Thursday, January 5th, 2012

now browsing by day

 

Gulali

by Bunga S. Putri @bunga_sp

“Merah dan manis ya, Bang!”

“Siap, Neng!” Aku meletakkan tanganku di kening serupa memberi hormat.

Langganan paling setia. Gadis kecil berparas cantik dan manis, semanis gulali buatanku. Aku terus memutar mesin pembuat gulali, ia begitu memperhatikan setiap kapas–kapas yang terbentuk dari gula pasir di mesinku sambil terus tersenyum menantikan batang kayu dipenuhi gulali berwarna merah yang manis.

“Terimakasih, Bang.” Ia memberi receh kemudian berlari–lari kecil sampai hilang dari pandangan mataku di tengah keramaian pasar malam. Hampir setiap hari selalu begitu sejak seminggu yang lalu pasar malam ini dibuka.

***

Hari ini matahari Jakarta begitu teriknya bersinar. Untuk kesekian kalinya aku menyeka keringat yang menetes dari dahiku. Bus TransJakarta ini memang menggunakan pendingin, tapi karena begitu banyak orang berdesakan sehingga tidak lagi terasa dinginnya, hanya sesak dan panas yang tersisa. Kampusku sudah hampir sampai, aku bergegas menuju pintu keluar agar bisa lebih dahulu keluar begitu tiba di shelter.

Aku bergegas ke ruangan administrasi, membayarkan uang kuliah karena minggu depan ujian. Hasil berjualan gulali di pasar malam yang berpindah–pindah cukup untuk tambahan biaya kuliahku. Terkadang kiriman dari orang tuaku di kampung tidak cukup untuk kuliah juga biaya hidup di kota besar seperti Jakarta ini. Aku tidak mau membebani mereka, sehingga kuputuskan untuk bergabung dengan kelompok pasar malam dekat kos. Kebetulan, belum ada yang menjual gulali saat aku bergabung.

***

Malam semakin larut. Hampir sepi, pengunjung mulai pulang ke rumah masing–masing karena rintik hujan sudah mulai turun. Aku pun mengemasi peralatanku.

“Bang, beli satu,” katanya sambil menyodorkan uangnya.

“Maaf, neng. Besok aja ya, sudah mulai hujan nih. Nanti kamu kehujanan,” jawabku sambil mengusap rambut hitamnya yang panjang. Ia hanya menggeleng, tangannya masih menyodorkan uang ke arahku. Aku duduk lagi kemudian membuatkan gulali untuknya di bawah gerimis.

“Makasih, Bang.” Ia berlari kecil dengan gulalinya. Aku hanya tersenyum turut senang. Gadis kecil itu selalu riang setiap kali membawa gulali buatanku.

***

Hari ini ia datang bersama ayah dan ibunya. Seperti biasa, membeli satu gulali kemudian menghilang di keramaian. Sungguh keluarga harmonis, aku membatin. Mereka terlihat begitu bahagia.

***

Koran pagi membuatku tersentak tidak percaya. Ditemukan sebuah mobil di dasar sungai yang berada di depan kawasan Ancol. Diduga sudah satu minggu tenggelam. Ayah, ibu dan satu anak perempuan kecil. Aku kenal betul wajah – wajah ini

Kunjungi blog Bunga di link ini.

KataKami

@therendra ~ Ceritanya menarik, cuma masih terlalu tertebak. Bunga banget. Penulisan sudah lebih rapi dari tahun sebelumnya.

@PramoeAga ~ Bunga banyak kemajuan. Cerita yang mengalir, tapi lebih baik lagi kalau endingnya tak terlalu terburu-buru. Paragraf tentang berita kecelakaan itu bisa lebih didramatisir lagi.

@daprast ~ Bunga, coba bandingkan versi yang tayang ini dengan yang di blogmu, ya. Ada beberapa editing kecil yang aku lakukan. Kemajuanmu luar biasa, aku terharu. Konfliknya masih bisa kamu gali lebih dalam, agar grafiknya tidak terlalu datar. Great work.

