Archives

now browsing by author

 

Jangan Mencintaiku | @daprast

daprast

― oleh Daniel Prasatyo @daprast

 

Jangan mencintaiku,

karena cintaku akan melukaimu,

dengan ribuan kecup bertubi-tubi,

setiap kita berjumpa kembali.

 

Jangan mencintaiku,

karena cintaku akan menyakitimu,

dengan hantaman rindu tak kenal waktu,

tak tahu malu, tak mau tahu.

 

Jangan mencintaiku,

karena cintaku akan menyiksamu,

dengan impian-impian indah bak negeri dongeng,

diiringi lagu latar yang sedikit cengeng.

 

Jangan mencintaiku,

karena cintaku akan membunuhmu,

agar jiwa dan ragamu menjadi milikku saja,

agar kita bisa abadi selamanya.

Ku Tak Bisa | @noichil

noichil

― oleh Nina Noichil @noichil

 

Pernah berpikir tuk pergi

Dan terlintas tinggalkan kau sendiri

Televisi di depanku masih saja menayangkan perempuan-perempuan bermake-up tebal. Mereka berteriak-teriak dan berlomba-lomba melebarkan mata mereka. Sejenak aku berpikir, betapa capeknya pekerjaan mereka. Orang-orang ini dibayar untuk meluapkan kemarahan. Membayangkannya saja otakku langsung terasa lelah.

Aku melirik jam dinding. Pukul delapan kurang lima belas menit. Seharusnya, lima belas menit lagi aku sudah berada di tempat itu.

“Kapan lagi, Ndro? Kalo nggak pernah nyoba, kamu nggak akan pernah tau gimana enak dan serunya dunia malam.”

Suara Baskoro tadi siang bergaung di kepalaku.

Sesungguhnya, aku penasaran. Sekali-kali, aku ingin pergi ke sebuah tempat yang berudarakan gairah. Sebuah tempat dimana semua napas orang-orang di dalamnya mengejar lonjakan adrenalin dan berburu hasrat yang menggebu. Sesungguhnya, aku penasaran sekali.

“Kamu perlu selingan, Ndro. Istrimu itu kuno sekali. Pendiam dan jarang berdandan. Ayolah … Nanti kukenalin sama cewek-cewek yang oke.”

Aku menoleh dan mendapati Rahma yang tengah asyik merajut sebuah kaos kaki berwarna hijau. Kaos kaki mungil yang ia siapkan untuk bakal anak kedua kami.

Rahma begitu polos. Wajahnya bersih tanpa riasan apapun. Tubuhnya dibalut daster batik yang itu-itu saja. Ia memang pendiam dan penurut. Baskoro bilang, terlalu penurut. Baskoro bilang, istriku adalah tipe perempuan yang membosankan.

Ponselku bergetar. Nama Baskoro tertera di layarnya. Mataku menatap ponsel dengan ragu. Egoku sebagai laki-laki sangat ingin untuk pergi.

“Mas, katanya jam delapan ada makan malam sama klien? Kok belum siap-siap?” tiba-tiba Rahma menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh dan memandang matanya. Bening tanpa curiga.

“Eh iya … Aku hampir lupa,” jawabku.

“Itu hapemu getar-getar terus, Mas. Jangan-jangan kamu sudah telat. Buruan berangkat. Kusiapin kemejamu, ya …” kata Rahma. Ia meletakkan rajutan kaos kaki yang belum selesai dan beranjak menuju kamar kami.

Ponselku bergetar lagi. Kebimbangan itu datang lagi. Kali ini ada yang berteriak-teriak di dalam hati. Suaranya begitu kecil, sehingga butuh konsentrasi untuk menangkap maksudnya.

Aku beranjak dan menuju kamar. Kudapati Rahma sedang menyiapkan kemeja, celana panjang dan sepatu untukku. Tubuhnya yang sedang mengandung lima bulan itu tetap cekatan.

Tiba-tiba kenangan sepuluh tahun terakhir menjelma menjadi bayang-bayang di depan mata. Aku meminangnya karena cinta. Hanya bermodalkan cinta. Belum ada rumah atau tabungan. Kami berdua menaklukkan cobaan dan tantangan dengan jalan yang terseok-seok. Tapi kami saling menopang. Dan Rahma tidak pernah mengeluh atau mengungkapkan betapa sebenarnya memulai hidup berdua denganku telah membuatnya begitu merana.

