March, 2012

now browsing by month

 

Aderone

by Sofwan Rizky @sofcrates

“Nama agamanya apa?”

“Aderone,”

“Umatnya berapa banyak?”

“Dua orang,”

“Kitabnya?”

“Linald.” Tawa melepas dan beradu dengan udara. Mereka tertawa karena dialog yang terus diulang-ulang. Dialog yang akan menghantam telinga mereka dengan konyolnya suatu saat nanti. Walau mereka tak tahu, bila diketahui para ulama, pendeta, biksu dan lainnya akan segera dihajar habis-habisan.

“Hahaha, ini konyol banget!” Sunggingan senyum belum bisa melarikan diri dari bibir manis Adellina. Dia terus terbahak-bahak tanpa jeda. Tak heran pita suaranya mengeluh kehausan.

“Kenapa? Ini itu romantis. Bila ditanya agama kita apa, jangan menjawab Islam atau Kristen. Tetapi, Aderone! Adellina dan Ronald!” Ronald terkekeh dengan puas. Ide gilanya berhasil membuat kekasihnya juga ikut larut dalam sebuah drama parodi buatannya. “Tapi ingat, Aderone hanya untuk kita berdua. Jangan pernah sekali-kali berdakwah tentang Aderone!” Mereka terpingkal lagi. Seolah tak ada habisnya. Tak akan berhenti. Hanya karena satu ide gila: Aderone.

“Nanti, bila aku akan melamar kamu, jangan bilang kepada orangtuamu, bahwa kita tidak seiman. Karena ada Aderone yang menjadi saksinya,” lanjut Ronald.

“Sip! Kitab Linald juga akan segera meluncur! Dengan ajaran-ajaran yang khusus dibuat hanya untuk dua orang pengikut, kita.” Mereka saling melempar senyum. Kebahagiaan tidak akan pudar di antara mereka. Kebahagiaan muncul menggantikan masalah yang menggelimuti mereka. Beda iman.

Jemari-jemari Adellina terus menari dalam keyboard laptopnya. Sebuah kata-kata yang akan dirangkai untuk beberapa surat sudah muncul di otaknya dengan cemerlang. Tiba-tiba jemarinya merasa kelu. Kaku. Berhenti seketika. Tidak ada suara ketikan. Semuanya hilang. Adellina mengernyitkan kening. Masih ada yang mengganjal.

“Tuhan untuk Aderone itu siapa?” Sambutan sunyi yang memberikan jawaban.

***

Adellina muncul dari bilik kafe. Membanting pintunya dengan keras. Matanya memancarkan silau dan sangat membendung. Seperti ada yang ingin tumpah dari matanya.

“Maaf, telat.” Suara Adellina terdengar parau saat merebahkan tubuhnya pada sebuah kursi di depan Ronald. Matanya menahan untuk mengatup. Karena sesuatu akan turun dengan derasnya.

“Tak apa, Del. Ada apa sampai kamu menyuruhku untuk datang ke kafe?” Ronald membenarkan posisi duduknya. Alisnya menaik dengan spontan. Telinganya telah dipersiapkan untuk mendengar sebuah jawaban. Adellina menghela napas berat. Sampai-sampai endusannya dapat terdengar oleh Ronald.

“Aku hanya ingin menyerahkan ini.” Sebuah buku tebal melaju dengan perlahan ke hadapan Ronald. Tertera sebuah huruf yang bergabung di sana: LINALD.

“Sudah selesai? Aku tak sabar ingin membacanya! Sungguh!” Semangat Ronald menggebu-gebu. Bibirnya merekah dengan indah. Matanya tampak takjub melihat buku yang ada di tangannya. Air mata beriak dalam ujung mata Adellina. Menuruni tebing pipinya dengan pelan.

“Bukan itu, Nald. Bukan itu.” Bola mata Ronald membesar. Ada sebuah jawaban yang mengapung dengan misteri.

“A…Apa?”

“Hubungan kita harus berakhir di sini, Nald.” Adellina terisak tangis. Intonasinya mulai kacau ditelan napasnya yang sesak. Air mata tak kunjung berhenti mengalir.

“Ini konyol, Nald. Konyol. Sejauh apapun kita mengembangkan Aderone, sejauh apapun kita mengkhayal tentang masa depan kita, itu tak akan merubah satupun!” Wajah Ronald menekuk heran. Tidak dapat merasakan apakah ini mimpi atau kenyataan.

“Kamu bercanda, kan?”

“Orangtua aku tidak akan bisa mengerti! Orangtua aku tidak akan bisa menerima! Ini semua percuma, Ronald. Kita hanya akan dianggap gila!” Nada Adellina menekan pada ujung kalimat. Napasnya meletup tak beraturan. Semuanya hancur berantakan. Adellina bangkit dari kursinya. Tak ada makanan dan minuman yang singgah untuk meja itu. Yang ada hanya sebuah tangis yang tertera jelas.

“Terimakasih atas semua memori yang kamu berikan. Aku hanya bisa mengatakan… maaf.” Adellina pergi meninggalkan Ronald yang masih ditemani beribu-ribu pertanyaan. Ronald hanya membeku dan merasa bisu. Hanya butir-butir air mata yang dapat menyatakan semua perasaannya saat itu.

***

RONES ayat 3:Agama penuh cinta, dan sebuah cinta juga penuh agama. Karena  jalinan cinta suatu saat akan memiliki sebuah hari akhir. Seperti agama.

Matanya menyapu isi kitab Linald yang dirancang Adellina. Namun itu hanya membuatnya jatuh semakin dalam pada lautan hina. Semuanya terungkap. Agama memang terjalin kuat dengan cinta. Ayat yang terdapat pada surat Rones inilah yang sangat membekas. Meninggalkan sebuah jejak yang dilarang untuk diikuti. Dilarang untuk mencari tahu. Kiamat sudah terjadi dalam kehidupan Ronald. Kiamat terjadi tanpa ada tanda terompet sangkakala. Tak ada sebuah penanda. Semua terjadi dengan mengagetkan.

Dirinya menyadari, Aderone bukanlah suatu agama. Bukanlah sebuah pemahaman baru yang harus diilhami. Aderone hanyalah perjanjian cinta sementara antara dirinya dengan Adellina.

Undangan pernikahan Adellina dengan Ahmad sudah sampai di tangannya. Menyentakkan hati yang sedang merana. Tak  ada obat yang bisa menyembuhkan. Semuanya sudah sampai pada stadium akhir. Tak ada lagi cinta, tak ada lagi Aderone. Ronald tersungkur dan menggabungkan tangannya menjadi satu: Menghadap salib. Dia mengangguk pelan dan tampak yakin. Karena sejauh apapun manusia berkelana pasti akan kembali kepada penciptanya.

Kunjungi blog Sofwan di link ini

KataKami

@therendra ~ Karya yang orisinil. Saya menikmati setiap riak dalam aliran kisahnya. Anda adalah penulis berbakat. Saya yakin beberapa bulan mendatang bukan tak mungkin anda memiliki setidaknya satu judul buku hebat.  Sampai saat itu, perbaiki yang bisa anda perbaiki: ejaan. Mengubah, bukan merubah.

@PramoeAga ~ Idenya menarik. Koreksi buat Sofyan cuma di bagian kata ‘merubah’ yang seharusnya ditulis ‘mengubah’. Lebih teliti lagi ya..

Aku Simpan Cintaku Untukmu

by Lia Khairunnisa @liakhairunnisa

Danar. Seperti suatu kehidupan baru untukku. Setelah lama sendiri, setelah lelah mencari. Ia hadir dalam sendiriku. Membawa cinta yang aku butuhkan. Kami telah menghabiskan banyak waktu bersama. Namun kini ia harus pergi. Bukan, ia bukan meninggalkan aku untuk wanita lain. Bukan juga pergi meninggalkan dunia ini. Dia akan pergi membelah angkasa, terbang ke bagian barat dari dunia. Ayahnya adalah seorang duta besar di Inggris. Keluarganya menetap di sana. Hanya dia yang memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Kini setelah masa studinya berakhir, ayah dan ibunya meminta ia untuk pergi ke Inggris. Melanjutkan S2 disana lalu bekerja di negeri Harry Potter itu.

Hari ini ia akan pergi. Aku mengantarnya sampai bandara.

“Baik-baik kamu ya Van. Jangan tangisi kepergianku, pegang janjiku aku pasti akan kembali dan menikahimu.”

“Sampai kapanpun akan kutunggu kembalinya dirimu Nar. Jaga kesehatan ya. Jangan lupa minum Vitamin.”

“Aku akan merindukanmu.” Danar memelukku erat. Aku berusaha untuk tegar. Kutahan air mataku agar tidak jatuh. Aku tak mau menambah beban Danar. Aku tahu, berat baginya untuk pergi.

“Jangan lupa kirimi aku e-mail ya.” Aku berpesan seraya melepas kepergiannya. Kini aku berada dalam perjalanan pulang. Air mata tak dapat lagi aku bendung. Suara merdu Whitney Houston yang berkumandang dalam mobilku semakin menambah pedihku.

A few stolen moments is all that we share
You’ve got your family, and they need you there
Though I’ve tried to resist, being last on your list
But no other man’s gonna do
So I’m saving all my love for you

***

Dua tahun sudah aku tanpa Danar. Namun cintaku padanya tak pernah berkurang sedikitpun. Walau kadang aku merasa sepi tanpanya. Namun aku bertahan, bertahan pada satu cinta. Hanya dia. Sedikitpun aku tak goyah akan rasaku. Meski banyak teman-temanku yang menyarankan untuk meninggalkannya dan mencari pria lain. Namun, walau berat aku bertahan. Karena aku percaya Danar akan kembali dan mewujudkan janji manis yang pernah diucapkannya dulu.

It’s not very easy, living all alone
My friends try and tell me, find a man of my own
But each time I try, I just break down and cry
Cause I’d rather be home feeling blue
So I’m saving all my love for you

***

Sudah lima tahun semenjak kepergiannya. Dua tahun pertama ia masih sering mengirimiku e-mail. Namun semakin lama intensitasnya semakin berkurang. Tak lagi kurasakan kehadiran Danar. Rasa ragu mulai menyergapku. Bimbang kembali meraja saat ibuku berniat menjodohkanku dengan anak teman arisannya.

“Van, kamu Mama jodohin sama si Reno. Anaknya temen arisan Mama. Anaknya baik Van, kerjaannya juga bagus. Kamu mau ya.”

“Ma, Mama tahu kan aku masih pacaran sama Danar.”

“Van, apa lagi sih yang kamu harapkan dari Danar? Sudah lima tahun dia meninggalkanmu. Usia mama semakin menua Van. Mama ingin cepat-cepat menimang cucu.”

“Tapi Ma…”

“Begini saja, kamu kenalan dulu sama Reno, jalan sama dia, kenali dia lebih jauh. Kalau memang kamu merasa tidak nyaman ya tidak apa-apa, tidak usah diteruskan.”

Dengan berat hati aku menuruti ibuku. Aku jalani hubungan pertemanan dengan Reno. Reno sangat baik, dia sangat mengerti aku. Aku sering bercerita padanya tentang Danar. Reno pun tidak berkeberatan mendengarkan semua ceritaku. Dia bilang dia mengerti jika aku masih mencintai dan menunggu Danar kembali. Dia bersedia menjadi sahabatku. Dia bersedia menemaniku menunggu Danar kembali. Sampai suatu hari aku menemukan sebuah foto pada sebuah jejaring sosial milik adik Danar. Tampak pada foto ini Danar sedang memeluk seorang wanita dengan begitu mesranya. Aku terkejut, perasaanku hancur. Berkali-kali aku mengirim e-mail kepada Danar. Namun tak satupun dibalasnya. Aku begitu kecewa padanya. Untunglah ada Reno yang selalu menemaniku dan menenangkanku. Rasanya tak adil baginya. Ia hanya menjadi pelampiasanku saja. Maka saat itu aku putuskan untuk meninggalkan Danar. Sebuah e-mail aku kirimkan padanya.

