October, 2011

now browsing by month

 

JejaKelas

Salam penulis, Cubinoters dan Cubilovers!

Genap setahun kita menulis bersama. Tiga ratus enam puluh tema membentang, tanpa barang sehari libur pun. Tentu tak semua tema dapat tergarap. Ada yang melampaui angka 100, ada yang hanya bertahan beberapa bulan pertama. Tapi kalian telah menulis, tanpa peduli apa profesi kalian.

Meski, sense of scheduling itu sangat penting dalam dunia menulis, tapi kualitas tak boleh dikorbankan. Karena itu, jejakubikel melakukan sedikit perubahan. Kita akan fokus dalam pengembangan kualitas.

Jalur menulis akan dibagi dua: JejaKelas dan JejaKarya. Mari, saya jelaskan.

JejaKelas adalah kelas menulis online yang diselenggarakan untuk 12 Cubipupils. Setiap 3 hari, moderator JK akan menayangkan 1 bab ringkas materi menulis. Setiap akhir bab, cubipupil akan diberi latihan. Semua pekerjaan cubipupil akan dikomentari secara pribadi oleh pemberi materi. Perkembangan akan dimonitor dengan ketat. Ada pertanyaan, kelas?

JejaKarya adalah tantangan regular JK, dengan tingkat lebih tinggi. Semua karya yang masuk akan disaring. Karyamu hanya akan tayang apabila kualitasnya memenuhi standard setidaknya dua dari tiga kurator JK. Akan ada saran perbaikan sebelum hari penayangan, jadi tak ada alasan untuk menulis jelek lagi! Rumit? Kelihatannya. Kamu cuma perlu menulis. Tema dilempar setiap 3 hari. Jadi kalian akan punya waktu untuk memperbaiki tulisan yang dikembalikan.

Ini akan menjadi tahun yang besar, guys! Seratus tema menanti manis sentuhan tanganmu di 2012. Mari ambil pena dan menulis lagi!

Oh! Dengan lebih baik. Tentunya!

(The cute momod)

PS:

Untuk keterangan tentang pendaftaran, silakan simak linikala @jejakubikel atau klik Page JejaKelas.

Pengumuman penerimaan siswa JK di TL tanggal 31 oktober 2011.

Perempuan Bersayap Malaikat

By Sary Ahd @saryahd

“Aku ingin menangis.”

“Menangislah.”

“Jangan bicara.”

“Aku akan diam saja.”

“Jangan bertanya.”

“Aku tak ingin tau.”

***

Dia menari dengan tangannya.
Hingga fajar berhandai gelita.
Demi sesatkan nyeri di setiap nafas dan aliran darah.
Menyulam senyum di antara warna-warni pintalan benang.
Mengidungkan cinta di atas kain bergambar perempuan bersayap malaikat.

***

“Aku ingin menangis lagi,” kataku senja itu.

“Jangan,” katanya.

Dia yang dikenang sebagai pemilik suara indah.
Sekarang tak banyak bicara.
Setiap hela nafas adalah perjuangan akan nyeri yang tak ada akhir.

“Tubuhku hanya mengenal rasa sakit. Menangis pun tetap sakit. Maka aku memilih untuk tersenyum. Agar kalian mengingatku dengan bahagia.”

“Maka jangan menangis lagi. Cukup sekali,” katanya lagi.

Tangannya masih terus menari merinaikan kidung di atas kain bergambar perempuan bersayap malaikat.

Air mataku pupus diam-diam.

***

Pagi masih terlalu indah untuk sebuah perpisahan.

“Aku mau liburan. Malaikatku sudah menungguku.”

“Kalau kau pergi, siapa menjagaku?”

“Sayapku adalah penjagamu.”

“Selamat jalan.”

Dia tersenyum. “Jangan menangis.”

Air mataku pupus diam-diam.

***

Pagi yang dingin, 25 Oktober 2011, 07.48 WIB

Teruntuk Tanthi di surga, kenangan tentangmu masih lekat di sudut kamarku.
Kain bersulam perempuan bersayap malaikat.

Karena Ayahnya

By Nurul Humaeroh @_nurulch

Sudah tiga jam aku dikurung di toilet. Bau pesingnya membuat pusing. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku diperlakukan seperti ini oleh Deri dan teman-temannya. Ya, selama dua tahun ini mereka berbaik hati memberi pengalaman masa SMU yang kelak tak akan pernah kulupa. Sudahlah, aku ingin segera keluar dari sini dan seperti biasa aku harus menunggu pak Darman, penjaga di sekolah untuk membukakan pintu toilet ini.