Aku dan Rahma layaknya baju yang menutupi kekurangan satu sama lain, dan perhiasan yang berharga bagi satu sama lain.

Aku berjalan mendekat istriku. Menimbang-nimbang ponsel yang sedari tadi tidak berhenti bergetar, lalu menekan tombol merahnya. Kudekap Rahma dari belakang. Kurasakan ia terkejut dengan sikapku yang tidak biasanya.

“Bajumu sudah siap, Mas,” ujarnya dengan suara yang lirih.

Aku tersenyum.

Kadang-kadang, kita harus berjalan dan mendekatkan diri pada hati kecil diri sendiri agar bisa memahami apa yang ia katakan. Kukecup pipi Rahma yang wangi bedak bayi, “Baskoro bilang, makan malamnya dibatalkan. Dan mumpung si mbarep sudah tidur, aku ingin malam mingguan sama kamu aja.”

Ku tak bisa jauh

Jauh darimu

***

 

K | @nafriyrrah

Harry Irfan

― oleh Harry Irfan @nafriyrrah

 

Namanya Venezia Laluna, tapi dia lebih senang dipanggil Venong. Aku juga bingung kenapa ia mau dipanggil nama itu, padahal nama aslinya jauh lebih indah, Venezia. Ah, aku suka nama itu.

Kesukaanku padanya bukan hanya sebatas nama. Aku juga mencintai sosoknya. Sosok wanita modern, modis, cantik, dan mandiri. Aku juga mengagumi pribadinya. Pribadi wanita anggun, ramah dan selalu tersenyum, termasuk padaku. Ah, aku meleleh setiap ditatapnya.

Aku sadar aku jatuh cinta padanya, aku terlanjur sayang padanya, apapun kondisinya. Dan jadilah aku pengagum rahasianya. Setiap hari, aku menaruh bunga di meja kerjanya, menulis sedikit pesan cinta dengan tambahan inisial nama, cuma satu huruf, aku tak berani ia tahu siapa aku.

Aku tahu, aku mungkin tak pantas untuknya, dan apalagi aku tahu, ia sedang jatuh hati pada pria lain. Veneziaku jatuh hati pada Bari, lelaki yang juga bekerja di kantor ini. Sayangnya, Bari tak menyadari itu, ia lebih fokus mengejar cinta sahabatnya. Aku tahu, Veneziaku pasti sakit hati dan bersedih setiap hari Bari selalu bercerita tentang usahanya menyatakan cinta pada wanita yang bernama Yura itu. Makanya, setiap hari aku menghiburnya dengan menaruh bunga segar di meja kerjanya. Hanya itu yang berani kulakukan.

***

Siang itu, kulihat Veneziaku sendirian di kantin. Matanya sembab, ia habis menangis. Ia menangis mungkin karena Bari lagi. Ingin aku menghampiri dan membelai rambutnya. Namun, lagi-lagi nyaliku ciut, aku hanya berani mengawasi dan mengintai dari sini.

Menjelang jam istirahat berakhir, kusempatkan diri untuk mengunjungi kubikelnya. Lagi-lagi setangkai mawar merah dengan catatan kecil “Jangan bersedih, Veneziaku.. Masih banyak yang sayang padamu.. Termasuk aku…. ~ K” kusematkan di atas mejanya.

***

Hari ini kiamat bagiku. Ada kabar buruk datang dari atasanku. Aku dipindahkan. Aku tak bisa lagi mengintai seluruh kegiatan Veneziaku. Aku tak bisa lagi memandangi lekuk senyum yang indah itu. Dan yang paling penting, aku tak bisa lagi menghiburnya dengan bunga dan kata-kata cinta itu.

“Dear Venezia…

Apakah kamu suka kuhadiahi bunga dan catatan cinta setiap hari?

Atau terganggukah dirimu?

Maaf…

Venezia,

Mungkinkah kamu akan merindukan keberadaanku?

karena inilah bunga terakhirku untukmu..

