C Seven Sins
now browsing by category
Posted by: jejakubikel | on July 12, 2011
Aku Benci Sarah
By Naomi Arsyad @NaomiArsyad
Gadis ini memasuki pintu toko dengan perlahan-lahan sambil memandang sekeliling. Cantik, hanya saja pakaiannya begitu sederhana. Hanya selembar t-shirt hitam, jeans abu-abu, dan jaket yang juga abu-abu. Rambut panjangnya diurai begitu saja. Aku tidak mungkin berpenampilan seperti itu. Baju-bajuku selalu mengikuti model terakhir, rambut coklatku juga selalu bergelombang indah, terkadang behiaskan topi-topi yang cantik.
“Ayo, Sarah. Masuk saja, yang lain sudah menunggu!” panggil Ardi dari tangga.
Ardi adalah anak lelaki yang tinggal di atas toko ini. Orang tuanya lah yang memiliki toko ini. Saat ini, teman-teman Ardi sedang mengerjakan tugas kelompok di atas. Ardi menyambut Sarah yang terlambat datang dan segera menggiringnya ke atas.
Ardi selalu begitu bahagia jika melihat Sarah datang. Mata teduhnya yang bewarna hitam itu langsung berbinar-binar saat melihat gadis tomboy ini. Apapun yang dibicarakannya selalu Sarah, Sarah, dan Sarah. Aku benci Sarah. DIa tidak menyamai separuh kecantikanku, tubuhnya juga tidak seindah tubuhku. Dan siapa lagi yang mengenal Ardi sebaik aku? Akulah yang tinggal seatap dengannya. Aku juga yang setiap hari mendengarnya membicarakan betapa ia menyukai Sarah dan aku tidak mengeluh sedikit pun. Aku terus tersenyum tanpa bicara sepatah kata pun, tidak peduli betapa kesalnya aku.
Aku suka Ardi. Dia anak lelaki yang baik. Saat anak lelaki lain sibuk di luar sana bermain dengan teman-temannya, Ardi lebih memilih di toko untuk membantu orang tuanya. Ia juga yang paling sering bicara denganku dan meperhatikan aku. Orang tuanya hanya mengacuhkan aku begitu saja. Tapi Ardi selalu tersenyum saat melewatiku. Ia juga sering bercerita banyak hal padaku, mungkin karena ia adalah anak yang sulit mempercayai orang. Dia tahu aku bisa menjaga semua rahasianya. Dia juga yang mengingatkan orang tuaku agar aku selalu enak dipandang mata.
Menurutku, Sarah tidak pantas mendapatkan lelaki sebaik Ardi. Sarah cuma tersenyum lemah saat Ardi berbicara dengan berapi-api padanya. Sarah menjauh dari Ardi saat Ardi berusaha mendekatinya. Aku benci dia karena menyia-nyiakan cinta dari lelaki seperti Ardi. Coba aku adalah Sarah, aku pasti akan selalu ada untuk Ardi. Jika aku jadi Sarah, aku bisa membalas semua perkataan Ardi, bisa memeluknya, bisa menggenggam tangannya. Oke, Aku IRI pada Sarah.
Kerja kelompok telah selesai. Satu-persatu teman-teman Ardi pulang. Sarah turun paling akhir. Ia melihat-lihat seiisi toko dan berhenti di hadapanku. Aku ingin merenggutkan wajahku padanya tapi yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum.
“Dia cantik kan?” Ardi tiba-tiba muncul di belakang Sarah.
“Ya,” jawab Sarah lesu.
“Dia favoritku,” jelas Ardi ceria.
“Aku pulang dulu.” Sarah beranjak dengan air muka keruh.
Aku senang sekali Ardi memujiku di hadapan Sarah. Huh, dasar gadis tak tahu diuntung. Mengapa dia bisa sekejam itu meninggalkan Ardi begitu saja? Lihat Ardi sekarang! Wajahnya begitu memilukan hati! Dan gara-gara dia, aku tidak mendapat senyumannya malam ini. Aku benci pada Sarah. Dia menyia-nyiakan kesempatan yang tak akan pernah aku dapatkan sampai akhir dunia.
***
Siang ini, teman-teman Ardi akan meneruskan kerja kelompok yang belum terselesaikan kemarin. Teman-teman Ardi belum datang, jadi ia menjaga toko di bawah. Beberapa saat kemudian kemudian, aku melihat gadis yang sangat kubenci di ujung jalan. Ha! Tumben dia datang begini awal? Namun kali ini penampilannya begitu mengejutkan. Ia mengenakan pakaian yang kugunakan kemarin! Rambutnya juga dicat coklat seperti rambutku! Kapan dia membeli gaun santai modis berbunga-bunga itu? Apa kemarin saat Ardi mengganti pakaianku? Ya, ya! Pasti saat itu! Ia tak mungkin membelinya saat Ardi menjaga toko!
