January, 2012
now browsing by month
Air Mata di Hari Merah
by Sofwan Rizky @sofcrates
Aku tak suka awan hitam. Aku tak suka mendung. Aku tak suka petir. Semuanya. Semua yang berhubungan dengan hujan, sangat aku benci. Termasuk, satu hari yang rutin datang setiap tahun.
…Imlek.
Dimsum
“Ibu sudah buatkan dimsum, sayang,” ucap Mei sambil meletakkannya di meja yang berukuran persegi panjang yang selalu diduduki oleh 4 manusia. Aku, Ayah, Mei dan setan kecil.
Wajah mereka tampak bahagia, tetapi aku tidak. Bibirku mengatup. Diam. Aku yang pegang kunci mulutku ini. Segera mereka melahap makanannya, tetapi aku hanya mengaduknya, menghancurnya, membiarkan makanan ini terkena angin.
“Oh iya, sebentar lagi Imlek. Nanti rumah ini kita hias, yuk!” Seru Ayah dengan semangat. Matanya yang sipit terbuka sedikit, walau tetap terlihat sipit. Begitu juga yang lain. Kecuali, aku. Topik yang selalu dibahas setiap tahun, yang sangat menyebalkan.
Aku benci dimsum.
Angpau
“Sebentar lagi, Nenek akan datang. Sambut dengan baik, ya!” seru Mei dengan semangat. Ayah hanya mengangguk sambil membetulkan lampion yang bergoyang.
Sedangkan aku, masih membeku di pojok ruangan.
“Ayah, Nenek datang!” Feng berteriak sembari menunjuk mobil merah yang datang. Menunggu orang yang turun dari sana. Ya, Neneknya. Tapi bukan Nenekku. Sama sekali bukan.
Segera aku memasuki kamar, dan kembali menguncinya. Membanting tubuh ke tempat tidurku, menyumbat telingaku dengan earphone. Aku menjadi orang tuli selama mereka datang.
“Feng, lihat Nenek bawa apa?” tanya neneknya menggoda. Walaupun sayup-sayup suara itu masih masuk ke telingaku. Aku menaikkan volume lagu yang sedang bersenandung. Membiarkan lagu ini menguasai telingaku.
“Angpaauu!” Feng melompat kegirangan. Kaki mungilnya menghentakkan lantai yang terbuat dari kayu. Teriakannya memantul ke segala arah. Bodohnya, aku tetap mendengarnya.
Aku mematikan lagu. Sejauh apapun, suara itu masih menyusupi indraku. Mematikan suasana. Aku hanya memeluk bantal. Menatap hujan. Dan mendengar perbincangan mereka. Tak ada angpau untukku. Bahkan mereka, tak menanyakanku sedang di mana.
Aku benci Angpau.
Pemakaman
Aku mengelus batu itu. Menghapus segala kotoran yang menempel di namanya. Mencabut-cabuti tanaman-tanaman pengganggu di sana.
Tak ada payung, tak ada penghalang kepalaku. Hujan terus membanjiriku. Rambutku. Kemeja hitamku. Semuanya. Termasuk, mataku, yang juga membanjir. Hujan itu tak sebanding dengan kebahagiaan mereka. Mereka yang sedang bersulang dan bertukar angpau.
“Ibu…”
Aku kembali menangis. Aku benar-benar tidak sanggup untuk hidup. Tetapi, jantungku masih terus berdenyut. Darahku masih mengalir. Namun, hati ini sudah mati, Bu.
“Damar ke sini lagi, kan, Bu? Menengoki Ibu?” Aku berbincang dengan kesunyian. Tak ada jawaban. Yang ada hanya suara gertakan petir. “Pokoknya, setiap Imlek, Damar akan kesini. Menemani Ibu. Ya?”
Aku tak tahan lagi. Keluhan hidupku sudah beribu-ribu membendung. Membayangiku selama empat tahun terakhir, setelah kepergian Ibu. “Aku berbeda dengan mereka semua, Bu. Aku hitam, Mereka putih. Mataku terbuka lebar, mereka selalu memicing. Sedangkan Ayah, sibuk dengan mereka, keluarganya yang baru,” Aku segera menyeka air mata. Walau air itu terus turun kembali. “Dan… Ayah rela keluar Islam karena mereka, Bu.”
Aku menyadari bahwa hidupku sekarang hanyalah kekosongan. Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Merayakan Idul Fitri dengan sepi, merayakan Imlek juga merasa sepi. Hari-hari itu hanya diisi bersama Ibu, sungguh. “Tapi tak apalah, aku lebih bahagia mirip dengan Ibu,”
Wajahnya menerawang diotakku. Ibu mirip sekali denganku. Aku bernapas lega. Aku bangga, Bu.
Aku segera merangkul nisannya dan memeluknya erat.
“Tunggu aku ya, Bu.”
Kunjungi blog Sofwan di link ini
KataKami
@daprast ~ Sofwan, aku tak punya keluhan untuk isi dan caramu berkisah. Tapi,
lagi-lagi, tolong, pelajari penggunaan EYD, ya.
@PramoeAga ~ Halo Sofyan, penulisan awalan di- harap diperhatikan lagi ya. Lain kali ngga boleh salah lagi :) *momod lagi galak*
@therendra ~ WOW! Saya merasa baru benar-benar membaca kisah! Bravo. Ini titik tertinggimu Sofie. Saya ucapkan selamat atas perkembangan yang tak terduga ini.
Mahluk Setan
by Danan Wahyu
Malam semakin dingin. Tak ingin kulepas kehangatan dari sisiku.
Kukecup lembut bibir ranum merah jambu terlelap dalam mimpi panjang.
“Itai Lamu, kau adakah.” Suara dari balik dinding lamin membuyarkan rasa.
Tanpa sepatah kata, kuraih mandau. berjinjit ringan membuka pintu. Sekali lagi kupandang tubuh molek kuning langsat bersarung.
***
Angin malam menusuk tulang. Kami para lelaki bersembunyi di balik rimbun belantara batas desa. Tak ada api hanya sesekali suara napas tertahan. Belaian angin malam membangkitkan rasa untuk menuntaskan pertempuran tadi malam. Bayangan keindahan menari-nari di imaji membangkitkan hasrat lelakiku.
“Kunyang…Kunyang…”Jeritan lengking perempuan merayapi rasa sepi.
Sesosok mahluk dengan usus terburai melayang binal menembus pohon dan dedaunan. Tetesan bau anyir darah menyeruak di setiap jejak. Kami berlari mengepung, berarak melambaikan obor dan mandau bagai berburu burung gagak.
“Dasar mahluk setan, dia menghilang begitu cepat.” Dukun beranak tua berteriak parau di telingaku. Mulutnya komat-kamit membaca mantra dan matanya memerah. Kunyang telah memperdayainya, menyamai rupa dan tingkahnya.
***
Rasa nakal kembali menyeruak, desirnya membangkitkan kejantananku. Denyutnya menuntunku untuk cepat kembali ke lamin.
“Sebelum ayam berkokok harus kutuntaskan semuanya…” Otakku semakin nakal membayangkan pergulatan fajar.
Kutarik mandau di dalam sarung. Dadaku berdegup kencang. Temaram lampu membuat sosok tubuh mungil makin menggemaskan. Kuterkam nakal tubuh istriku, rasanya ingin kulumat semuanya.
Degup ini semakin kencang. Kulihat Tami, istriku tanpa kepala. Lehernya berongga dengan garis hitam. Kuguncang berkali-kali tubuhnya. Dia tetap diam bagai raga tanpa sukma.
Jendela terbuka. Wajah Tami muncul mengigit daging berdarah segar…
KataKami
@daprast ~ Ah, horor! Suka! Tapi toloooooooooooong banget, pelajari lagi
penggunaan EYD ya. Please…
@PramoeAga ~ Diperhatikan lagi pemenggalan kalimat. Penempatan tanda koma sering kurang tepat. Tetap belajar dan semangat yaa..
@therendra ~ Satu-satunya alasan kenapa saya mengerti ceritanya adalah karena saya pernah menonton film dengan alur serupa. Tutur dan diksi terus terang saja agak mewah namun sukar untuk dirangkai menjadi sebuah jembatan peahaman. Seperti kata-kata yang saya pakai sekarang. Perbaiki ejaan lagi.
Yang Kau Anggap Remeh
by Lia Khairunnisa @liakhairunnisa
Namanya Jonathan Wijaya, pemilik sekolah musik terbesar di Asia Tenggara. Jonathan Wijaya, musisi yang namanya telah terkenal ke seluruh penjuru negeri bahkan sampai luar negeri. Namun tahukah kau kehidupannya sebelum menjadi sukses seperti sekarang? Ini dia ceritanya.