~ K “

***

Venezia terdiam membaca catatan berwarna kuning muda itu. Pikirannya melayang kemana-mana. Entah, dia bingung dengan perasaannya. Harusnya dia senang, setelah ini tak ada lagi tak menerornya dengan bunga setiap hari. Tapi terorkah ini? Venezia sangsi. Apa mungkin dia harus bersedih, kehilangan seseorang yang mungkin mencintainya dengan tulus.

“Ah, sebodo lah…” Ujarnya sembari melempar catatan kecil itu. Tapi tak jadi, dipungutnya kembali catatan itu. Dibacanya sekali lagi, dan sebentuk senyum lalu merekah diwajahnya putihnya.

“Siapa K? Kasim si anak HRD gak mungkin, dia sudah menikah. Keenan juga gak mungkin, dia kan pacarnya Kugy. Pak Kuspri lebih tak mungkin lagi, ya kali Direktur naksir gue!” Venezia menggumam sendiri.

Tetiba matanya menanggap ada sedikit keramaian di kubikel dekat lobi.

“Ada apa sih, Tha? Kok di sono rame?” Tanya Venezia pada Martha yang lewat depan mejanya

“Oh itu, ada pamit-pamitan, dipindah ke kantor lain!” Ungkap Martha sembari melahap kembali lolipopnya. Mendengarnya, Venezia menahan napas, mungkinkah dia si pengagum rahasia?

“Siapa, Tha? Pindah ke mana?”

“Si OB yang paling rajin, Si Kusman, dia di pindah di Kantor Pusat!”

***

~ terinspirasi dari lagu Pemuja Rahasia – Sheila on 7

 

 

 

Untukmu, Hujanku | @memedHe

memedHe

― oleh Metrika W. Anjari @memedHe

 

Haii..

Aku tak perlu menanyakan kabarmu, karena meskipun aku tak menanyakannya, aku tahu setiap detik gerikmu. Kamu hanya perlu berbasa-basi menanyakan kabarku, meski semua yang pernah kamu lakukan padaku, sudah ku hafal dengan benar. Aku tak pernah keberatan. Kamu mengulang-ulangnya terus menerus, tapi aku suka. Aku selalu menyukai mimik wajahmu yang malu-malu hendak menyapaku. Dan akhirnya, kamu hanya memilih untuk tersenyum padaku. Ahh.. kalau saja kamu tahu aku selalu menata dengan baik akal-akalanku berpapasan muka denganmu. Iya, aku merencanakan semuanya. Sendirian. Dan apalagi kalau bukan untuk senyum simpulmu.

Enam hari ke depan, aku ingin berada di dekatmu. Duduk berdua bercengkerama di bawah langit biru malam yang sama-sama kita sukai. Merangkai kata bersama, merasuki ruang yang kita ciptakan sendiri tanpa ada orang lain selain kita. Berdoa di belakang dua puluh tiga lilin yang menyala. Kamu tiup pelan-pelan, tersenyum tipis sambil melihatku. Kemudian kamu cium keningku. Pelan. Lambat. Hangat. Dan mampu menggetarkan seluruh tubuhku. Ahh.. Betapa bahagianya aku, jika itu memang benar-benar terjadi. Mau bagaimana lagi, itu hanya sebatas angan-anganku saja. Aku sedih karena tak mampu melebihkannya.

Delapan tahun yang lalu, aku tahu kamu dan senyummu. Aku tahu cinta itu tak mungkin menatapku begitu saja. Heii, apa kamu tau, lesung pipitmu sudah benar-benar menaklukkan gengsiku. Aku meruntuhkan semua pertahanan dari dalam hatiku yang sudah kubangun bahkan sejak aku belum bisa mengeja kata cinta dengan benar. Semua musnah hanya dengan sekali senyummu. Kamu tak tahu itu kan? Pasti lah! Yang kamu tahu cuma bagaimana kamu menebarkan pesonamu ke segala arah. Padahal waktu itu aku yakin, ketika senyum kita beradu, kita adalah jodoh yang ditakdirkan oleh Tuhan.