To                    : danarwijaya@yahoo.com

Subject            : Sampai di sini saja.

Danar, lima tahun sudah kau meninggalkan aku. Aku menunggumu Danar. Meski berat dan tak mudah namun aku bertahan. Tapi apa yang kau lakukan? Setahun belakangan ini jarang kuterima e-mail darimu. Bahkan untuk membalas e-mail ku saja sepertinya kau tak ada waktu. Maaf jika aku harus mengatakan ini. Sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku melihat fotomu sedang berpelukan dengan seorang wanita. Pacar barumu ya? Selamat ya Danar, kamu telah menemukan pengganti aku. Oh ya, aku akan bertunangan dengan Reno. Dia adalah sahabatku. Sahabat yang selama ini selalu sabar mendengarkan ceritaku tentangmu. Mungkin itu saja yang ingin aku sampaikan padamu. Maaf jika selama ini e-mail ku selalu mengganggumu. Tapi kau tak perlu cemas. Ini yang terakhir. Oh ya, satu lagi, aku punya kata-kata untukmu. Kata-kata yang aku ambil dari lagu Whitney yang selalu menemaniku selama tanpa kamu.

You used to tell me we’d run away together
Love gives you the right to be free
You said be patient, just wait a little longer
But that’s just an old fantasy

Belum ada lima menit kukirim suratku, Danar sudah membalas e-mail dariku.

Dear Vanya,

Tolong batalkan rencana pertunganmu. Oh ya, gadis itu bukan pacarku. Saat itu dia mabuk dan aku hanya membantunya. Tidak lebih. Tunggu aku. Malam ini pesawatku lepas landas.

I’ve got to get ready, just a few minutes more
Gonna get that old feeling when you walk through that door
Cause tonight is the night, for feeling alright

So i’m saving all my love for you.

***

Kunjungi blog Lia di link ini

KataKami

@therendra ~ Ini karya Lia yang terbaik. Semua tertata baik. Tapi masih terlalu rapi. Akan lebih menarik kalau ending-nya dipuntir lagi. Meski tak begitu mewakili isi lagu, cerita ini punya jiwa. Cukup bagus.

@PramoeAga ~ Hanya perlu penggunaan tanda koma di beberapa kalimat, Lia. Cermati lagi ya.
Good job!

Cinta Sejati

by Vera Septiana

Menatap rembulan malam ini. Dalam lubuk hatiku rasa itu masih ada. Kekecewaan dan kepedihan terberat dalam hidupku. Masih bisakah kita duduk bersama dan menatap rembulan ini bersama seperti dahulu? Masih bisakah kita berbagi kisah bersama lagi? Ibu, mengapa hanya aku yang jujur? Mengapa kau pergi tanpa jujur padaku tentang rasa itu.

“Sedang apa Nak malam-malam diluar? Angin malam kurang baik.” Tiba-tiba saja ayah turut duduk disampingku. Beliau bukan ayah kandungku namun ayah mertua. Ayah dari suamiku, Zainal.

“Eh Ayah, bulannya bagus yah sayang kalau engga dinikmati,” jawabku sambil tetap menatap rembulan.

“Mirip Ida, eh,” kata ayah spontan dan sesal di akhirnya.

“iya yah. Mirip sama ibuku. Dulu kita sering duduk bareng di sini sambil ngobrol,” jawabku menutupi sesal di wajah ayah. Waktu berjalan cepat dan teras ini sunyi. Aku dan ayah hanya duduk menatap rembulan tanpa bersuara.

***

“Halo Zainal? Ah iya Ayah baik. Kenapa? Rina? Oh ya, dia sedang di dapur. Kandungannya baik-baik saja.” Suara ayah setengah teriak saat berbicaa di telpon dengan Zainal. Mungkin suaranya kurang begitu terdengar jelas. Maklumlah letak kita sangat jauh. Zainal di Bontang Kalimantan dan aku di Depok. Sebulan rasanya lama juga jika di tinggal seorang suami, tak banyak yang bisa di lakukan.

“Rina, tadi Zainal telpon. Tapi suaranya terputus-putus jadi hanya sebentar,” kata ayah sembari menghampiriku di dapur.

“iya yah jaringannya memang jelek. Ayah sudah makan? Nanti Rina buatkan.”

“Oh iya sudah kamu jangan capai-capai. Nanti ayah yang dimarahi Zainal.“

Ayah sangat perhatian padaku. Alasannya dimarahi Zainal, padahal Zainal jarang sekali marah. Dia lebih senang melihatku melakukan apa saja yang aku suka. Ayah memang sudah seperti ayahku sendiri. Andai saja Ibu masih ada di sini.

***

Merasakan kerinduan adalah perasaan yang pasti dirasakan oleh seorang istri yang ditinggal dinas oleh suaminya. Sebagai seorang istri yang hamil muda aku tidak ingin banyak pikiran. Aku takut nanti anakku malah tidak normal. Setiap merasa rindu aku akan mencoba melupakannya dengan memasak. Karena memasak adalah hobiku.

“Masak apa sayangku?” Tiba-tiba saja suara Zainal terdengar. Terkejut aku melihat sosok itu berdiri tepat di depanku. Ah, suamiku ternyata sudah pulang. Segera aku memeluknya. Meluapkan segala kerinduanku.

“Kamu kok udah pulang mas?” Tanyaku kemudian

“Iya kerjaan udah selesai sebelum sebulan. Yah sengaja buat kejutan ke kamu. Hehe,” jawabnya dengan senyum merekah. Senyum yang sangat aku rindukan. Tanpa kita sadari ayah melihat kami dengan berderai air mata. Entah apa yang dirasakan ayah. Segera terdengar suara terjatuh yang sangat keras. Suara itu berasal dari keramik yang terbentur badan ayah yang terjatuh secara tiba-tiba.

“Ayah? Kenap tiba-tiba jatuh?” Tanya Zainal panik.

“Ayah ingin menyusul cinta sejati ayah. Ayah ingin bahagia seperti kalian Nak,” ucapan terakhir Ayah. Ayah tidak lagi bernafas. Tidak lagi mengeluarkan suara. Tidak lagi berdetak jantungnya. Ayah telah pergi menyusul cinta sejatinya. Ayah yang sejak dulu hanya memendam rasa cintanya demi kebahagiaan anaknya. Ayah menyusul kekasih sejatinya. Wanita bernama Ida, ibuku tercinta.

***

Cinta ibu kepada anaknya sepanjang jalan sedangkan cinta anak kepada ibunya hanya sepanjang galah. Mumpung masih hidup, mengertilah perasaan ibumu.

Kunjungi blog Vera di link ini

KataKami

@PramoeAga ~ Masih ada typo sana-sini. Di paragraf awal, 3 kalimat itu bisa disatukan dengan menggunakan tanda koma. Jadi membacanya juga tidak nanggung. Berlatih terus dan semangat!

@therendra ~ Saya tidak melihat sesuatu yang istimewa di sini. Jalan cerita biasa saja. Lebihkan masih dangkal.  andai penulis mau berbuat lebih jauh, berpikir lebih dalam… Mungkin cerita ini akan jauh lebih menyentuh pembaca.

Dosa?

by Danan Wahyu @dananwahyu

Bergelayut mendung di ujung barat, menutup mentari yang akan terlelap. Aku terjaga dalam satu pandangan lelaki di sudut  gerbong kereta. Tiba-tiba rasa lelah ini menghilang, mengurai rasa berbunga. Matanya, hidungnya, tatapannya begitu tajam aku tak mampu memandanganya langsung. Kulirik dari sudut mata dengan keberanian sang pecundang.
Sejenak pandangan kami beradu. Aku tergagap dalam rasa malu. Terdunduk dalam rasa yang tak pernah aku tahu. Inikah cinta atau sebatas buaian pesona.

Satu persatu penumpang turun  di stasiun kecil. Aku tetap menunggu untuk sampai di pemberhentian terakhir, stasiun Bogor. Aku tak bergeming dari dari tempat duduk dan rasa gugup. Sekali lagi kutatap dia, dan untuk kesekian kalinya terpesona. Segaris senyum tipis meluncur indah dari bibirnya, aku pura-pura membaca  pesan dari Blackberry.

Sosoknya begitu sempurna, selalu tergambar indah di dalam mimpi-mimpiku.

“Inikah jodohku?” Batinku lirih berbisik.

“Kamu bukan untuk dia. Ingat Tuhan.” Batinku yang lain menjerit. Aku terduduk takut dalam dosa.

Malam semakin larut. Aku merasa kereta besi ini terlalu lambat bergerak. Hanya kami berdua di dalam gerbong kereta. Aku tak pernah membayangkan apa yang akan terjadi. Aku bedoa kepada Tuhan untuk mematikan rasa ini. Lelaki itu menghampiriku. Langkahnya mempercepat detak jantungku hingga desir darahku terdengar.

Tiba-tiba sebuah tangan kekar menjabat tanganku. Genggamannya kuat.

“Kenalkan namaku Anton. Kamu?” Matanya langsung memandang mataku. Aku
tak berdaya.

“A..a… ku.” Napasku tercekat tak dapat melanjutkan kata-kata.

“Aku sudah tahu… kamu kan? Ada bahasa tubuh yang hanya dimengerti orang-orang seperti kita.” Roni menggengam  pundaku pelan. Pandangannya membuatku pasrah.

Aku tak bisa berkata-kata. Aku terjebak dalam dosa.

“Nama kamu Budi kan ? Aku sudah tahu. Kamu yang di lantai 4 Gedung Melati kan? Aku satu lantai di atas kamu.” Tanpa sadar Roni duduk di sampingku.

Kereta masih melaju dengan kencang. Aku tetap terdiam. Lelaki itu ada di sampingku. Diam-diam kunikmati wangi tubuhnya, hangat sapanya dan manis senyumnya. Selanjutnya kami berbincang semakin dalam, menyeruak rasa cinta dan keintiman sepasang sahabat. Atau kekasih?

“Dosakah ini?”

KataKami

@PramoeAga ~ Danan, jangan tergesa-gesa dalam menulis. Nikmati prosesnya. Masih ada beberapa typo yang seharusnya sudah hilang.
Semangat ya.

@daprast ~ Eh? Anton apa Roni?

@therendra ~ Coba gali lebih jauh. Konflik nya terlalu biasa dan umum.

Tragedi

by Riga @attararya

Cahaya senja belum lagi jatuh sempurna di pelataran sebuah rumah sakit bercat biru muda. Tampak kesibukan yang biasa, orang-orang berlalu lalang atau mengobrol. Paramedis yang hilir mudik membawa pasien yang terduduk di kursi roda. Keluarga pasien mengantri untuk membeli obat. Ketenangan senja pecah ketika sebuah mobil bercat hitam memasuki halaman rumah sakit dengan tergesa. Lalu rem ditarik dengan keras hingga ban-ban berdecit keras seolah memprotes. Beberapa pasang mata menatap dengan rasa ingin tahu.  Setelah menyadari  tak ada hal luar biasa yang sedang terjadi, kepala mereka beralih kembali pada  hal-hal yang tadi sedang mereka lakukan.

