033 Rumah

now browsing by category

 

Hari-Hari Tanpa Emak

by Dian Harigelita @harigelita

Matahari telah tinggi ketika Rony sampai kembali di rumahnya. Ia langsung menghampiri Bapak yang sedang mengaduk-aduk panci besar berisi air berbumbu dan tulang sapi, membuat kaldu untuk dagangannya hari itu. Roni menyerahkan seluruh uang hasil menjadi ‘joki three in one’ sepagi tadi, sebesar Rp. 40,000,-. Tanpa berterima kasih Bapak mengantongi uang itu, lantas kembali mengaduk kaldu.

“Petikin toge gih, di belakang.” Bapak mengambil sekantong toge di dalam perut gerobak dan dilemparnya ke bale-bale dekat tempat Rony berdiri.
“Iya.” Rony menurut, memungut kantong tersebut lalu pergi.

Bagian belakang rumah semi permanen itu menghadap Kanal Banjir Timur. Rony duduk di atas tikar plastik motif kotak-kotak hitam dan putih yang sobek di beberapa titik. Bersandar pada tembok gedek. Suara radio mini Bapak mengalunkan musik dangdut yang kadang cengeng kadang genit. Tiap sebentar, muncullah suara penyiar menyampaikan salam-salam untuk para pendengarnya. Angin sesekali menerpa, menyejukkan tubuh kumalnya yang bau matahari.

Dibukanya plastik berisi tauge lalu dikeluarkan koran pembungkus di dalamnya untuk alas petikan akar tauge yang harus dibuang. Dengan tangkas Rony memetiki toge sekali dua, sekali tiga, tanpa menyia-nyiakan bagian tauge yang dapat dimakan. Tanpa pernah keliru membuang ampasnya ke dalam plastik tauge yang telah dipetiki. “Tangan kiri ampas, tangan kanan tauge.” dulu Emak pernah mengajari.

Sambil bekerja, pikiran Rony ke mana-mana. Entah kenapa pikirannya selalu kembali pada ibu muda itu. Yang sudah beberapa kali memakai jasanya sebagai joki. Mobil yang harum dan bersih. Ibu itu selalu memakai baju berwarna senada. Hari ini ia bernuansa biru, mulai dari sepatu hingga kerudung yang dikenakannya semuanya biru. Cara bicaranya di telpon terdengar santun, seperti berirama padahal tidak sedang bernyanyi. Supirnya sangat hormat dan mempedulikan ucapan Ibu muda itu. Terdengar lagu suara penyanyi bule perempuan, kadang-kadang ibu muda itu akan ikut berdendang. Suaranya pas-pasan tapi Rony sering merasa ibu itu sedang bernyanyi untuknya. Entah apa arti kata-kata bahasa asing itu, mungkin Rony takkan pernah tahu.

Rony membayangkan rumah yang ditinggali Ibu itu. Pasti bertingkat dan dikelilingi bunga-bunga aneka warna. Ada beberapa ekor kucing berbulu panjang bermalas-malasan di teras depan. Di ruang tamu terdapat foto pernikahannya, dan di sana ia terlihat sangat bahagia. Suaminya tersenyum sambil menatapnya mesra, ibu itu tersipu-sipu manja dengan wajahnya yang masih belia. Di sebelah foto itu terdapat foto yang tampak lebih baru, Ibu itu diapit dua anak laki-laki. Keduanya memonyongkan mulut mencium pipinya dengan jenaka. Kali ini ibu itu bukannya tersipu manja, ada tawa yang amat bahagia di sana.

Hati Rony pedih membayangkannya. Ia gelengkan kepalanya kuat-kuat. Berusaha menghilangkan bayangan-bayangan yang terlalu tinggi buat seorang anak piatu sepertinya. Ia buru-buru merampungkan tugasnya. Dibawanya ke depan dan langsung ditatanya bersisian dengan bihun dan mi telor di dalam rak bakso gerobak Bapak. Bapak sedang duduk di bale-bale dengan sebelah kaki terangkat, menunggu langganan berdatangan sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

“Pak, Rony sarapan dulu ya?” ucap Rony hati-hati.
Bapak hanya mengangguk.
“Bapak sudah makan?” Rony menirukan ucapan almarhumah Emaknya yang dulu selalu setia menemani Bapak makan.
“Nanti saja.” jawab Bapak sambil terus memandang jauh ke jalan.

Andai saja ia terbiasa, pasti Rony akan berkata,
“Rony sayang, Bapak.”

Roni dan Mobil Mainan

by Ekastri @ekastri

Hari ini sekolah selesai lebih awal. Roni cepat-cepat pulang ke rumah ingin segera bermain dengan mobil mainan barunya.

Sesampainya di rumah Roni segera berganti pakaian dan mencuci tangan-kakinya. Setelah itu Roni ke ruang tengah untuk mengambil mobil mainan yang kemarin ditinggalnya disana.