Sarah melenggang memasuki toko. Senyumnya begitu lebar sampai-sampai aku cukup yakin Sang Surya merasa disaingi oleh kecerahan ekspresinya. Ardi mengangkat wajah dari pembukuan toko yang sedang ditelitinya. Seketika wajah Ardi tercengang.
“Sa…rah?” Mulut Ardi masih setengah menganga.
“Hei, Ardi! Kita jadi kerja kelompok, kan?” Sarah mengedip-ngedip centil
Aku mulai sangsi. Siapa gadis ini dan apa yang dia lakukan pada Sarah?
“Sarah, kenapa kamu berdandan… seperti itu?” Ardi masih terbata-bata.
“Kamu nggak suka?” Senyum Sarah mulai menghilang.
“Bukan… bukan begitu…”
“KAMU NGGAK SUKA? Aku sudah susah-susah merubah penampilan! Menghabiskan tabungan untuk gaun konyol dan cat rambut bodoh ini! AKU INGIN MEMBUAT KAMU TERPESONA! Kamu bilang manekin jorok ini favoritmu! Aku ingin jadi cantik, seperti dia! Aku iri padanya!”
“Sarah… Kamu nggak perlu melakukan itu. Kamu sudah cantik apa adanya!”
“KAMU BOHONG! Aku cuma cewek jelek yang nggak bisa bersaing bahkan dengan sebuah manekin! AKU IRI PADANYA!”
Aku tidak bisa mempercayai pendengaranku. Sarah iri padaku. Sarah iri padaku karena aku cantik dan bisa terus-menerus ada di dekat Ardi. Sarah iri padaku karena Ardi memujiku. Gadis bodoh. Coba dia mau mendendengarkan Ardi sekali saja. Bukannya terus minder dan menghindar lalu kembali menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Sarah berlari keluar toko sambil menangis, tidak memperhatikan sekelilingnya. Dia tidak melihat ada sebuah mini-bus yang melaju kencang dan seketika menghantam tubuhnya, menghempasnya ke ujung jalan, memecahkan kepalanya, mewarnai gaun barunya dengan cairan merah pekat.
Aku benci Sarah. Sejak kehilangan gadis bodoh tidak tahu terimakasih itu, Ardi memindahkan aku ke gudang. Aku manekin yang bahkan tidak hidup ini disalahkan atas kematian gadis dungu tidak berotak yang tidak tahu arti bersyukur itu. Untuk Ardi, aku mengingatkannya akan Sarah. Sarah yang iri padaku. Padahal aku iri pada Sarah. Bodoh. Seandainya Sarah mau bersyukur sekali saja, seandainya ia mau mendengarkan Ardi bukannya kalah oleh rasa rendah diri, Ia bisa jadi gadis paling beruntung di dunia. Aku benci Sarah
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins | 2 Comments »
Tags: Naomi Arsyad
Posted by: jejakubikel | on April 21, 2011
Mama
by Rida Astuti @ridaAstuti
Mata yang lelah itu memandangku. Aku ingat beberapa tahun lalu saat dia marah padaku, semua kata-katanya menyakitkan dan tak terbantah. Sekarang dia begitu lemah, tergolek tak berdaya. Perasaan kasihan, sedih, kesal, benci berperang dalam pikiranku.
Kini dia tergolek tak berdaya, tak ada anak yang dengan tulus mau menjaganya di sini. Kakakku, Ratri, selalu berdalih untuk tak menunggui mama. Kak Rastri terlalu sibuk dengan pekerjaan kantornya. Hanya aku sendiri di sini menemani mama, terpaksa.
Aku ingat betapa mama murka hanya gara-gara aku pulang terlambat suatu hari. Kata-kata yang sangat menyakitkan dia ucapkan, tak terlupakan.
Mungkin sekali saja aku cabut selang-selang itu, biar tak jadi bebanku terus. Pikir-pikiran gila bersliweran dalam hati. Dendam.