Dari dalam mobil, beberapa orang keluar dengan tergesa. Seorang lelaki tampan usia 30-an dengan wajah cemas keluar sambil menggendong balita perempuan yang menangis keras. Kaki kanan bocah itu dibebat kain yang telah memerah dirembesi darah. Dari pintu depan sebelah kanan, keluar seorang lelaki muda yang berwajah mirip lelaki pertama tadi. Wajahnya pun terlihat cemas.  Bergegas mereka menuju ruang gawat darurat yang berada di sebelah kanan rumah sakit.

Seorang  dokter sigap menemui mereka. Sejenak ia mengamati keadaan bocah malang yang masih terus menangis kesakitan, namun suaranya mulai lemah dan wajahnya memucat. Tampaknya ia telah banyak kehilangan darah.

“Ikuti saya, Pak,” kata lelaki muda berjas putih yang berjalan sigap dengan langkah-langkah panjang menuju sebuah ruangan bercat biru muda. “Silakan baringkan anaknya di ranjang, Pak.”

“Biar kubantu, Mas Randi.” Lelaki muda itu bersuara, menawarkan bantuan. Yang dipanggil Randi hanya mengangguk sekilas, lalu berusaha membaringkan putrinya perlahan seakan tidak ingin menambah rasa sakitnya. Lelaki muda tadi membantu meluruskan kaki si bocah.

Dokter membuka bebatan di kaki si bocah dengan perlahan. Terdengar jeritan dari bibir mungil itu. “Tahan sebentar ya Manis, biar om Dokter liat lukanya.” Ia berusaha membujuk. “Dokter….” Randi membaca sekilas nama yang tertera di baju putih itu, ” Dokter Bayu, gimana kondisi luka di kaki Maya anak saya?”

“Tampaknya lukanya cukup dalam, Pak Randi. Saya harus menjahitnya. Lalu akan kita beri dia transfusi darah untuk mengganti darah yang keluar. Boleh saya tahu apa penyebab luka ini?” Tanya dokter sambil mengenakan sarung tangan karet, lalu membersihkan kaki Maya dengan larutan aseptik. Maya kembali menjerit.

“Ini akibat kelalaian kami, Dok. Tadi sore saya biarkan anak saya bermain di kebun belakang. Sudah saya peringatkan istri saya untuk mengawasinya sementara saya mengganti pipa air di depan rumah. Tapi anak kami yang bungsu buang air, sehingga istri saya mesti mengganti popoknya. Saat itulah Maya terjatuh dan kaki kanannya terkena pecahan beling.”

Dokter Bayu hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Matanya melirik ke arah perawat yang sigap datang dengan membawa nampan berisi peralatan untuk menjahit luka. Sambil melepas sarung tangan yang tadi dipakai membersihkan luka dan  mengenakan sarung tangan yang baru, Dokter Bayu berbicara kepada Randi. “Silakan tunggu di luar Pak. Saya akan menjahit lukanya. Maya akan saya bius lokal saja.”

Ketika Randi dan lelaki muda tadi akan beranjak keluar, Maya menjerit keras. Rupanya ia takut akan ditinggalkan. Randi menatap mata anaknya lalu berpaling pada lelaki muda tadi.

“Rian, kau pulang saja lah dulu. Jemput Mbak Mitha di rumah. Katakan padanya tak usah khawatir. Maya baik-baik saja. Setelah semua urusan di rumah beres, baru kalian kemari. Oh, ya bilang juga pada Mbak Mitha agar Riyo dititipkan saja pada orangtua Mitha. Tak baik buat bayi berada di rumah sakit.”

Rian mengangguk. Menghampiri Maya sebentar, mengecup keningnya penuh sayang dan menjanjikan akan segera kembali. Perlahan ia meninggalkan ruang gawat darurat. Randi kembali menemani Maya yang sedang mendapat penanganan dari Dokter Bayu. Pandangan penuh kasih ia berikan, suaranya membujuk. Maya terlihat lebih tenang.

Setelah selesai menjahit luka, dokter Bayu mengoleskan desinfektan di sekitar jahitan, menutup jahitan dengan kassa steril dan merekatkan plester.

“Sekarang Maya akan saya pindahkan ke kamar perawatan untuk mendapatkan transfusi darah.” Dokter Bayu menjelaskan tanpa diminta. Randi hanya mengangguk-angguk. Bersama seorang perawat, Randi dan dokter Bayu bergegas menuju ruang perawatan.

******

Randi duduk diam di depan ruang perawatan. Maya sudah tertidur di dalam setelah kelelahan sebab terus-terusan menangis. Untuk mengusir bosan sembari menunggu Rian dan Mitha istrinya datang, Randi berjalan-jalan di bagian depan unit gawat darurat. Ia berencana menuju kantin yang berada di sebelah UGD. Tepat di depan UGD tampak ada kesibukan baru. Seorang gadis dengan rambut acak-acakan dan pakaian robek di sana-sini tampak berbaring di brankar yang didorong seorang perawat. Di belakang mereka seorang wanita separuh baya menangis tersedu. Di sebelah kiri dan kanan brankar berjalan tegap dua orang polisi. Lalu ada beberapa orang lain yang ikut mengiringi. Randi hanya berdiri diam, membiarkan rombongan itu melewati dirinya.

Lalu terjadilah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tepat ketika brankar yang memuat tubuh gadis itu sejajar dengan dirinya, si gadis mendadak berpaling ke arah Randi. Sorot matanya tiba-tiba nyalang, tampak terluka dan menyiratkan dendam yang dalam. Tanpa bisa dicegah, gadis itu berteriak histeris.

“Itu diaaa….itu dia orangnyaaa….Aaaaaahh….itu diaaa….”

Randi terkesiap. Sejenak ia seperti orang bingung. “Itu dia?” Apa maksudnya? Serempak seluruh mata tertuju pada Randi yang masih tak mengerti apa yang terjadi. Rombongan itu terpaku di tengah lorong. Gadis tadi kini meraung-raung sambil terus menunjuk ke arah Randi. Di antara raungan dan kata-kata tak jelas yang dilontarkan, Randi menangkap satu kata: Pemerkosa. Apa!? Aku? Kenal saja tidak!

Polisi-polisi itu terlihat berbicara dengan si gadis yang masih saja menunjuk ke arah Randi. Lalu wanita setengah baya yang menemaninya terlihat menangis. Matanya menatap Randi dengan pandangan yang sulit diartikan. Wanita tadi seakan hendak menghambur ke arah Randi jika tidak ditahan oleh orang-orang yang mengiringi. Dua polisi tadi bergerak mendekat ke arah Randi berdiri. Raut wajah mereka tampak tenang. Tak seperti wajah Randi yang kelihatan tegang. Ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi dan ingin segera berlalu dari tempat itu.

“Selamat malam, Bapak. Bapak kenal dengan gadis tadi?” Polisi yang kelihatan lebih tua langsung memulai percakapan. Randi menggeleng.

“Tidak kenal, Pak. Baru kali ini saya bertemu dia. Sebenarnya apa yang terjadi padanya, Pak?”

“Gadis itu diculik dan diperkosa. Baru tadi sore dia ditemukan keluarganya di belakang sebuah bangunan kosong. Dia trauma. Dan sama sekali tidak bisa mengenali pemerkosanya. Hanya satu yang masih bisa dia kenali. Bau parfum. Dan bau parfum anda sama dengan bau parfum si pemerkosa. Anda mengerti maksud saya?”

“Tapi saya bukan pemerkosa! Saya tidak kenal dia. Saya tidak pernah ketemu dia sebelumnya. Apalagi memerkosa!”

“Tenang, Pak. Kami tidak menuduh. Tapi kami harus memastikan benar-benar kasus ini. Di tubuh gadis itu ditemukan bercak sperma si pemerkosa. Saya harap anda mau bekerjasama dalam hal ini.”

Randi menatap dengan pandangan tak mengerti. Kerjasama?

“Kami bermaksud mengadakan tes DNA dari sperma yang ada di tubuh korban, dan membandingkannya dengan sperma milik anda. Proses ini umumnya memakan waktu sampai dengan dua minggu, tapi kami tahu bahwa rumah sakit ini memiliki alat yang lebih canggih sehingga saya yakin dalam tiga empat hari kita akan tahu hasilnya.” Polisi itu berhenti sejenak dan memperhatikan raut wajah Randi.

Randi masih diam.

“Dan lagi, mengapa mesti takut jika anda yakin tidak bersalah, bukan?” Kalimat terakhir Polisi itu menyentakkan kepala Randi. Ya! Mengapa mesti takut?

“Baik, Pak. Saya setuju. Saya tidak mau  dituduh sebagai pemerkosa. Dan saya bersedia membuktikannya.” ucap Randi tegas.

Polisi itu mengangguk puas.

“Biar saya yang atur semuanya. Mari kita temui direktur rumah sakit ini. Kita bisa minta bantuan beliau untuk menyiapkan satu tim forensik untuk menyelesaikan kasus ini. “

Berdua mereka melangkah pelan menuju ruangan direktur. Pemeriksaan akan dilakukan secepatnya, hari ini juga jika mungkin.

************

Randi tengah duduk di sebuah kursi panjang, di seberang ranjang Maya. Di sana, Mitha  dan Rian sedang bercerita kepada Maya. Cerita lucu tampaknya, sebab Maya terlihat tertawa riang. Sepertinya sudah tak terlalu merasakan sakit di kakinya. Rian tampak memerhatikan kedua perempuan yang dicintainya itu sambil sesekali tersenyum. Mitha dan Rian tiba sekitar 30 menit setelah proses pemeriksaan dan pengambilan sperma Randi selesai dilakukan. Proses pengambilan dilakukan dengan cara masturbasi. Agak susah untuk masturbasi dalam keadaan seperti itu. Tapi itu lebih baik ketimbang mesti diambil dengan disedot dari testis. Randi memilih merahasiakan kejadian tadi dari Mitha dan juga Rian.

Rian menyudahi candaannya, lalu berjalan mendekati Randi. Adik kandung Randi yang tak kalah tampan ini bertubuh atletis berkat kegemarannya fitness. Ditambah dengan kulitnya yang berwarna putih, rambut ikal dan senyum yang menggoda, Rian selalu jadi rebutan perempuan. Sudah 7 tahun dia tinggal bersama Randi sejak Randi masih bujangan hingga sekarang sudah menikah dan memiliki dua anak. Rian meninggalkan kampung halamannya, sebuah kota kecil di Sumatera untuk kuliah. Semua biaya menjadi tanggungan Randi yang sudah mendapat pekerjaan yang cukup baik sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan penerbitan besar di Jakarta.

“Gimana kerjaan kamu, Yan?” Randi membuka suara.

“Baik, Mas. Minggu depan masa training-ku berakhir. Kepala bagian sudah memberitahu, kerjaku memuaskan dan akan segera diangkat.”

“Baguslah. Sudah beritahu Ibu di kampung?”

“Nanti saja lah, Mas. Kalau sudah benar-benar diangkat. Sekalian jadi kejutan.”

Randi tak mengomentari lagi.