Nurhayati Punya Mimpi

by Ninaa @KataNinaa

Kata Babenya, Nurhayati kudu punya mimpi setinggi langit. Karena itu Nurhayati bermimpi. Mimpi yang pernah bikin ketawa Mamat, Lela dan Jupri, teman sepermainan gobak sodornya setiap hari..

“Nyak, Beh, satu hari nanti, Nur pengen ke luar negeri…”

Enyak Babenya cuma bisa bilang supaya Nurhayati belajar yang rajin, karena mimpinya bukan main-main. Babenya, Saepudin,  cuma tukang asah pisau gunting keliling. Emaknya, Saodah, kerja di restoran jalan besar jadi tukang cuci piring. Mimpi ke luar negeri masih jauh jalannya, Nurhayati sadar. Tapi tekadnya sudah bulat, suatu hari ia akan menapaki negeri di luar daerah Setu Babakan – tempat tinggalnya, tempat ia bermain setiap hari bersama Mamat, Lela dan Jupri. Tempatnya berangkat sekolah setiap pagi, tempatnya pergi ke sanggar tari Mpok Rini di siang hari dan tempatnya berangkat mengaji di malam hari.

Kata Mpok Rini, kita harus bangga sama kebudayaan Betawi, karena itu Mpok Rini enggak pernah menyerah mengembangkan sanggar tari milik Babenya sendiri. Mpok Rini bilang Nurhayati punya kemampuan, jangan pernah disia-siakan. Mulai dari Tari Ondel-Ondel, Tari Sirih Kuning, Tari Ronggeng Blantek sampai Tari Topeng Betawi Nurhayati bisa kuasai. Nurhayati senang menari, Nurhayati cinta kebudayaannya sendiri. Selalu bangga dengan apa yang dia miliki.

Nurhayati kecil dulu cuma punya mimpi, kini Nurhayati sadar, dia bukan saja punya mimpi, dia punya seni dan cintanya akan kebudayaan Betawi. Dan hari ini, Nurhayati tidak lagi bermimpi, Tari Topeng Betawi mengantarnya menjelajah Amsterdam, Budapest, Madrid, London, Berlin dan Helsinki. Nurhayati dulu cuma punya mimpi. mimpi yang pernah bikin ketawa Mamat, Lela dan Jupri, tapi kini tidak lagi. Karena Nurhayati tidak lagi cuma punya mimpi, dia punya seni dan cintanya akan kebudayaan Betawi.

KataKami:

@therendra ~ Kesederhanaan dalam tulisan ini mampu mengusung esensi nonfiksi dalam tubuh fiksi. Tulisan ini bermaksud menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya sendiri mampu membawa kita sangat jauh. Ini adalah prosa persuasi. Bagaimanapun, penulis sebaiknya lebih menggali rinci tulisan, misalnya dengan memaparkan beberapa jenis tarian secara detil, dengan menggunakan cerapan lima indera.

@PramoeAga ~ aku tidak menemukan konflik yang menggugah di sini; terlalu flat untuk ukuran fiksi, kurang detil dan faktual untuk non fiksi.

@daprast ~ Ninaa sudah punya hal penting dalam menulis karyanya ini, sebenarnya, mulai dari ide, karakter, tema, setting.. Aku membacanya sebagai sinopsis awal sebuah karya besar, yang bila diurai, misalnya perjuangan Nur dalam meraih mimpinya, kegagalan-kegagalan, tantangan yang dihadapinya, akan menjadi kisah yang tidak hanya indah, tapi juga menginspirasi.

Jakarta Penuh Cinta

by Sofwan Rizky @sofwanrzk

Seorang Sopir TransJakarta

…para petinggi Negara, melakukan korupsi sebanyak…

Setiap aku mendengarnya, aku pasti tersenyum. Melihat banyaknya kasus yang lucu bagiku di Jakarta. Urbanisasi yang aku lakukan 5 tahun yang lalu, sepertinya cukup untuk mengenal Jakarta.