Di ruang tengah Roni mencari mobil mainannya, di lantai, kolong meja dan kursi, di dalam almari. Tapi mobil mainannya tak juga ditemukan.

Roni lalu mencari ibu dan bertanya kepadanya ‘Ibu, lihat mobil mainanku di ruang tengah?’

Ibu menjawab ‘Seharian ini ibu tidak melihat mobil mainanmu. Coba kamu cari lagi. Ibu kan selalu berpesan padamu untuk menyimpan kembali mainanmu ke kotak mainan setelah selesai bermain.’

‘Iya Bu, biar Roni cari lagi.’ Roni pun meninggalkan ibu dan mencari lagi mobil mainannya.

Sudah berulang kali ibu menasehati Roni untuk merapikan dan menyimpan   kembali mainannya setelah selesai bermain. Tapi jarang   dilaksanakan oleh Roni. Ia sering lupa dan malas membereskan mainannya   sehingga mainannya berserakan di lantai.

Roni terus mencari mainannya ruang tengah, kamar tidur dan ruang makan semua diperiksanya. Tapi mobil mainan itu tak juga ditemukannya.

Kelelahan mencari mobil mainannya Roni lalu beristiraht di sofa sambil membaca buku komik kesukaannya.

Sedang asik-asiknya membaca tiba-tiba Roni merasa kakinya disenggol oleh sesuatu. Dan ketika dilihatnya ternyata mobil mainan yang dicarinya dari tadi sudah tergeletak di dekat kakinya.

Dengan sedikit heran, Roni pun berdiri dan hendak mengambil mobil mainannya. Tiba-tiba mobil mainannya bergerak maju mundur dan mengajaknya berbicara.

‘Roni, kamu mencariku?’  tanya mobil mainan sambil mengedip-ngedipkan lampunya.

Dengan terkejut dan ketakutan Roni menjawab ‘Iya…, aku mencarimu. Tapi kamu kan hanya mainan seharusnya kamu tidak bisa bicara dan bergerak sendiri.’

Sambil terus mengedip-ngedipkan lampunya mobil mainan menjawab ‘Kemari mendekatlah akan kutunjukan sesuatu kepadamu.’

Roni pun mendekat, tiba-tiba saja cahaya yang sangat terang memenuhi ruangan. Tubuh Roni pun berubah mengecil.

‘Masuk dan duduklah di dalam sini.’ ujar mobil mainan.

Roni menurut dan masuk kedalam mobil. Mobil mainan kemudian berjalan mengajak Roni berkeliling rumah. Melewati ruang makan, dapur dan akhirnya tiba di gudang.

Di dalam gudang mobil mainan berhenti di samping sebuah kursi tua. Mobil mainan lalu berkata ‘Lihatlah ke bawah kursi. Bukankah itu robot mainan milikmu?’

Roni pun melihat ke bawah kursi. Di kolong kursi dia melihat robot mainannya yang sudah lama hilang.

‘Loh, robot kesayanganku kok bisa ada disana ya? Sudah lama aku mencarinya.’ kata Roni keheranan.

Mobil mainan lalu menceritakan tentang percakapannya dengan robot mainan. Robot mainan bisa berada ke kolong kursi karena dia ketakutan di kejar-kejar oleh si Bleki anjing Roni. Dia pun akhirnya bersembunyi di kolong kursi hingga berdebu.

Selesai bercerita mobil mainan kembali berjalan keluar dari gudang. Mobil mainan melewati tempat cucian, teras belakang dan akhirnya berhenti di dekat semak-semak di taman belakang.

‘Lihat apa yang ada di bawah semak-semak itu’ ujar mobil mainan.

Roni melihat bola mainannya yang sudah kempes dan kotor di bawah semak-semak. Roni pun berkata ‘Bolaku, kenapa bisa sampai disana?’

Mobil mainan lalu bercerita bahwa si Bleki lah yang telah membawa bola Roni ke kebun dan menggigitnya hingga kempes.

Roni sedih melihat mainannya yang kotor dan rusak. Ia pun mulai menangis.

Sayup-sayup terdengar suara ibu memanggilnya. ‘Roni.., Roni.., bangun kamu mimpi apa kok sampai menangis?’

Dengan malu-malu Roni menceritakan semua mimpinya kepada ibu. Dan Roni berjanji akan selalu merapikan dan menyimpan kembali mainannya dalam kotak mainan setelah selesai bermain. Ibu pun memeluk Roni dengan penuh kasih.

Istana Sang Rajawali

by Diana Siti Khadijah @andiana

Sore ini Bima ingin sekali pergi ke hutan cemara itu. Ia penasaran karena sudah sebulan ini dia mendengar teman-temannya bercerita tentang sebuah gua kecil yang ditemukan oleh Kak Reza. Tetapi gerimis mengurungkan niatnya. “Besok pasti cerah. Mmm, aku harus ke sana. Mungkin besok pagi ya?” gumam Bima sambil mengangguk.

