046 Uang

now browsing by category

 

Peri Gigi

by Aulia Soemitro @aulsoemitro

“Gigi kamu jangan sampai bolong.”

“Kan nanti gigi kakak juga bakal copot, Bu.”

Lalu ibu mendongengkanku tentang peri gigi.

“Nanti kalau gigi kamu copot, disimpan di bawah bantal ya. Peri gigi akan mengambilnya saat kamu tidur, lalu menggantinya dengan uang yang sesuai dengan kebersihan gigimu yang copot itu.”

Paginya aku mendengar suara orang bertengkar, aku tak begitu jelas mendengarnya dari balik pintu kamarku. Hanya terdengar suara laki-laki “Bayar atau keluar” dan suara nenek yang menenangkan Ibu setelah laki-laki itu membanting pintu.

Aku bersembunyi di dalam selimut, tiba-tiba tangan nenek membelai lembut menenangkanku “Jangan takut”. Saat aku membuka selimut dan melihat senyum nenek, terbersit ide untuk melunasi utang Ibu. “Gigi nenek bagus”.

Pengemis Ibukota

By Imamul Muttaqin @Imamul_

Namaku Andi, pengemis lampu merah ibukota. Melihat kondisi fisikku saat ini, mungkin kalian akan lari ketakutan. Ya, aku cacat. Jariku tidak lengkap dan ada nanah di sekitar lenganku.

Sembilan tahun yang lalu, sebenarnya aku dilahirkan dalam kondisi normal seperti bayi-bayi lainnya. Semua ini berawal dari lumpur itu. Saat usiaku tiga tahun, lumpur itu menyembur. Rumahku tenggelam, dan aku tak punya tempat tinggal lagi. Ibuku yang telah ditinggal ayah dan hanya bekerja sebagai penjual gorengan, terpaksa harus pindah ke Jakarta dan menjadi pengemis ibukota. Semua ini demi uang, katanya.

“Nak, maaf, ibu harus menghilangkan jarimu. Mungkin dengan ini ibu akan lebih mudah mencari uang,” katanya sambil memotong jari tanganku dan menyilet lenganku.

Sembuh

By Rafael Yanuar @opiloph

Seberapa besarnya rasa rinduku padamu? Sampai-sampai, sekeping logam di bawah telapak kaki tak dapat terasa dinginnya. Padahal biasanya, aku begitu tanggap pada aroma rupiah, bahkan dari nominal terkecil sekalipun.

Sebelum mengenalmu, aku selalu bergelut, menghabiskan hidup, mengais rezeki pada setiap kesempatan, melulu mengejar materi sampai lupa makan dan minum.

Terkadang aku tiba pada tahap-tahap memprihatinkan, seperti memunguti recehan di tepi jalan, meski jumlahnya, tak dapat membeli sebutir permen pun. Aku menjunjung tinggi barang murah, sampai kau datang, di kala aku sakit oleh kebiasaanku, mengonsumsi makanan kadaluarsa.

Beberapa hari kemudian, aku sembuh, meski harus dirawat jalan. Tapi, entah mengapa, ambisiku pada uang seperti menguap, bersama usus buntuku.

Pasti, karena kamu, ‘kan, cinta?

(13 Juni 2011 – 23:57)

Perawan Primadona

By Ryan Pradana @ry4nn_

Aku memasukkan berlembar-lembar uang ratusan ribu ke dalam kantong bajuku. Lumayan, bisa untuk membayar hutang. Menjadi penari ronggeng tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya, sebelum aku melihat foto-foto mendiang ibu yang menjadi primadona grup tari ronggengnya.

Tarianku mungkin tak sehebat tarian ibu, namun kemolekan tubuhku dan payudaraku yang kencang membuat lelaki hidung belang berlomba-lomba memasukkan uang mereka di dadaku. Banyak dari mereka yang mengajakku ke ranjang, tapi aku selalu menolaknya. “Menjaga keperawanan itu penting,” ujar ibuku sesaat sebelum meninggal.

Dan kini, aku merasakan pentingnya benar-benar menjaga keperawanan hingga saat yang tepat.

“Langsung pulang?”

“Iya, Mas. Terimakasih uangnya ya”

“Terimakasih buat semalam. Kamu luar biasa!”

Aku keluar kamar hotel itu sambil tersenyum.

Dongeng Pinggiran

By Ade yusuf @sibangor

Dolang mengeluarkan uang yang ada di saku kemudian menyerahkannya pada Asih.

“Cuma sepuluh ribu? Nggak malu sama dasi? Mana janjimu, Mas?”

**

Dolang mahfum kalau istrinya selalu nyap-nyap hampir tiap hari. Pasti pusing memecah uang sepuluh ribu agar bisa memenuhi semua kebutuhan hidup mereka.

Ia sendiri tak pernah berterusterang kalau profesi sebenarnya cuma pencopet kelas teri yang hanya berani mencopet dompet. Bukan tenaga sales seperti yang selalu ia ceritakan selama ini.

**

“Katanya mau pensiun?”

“Aku mau pensiun kalo kamu udah bawa duit sejuta tiap hari.”

Dengan dandanan menor, Asih melengos tanpa pamit. Meninggalkan bau parfum oplosan di rumah petaknya.