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins | No Comments »
Tags: Rida Astuti
Posted by: ian | on April 7, 2011
Dasi-Dasi Pemerintah
by Mahabrata Liwangi @Liwangi
berjas menenteng mewah memasuki kantor
menuakan jubah-jubah rakyat
karikatur wajah menciut melebihi dasi-dasi busuk
di mana harammu menyambut harta
demi sesuap harga mati berucap
kemewahan tiada mengharap halal
dasiku haram, engkau pun haram pada meja kerjaku
03.04.11
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins, Kurasi Puisi | No Comments »
Tags: Mahabrata Liwangi
Posted by: ian | on April 7, 2011
Kutuk
by Mahabrata Liwangi @Liwangi
tak pantas menari di atas jemari
kita t’lah kalah dengan lumuran sari-sari suci
kutuklah sang raja yang memanja
18 Mei 2008
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins, Kurasi Puisi | No Comments »
Tags: Mahabrata Liwangi
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 23, 2010
Menghitung Bintang
by Diana Siti Khadijah @andiana
Apa yang aku kerjakan bila rasa malas mulai menyerangku? Menghitung domba? Mengigit kuku? Melamun ingin jadi jutawan? Merebahkan diri di bale-bale?
Memikirkanmu. Yaaaa, semacam ingin mendapatkan pil penambah gairah agar rasa malas itu dapat kulawan dan kukuburkan bersama setan-setan penggoda iman. Kamu, yang tak pernah ada untukku dan bahkan tidak mengetahui bahwa aku sangat merindukanmu, adalah obat penenang dalam keresahan dan penumbuh semangat di kala hidup serasa tanpa harapan.
Oh, aku tak akan rugi apapun seandainya kau tak membalas segala rasa yang menghimpit di dadaku ini. Cukup aku saja yang menikmati semuanya sendiri. Bukankah mencintaimu dalam diam itu lebih dari sekadar menyimpan permata paling berharga seumur hidup?
Maka ketika rasa malas menyerangku, aku tinggal memanggilmu dalam hatiku. Berdoa, merapalkan mantra, bergumam lirih, dan terkadang berteriak… Meski yang mendengar hanyalah tumbuhan yang ada di pekarangan rumah, itu sudah cukup.
Rasanya sekarang aku cukup malas untuk memikirkanmu. Ehm, bolehkah aku mampir ke hatimu untuk mengambil ramuan semangat itu lagi?
-depok/2010-
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins, Cerita-cerita | No Comments »
Tags: Andiana
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 22, 2010
Segala (Hampir) Milikku
by Diana Siti Khadijah @andiana
Tidak pernah puas dengan apa yang sudah kumiliki. Oh, tentu saja aku tak akan pernah puas. Hingga bintang-bintang di langit akan mengatakan bahwa aku adalah perempuan serakah. Aku hanya tertawa.
Aku sudah memiliki apa yang kumau. Tentu saja! Lihatlah rumah-rumah mewah yang kubeli dari hasil berbisnis permata. Tak satupun kutempati. Semua kusewakan. Aku malah lebih senang tinggal di apartemen tipe studio. Kemudian tengoklah mobil Bentley yang kubeli persis ketika tender pengadaan alat berat itu tiga bulan yang lalu. Tunai. Tetapi hanya menjadi pemanis tempat parkir karena pemikiran sederhana: jalanan Jakarta yang macet dan banjir tak cocok untuk sebuah kemewahan.
Jabatan yang menggiurkan di lahan basah. Hm, masih belum cukup bekerja untuk perusahaan orang alias jadi kacung (meski jabatan Wakil Direktur), aku juga punya usaha sendiri di bidang percetakan dan konveksi. Belum dihitung juga usaha yang dirintis berdua dengan adik sepupuku.
Akupun sedang belajar merangkai bunga. HAH? Bunga? Beberapa temanku terkejut karena itulah satu-satunya bidang yang paling kuhindari. Apapun yang berkaitan dengan bunga. Terlebih anggrek. Tetapi inilah yang akhirnya kuterobos. Pokoknya, phobia-ku yang terakhir ini harus kulawan. Tak ada yang tak mungkin buatku. Aku ingin memiliki semuanya.
Tetapi, hingga saat ini pun ternyata masih ada yang tak mampu kumiliki. Seberapapun banyaknya materi yang kupunya. Oh, ternyata, masih ada yang menyebabkan aku tak sempurna.
Kamu. Hingga saat ini aku tak dapat memilikimu. Mengapa?