***
Jonathan lahir dari ayah dan ibu keturunan Tionghoa. Menjadi anak satu-satunya dari keluarga miskin keturunan Tioghoa bukanlah hal mudah untuk Jonathan. Ayahnya sangat keras, sang ayah selalu menuntut Jonathan untuk selalu menjadi yang nomor satu di kelasnya. Namun seorang Jonathan bukanlah anak yang jenius, untuk tergolong menjadi murid yang biasa-biasa sajapun Jonathan tak mampu. IQ-nya di bawah rata-rata, prestasi paling baiknya hanya sebatas menjadi peringkat kedua dari bawah. Maka mimpi buruk akan selalu datang saat hari pembagian rapor tiba. Ayahnya akan pulang ke rumah dengan penuh amarah, melepas ikat pinggangnya, kemudian mencambuk Jonathan hingga puas. Ibunya hanya bisa menangis sambil membersihkan lukanya.
Perlakuan tidak menyenangkan tidak hanya didapatkan Jonathan dari ayahnya namun juga dari teman-teman sekolahnya. Memang bukanlah perkara mudah menjadi anak keturunan Tionghoa yang sama sekali tidak berprestasi. Berbeda dengan Meila teman sekelasnya yang juga berdarah Tionghoa. Meila selalu menduduki rangking pertama. Meila unggul dalam segala hal. Meila yang selalu menolong Jonathan jika Jonathan dikerjai oleh teman-teman sekolahnya. Meila yang selalu menghibur Jonathan jika Jonathan dicaci-maki oleh ayahnya. Dan Meila pula yang membuat Jonathan menemukan siapa dirinya.
Suatu hari Meila mengajak Jonathan berkunjung ke rumahnya. Meila berasal dari keluarga yang berada. Begitu sampai di rumah Meila pandangan Jonathan langsung tertuju pada piano klasik yang terletak di pojok ruang tengah rumah Meila. Setelah meminta izin pada Meila, Jonathan mencoba menekan tuts-tuts pada piano tersebut dan menghasilkan sebuah nada. Mulai saat itu Jonathan menjadi sering main ke rumah Meila. Dan dari situ pula Jonathan mulai belajar memainkan piano secara otodidak.
Semenjak SD sampai SMA Jonathan dan Meila selalu bersekolah di sekolah yang sama. Ketika mereka lulus dari sekolah mengengah atas, Meila memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Negeri terkemuka di Jakarta. Prestasi yang cemerlang dan nilai yang jauh diatas rata-rata membuat Meila diterima di manapun ia mendaftarkan diri. Berbeda dengan Jonathan. Bisa lulus saja sudah syukur. Namun sang ayah memaksa Jonathan untuk bisa masuk ke Universitas yang sama dengan Meila. Universitas di mana hanya anak-anak jenius yang bisa diterima untuk berkuliah di sana.
Jonathan sudah lelah dengan semua tekanan yang ia dapatkan dari ayahnya. Hingga akhirnya dia nekat melarikan diri dari rumah. Meninggalkan ibunya yang melepasnya dengan berlinang air mata. Dalam hatinya ia berjanji suatu saat ia akan mengganti semua tangis ibunya menjadi sebuah senyum kebahagiaan.
Keringat dan kerja membuat Jonathan berhasil masuk perguruan tinggi di Australia, jurusan seni musik. Ia berhasil mendapatkan beasiswa di sana. Kesempatan kuliah di luar negeri ini tidak disia-siakan oleh Jonathan. Ia belajar dengan giat dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Setelah lulus ia kembali ke Jakarta dan ia diterima bekerja disebuah sekolah musik yang cukup punya nama.
Jonathan masih belum berani pulang walaupun ia sangat rindu dengan ibunya, bayang-bayang sang ayah selalu membuatnya ketakutan. Namun rasa rindu yang teramat sangat pada ibunya membuat Jonathan diam-diam pulang ke rumah. Tujuannya hanya untuk bertemu ibunya. Bertahun-tahun Jonathan berkunjung ke rumahnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya.
Kelihaian Jonathan dalam memainkan tuts-tuts hitam putih sampai ke telinga produser musik yang paling berpengaruh di Indonesia. Lalu kemudian produser tersebut membawa Jonathan ke dapur rekaman, menduetkannya dengan penyanyi papan atas ibukota yang telah go international. Singkat cerita nama Jonathan tersebar luas. Tawaran rekaman dan manggung membanjirinya, baik dari dalam maupun luar negeri.
Suatu ketika sebuah media mewawancarai Jonathan. Ketika ditanya siapa yang paling berharga dalam hidupnya ia menjawab dengan pasti.
“Yang pertama ibu saya, ibu yang selalu memberikan kasih sayang pada saya, yang tak pernah henti meneteskan air matanya jika saya terluka, yang selalu membangkitkan semangat saya. Yang kedua ayah saya, ayah yang keras, ayah yang membuat saya menjadi pribadi yang kuat dan tegar. Dan yang ketiga adalah Meila, istri saya, perempuan yang tak pernah memandang saya sebelah mata, perempuan yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Dulu saya selalu dianggap remeh oleh semua orang, saya yang dahulu seakan-akan tak akan punya masa depan yang cemerlang, saya yang bukan apa-apa. Menjadi seperti sekarang adalah sebuah anugrah untuk saya. Kesuksesan saya ini karena mereka dan akan saya persembahkan untuk mereka.”
Kunjungi blog Lia di link ini
KataKami
@daprast ~ Lia, ini kisah yang inspiratif. Andai kamu menuliskannya sebagai
“Jonathan”, kisah ini akan lebih menguras emosi.
@PramoeAga ~ Good job, Lia. Masukan saja, nuansa budaya Cinanya kurang terasa. Lain kali bisa ditambahkan lagi ya..
@therendra ~ Eh, Daniel? Cerita ini sepertinya familiar sekali? Diksi dan alur yang bagus. Tapi kamu menceritakan terlalu banyak pada ruang yang terlalu sempit, kecuali kau berniat menceritakan biografi singkat seseorang.
Pencarian Terakhir
by Sofwan Rizky @sofcrates
Pernahkah kau merasakan cinta yang rumit? Pernahkah kau mencintai seseorang sepenuhnya? Pernahkah kau memiliki cinta yang tidak kau harapkan? Pernahkah cintamu berakhir sebelum cincin melingkar di jari manismu? Pernahkah pasanganmu meninggalkanmu dengan begitu saja? Meninggalkanmu selama-lamanya? Dan sadarkah pasanganmu yang sudah pergi masih mencintaimu?
***
Sebelum ia melangkah ke badan pesawat, ia melihat keadaan di belakangnya. Hampa. Tak ada yang menunggu. Tak ada yang mengucapkan selamat tinggal padanya. Seolah mimpi yang datang padanya benar-benar tak salah. Keputusannya yang diambil juga tak salah. Tak meleset sedikit pun. Dia segera masuk ke dalam pesawat. Dia segera merebahkan kepala suntuknya setelah menemukan kursi miliknya untuk beberapa jam ke depan. Merilekskan darah-darah yang sempat tersumbat di suatu tempat. Terkadang sering membuatnya mengeluh kesemutan. Tapi memang benar, mengingat ini semua, dia seperti berada dalam perangkap seseorang. Selang 2 menit, telepon genggamnya berbunyi. Dengan gerak-gerik yang tak ikhlas, ia segera menerima panggilan tersebut. Tertera di sana: Anjar, Pacarnya. Dulu.
“Halo, Tra? Tra, kamu kenapa mengakhiri hubungan kita yang sudah dibangun dengan baik, sih? Aku cinta kamu, Tra. Aku gak bisa menerima ini semua kalau tidak ada alasannya,” Anjar langsung mengoceh saat Astra mengklik tombol hijau. Tanpa jeda. Tanpa henti. Anjar langsung menumpahkan semuanya. Sedangkan Astra, hanya bisa membuang napasnya berat. Air mata mulai menyeruak dari tempatnya. “Maaf, Jar. Tapi aku…”
“Apa?”
“Aku memang enggak bisa,”
Klik. Astra segera menutup teleponnya. Membayangkan bagaimana wajah Anjar di lain tempat. Pasti ia memberontak kecil. Sedangkan dirinya, juga masih bimbang dengan tujuannya. Belum jelas. Astra menyandarkan tulang-tulang punggungnya kembali. Pasrah udara memasuki tubuhnya, membuat tulang dadanya menaik. Bahkan dalam hati kecilnya, dia tidak bisa berjanji akan menebus semuanya, cintanya, pekerjaannya, segalanya. Karena dirinya, belum yakin akan bisa kembali.