Pak Darman tertawa melihatku duduk bengong di atas bak kamar mandi, aku tak sadar jika sejak tadi pintu toilet sudah terbuka, “Hebat kamu, Rik! Tahan ya diperlakukan seperti ini,” katanya sambil merangkul lalu mengajakku mampir ke rumahnya yang terletak di belakang sekolah. Aku tersenyum dengan terpaksa.

Tak lama kami pun tiba di rumahnya.

“Percuma marah juga, Pak. Mereka malah makin mengganggu..” jawabku.

“Iya ya, hebatnya mereka gak pernah ketahuan, kamu juga kenapa gak pernah lapor guru. Takut?” lanjut pak Darman sambil menyodorkan segelas air teh hangat. Aku langsung meneguk habis air pemberiannya.

“Terima kasih airnya, Pak. Bukan, bukan takut, tapi, gak tahu lah, Pak,” jawabku pelan.

“Sudah sore, saya pulang dulu. Oh iya, jangan bosan bukakan pintu untuk saya,” pamitku sambil becanda.

“Haha.. Iya, siap. Bapak akan selalu bantu! Hati-hati!” pesannya.

***

“Baru pulang, Pak?” tanyaku pada Bapak setibanya di rumah. Kulihat bapak duduk di ruang tamu masih dengan pakaian yang biasa beliau pakai untuk bekerja sebagai sopir pribadi.

“Kamu sendiri sore begini baru pulang?” Bapak balik bertanya.

“Hehehe..” jawabku sekenanya.

“Eh iya, nih ada bingkisan dari Pak Edo buat kamu,” kata bapak sambil menyerahkan bingkisan yang tidak terlalu besar. Dengan tak sabar kubuka bingkisannya.

“Wah, buku-buku ini! Kebetulan sangat kuperlukan untuk persiapan ujian nanti!” ucapku girang.

“Pak, sampaikan terima kasih Erik ya buat Pak Edo,” kataku. Bapak mengangguk.

***

Pak Edo, atasan bapakku. Beliau dan isterinya sangat baik pada keluarga kami. Aku pun dibiayainya sekolah, kebaikan yang tak akan aku lupa. Satu hal lagi yang tak boleh aku lupa. Deri adalah putera dari Pak Edo. Ah baiklah, itu alasan mengapa aku segan untuk melaporkan ulah Deri. Kekesalanku teredam oleh kebaikan ayahnya.

Terima Aku

By Nurul Numaeroh @_nurulch

Semua mata di ruangan ini menatapnya. Tatapan yang akan Humar terima setiap kali orang-orang pertama kali bertemu dengannya. Sejenak ruangan ini menjadi sepi sampai akhirnya Pak Alif, Kepala Sekolah, menghangatkan suasana dengan suaranya yang khas. “Pagi, Anak-anak! Hari ini kalian kedatangan guru baru, namanya Pak Humar. Nah, baiklah, bapak tidak bisa berlama-lama, silakan Pak Humar melanjutkan perkenalannya,” kata Kepala sekolah singkat, kemudian ia keluar dari kelas meninggalkan Humar bersama siswa-siswinya.

“Selamat pagi,” sapa Humar. Wajah sang guru baru terlihat sedikit pucat. Ini adalah pengalaman pertama dirinya mengajar. Tiga bulan setelah kuliahnya rampung, ia putuskan untuk menjadi guru di kota kelahiran yang sudah lama ia tinggalkan, tepatnya saat ia berusia lima tahun, sejak kecelakaan itu, kecelakaan yang membuat ia kehilangan ibu dan lengan kanannya. Keadaan yang membuat ia tidak percaya diri dan merasa tak berguna.

Kini bersama sang ayah yang selalu menguatkan dan menghiburnya, ia kembali menapaki jejak kenangan masa lalunya.

Di depan para siswa, Humar tiba-tiba terdiam, kenangan masa-masa itu kembali berputar di pikirannya, tak semua rekaman peristiwa itu mampu ia ingat semua.

“Selamat pagi, Pak..” jawab para siswa serempak. Suara mereka membuyarkan lamunan Humar. Sang guru menatap satu demi satu muridnya. Tatapan mereka berubah, tak seperti pertama kali tadi. Mereka tersenyum ramah, menghapus kekhawatiran dan ketakutan Humar jika nanti mereka tak mau terima dididik oleh guru yang hanya memiliki satu lengan sepertinya. Ya, Humar hanya tak ingin dibedakan oleh siapa pun.