-depok/2010-
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins, Cerita-cerita | 1 Comment »
Tags: Andiana
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 21, 2010
Manik-Manik
by Adellia Rosa @adelliarosa
Sekeranjang manik-manik berhamburan di lantai kamarku. Aku tersesat di dalamnya, memungutinya, menyusunnya sesuai warnanya. Kurasakan hembusan angin di sekitar leherku, dia lagi. Lelaki besar itu. Ibu memaksaku memanggilnya ‘ayah’. Aku memanggilnya ‘Tuan Manik-manik’. Perlahan dia menyingkirkan manik-manik yang kugenggam, melemparnya ke lantai. Aku menangis, aku tak suka melihat manik-manikku kembali berantakan. Aku kembali tersesat, memungutinya satu demi satu, mengelompokkannya. Merah dengan merah, biru dengan biru. Manik-manik itu berkilauan tertimpa cahaya lampu. Aku menggigitnya satu-satu, tak kuhiraukan si Tuan Manik-manik yang melucuti pakaianku, lalu mengosok-gosokkan tangannya ke dadaku. Tak kupedulikan saat diriku mulai merasa ditarik-tarik keluar-masuk. Tuan Manik-manik mulai mendesah-desah, menyemprotkan cairan — entah apa namanya — ke badanku setelah lama dia keluar-masuk dari selangkanganku.
Selangkangan? Aku pernah mendengar kata itu di suatu malam ketika aku mengompol, dan mengatakan pada ibu, sakit sekali di situ. Ibu mengatakan tak ada yang salah dengan selangkanganku. Tuan Manik-manik memakaikan bajuku, lalu mencium pipiku dan sedikit menjilati telingaku. “Besok, ayah beri kau sekantung manik-manik yang lebih besar ya, Fiya…,” bisik Tuan Manik-manik. Sekeranjang manik-manik ini pemberian darinya. Setiap dia memberikan manik-manik, dia juga keluar-masuk dari selangkanganku.
***
“Jimmy, kau di mana?” aku mendapati rumahku sepi. Biasanya Jimmy, suamiku, sudah pulang pada jam seperti ini. Aku mendengar suara Jimmy di kamar Fiya di lantai dua, tertawa bersama-sama. Beruntungnya aku, suamiku menerima Fiya yang tak sempurna. Anak kami satu-satunya yang berusia 9 tahun, autis, dan tak bisa berkomunikasi. Aku membuka kamar Fiya, kulihat keduanya sedang bermain manik-manik. Fiya tampak sangat bahagia, menyusun manik-maniknya, sementara Jimmy mengumpulkan manik-manik yang tersebar di lantai kamar. “Oh, hei, sayang, kau sudah pulang?” sapa Jimmy. Fiya tidak mengacuhkan kehadiranku, bahkan saat kukecup keningnya. Dia hanya berkata berulang-ulang “Tuan Manik-manik, masuk, keluar, masuk, keluar” Aku tak mengerti apa maksudnya.
“Jimmy, kau tahu apa maksud putri kita tadi?” tanyaku pada Jimmy saat makan malam. Jimmy hanya tergelak perlahan “Kau tahu kan Nizma, Fiya memanggilku tuan manik-manik, dan aku memang keluar masuk kamarnya, tadi dia mengompol,” urainya. Aku mengangguk memahami ucapannya. “Manik-maniknya semakin bertambah setiap hari. Kau memberinya setiap hari?” tanyaku lagi. “Hanya manik-manik aneka warna itu yang membuat putri kita senang,” jawab Jimmy seraya mengunyah iga bakar kesukaannya. “Besok kau pulang malam lagi?” sambung Jimmy seraya meneguk teh hangat yang beraroma melati. “Sepertinya begitu. Butik kita kebanjiran pesanan pakaian menjelang natal,” sahutku dari balik meja pencuci piring. “Kau libur Jimmy? Natasha besok belum bisa menjaga Fiya seperti biasanya, ibunya sakit,” ujarku menambahkan. “Yeah, aku akan menjaganya seharian…,” ucap Jimmy. Ada binar kebahagiaan di dalam kata-katanya. Dalam hati aku kembali mengucap syukur, suamiku begitu menyayangi anak kami.
***
Tuan Manik-manik datang lagi. Aku merebut kantung manik-manik yang ia sodorkan padaku, lalu menghamburkannya. Aku seperti tenggelam dalam lautan manik-manik. Tuan Manik-manik menyeretku dan menghempaskanku di kasurku. Dia membuka pakaianku dengan kasar. “Kita bersenang-senang lagi, ya, Fiya kecil…,” ucap Tuan Manik-manik. Aku menangis, aku tak menemukan manik-manikku di kasur. Aku merasakan tangan Tuan Manik-manik meremas-remas tubuhku, di dada, di perut dan di bawah selangkanganku. Aku mengabaikannya. Aku diam saja saat dia mulai memasuki selangkanganku. Aku mulai berteriak karena dia memaksaku memasukkan sesuatu ke mulutku. Sesuatu dari badannya. Namun dia langsung menyumpalkannya padaku sembari mengerang-erang. Sepertinya kesakitan, atau justru keenakan. Tuan Manik-manik tiba-tiba hilang dari atas badanku. Aku merangkak meraih manik-manikku, kembali menyusuri satu demi satu, merah dengan merah, biru dengan biru.