Delapan tahun kini, tak selalu ada kamu di hatiku. Aku pernah lelah menunggumu. Aku pernah putus asa menanti ringan senyummu lagi. Aku pernah lupa bagaimana kamu mempesonaku dengan tanpa kamu berbuat apapun. Aku pernah melakukan itu. Maaf karena tidak bisa menjaga hatiku yang sudah kutetapkan hanya untukmu. Ketika aku bersama cintaku yang silih berganti, ruang milikmu tak pernah benar-benar terisi oleh orang lain. Sampai detik ini. Entah aku bodoh atau apa, ruang itu memang hanya sediaku untukmu. Kamu tak perlu berusaha mengingat-ingat apapun tentang janji kita untuk saling menyisakan tempat di hati kita, karena itu hanya ada di anganku. Ya apalagi kalau bukan angan yang ku ciptakan sendiri.

Kamu tahu, sejak delapan tahun lalu, setiap detik sendiriku yang ada hanya angan tentangmu. Setiap hari aku selalu berperang dengan logika yang kupunya. Di antara diamku, aku selalu berharap kamu tiba-tiba berubah hati dan berjalan beriringan denganku. Tapi logika selalu menamparku tanpa ampun. Selama tiga tahun hanya berbagi senyum tanpa sapa yang menyebut nama. Lima tahun bersisa dengan hanya mereka-reka senyum yang sudah sangat ku hafal. Ahh.. dasar kamu!! Duniamu selalu berputar di kepalaku. Tidakkah duniaku seperti itu di kepalamu?

Aku tahu, kamu pasti diam-diam mempertanyakan, kenapa untuk hujan? Yaa.. memang untuk hujan. Tidak salah lagi. Hujan itu memberikan kesejukan, kesegaran dan harapan mereka yang sedang kekeringan hatinya. Tapi di satu sisi yang lain, hujan bisa memberikan bencana jika manusia merusak alamnya sendiri. Kamu memang hujan. Aku yang kamu berikan kesegaran, kesejukan dan harapan saat aku rapuh. Tapi aku bodoh. Aku merusak hatiku sendiri. Dan hujan pun berganti menjadi bencana.

Kamu tahu, cinta sendiriku ini, tetap tak ingin kamu tahu. Paling tidak sampai saat ini. Biarkan saja aku memakai pensil warna sesukaku untuk mewarnai hariku. Aku tahu aku tak pandai melukis. Tapi kamu tak pernah tahu, jika semua yang indah sudah ada saat kamu membagi senyummu untukku. Rinduku suatu saat pasti akan buyar. Kita akan bertemu di antara ruang rindu yang kita ciptakan bersama di saat yang berbeda. Suatu saat aku akan melihat senyummu lagi. Dan untuk kali pertamanya, namaku akan terucap ringan dari bibirmu.

Haii cinta yang malu-malu meminta restu,

Kapanpun kelak kita bertemu kembali, jangan lupakan dingin dan kerasmu. Dan kamu akan lembut dan hangat hanya karenaku. ^^

Selamat datang di tempat terindah di hatiku, kelak…….

Sekali Lagi | @poetdut11

poetdut11

― oleh Ariffani @poetdut11

Aku ingat saat melihat lelaki itu pergi meninggalkan rumah dari kejauhan. Dia hanya membawa tas punggung dengan air muka yang tak bisa aku gambarkan. Kemudian yang aku tahu kehidupanku berubah 360 derajat. Dan aku bukan lagi menjadi aku yang seperti biasanya, aku hanya lebih kuat dan tegas dalam menjalani hidup. Tak lagi bermanja-manja dan merengek. Aku berjuang demi mimpi dan inginku.
Dan aku masih tetap mencarinya. Lelaki yang pergi dari rumahku 13 tahun. Karena ia pergi tanpa alasan. Karena aku yakin suatu saat aku akan menemukan alasannya.
 Hingga senja itu saat aku berdiri di teras lantai 2 rumahku dan melihat lelaki itu berdiri di luar area pagar rumahku. Lelaki yang darahnya mengalir di dalam darahku.  Kami sama-sama menatap dalam diam, sedetik kemudian dunia terasa tak berputar, tak lama aku sadar dan segera turun untuk mengejarnya, karena aku tak mau lagi kehilangan dia.
Don’t make me close one more door, I don’t wanna hurt anymore. Stay in my arms if you dare, Or must I imagine you there. Don’t walk away from me, please.. don’t walk away from me…
Tapi ternyata dan sekali lagi Takdir berkata lain. Lelaki itu tak ada di depan pagar rumahku. Ia menghilang lagi. dan 13 tahun yang terlewati tanpa air mata berubah menjadi tangisan. Karena sekali lagi aku tak mampu untuk mencegahnya pergi.