***
“Kamu yakin mau melakukan ini semua? Ini bahaya sekali, Tra,” kata Paman Ardi sambil meneguk kopi panasnya. Dia tak menyangka keponakannya benar-benar senekat ini. Dengan napas yang sesak, Astra menjawab, “Yakin, Paman. Dia sudah datang sebelas kali ke dalam mimpiku. Kalau sudah begitu, apalagi kalau bukan yang disebut wahyu,”
“Tapi, Tra. Mimpi itu bukan harus diikuti, mimpi itu belaka. Tak mungkin benar-benar ada.”Astra meneguk kopinya untuk yang terakhir kali. Dia menyisakannya sedikit.
Memang benar sih, dia belum sepenuhnya yakin. Tapi seseorang di dalam mimpi itu seolah menariknya untuk datang. Untuk datang kepadanya.
“Em, begini saja. Aku menginap di sini semalaman, besok aku akan mencarinya. Paman tak usah khawatir, ya?” Dia segera meninggalkan ruang tamu. Dan segera menuju kamar di rumah pamannya, di Pontianak. Besok, dia akan mencari seseorang yang namanya saja belum pernah terdengar di telinganya : Wisnu.
***
Kakinya melangkah dengan yakin. Pasrah akan apa saja yang hinggap di kakinya. Ular, serangga, hewan beracun, semuanya. Kini, beberapa bola mata tertuju kepadanya dan seorang anak kecil di sampingnya. Dari tadi, dia dituntun oleh seorang anak untuk menemui Wisnu. Awalnya, anak itu tidak mengerti apa yang dibicarakan Astra. Setelah Astra menyebut nama ‘Wisnu’ dia segera mengangguk-angguk pelan. Astra memandang sekitar. Pohon tinggi di mana-mana. Rumput di mana-mana. Manusia-manusia yang telanjang, walau tak sepenuhnya. Mereka hanya menutupi kemaluannya dan menatap Astra dengan tatapan menyeramkan. Dia juga mengelus dada saat mengetahui keadaan sebenarnya. Di benaknya, ia pikir ia akan dicabik-cabik sebagai manusia yang tidak dikenal. Tapi kenyataannya, sangat salah. Dan itu semua, benar-benar suasana yang sama seperti di mimpinya. Tiba-tiba, anak kecil itu menunjuk ke arah punggung seseorang. Tak memakai baju juga. Hanya memakai sebuah kain bermotif untuk menutupi kemaluannya. Astra memicingkan mata. Apakah ini yang namanya, Wisnu?
“Wisnu?”Anak kecil meninggalkanku sendirian. Suasana menjadi sunyi. Tak ada suara. Yang terdengar hanya panggilanku tadi untuknya. Orang yang disebut ‘Wisnu’ itu berbalik badan. Dan ia melempar senyum padaku.
“Aku tahu kau akan datang, Astra.”Astra menelan ludah. Matanya sedikit melotot. Air matanya mulai beraksi membasahi wajahnya yang penuh keringat. Keringatnya mendingin setelah menatap orang di depannya. Matanya, suaranya, bahasanya, benar-benar seperti orang yang dia sangat kenal.
“Astra? Kau ingat aku, kan?”Air matanya terus membanjir. Dia tak menyangka bahwa ‘Wisnu’ adalah dia. Orang yang selama sebelas hari menghampiri mimpinya. Segera ia berlari kecil menuju badan orang itu, dan memeluknya erat-erat. Rasa kangen tak terbendung lagi. Dia benar-benar sempat merasa kehilangan amat dalam karenanya.
“Aku tahu, Aku selalu tahu.” Jerit Astra dalam tangis. Pelukannya tak mau lepas. Semakin erat. Wangi keringat orang yang ia peluk juga sangat familiar baginya. Dia tahu. Dia tahu. Wisnu adalah orang yang ia rindukan lima tahun lamanya. “Kenapa? Kenapa waktu itu kau pergi? Kenapa kau meninggalkanku?” Ia merutuk-rutuk di dada Wisnu. Wisnu melepaskan pelukannya. Meletakkan tangannya di pundak Astra. Lalu mendaratkan tangan gagahnya di pipi Astra, menghapus air matanya, dan menuju ke telinga Astra. Di sana, ia memunculkan sebuah benda dengan ajaib:cincin.
“Aku pernah berjanji padamu. Aku akan menjadi orang yang pertama untuk melingkarkan cincin ini,” Wisnu segera melingkarkannya ke jari manis Astra. “Aku ada kembali karena ini, aku bukan pendusta, Astra.” Astra menatap cincin yang sekarang menghinggap di jari manisnya. Cincin yang terbuat dari kayu, berwarna merah dan hitam, bermotif seperti batik Toraja, kini melingkar di tempat yang ia impi-impikan.
“Kau masih menerimaku walau dalam wujud Wisnu, kan?”
Astra memandang Wisnu kembali. Dia sedang tidak memandang Wisnu sekarang. Dia sedang memandang Brahma, yang dulu sangat ia cintai. Brahma yang meninggalkannya selama lima tahun untuk bertemu Tuhan. Akhirnya, Astra menyadari bahwa Brahma bukan lagi Brahma, melainkan sosok Wisnu.
Dia segera menjinjit dan mendaratkan kecup sayang pada Wisnu. “Aku selalu menerimanya, Brahma!”
Selesai.
Kunjungi blog Sofwan di link ini
KataKami
@PramoeAga ~ Dear Sofwan, perhatikan lagi ya penggunaan awalan di- dan ke- . Semoga di tulisan berikutnya lebih rapi lagi. Oke! :)
@daprast ~ hmm… Kisah surealis yang magis. Secara isi, aku tak ada keluhan.
Tapi tolong, penggunaan EYDnya ya. Pelajari lagi.
Waktunya Kita Tidur, Nak!
by Dinar Tanama
Sunyi menyergap kamar kecil di sebuah rumah sederhana. Seorang ibu duduk di pinggir bale yang sudah terlanjur jadi kerajaan sebuah koloni rayap, sudah keropos. Ia menemani anaknya yang gelisah, enggan memejamkan mata.
“Bu, aku ga mau istirahat, aku masih mau main.”
Mendengar permintaan cintanya, Si Ibu tersenyum manis. Itu senyum paling manis dan indah yang pernah dikembangkan seorang manusia.
“Nak, kamu sudah lelah, dan kita harus istirahat.”
“Tapi Bu, kenapa sekarang, masih banyak yang ingin aku kerjakan. Tadi Awan bilang besok dia mau ajak aku ke empang Wak Dul. Mau nangkep kodok.”
“Ibu ngerti Sayang, tapi sekarang sudah waktunya kita istirahat. Tuh lihat, Bapakmu sudah duluan tidur.” menunjuk suaminya yang sudah sejak tadi menutup mata, berbaring di lantai kamar beralas tikar pandan satu-satunya di rumah itu.
Suasana makin senyap, tak ada satu pun makhluk Tuhan di sekitar yang berani mengganggu adegan syahdu antara mereka. Katak menyembunyikan kepalanya di bawah daun teratai, nyamuk memutuskan mencari korban di tempat lain, orkestra jangkrik memilih mengadakan konser di kampung sebelah. Angin pun berusaha sekuat tenaga menahan napasnya.
“Bu, kepalaku sakit, aku ga bisa tidur…”
Si Ibu memberikan kecupan di kening, berharap itu bisa menjadi obat yang mujarab untuk sakit kepala anaknya. Dan buah hatinya bisa segera beristirahat.
“Adek, coba pejamkan mata adek.”
Kembali si Ibu mengembangkan senyuman terindahnya, seolah ingin agar senyuman itu adalah pemandangan terakhir yang diingat anaknya sebelum menutup mata.
“Bayangkan, Bapak pulang dengan sekantong penuh es krim.”
“Aku suka es krim, Bu. Aku suka, Aku sangat suka es krim.” Menyeka ujung bibir, berusaha menahan air liur yang berlomba keluar menuju kebebasan.
“Iya Nak, Ibu juga suka es krim. Ada rasa stroberi, ada rasa cokelat, ada rasa, mmmm…. belimbing, ada rasa….., apa lagi ya?”
Berusaha keras mengingat rasa es krim yang pernah ia lihat di sebuah mini market, sebelah apotek tempat ia menebus obat untuk suaminya.
“Rasa duren, Bu. Aku suka duren.”
Cahaya terang memancar dari matanya, saking kuatnya pancaran cahaya itu, seolah sakit kepala yang ia keluhkan keluar bersamanya.
“Ya, rasa duren! Dan Adek ga perlu khawatir, karena di kantong itu es krim rasa duren ada banyak. Paling banyak di antara rasa yang lain.”
“Waaah, aku mau tiga Bu, tapi aku juga mau yang rasa belimbing.” menggigiti dua jari telunjuknya, takut ibunya tidak mengijinkan.