Awalnya, aku kagum akan gedung-gedung pencakar langit, jembatan mewah, sarana berolahraga di sini. Tetapi itu semua hancur setelah aku menemukan kuncinya di Jakarta. Aku hanya bisa tersenyum melihat drama-drama pejabat tinggi negara lewat televisi kecil di rumah. Dan itu semua, membuatku seperti memiliki derajat lebih tinggi dibanding para koruptor di mana pun mereka berada.

Namun derajat itu pun turun seketika ketika istriku mematikan televisi.

“Berangkat kerja, sana! Mikirin politik melulu, pikirin keluarga kita! Baru negara!” Aku hanya tersenyum dan melangkahkan kaki; menurut. Ia seperti majikanku saja.

Jangan beranggapan kalau majikanku hanya sang istri; anak perempuanku juga. Dosa apa yang kubuat hingga hidup di antara dua perempuan yang keras kepala?

“Ayah tak pernah mengerti Dinda! Ayah sibuk dengan kerja! Padahal kerja Ayah, apa? Hanya sopir Trans Jakarta! Tetapi sibuknya seperti orang kantoran saja. Ditambah lagi, otaknya penuh sama politik, seperti para pejabat saja,” omelnya.

Aku hanya bisa menangis dalam hati. Dan sesekali bertanya-tanya. Apakah pindah ke Jakarta memang bukan pilihan yang tepat?


Seorang Pemain Musik Tanjidor

Jadi pemain musik yang katanya berasal dari Portugis ini, sebenarnya tidak buruk-buruk sekali, kok. Tetapi yang aku bingung, kenapa banyak orang yang memandang remeh pekerjaanku ini. Aku bingung, sekarang orang-orang sepertinya lupa sama budaya daerahnya sendiri, deh. Mereka seperti menjadikan tempat tinggalnya, untuk lahan perekonomian, tempat tinggal, hiburan, sudah. Tanpa mau mengetahui, usaha orang-orang yang membangun daerah yang mereka tinggali ini. Jika ada orang yang meremehkan kami, aku hanya bisa berkata, “Jika kamu atau kerabatmu menikah, ujung-ujungnya juga bakal memanggil kami.”

Ya, namaku Bayu. Pendidikan terakhirku SMA, dan langsung beralih ke pekerjaan yang aku cintai ini. Pemain Tanjidor. Aku adalah pemain paling muda dalam kelompok Tanjidorku ini. Di sini aku bertugas memainkan klarinet.

Tapi, ya beginilah. Orang-orang memandang pekerjaanku dengan remeh. Mereka lebih suka dengan Just The Way You Are, Someone Like You, Never Say Never, dibandingkan Jali-Jali, Batalion, Kroncong Kemayoran dan Surilang yang sering aku mainkan. Bahkan, keluargaku, yang melahirkan dan membesarkanku, juga ikut memandang remeh.

“Kerja di tempat nikahan mulu. Kapan dapat jodohnya?”

“Tiup tuh klarinet sampai dapat 1 milyar!”

Aku hanya bisa menghela napas. Mereka ternyata sama saja dengan orang-orang lain. Lucu ya, seperti tidak mendapat dukungan dari keluarga sendiri.

Tapi… jika saja ada keberanian untuk menjawab, aku akan menjawab bahwa aku sudah menemukan perempuan yang aku cintai. Dia juga mencintaiku. Aku hanya belum memilikinya sepenuhnya.

Namanya, Dinda. Jika aku berada di dekatnya, entah mengapa lahir beberapa senyuman dari bibirku ini. Kata-kata yang dilontarkannya seperti selalu memiliki makna yang indah bagiku. Yang tidak bisa menahanku untuk menyunggingkan senyum sambil menatapnya. Dan yang membuatku takjub, ia pernah berkata, “Mimpi apa aku semalam, sampai memiliki ayah seorang sopir Trans Jakarta dan memiliki pacar seorang pemain tanjidor.”