“Mas.” Terdengar sebuah suara merdu. Randi menoleh. Ia melihat Mitha berjalan ke arah mereka. Mitha, perempuan cantik berusia jelang 30. Langsing semampai, berkulit putih dengan rambut lurus panjang yang sangat disukai Randi. Pertemuan pertama mereka sekitar 5 tahun lalu di sebuah seminar memercikkan api asmara. Di awali dengan perkenalan singkat, bertukar nomor ponsel, lalu obrolan-obrolan panjang yang menyenangkan. Merasa cocok, mereka sepakat untuk pacaran. Hanya setahun pacaran, mereka memutuskan menikah. Setahun kemudian Maya lahir, dan Riyo menyusul enam bulan lalu. Keluarga mereka terasa lengkap. Agar lebih konsentrasi mengurus rumah dan anak-anak, Randi meminta Mitha untuk berhenti bekerja. Mitha menyanggupi

“Kondisi Maya sudah tidak apa-apa Mas. Kata dokter besok sudah boleh kita bawa pulang. Nanti obatnya sambil jalan aja.” kata Mitha sambil menyentuh bahu Randi.

“Iya, Mas. Kasihan kalau Maya terus-terusan di sini. Gak enak. Dia pun udah kangen sama Riyo, pengen main sama-sama lagi.” Rian menimpali.

Randi hanya mengangguk menyetujui. Tersenyum tipis. Sedikit lega sebab Maya sudah bisa dibawa pulang besok. Tapi masih ada kejadian tadi masih mengganggu pikirannya. “Hmm….nanti saja aku beritahu mereka kalau urusan ini sudah beres. Toh, tak akan terjadi apa-apa. Gadis korban itu pasti sangat terguncang sehingga tidak tahu apa yang dia lakukan, menuduh orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya,” bisik hati Randi.

“Iya, besok kita pulang.” ujar Randi menutup pembicaraan.

*********

Randi mengendarai mobilnya, menuju rumah sambil terus meremas-remas rambutnya. Ia menyetir pelan, tidak ingin menambah masalah dengan mengebut. Kepalanya terasa demikian nyeri, berdenyut menyakitkan. Seribu duri serasa menusuki kepalanya. Ia merasa mual, sangat mual. Selain itu dadanya terasa sakit. Seperti ada beban berton-ton menindih dadanya. Perih. Matanya terasa berair. Apakah aku harus menangis? Gumamnya lirih. Ia lihat lagi tangan kanannya,  ada amplop yang diberikan dokter rumah sakit tempat ia melakukan pemeriksaan sperma beberapa hari yang lalu. Tadi pagi dokter meneleponnya dan ia sengaja meminta izin pulang lebih cepat dari kantor. Dengan perasaan berdebar ia temui dokter dari tim forensik yang melakukan pemeriksaan DNA dari spermanya dan sperma di tubuh korban.

Di ruangan bersuhu sejuk dengan interior apik, Randi duduk di kursi di depan dokter. Bersiap mendengarkan.

“Selamat, Pak. Anda tidak terbukti memperkosa gadis itu. Kami telah melakukan pemeriksaan, dan DNA sperma anda terbukti tidak sama dengan sperma yang kami temukan di tubuh korban. Terimakasih atas kerjasamanya. Saya telah menyampaikan hasil pemeriksaan ini ke pihak kepolisian. Mereka mengerti dan menyampaikan salam buat anda.”

Randi menghela napas teramat lega. Gembira. Lepas sudah beban yang ia rasakan beberapa hari terakhir.

“Terimakasih, Pak. Saya sangat menghargai bantuan Bapak. Oh ya, boleh saya minta salinan hasil pemeriksaan? Buat jaga-jaga saja.”

Dokter mengulurkan kertas hasil pemeriksaan. Randi menerima kertas putih itu dengan hati riang. Membaca sekilas hasil pemeriksaan. Beberapa istilah ia mengerti. Sebagian lain terdengar asing di penglihatannya. Volume, Warna, Viskositas, Koagulum, Aqlutinasi, Lekosit… Apa artinya itu? Ia ingin bertanya pada dokter, namun kemudian berpikir, Ah, tak penting dengan semua istilah itu. Yang penting dokter menyatakan dia tidak bersalah. Mata Randi langsung menuju bagian kesimpulan. Azoospermia? Bibir Randi mengucap kata itu lagi, lalu matanya memandang dokter, meminta penjelasan. Dokter mendesah pelan, mengatur napasnya, lalu bicara dengan hati-hati.

“Sebelumnya saya minta maaf jika penyampaian saya ini membuat anda gelisah. Saya menyampaikan hal ini dalam kapasitas saya sebagai dokter yang wajib memberitahukan apa yang diinginkan pasien, dalam hal ini anda sebagai pihak yang berkepentingan.”

Mendadak ruangan terasa gerah buat Randi. Firasatnya bekerja. Sesuatu yang buruk-kah yang akan disampaikan dokter?

“Jadi begini, Pak. Azoospermia berarti cairan sperma tidak mengandung sel spermatozoa yang diperlukan untuk membuahi sel telur wanita. Sperma yang dikeluarkan hanya berupa cairan kelenjar kelamin saja, tanpa sel spermatozoa. Karena tidak ada sel spermatozoa, tak akan terjadi pembuahan dan kehamilan. Artinya, pria yang mengalami azoospermia tidak dapat menghamili, sekaligus tidak akan mempunyai anak.”

Mata Randi mengabur. Kepalanya mendadak terasa pening. Dokter melanjutkan penjelasannya.

“Ada dua kemungkinan mengapa pria mengalami azoospermia. Pertama, mungkin karena kerusakan pada testis (buah pelir) sebagai “pabrik” sel spermatozoa. Kedua, mungkin karena terjadi sumbatan pada saluran keluar sperma, padahal produksinya ada. Dengan pemeriksaan fisik didukung pemeriksaan hormon, dapat ditentukan kemungkinan mana yang menjadi penyebab azoospermia. Apa Bapak ingin kami melakukan pemeriksaan lanjutan?”

Randi tak sanggup lagi berpikir. Seribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Kalau aku mandul, lalu…Maya? Riyo? Mereka? Mitha? Kenapa bisa? Siapa? Mitha selingkuh? Benarkah? Tega! Dengan siapa? Mitha selalu berada di rumah dan keluar hanya ketika bersama Randi atau Rian. Rian? Benarkah dia? Tapi dia adikku. Kandung! Seribu pikiran berkecamuk di kepala Randi.

Randi perlahan bangkit dari kursinya, menatap dokter dengan pandangan hampa, menjabat tangan dokter dan hanya mengangguk tipis sebagai tanda pamit. Lidahnya seperti kelu untuk mengucapkan salam. Dokter menyambut jabat tangan Randi dan mengangguk sopan. Mungkin maklum dengan keadaan Randi yang tampak terguncang.

Mobil memasuki halaman depan rumah yang luas. Randi mematikan mesin dan beranjak keluar. Mukanya masih terlihat kalut. Dia harus bicara dengan Mitha, mencari tahu apakah benar Mitha mengkhianatinya. Dia mencintai Mitha juga anak-anak mereka..ah..anak-anak Mitha dan lelaki itu, dan jika Mitha mengaku lalu berjanji tak akan mengulangi, mungkin ia masih bisa memaafkan.

Di depan rumah Randi masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia punya kunci sendiri yang sesekali ia gunakan ketika mesti pulang larut malam akibat pekerjaan yang menumpuk. Ia memandang sekeliling. Rumah tampak sepi, tak ada Maya yang biasanya bermain di ruang depan, atau suara Riyo yang menangis, atau tertawa, atau apa saja. Atau suara Mitha yang biasanya bersenandung ketika memasak. Rumah ini tanpa pembantu, sebab Mitha bersikeras ia sanggup mengurus rumah sendirian. Ataukah agar ia bebas berbuat apa saja? Ah, nanti saja aku tanyakan, pikir Randi. Rumah ini sepi. Mungkin semua penghuni sedang tidur. Dan Rian pastilah sedang berada di kantornya. Randi meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu, lalu menuju dapur. Baru saja tangannya hendak menjangkau lemari es, telinganya menangkap suara-suara dari teras belakang rumah. Ah, di sana rupanya mereka. Perlahan ia seret langkahnya ke arah pintu yang tak tertutup. Kakinya mendadak kaku. Matanya terpaku pada pemandangan yang menyakitkan hati. Teramat sakit.

Di bangku kayu yang diletakkan di atas rumput halaman belakang, membelakangi pintu dapur, dua manusia sedang asyik bercanda mesra. Sesekali mereka saling menggoda, mencubit hidung, membelai rambut, mengecup bibir! Darah menggelegak di tubuh Randi. Jadi ini kenyataan pahit yang harus ia terima. Ia mandul. Istrinya berselingkuh. Dengan adik kandungnya! Terlalu!

Randi gelap mata. Akalnya buntu. Ia raih batang kayu bulat di dinding, sebuah pemukul kasti, entah mengapa ada benda seperti itu di dapur. Setengah berteriak ia menghambur ke arah Mitha dan Rian. Keduanya kaget setengah mati. Berusaha saling menjauhkan tubuh. Mitha berteriak, Rian juga berteriak.

“Mas…ampun Mas. Ampuun…” suara Mitha yang merdu terdengar memohon. Tapi Randi sudah dikuasai nafsu. Ia tak mau mendengarkan apapun. Bukti nyata yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri sudah cukup. Ia menyerang keduanya membabi buta. Keduanya tak siap dengan serangan itu. Berusaha menangkis dengan tangan, berusaha lari. Tapi Randi jauh lebih kuat. Kemarahannya sudah meledak. Mitha tersungkur tak berdaya menyusul Rian yang sudah lebih dulu terbaring berdarah-darah. Mata Randi basah airmata duka. Melintas di benaknya semua kenangan. Rian yang masih lugu ketika ia bawa ke rumahnya. Mitha yang cantik yang membetot perhatian ketika pertama mereka bertemu. Ketika ia mengenalkan Mitha ke Rian sebagai pacar, lalu calon istri. Kedekatan keduanya yang semula ia pikir sebab Rian tidak punya kakak perempuan. Ia terlalu naif. Berapa lama mereka berselingkuh? Umur Maya sudah lebih dari 3 tahun. Mereka berselingkuh sejak 4 tahun lalu! Di rumahnya sendiri!

Tangan Randi terus berayun.

Teringat ia betapa bahagia ia -dan juga Rian!- menyambut kelahiran Maya, juga Riyo. Merasa begitu bangga sebab sebagai lelaki ia sudah memiliki keturunan yang akan meneruskan namanya. Ternyata mereka bukan anaknya! Mereka anak Rian! Ia hanya lelaki mandul dan bodoh. Terlalu bodoh sehingga tak bisa mengendus bau busuk perselingkuhan. 4 tahun ia dibodohi! Dungu! Aku lelaki dungu! Umpat batin Randi.

Suara jeritan kian lemah.

Mereka adalah orang-orang yang sangat ia kasihi. Mengapa tega berbuat seperti ini? Randi meratap dengan mata memejam. Ia tak mampu lagi melihat kedua orang terdekat yang dulu..ya..dulu sangat ia cintai. Tapi kini mereka tak ubahnya binatang dalam pandangannya. Randi menangis terus menangis. Tapi kayu bulat di tangannya tak berhenti berayun. Kembali terdengar suara sesuatu yang retak. Suara daging beradu kayu. Jeritan kesakitan yang semakin lemah. Lalu semuanya senyap.

Randi membuka mata. Tangisnya kian kuat. Didepan matanya tergeletak dua sosok bersimbah darah. Ia tak bisa memastikan apakah masih ada napas yang berhembus dari hidung dua tubuh itu. Kayu bulat di tangannya terjatuh dari genggaman, menimbulkan bunyi dentang yang terdengar amat nyaring di tengah kesunyian yang teramat menekan perasaan. Randi menutup mata sambil terisak. Jeritannya yang parau terdengar memilukan. Meneriakkan duka jiwa yang teramat dalam. Randi jatuh terduduk. Suasanya hening. Lalu telinganya mendengar suara gemerisik yang berasal dari pintu dapur. Baru ia sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya. Sepasang mata polos dan bening yang menatap ngeri.