Tak kusadari Tuan Manik-manik di sebelahku, kaku dengan kepala yang bersimbah darah. Tak kulihat pula ibuku menangis sesenggukan sambil memegang kursi makanku, yang juga berlumuran darah. Manik-manikku mulai berwarna pekat dan berbau tidak enak. Aku menendang-nendang saat ibu menarikku untuk berdiri.
***
Tak kusangka Jimmy berperilaku sedemikian bejat pada putriku, darah daging kami sendiri. Aku tak jadi pulang malam pada hari ini. Kulihat pintu kamar Fiya terbuka, dan aku mendengar suamiku melenguh-lenguh. Aku tak berani membayangkan apa yang dilakukan suamiku. Benar saja, suamiku meniduri anakku! Aku meraih kursi makan Fiya di samping pintu, dan tanpa pikir panjang kuayunkan ke kepala suamiku. Fiya tentu tak tahu apa yang terjadi, dia tak mengerti suamiku sedang bercinta dengannya, dia juga tak tahu suamiku berlumuran darah tepat di sisinya. Aku harus membujuknya pergi, tak peduli Fiya meronta-ronta karena berpisah dengan manik-maniknya. Kami harus segera pergi!
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins, Cerita-cerita | 20 Comments »
Tags: Adellia Rosa
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 21, 2010
The Gay Manual 001
by Anja Dirga Kaldera
Sembilan fase untuk membawa orang asing pulang hari itu juga. Hanya untuk gay.
Saya pernah mengalaminya. Beberapa di antara kalian juga. Setidaknya, mereka yang pernah bepergian. Bertemu dengan orang asing, tiba-tiba memiliki perasaan tertarik, dan sekilas merasakan berbalas. Kalian bertemu pandang sekejap, lalu saling bertanya dalam kepala masing-masing. Enggan mengeluarkan feromon di tengah-tengah kerumunan penumpang, tapi napsu sudah menggaruk-garuk di selangkangan. Well, memangnya harus selalu dibawa ke nuansa seksual? Eh, memangnya tidak selalu? Awasi tanda-tanda berikut ini, untuk memastikan bahwa perasaan anda berbalas.
Eye Contact
Ketika kalian bertemu pandang, seorang laki-laki biasanya akan membuang muka. Itu hint pertama. Kalau yang dipandangi malah nantang balik dengan pandangan agresif, mending menghindar. He’s with someone. Ketika dia membuang muka, pandanglah ke arah lain, tapi pada sudut yang kau bisa melirik cepat untuk memergokinya. kalau ketika kau melirik/menengok tiba-tiba dan dia sedang memandangimu (lagi), itu hint kedua. Kali ini ambil sudut bagus. Frontallah. Pandangi lamat-lamat, dengan sorot lembut, dan ketika ia melirik sedikit, tersenyumlah. Beri dia rasa aman untuk menengok balik.
Gesturing
Kalau sudah terjalin eye-contact, anda bisa santai. Silakan habiskan beberapa menit bercakap dengan mata saja. Apalagi kalau jarak anda cukup jauh dari tempat duduknya. Pasang mimik anda yang paling santai dan percaya diri. Jangan menyeringai atau sok-sok seksi. Natural aja. Berikan isyarat tangan yang sangat samar, misalnya dengan menempelkan jari telunjuk anda ke pelipis sambil tersenyum. Tak jelas apa maknanya, tapi ia akan menangkap anda secara terbuka menyapanya.
Mimicking
Meniru gerakan adalah hal menyebalkan, ketika dilakukan orang asing. Tetapi, pada tataran aman, anda bisa melakukannya pada dia yang anda maksud. Coba tiru gerakannya. Yang sederhana saja seperti pose. Pastikan dia sadar. Kalau ia merasa terganggu, berarti Wassalam. Kalau ia mulai mempersulit pose dan gerakannya, itu berarti anda selangkah lebih dekat dengannya. Ini masih belum pakai komunikasi verbal, lho.
Approaching
Dekati tempat duduknya. Secara bertahap. Jangan agresif. Kalau angkutan umum atau lokasi tersebut ramai dengan orang, mulailah mengisi tempat kosong di dekat anda dulu. Lakukan dengan cerdas. Pastikan ia tahu bahwa anda sedang mendekatinya. Bila ia membiarkan bahkan menyediakan tempat duduk kosong dekatnya, maka itu berarti lampu hijau. Silakan melanjutkan. Pada kasus kendaraan umum, perhatikan, bahwa ia mungkin ingin turun di tempat berbeda. Jadi, waktu terbatas. Bila anda sedang berada di bus dan bangku di sebelahnya kosong, silakan minta izin dengan sopan “Maaf, bisa saya duduk di sini?” Jika dia juga gay, dia akan tahu bahwa niat anda memang sengaja mendekat dengannya. Anda perlu bersyukur jika ia tidak pindah tempat. Berarti ia menyukai anda.
