041 Rokok

now browsing by category

 

Selamat Tinggal, Ibu

By Evan Matthews @matthewsevan

Sepulang dari sekolah aku mampir di warung dekat rumah. Tak terasa dua cangkir kopi sudah kuhabiskan. Aku pun bergegas pulang. Di depan rumah aku melihat kemarahan tampak dari wajah ayah. Aku tak berani menyapanya dan langsung berlari ke dalam. Setengah jam sudah aku berada di toilet, hanya ditemani suara air dan sebatang rokok yang masih melekat di bibir.

“Dok.. Dok.. Dok..”

“Arif lama kali kau di dalam!”

“Sebentar lagi, Ayah..”

Aku tahu ayah sedang kesal karena kalah judi dan selalu saja berimbas padaku. Kali ini tekadku sudah bulat. Segera kumatikan rokok itu dan kuikat tali pinggang itu di kisi-kisi jendela toilet.

“Selamat tinggal, Ibu. Semoga kau bahagia bersama ayah tiri itu.”

Rokok dan Ibuku

By Nesiana Yuko Argina @nesianayuko

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika aku menyebut sebuah kata, ‘Rokok’? Laki-laki? Jika aku punya cerita tentang ‘rokok’, aku yakin kalian para lelaki juga punya.

Tidak, aku tidak merokok. Hanya saja, rokok bagian dari hidupku. Entahlah, itu kalimat yang menohok.

**

“Bu, sampai kapan begini? Ibu bukan cuma menyiksa diri, tapi juga aku. Putri semata wayangmu!”

“Diam! Tau apa kau tentang ibumu ini? Hah?” Tangan keriputnya mendorongku kasar. Aku terjerembab.

“Waktumu tak banyak, Bu. Aku ingin..” Bungkus tembakau mendarat tepat di pelipisku. berdarah.

sepuluh menit, sebungkus tembakau lenyap. Rentenir sukses menggerogoti kesehatan, kebahagian, dan nyaris kewarasan ibuku. Aku pun ‘dituntut’ tetap waras.

**

TPU Jeruk Purut. 21 Desember 2002.

Senyumku mengembang. tangisku pecah.

Sepenghisapan Rokok

By Sigit Raharjo  @SigitHarjo

“Cling…!!”

Bunyi pemantik api. Lalu terdengar percik api membakar kertas.

Aku hanya bisa mendengar, mata dan mulutku dibungkam. Tangan dan kakiku terikat erat. Aku teronggok di sudut ruangan yang sumpek. Bau keringat dan asap rokok berpadu. Seingatku sudah seminggu aku disekap di sini.

“Kita apakan orang ini, Ndan? Semua barang bukti yang kita temukan di TKP lemah. Saya sudah paksa dia membuat pengakuan palsu tapi dia tetap saja keras kepala.”

“Brengsek, kerja tak becus!!  Semua media sudah mem-blow up kasus ini. Boss Besar sudah pesan, cari kambing hitam. Kamu mau dipecat?!”

“Tapi sudah mentok, Ndan. Dia sepertinya rela mati.”

“Ya sudah!”

Lalu kudengar langkah kaki mendekatiku.

“Dorr!”

Sepuntung rokok jatuh.

Gelap.

Senyum yang Menguatkanku

By Dhanang @dhanzo

Jarum jam telah menunjukkan angka 11, mungkin tiba saatnya untuk beranjak dari kursi ini. Pramusaji hanya berdiri sambil membersihkan gelas dan tersenyum, sesekali ia mengganti asbak walau hanya sepuntung rokok di dalamnya. Sebuah ruangan temaram dengan dinding kayu dan beberapa foto pemilik bar yang terdahulu mengingatkanku betapa hangatnya ruangan ini, entah berapa gadis yang pernah kuajak kemari hanya untuk mengobrol hingga larut.

Sebatang rokok kunyalakan dan pramusaji itu memberiku sebotol minuman beralkohol yang sering aku pesan, airmataku luruh seketika lalu beberapa lembar tisu di piring kecil ia sodorkan di hadapanku. Kini aku siap, dengan jantan mengacungkan botol aku berteriak lantang di hadapan polisi dan wartawan ”Akulah koruptor jahanam yang kalian cari!”

Pada Suatu Senja

By Patria @patria_

Don’t you even dare to do it, Zaenal Arifin!”

Aku bergeming. Kata-katanya menghentak. Belum pernah dia menggunakan kata-kata itu padaku. Aku kembali duduk, mencoba merayunya lagi agar melunak.

“Tapi dia memanggilku, aku ingin bertemu dengannya..”

“Oh sekarang kau membutuhkannya?!” Dia memotong kalimatku tegas. “Aku yang selama ini di sisimu, bahkan dalam keadaan tersulitmu, dan kau sadar akan hal itu!”

Aku terdiam. Teringat dua tahun lalu saat bisnisku terpuruk dan istriku pergi. Dia yang berjanji setia mendampingiku, for better for worse.

“Maafkan aku, Tuhan. Sekali lagi dia benar.” Kuselipkan dia di jemariku dan kembali mengecupnya. Asap mengepul diiringi semburat cahaya mentari yang mulai padam.

Sementara azan magrib sayup terdengar di kejauhan senja.

Aku Akan Bahagiakanmu, Istriku!

by Ben Nazwar @benjalang

“Ben, apa kamu benar-benar mencintaiku?”

