050 Gadis yang Sendirian di Kafe
now browsing by category
Gadis Itu
By Anginbiru @B7RU
Sekitar enam langkah dari tempatku duduk saat ini ada seorang perempuan bersyal merah, duduk sendiri di belakang meja bundar kecil. Kuperhatikan perempuan itu sedari tadi hanya mengaduk secangkir minuman yang tersaji di depannya. Ia juga tampak sedang merapal sesuatu, namun pandangannya kosong.
Sesekali ia melihat sekeliling, namun pandangannya lebih sering ke cangkir di depannya atau pintu kafe yang beberapa kali terbuka. Tampaknya ia sedang menanti seseorang. Entahlah. Mungkin aku yang sok tahu, tapi ia tampak mengamati setiap orang yang masuk ke kafe itu.
Satu kali pandangan kami bertemu, lantas aku tersenyum sambil mengangguk. Ia balas senyumanku, sambil mengangkat cangkir, kemudian meminum isinya. Beberapa waktu kemudian, ia kejang-kejang, dan terkapar. Kafe geger.
Gadis Sunyi
by Sigit Raharjo – @SigitHarjo
23.20 WIB
Gadis itu datang lagi. Seperti seminggu terakhir, dia datang saat kafe ini sudah sepi. Pesanannya pun sama. Segelas cappuccino hangat dan beef burger.
“Nunggu teman,” katanya setiap kali aku tanya kenapa sendiri.
Duduk di pojok kafe, dia nyalakan rokok dan membuka laptopnya.
**
23.30 WIB
Dia memesan lagi, segelas bir dingin dan kentang goreng. Dari jauh kulihat dia tersenyum sendiri, kadang bicara dan tertawa sendiri.
***
23.55 WIB
Aku menghampiri mejanya dan memberitahu bahwa kafe mau tutup. Dia segera berkemas dan membayar tagihan.
“Temannya gak jadi datang, Mbak?”
Dia hanya tersenyum penuh arti, lalu pergi.
Saat kubereskan makanannya, bir dingin itu berkurang pelan tapi pasti.
Entah kenapa malam terasa lebih dingin.
Gadis Kasir di Toko Kue
by Husnan @dhehusnan
Sering aku melewati toko kue yang tidak begitu jauh dari rumahku, hanya sekali naik angkot saja, berjalan kaki pun, aku pernah melakukannya.
Seorang gadis berkacamata yang menjadi kasir di toko itu telah membuatku jatuh cinta, sudah berkali-kali aku mendatanginya, kadang hanya ingin mengobrol saja. Pernah sekali dalam hati aku berkata, “Suatu saat nanti, aku akan memakaikan cincin di jari manisnya.”
Sudah dua minggu aku tidak melihatnya, teman-temannya pun tidak tahu di mana gadis itu berada, namun aku tidak berhenti mencarinya sampai di situ saja, tetapi sepertinya aku tidak mendapatkan apa-apa.
Di seberang toko kue itu, aku melihat sebuah mobil mewah berhenti, keluarlah seorang gadis yang sepertinya aku kenal dengan seorang lelaki.
Gadis Itu
By Nesiana Yuko Argina @nesianayuko
“Kau tau, apa wanita waras?” Aku menyipitkan mata. menunjuk seseorang.
“Entahlah, sudah empat kali aku melihatnya berada di cafe ini. Selalu sendiri. Di ujung sana. Memesan minum yang sama. Bersikap sama. Dingin.” Dee menjelaskan, raut wajahnya serius.
“Bah! Lengkap kali kau tau tentang dia. Jangan-jangan kau suka ya?”
“Apa kau bilang? Sialan! Aku masih normal, Bodat!” Dee mengumpat, menirukan logat Batakku.
Aku masih tertawa terbahak.
**
Sialan! Aku melihatnya. Ya, aku melihatnya! Lelaki itu, lelaki yang baru mengantarkan surat cerai padaku dua hari lalu. Dia datang ke kafe ini. Ya, kafe tempatku makan siang hari ini! Melamar gadis tadi di hadapan seluruh pengunjung kafe!
**
Semua jadi gelap seketika. Aku tak sadarkan diri.
Gadis yang Sendirian di Kafe
By Krisna @kriznaaa
Cafe ini adalah tempat penuh kenangan untukku. Dulu sebelum kematianku, cafe ini begitu ramai dan penuh tawa, namun kini cafe ini selalu sepi pengunjung karena kehadiranku. Pemiliknya kerap mendatangkan paranormal untuk mengusirku.Tentu saja aku enggan pergi, karena aku masih menunggu kematian kekasihku di sini. Lagipula aku juga tidak pernah menggangu pengunjung lain. Aku hanya duduk malam hari di pojok kanan dekat jendela, sambil menangis tentunya. Kenapa mereka takut mendengar tangisku? Memangnya hantu tidak boleh menangis?
Entahlah aku tak tahu. Tapi aku tahu para manusia itu telah menjual berita tentangku, berita nyata tentunya. Bila kalian ingin tahu silahkan beli majalah horor minggu ini dan baca artikel tentangku “Gadis yang Sendirian di Cafe”.