“Boleh, Cintaku. Tapi janji, es krim rasa durennya cuma tiga ya… karena kamu harus berbagi dengan Bapak. Bapak juga suka es krim duren.” Mereka tertawa pelan, menutup mulut dengan jari telunjuk.
Si Ibu membuat gerakan seolah-olah sedang membuka kantong plastik berisi es krim dari suaminya. Kemudian menjejerkan semuanya di meja sebelah bale. Menghitungnya, memastikan tidak ada yang tertinggal di kantong plastik.
“Adek mau makan yang mana dulu?” menyodorkan dua cup es krim dengan rasa berbeda.
“Aku mau yang rasa duren, Bu.”
Si Ibu memberikan cup es krim di tangan kanannya, dan meletakkan es krim satunya di pangkuan. Mereka berdua pelan-pelan membuka penutup atas es krim. Dan secara bersamaan merasakan suapan pertama masuk ke mulut mereka.
“Mmmm…. enak!
“Yang belimbing juga enak… Adek mau coba?”
Membuka mulut lebar-lebar menyambut suapan es krim belimbing dari ibunya.
“Iya enak Bu, tapi aku mau habiskan dulu es krim durenku.”
Suapan demi suapan berlalu, mereka baku pandang, tersenyum. Di suapan terakhir, Adek seperti tidak sanggup menahan keinginan kuat kedua matanya untuk menutup. Sekuat tenaga ia arahkan suapan terakhir es krim duriannya ke mulut mungilnya. Begitu sendok es krim menyentuh mulutnya, rombongan air liur yang sejak tadi terpenjarakan akhirnya merdeka, memperoleh kebebasannya. Dengan bersemangat mereka keluar bersama busa putih yang akhirnya memenuhi mulut Adek. Si Ibu tersenyum, walau sudah tidak lagi Indah. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Adek hingga ke dada. Dihapusnya busa putih yang menutupi bibir merah anaknya dengan sehelai kain lusuh. Kain itu kain kesayangan Adek. Adek tidak bisa tidur tanpanya.
“Adek cantik, Tuhan pasti sayang sama Adek.” kembali dikecup kening putrinya.
Si Ibu membalikan badannya, meninggalkan bale keropos, satu-satunya harta berharga yang mereka miliki, berjalan perlahan mendekati sebuah meja di dapur. Diraihnya gelas berisi cairan berwarna kuning bening yang telah ia siapkan sejak sore tadi. Gelas itu hanya terisi setengah. Diabaikannya bau menyengat dan rasa pahit cairan itu. Dengan mata terpejam, Ditenggak habis sampai tak tersisa. Dalam hati ia berdoa dan berharap Tuhan akan menuliskan skenario kehidupan yang lebih baik untuk ia dan keluarganya, di kehidupan berikut.
Dengan langkah sempoyongan ia kembali ke kamar. Sekali lagi ia kecup kening putrinya. Kemudian merebahkan diri tepat di samping suaminya yang sudah mendingin. Kepalanya mulai terasa sakit. Sekelebatan, kenangan ketika suaminya dulu melamar muncul, ketika Adek menangis saat pertama kali mata bulatnya melihat dunia, ketika Adek datang sambil berlari memeluknya, memperlihatkan kakinya yang berdarah karena terjatuh saat bermain. Matanya perlahan menutup, susah payah ia tersenyum.
“Sekarang kita bisa istirahat dengan tenang, Mas.”
Suasana tetap senyap, Katak ramai berkumpul di atas daun teratai, rombongan nyamuk sudah kembali dengan perut kenyang. Orkestra jangkrik baru pulang dari konser di kampung sebelah. Angin bertiup syahdu. Tapi tetap senyap…….
KataKami
@PramoeAga ~ Terimakasih, Dinar sudah bergabung. Terus kirimkan tulisan ya, cek website kamu untuk tahu temanya.
@daprast ~ Aku tak bisa berkomentar banyak. Seperti membaca tulisanku sendiri.
@therendra ~ Tragedi yang indah. Tutur mungkin masih perlu dibenahi, namun eksekusi ide sudah cukup matang. Substansi dan esensi mencapai tujuannya dengan baik.
Obsesi Gadis Lokna
by Danan Wahyu
Dataran tinggi Gayo. Mereka menjauhkanku dari air dan laut. Aku tertanam sunyi di puncak Burgayo. Pinus-pinus tertawa melihat kemalanganku.
***
Ulee Kareng 7 tahun yang lalu. Sekali lagi kupagut cermin di dinding. Betapa gagahnya dalam balutan baje meukasah. Hantaran berhiaskan kerawang Gayo berjajar di ruang tamu. Handai taulan berkumpul bersiap menjemput kebahagiaaanku. Akan kupinang gadis Lokna bermata biru.
Milna. Perawan pantai berdarah Portugis mencuri hatiku. Lirikan matanya bagai air laut menenangkan. Kulitnya putih halus bersinar di bawah mentari. Gemulai tubuhnya menghardik rasa gundah di sanubari. Tak mudah untuk meluluhkan hatinya, apalagi keluarganya. Adatnya tak bisa menerima orang luar apalagi pria berdarah Gayo. Tapi tak ada yang mustahil untuk cinta. Kupertaruhkan waktu bertahun-tahun untuk menanti
cinta dan restu kerabatnya.
Terbayang bibir mungil samar menjawab pinanganku dari balik kerudung. Wajah bersemu merah mengisyaratkan setuju sambil mengangguk. Langkahku semakin mantap untuk menyunting hatinya menjawab semua ilusi dan mimpi.
Beriringan kami menuju Lokna. Tiba-tiba bumi bergetar tapi tak menyurutkan langkahku. Orang lari tunggang langgang panik tapi aku tetap kukuh. Gemuruh langit dan bumi bersatu menghentak di setiap langkahku. Aku selalu yakin dengan keinginanku. Air bah menyapu bumi, aku tetap maju tapi tangan-tangan itu menarikku. Hasratku tak surut.
Hitam, pekat, gelap. Malam menyelimuti Banda Aceh. Aku tak tahu ini mimpi atau nyata. Desa Milna porak poranda. Halus kudengar suaranya memanggilku. Angin menuntunku untuk bertemu gadis pujaanku. Aku berjalan menuju lautan lepas. Tapi lagi-lagi tangan-tangan itu menarikku ke bumi.
Tangan-tangan itu membawaku ke Takengon, memasungku di Burgayo.
***
Kupandang birunya danau Lot Tawar dari dataran tinggi. Angin kembali menuntunku. Aku berada di Ujung Nunang, tebing selatan danau. Milna memanggilku, suaranya semakin kuat. Birunya danau bagai kerlingan mata menggodaku. Bayangan wajah cantik mengurai jelas di riak gelombang.
“Didong didong didong do didong ni. Didong ko kin seni ni urang Gayo ni. Tikik tikiki telas basa, bijak cerdik tutur kata. Roneng tikik makin gaya, osop macik pora-pora. Didong denang didong didong ku denang”
Kulantunkan sebait Didong pada kehidupan yang kejam. Angin menghempas tubuh lelah ini ke birunya air. Ke dasar terdalam obsesi tentang gadis bermata biru.
KataKami
@PramoeAga ~ Hanya perlu lebih berlatih mengenai plot saja. Semangat, Danan! ;)
@daprast ~ Aku melihat upaya keras Danan untuk menggunakan diksi yang tak biasa.
Upaya yang kuacungi jempol, sebanyak jempol yang kupunya. Namun demikian, hati-hati dengan maknanya, ya.
@th
Rahasia di Balik Tambur
by Riga @attararya
“Koooong….”
Suara melengking milik seorang remaja pria menyeruak di antara suara tambur, tiupan klarinet dan terompet serta kecrekan yang berpadu harmonis melagukan irama Jali-Jali. Sore itu sekumpulan lelaki sedang berlatih bersama di ruangan depan rumah tua milik Kong Salim. Tetapi lelaki-lelaki tua itu seperti tak merasa terganggu, masih asyik melanjutkan permainan mereka. Lagu itu masih berlanjut hingga beberapa menit kemudian hingga seorang lelaki yang memegang klarinet di sudut ruangan mengangkat tangannya tanda selesai. Serentak semua suara alat musik berhenti.
“Ada apa, Mamat?” tanya lelaki berumur menjelang 60 tahun itu sambil mengelus klarinet. Pandangannya ia arahkan ke bagian dalam alat musik itu. Meneliti lubang kecil di ujung bawah, membersihkan dengan saksama. Mamat sejak tadi hanya berdiri di depan pintu.
“Ada tamu, Kong. Kayaknya orang kaya. Dia…” Belum sempat Mamat menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara terdengar dari arah belakang.