Karena setiap pergi dan pulang sekolah Bima pasti melewati semak yang dapat menembus hutan cemara, membuatnya semakin penasaran. Maka Bima memaksakan hatinya untuk masuk ke sana. Sebenarnya takut, tapi Bima tidak mau mundur. Ia tidak menyadari seseorang mengikutinya dari belakang.

Bima menghentikan langkahnya tepat di depan gua. Ia menelan ludahnya. Perasaan antara takut, takjub, dan senang membuatnya gemetar. Sambil menahan nafas, perlahan ia memasuki mulut gua. Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya lebih ke dalam, ia dikejutkan oleh sebuah suara. “Mau apa kamu masuk?”

Bima menoleh ke belakangnya. Kak Reza! Wajah Bima memucat. “Eh, Kak Reza. Euh, nngggg…. Ini… Nnnggg… Cuma pengen liat aja. Penasaran,” jawab Bima terbata-bata. Ia ketakutan. Ia pernah mendengat kabar kalau Kak Reza itu galak dan pemarah.

Bima melangkah mundur, tetapi kakinya tersandung dahan pohon dan terjatuh. Kak Reza mendekat dan Bima menjerit ketakutan. “Jangan, Kak! Ampun! Aku gak akan bilang siapapun Kak! Ampun! Jangan pukul aku, Kak!”

Kak Reza tertawa. Diraihnya tangan Bima dan membantunya berdiri. “Kamu ini aneh, Bim! Memangnya aku ini segitu nakutinnya, ya?”

Lalu Kak Reza menyuruh Bima duduk di sampingnya. Kak Reza mengeluarkan dua kaleng Cola dan sebungkus besar keripik kentang dari kantong plastik yang tadi dijinjingnya.

“Ini rumahku,” ujar Kak Reza tanpa diminta. “Rumah yang membuatku betah berlama-lama. Aku suka di sini.”

“Tapi bukannya rumah Kakak di Jalan Rajawali?” tanya Bima bingung.

Kak Reza tersenyum. “Memang. Itu tempat tinggal Kakak. Tetapi rumah yang paling Kakak rindukan ya di sini.”

“Kok bisa? Bedanya apa? Di sini kan sepi?”

“Di Rajawali tempat tinggalku. Artinya ya tempat kakak melakukan rutinitas setiap hari. KTP dan Kartu Keluarga juga di sana, Bim. Tetapi di sini, gua ini, beda. Aku menyebutnya Istana Sang Rajawali.”

“Wuih, keren sekali!” Bima membelalakkan matanya takjub. “Trus Kakak betah di sini ngapain aja?”

“Banyak. Aku sih lebih banyak main gitar di sini. Nulis lagu. Rencananya aku mau bikin album nih!”

“Wah! Keren!”

Dan sore itu berlalu dengan cepat. Percakapan antara Kak Reza dan Bima akan dilanjutkan besok  setelah Bima pulang sekolah.

***

Sejak pertama kali masuk Istana Sang Rajawali, Bima semakin semangat belajar. Ternyata hobi melukis dan merakit robotnya semakin terasah. Awalnya Mama dan Papa cemas karena Bima selalu pulang setelah Maghrib. Tetapi ketika menerima rapor kenaikan kelas enam dan melihat angka yang tertera semuanya diatas delapan, justru Mama dan Papa yang bingung.

“Kamu tuh sebenarnya ke mana sih setiap pulang sekolah? Bukannya langsung ke rumah?” tanya Papa.

“Aku langsung ke rumah kok!” jawab Bima tegas.

“Eeeh, siapa yang mengajarkan kamu berbohong?” tanya Mama.

“Aku gak bohong, Mama sayang. Aku langsung pulang ke rumah. Belajar. Serius!” Bima menatap Mamanya berusaha meyakinkan.

Papa dan Mama menggeleng. Anak ini menjadi aneh. Tetapi prestasinya meningkat. Ada apa ya?

***

Tanggal 7 Desember. Mama Bima sudah menyiapkan sarapan sederhana yang menjadi istimewa. Roti isi tuna dan tomat untuk Papa dan roti isi daging asap keju untuk Bima. Hm, lezat! Hari libur yang menyenangkan!

Bima gelisah. Kak Reza belum datang. Jam dinding sudah bergeser ke angka sepuluh. Baru saja Bima hendak mengirim sms pada Kak Reza, yang dinanti sudah ada di depan pagar. “Assalamu’alaikum! Permisi! Kulonuwun!” teriak Kak Reza riang. Wajah Bima mendadak cerah. Dia berlari ke teras.

“Wa’alaikumussalam! Masuk yuk, Kak!”