Ulang Tahun Karin
By Imamul Muttaqin @Imamul_
“Sayang, tahun depan, tepat di usiamu yang ke-21, mungkin aku baru bisa bertemu denganmu lagi di café ini. Besok aku harus segera kembali ke Swiss lagi,” ucap Nick kepada pacarnya, Karin, sesaat sebelum mereka berpisah.
**
Sore ini, Karin terlihat cantik sekali dengan gaun putihnya. Ditemani dengan segelas jus jeruk, ia duduk sendirian di Café Horizon. Hari ini ia ulang tahun yang ke-21. Dan pacarnya, berjanji akan menemuinya di café ini.
Jam sepuluh malam. Ia masih sendirian di meja nomor 17. Bosan menunggu pacarnya yang tak kunjung datang, Karin pun pulang. Tepat di depan café, sebuah mobil menabraknya. Sebelum matanya terpejam, ia teringat akan pacarnya yang telah meninggal dua bulan yang lalu.
Menunggunya
By Kawanfun @kawanfun
Kafe masih sepi. Sejak kubuka tadi siang, belum satu pengunjung pun datang. Tak apa. Aku sudah terbiasa menikmati suasana sehening ini sendirian, setidaknya sejak 10 tahun belakangan.
Dulu, pengunjung kafe ini ramai sekali. Orang-orang datang silih berganti. Aku selalu sibuk, sejak pagi hingga malam hari. Kebanyakan dari mereka memesan minuman dan makanan ringan, lalu ngobrol tentang apa saja: musik, film, olahraga, hingga cinta.
Aku tak benar-benar mengingat wajah mereka, kecuali satu orang. Seorang pria yang selalu datang jam delapan malam, dan pulang saat aku menutup kafe. Ia selalu memesan menu yang sama. Lalu diam menikmatinya. Sendirian. Selalu sendirian.
Sosok berpakaian putih itu datang lagi, menjemputku.
Kembali kulontarkan kata yang sama. “Menunggunya.”
Suatu Sore, Sendiri
by Momo DM @mazmocool
Aku tersudut di ruangan kafe itu. Lalu lalang pengunjung tak merusak konsentrasiku. Tatapanku masih terpaku pada gadis itu. Gadis usia dua puluhan yang hampir tiap Minggu sore aku lihat di kursi itu. Sendiri.
Aku tahu dia tengah menunggu kedatangan seseorang yang dicintainya. Aku. Pandangannya tertuju padaku. Aku tertunduk ragu untuk membalas pandangannya. Aku merasa bersalah karena setelah sekian lama, baru sekarang bisa menepati janji. Tusukan pandangannya tak terelakkan lagi. Itu artinya aku harus bicara empat mata dengannya.
“Maafkan aku Ratih. Baru sekarang aku bisa memenuhi janjiku untuk melamarmu. Karena kamu tahu sendiri, ibumu baru meninggal sebulan yang lalu,” kataku sambil memasangkan cincin di jari Ratih, anak tiriku yang kucintai selama ini.
Ternyata Cinta
By Ryan Pradana @ry4nn_
Perempuan itu duduk sendiri di sebuah kafe. Sesekali jari lentiknya mengetik pada laptop di hadapannya. Sesekali juga tangan kirinya memegang cangkir kopi dan bibirnya menyesap kopinya. Matanya tak beralih dari layar laptop.
Beranjak malam, pengunjung kafe mulai rame dan dia tetap di mejanya. Dia mulai gelisah dan melirik arloji di tangan kirinya. Sesekali dia memandangi pintu kafe. Rupanya dia menunggu seseorang.
Waktu menunjukkan jam delapan kurang sepuluh menit. Dia mengetik empat buah kata. Lalu dihapusnya. Diketiknya lagi, lalu dihapusnya. Ketika seorang laki-laki masuk kafe, dia ketik lagi kata-kata itu lalu segera meninggalkan kafe.
Laki-laki itu hendak berteriak memanggil perempuan itu, sebelum akhirnya membaca tulisan di layar laptop.
I Love You, Daniel..
Patah
By Rafael Yanuar @opiloph
Mungkin, bagi seorang gadis yang duduk di pojokan kiri di sebuah kafe di pinggiran kota Jakarta itu, rindu tak ubahnya hal yang ia sesap pada secangkir kopi dan ia makan bersama sepiring nasi, serta ia muntahkan dalam asbak berisikan barisan-barisan sajak yang tak pernah tersampaikan. Halusinasi, kau tahu, bukanlah sesuatu yang asing baginya, bahkan begitu akrab memenuhi pikirannya.
Pemilik kafe tak pernah mempermasalahkan kehadirannya, pun pengunjung. Lagipula, dia duduk di pojokan yang terhindar dari keramaian.
Hingga kami menemukannya tewas dengan secarik puisi di tangan kiri dan silet di tangan kanan. Ia meregang nyawa tanpa suara, tanpa rasa takut, sambil memegang selembar kertas bertuliskan kesunyiannya.
Dan aku, tak mungkin dapat menyampaikannya padamu.
(13 Juni 2011 – 22:37)












D5 Creation