043 Lipstik

now browsing by category

 

Saya

By Bintang Pradipta @bbintangb

Saya adalah saya. Sudah saya sejak lahir. Sebenarnya, saya tidak keberatan bila seluruh dunia tahu kalau saya adalah saya. Masa bodoh dengan norma, agama. Satu-satunya alasan yang membuat saya merahasiakan identitas sebagai saya adalah ibu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya beliau ketika sadar telah melahirkan anak yang ternyata saya. Mana ada ibu yang ingin anaknya terlahir menjadi saya? Bahkan ibu lesbian sekalipun.

* * *

Saya mengoleskan lipstik ke bibir, lantas melihat penampilan saya dalam balutan gaun ini sekali lagi. Dari belakang, Reza—pria saya—memeluk tubuh saya. Dia meremas penis saya sampai ereksi.

Saya melirik botol berisi abu ibu yang meninggal seminggu lalu. Kini saya tidak khawatir lagi menjadi saya.

Tanjungpinang, 14 Juni 2011
13.15 WaktuIndonesiaBebas
untuk Muhammad Giovanni

Maafkan Aku

By Ben Nazwar @benjalang

“Tuh kan, lipstikku jadi pudar!” Aku melotot padanya.

“Tapi aku masih ingin bersamamu, Sayang”.

“Lihat, jam berapa ini, aku bisa telat ke kantor!” Aku menghindari bibirnya. “Apa masih kurang semalaman kau menikmati tubuhku?”.

“Nanti aku pulang cepat, kau bisa mendapatkan semuanya, tidak hanya bibirku!!”

**

“Duluan aja, aku mau ke toilet dulu,” jawabku pada  Rina yang mengajakku naik lift. Aku tidak percaya diri kalau harus ikut bersamanya, apalagi pimpinanku juga ada di dalam lift itu.

**

“Merepotkan saja!” gerutuku setelah selesai memperbaiki lipstik di toilet.

“Kenapa, Pak, kok pada panik semua?”

“Lift yang dinaiki Bapak Pimpinan kandas, Mbak.” Jawaban satpam itu membuat dadaku sesak.

“Suamiku, maafkan aku karena telah kesal padamu pagi ini.”

Lipstik Itu

By Ryan Pradana @ry4nn_

“Andiiiinnn! Lipstik mama mana? Hendak dipakai buat ke resepsi pernikahan nih!”

“Lho, di meja kan? Seperti biasanya?”

”Tak ada kok!”

”Wah, mungkin dibawa Disti. Aku tanya ke Disti dulu ya, Ma.”

**

“Disti, lipstik mama mana?”

“Bukannya di kamar, Mbak? Meja rias seperti basanya?”

”Tak ada, Disti! Bukannya kamu kemarin pinjam?”

”Iya ya? Nanti aku cari deh.”

**

”Ivan sayang, kembalikan lipstik mamaku dong. Mau dipakai rupanya.”

”Oh iya, Sayang. Aku antar ke rumah kamu ya besok.”

”Lipstiknya buat apa sih?”

”Buat percobaan kok, sayangku Disti”

**

”Van! Cepatlah! Sudah belum pakai lipstiknya?”

”Iya, Mami. Sudah ada pelanggan ya?”

“Ini Om Darto, yang biasa booking kamu. Ayo cepat! Dia sudah horny nih!”

“Iya, Mami..”

Elang

By Ade Yusuf @sibangor

“Terus, Boy! Keluarkan semua amarahmu! Munculkan kejantananmu! Cakar aku! Kamu adalah Elang, bukan merpati yang lembek!”

**

Sejak kecil Mat Codet sudah merajah dada anaknya dengan gambar burung. Sesuai namanya, Elang.

“Kelak, ia akan meneruskan kejayaan bapaknya. Sebagai raja preman.”

**

Mat Codet seperti kesetanan. Ibunya tak kuasa meredam amarah Mat Codet. Ia terlalu takut menghadapi suaminya.

Di antara suara tawa dan pukulan Mat Codet, Elang meraih gunting yang berada di atas mesin jahit. Ia lemparkan tepat ke arah dada bapaknya. Sekejap suara tawa itu berubah menjadi dengusan.

Mat Codet terjerembab dengan gunting menancap di jantungnya.

Elang menjadi sohor. Seluruh kampung menobatkannya sebagai raja preman baru pengganti Mat Codet: Ratu Preman Bergincu.

Lipstik Itu

By Ryan Pradana @ry4nn_

“Andiiiinnn! Lipstik mama mana? Hendak dipakai buat ke resepsi pernikahan nih!”

“Lho, di meja kan? Seperti biasanya?”

”Tak ada kok!”

”Wah, mungkin dibawa Disti. Aku tanya ke Disti dulu ya, Ma.”

**

“Disti, lipstik mama mana?”

“Bukannya di kamar, Mbak? Meja rias seperti basanya?”

”Tak ada, Disti! Bukannya kamu kemarin pinjam?”

”Iya ya? Nanti aku cari deh.”

**

”Ivan sayang, kembalikan lipstik mamaku dong. Mau dipakai rupanya.”

”Oh iya, Sayang. Aku antar ke rumah kamu ya besok.”

”Lipstiknya buat apa sih?”

”Buat percobaan kok, sayangku Disti”

**

”Van! Cepatlah! Sudah belum pakai lipstiknya?”

”Iya, Mami. Sudah ada pelanggan ya?”