Almost Fictional | @NaomiArsyad

naomiarsyad

― oleh Naomi Arsyad @NaomiArsyad

 

My dearest friend,

I know this whole letter might sound cheesy. But I decided to just write to you. I know you wouldn’t judge or hate me. Or would you? What I know is, I trust you. I think this is that “now or never” moment. I know you’re the easiest person to talk to, but I can’t talk to you about this. You know I write everything I can’t say.

So there’s this guy. You probably know him. I don’t know how to describe him with words. What? I know you’re surprised because you think I can always paint the right words, eh? This time I can’t. But I’ll try. Okay. He is… Almost fictional. Before I met him, I thought a guy like him only can be found in books or movies. But then, yeah, I met him.

Almost fictional. Mixture of amazing personality and extraordinary brain. Brave and different. I don’t say this because I like him. I’m saying the truth. Objectively. Even though love shouldn’t be objective, should it? You gotta see him when he talks about things. He comes up with unique opinios. People would gave him strange looks, but, I would be overwhelmed. He laughs over the stupidest thing, but people laughs at him. He doesn’t judge people, but people judge him. I don’t know why people could be so mean sometimes, especially to someone who I thought didn’t exist in real life. He is one in a million. What I know is, if he walked away from my life, I would not be lucky enough to find anyone like him.

So… Am I in love? Because I don’t know about my feeling. I haven’t even tell myself about this. What I know is I went to sleep memorizing every moment we had and woke up thinking about him running his hand through his wavy-and-messy hair. And it’s weird how he plays with my mood in a blink of an eye. Wow look what he has done to me. I guess that’s all I wanna say. I’m sure you’re wondering why I can’t say this to you in person when you told me things about your crush, and you’re wondering why I don’t tell you details about this guy.

Well, I’m gonna tell you why.

It’s because you might know him better than I do. Because you live with him in your entire life and I just met him.

Because he is you.

Much love

-Me

 

 

Cemburu | @noichil

noichil

― oleh Nina Noichil @noichil

Hujan turun dengan derasnya di malam ini. Rupanya langit turut merayakan hari besar kepedihan dan sakit hati. Lagu sendu mengalun dari udara kosong di sekitarku. Hanya ada aku, secangkir teh hijau dan desah napasmu yang memburu.

Kucemburu bila kau dengannya

Kucemburu karena kau adalah sebagian dari hatiku

Apa yang harus dilakukan seorang perempuan yang cemburu? Menumpahkan segenap air mata hingga pahit dan asinnya rasa bermuara ke samudera? Atau melepaskan kemarahan secara membabi buta?

Apa yang harus kulakukan?

“Sudah kukatakan, Jun. Sudah kukatakan sejak dulu. Hatimu adalah milikku. Hanya milikku.”

Di antara foto perselingkuhanmu yang bertebaran, mulutmu terdiam. Tetapi di foto-foto itu pula, mulutmu terlihat begitu bersemangat ketika menyatu dengan bibir perempuan yang tak kukenal.

Hujan di luar sana semakin deras. Menyatukan irama dengan jantungku yang mengganas. Isi kepalaku meliar. Aku hanya bisa melihat rasa cemburuku yang sedang lapar.

Kucemburu karena kau adalah sebagian dari hatiku

“Jangan melawan, Jun. Aku akan melakukannya perlahan. Kamu tahu, kan … Sejak dahulu, hingga sekarang. Bersamamu, aku makan hati.”