Seorang Tukang Kerak Telor

Mangkal di depan restoran memang benar-benar menyakitkan. Panasnya matahari yang membakar kulitku yang keriput, asap-asap kendaraan yang menghantam wajah dan riuhnya orang yang berlalu-lalang di restoran ini.

Restoran itu tampak banjir pembeli. Memesan spaghetti, lasagna, pizza, dan beberapa makanan yang sudah dipastikan tidak akan bisa berkompromi dengan lidahku ini. Aku hanya bisa memandang telor, dan segalanya yang aku bawa dikelilingi oleh beberapa lalat. Seperti penanda bahwa aku harus berpindah tempat. Dan ini tambah menyedihkan. Aku diusir oleh lalat.

Di bawah bulan yang telah menghiasi langit malam, aku lagi-lagi masih berada di pinggir jalan. Jika aku menerawang ke langit malam, terlukis wajah anakku yang menanti aku pulang, wajah istriku yang cantik yang menanti sejumlah uang yang aku bawa. Tapi, apa kenyataannya?

Firasatku, uang yang aku miliki belum bisa membahagiakan mereka. Hari ini, aku baru memiliki 4 penglaris. Mereka orang-orang yang rela terjun ke jalan untuk membeli kerak telor buatanku ini. Memandang hari ini, aku hanya bisa berharap Pekan Raya Jakarta akan segera datang.

Tetapi, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku menoleh, dan melihat senyum dari seorang pemuda lelaki yang menggandeng seorang gadis. Mungkin pacarnya.

“Pak, kerak telornya dua, ya,” pinta pemuda itu. “Dinda, makan kerak telor dulu, ya. Untuk mengganjal perut saja.”

Si gadis hanya mengangguk sambil tersenyum. Mengisyaratkan ‘tidak apa-apa, sayang’. Sedangkan aku, terus membuat kerak telor yang akan segera jadi ini.

Mereka terus berbincang layaknya sepasang kekasih. Ya, mereka memang sepasang kekasih. Dan, ini yang menyenangkan. Mereka rela duduk di pinggir jalan dibandingkan kursi bagus di restoran, dan menikmati kerak telor dibanding makanan-makanan asing itu.

Kerak telorku pun akhirnya jadi. Aku meletakkanya di piring kecil, dan menyerahkannya kepada sepasang kekasih ini. “Sungguh, Mas, Neng. Kalian pasangan yang benar-benar cinta Jakarta,” candaku.

Mereka saling memandang, dan tertawa.

“Hidup kami berdua, memang tak pernah lepas dari Jakarta, Pak. Sebenarnya, para pejabat negara, bahkan Presiden pun bisa duduk di sini. Hanya mereka belum melihat sisi lain dari Jakarta saja, Pak,” ujar pemuda itu sambil tersenyum.
Malam itu, di bawah sinar bulan, Tukang Kerak Telor, Bayu dan Dinda terus melempar senyum dan tawa. Mereka meyakinkan dalam hati mereka, bahwa…. Jakarta, memang indah.

Kunjungi blog Sofwan Rizky di link ini.

KataKami:

@therendra ~ Saya suka caranya yang segar membawakan kisah. Aliran diksi tidak terkesan ‘maksa’. Cerita seperti ini bisa mengajak kita mencemooh diri sendiri yang sudah memandang miring mereka yang sesungguhnya mencintai budaya.

@PramoeAga ~ Ide menggabungkan 3 potongan cerita di dalam 1 cerita utuh ini lumayan unik. Idenya juga oke. Perlu revisi ulang untuk beberapa kalimat yang terlalu panjang, pemilihan kata yang kurang tepat dan pemakaian tanda baca yang seringkali salah penempatan.

@daprast ~ Tidak terlalu kuat, dalam jalan cerita, namun menyodorkan keunikan dari keseharian yang, memang, tidak selalu penuh drama, bukan? Beberapa terpaksa kuedit, khususnya berkaitan dengan EYD. Sofwan, bandingkan dengan naskah aslimu, lalu perhatikan bedanya, ya.