“Ini Om Darto, yang biasa booking kamu. Ayo cepat! Dia sudah horny nih!”

“Iya, Mami..”

Bibir Merah

By Dhanang @dhanzo

Perempuan jalanan dan kembang ibu kota berbaur dalam suasana pesta, kulangkahkan kaki merangkul beberapa wanita dan mengajak minum bersama. Malam ini terlalu liar, terlalu cepat untuk dinikmati sebelum akhirnya aku terbangun di kantor polisi. Samar kulihat beberapa wanita berpakaian minim menatapku aneh, kusandarkan punggungku ke dinding dan melihat keadaan.

Aneh, sebuah benjolan di dadaku dan aku berteriak histeris! Beberapa polisi menenangkanku hingga aku diperbolehkan untuk menelepon, namun tak satu pun yang mengenaliku. Terduduk lemas, aku mulai mengingat apa yang terjadi, namun kepalaku terlalu sakit terlalu banyak minum hingga kubasuh mukaku di depan cermin. Seorang gadis teramat cantik, aku jatuh cinta pada pandangan pertama, pada diriku sendiri yang memoles bibirnya dengan lipstik.

Ajaib!

by Ninda Syahfi @nindasyahfi

Ini lipstik ajaib!

Dengan percaya diri, Lisa meyakini seisi kelas, termasuk Bu Tia, dosen kami. Hari ini ujian mata kuliah Entrepreneurship, untuk melatih bakat wirausaha mahasiswa/i-nya.

Dalam presentasinya, Lisa berencana akan membuka toko kosmetik. Tidak heran mengapa jenis ini yang dipilih, tentu saja, Lisa sangat ahli bersolek. Toko kosmetik alam, begitu namanya. Bahan – bahan alami dipilih sebagai bahan dasar kosmetik. Memang terdengar aneh, tapi ide ini dihargai nilai A oleh Bu Tia, karena keunikan, menurutnya. Sukses.

“Itu lipstik yang lo pake buat presentasi kan? Kok diemut sih?”
“Ih ini kan permen..”

Lisa tertawa geli.

“Lo mau?”
“Mau.”
“Nih!” Lisa memberikanku lipstik serupa.

Hoeeeek!!!

Lisa tertawa terbahak. Puas melihatku menelan gincu.. asli.

Kado dari Ibu

by Susy Haryani @susyillona

Kumasukkan lipstik terakhir dari ibu ke laci, bersama lipstik-lipstik lainnya.
Lima tahun sudah aku menyimpannya, tanpa pernah kupakai.

”Kamu itu cantik, banyak pria tertarik padamu. Jangan pernah menyalahi kodrat
Tuhan, kau terlahir sebagai wanita, mati juga sebagai wanita,” kalimat sama yang
ibu ucapkan di setiap ulang tahunku sembari mengulurkan kado, sebuah lipstik yang
diikat dengan pita.

Sejak ulang tahun ke-17 ibu mulai memberiku lipstik sebagai kado. Sejak itu ibu
mulai mengaturku, memaksaku memakai rok, melarangku potong rambut cepak,
mencomblangkanku dengan anak-anak sahabatnya. Semuanya agar aku menjadi wanita
seutuhnya.

Hari ini, ulang tahunku yang ke-23. Ibu mengetuk pintu kamarku, aku menyambutnya
dengan belati. Maaf ibu, aku jemu dengan nasehatmu, hidupku adalah milikku.

Ingin Seperti Ibu

by Rinto @Rinto_114

Kuoleskan lipstik ibu ke bibirku, lalu kutautkan. Kuulangi menyisir rambut, tentunya dengan sisir yang biasa dipakai ibu saat senja, sebelum pergi meninggalkan rumah. Mencari uang, katanya.

Bedak, alis, lipstik, rambut, semua sudah beres. Giliran mencoba sepatu ibu. Yang abu-abu mengkilat, dengan hak 5 senti. Kukencangkan talinya dan aku mencoba melenggang. Nyaman dan aku merasa cantik sekali.

Oh iya. Aku belum berbaju. Tak layak kalau berdandan seperti ibu, tapi kutang dan celana dalam masih bergambar beruang madu. Kubuka lemari baju ibu, mencari  gaun yang muat di badan siswi SMP kelas satu seperti aku.

Aku mulai murung, ternyata tak ada yang muat. Dadaku belum sebesar punya ibu. Aku belum bisa mencari uang, seperti ibu.

Restu

by Andi Gunawan @ndigun

Rosaria tahu waktunya telah tiba. Lima-puluh-tiga tahun cukup untuknya mengabdi sebagai manusia. Ia tak sabar menghadap Tuhannya. Ia takkan memohon surga. Ia hanya ingin berbincang tentang hari-harinya. Tentang suami, putra, dan calon menantu idamannya. Tentang  firman Tuhan yang diabaikan sesamanya.

“Buka alkitabku. Ada yang harus kau baca.” Rosaria sempat berpesan pada putranya, Renhard, sebelum ia benar-benar tak bisa menikmati udara.

Di rumah duka, Karina siap dengan kotak riasnya. Ia menghadap jenazah Rosaria damai dalam senyum terakhirnya. Renhard datang dan memberikannya selembar kertras.

“Karina.

Aku tak mau didandani. Biarkan aku menghadap Tuhan seperti pertama kali menghadap dunia. Imanku, riasanku. Berhiaslah dengan baik saat Renhard menikahimu. Aku akan meminta restu Tuhan untuk kalian.”