***

Cinta Yang Abadi? | @_tikakarlina

_tikakarlina

― oleh Tika Karlina @_tikakarlina

“kamu masih mencintainya hingga rambutmu memutih seperti  ini?” tanya seorang kakek kepada seorang nenek yang duduk terdiam membekukkan raut mukanya di atas kursi yang bergoyang secara perlahan. Pandangannya kakek itu merawang pada jendela rumahnya yang terbuka. Jejak matanya mengintai seseorang yang barang kali akan mengaggu obrolan mereka berdua di ruangan yang tak seluas kelas mereka dulu.
“tidak” jawab wanita yang sudah menanggalkan masa mudanya itu dengan singkat. Nadanya bergetar lemah namun mampu memecah keheningan siang itu. Kakek tua itu mengalihkan pandangannya menuju garis-garis keriput wajah yang dimiliki oleh nenek itu. Lalu, ada senyum yang begitu tipis.
“dan selama ini. Kamu memilih untuk menua bersamanya? Bukan bersamaku?” kakek tua itu meninggikan intonasi nadanya. Terkesan kaget. Lalu kepalanya menunduk. Menatap kotak lantai yang tak berdosa atas kisah hidupnya.
“mungkin inilah jalan yang terbaik. Dan kita mesti relakan kenyataan ini” nenek tua itu tersenyum simpul. Isi kepalanya memutar penuh lagu Kasih Tak Sampai yang dinyanyikan oleh grup band Padi. Ingatannya pula memutar kenangan bersama lelaki tua di hadapannya.
Lelaki tua itu berdiri menghadap perempuan yang sudah lama ia cintai. Kepala sang nenek dihiasi oleh rambut yang memutih mengikuti pergerakan sang kakek yang masih ia cintai hingga detik nafasnya yang terhembus cepat saat ini.
“aku pulang. Kamu urusi suamimu yang renta itu. Jaga anak kita. Suruh cucumu itu untuk bermain ke rumahku. Ia adalah keturunanku pula” sang kakek lalu melangkah menjauhi sang nenek yang duduk terdiam. Sang kakek itu adalah cinta yang tak sempat ia miliki dari masa lalunya hingga masa tuanya. Mencintai lelaki tua itu adalah kewajiban, namun memiliki cintanya yang seutuh, adalah harapan hingga sekarang. Begitu pun oleh pria tua yang melangkahkan kakinya menuju  ambang pintu.
Tetaplah menjadi bintang di hatiku, Seli. Agar cintaku ini benar abadi. Biarkan sinar kasihmu tetap menjadi mentari pagi yang selalu setia menghangatkanku dari dinginnya semalam, agar ia mampu menjadi saksi dari cinta kita yang abadi, walau kamu sudah, dan masih terus bersamanya. Kata sang kakek renta dalam hatinya.

“Gus!” panggil nada nenek itu kepada pria renta di ambang pintu. Kembali, suara paraunya memecah keheningan. Pria renta itu berhenti melangkah, lalu memutar kepalanya empat puluh lima derajat ke arah kekasih tak sampainya. Ada senyum yang dilihat kakek tua itu dari seorang perempuan yang hingga kini masih ia cintai. “kamu segeralah untuk menikah!”

Sahabat Terkasih | @nafriyrrah

Harry Irfan

― oleh Harry Irfan @nafriyrrah

 

Aku mungkin adalah lelaki paling bodoh yang ada di dunia. Bagaimana tidak, lima tahun memendam rasa pada seorang wanita, bahkan mengucap kata cinta sekalipun aku tak sanggup. Wanita itu bernama Yura, gadis manis yang awalnya hanya sebatas sahabat pena, lalu kami bertatap muka dan bertemu di kampus yang sama, jurusan yang sama, dan mayoritas kelas yang sama. Di kampus, kami sahabat sejati, tak jarang lelaki yang naksir Yura cemburu padaku. Jika kulihat Yura tak tertarik, aku dengan sukarela mengaku pacar Yura sehingga lelaki itu memilih pergi. Namun, jika lelaki tersebut menarik perhatian Yura, aku akan mati-matian menjelaskan pada lelaki itu mengenai hubungan kami yang sebatas sahabat, dan selama masa PDKT aku rela menarik diri untuk mengurangi intensitas bertemu Yura.

Seringkali Yura juga curhat padaku mengenai perjalanan cintanya yang kandas karena pacarnya selingkuh atau hanya karena perbedaan prinsip yang tak bisa menyatu. Aku tentunya memberikan nasihat terbaikku dan mengabaikan rasa sakit di hatiku. Aku selalu berusaha menghiburnya dan membuat senyum mengembang di wajahnya.