**

“Kamu tahu? Aku sudah pensiun karena hamil, Mas.”

Asih menangis di halte bis.

Sesuatu

by Babubaek @babubaek

Barang pesanan sudah datang, namun tetap diam di truk itu. Kudekati supirnya, kemudian kuberikan sesuatu.

Barang sudah siap diantar, namun tak kunjung berangkat. Kudekati supirku, kemudian kuberikan sesuatu.

Mobil kami diberhentikan di perjalanan, urusan tak kunjung selesai. Kudekati petugas itu, kemudian kuberikan sesuatu.

Mobil kami sudah sampai di tempat, pintu pabrik tak kunjung dibuka. Kudekati satpam penjaga pintu itu, kemudian kuberikan sesuatu.

Mobil kami sudah sampai di depan gudang, barang tak kunjung diturunkan. Kudekati kepala gudang, kemudian kuberikan sesuatu.

Mobil kami ditabrak motor dalam perjalanan pulang. Situasi memanas. Kudekati pengendara motor itu, kemudian kuberikan sesuatu.

Laporan yang kubuat tak kunjung diperiksa. Kudekati supervisorku, kemudian kuberikan sesuatu.

Barang pesanan berikutnya sudah datang.

Kappa Zushi

by Dian Harigelita @harigelita

“Selamat datang!” aku disambut gadis pirang bermata sipit. Di kepalanya ada topi bludru merah berpinggiran bulu-bulu putih.

“Berapa orang?” tanyanya saat aku melewati pintu. Tanganku membentuk lambang perdamaian. Tangan yang satu menepis salju di pundak.

“Dua orang? Baik. Silakan di sebelah sini.”

Ditempatkannya aku di kursi kaunter. Dua cangkir teh melamin hijau diambilnya lalu masing-masing diletakkan di depan dan di sisi kananku.

“Doumo,” kataku sambil mengangguk sopan. Iapun berlalu setelah memberi ucapan selamat makan dalam bentuk bahasa yang paling hormat.

Cepat kuraih chawanmushi yang pertama lewat. Kuletakkan di sisi kananku. Tempatmu seharusnya duduk setiap tanggal 25, hari terima gaji. Di restoran kaitenzushi murahan yang selalu membuat ’senyang’. “Senang dan kenyang,” katamu.

Ibu Tak Perlu Tahu

by Lariza Oky Adisty @germarama

Ibu tak perlu tahu soal ini, batinku saat menghitung ulang segepok uang di bilik ATM sempit itu. Uangku hasil bekerja paruh waktu selama 5 bulan di sebuah toko kue, yang harusnya bisa kupakai untuk kebutuhanku sendiri. Tapi sekarang kebahagiaan Ibu jauh lebih penting. Hati-hati, kumasukkan gepokan uang itu ke sebuah amplop besar warna coklat sebelum kuselipkan ke tasku. Kutinggalkan ATM itu sambil menghubungi sebuah nomor di phonebook telepon genggamku. Setelah deringan keenam…

“Anda mau ketemu di mana?”

***

Kami bertemu di sebuah restoran Italia. “Kamu sendiri?”

“Ya”

“Ibumu?”

“Beliau tak perlu tahu,” jawabku ketus, lalu menyodorkan amplop coklat tadi padanya. “Jumlahnya tak seberapa, tapi semoga cukup agar Anda mau meninggalkan ayah saya”

Lembaran Pertama

by Mumu @pramoeaga

Musik tradisional kembali mengalun rancak. Sesaat penonton riuh-rendah dengan suasana yang tercipta. Penari-penari jaipong kembali bergoyang, menggoda para pria yang menatap tubuhnya tanpa berkedip.

Aku, salah satu dari tiga penari jaipong itu. Sesekali mataku mengerling manja dan pinggulku bergoyang lebih mantab dari biasanya. Ada kepuasan melihat laki-laki yang menonton pentas kami menjadi tergoda.

Ini pentas perdanaku. Setelah sekian lama hanya latihan diam-diam dan tak berani manggung, malam ini kujadikan titik awal. Gerakan pinggul yang gemulai, kerlingan manja genit yang menggoda, sudah kupelajari dari pelatih kami.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sesuatu yang masuk ke bagian dadaku. Selembar uang kertas berwarna merah. Seorang lelaki mengerling genit, lalu menarikku entah mau dibawa ke mana…

Celengan Babiku

by Rida Astuti @RidaAstuti

Aku menyimpan sedikit demi sedikit uang saku yg diberikan ibu buatku. Aku tak pernah memakainya untuk jajan, aku lebih suka masakan ibu dirumah.

Aku suka menyimpan uangku di dalam celengan babi besar yang aku simpan di kamar tidurku. Semakin lama semakin berat sehingga aku tak kuat lagi mengangkatnya,

Setiap ada waktu kuajak celengan babiku bicara, kuceritakan semua keinginanku, cita-citaku dan harapanku dengan uang yang ada di badannya Sering aku tertidur pulas di samping celengan itu.

Aku juga sering menceritakan celengan babiku pada ayah dan ibu, mereka tertawa dan mengiyakan saja semua ceritaku, dan kami semua tertawa. Aku sayang ayah dan ibu, juga celengan babiku. Semoga cita-cita dan harapanku bisa tercapai nantinya.