***

Tak butuh waktu lama bagi Humar untuk merebut hati anak-anak didiknya itu. Sosoknya yang ramah dan humoris, menjadikan ia guru idola. Rekan sesama guru pun menyukainya. Ayahnya benar, Tuhan sangat baik, Maha Baik, dan tak ada alasan baginya untuk tidak mensyukurinya.

Wajah

By Christian Adinugroho

“Dasar cengeng!” ejekku pada seraut wajah. Matanya masih sembab dan memerah akibat habis menangis.

“Hmm, kenapa sih tidak berani melawan?” tanyaku pada wajah yang pucat ketakutan itu.

“Lihat, sekarang bajumu robek-robek.” Wajah itu hanya menatap kosong. Seolah kehilangan kesadaran. Terguncang.

“Kenapa lagi. Habis dipukuli?” Kali ini, wajah itu lebam di beberapa bagian. Bibirnya pecah dan ada darah mengering di sudutnya.

“Bagus. Akhirnya kau berhenti jadi pecundang.” Aku menatap sosok dengan baju belepotan darah dan menggenggam sebilah sangkur di tangan. Kali ini ada senyum samar di wajahnya.

Ibuku menjerit saat menonton berita di televisi. Ada wajahku terpampang di sana.

Reporter sebuah stasiun televisi tengah menyampaikan berita langsung dari lokasi kejadian.

“Seorang siswa SMA ditemukan mati bunuh diri di kamar mandi sekolah. Korban menuliskan pesan terakhirnya di kaca kamar mandi. Bunyinya: Maaf, saya bosan jadi pecundang……”

Tak Perlu Berhutang

By Sary Ahd @saryahd

“Akhir minggu ini si Jamblang mau kuikutkan lomba.  Dan aku mau pinjam uang belanja dapurmu untuk biaya pendaftarannya. Pasti kuganti. Aku yakin kicauan Jamblang menang kali ini,” kataku kepada Marni, istriku. Marni langsung menegakkan punggungnya dengan mata melotot. Tapi aku langsung mencium bibirnya dengan lembut supaya Marni tidak sempat marah dan membalas ucapanku.

***

Ah sial, si Jamblang kalah lagi. Marni tidak mau tahu dan menuntut uang belanjanya diganti. Katanya itu uang terakhir yang dia pegang untuk bulan ini.

***

“Makan dulu, bang.”

“Wah, pinjam uang sama siapa kau, Mar, bisa makan enak malam ini?”

“Ah, buat apa ngutang, Bang? Ini si Jamblang, ini Benji, ini Tole, ini…”

Seketika kepalaku sakit, perutku mual..

Catatan dari Daniel

Sary, komedimu ini menggelitik sekali. Well, harus kita akui, idenya tidak terlalu baru, bukan? Tapi tetap manis kamu menceritakannya.

Semoga suami si Marni kapok ya…

Keluh Kesah Burung Camar

By Anita Rismawati @anita_olala

Suatu ketika burung camar mengeluh kepada Sang Pencipta. Betapa sulitnya membangunkan manusia dari tidurnya, meskipun kicauan mereka telah melintasi cakrawala. Tuhan telah menciptakan makhluk paling sempurna, namun kekhawatiran malaikat terjawab sudah.

Manusia hanyalah seonggok tanah yang hanya dilengkapi akal pikiran namun tak pernah mensyukurinya. Mereka memiliki nama, juga peran. Tidak jarang mereka memahami hikmahnya. Camar pun berujar, “Haruskah kupatuki bola mata mereka agar mereka mengingat tugasnya di kala fajar menyingsing Tuhan?”

Tuhan pun berujar dengan senyum kuasa-Nya, “Setidaknya telah kuciptakan kalian (camar) untuk menjalankan tugasmu, bila mereka tak menghiraukan kicauanmu di kala fajar, biarlah nanti kupatuki bola mata mereka dengan adzabku yang pedih dan tak terkira yang akan membuat mereka jera.”

Catatan dari Daniel

Kisah religius ini layak dijadikan perenungan. Hasilnya memang bukan fiksi, tapi lebih pada refleksi. Indah, caramu melakukannya, Anita.

Satu hal saja yang mengusikku, apakah benar yang kamu maksud adalah “Tidak jarang mereka memahami hikmahnya,” karena kalimat itu seperti tidak koheren dengan kalimat yang lainnya.

