Tembang Asmorondono

by Angka Priliandari @tweetycious

Tembang asmarandhana sayup-sayup terdengar.

Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitané
Luput pisan kena pisan
Lamun gampang luwih gampang
Lamun angèl, angèl kalangkung
Tan kena tinumbas arta

Aja turu soré kaki
Ana Déwa nganglang jagad
Nyangking bokor kencanané
Isine donga tetulak
Sandhang kelawan pangan
Yaiku bagéyanipun
wong welek sabar narima

Surti

Dia ingat tembang inilah yang membuatnya jatuh cinta pertama kali. Kepada lelaki yang pada awalnya sama sekali tidak menarik hatinya. Sampai tiga bulan yang lalu, lelaki ini menembangkannya untuknya. Dan sejak saat itulah dunianya terbalik. Nandang wuyung….itulah yang dirasakannya.

Sejak saat itu, dia mulai menutup hatinya pada semua lelaki yang selama ini dipacarinya. Hanya lelaki ini yang diyakininya sangat dicintainya. Dia menutup telinga untuk setiap nasehat dari sahabat atau kerabatnya yang mencoba mempertanyakan tentang keputusannya. Tekadnya sudah mantap, untuk melabuhkan hatinya pada lelaki ini. Dia meyakini sepenuhnya bahwa dia adalah lelaki terbaik untuk kehidupannya, yang dipilihnya atas dasar rasa cinta. Dan hari ini dipilihnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya.

Warso

Memandang mesra perempuan di sebelahnya. Tangannya tak terlepas menggandeng tangannya. Senyum merekah terus dari bibirnya. Perempuan yang selama ini dia idam-idamkan menjadi istrinya, yang pada awalnya tidak pernah menaruh perhatian secuilpun pada dirinya, akhirnya hari ini bisa dipersuntingnya juga. Tepat hari Kamis Wage setelah tiga bulan dia nembang untuknya. Butuh perjuangan dan usaha yang tidak mudah untuk menaklukkan hatinya. Usaha yang harus dipertaruhkan dengan seluruh harta benda dan mungkin jiwanya…suatu saat.

Nyai Kartoraharjo

Mbrebes mili melihat putri semata wayangnya di pelaminan.

“Akhirnya harus seperti ini’ batinnya. Mengingat-ingat lagi  semua permintaan dan tangisan Surti yang tiba-tiba ingin segera dijanurkuningkan dengan lelaki pilihannya. Seberapapun kuatnya usahanya untuk menghalangi pernikahan mereka, pada akhirnya Nyai Kartoraharjo harus menyerah pada ketentuan yang telah digariskan.

*

*

Bunyi gendhing dan gamelan terus mengalun seiring dengan berjalannya proses resepsi pernikahan kembang desa Surti dan Warso. Namun suara gamelan itu terdengar kalah nyaring dibandingkan dengan gumaman-gumaman yang hampir terdengar dari seluruh pojok-pojok gedung balai desa tempat pernikahan itu berlangsung.

“Pacar-pacarnya Surti dulu kan kaya raya dan necis-necis tho Ibu-ibu?” Bu Darso kasak-kusuk sambil memamerkan gelang emasnya. “si Majid yang kayak Primus itu, sampai si Kamto anaknya Pak Lurah pun tergila-gila sama dia”

“Begitulah kalau sok ayu dan suka nolak cowok-cowok yang naksir dulu. Itu tulah namanya” Bu Kamitua menyahuti sambil mengerucutkan bibirnya.

“Yah…mungkin sudah takdir si kembang desa ini kali” timpal perempuan bersasak tinggi di seberang meja.

“Tapi kok yo mesakne banget tho Mbakyu” bisik Yu Jinem.

Dan pergunjingan perempuan-perempuan itu, tidak pernah berhenti sampai proses pernikahan itu usai.

*

*

Dan di pelaminan sana, Warso terlihat sangat menikmati pesta perkawinannya. Dia tidak bisa berhenti tersenyum dengan gigi tonggos, mata juling, muka bopeng dan kaki pengkornya.

‘Akhirnya…bekerja juga” gumamnya. Tidak sia-sia usahanya empat bulan ini berguru pada seseorang untuk meminta ilmunya.

Kunjungi blog Angka Priliandari di link ini

KataKami

@therendra ~ Meski masih kurang rapi, tapi saya suka kesederhanaan cerita ini. Tidak kering dan bernuansa. Penggarapannya sudah cukup manis.

@daprast ~ Uraian Surti agak terlalu berputar-putar. Ceritanya bagus, tapi mudah ditebak. Perhatikan EYD.

2 Comments  to  Tembang Asmorondono

  1. adelliarosa says:

    Wow. Begitu dahsyatnya pengaruh suatu lagu :))

  2. Angka says:

    Terima kasih atas komen-nya momods yang baik dan ganteng (katanya) :). Jadi semangat nulis lagi niy. Baiklah…saya akan terus belajar lagi :).