“Maya!”

KataKami

@PramoeAga ~ Alur ceritanya bagus. Kalau urusan detil, Riga jagonya. Angkat jempol untuk observasinya! :)

@daprast ~ Ini aku udah pernah baca di blogmu, kan? Komentarku tetap sama.

@therendra ~ Cerita yang enak. Memiliki garis yang jelas dan diksi yang “sophisticated“. Cerita ini sudah selayaknya masuk dalam hall of fame jejakubikel nih… Sangat-sangat disarankan membacanya.

Bukan Dia yang Kucinta

by Lia Khairunnisa @liakhairunnisa

Aku berdiri pada pijakanku. Berat rasanya mengetahui semua kenyataan pahit ini. Rasanya lebih baik aku tidak usah tahu saja sekalian. Namun kini nasi telah menjadi bubur. Kebenaran harus tersingkap. Kenyataan pahit harus ditelan.

***

Enam bulan sudah aku menikahinya. Vanita namanya. Gadis ayu rupawan, lembut hati lagi penyanyang. Kuikrarkan janji suci setia selamanya. Kujaga dia dengan segenap cinta yang kupunya. Namun entah mengapa terkadang aku berpikir ada yang lain darinya. Entah apa. Sifatnya yang sepertinya berbeda dengan yang dahulu kukenal.

***

Aku mengenal Vanita saat kami duduk di bangku kuliah. Vanita gadis yang cerdas dan menyenangkan. Kami dekat sekali, lebih dari teman. Hingga akhirnya waktu mendewasakan kamu. Di penghujung mudaku, aku memilihnya. Memilihnya untuk menjadi penjamping hidupku. Setia di sisinya sampai akhir hayatku telah menjadi pilihanku. Bersamanya selalu dalam susah maupun senang, sehat maupun sakit. Kupinang dia dan dia pun menerima. Begitu juga ayah dan ibunya serta segenap keluarganya. Namun penolakan terlihat pada Velita, saudara kembar Vanita. Seperti ada semburat tidak suka pada tatapan matanya. Entah apa sebab dia menampakkan ketidaksukaannya pada hubunganku dan Vanita. Saat itu aku berpikir mungkin dia tak rela saudara kembarnya aku ambil.

***

Waktu yang menyadarkan aku sikap Vanita yang berbeda dari Vanita yang dulu. Akhirnya lama kelamaan aku sadar, yang ada bersamaku sekarang bukanlah Vanita yang dulu. Dia bukan Vanita. Dan ternyata benar saja, yang aku nikahi memang Vanita namun bukan Vanita sahabatku semasa kuliah. Kau bingung? Begitupun aku.

***

Dan kebenaranpun terungkap. Vanita dan Velita memang dilahirkan bersamaan, mereka kembar identik, jika kau tidak mengenal mereka dengan baik maka kau akan berpikir mereka adalah dua orang sama. Meski kembar, mereka mempunyai perbedaan. Velita dilahirkan dengan IQ yang sangat tinggi, ia sangat cerdas. Berbeda dengan Vanita yang mempunya IQ dibawah rata-rata. Orangtua mereka tak ingin masa depan Vanita suram. Namun untuk gadis seperti Vanita masuk ke bangku perguruan tinggi adalah hal yang tidak mudah. Daya ingatnya rendah. Nilai akademiknya pun buruk. Akhirnya Velita mengalah. Velita menghabiskan masa mudanya dengan berkuliah di dua kampus yang berbeda secara bersamaan. Satu atas namanya, lainnya atas nama Vanita. Tujuannya agar Vanita setidaknya mempunyai gelar di belakang namanya.

Lalu kemudian saat aku melamar Vanita yang seharusnya aku lamar adalah Velita. Aku memang ceroboh. Namun mengapa Velita harus membohongiku? Mengapa dia tidak mengatakan kepadaku siapa dirinya yang sebenarnya sedari dulu? Dan kini istri yang ada dalam pelukku bukanlah orang yang aku cintai melainkan saudara kembarnya.

***

Aku marah pada Velita, tega ia membohongiku. Mengapa tak ia cegah pernikahanku dengan Vanita?
“Terlalu kau Vel, salah apa aku padamu? Aku begitu mencintaimu, namun kau membiarkan aku menikahi saudara kembarmu, kau telah membohongi aku. Selama ini aku selalu jujur padamu, namun sekarang apa yang aku dapat darimu? Jika kau memang tidak mencintaiku, baiknya kau katakan sejak awal.” Aku sangat kecewa.
“Maafkan aku Fer, bukan aku tak mau memberitahumu, hanya saja aku bingung harus memulai darimana. Bukan aku tak mau jujur, hanya saja aku takut kau tak percaya padaku. Akupun mencintaimu Fer.”
“Omong kosong. Jika kau mencintaiku tak mungkin kau berbohong padaku. Kau biarkan aku menikah dengan wanita yang sesungguhnya tidak aku kenal. Kau tak pernah tahu apa yang aku rasakan sekarang.”
“Maafkan aku.” Velita merajuk, air mata berjatuhan di wajah ayunya.
Aku diam, aku tak tahu harus berbuat apa. Yang aku rasakan sekarang hanyalah kekecewaan yang teramat sangat dan rasa sakit yang menusuk hingga kalbu.

Kunjungi blog Lia di link ini

KataKami

@PramoeAga ~ Masih harus dibiasakan untuk membaca ulang sebelum dikirim, agar meminimalkan typo.

@daprast ~ Meski sudut pandang laki-laki, aku masih melihat karakter wanita di
sana. Lebih hati-hati ya.

@therendra ~ Penulis terlalu banyak menjelaskan. Kenapa tidak bercerita saja dan biarkan pembaca yang mengartikan sendiri. Ya? Begitu ya?

Kekasih, Tunggu Aku Di Pintu Surga

by Riga @attararya

Pukul 11.30 malam. Langit malam begitu hitam. Bulan dan bintang bersembunyi di balik kelambu awan. Keheningan terasa begitu mencekam jiwa. Di luar rumah tua dan kosong tempat mereka bersembunyi hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara katak yang ribut menanti hujan. Rumah itu sendiri terletak di ujung sebuah jalan kecil, di dalam gang yang tak terlalu lebar. Rumah terdekat berjarak sekitar 50 meter dari rumah itu. Rumah kosong itu dihiasi sesemakan rimbun dan sebatang pohon mangga besar dan rindang yang menambah kesan seram. Beberapa papan di dinding sebelah kanan dan kiri tampak rapuh. Namun bagian depan rumah masih utuh, dengan pintu dan jendela yang tampak kokoh.

“Gimana keadaan di luar, Danar?” Rana berbisik. Ia mengenakan kaus biru, sweater hitam dan celana jeans warna biru muda. Di depannya hanya ada sebatang lilin yang menyala redup, sesekali siur angin meliukkan nyala lilin. Ada dua nasi bungkus di dekat mereka, teronggok begitu saja sebab tampaknya tak ada yang merasa lapar. Ruangan tempat mereka duduk dulunya adalah kamar yang cukup luas, terletak agak di belakang rumah. Lantai ruangan sudah dibersihkan sekadarnya dengan kain bekas yang ada di lemari usang di kamar samping.

“Ga ada orang, Mbak.” Lelaki muda yang mengintip dari jendela menyahut pelan. Wajah remajanya tampak kuyu. Keletihan yang begitu dalam membayang di bola matanya.

“Danar.” Panggil Rana pelan. Remaja itu menoleh. “Duduklah di sini.” Ia menurut.

“Ya, Mbak?”

“Kau mencintaiku?”

“Mbak! Kenapa masih tanya seperti itu? Jelas aku mencintaimu!” Danar mendadak gusar.

“Tenanglah, Sayang, jangan marah. Aku hanya ingin memastikan. Aku menyesal sekali telah membuat keadaanmu jadi seperti sekarang ini. Semestinya saat ini kamu menyiapkan diri untuk mulai kuliah, jalan bareng teman-teman kamu, menikmati dunia remaja. Tapi–”

Sebuah ciuman menghentikan ungkapan penyesalan Rana. Hangat. Rana yang semula terkesiap, akhirnya luluh dan membalas dengan lembut. Ah…lelaki ini, kekasihku. Usianya memang masih belia, tapi ia tahu caranya menyenangkan dan menenangkan hati Rana. Ia yang berusia 12 tahun lebih tua pun terkadang gentar menghadapi kenyataan yang sedang mereka alami sekarang. Cinta di antara mereka berdua memang kuat. Meski begitu apa yang bisa diharapkannya saat memutuskan pacaran dengan ‘anak ingusan’? Ia ingat pandangan seperti apa yang diberikan orang-orang ketika mengetahui mereka berdua punya hubungan khusus. Tatapan mencemooh, merendahkan, bahkan jijik. Rana adalah perempuan yang berusia jauh di atas Danar. Seorang janda pula.

Bukan sekali dua kali orang tua Danar mendatangi rumah Rana, menyuruh Rana menjauhi Danar, kadang dengan kata-kata bernada ancaman. Tapi setiap ia sampaikan hal itu kepada Danar, Danar selalu menguatkan dirinya, meminta ia bersabar. Sampai suatu malam seseorang tak dikenal melempari rumah Rana dengan batu yang diselipi selembar kertas berisi ancaman. Tindakan itu membuat jiwa Rana guncang. Ia meminta Danar menjauhinya, tapi justru Danar yang mengusulkan agar mereka kabur. Dalam kekalutan, Rana menyetujui usul Danar. Dan hal itulah yang membawa mereka sampai di sini saat ini. Bersembunyi seperti tikus ketakutan.

“Aku tidak menyesali apapun, Mbak. Aku memilih kabur bersamamu sebab aku tahu Papa dan Mama tak akan pernah merestui hubungan kita. Mereka menganggap tak mungkin tumbuh cinta di antara anak remaja dan wanita matang seperti kamu. Tapi mereka salah, Mbak. Sangat salah.”

Suara Danar memutus lamunan Rana. Dipandanginya wajah tampan yang mengguratkan kelelahan. Ditatapnya mata sayu yang menyimpan bara cinta sedemikian kuatnya. Tangan Rana terangkat, jemari lentiknya membelai wajah Danar. Sejenak Danar menikmati sentuhan sederhana tapi penuh makna itu, lalu meraup jemari Rana, menciumnya hangat, dan menangkupkannya ke dada.

“Besok, ketika keadaan sudah aman, kita akan kabur dari kota ini. Kita akan memulai hidup kita sendiri, Mbak. Mencari pekerjaan lalu kita akan menikah!” Mata Danar berbinar demikian bahagia. Rana menatap mata kekasihnya dengan pandangan haru. Ah, kamu masih begitu muda, Sayang. Semangat kamu masih tinggi. Sementara kamu belum mengerti sekeras apa dunia di luar sana, gumam batin Rana.

“Yang jelas, aku tidak mau berpisah denganmu, Mbak. Aku ingin memilikimu selamanya. Menjadi suamimu.”

“Ya, dan saat itu kamu harus mengubah panggilanmu kepadaku. Aku tak mau terus dipanggil ‘Mbak’!” Gurau Rana.