“Assalamualaikum, Pak Salim. Kita ketemu lagi, ya.”
Lelaki tampan perlente berumur sekitar 30 tahun muncul di pintu. Rambutnya tersisir rapi, kemeja birunya nyaris licin sempurna, wangi parfumnya menggelitik indra penciuman Mamat. Hidung Mamat kembang kempis, cengirannya merekah. Lelaki itu melangkah ke depan dan mengulurkan tangannya.
Kong Salim menyambut uluran tangan lelaki perlente itu.
“Alaikumsalam, Pak Mardi. Iya, kita ketemu lagi. Apa tujuan bapak ke mari masih sama?”
Kong Salim tampaknya enggan terlalu banyak berbasa-basi. Ia tidak suka lelaki di hadapannya ini sejak pertemuan pertama mereka bulan lalu. Ketika lelaki ini menyatakan niatnya membeli semua alat musik orkes tanjidornya.
Kong Salim memberi isyarat kepada enam lelaki tua yang tadi bermain musik bersamanya. Mereka bergegas membereskan peralatan yang tadi mereka mainkan, menyusunnya di dalam peti yang tergeletak di sudut ruangan belakang, lalu keluar dari rumah.
“Mat, bikinkan teh dua.”
Mamat mengangguk dan berlalu ke belakang rumah.
“Silakan duduk, Pak.” Sebagai tuan rumah yang mesti berlaku sopan pada tamu, Kong Salim menekan rasa tak sukanya. Ia akan mempertahankan sikapnya, sama seperti bulan lalu. Pak Mardi duduk perlahan di kursi yang terbuat dari rotan. Terdengar suara berkerenyit ketika ia menumpukan bokongnya.
“Niat saya masih sama, Pak Salim. Saya berniat membeli alat-alat tanjidor bapak. Saya tahu saat ini orkes tanjidor bapak sudah amat jarang menerima tawaran. Saya juga tahu bapak dan juga teman-teman bapak sekarang ini sedang dalam masalah keuangan. Saya yakin tawaran saya ini cukup membantu. Saya akan naikkan tawaran saya menjadi 20 juta.”
“Saya tidak berniat menjual orkes musik saya ini, Pak Mardi. Sama sekali tidak ada niat. Memang benar sudah lama kami tidak mendapat order, tapi itu bukan masalah buat kami. Sudah biasa.”
Pak Mardi terdiam sejenak. Semula ia berharap Kong Salim akan memikirkan tawarannya. Tapi ternyata ia salah. Sebelum sempat Pak Mardi berbicara, Kong Salim sudah bertanya.
“Sebenarnya apa tujuan bapak membeli orkes ini? Bapak ingin melestarikan kebudayaan? Kok saya nggak yakin ya? Atau bapak cuma sekedar kolektor yang ingin menambah koleksi?”
Pak Mardi tergeragap mendapat berondongan pertanyaan dari Kong Salim. Sejenak ia menimbang-nimbang apakah ia akan jujur saja menjawab. Pak Mardi menghela napas panjang. Sepertinya lelaki di depannya ini tak akan percaya dengan apa yang akan dia katakana, tapi ia pikir lebih baik jujur saja. Mungkin berhasil.
Belum sempat ia menjawab, dari pintu belakang terlihat Mamat berjalan mendekat. Di tangannya ada nampan kayu dengan dua gelas teh yang masih mengepulkan uap. Mamat meletakkan dua gelas di depan masing-masing lelaki. Kakinya bergeser ke kursi di samping Kong Salim, tapi pelototan Kong Salim menghentikan langkahnya. Salah tingkah, akhirnya Mamat memilih masuk lagi ke dalam rumah.
“Pak Salim, saya tidak tahu apakah bapak akan memercayai alasan yang akan saya ungkapkan ini. Alasan sebenarnya saya berniat membeli orkes milik bapak adalah untuk memenuhi amanat terakhir almarhumah ibu saya. Dia meninggal enam bulan lalu.”
Kong Salim diam mendengarkan. Sikapnya yang tadi keras, terlihat sedikit mengendur. Jelas ia tertarik mendengar kalimat Pak Mardi barusan yang berbeda sama sekali dengan apa yang ia bayangkan selama ini.
“Ah..maaf saya lupa menyilahkan Pak Mardi minum. Hati-hati mungkin masih panas. Setelah itu silakan lanjutkan cerita bapak.”
“Terimakasih, Pak Salim.”
Sejenak tak ada yang berbicara di antara keduanya. Tangan mereka mengangkat gelas yang masih mengepulkan uap panas, menyeruput sedikit isinya.
“Ibu saya, “lanjut Pak Mardi”, meninggal akibat kanker ganas di lehernya. Sebelum ia kehilangan kesadaran akibat koma, ia sempat menyampaikan wasiat. Semula saya tak mengerti apa yang ibu saya maksudkan. Ia hanya berpesan “ tanjidor, surat, rahasia, maaf”. Hanya kata-kata itu yang terus ia ulangi.”
Pak Mardi mengehela napas, mengusir bayangan tubuh kurus kering ibunya yang menatap dengan pandangan teramat sayu. Matanya menerawang. Di depannya Kong Salim terdiam, berusaha menebak apa yang dimaksud dengan kata-kata “tanjidor, surat dan rahasia kamu” itu.
“Sebulan setelah meninggalnya ibu, saya masih belum bisa menebak apa yang ia maksudkan. Saya gelisah karena belum juga berhasil melaksanakan wasiat terakhir beliau. Sampai suatu hari secara tak sengaja saya menemukan petunjuk. Sebuah foto lama dari album keluarga yang sama sekali tak saya perhatikan sebelumnya. Ini fotonya.”
Pak Mardi merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah foto hitam putih, mengulurkannya pada Kong Salim. Pak Mardi mengamati perubahan air muka Kong Salim ketika menatap foto itu.
“I..ini ibumu? Maya?”
Telunjuk Kong Salim tertuju pada sosok seorang remaja puteri yang sedang duduk di depan sebuah orkes tanjidor lengkap dengan alat musik masing-masing. Ia duduk bersama beberapa remaja perempuan lainnya. Wajahnya cantik dalam balutan kebaya polos. Demikian lugu sekaligus memesona. Terbaca sebuah nama di bagian atas foto itu, “Orkes Tanjidor Kalijodo”.
“Pak Salim kenal ibu saya? Di mana?”
Seketika wajah Pak Mardi memancarkan harapan. Sebuah petunjuk lagi. Semakin dekat ia dengan jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya selama enam bulan belakangan ini.
Kong Salim menghela napas panjang. Matanya mengerjap, menerawang mengais ingatan masa lampau. Pak Mardi merasa tak sabaran. Matanya menuntut jawaban, tapi bibirnya terkatup rapat.
“Ceritanya sudah lama sekali. Lebih dari 30 tahun yang lalu. Dulu orkes ini milik majikan saya, yang akhirnya dipercayakan kepada saya untuk meneruskannya. Dan Maya sangat menyukai orkes tanjidor ini. Ia selalu datang ketika kami sedang latihan. Umur Maya sekitar 16 tahun saat itu. Kadang ia ikut pula rombongan kami ketika sedang pentas, entah di acara pernikahan atau pada saat ada keramaian. Tapi saya rasa alasan sebenarnya ia selalu ikut bukan cuma karena menyukai orkes tanjidor ini, melainkan ia juga menyukai Mulyadi, anak salah satu pemain klarinet yang juga selalu datang setiap orkes ini mengadakan latihan. Anak muda yang tampan, meski menurut saya agak sedikit bandel. Saya rasa wajar saja kalau mereka saling menyukai dan pacaran.”
Kong Salim menghentikan sejenak kalimatnya. Hanya beberapa jeda kemudian ia melanjutkan.
“Tapi beberapa bulan kemudian saya pernah menemukan Maya sedang duduk sendirian di ruangan tempat latihan. Ketika saya tanya, ia bilang tak sedang menunggu siapa-siapa. Meskipun wajahnya saat itu terlihat sedikit pucat dan gelisah, saya tak punya pikiran apa-apa. Saya biarkan ia di situ, sementara saya keluar untuk bekerja. Ketika saya kembali beberapa waktu kemudian, Maya sudah tak di situ lagi. Padahal saat itu saya baru teringat untuk menyampaikan pesan bahwa Mulyadi sudah pergi merantau ke Kalimantan. Tapi akhirnya saya berpikir, pastilah Mulyadi sudah menyampaikan hal itu pada Maya. Sejak itu saya tak pernah melihat Maya. Hanya ada selentingan yang saya dengar, seminggu kemudian dia menikah dan dibawa suaminya ke Sumatera. Cuma itu yang saya tahu.”