Di tahun terakhir kami kuliah, kami makin akrab karena hampir setiap hari kami mendekam di perpustakaan untuk menyelesaikan skripsi yang menyita waktu itu. Ia mungkin sudah menganggapku kakaknya, tetapi aku masih berharap mengangkat status menjadi kekasihnya. Tapi aksiku nihil. Tentu reaksinya juga nihil.

Pernah suatu hari ia bertanya kepadaku, kenapa aku tidak pernah mengenalkannya pada pacarku – aku mengaku mempunyai pacar yang kuliah di luar kota. Namun, aku selalu punya seribu satu alasan untuk menjelaskannya agar dia tidak curiga. Syukurlah, dia percaya.

Sekarang sudah setahun kami bekerja semenjak lulus kuliah tahun lalu. Aku bekerja di sebuah kantor konsultan sedangkan dia bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta. Meski kami terlampau sibuk dengan pekerjaan kami, kami wajib untuk tetap rutin bertemu paling tidak seminggu sekali. Dan malam ini, aku sudah tak sanggup mencegah luapan hati. Aku bertekad mengatakan cinta padanya, pada Yura, sahabat terkasihku.

“Nyet, ntar malem ketemuan jadi kan?”

“Jadi, Kong… Palm Bistro aja yah! Biar lebih romantis..”

“Terserah deh, yang penting jadi kan? Aku mau ngomong hal penting nih juga sama kamu”

“Ngomong apaan, Kong? Mau married yah? Asiiiik.. sini biar aku yang make up-in calon istrimu. Eh, aku juga mau nyampein sesuatu sih”

“Haha… Kepo deh, ntar malem aja deh! Oke, aku jemput jam 7 yah?”

“Gak usah jemput, kamu tunggu aja di Palm Bistro, aku sudah reserved tempat atas namaku”

“Oke deh, sampai jumpa ntar malem, Nyet!”

“Bye, Kingkong!”

***

Malam itu aku berakhir kecewa, harapanku mengucap cinta tenyata menjadi mengucap selamat. Selamat atas pertunangannya dengan pacar yang juga atasannya itu, Wowor. Kulihat senyumnya terus mengembang sepanjang durasi makan malam kami. Wowor, kekasihnya, juga tak henti-henti mengucap terima kasihnya padaku karena telah menjaga dan menjadi sahabat terlama Yura. Ia juga sesekali bertanya mengenai Dewi, kekasih imajinerku. Aku terpaksa berbohong lagi, kujelaskan bahwa sebentar lagi Dewi lulus kuliah dan bekerja di sana. Dan bodohnya, aku berkata bahwa aku juga akan pindah dan bekerja di kota yang sama.

Malam itu hatiku kelabu, tetapi wajahku kupaksakan tetap merona gembira. Lantunan lagu restoran berjudul Malaikat Juga Tahu dan suara khas Glenn Fredly makin menambah perih rasaku. Segera, kuhabiskan makan malamku dan berpamitan untuk pulang.

Kau selalu meminta terus ku temani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi karena tak sanggup sendiri

Namun kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini ooh silakan kau adu
Malaikat juga tahu, malaikat juga tahu
Aku yang jadi juaranya

***

Malam itu dia pulang dengan wajah kusut. Kutebak rencananya gagal. Dan benar, begitu melihatku menunggu di depan kamarnya, ia memilih untuk menyuruhku pulang.

Keesokan harinya, di kantor, ia menceritakan semuanya. Tentang rencana pertunangan sahabat terkasihnya yang selalu mendominasi percakapan kami itu, dan tentang kebohongannya tentang Dewi, kekasih imajinernya.

Sebagai rekan kantor yang juga sahabatnya setahun belakangan ini, tentu aku memberikan nasihat terbaikku dan mengabaikan rasa sakit di hatiku. Aku selalu berusaha menghiburnya dan membuat senyum mengembang di wajahnya.

“Bar, kamu harusnya jujur ama dia! Paling gak dia tau kamu cinta ama dia!”

“Percuma, Ven! Dia cinta sama Wowor, aku tahu dari matanya!”

“Trus, kamu sekarang mau ngapain?”