Papa dan Mama menyambut Kak Reza. “Lho, kamu anaknya Pak  Reynaldi, bukan?” tanya Papa kaget.

“Iya, Om. Om kenal Papa saya?” Kak Bima tak kalah kagetnya.

“Hahaha, dia itu senior Om di kampus. Wah, apa kabar Papamu?”

“Sehat, Om.”

“Yuk, Kak Reza! Kita ke ruang keluarga?” Bima menarik lengan Kak Reza. “Eh, udah siap ka?” bisiknya sambil diam-diam melirik Mama. Kak Reza memberi jembol dan senyum.

“Papa dan Mama. Kita duduk di ruang keluarga yuk? Bima dan Kak Reza mau nunjukin sesuatu pada Mama nih!” Bima tak sanggup menahan senyumannya. Dia merasa sungguh semangat.

“Ada apa ini?” tanya Mama tertawa geli melihat Bima yang salah tingkah. Bima tetap memaksa Papa dan Mama untuk duduk. Lalu Bima tampak sibuk bersama Kak Reza untuk mempersiapkan hadiah untuk Mama.

Sepuluh menit kemudian, Bima menyerahkan hadiah terbungkus kado cantik. Mama tersenyum dan membukanya. Sebuah lukisan sederhana. Ada gambar rumah dan gambar gua berdampingan. Ada Bima, Mama, Papa, dan Kak Reza di sana. “Bisa dijelaskan, Sayang?” tanya Mama.

“Ini rumah kita, Ma. Tuh, ada pohon mangga dan belimbing kan? Nah, yang ini namanya Istana Sang Rajawali. Itu  yang kasih nama Kak Reza, Ma. Karena dia kan tinggalnya di jalan Rajawali”,  jawab Bima semangat.

“Tetapi kok bentuk rumah Reza seperti gua?” Papa kebingungan.

“Karena itu rumah kedua Kak Reza. Dan juga aku!”

“Maksud Bima seperti ini, Om. Istana Sang Rajawali ini menjadi tempat Bima dan saya untuk berkreasi. Saya yang suka musik, setiap hari dimarahi Papa karena berisik. Maka ketika saya menemukan tempat ini, sepertinya malah lebih kreatif. Begitu pula dengan Bima. Bukankah semenjak dia  sering mampir ke Istana Sang Rajawali, prestasinya meningkat, Om?

“Jadi menurut saya, selain rumah tempat berkumpul dengan keluarga, seseorang membutuhkan tempat yang nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Bebas mau apa saja. Soalnya menurut Bima, dia selalu diganggu oleh suara anak-anak tetangga ketika dia sedang melukis.

“Itulah juga alasan mengapa Bima selalu terlambat pulang ke rumah ini, karena dia sedang berada di rumahnya yang lain. Tempatnya singgah untuk mencurahkan isi hati dan pikirannya. Saya pikir selama itu menumbuhkan mental mandiri yang positif, mengapa tidak?” jawab Kak Reza panjang.

Papa dan Mama tersenyum.  “Oh, pantas saja kamu semakin bersemangat!” ujar Papa bangga.

“Nah, Mama. Ini ada hadiah dari Kak Reza. Ayo Kak!” Bima menarik lengan Kak Reza untuk bersiap menyanyikan lagu ciptaannya.

***

Teman, jika kalian kebetulan melewati semak di dekat sekolahnya Bima, ada sebuah jalan rahasia menuju Istana Sang Rajawali. Itu rumah kedua Bima. Tempat Bima merasa nyaman setelah lelah bersekolah. Tentunya kalian juga punya tempat rahasia juga kan?

Didi dan Larangan Ibunya

by Ricky Rinaldo @IniRickRick

Didi baru saja mendapat hadiah dari pamannya yang baru pulang dari luar negeri. Hadiah itu berupa satu set pakaian indian, lengkap dengan panah-panahan dan ikat kepala bulu. Sepanjang hari didi bermain di kamarnya. Ia menirukan gaya para indian yang pernah ia lihat di sebuah film di televisi.

Tiba-tiba Didi teringat sebuah adegan, dimana para indian itu menari mengelilingi sebuah api unggun. maka tanpa sepengetahuan ibunya,Didi pun mengambil korek api dari dapur. Sebenarnya Didi telah diberitahu oleh ibunya bahwa dia tidak diperbolehkan untuk bermain dengan api. Tapi Didi merasa tidak lengkap rasanya bermain menjadi indian tanpa api unggun. Maka tanpa menghiraukan larangan dari ibunya Didi lalu membakar korek api-korek api tersebut di tengah lantai kamarnya. Karena Didi merasa apinya kurang besar, ia pun menambahkan beberapa lembar kertas lagi pada api tersebut. Didi terus menambahkan kertas hingga dirasakan apinya cukup besar. Setelah itu Didi mulai menari mengelilingi api unggun buatannya itu. Didi merasa seperti indian asli sekarang.