Danar tertawa pelan. Lelucon kecil itu sanggup mengendurkan sejenak urat saraf mereka yang tegang sejak pelarian mereka kemarin sore. Keluarga Danar pasti sudah menyadari kepergian anak kesayangan mereka. Mungkin saat ini mereka sudah minta bantuan polisi. Ah, entahlah. Rana tak ingin memikirkannya terlalu jauh.

Mendadak suara sirene memecah keheningan malam. Rana dan Danar terkesiap. Sigap merapatkan badan ke dinding kamar. Jantung mereka berdegup kencang. Berdoa semoga mereka tak terlihat oleh siapapun yang ada di luar rumah sekarang. Dengan gerakan perlahan, Danar mengintip ke luar melalui kain usang yang menutupi jendela tanpa kaca. Wajah tegangnya segera mengendur.

“Ada kebakaran rupanya, kulihat ada asap tebal di sebelah barat sana. Tadi mobil pemadam kebakaran yang lewat di depan gang.” Danar menghembuskan napas lega. Tubuh Rana merosot ke lantai diikuti Danar. Perasaannya kini semakin cemas. Setiap ada suara di luar rumah, hatinya langsung berdegup kencang.

Sejenak tak ada yang berbicara. Masing-masing memilih untuk menikmati sunyi yang hadir lagi. Rana melamun, membayangkan seperti apa kelak hidupnya jika sudah menikah dengan Danar. Ah, lamunan yang terlalu jauh. Hati Rana menepis bayangan indah di benak. Yang terpenting, besok pagi kami harus sudah pergi jauh dari kota ini. Mungkin ke Jakarta. Ya! Kenapa tidak? Di sana ada banyak pekerjaan. Dia bisa melamar di restoran, jadi pelayan toko, syukur-syukur dengan ijazah D3 ia bisa melamar jadi karyawan. Senyum di bibir Rana mengembang. Danar hanya menunduk di sampingnya sejak tadi.

“Sst, mbak..ada yang datang.” Suara Danar mendadak tegang. Dari balik kain usang tampak berkas-berkas lampu senter yang menyorot ke seluruh penjuru rumah. Tiga orang tampak mendatangi rumah itu dari kejauhan. Hati Rana ciut. Semua khayalan manis menguap begitu saja. Kini dia duduk tak bergerak di samping Danar. Hatinya cemas, bibirnya gemetar berdoa.

“Ayo! Kita mesti pindah dari sini, Mbak. Mereka orang suruhan Papa. Aku mengenali salah satu dari mereka.”

Tanpa suara, Danar beringsut pelan. Tubuhnya bergeser di sepanjang dinding kamar, mendekati pintu. Mereka harus bergerak hati-hati sebab saat keluar dari kamar, tubuh mereka akan gampang terlihat dari luar. Pintu dan jendela depan rumah memang tertutup rapat, tapi tak ada kain yang menutupi jendela-jendela itu.

Rana mengikuti apa yang dilakukan Danar. Saat mereka mencapai pintu kamar, Rana merebahkan diri dan merayap pelan menuju pintu belakang rumah. Sudah tak dipedulikan lagi pakaian mereka yang kotor menyapu lantai. Dada mereka berdegup demikian kencang. Setelah mencapai pintu belakang, Danar menutup rapat daun pintu, bergegas mengendap menjauhi rumah.

“Ada orang di dalam?” Sebuah suara berat milik seorang lelaki memecah sunyi. Senter ia sorotkan ke dalam melalui jendela tanpa kaca. Hanya ada kesunyian yang menjawab pertanyaannya.

Lelaki yang menyorotkan senter memberi isyarat pada dua temannya yang juga memegang senter. Salah satunya mengangkat ponsel dan mulai menelepon.

“Ada rumah kosong di dalam gang kecil ini, Pak. Kelihatannya tidak ada siapa-siapa. Tapi akan kami periksa lebih lanjut ke dalam.” Lapornya. Sesaat ia hanya diam mendengarkan, mengangguk, lalu mematikan ponsel.

“Lihat ke dalam, Min! Dul, bantuin!” Kata lelaki itu kepada dua  temannya yang memegang senter. “Oke, Jat!” jawab Min.

Dua lelaki yang dipanggil Min dan Dul mengitari rumah itu dari dua arah yang berbeda. Dul yang bergerak ke arah samping kanan rumah mengintip ke dalam dan berseru keras.

“Lihat, Jat! Ada lilin! Pasti mereka ada di sini. Ayo, kita dobrak saja!”

Serempak Min, Dul, dan Jat berusaha masuk ke dalam rumah. Min dan Jat mencoba membuka paksa pintu depan. Tapi sial bagi mereka, pintu itu tergembok. Membuka paksa hanya akan menimbulkan keributan memancing perhatian warga sekitar. Dul yang melihat jendela kamar samping bolong tanpa kaca, mencoba membuka selot. Berhasil!

“Kemari!” Serunya.

Ketiga lelaki itu masuk bergantian ke dalam kamar. Mata mereka liar menyapu seisi ruangan. Memandangi sebatang lilin yang kini tinggal separuh. Ada dua nasi bungkus yang belum dimakan dan dua plastik air minum diletakkan di sudut kamar. Min menyentuhkan jarinya ke salah satu nasi bungkus.

“Masih hangat,” serunya. Mereka kian semangat mencari ke seluruh penjuru rumah. Nihil! Danar dan Rana tak mereka temukan.

Jat menelepon lagi. “Barusan mereka di sini, Pak. Pasti belum jauh. Kami akan kejar mereka melalui jalan di belakang rumah ini.”

“Ayo!” serunya pada Min dan Dul. Bertiga mereka mengejar Danar dan Rana.

*********

Danar dan Rana terus berlari. Langkah kaki mereka tiba di sebuah perkebunan sawit. Cucuran keringat meleleh membasahi seluruh tubuh. Kelelahan lahir dan batin begitu mendera. Sekali Rana terjatuh sebab kakinya tersangkut akar pohon. Kaki kanan Rana terkilir dan memar. Ia tak mampu lagi berlari. Danar segera menggendong Rana dan tersaruk-saruk mereka melanjutkan pelarian.

“Mbak, lihat! Ada gudang di depan. Itu pasti milik perkebunan ini. Kita lihat, barangkali kita bisa sembunyi di sana.”

Rana menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah. Matanya berusaha fokus ke arah yang ditunjuk Rana. Tapi penerangan yang minim membuat Rana menyerah. Ia memasrahkan semua pada Danar.

Gudang itu pengap dan tanpa penjagaan. Danar dan Rana berhasil memasukinya setelah mencungkil selot pintu belakang gudang menggunakan gancu yang mereka temukan tersandar di dinding belakang. Mungkin ini adalah gudang penyimpanan hasil kebun. Namun saat mereka berhasil masuk, ternyata gudang itu kosong. Danar menyelot pintu gudang dengan gancu, sekedar penghalang agar orang luar tak melihat pintu gudang terbuka.

“Masih sakit kakinya, Mbak?” tanya Danar sambil menurunkan Rana perlahan di sudut sebelah kiri dari pintu gudang.

Rana menggeleng dan berusaha tersenyum. Sesungguhnya pergelangan kakinya teramat sakit. Ia hanya tak ingin menambah beban Danar. Semakin ia pikirkan semua ini, semakin ia merasa bersalah. Danar masih sangat muda, masa depannya terbentang luas. Dengan dukungan finansial dari keluarganya, sangat mungkin hidup Danar akan sukses di masa depan. Tapi apa yang dilakukannya sekarang? Membuang diri bersamaku? Rutuk hati Rana.

Danar berjalan mengitari gudang yang tak terlalu luas itu. Matanya mencari-cari ke seluruh penjuru. Di sebuah sudut ia berhenti. Entah apa yang sebenarnya ia cari. Sementara Rana terus berperang dengan batinnya sendiri.

Rana, kau jangan egois! Kecam sebelah hati Rana. Danar masih muda, jiwanya masih labil. Harusnya kau menasehati dia, bukannya malah setuju diajak kabur. Sebelah hati yang lain menyahut. Memang dia masih muda, tapi pendiriannya demikian mantap. Dia lebih dewasa ketimbang usianya.

Sebelah hati Rana mencibir. Lalu, apa akibatnya sekarang, Rana? Kalian kabur. Jadi pelarian. Masa depan Danar bagaimana? Bisa kerja apa dia dengan ijazah SMA? Ah! Ijazah SMA pun dia tak punya ‘kan sekarang? Sadari itu Rana!

Pergulatan hati Rana kian keras. Akhirnya Rana menyerah. Ia telah tiba pada sebuah keputusan. Keputusan yang seharusnya sudah ia ambil sejak kemarin.

“Danar, kemarilah!”

Danar menoleh, dan bergegas mendekat lalu berlutut di sebelah Rana. Wajah Danar tampak khawatir. Di tangannya ada selembar kain untuk membebat kaki Rana. Sesuatu berkilat di antara lipatan kain itu, tapi Rana tak begitu memperhatikan. Danar meletakkan kain itu di lantai lalu mengelus perlahan kaki Rana. “Kakinya sakit lagi, Mbak?”

“Tidak, bukan tentang kakiku. Aku ingin bicara serius padamu.”

Wajah Danar semakin tampak khawatir. Dia mulai menyadari, yang akan dikatakan Rana benar-benar penting.

“Aku ingin kita hentikan saja pelarian kita ini. Kembalilah pada keluargamu dan……..tinggalkan aku.” Sungguh pedih hati Rana mengucapkan kalimat ini pada orang yang sangat ia sayangi. Tapi ia tahu, ini yang terbaik.

“TIDAK! Aku tidak mau, Mbak! Aku sayang kamu, Mbak. Aku rela jadi seperti ini karena cinta sama Mbak. Aku ingin terus bersama Mbak Rana.” Danar demikian emosi. Matanya berkilat merah. Napasnya memburu.

“Dengarkan aku, Sayang. Hidup tak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan. Hidup tak selalu indah.” Rana terisak. “Jika terus bersama aku, hidupmu akan hancur, Sayang.”

Danar menangis. Air mata bercucuran membasahi pipinya. Suaranya kini serak.

“Aku tidak mau, Mbak Rana. Aku tidak mauu.”

Rana merangkul tubuh Danar yang terguncang. Mereka bertangisan melepaskan beban yang terasa amat  menyesak di dada. Berharap tetesan-tetesan bening itu dapat menyapu bersih penat di jiwa. Berbagi kekuatan lewat pelukan kekasih yang amat disayangi. Pada saat seperti itu, tampaklah seperti apa sebenarnya seorang Danar. Ia hanya remaja yang akhirnya goyah setelah diterpa masalah demikian berat. Semua sikap dewasa yang dia perlihatkan selama pelarian ini telah hilang tak berbekas. Dia tak tahan lagi.

Danar mengangkat kepalanya dari dekapan tangan Rana. Cepat ia hapus air mata yang masih menggenang di matanya. Mata itu, kini terlihat kembali keras.

“Kalau aku tak bisa hidup bersamamu, aku mau mati saja!”

Rana tersentak. “Danar! Jangan bicara seperti itu! Sadar, Sayang, hidupmu masih panjang. Mungkin kita bisa ketemu lagi lain waktu.”

“Tidak, Mbak. Tak ada lain waktu. Mbak tahu apa yang dikatakan Papa padaku kemarin sebelum aku memutuskan kabur? Dia bilang akan menguliahkan aku di Inggris. Ada saudara Papa yang bersedia menerimaku di sana. Entah berapa tahun aku akan di sana, Mbak. Aku tidak akan sanggup!”