“Mungkin sebaiknya aku akan merealisasikan kebohonganku!”

“Maksudmu?”

“Iya, aku mau pindah kerja ke luar kota dan mencari seorang gadis bernama Dewi! Sekaligus menghindar darinya!”

“Gila kamu, Bar!”

“Biarlah aku dibilang gila olehmu daripada harus membuat Yura ragu pada pilihannya!”

“Okay, terserah kamu, Bar!”

Bari akhirnya meninggalkanku sendirian di kantin itu. Mukanya masih kusut. Mukaku lebih kusut lagi selepas kepergiannya. Alunan musik kantin, Malaikat Juga Tahu milik Dewi Lestari, berhasil memunculkan bulir air mataku.

Lelahmu…jadi lelahku juga

Bahagiamu…bahagiaku pasti

Berbagi takdir kita selalu

Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku

Membuktikan padamu ada cinta yang nyata

Setia hadir setiap hari

Tak tega biarkan kau sendiri

Meski seringkali kau malah asyik sendiri

***

 

~ terinspirasi dari lagu Malaikat Juga Tahu – Dewi Lestari

 

That’s All I Know! | @vandakemala

vandakemala

― oleh Vanda Kemala @vandakemala

 

“I love you, Darl…” bisikku mesra di telinganya.

Seseorang di pelukanku menggeliat, mempererat pelukannya ke tubuhku, lalu tersenyum.

“You love me? Yakin? Sungguh? Serius?” tanyanya dengan mata terpejam. Seulas senyum muncul dari bibir yang belum pernah membuatku bosan untuk terus mengecupnya. Bibirnya itu candu.

“Hihh, kebiasaan deh! Kalau nggak serius, mana mungkin kemaren aku belain terbang 1 jam 30 menit demi ketemu kamu?”

Dia tertawa. “Iya, aku percaya. Nggak usah cemberut gitu, ah. Nanti kalau cakepmu hilang, terus aku jadi bosen lihat kamu, gimana?”

“Emang bisa gitu, kamu bosen sama aku?”

“Belum tahu juga, sih. Tapi, nggak ada yang tahu, kan? Siapa tahu tiba-tiba besok aku ketemu klien yang jauh lebih ganteng daripada kamu, terus aku kepincut sama dia.”

“Berani taruhan deh, kamu nggak akan bisa pindah ke lain hati dari aku. Aku nggak percaya kalau kamu udah lupa sama kata-katamu 1 jam yang lalu. Kamu kan bilang nggak bisa jauh dari aku, bilang hatimu sudah berhenti di aku.” jawabnya sambil mengedipkan matanya padaku.

“Gimana kalau misal itu cuma kamuflase?”

“Aku udah kenal kamu berapa lama, sih? Aku udah bisa bedain caramu ngomong serius sama bercanda.”

“Hahaha, you know me so well, Darl…” jawabku sambil memberinya sebuah kecupan lembut di bibirnya. “Nanti kamu flight jam berapa?”

“Jam 17.45…, aku benci harus jauh-jauhan lagi dari kamu.”

Desah nafas panjangnya, mau tak mau membuatku merasakan pilu yang sama. Tapi, bukankah pasangan yang baik itu pasangan yang bisa membesarkan perasaan orang yang dia sayang ketika sedang terpuruk?

“Darl, jangan sedih dong. Kita pasti ketemu lagi. Minggu depan aku jadi ke kotamu kok, aku janji sediain waktu khusus buat kamu. Jangan sedih, ya?” ujarku sambil menepuk pelan pipinya. “Ayo, sekarang sudah jam hampir jam 3, waktunya kamu mandi terus siap-siap aku antar ke bandara.”

_

Satu jam kemudian, kami tiba di bandara. Sebelum dia turun dari mobil, aku menyempatkan diri untuk mengecup lembut bibirnya sekali lagi. Gelapnya kaca mobil, sempurna menyembunyikan apa yang kami lakukan dari tatapan banyak orang di bandara.

Apa jadinya jika mereka melihat kami, dua orang lelaki saling memagut bibir dengan mesra sebelum berpisah?

Ah, persetan apa kata orang lain! I love you and that’s all I know!

Hatiku sudah berhenti di kamu!