Kong Salim menghentikan kisahnya. Tenggorokannya terasa kering. Perlahan tangannya meraih gelas teh, dan meneguk habis isinya. Pak Mardi hanya terdiam. Ternyata teka-teka ini belum menemukan jawabannya.
“Pak Mulyadi ini, apa bapak tahu di mana dia sekarang?”
“Setahu saya dia sudah meninggal setahun lalu di Kalimantan. Dia terlalu banyak merokok. Paru-parunya tak kuat. Lewat! Oh ya, saya lupa bertanya tadi. Kenapa kamu berpikir orkes tanjidor saya ini ada hubungannya dengan pesan ibu kamu?”
“Oh! Sebenarnya saya hanya menebak saja. Saya berpikir akan menemukan jawaban atas wasiat ibu di sini. Sebab nama orkes milik bapak yang tertera di foto. Saya menduga ada petunjuk yang ditinggalkan ibu saya di antara alat musik tanjidor milik bapak. Itu lah sebabnya saya terus mencoba meski bapak sudah menolak saya saat itu.”
Kong Salim tertawa kecil. Ia menggelengkan kepalanya sedikit.
“Begitu rupanya. Semacam surat yang ditinggalkan, begitu? Atau pesan yang diguratkan? Bisa saja. Tapi saya minta maaf tidak bisa membantu Pak Mardi menemukan jawaban atas wasiat ibu anda. Saya rutin memeriksa alat-alat musik milik saya, dan tak ada sebuah pesan pun yang ada di tiap bagiannya. Semuanya tampak wajar. Dan saya tegaskan sekali lagi, saya tidak berniat menjual orkes saya. Ini sudah seperti belahan jiwa saya.”
“Saya mengerti pak. Saya hanya merasa lelah mencari jawaban ini. Mungkin sudah saatnya saya berhenti mencari. Mungkin wasiat ibu bukan sesuatu yang benar-benar penting.”
Sejenak mereka berbincang tentang hal-hal remeh. Persoalan pembelian orkes tanjidor dan misteri wasiat sejenak terlupakan. Kong Salim sudah jauh lebih ramah sekarang. Sesekali terdengar tawanya.
Mendadak dari ruangan di belakang terdengar suara benda jatuh. Kong Salim segera berdiri.
“Sebentar, Pak Mardi. Saya lihat dulu apa yang terjadi di belakang. Jangan-jangan si Mamat bikin ulah lagi. Mamaaaaat!” bergegas Kong Mardi berjalan menuju ruang belakang. Di sana ia lihat Mamat cengar-cengir. Di tangannya ada sebuah tambur, tampaknya benda itu lah yang tadi jatuh dan menimbulkan suara berisik.
“Ga sengaja, Kong. Tadi Mamat pengen bersihin aja, tapi eh ada kucing lewat. Mamat kaget, lepas deh tamburnya. Maaf, ya Kong.”
Kong Salim masih terlihat sedikit kesal saat mengambil tambur tadi dari tangan Mamat. Usia tambur itu sudah tua. Tapi ia tak berniat menggantinya, sebab bunyi yang dihasilkan kulit kambing yang dijadikan membran sudah sangat khas. Menggantinya dengan kulit baru hanya akan merusak harmoni yang sudah tercipta selama ini.
Sejenak ditelitinya alat musik serupa bedug kecil itu. Ada sedikit rompal di bagian tempat tambur itu jatuh. Tapi selebihnya tambur itu baik-baik saja. Tapi apa itu yang sedikit terbuka di bagian dalam tambur? Semula Kong Salim mengira ada jahitan kulit kambing yang terlepas. Ia membawa tambur itu ke depan rumah tempat Pak Mardi sedang menunggu, setelah sebelumnya melotot galak ke arah Mamat. Mamat hanya tersenyum kikuk.
“Ada yang rusak, Pak?” Tanya Pak Mardi memperhatikan tambur di tangan Kong Salim.
“Sepertinya tidak ada. Cuma ada sedikit bagian dalam yang sobek atau jahitannya lepas. Pasti akibat benturan tadi. Saya rekatkan saja dengan lem nanti.”
Tangan Kong Salim masih terus mengelus-elus bagian dalam tambur. Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah. Ujung jarinya menyentuh sesuatu di bagian dalam tambur. Dibalikkannya tambur itu, meneliti lebih saksama. Ia melihat ada sesuatu menyembul dari bagian dalam kulit kambing yang terbuka. Ia tarik benda itu dengan perlahan. Sebuah kertas yang dilipat kecil.
“Lihat, Pak Mardi. Mungkin ini sebuah surat.”
Perhatian Pak Mardi seketika tertuju pada kertas di tangan Kong Salim. Dadanya berdebar keras. Mungkinkah ini merupakan jawaban dari wasiat ibu?
Kong Salim membuka kertas itu dengan amat hati-hati. Kertas itu sudah menguning dan terlihat demikian rapuh. Tapi ternyata kertas itu cukup kuat. Kong Salim berhasil membuka lipatan kertas tanpa merobeknya sedikitpun. Sejenak ia membaca tulisan yang tertera di kertas. Lalu kertas itu ia sodorkan ke arah Pak Mardi yang sejak tadi memperhatikan.
“Surat dari Maya untuk Mulyadi. Bacalah.”
Tangan Pak Mardi sedikit gemetar menerima kertas yang usianya lebih tua ketimbang dirinya. Perlahan matanya menekuri kata demi kata yang tergurat. Tanpa sadar matanya merebak. Di depannya Kong Salim menatap penuh pengertian. Pak Mardi terlihat sedikit terguncang. Tapi tak lama ia sudah bisa menguasai dirinya. Tersenyum samar, Pak Mardi berpamitan.
“Terimakasih banyak, Pak Salim. Sekarang saya mengerti siapa saya sebenarnya saat ini. Tapi apapun yang sudah terjadi, saya tetap sayang dan hormat pada ibu saya. Cinta saya tak berkurang sedikitpun.”
Kong Salim tersenyum bijak. Menepuk-nepuk pundak Pak Mardi.
“Saya pamit, Pak Salim. Saya harap lain waktu kita bisa bertemu lagi. Oh, saya juga mendoakan semoga orkes tanjidor bapak dapat tawaran tampil lagi di banyak tempat. Amiin.”
Kong Salim ikut mengaminkan.
“Mari saya antar Pak Mardi ke depan.”
Berdua lelaki itu melangkah ke halaman rumah Kong Salim yang lumayan luas. Mobil Pak Mardi diparkir di luar pagar sebab di halaman sedang ada tumpukan bahan-bahan material. Keduanya tampak akrab. Sesekali Kong Salim menepuk pundak Pak Mardi. Setelah menutup pintu mobil, Pak Mardi mengucapkan salam lalu melambaikan tangan. Kong Salim membalas dengan senyuman lebar. Mobil melaju perlahan di jalan yang kini sepi sebab hari mulai gelap.
******
Di ruang depan rumah, Mamat mengamati ruangan yang kini sepi. Ia melihat tambur yang diletakkan Kong Salim di atas kursi. Dan selembar kertas menguning di atas meja. Dengan tampang heran diraihnya kertas itu. Berusaha membaca tulisan di tiap barisnya. Agak sulit sebab kalimat-kalimatnya tertulis dalam ejaan lama.
“Abang Moeljadi jang saja sajangi. Saja resah boekan kepalang saat ini. Ajah dan iboe tidak menjetoedjoei hoeboengan kita. Mereka akan mengawinkan saja dengan anak kerabat mereka dari kampoeng minggoe depan. Setelah itoe saja akan dibawa ke Soematera. Saja takoet sekali. Saja ingin pergi sadja bersama abang. Saja djuga soedah doea minggoe tidak datang boelan. Saja takoet saja soedah hamil. Abang Moeljadi, tolong saja. Adjak saja pergi bersama abang. Saja toenggoe djawaban abang segera.”
Dari Adindamoe : Maja
KataKami
@PramoeAga ~ Dhuooorr!! Alur detail dan drama menjadi kekuatan tulisan Riga. Kapan-kapan pengen nantangin ah untuk bikin #111kata :p
@daprast ~ Ini kisah dengan konflik berlapis. Dikemas dengan rapi, tidak saling tindih, tapi saling topang. Ini bisa dikembangkan menjadi satu novel roman panjang.
@therendra ~ Matang. Konflik yang komplit. Tutur dukung mendukung antara kata. Saya bisa menebak ending-nya namun tetap menahan diri sampai akhir. Satu hal, ini cerita pendek yang ditulis dengan diksi yang terlalu panjang. Pembaca bisa bosan di tengah-tengah.