Semangat!

Pagi yang Tak Terlihat

By Lilya Wamirza Fitriani @lymirza

“Sudah pagi.”

Kutajamkan pendengaranku. Indah sekali kicau burung pagi ini. Aku memutuskan untuk tidak beranjak dulu dari ranjang. Mendengarkan suara-suara yang seolah menceritakan sesuatu. Beginilah aku menikmati datangnya pagi.

PRANGG!!

Hei, apa itu?!

Aku mengibaskan selimut dan bangkit dari tidurku. Kuturunkan kakiku ke lantai, lalu mulai meraba dinding di depanku.

“Papa tega sama dia?!”

Terdengar suara ibu.

“Apa pedulinya?! Toh si buta itu bukan anakku. Dia anak suamimu yang penyakitan itu kan!”

Ah! Pasti Papa tiriku mulai meributkan aku.

Aku baru saja menemukan tongkatku dan berdiri saat terdengar teriakan ibu. Keras sekali. Perlahan lirih. Lalu hilang.

Ada apa dengan ibu? Kakiku gemetar. Mendadak aku tak bisa merasakan tubuhku.

Catatan dari Daniel

Salah satu kekuatan tulisan ini adalah memberi kesempatan bagi pembaca seluas-luasnya untuk ikut mengisi detil-detil yang diperlukan dalam melengkapi keseluruhan teka-teki.

Aku bisa melihat adanya konflik yang berusaha diangkat, dan betapa pada akhirnya si anak yang buta yang menjadi korbannya. Namun aku masih kehilangan keping-keping puzzle yang cukup penting untuk benar-benar bisa memahaminya. Mungkin imajinasiku yang kurang.

Aku suka gagasannya.

Kicauan (Terlalu) Pagi

By @swannysaja

23.15. Sabtu. Kantor. Kombinasi menor? Apa boleh buat, laporan di ambang tenggat. Kukencani data-data bersama kopi pekat.

01.30. Minggu. Parkiran rumah susun. Tenda berjajar, spanduk berayun. Tak biasa. Tapi mengeksplorasinya, mataku sudah tak kuasa. Kunaiki tangga ke lantai empat. Ponsel kuletakkan di meja sebelum mata merapat. Dear alarm, biarkan aku lelap sampai energiku genap.

08.00. Minggu. Alam mimpi. “Hiiiidup adalah perjuangan tanpa henti-hentii.” Uh, alarm ‘Dewa’-ku berkicau? Kutekan ‘off’ dengan kacau. “Uusah kautangisi haari kemarin…” Ah, tak ada matinya Dewa ini. Kulirik layar ponsel, mati. Aku melompat ke jendela, disambut keriuhan di parkiran. “Selamat datang di Pesta Kuliner!” seru MC, menyela ‘Dewa’ di pengeras suara.

Catatan dari Daniel:

Ini komedi yang luar biasa jenaka. Merekam kehidupan kelas pekerja yang selalu dikejar tenggat, tinggal di rumah susun yang selalu saja ada kejadian di sana.

Suka.

Kuamini Doamu

By jadi.mama@yahoo.com

Kembali kulihat ia bercerita tentang cita-citanya, sungguh mengagumkan. Setiap kali bercerita, kulihat matanya menyala-nyala seperti matahari pagi; menyengat dan penuh semangat.

Usai menyimak ceritanya, dalam hati tiada henti kuamini setiap pintanya. Ia memiliki tiga impian yang indah. Ketiga, ia ingin menjadi ibu katanya. Ia begitu mencintaiku dan ingin menjadi ibu yang baik sepertiku. Betapa air mataku tak henti menetes tiap kali ia mengungkapkan itu.Yang kedua, ia ingin menjadi guru di daerah terpencil. Menurutnya, kehebatan suatu bangsa tidak terlepas dari peran hebat dan kebijakan seorang guru.

Lalu yang pertama, ia ingin bisa bicara agar bisa menjadi guru dan ibu yang lebih sempurna. Betapa aku ingin mendengar kau berkicau tentang semua itu, anakku.

Catatan dari Daniel:

Kalau tidak salah, ini punya @susyillona ya?

Susy berhasil menamparku sebagai pembaca; yang awalnya harus kuakui, tak terasa geregetnya sampai di kalimat kedua sebelum terakhir. Ini luar biasa. Selamat, Susy, kamu berhasil.