Tanpa Didi sadari, ternyata api unggunnya makin lama semakin besar. Api mulai menyambar benda-benda di sekeliling yang mudah terbakar. Didi pun mulai ketakutan. Ia segera berlari memanggil ibunya. Ibu Didi pun segera memanggil petugas pemadam kebakaran.

Beruntung apinya bisa cepat dipadamkan, sehingga tidak sampai membakar seluruh rumah Didi. Namun kamar Didi sudah terlanjur terbakar. Seluruh buku-buku bacaan dan mainan kesayangan Didi hangus dan tak dapat lagi dimainkan. Didi merasa sangat menyesal. Dalam hati ia berjanji tidak akan lagi melanggar larangan ibunya.

Rumah Kaca di Pulau Belitung

by Angghie Gerardini @njiegerardini

Raisya terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia mulai membuka mata dan melihat langit yang masih gelap dihiasi taburan bintang dan sisa senyum purnama. Raisya berusaha menyadarkan diri dengan mata masih separuh terbuka. Ia terkejut dan segera melihat sekelilingnya. Raisya bangun, duduk di atas tempat tidurnya yang indah penuh ukiran. Seperti tempat tidur putri-putri dalam cerita. Tempat tidur yang nyaman dengan alas tumpukan kapas-kapas empuk dan halus. Selimut sutra tebal yang lembut dan hangat. Raisya benar-benar merasa menjadi tuan putri.
Ia terkejut ketika melihat indahnya hamparan pantai yang maha luas. Pesonanya benar-benar membuat Raisya membuka mata.

Raisya menuruni tempat tidurnya. Kaki-kaki mungilnya bersentuhan dengan lantai kayu yang mengkilap cantik. Raisya mulai melangkah mendekati dinding-dinding kaca kamarnya. Melihat lebih dekat pesona pantai di tepi rumahnya.
Raisya masih dibuat terkejut saat keluar dari kamarnya. Tiap sudut rumahnya tertata rapi. Seluruh dinding dan atap rumah terbuat dari kaca. Hingga bebas melihat indahnya pesona alam di luar rumahnya.

“Ibu…, Ayah…,” Raisya mencari orang tuanya.

“Ya, Sayang. Kamu sudah bangun? Ayo mandi dulu, setelah sarapan kita menyusul ayah berkebun ya,” jawab mama lembut.

“Berkebun?” Tanya Raisya bingung.

“Iya, ada kebun bunga kecil di sudut halaman belakang rumah kita sekarang, Sayang.”

Raisya hanya menganggukan kepala dan berjalan ke kamar mandi. Lagi-lagi dibuat bingung dengan perubahan kamar mandinya, berdinding dan beratap batu-batu kali yang sejuk. Penataannya rapi dan nyaman.

“Ah, tak salah lagi. Ini pasti Ibu yang menata,” gumam Raisya.

Pancuran air sejuk yang mengalir dari bambu-bambu membuatnya kali ini merasa seperti di pegunungan.

Setelah rapi, Raisya menyusul orang tuanya sarapan di ruang makan.

“Selamat pagi, Sayang. Wah bidadari kecil Ayah sudah cantik dan wangi,” sapa ayah.

“Ayo kita sarapan dulu lalu berkebun. Di sana, kamu bisa melihat pemandangan pantai yang indaaaah sekali,” sahut Ibu.

“Dari sini pun, bahkan dari tiap sisi rumah juga kita bisa melihatnya.” Jawab Raisya tersenyum riang.

Orang tuanya tersenyum senang.

“Kita kapan pindah? Kok tiba-tiba ada di sini?” Tanya Raisya yang kebingungan.

“Loh kan sejak kemarin. Kamu sepertinya kelelahan sekali dan tertidur pulas lama. Jadi lupa ya?” Jawab Ayah.

Raisya mengerutkan dahi. Entah bingung atau lupa. “Ah, sudahlah yang penting Raisya suka rumahnya kan?” Tanya Ibu, memastikan apa yang Raisya rasakan.

“Sukaaaa sekaliiii,” jawab Raisya riang.

Setelah sarapan, mereka berkebun di luar rumah.

Hawa sejuk pesisir yang indah dan bersih menyambutnya. Matahari mulai menyapa dari ujung langit yang entah dimana. Raisya berlonjak girang saat kaki mungilnya menyentuh pasir-pasir lembut yang indah. Kebun bunganya kecil sekali, di sudut halaman belakang rumah yang berhadapan dengan jernih hijau air pantai yang indah. Bunga warna-warni semakin menambah pesona taman kecil Raisya. Raisya tak berhenti mengagumi rumahnya yang indah, sangat indah.

Hingga akhirnya…

“Sayang, ayo bangun. Sudah subuh. Ayo solat dulu lalu mandi, sebelum kesiangan dan antrian mandi panjang,” Suara

Ibu lembut membangunkan Raisya.

