Aku mengusap kepalamu.

Kemudian, kita hanya diam.

“Tahukah, Jingga? Setiap kita mengobrol, Tuhan telah memberikan kado terindah buatku.”

**

Keesokan hari, kudengar kau dirawat di rumah sakit. Kau terkena kanker darah. Stadium akhir. Dan aku sama sekali tak pernah kau beritahu.

(21 Agustus 2011)