Hobi, Kenangan, Lama
by Andi Wirambara
Kupalingkan wajah. Tak jelas bagaimana menggambarkan suara itu. Entah merintih, mengerang, atau di telingaku lebih seperti auman singa. Hanya saja, yang mengeluarkan suara itu bukan singa, tapi kerbau. Dan aku seorang wanita yang merinding mendengar itu. Mendengarnya saja sudah ngeri, apalagi melihatnya. Kalau perlu kujelaskan, yang tak ingin kulihat ini adalah prosesi menombak kerbau oleh sekelompok orang yang melakukan Tiwah. Sebuah ritual adat—pun ritual keagamaan—para masyarakat Dayak Ngaju. Tepatnya penganut agama Kaharingan.
Perasaan merindingku meningkat saat kucoba kembali melihat kerbau itu. Tepat saat menoleh, tombak menghunus kerbau itu di paha sebelah kiri. Aku tercekat, perutku mendadak mual. Dari serangkaian ritual Tiwah, seharusnya aku melewati bagian ini. Ini pertama kalinya aku menyaksikan Tiwah, padahal sudah tujuh tahun aku tinggal di rumpun Kalimantan Tengah ini. Dari kota Kuala Kapuas, Pulang Pisau, hingga menetap di Palangkaraya. Sebelum menikah tujuh tahun lalu, aku sebenarnya hobi berpergian. Ya, kau boleh menyebutku backpacker.
Aku wanita pemberani? Bukan. Justru kulakukan itu karena aku seorang penakut. Tak percaya? Hanya bermodal rasa penasaranlah aku nekat memulai hobi traveling ini. Dan dasar takdir, dari hobi ini pula kutemui Arka, lelaki yang akhirnya mengikrarkan janji sehidup-semati denganku, lalu memboyongku pindah ke beberapa kota di Kalimantan Tengah. Tempat pekerjaan menugaskannya. Kami bertemu sewaktu aku menanyakan perihal tempat wisata yang patutnya kukunjungi sewaktu di Lampung. Kami kebetulan berpapasan denganku di jalan. Sebuah momen manis-dramatis—yang sering buatku tersenyum sendiri kala mengingatnya kembali—terjadi. Hujan turun. Kami akhirnya berteduh di sebuah warung makan. Dan dengan ramahnya ia menawarkanku untuk makan sembari menanti hujan reda. Dari situ kami banyak mengobrol, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Lampung. Kami bertukar nomor handphone, saling berkomunikasi dan kian dekat. Ujungnya? Klasik, kami saling jatuh cinta. Hidup bersama.
***
Hari ini aku melakukan hobiku yang telah lama vakum karena menjadi ibu rumah tangga. Menjelajah. Kali ini menyaksikan ritual adat yang sudah lama kutahu, namun tak sempat kulihat secara langsung, yaitu pesta Tiwah. Sederhananya, Tiwah adalah ritual sarat agama untuk menyucikan arwah leluhur, orang tua, atau keluarga yang telah meninggal. Sebagai syarat agar lancar jalannya menuju surga. Ah, andai dapat kuajak anak-anakku menyaksikan ritual unik ini juga…
“Maaf, Bu, permisi…”
“Ah, iya…”
Seorang lelaki yang sedikit lebih pendek dariku hendak melepaskan diri dari kerumunan orang yang menyaksikan ritual Tiwah. Entah kenapa, aku tak henti menatap lelaki yang berlalu barusan hingga hilang lagi di kerumunan seberang tempat aku berdiri kini. Potongan rambutnya, mirip sekali dengan Arka. Ah, andai Arka juga di sini… tidak! Ini adalah hari yang seharusnya penuh kumanfaatkan untuk mengenang masa-masa kesukaanku berjalan-jalan dulu. Aku tak mau terganggu oleh lamunan-lamunan. Aku tak mau dulu memasukkan kegalauan ke pikiranku hari ini. Arka, juga anak-anak. Aku tak mau menitikkan air mata di tempat ini. Ha, ha, ha. Sepertinya terlambat, ya? Tetesan kecil air berbaring di ujung sepatuku.
***
Matahari sudah tak lagi seolah berada di posisi tombak yang tegak. Aku telah melihat hampir seluruh prosesinya. Dan yang cukup membuatku bergidik, adalah saat kuburan leluhur keluarga yang melakukan Tiwah digali kembali, mungkin usia kuburan itu sekitar 20 tahun. Bisa ditebak bahwa yang ditemukan adalah tulang-belulang. Belum selesai, tulang-tulang itu lalu dicuci dan dibersihkan. Dengan kain, mereka menggosok tulang hasta yang panjang, rusuk, hingga tengkorak. Inilah yang dimaksud menyucikan. Semua dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam Sandung—tempat penyimpanan tulang-tulang yang berbentuk seperti rumah dengan tiang yang menyangga. Dan karena biasanya diberi ukiran-ukiran yang cantik, kau bisa mengira itu miniatur rumah Suku Dayak tanpa menyangka di dalamnya tidaklah kosong, melainkan berisi tulang kerangka yang telah disucikan melalui Tiwah. Sepertinya sudah cukup.
Aku sudah mengambil banyak foto dari ritual adat ini. Aku pun berhasil menahan air mataku agar tak lagi turun. Hanya setetes yang berhasil lolos. Aku wanita yang tegar, bukan? Setelah ini aku akan pulang, memeluk anak-anak, mengecup pipi Arka, memasukkan foto-foto ini ke laptop, dan bercerita panjang lebar tentang pengalamanku hari ini dengan seduhan teh dan kue bolu yang turut memaniskan hangat ruang keluarga. Bersama rombongan wisatawan lain, aku memasuki mobil untuk kembali ke Palangkaraya. Ah, aku lupa memberitahu bahwa Tiwah yang sedang kusaksikan bukan di Palangkaraya, tapi di daerah Katingan, kabupaten yang hanya berjarak kurang lebih 88 kilometer dari Palangkaraya.
Posisi duduk sudah pas, tepat di samping jendela, aku melemparkan pandangan ke deretan pohon-pohon yang tegak berdiri. Tampaknya seluruh penumpang sudah masuk. Mesin mobil dinyalakan. Dengan wajah datar kutengok handphoneku dan membaca sebuah SMS. “Mama sang petualang, maaf ya kalau adek sama papa nggak di rumah waktu mama pulang dari pasar. Adek diajak berpetualang sama papa! Siapa tahu bisa jadi kayak mama.” Bibirku bergerak tak jelas, kurasakan air mulai hadir di pelupuk mataku. SMS yang dikirim anakku dari ponsel ayahnya itu tak pernah lagi ada lanjutannya. Dan kupastikan hari ini aku akan kembali mendapat sambutan mereka memelukku saat membuka pintu, lalu mengecup pipi. Seperti yang biasa kami lakukan sebelum SMS itu hadir tiga bulan lalu. Meski hanya dalam bayang-bayang Bagai air di daun talas. Air mataku membulat begitu saja di layar handphoneku.
KataKami
@therendra ~ Lebih dari yang bisa saya harapkan. Bara selalu membiaki jatuh cinta pada caranya bercerita. Ini bukan arus utama dalam dunia kisah, dan saya kira banyak orang menantikan yang sejenis ini. Yang kurang mungkin hanya kesehatan dalam tutur.
@PramoeAga ~ Karena Bara pernah tinggal di Kalimantan, nuansa budaya Dayak diceritakan dengan sukses. Pembaca seperti merasakan apa yang dilihat dan dirasakan tokoh. Good job.
@daprast ~ Ceritanya sebenarnya sederhana saja. Tapi Bara berhasil memolesnya dengan kalimat-kalimat yang tidak hanya sekadar pas. “Tetesan kecil air berbaring di ujung sepatuku.” Ini brilian!
Cintaku Tak Pernah Pudar
by Lia Khairunnisa @liakhairunnisa
Ombak berdesir hingga ke tempat aku berdiri. Sampai menyentuh kaki. Menghidupkan kembali ingatan yang sempat mati. Membangkitkan lagi kekecewaan yang sempat sirna. Air laut telah membawa pergi Ummi, Abi, Abang, dan kekasih hati.
Dua puluh enam Desember 2004. Seperti yang kalian tahu. Gempa bumi dan tsunami telah meluluhlantakkan kota kami, tanah rencong yang sangat kami cintai.
Delapan tahun telah berlalu. Kini kehidupan kami telah jauh membaik, namun luka itu masih tersimpan jauh didalam lubuk hati. Menyisakan sejuta pedih akan kehilangan.
Masih aku ingat saat aku terbangun pagi itu, dengan beribu perih menusuk tubuhku. Aku selamat, seorang relawan berhasil menemukanku. Kata mereka selama 4 hari aku tak sadarkan diri. Air laut telah membawa serta tangan kiriku. Tangan yang biasa kugunakan untuk menari saman. Tangan yang aku harapkan membawaku keliling Indonesia bahkan sampai luar negeri melalui tarian samanku.