Ice Breaking
Mulailah percakapan. Dengan sopan. Perkenalkan nama anda (nama palsu saja dulu, kalau bisa yang menggambarkan kemampuan seksual seperti Bram, Doni, atau Evan), dan katakan bahwa anda baru di kota itu. Meskipun bohong, anda jadi punya alasan memperpanjang percakapan nantinya. Jangan lupa tanyakan namanya dengan cara yang cantik. Di sinilah anda bisa menjajaki apakah ia bisa atau tidak bisa anda ajak pulang. Ciptakan atmosfer yang nyaman. Jangan mengejar dengan pertanyaan. Cari topik yang ia sukai. Jangan buka topeng anda dulu. Ini penting. Anda mungkin masih memerlukannya di tempat tidur.
Flirt
Anda sudah memegang ekornya? Sudah tahu makanan kesukaannya? Sekarang saatnya, melancarkan gula-gula kata untuk membuainya. Pertama, pujilah penampilannya dengan wajar. Ia akan bersemu jika menyukainya. Tapi, biasanya gay suka dipuji. Tanyakan di mana ia workout bila bodinya memang menggambarkan begitu. Katakan bahwa orang chubby enak dipeluk. Ucapkan apa saja yang bisa membuatnya nyaman dengan dirinya sendiri. Therefore, nyaman dengan anda juga. Flirting adalah teknik yang rumit, dan mungkin perlu bab sendiri untuk menjelaskannya. Tapi, seharusnya anda sekalian bisa memikirkan jurus orisinil sendiri. Jangan gombal!
Tease
Lah, bedanya flirt sama tease apa? Tease sudah bukan lagi mengundang ketertarikan orang, tetapi membangun keinginan orang untuk tidur dengan kita. Sentuhan adalah bagian penting dari proses ini, seperti kata-kata dan pandangan mata pada flirting. Jika anda seorang top dan mengetahui bahwa dia adalah lubang kunci, maka anda bisa mulai dengan meletakkan lengan anda memanjang di sandaran kursi ke arah dia. Ada beberapa orang yang tak nyaman dengan sorotan publik dengan gestur demikian, maka lakukan dengan senyaman mungkin. Pura-puralah meramal, untuk menyentuh tangannya. Pura-puralah membersihkan rambutnya sambil berkomentar yang biasa. Lakukan dengan cantik. Pastikan aroma tubuh anda enak, karena pada fase ini, anda berada sangat dekat dengannya.
Start Seducing
Sila masuki fase verbal-seksual. Pada fase ini, anda sudah harus memastikan ia nyaman dengan percakapan vulgar. Oleh karenanya, adalah bijak dengan menaikkan intensitas kevulgaran sedikit-sedikit, mulai dari lelucon-lelucon seks yang ringan. Tolong, buang jauh kenorakan. Pikirkan dengan baik kata-kata yang anda keluarkan. Di fase ini, turn off adalah shut off. Kalau salah langkah sedikit, inilah akhir penjajagan. Oh ya, setting F-T-SS ini sebaiknya tempat yang nyaman untuk ngobrol privat. Jangan meniru saya, yang pernah melakukannya di smoking room sebuah Mal di bilangan Blok M. Untungnya, pasangan bicara saya adalah orang yang sangat percaya diri, jadi tidak terlalu ambil pusing dengan pandangan orang sekeliling ketika kita mengangkat tema gay.
Masuki tingkat percakapan dengan sentilan-sentilan seksual, tapi pertahankan kesantunan bahasa. Untuk menghindari penolakan dini, ajakan ikut pulang ke tempat anda bisa anda sembunyikan dalam pengandaian. “Hujan-hujan begini enak nih sambil ngopi dan nonton DVD. Kebeneran gue baru beli. Ikut nonton yuk, di tempat gue?” Yah, seperti itulah. Ia sebetulnya tak akan peduli dengan ajakan remeh itu. Intinya, bagi dia, adalah ikut pulang ke tempat anda atau tidak.
Finishing Touch
Katakanlah, anda berhasil membuat dia ikut ke kosan anda. Proses belumlah berhenti sebelum kalian berdua telanjang dan melakukannya. Di sini, mulailah dengan membuatnya santai. Habiskan dua sampai lima menit bercakap basa-basi untuk memberi jiwanya waktu mengakrabkan diri dengan venue. Jangan terlalu lama. Kalian berdua tahu, apa yang kalian mau.