Raisya mengerjapkan mata.

“Bu, kita dimana?” Tanya Raisya polos, kebingungan. Berharap jawaban ibunya : masih di rumah kaca kita di tepi pantai Pulau Belitung, Sayang.

Tapi jawaban ibunya berbeda jauh dari harapannya.

“Ya di rumah kontrakan kita, Sayang. Ayo cepat bangun. Ayah sudah hampir siap, nanti seperti biasa, setelah sarapan kamu berangkat sekolah diantar Ayah ya,” suara lembut ibunya tak berubah.

“Kita tidak di rumah kaca, Bu? Rumah kaca kita di tepi pantai.”

“Sayang, mimpi kamu pasti indah sekali ya semalam. Nanti, suatu hari kita mungkin akan benar-benar ada di rumah kaca. Makanya, Raisya rajin solat, berdo’a sama Allah. Rajin belajar agar kelak menjadi rang pintar dan berhasil. Raisya harus rajin belajar menabung. Setelah tabungan kita banyak nanti, kita pindah ke rumah kaca di tepi pantai seperti di mimpimu ya, Sayang.” Jawab Ibu menenangkan.

“Nah, sekarang Raisya bangun dulu. Ambil wudhu lalu solat, jangan lupa berdo’a ya. Setelah itu mandi dan sarapan lalu berangkat ke sekolah. Raisya mau rumah kaca kan?” Bujuk ibu dengan senyumnya yang lembut.

Raisya mengangguk. Membalas senyum ibu lalu berjalan ke depan rumah mengambil air wudhu. Raisya masih kecewa. Ternyata rumah kacanya mimpi belaka. Tapi ibu membuatnya bersemangat untuk lebih rajin dan akan benar-benar pindah ke sana suatu saat.

Besar atau Kecil?

by Icha @sachakarina

Rudi bermain bola di dalam rumah. Bola yang ditendangnya memantul-mantul di dinding, menimbulkan suara bising yang agak menganggu. Mamanya sudah menegurnya tapi dia tidak peduli, dia tetap bermain bola.

“Rudi, jangan main bola di dalam rumah, ntar mecahin kaca!” tegur Mamanya untuk kedua kali. Rudi tetap tidak peduli. “Kalau main bola di luar sana!” lanjut Mamanya lagi.

“Nggak mau, Ma. Di luar panas. Lagian nggak ada teman!” Ujar Rudi lalu menendang bolanya lagi, kali ini tidak mengenai dinding tapi mengenai gelas yang ada di atas meja. Gelas itu jatuh dan air di dalamnya tumpah membasahi lantai. Untung saja gelas itu tidak terbuat dari kaca tapi dari plastik jadi tidak pecah.

“Tuh kan, untung bukan gelas kaca jadi nggak pecah!” kata Mama Rudi lalu masuk mengambil kain pel.

“Kenapa sih rumah ini kecil banget? Kalau rumahnya gede kan bisa main bola dan bolanya nggak nyasar kemana-mana!” Rudi malah mengomel.

“Udah, jangan main bola di dalam rumah lagi. Kalau mau, mainnya di luar saja.” Kata Mama.

Rudi mengambil bolanya lalu keluar rumah dan bermain di halaman. Dia kesal sekali, andai saja rumahnya besar dia pasti bisa bermain bola di dalam rumah. Kenapa sih Papanya nggak bikin rumah yang besar saja?

***

Dua hari kemudian

Rudi bolak-balik di dalam rumah, mengintip di kolong tempat tidur, di kolong meja dan seluruh sudut rumahnya. Dia sedang mencari miniatur Naruto yang baru dibelinya kemarin sore. Dia ingin memperlihatkan pada Ari. Tapi Rudi lupa di mana dia meletakkannya setelah memainkannya tadi pagi sebelum ke sekolah. Gara-gara bermain-main tadi dia hampir saja telat ke sekolah.

“Ma, liat miniatur Narutoku nggak?” Tanya Rudi pada Mamanya yang sedang sibuk di dapur.

“Mama nggak liat.” Jawab Mamanya lalu mencicipi sayur yang sedang dimasaknya.

Rudi kembali mencari sambil mengomel-ngomel. Ari sudah menunggunya sedari tadi. Kalau dia tidak menemukannya, dia bisa di cap pembohong oleh Ari.

“Kenapa sih rumah ini gede banget?” Teriak Rudi. Mamanya datang mendekat.

“Nah, yang kemarin bilang rumah kita kekecilan siapa?”

Rudi langsung terdiam, dia merasa agak malu. Kemarin dia mengeluh karena rumahnya kekecilan sehingga nggak bisa bermain. Sekarang dia malah bilang kalau rumahnya kebesaran dan kesulitan mencari barangnya yang tercecer.