Satu tahun berlalu, sang relawan baik hati yang menemukanku telah membuatkan tangan palsu untukku. Dokter berhati mulia itu telah memberikan secercah harapan dan sinaran pada hidupku yang gulita.
Satu tahun setelahnya ia menikahiku. Memberiku kebahagian. Membuat hidupku yang sebatang kara menjadi berwarna. Membangkitkan semangat hidup yang sempat sirna. Kemudian dia membawaku pergi ke Turki, tempat kelahirannya. Lalu kami menetap di sana.
Enam tahun sudah aku berpisah dengan Meulaboh. Kini aku kembali. Kerinduan membuncah dalam dada. Sekarang kota ini tampak telah tersusun rapih, tak lagi porak poranda.
Doaku, Tuhan jagalah saudara-saudaraku di sini, jangan datangkan lagi bencana, berilah kami keikhlasan untuk merelakan yang sudah lewat dan berilah kami kekuatan untuk menjalani sisa hidup yang kami punya.
Cintaku kepada bumi Nangroe Aceh Darussalam masih sebesar dulu, bahkan semakin hari semakin bertambah besar, tak akan pernah pudar. Tanah ini, tanah serambi Mekkah kesayanganku, tempatku dilahirkan dan dibesarkan, tempatku menuntut ilmu dan belajar.
Kunjungi blog Lia di link ini
KataKami
@therendra ~ Tulisan seperti ini biasanya bertujuan membangkitkan kenangan dan romansa terhadap suatu tempat. Dan ini berhasil. Sayangnya sebagai cerita, ia tak punya cukup banyak unsur yang ia butuhkan. Tak ada konflik. Tak ada pengenalan tokoh secara komprehensif. Setting belum lekat. Tutur sendiri cukup alami.
@PramoeAga ~ Lia, penulisan angka (1, 6, dll) bukan digunakan di awal kalimat ya. Koreksi aja nih.. Semangat! Chayo
@daprast ~ Kisah refleksif yang indah. Perhatikan bahwa di awal kalimat, angka ditulis dengan huruf. “Satu tahun”, bukan “1 tahun”. Suka!
Pembicaraan Malam ini Kita Lanjutkan Nanti
by Lia Khairunissa @liakhairunnisa
Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Aku dan rombongan baru saja tiba di kota ini. Kami disambut hangat oleh Bapak Gubernur. Bagaimana tidak, kami adalah rombongan tim bakti sosial dari Fakultas Kedokteran Gigi terkemuka di Jakarta. Setiap tahunnya kami memang rutin mendatangi daerah-daerah yang membutuhkan pelayanan kesehatan gigi maupun umum. Tahun ini giliran Banjarmasin yang kami sambangi.
Setelah acara penyambutan selesai, kami segera menuju tempat kami menginap. Lalu kami melakukan briefing guna membahas kegiatan yang akan kami lakukan esok hari. Tim besar ini akan dipecah menjadi empat tim kecil. Masing-masing tim akan ditempatkan pada satu desa dan selama satu minggu setiap tim akan memberikan pelayanan kesehatan di desa yang berbeda-beda.
Aku senang bukan alang kepalang saat aku mengetahui aku masuk di tim A. Karena aku ditempatkan satu tim dengan Kak Prama, senior yang aku taksir sejak dulu. Kami ditempatkan di Desa Halong.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali masing-masing tim berangkat ke desa tujuannya masing-masing. Sesampainya di Desa Halong kami segera mempersiapkan segala sesuatu untuk memulai kegiatan bakti sosial ini. Masyarakat di sini adalah penduduk asli Kalimantan Selatan, Suku Dayak. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan bakti sosial yang kami adakan. Di daerah ini pelayanan kesehatan yang ada memang kurang memadai.
***
Sudah dua hari kami berada di sini. Malam ini aku yang bertugas mempersiapkan obat-obatan yang akan digunakan esok hari. Setelah selesai mempersiapkan obat-obat tersebut aku keluar dengan maksud ingin mencari udara segar. Sesampainya diluar bukan udara segar yang aku dapatkan. Betapa hancurnya hatiku saat kulihat Kak Prama memeluk Kak Sinta. Sepanjang malam pikiranku tak tenang, aku ingin tidur namun mataku enggan memejam, bayangan Kak Prama dan Kak Sinta menari-nari di pikiranku.
Paginya, seperti biasa kami kembali melakukan pengobatan gratis. Hari ini aku bertugas di bagian obat. Pasien hari ini lebih banyak daripada kemarin-kemarin. Suasana hati yang tak menentu, kurang tidur dan banyaknya pasien membuat konsentrasiku berkurang.
Malamnya kami melakukan evaluasi. Ternyata aku salah memberi obat pada salah satu pasien. Pada resep tertulis obat kumur namun yang aku berikan adalah antibiotik. Dosenku marah besar. Kesalahan ini bisa berakibat fatal. Malam itu juga aku diperintahkan untuk mendatangi pasien tersebut dan menukarkan obatnya.
Aku berjalan dengan langkah gontai. Malam-malam begini aku harus pergi sendirian di daerah yang tidak kukenal. Tak lama Kak Prama menyusulku. Dia bilang dia akan menemaniku mencari alamat pasien tersebut.
Lalu sampailah kami di rumah pasien tersebut. Pasien itu kejang hebat. Tubuhku gemetar, sefatal inikah kesalahan yang aku lakukan? Tak ada yang bisa aku lakukan kala itu. Untung ada Kak Prama. Kak Prama dengan sigap memberikan pertolongan pertama pada pasien tersebut. Tak lama kejang pasien tersebut berhenti. Aku segera meminta maaf pada pasien tersebut dan menukarkan obat yang salah.
Dalam perjalanan pulang Kak Prama menegurku.
“Lain kali hati-hati Fey, jangan sampai salah ngasih obat. Lihat kan tadi, bisa fatal akibatnya. Untung pasien tadi cepat ditolong. Kalau tidak….”
“Kalau tidak aku sekarang sudah ada di kantor polisi ya kak.” Aku memotong ucapannya.
“Sudahlah, aku tak akan membahasnya lagi. Apa yang menyebabkan kamu bisa salah seperti itu Fey?”
“Aku tidak konsentrasi kak, maafkan aku.”
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Kakak. Semalam aku melihat kakak berpelukan dengan Kak Sinta. Semalaman aku tak bisa tidur, lalu paginya konsentrasiku buyar, aku tidak fokus, aku terus memikirkan kakak.”
Kata-kata itu meluncur cepat dari mulutku tanpa aku sadari. Sepersekian detik setelahnya barulah aku sadar. Mengapa aku harus mengatakan hal itu kepadanya? Aku merutuki diriku sendiri. Bagaimana kalau setelah ini dia menjauhiku? Lebih parahnya bagaimana jika setelah ini dia meninggalkanku sendiri di sini. Ini di tengah-tengah hutan, di belantara Kalimantan Selatan, daerah yang baru pertama kali aku kunjungi, bisa apa aku jika ditinggal sendiri di sini.
“Fey, semalam aku memeluk Sinta karena dia mendapat kabar bahwa kekasihnya baru saja mendapat musibah kecelakaan di Jakarta. Oleh karena itu aku menghiburnya. Tidak lebih. Fey, kau menyimpan perasaan untukku ya?”
Aku terdiam seribu bahasa.
“Fey, sesungguhnya aku menyukaimu. Kamu baik, cantik, cerdas, namun sekarang bukan saatnya memikirkan cinta, Fey. Sekarang ini yang perlu kita pikirkan adalah tentang kemanusiaan. Tentang kegiatan bakti sosial ini. Kita di sini bukan untuk main-main Fey.” Kak Prama melanjutkan ucapannya.
“Baiklah kak.” Ucapku sambil tertunduk.
“Hey Fey, coba lihat mataku.”
Aku mendongak menatap matanya.
“Pembicaraan malam ini kita lanjutkan lagi nanti di Jakarta ya. Sekarang kita harus fokus, besok pasien kita akan lebih banyak dari hari ini.” Katanya dengan mata jenaka sembari mengacak-acak rambutku.
Kunjungi blog Lia di link ini
KataKami
@therendra ~ Ya. Tulisan Lia semakin menarik saja. Semakin banyak warna yang menjanjikan pukau. Tetap awasi kemungkinan kesalahan eja.
@PramoeAga ~ Lope lope di udara… Good job, Lia. Komentarnya, judulnya bisa dipilih yang lebih pendek dong..
@daprast ~ Ceritanya mengalir enak. Adakah alternatif judul?












D5 Creation