Sebelum melakukan, sila mempersiapkan hal-hal berikut. Kebersihan. Berikan waktu untuknya di kamar mandi beberapa menit. Dia perlu meyakinkan diri bau badan dan bau mulutnya tidak akan mengganggu prosesi. Pasang musik ambience supaya rileks bisa bertahan lama. Kalau mau merangsang dengan film porno, silakan. Selalu mulai dengan sentuhan, jangan ciuman! Kenapa? It’s a spoiler. Lanjutkan permainan anda dengan alami saja.
Demikian, semoga manual singkat ini bisa berguna. Saya mohon maaf kepada pihak yang membaca dan merasa tidak nyaman dengan topik tersebut. Saya hanya sharing sedikit pengalaman saya.
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins | No Comments »
Tags: Anja Dirga Kaldera
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 21, 2010
Keabadian yang Terus Menagih
by Rendra Jakadilaga @therendra
Kukedipkan mataku sekali lagi pada laki-laki itu. Mudah sekali. Ia mendekat sekarang. Penuh percaya diri. Cih! Pikirnya, siapa dia! Aku tersenyum manja padanya. Suamiku bilang, bibirku selalu mengundang. Dia tak pernah puas melumatnya setiap malam. Dan pagi. Cara yang sama tak selalu mempan untuk pria berbeda, karenanya aku membekali diriku dengan berbagai jurus.
Sekejap kemudian kami asyik bercengkerama, dengan tanganku di pahanya. Malam penuh musik itu kami tutup dengan sebuah ciuman perancis. Andri-namanya-kuajak pulang ke rumahku. Kami mengendap-endap melewati kamarku, ke sebuah kamar kosong di ujung koridor.
“Psst, itu suamiku!” bisikku. Ia terkejut dan tercekat hendak pulang. Aku meyakinkannya untuk tinggal setelah memastikan bahwa suamiku tertidur dengan sangat lelap.
Kamar ujung itu selalu kujaga indah. Untuk tamu, alasanku pada suami. Sekarang di situ, aku dan Andri saling memagut penuh napsu. Jemarinya mulai menari di sisi-sisi lekuk tubuhku, membawaku menggelinjang. Kecupan-kecupan pendek yang semakin kerap, berhasil menjadi pembukaan bagi bab birahi kami. Lalu aku membantingnya, membuatnya berada di bawah jepitan pahaku. Ia terkejut ketika aku semakin liar. Tapi, dari dengus napasnya, keterkejutannya itu adalah efek samping dari napsunya yang mendadak mendaki. Ia tak melewatkan satu incipun dari kulitku, yang kini telanjang. Lingerie hitam sudah sobek tak berbentuk di lantai. Lidah yang awalnya saling memuntir, kini menjelajah ke bagian-bagian yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Aku melihat wajahnya yang menegang. Matanya membulat. Ia mulai bernapas dengan mulut seperti orang yang akan melahirkan. Ia sudah dekat. Aku menjepit penisnya dengan semua otot di antara pahaku. Sekejap kemudian, ia meledak. Hampir dua menit. Matanya memutih. Teriakannya membahana. Pingsan. Aku tersenyum. Menang.
***
“Bagaimana?” tanyaku. Suamiku mengernyit.
“Dia tampan juga!” Dikitarinya tubuh Andri yang telanjang. Mengamati wajahnya yang seperti malaikat itu. Lalu mencengkeram sejumput rambutnya.
“Kurasa cocok untuk Farel,” jawabnya.
Andri terbangun beberapa menit kemudian. Terkejut mendapati dirinya telanjang, mulut terbalut selotip, dan terikat di kaki ranjang. Di hadapannya, aku dalam balutan gaun dalam, dengan suamiku berdiri di belakangku. Andri menggeliat, memberontak, mencoba melepaskan diri dari ikatan itu. Aku tersenyum padanya, memberi isyarat bahwa ia tak perlu menghabiskan tenaga mencoba melepaskan diri.
Ia makin terkejut ketika kami membawa tubuh seorang laki-laki yang kulitnya mengisut. Wajahnya sangat buruk seperti terkena penyakit kulit yang menjijikkan. Andri bergidik sesaat setelah kami membaringkan Farel di sampingnya. Aku datang ke antara mereka berdua. Membelai wajah orang itu.
“Farel sayang, sebentar lagi kau bisa masuk sekolah lagi…” gumamku. Orang itu melenguh tertahan. Tak jelas menggumamkan apa.
Aku mencium Andri sebentar. Lalu, kembali ke suamiku.