Rana menangis. Ya, dia juga tak akan sanggup berpisah begitu lama.

“Dan Mbak tahu apa yang Papa katakan mengenai Mbak? Dia akan mengadukan Mbak ke polisi dengan tuduhan melarikan anak di bawah umur. Percobaan penculikan. Atau apapun asal Mbak bisa masuk penjara. Aku kenal Papa, Mbak. Dia orangnya keras. Dia tak akan mau merestui kita.”

Suara Danar kian meninggi. Mendadak tangannya bergerak ke arah kain yang tadi ia letakkan di samping kakinya, meraba sebuah benda, lalu mengacungkan tangannya. Sebuah silet ada di jepitan jemarinya. Rana menatap ngeri.

”Benda ini yang akan membuktikan cintaku kepadamu, Mbak. Aku akan mencintaimu sampai mati! Sampai mati!”

Tanpa dapat dicegah, Danar menyayatkan silet itu ke nadi tangan kirinya. Sontak darah segar menyembur. Rana histeris.

“Danar! Apa yang kamu lakukan, Sayang? Kenapa nekat begini?” Rana menghambur memeluk tubuh Danar. Tak dipedulikannya darah yang membasahi seluruh tubuhnya. Mata Rana melirik ke arah kain yang tadi dibawa Danar. Bergegas ia bebatkan ke pergelangan tangan Danar. Segera saja kain kumal itu memerah, basah dengan darah.

Mata Danar meredup tapi bibirnya tersenyum. Tubuh mudanya kehilangan banyak sekali darah. Kondisinya semakin lemah. Susah payah bibir Danar bergerak hendak mengucapkan sesuatu. Rana mendekatkan telinganya.

“Rana….aku mencintaimu. Selamanya.” Akhirnya kalimat terakhir keluar dari bibir Danar.

Perlahan kepala Danar terkulai. Matanya memejam dan napasnya tinggal satu-satu. Lalu hilang. Separuh jiwa Rana terasa terbang.

“DANAAAAAAAAARRRR!!!!”

Sementara di luar gudang, Min, Dul, dan Jat tersentak mendengar teriakan histeris Rana. Tanpa perlu dikomando, serempak mereka menuju asal suara, sebuah gudang di depan mereka. Tapi pintu gudang tak bisa dibuka. Ada sesuatu yang mengganjal dari dalam.

“Dobrak, Min!” perintah Dul.

Rana seperti tak peduli dengan keributan yang ditimbulkan tiga lelaki itu. Batinnya kini kosong. Semangatnya terbang bersama nyawa kekasihnya. Tubuh Danar yang masih hangat tetap ia peluk erat. Bibirnya tak mampu lagi menangis.

“Dobrak lagi, Min. Hampir kebuka!”

Kali ini suara Dul seperti menyadarkan Rana. Ia harus lakukan sesuatu. Mereka tidak boleh menangkapku! Perlahan ia rebahkan tubuh kekasihnya ke lantai gudang yang dingin. Rana menatap tanpa ekspresi pada silet berdarah yang tergeletak di samping tubuh Danar. Perlahan ia raih benda itu, memperhatikannya sebentar, lalu tanpa ragu ia sayatkan besi tipis dan tajam itu ke nadinya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Rana tak lagi peduli. Dia hanya ingin segera menyusul Danar. Pelan tapi pasti, nyeri menguasai diri Rana.

Perlahan penglihatan Rana memudar. Air mata membayang di pelupuk. Ia tahu, ini adalah air mata bahagia. Sebentar lagi ia dan Danar bisa kembali bersama. Rana tersenyum samar. Ia membaringkan dirinya tepat di samping jasad Danar yang semakin dingin. Dibelainya rambut dan wajah Danar. Dipeluknya jasad Danar sambil mengecup mesra bibir yang membiru.

“Kekasihku, tunggu aku di pintu surga.”

Tubuh Rana terkulai. Nyawanya terbang sudah, menyusul Danar ke alam abadi.

KataKami

@PramoeAga ~ Aaaaahhhhhh!! :’(  *speechless

Yang ‘menggangu’ cuma 1 : kenapa Danar masih memanggil ‘mbak’ pada Rana? Ah, beda 12 tahun kan tetap bisa manggil ‘beb’.  :p

@daprast ~ Nggak perlu komentar lain, lah, selain EYD-nya. Belajar lagi ya, Riga!

@therendra ~ Karya riga yang ini betul-betul padat. Intens. Saya dapat merasakan emosi demi emosi berkejaran. Ketegangan terbangun dengan baik. Ending yang luar biasa.

Masih Pentingkah Kita Berbeda?

by Lia Khairunnisa @liakhairunnisa

Kutenggelamkan kakiku dalam aliran Sunggai Gangga. Dinginnya menusuk hingga hatiku. Alirannya deras, sederas air mataku. Kalimat Bapak terus terngiang-ngiang di telingaku.

“Wanita Sudra seperti kau tidak akan mungkin bisa bersatu dengan lelaki Waisya seperti Chatura. Bapak tak punya banyak uang untuk membeli Chatura. Maka seharusnya kau tahu diri. Cari saja lelaki Sudra. Yang sederajat dengan kita.”

Aku dan Chatura telah menjalin cinta sejak kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Chatura sangat mencintaiku, ia tak peduli akan larangan keras dari orang tuanya. Di kalangan kami kasta merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi. Hina adalah saat kau menikahi pria atau wanita yang kastanya lebih rendah darimu. Masyarakat kami masih memegang teguh hal tersebut. Padahal di mata Tuhan kita semua sama bukan? Mengapa masih harus dipisahkan dengan kasta-kasta? Mengapa hakikat manusia yang pada dasarnya sama menjadi berbeda?

Chatura sempat mengajakku melarikan diri dari rumah. Namun akhirnya orang tuanya menemukan kami. Ia dibawa pulang dan dinikahkan dengan Radha, sahabatku. Sementara aku harus puas dengan omelan Bapak. Radha berkasta sama seperti Chatura. Radha berparas ayu, cerdas, dan menawan. Radha bisa saja mendapat lelaki waisya yang lebih sempurna dari Chatura. Mengapa harus Radha yang menikah dengan Chatura? Mengapa ia tega merebut Chatura dariku sementara ia tahu seberapa besar cintaku pada Chatura.

Malam ini Radha dan Chatura akan melangsungkan upacara pernikahan mereka. Sebelum Chatura dan Radha menikah, aku diam-diam menyempatkan diri berkunjung ke rumah Chatura. Kuketuk jendela kamarnya. Tak lama Chatura membuka jendelanya.

“Padma.” Ia berseru, sepertinya ia sangat terkejut akan kedatanganku.

“Ya Chatura, ini aku.”

“Mari kita pergi bersama, Padma. Aku tahu kau terluka. Akupun tak pernah menginginkan pernikahan ini, aku hanya ingin bersamamu.”

“Tidak Chatura, aku datang kemari bukan untuk mengusik hari pernikahanmu. Sudah cukup satu kesalahan yang kita buat, jangan kita ulang untuk kedua kalinya. Aku hanya ingin memberi ucapan selamat untukmu semoga kau bahagia dengan Radha.”

Chatura memelukku erat. Kejadian itu dilihat oleh Chandrika, adik Chatura. Chandrika mengira aku membujuk Chatura untuk membatalkan pernikahannya dan mengajaknya pergi bersamaku. Chandrika murka. Ia mendorongku hingga aku jatuh tersungkur di tanah.

“Gadis Sudra, harusnya kau sadar, kau tak pantas disandingkan dengan keluarga kami,” hardiknya.

***

Matahari telah terbenam, Radha dan Chatura pasti telah resmi menjadi suami istri sekarang. Ingin rasanya kutenggelamkan diriku pada aliran Sungai Gangga. Biar jasadku hanyut terbawa kemudian jiwaku dilahirkan kembali di keluarga dengan kasta Waisya atau Ksatria atau bahkan Brahmana. Mungkin lebih baik mati lalu reinkarnasi daripada hidup menderita dan terus menerus terhina hanya karena berada pada kasta terendah. Habis sudah akal sehatku, aku nekat menenggelamkan diriku pada derasnya aliran Sungai Gangga.

Namun beruntung bagiku. Baru saja tubuhku akan hanyut terbawa air, seorang lelaki tampan nan perkasa datang menyelamatkanku. Diangkatnya tubuhku keluar dari dinginnya air Sungai Sangga.

“Madhav! Mengapa kau datang menyelamatkanku? Biar saja aku mati!” Seruku. Bukannya berterima kasih aku malah menghardiknya. Madhav adalah teman sekolahku. Rumahnya bukan di desa ini. Pasti ia ada di sini karena baru saja menghadiri upacara pernikahan Chatura dan Radha.

“Padma, mengapa kau nekat? Aku tahu berat rasanya ditinggal menikah oleh orang yang sangat amat kita cintai, namun apalah gunanya kau bunuh diri? Kau pikir dengan mengakhiri hidupmu kau akan bahagia? Apa kau mengharapkan reinkarnasi? Omong kosong. Hidup hanya sekali Padma. Jangan sia-siakan hidupmu hanya karena cinta.” Aku hanya bisa tertunduk lemah.

“Padma, sudah sejak lama aku menyukaimu. Menikahlah denganku.” Tanpa aku duga secara tiba-tiba Madhav melamarku. Aku tercengang.

“Aku tahu ini bukan saat yang tepat, namun izinkanlah aku mengobati luka batinmu,” lanjutnya.

“Madhav, apa kau sadar dengan ucapanmu? Aku sudra, kau Ksatria. Ayahmu pejabat negara sedangkan ayahku hanya seorang petani. Kita jauh berbeda. Di kasta Waisya saja aku tidak diterima apalagi di kasta Ksatria.”

“Padma, masih pentingkah kita berbeda?”

“Perbedaanlah yang membuatku seperti ini, Madhav. Tidakkah kau mengerti?”

“Padma, asal kau tahu, ayahku bukanlah seseorang yang masih berpegang teguh pada kasta. Menurutnya semua kasta sama saja. Apa kau tahu dahulu ibuku adalah seorang Sudra? Aku dan keluargaku tak pernah peduli dari kasta mana kau berasal. Yang terpenting bukan tentang kasta Padma, tetapi tentang ketulusan hati dan keindahan budi pekerti. Keluargaku akan senang menerima gadis manis dan lembut hati sepertimu. Maka belajarlah mencintaiku. Menikahlah denganku.”

Kunjungi blog Lia di link ini

KataKami

@PramoeAga ~ Cerita yang manis. Tapi Lia, perhatikan lagi pengejaan tulisan sebelum dikirim. Tadi ada ‘kecolongan’ kata ‘tau’ yang seharusnya ‘tahu’. Lebih teliti lagi ya.. :)

@daprast ~ Bagus, Lia. Aku terbayang film India.

@therendra ~ Kisah ini nyaris bagus sekali. Latar belakang Hindu membuatnya berbeda dari cerita-cerita lain di jejakubikel ini. Sayang, masih tidak tergarap terlalu bagus.  Bagaimana pun kisah ini masih punya potensi untuk membaik. Saya tidak terlalu “ngefans” sama happy ending klasik seperti ini, jadi… saran saya, bila Anda tidak mengatur irama cukup untuk membuat emosi sampai pada “menangkap nilai ending yang Anda sampaikan”, buat saja yang mengejutkan.

Aku Lupa Ini Hari Apa?

by Vyna Arthalia @VyArthalia

Aku melihat angka-angka di sebelah lampu merah. Seratus enam. Masih 106 detik lagi, 3 menit lebih. Aku harus sampai tujuan tepat waktu. Jangan sampai terlambat.