“Tentu saja, Sayang, kenapa tiba-tiba kamu mempertanyakan itu?” jawabku keheranan.

“Apa kamu sayang padaku dan ingin membahagiakanku?” Suara Atha lebih tegas sekarang.

“Sayang, ada apa sebenarnya? Dua tahun lebih kita pacaran, tentunya kamu tahu betapa aku sangat mencintaimu, selalu berusaha membuatmu bahagia.”

“Aku tahu, tapi itu semua tak cukup untuk membahagiakanku!”

“Apa maksudmu, Sayang? Apa kamu mulai jenuh bersamaku?” Perlahan aku mulai mengerti arah pembicaraannya. Kubakar sebatang rokok untuk menenangkan diri.

“Kamu bilang ingin membahagiakanku, tapi kenyataannya tidak.”

“Kenyataan? Maksudmu?” kutatap tajam matanya.

Atha mengambil bungkus rokokku, “Aku sangat bahagia menjadi pacarmu, kelak aku juga ingin bahagia sebagai istrimu,” katanya sembari menunjuk kata impotensi di kemasannya.

Terima Kasih Api Rokok

by Ade Husnan @dhehusnan

“Jangan ikut campur urusanku dengan ibumu!” teriak ayah sambil menempelkan rokoknya yang menyala ke pipiku.

Ibu menghampiriku, sambil memeluk ibu menangis.

“Sabar, Nak.”

“Kamu pulang ke rumah nenek saja, bawa semua pakaianmu dan ijasahmu.”

Hari itu juga aku pergi. Dengan luka di pipiku akibat api rokok, aku berjalan menuju terminal bus menuju rumah nenek.

Beruntung, ada lowongan kerja, aku mencoba memasukan surat lamaran, segera kukirim, dan seminggu kemudian di sebuah surat kabar aku melihat namaku tercetak, aku tersenyum bahagia hampir meneteskan air mata.

Aku lolos dan diterima kerja di sebuah perusahaan bonafit.

Untung saja ayahku menempelkan api rokoknya ke pipiku waktu itu. Aku berterima kasih akan kejadian yang menimpaku saat itu.

Rokok Pertama

by Susy Haryani @susyillona

Kuhisap lagi. Perlahan kamar ini penuh dengan asap, bertebaran puntung rokok
yang masih berasap di lantai. Pengap. Aku tak peduli dengan semuanya, apakah
bara yang menghanguskan tembakau ini juga akan menghanguskan paru-paruku. Aku
tak peduli. Sama seperti ketidakpedulianmu pada ucapanku dulu. Sebelum maut
memanggilmu dan menggelapkan hari-hariku.

Kusulut lagi satu batang rokok, rokok terakhir di bungkus kedua. Hari ini,
untuk pertama kalinya dalam hidupku bibirku menyentuh rokok. Hari ini
pertama kalinya aku ingin merasakan nikmatnya hisapan-hisapan yang merenggut
nyawamu. Kanker paru-paru.

Aku terbatuk-batuk, perlahan kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipiku, kuusap perlahan, lalu kehangatan itu kini bukan hanya di pipiku, di seluruh tubuhku.
Dan semakin panas. Kobaran api ini telah sempurna.

Sesapan Rindu

by Jaquita Phe @JaquitaPhe

Apakah pernah dia berkunjung padamu dengan langkah gontainya, wajahnya yang teramat kusut namun tetap menawan, bau alkohol dari mulutnya, dia membawa lara, kekecewaan, tapi tanpa dusta.

Dia gelontorkan kata-kata manis tentangmu, puji-pujian akan kecantikanmu, gemulainya tubuh indahmu padaku. Dia sangat memujamu.

Satu waktu dia datang padaku, merebahkan bahunya yang nampak lelah, penat akan hidup, atau akan engkau? Dia teteskan peluh, air mata, segalanya. Kekecewaannya padamu, tiap penggalan nafasnya penuh lara, dia mendendam, padamu.

Ingin sekali saja aku memilikinya, dia memilikiku. Ini waktunya, aku memilikinya seutuhnya, tanpa ada kata tentangmu. Bibir tipisnya pelan mengecupku, menghisap tiap rindu yang ada padaku. Tapi apa daya, aku hanya batang demi batang rokok dari sebuah kotak.

Isapan Terakhir

by Bambang @bemz_Q

“Beng, bagi rokoknya dong. Aku lagi kehabisan nih.”

“Tinggal satu, kita isap berdua, ya”

“…aku besok ke Aceh”

“Kamu sudah gila? Seminggu lagi kita wisuda! Di sana belum aman, gerombolan bersenjata masih merajalela!”

***

Binar-binar ceria menghiasi wajah calon wisudawan, tapi tidak denganku. Sebuah kursi kosong sedari tadi mengawasiku. Kursi dengan label nama ‘Hardianto’.

***

Kembali kuingat percakapan kami. Ada rasa tak enap mengendap bersama asap.

“Nikmat sekali rokokmu, Beng. Hisapan terakhir ini buatku ya.”

Kutepuk bahu Hardianto sambil tertawa, “Anggap saja sisa rokok ini kado pelepas kepergianmu”‘

***

Satu tahun setelah wisuda, headline koran nasional membuatku tersentak.

“DITEMUKAN KUBURAN MASSAL KORBAN GEROMBOLAN BERSENJATA”

Sebuah Kartu Mahasiswa berhasil diidentifikasi, atas nama Hardianto, sahabat terbaikku.