“Bagaimana? Bisa dimulai?”
Aku mengangguk pertanda setuju. Suamiku lalu asyik membaca mantera. Aku menaburkan bubuk tanah melingkari Andri dan Farel. Menyiraminya air. Menyalakan lilin di antara mereka. Lalu meniupkan napasku ke masing-masing hidung mereka. Suasana hening beberapa menit. Lalu, Andri mulai mengerang, menggelinjang hebat, seperti terangsang hebat. Farel menyusul beberapa menit kemudian. Mengejang. Gemeletar seperti gempa pada tubuhnya saja. Perlahan mereka berubah bentuk. Usia melesat pada tubuh Andri, ia menua dalam hitungan detik, dengan erangan dahsyat. Farel, beranjak muda. Daging, kulit, mata, tulang, tubuh, kembali meremaja. Ia menjerit.
Kami menyelesaikan ritual dengan mematikan lilin.
“Selamat datang kembali, Farel…” sambutku. Aku memeluk tubuhnya yang telanjang. “Sepertinya, giliranku bulan depan!”
Farel bangkit dan berusaha menyesuaikan diri dengan kemudaannya kembali. Aku beralih ke Andri. Ia kini serupa sosok renta yang tinggal menunggu mati. Kulepaskan ikatan dan bungkamannya. Ia seperti tersenyum lemas.
“Yang kau rasakan tadi, pria malang, adalah ribuan orgasme selama empat puluh tahun umurmu dirangkum dalam beberapa detik. Tak banyak yang bisa mengalaminya, kau beruntung. Meskipun harganya, usiamu. Kau akan lupa semua ini dan melanjutkan hidupmu sebagai pengemis luntang lantung…” bersama dengan pembeberanku itu, aku membacakan mantera penghilang ingatan padanya.
***
Sebulan kemudian, Farel memelukku ketika aku berkaca di meja rias itu. Wajahku semakin luruh. Kenyataan pahit sebagai vampir tak sempurna. Kami tak bisa abadi tanpa mangsa jiwa-jiwa muda itu. Dan durasinya hanya tiga bulan. Desahku berat membayangkan, bila ada yang berkhianat di antara kami, pasti bertiga akan hancur bersama.
“Tante, aku akan mencarikan cewek yang masih SMA saja kali ini, yah?”
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins, Cerita-cerita | 6 Comments »
Tags: Rendra Jakadilaga
Posted by: Cubiculum Notatum | on November 21, 2010
Birahi, Dosa, Anak yang Ingin Dewasa, Malam yang Salah, dan Godaan Setan
by Angin Buanapati @ang1n
Sebutir candu dunia bersarang di otakku
akarakarnya menjalin pembuluh darah ke silsilahku
karenanya aku masih saja haus
bahkan saat kerongkonganku
tergenang lumpur
***
sewaktu lonceng itu berbunyi
baru aku sadar
sudah terlalu lama berkubang
dalam kolam birahi
sampai tertelan spermaku sendiri
…
dan aku muntah
***
seorang anak dalam kepalaku
menulis kisahkisah erotis
sementara malam menua
kutegur ia, tidurlah!
belum saatnya kau jadi begitu dewasa!
jawab ia, seringai, penuh rona birahi:
selembar lagi saja, ngin, selembar lagi
seorang anak dalam kepalaku
tak berhenti menulis kisahkisah erotis
hingga pagi bertandang
***
kalausaja aku bisa mengurai
percikpercik racun
dari minuman yang dituang
pramutama bar tadi malam
mungkin tidak mataku nanar
salah mengindera kekasihku dengan iblis
tapi hingga siang ini
dunia di kepalaku masih terus berputar
mengitari garis poros yang sama: nafsu
bisajadi hanya karena aku lakilaki
dan untuk alasan ini
aku boleh punya
bidang otak jajahan pikiran mesum
agak lama,
tapi akhirnya
racun itu mengkristal pada airseniku pagi besoknya lagi
dan rasa sesal dan maaf dan rasa bersalah
kembali membereskan ruangbenak yang semalam
kupakai
bersetubuh
dengan birahiku sendiri
***
iblis takkan pernah berhenti
menuang tuak ke cangkir pusakamu
~hingga tandas botol itu~
sekali kau bersedia menemaninya minum
iblis takkan pernah selesai
menyetubuhimu hingga ribuan orgasme
~hingga kosong isi testismu~
jikalau tidak kau berkata “jangan!”
Posted in 02 NovemberMenulis, C Seven Sins, Kurasi Puisi | No Comments »
Tags: Angin Buanapati












D5 Creation