Tepat waktu. Aku sampai jam 5 teng. Tak terlalu lama wanita muda cantik itu keluar dari kantornya. Aku menunggunya di tempat biasa, di simpang jalan tak terlalu jauh dari kantornya.

Shita sudah tersenyum dari jauh, aku memberikan kode kepadanya. Dia langsung mencium pipi kananku.
“Kangen banget, Mas,” ujarnya.
“Iya Sayang, Mas juga kangen. Tapi maaf Mas sibuk banget belakangan ini, nggak bisa jemput kamu,” ujarku sambil memeluknya.
“ Nggak papa Mas. Yang penting Mas udah jemput hari ini. Hari ini tidur di rumah kan?” tanyanya sambil menciumku bertubi-tubi.
“Lihat nanti ya Sayang, Mas usahain tidur di rumah malam ini,” ujarku lagi.
Tringggg… Suara dari smartphone-ku. Ku baca pesan darinya.

Dear, pokoknya malam ini kamu harus pulang. Aku tunggu.

Tenang aja Rin, aku pasti pulang malam ini. Lagian uangku juga sudah habis, butuh dana segar. Batinku.

“SMS dari siapa Mas?” Tanya Shita mencoba melihat handphone-ku.
“Dari Bosku, Sayang. Kayanya Mas nggak bisa pulang malam ini. Disuruh Bos lembur,” ujarku berbohong sambil menghapus barang buktinya dari ponselku.
“Kok gitu sih mas, udah berapa malam aku dianggurin, katanya sayang, katanya kangen,” ujarnya sambil memasang bibir mungilnya ditekuk ke bawah.

“Senyum dong cantik. Tenang aja, Mas nggak pulang tapi setoran buat kamu double besok yah,” ujarku menggodanya.
Dia langsung tersenyum, aku hapal benar otak wanita satu ini. Nggak jauh-jauh dari uang.
“Bawa duit yang banyak ya Sayang,” ujarnya sambil memelukku manja.

***

Aku pulang tepat waktu. Sebelum dia pulang, aku menyiapkan segalanya untuknya. Makan malam romantis dan kejutan lain yang membuatnya tergila-gila padaku.
“Aku pulang kan hari ini,” ujarku padanya.
“Iyah aku tahu kamu pasti pulang, karena kamu masih perlu ini kan?” Ujarnya melempar  amplop tebal ke arahku.
“Ah itu bonusnya, terlebih karena aku tak bisa hidup tanpa kamu sayang,” ujarku sambil menyambutnya dengan pelukan.
“Kamu paling bisa yah membuat aku gila,” ujarnya sambil tertawa kerut halus di wajahnya terlihat di balik tawanya.

***

Tadi malam dia menghabisiku, sampai aku terkulai lemas di tempat tidur. Sampai petang membangunkanku. Sampai lupa aku harus menjemputnya di kantornya. Aku terburu-buru mengejar waktu menuju kantornya. Tapi sayangnya aku lupa ini hari apa, jadwalnya aku menjemput Shita atau Karin. Kali ini mereka berdua menunggu di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Menunggu orang yang sama.

Kunjungi blog Vyna di link ini

KataKami

@PramoeAga ~ Masih minim penggunaan tanda baca nih. Terutama koma (,). Dan perlu diperhatikan penulisan kata ganti nama panggilan (mas, sayang) yang harusnya diawali dengan huruf kapital.

@daprast ~ Vyna, kamu selalu saja punya ide yang unik. Aku suka.

@therendra ~ Mengusung tema poligami dengan cukup baik, tulisan ini cukup layak dijadikan bacaan sore. Masih banyak kesalahan eja. Tapi, yang paling perlu perbaikan adalah sense of timing. Jangan buru-buru bercerita.

Aku, Dia, dan Masa Lalu

by Lia Khairunnisa @liakhairunnisa

KEYLA
Lapangan Parkir Kampus. 14:50

Aku berjalan di sepanjang lapangan parkir, langkahku tegesa. Aku harus segera pulang dan mengerjakan semua tugas yang sepertinya ingin mencekikku dan membunuhku secara perlahan ini. Aku bergerak cepat menuju mobilku, namun ketika aku hendak mengeluarkan mobilku dari parkiran yang sangat ramai ini tiba-tiba,
BRUK!!
Mobilku ditabrak oleh mobil lain dari belakang.
‘Aahhh siapa sihh nihh nabrak-nabrak, nggak tau apa gue lagi buru-buru.’ Batinku.
Segera aku turun, aku ingin melihat siapakah orang yang telah menabrak mobilku.

“Aduh mbak maaf banget saya nggak sengaja, nanti kerugian mbak akan saya ganti,” ujar lelaki itu.
Kutatap wajahnya, aku ingin tahu seperti apa rupanya.
“Elang!” Ujarku kaget. Aku mengenali wajah itu, yaa aku sangat mengenalinya.
“Keyla, kamu kuliah di sini sekarang?”
“Iya. Kamu ngapain ada di sini? Bukannya kamu kuliah di luar negeri ya?”
“Aku udah lulus Key.”
“Ohh, terus ngapain kamu di sini?”
“Nemenin Mentari cari buku di perpustakaan kampus ini.”
“Keylaaaa!!!” Tiba-tiba Mentari datang dan langsung memelukku.
“Gue kangen banget sama lo, Key!” Katanya.
“Gue jugaa Tar!” Sahutku.

“Duh tapi maaf gue nggak bisa lama-lama, gue duluan ya, masih ada urusan.”

“Ehh mobil lo gimana, Key?” Tanya Elang.

“Nggak apa-apa, ada asuransinya kok,” sahutku.
“Aduh sorry banget ya Key,” kata Elang.
“Nggak apa-apa. Gue duluan yaa Lang, Tar.” Aku bergegas menuju mobilku dan segera melaju pulang.

ELANG
Mobil Elang. 15:10

Tidak kusangka aku bisa bertemu lagi dengan Keyla setelah sekian lama aku tidak bertemu dengannya. Telah lama aku mengenal Keyla, Keyla yang dulu selalu ada untukku, Keyla yang manis, yang ceria, yang penuh canda tawa, Keyla…..
“Hehhh! Ngelamun ajaaa lo!” Adikku, Mentari, membuyarkan lamunanku.
“Pasti lagi mikirin Keyla!! Tambah cantik ya dia.”
“Udah dehh nggak usah sok tau.”
“Aduh, gue lupa minta pin BB nya lagi. Kita kan udah nggak ada kontak sama sekali sama dia semenjak empat tahun yang lalu,” lanjutnya.
“Gimana sih lo, bukannya tadi minta sekalian.”
“Ihh kan lupa. Mudah-mudahan bisa ketemu lagi sama dia.”
‘Ahh iya, kenapa aku nggak minta pin BB atau nomor ponsel Keyla.’ Aku mengutuki diri sendiri.

KEYLA
Kamar Keyla. 16:55

Kubuka laptopku, baru akan kukerjakan tugasku namun pikiranku telah melayang, melayang ke memori empat tahun silam. Memori aku dan pria yang kutemui tadi siang.
Sore itu, empat tahun yang lalu, masih kuingat genggaman tangannya yang hangat. Saat itu aku masih duduk di kelas tiga SMP dan dia kelas tiga SMA. Kami telah berpacaran selama tiga tahun, sejak aku kelas duduk di kelas satu SMP. Dia sahabat abangku. Mereka telah bersahabat sejak mereka duduk di bangku SMP. Sejak dahulu dia sering main ke rumahku.

Sudah cukup lama aku mengenalnya. Hingga sore itu, pada hari kelulusannya, kubuat keputusan yang sulit untuk dia terima.
“Key, aku harus pergi, orangtuaku maksa aku untuk kuliah di Australia, tapi kamu jangan khawatir Key, aku akan selalu kirim e-mail ke kamu, lalu nanti setiap liburan aku pasti pulang ke Indonesia.”
“Hmm Lang, kayanya hubungan kita nggak bisa diterusin lagi deh.”
“Lohhh Key??? Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kaya gitu? Kamu nggak mau LDR??”
“Bukan masalah itu Lang, kita beda Lang, kita nggak bisa gini terus.”
“Tapi kita sudah tiga tahun menjalankan hubungan ini dan tidak ada masalah.”
“Memang, terlihat seperti tidak ada masalah. Tapi coba kamu lebih peka sedikit, perhatiin orang tua kamu, mereka sepertinya tidak setuju dengan hubungan kita, begitu juga orang tuaku.”
“Tapi bukan gini caranya Key, aku sayang banget sama kamu, aku nggak bisa tanpa kamu.” Dia menggenggam tanganku dengan erat sekali. Masih kurasakan genggaman tangannya yang seakan tak ingin dilepaskan.

“Nggak Lang, kita nggak sama. Mulai sekarang kamu jalani hidup kamu dan aku jalani hidup aku. Nggak ada lagi kita. Semuanya harus berakhir.” Kulepas genggamannya dan beranjak pergi meninggalkan Elang dengan sejuta pedih, namun Elang tak pernah tahu air mataku jatuh pada sore itu, aku tahu Elang hancur, tapi dia tak pernah tahu semalaman aku menangisinya hingga lelah.

Perbedaan keyakinanlah yang membuat aku harus melepaskan Elang, walaupun rasanya sangat berat untukku.
Lalu sekarang rindu itu mendesak dalam dadaku, senyum Elang yang aku temui tadi masih semanis dulu, tutur katanya masih selembut dulu, dan aku yakin genggaman tangannya juga masih sehangat dulu. Aku rindu.

ELANG
Kamar Elang. 19:05

Aku membuka lemariku dan mencari sesuatu di dalamnya. Setelah membongkar isi lemariku akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Sebuah album foto berwarna merah marun, warna kesukaan Keyla. Di dalamnya terdapat foto-fotoku bersama Keyla. Semuanya masih tersimpan rapi. Serapi perasaan yang tersimpan di hatiku untuknya. Kubuka satu demi satu lembaran-lembaran kenanganku bersamanya.

Aku rindu Keyla. Saat-saat bersamanya adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Ada didekatnya seperti mengisi ulang semangatku. Dan apapun yang dia lakukan adalah hal yang ingin terus menerus aku lihat. Aku rindu.

KEYLA
Balkon Kamar Keyla. 21:00

Angin malam berhembus perlahan, mengoyak sepi hati yang menahan rindu, semoga angin membawa pesan rindu ini padamu.
Kita adalah dua insan yang terjebak dalam satu cinta yang sama namun dipisahkan oleh keadaan.

ELANG
Balkon Kamar Elang. 21:00

Langit malam ini penuh bintang, namun hanya satu yang gemerlap sinarnya, coba lihat bintangmu begitu terang sampai bintangku meredup sinarnya.
Kita adalah dua insan dengan satu rindu yang sama namun tak mungkin menyatu.

Kunjungi blog Lia di link ini

KataKami

@PramoeAga ~ Alur dan setting yang menarik. Saran aja, untuk kalimat yang diucapkan dalam hati oleh tokoh sebaiknya dicetak miring.

@daprast ~ Sepertinya, pengalaman pribadi? Dalem gituh… :)

@therendra ~ Cukup kreatif dari segi bentuk. Tapi untuk ukuran sebuah cerita, ini masih masih dangkal. Sebetulnya cerita ini sarat muatan emosi dengan perjalanan ke masa lalu-nya, namun tak memberi pesan apa-apa tentang hubungan itu sendiri. Nostalgi belaka.