Mama lalu masuk ke dalam kamar Rudi lalu mengambil kotak yang ada di sudut ruangan. Kotak itu adalah kotak mainan Rudi. Mama lalu mengambil sebuah miniature kecil. Miniature Naruto yang sedari tadi dicari oleh Rudi.

“Mama nyembunyiin di sana yah?” Rudi bertanya curiga pada Mamanya.

“Tidak mungkin Mama nyembunyiin. Mama kan cuma membereskan mainan kamu. Kamu aja yang nggak nyari ke sana!” Kata Mamanya lembut.

Lagi-lagi Rudi merasa malu, dia sudah curiga pada Mamanya, padahal Mamanya yang sudah repot-repot membereskan mainannya yang pasti berantakan. Rudi berjanji akan lebih rajin lagi membereskan mainannya, agar tidak berantakan dan tercecer lagi.

Rudi sadar dia terlalu banyak mengeluh padahal dia belum berusaha dengan sungguh-sungguh. Dia juga sadar, tidak seharusnya dia menuntut macam-macam pada orang tuanya dengan meminta agar rumah mereka lebih besar lagi. Kalau dipikir-pikir rumahnya tidak kecil, tapi juga tidak besar. Sederhana. Dan yang harus dia syukuri adalah rumahnya sangat hangat. Orang tuanya selalu memberikan kehangatan itu.

Itulah rumah impian. Tak perlu besar, tak perlu megah yang penting kita nyaman di dalamnya.

***

Pintu Masuk 03: Rumahku Istanaku

By Daniel Prasatyo @daprast (for Cubiculum Notatum @jejakubikel)

Hari yang menyebalkan. Alif harus tinggal di rumah, di kamar. Badannya demam, flu. Ibu melarangnya berada dekat-dekat dengan Jo, khawatir Jo akan tertular. Jadi, di sinilah Alif sekarang, di kamarnya, sendiri.

Ibu baru saja keluar dari kamar Alif, memastikan Alif baik-baik saja. Dengan lemas dan pucat, Alif berusaha tersenyum, agar Ibu tidak terlalu khawatir. Begitu Ibu keluar, Alif bergegas mengeluarkan kotak ajaibnya.

“Kau tampak sakit, Alif,’ ujar pendaran cahaya dari kotak itu. Alif mengangguk lemah. “Tapi aku bosan hanya diam di kamar,” keluhnya.

“Kau tidak sehat, ke mana kau ingin berpetualang?”

“Aku tidak ingin ke mana-mana. Aku hanya ingin kamar yang lebih indah.”

“Lebih indah? Seindah apa?”

Alif berpikir, merenung sejenak. “Ah, aku tahu! Aku ingin kamar seperti..”

Belum selesai Alif bicara, ia sudah tidak di kamarnya lagi. Ranjangnya sekarang besar sekali. Berwarna merah terang dan empuk sekali. Dinding-dinding membosankan di kamarnya yang dulu kini tidak ada lagi. Sekarang ia dikelilingi akuarium raksasa di keempat sisi kamarnya.

Alif hanya duduk dan terkagum-kagum mengamati ikan-ikan yang menari-nari ke sana ke mari. Tiba-tiba ia terkejut, hampir melompat, ketika ada seekor hiu berwarna pink berenang di dinding sebelah kirinya. Pink? Ah, iya, di sini, semua keinginannya bisa terjadi.

Ibu masuk kembali ke dalam kamar Alif. Kali ini bersama Paman Yudha, seorang dokter. Paman menyentuh dahi Alif, lalu lehernya. Ia juga menjulurkan jarinya untuk merasakan hembusan napas Alif dari hidungnya.

“Demamnya sudah turun, dia akan baik-baik saja,” kata Paman. Ibu tersenyum. Dibelainya rambut Alif dan dikecupnya kening putranya. Ya, Alif akan segera sembuh. Lihatlah, demampun ia tersenyum dalam tidurnya.

Dan Alif pun sedang tertawa girang, melompat-lompat bersama sekawanan kangguru.

Rumah Peri Biru

by Bunga S. Putri @bunga_sp

“Peri biru, tunggu! Jangan pergi dulu.”

“Ada apa Pinokio?”

“Peri biru, aku dan papa Gepeto sangat berterimakasih atas pertolonganmu.”

“Tidak Pinokio, itu semua berkat usaha keras papa Gepeto-mu.”

“Tinggalah bersama kami disini peri, agar kau tidak sendirian.”

“Aku tidak sendirian Pinokio, aku punya sebuah rumah kecil dan banyak peri – peri lain di rumahku.”

“Bolehkah aku melihat – lihat rumahmu peri?”

“Mari, ikutlah bersamaku.”

Pinokio bergegas menemui papanya untuk meminta izin agar ia diperbolehkan ikut dengan peri biru mengunjungi rumahnya. Karena Pinokio ingat pesan papanya kalau mau keluar rumah harus izin. Gepeto mengizinkan Pinokio untuk ikut bersama peri biru.

***

“Selamat datang di rumahku, Pino.”

Wow! Rumah peri biru begitu indah. Tak ku sangka di hutan yang sangat gelap dan penuh dengan pohon – pohon besar seperti ini ada rumah secantik ini. Dari luar, rumah peri biru terlihat bercahaya, pintu dan jendelanya seperti terbuat dari batu rubi yang bercahaya biru. Peri biru bilang manusia biasa tidak akan bisa melihat rumah ini. Karena aku diundang maka peri biru membuat aku bisa melihat rumahnya.

Di dalamnya terdapat beberapa peri lain yang juga sangat baik seperti peri biru. Kursi – kursi di rumah peri biru bergelantung seperti ayunan, sungguh nyaman saat aku mencobanya. Makanan dan minuman enak tersaji banyak sekali di meja makan. Peri biru memperlihatkan kamarnya, sekali lagi aku terkagum – kagum. Tempat tidurnya juga menggangtung seperti ayunan, terlihat sangat menyenangkan bila aku dapat tidur disana. Tergantung beberapa gaun peri biru yang sangat indah. Semua berwarna biru. Sejuk melihatnya seperti laut.

Pandanganku tertuju kepada sebuah kotak besar berkilauan dengan gembok emas disudut kamar peri biru. Apa itu ya, mengapa terkunci begitu. Aku tak bisa membayangkan apa isinya, tetapi aku sangat penasaran.

“Pinokio, jangan pernah sekali – sekali mendekat ke kotak besar itu ya, apalagi mencoba membukanya.” – rupanya peri biru tau aku sedang dengan rasa penasaran memperhatikan kotak itu.

Kami segera keluar kamar peri biru dan menuju meja makan yang penuh dengan makanan dan minuman enak. Aku dengan lahapnya memakan semua makanan yang ada sampai – sampai aku merasa kekenyangan dan begitu mengantuk.

***

Pinokio yang begitu kekenyangan akhirnya tertidur di kursi gantung. Sementara itu peri biru dan peri lainnya pergi ke istana peri karena ratu peri memanggil mereka. Peri biru meninggalkan Pinokio yang masih tertidur lelap sendiri di rumahnya. Karena ia hanya pergi sebentar dan Pinokio baru akan terbangun ketika ia kembali, pikirnya.

***

“Peri biruuuu.. Peri dimanaaaa..”

Mengapa aku sendirian sekarang, kemana peri biru dan para peri lainnya pergi ya. Sudahlah lebih baik aku bermain – main sebentar sebelum para peri kembali.

Perlahan aku lirik lagi kamar peri biru dengan kotak besar itu. Tidak! Aku tidak boleh mendekati kotak itu, peri biru sudah berpesan kepadaku dan aku harus mematuhinya. Tapi aku benar – benar penasaran aku hanya ingin melihat saja tidak lebih pasti peri biru tidak akan marah padaku. Baiklah aku harus cepat sebelum peri biru pulang. Aku hanya ingin tahu apa isi kotak itu.

***

Pinokio yang teramat penasaran dengan isi kotak besar itu akhirnya melanggar perintah peri biru untuk tidak mendekati kotak itu. Ia mendekati kotak besar itu dan meraba – raba kotak itu. Ternyata gemboknya sudah terbuka. Pinokio semakin senang karena ia bisa mengetahui isi kotak itu, siapa tahu mainan yang bagus ada di dalamnya, pikirnya.

Segera ia buka kotak itu, kosong. Seketika tubuh Pinokio mengecil dan tertarik masuk kedalamnya. Kotak itu langsung tertutup begitu saja. Pinokio yang malang menangis dan berteriak – teriak minta tolong. Ia begitu ketakukan di dalam kotak gelap itu. Sampai ia lelah berteriak tak juga ada yang mengeluarkannya dari kotak itu. Pinokio terus saja menangis berharap peri biru datang menolongnya.

***

“Pinokio, aku kan sudah bilang, jangan pernah mendekat apalagi membuka kotak itu. Rupanya kau tetap nakal. Kau akan tetap disana sampai kau mengucapkan seratus kali ucapan bahwa kau tidak akan pernah lagi mendekat kotak ini.” – ucap peri biru. Rupanya kotak besar itu memang sengaja di buat untuk menjebak peri jahat yang menyelinap ke rumah peri biru, karena itu kotak itu dibuat sangat menarik pandangan mata dan gemboknya sengaja tidak dikunci saat para peri meninggalkan rumah. Peri biru sengaja menyuruh Pinokio mengucapkan seratus kali janji agar ia merasakan sejenak bagaimana rasanya di dalam kotak itu. Dan supaya Pinokio tidak lagi melanggar apa yang sudah diperingatkan kepadanya. Peri biru ingin Pinokio menjadi anak manusia yang baik.