C Semua Wajah Cinta
now browsing by category
Happy Ending
By Irene Wiibowo @sihijau
“Hai,” ucapnya. Aku membalasnya dengan senyum dan berlalu.
Dia seorang pria yang menarik perhatianku selama ini. Pada saat dia menyapa, aku hanya bisa diam dan tersenyum? Bodoh.
“Hei, tunggu!” panggilnya menghampiriku. Aku berhenti. Sial! Jantungku berdetak cepat sekali!
“Em, sepertinya kita kenal. Aku suka ngeliat kamu! Tapi di mana ya?” Apakah dia menyadari bahwa aku suka menatapnya diam-diam?
“Mungkin aku mirip dengan temanmu?” jawabku sambil tersenyum.
Dia menatapku, memperhatikan wajahku.”Sudah, lupakan! Donny!” Kata-katanya seperti mimpi.
“Emma,” jawabku.
“Nice to meet you! Kau suka nulis ya?”
“How do you know?”
Dia tersenyum. Sekarang aku ingat aku pernah ngobrol dengannya!
“Kau temannya Rey?”
“Ya! Di situ kita bertemu! Ya ampun!!! Aku selalu memperhatikanmu, ternyata aku memang kenal!”
Aku tersenyum. Ah, betapa bahagianya mimpi ini terwujud. Terima kasih, Tuhan.
Layang-layang
By Irene Wibowo @sihijau
“Mengapa langit?” tanyanya.
Aku menatapnya. ”Mengapa layang-layang?” balasku padanya. Aku berjalan melaluinya. Mendengar dia memanggil namaku, aku terdiam sejenak. Tidak sanggup menatap matanya dengan air mata ini.
”Mengapa? Aku tidak pernah mengerti. Inikah yang kau cari? Apa yang aku cari?”
“Aku tidak tahu,” jawabku pelan.
Dia menghampiriku, menarik lenganku, memaksaku menatap matanya. Aku palingkan wajahku darinya. Pria inikah, Tuhan?
”Mengapa?” tanyanya lagi.
”BERHENTI TANYA MENGAPA!! AKU MUAK!!” teriakku melepaskan genggamannya, menghapus air mataku. ”AKU MUAK! Mengapa langit? Dia tidak menjadikan aku layang-layangnya. Dia tidak mengulur atau menarik aku. Dia menggenggam aku dengan halus. Dia yang tidak aku inginkan, tapi dia yang lebih baik dari yang aku inginkan. Lebih baik dari KAMU! Sekarang, MENGAPA KAMU YANG HARUS AKU CINTAI? MENGAPA HARUS LAYANG-LAYANG YANG AKU CINTAI dan BUKAN LANGIT?” aku berlari meninggalkannya.
Tidak ada lagi pertanyaan mengapa. Tidak ada lagi yang menarik atau mengulurnya. Hanya ada aku dan dia sekarang. Hanya ada ketidaksempurnaan yang menciptakan cerita baru tentang cinta mereka.
Separuh yang Mengutuhkan
by Dhanang Ernawan @dhanzo
Secangkir kopi hangat di antara tumpukan berkas, tepat saat mataku mulai terpejam setelah meeting dengan para pemilik saham yang membosankan. Perlahan kopi itu kusesap sambil duduk di atas meja kantor yang terbuat dari kayu, ini kopi yang paling enak yang pernah kuminum. Lengkap dengan buih berwarna putih dan karamel kesukaanku yang biasanya hanya kutemui di gerai pusat perbelanjaan. Mataku terpejam sejenak sambil memikirkan pesan Pak Direktur untuk menaikkan pendapatan, namun di dadaku terasa hangat sembari menikmati manisnya kopi yang perlahan membuatku sedikit tenang.
Seseorang mengetuk pintu dan aku hanya meliriknya. Seorang wanita muda dengan rambut tergulung rapi dengan jepit rambut, tubuhnya terbalut pakaian kerja hitam yang terlihat baru namun bagiku itu membosankan. Pernahkah engkau melihat acara televisi yang menampilkan suasana kerja di New York? Semua memakai blazer dan jas hitam. Sempat terlintas bagiku bahwa setiap pagi kita akan berdandan seperti para pelayat bukan? Wanita itu tersenyum ramah sambil memeluk berkas untuk kutandatangani. Kuperhatikan ia tampak menungguku karena tatapannya menatap serius ke arah pulpen yang kupegang. Begitu mengetahui aku memperhatikannya, ia tampak terkejut. Lucu sekali mendapat mainan baru pikirku. Sebelum menutup pintu ia sempat memperhatikanku memegang cangkir kopi, ia hanya tersenyum dan pintu itu tertutup tanpa suara, seperti tak ingin aku terganggu dengan ritual minum kopi yang kumulai sepuluh menit lalu.
Hari-hari berlalu dengan sangat kacau, sekretarisku cuti hamil dan aku belum menemukan penggantinya sampai siang ini. Padahal dua jam lagi akan ada meeting dengan klien, tetapi materi presentasi yang disiapkan sekretarisku dulu berada di flashdisk yang digerogoti virus. Kini aku menatap serius layar laptop dan kurasa aku telah menemukan batu nisanku, aku tak tahu cara mengoperasikan Power Point. Pintu diketuk dan wanita itu membuka perlahan. Aku seperti banteng yang akan menyeruduk seorang matador, seperti yang sering kulihat menjadi ikon di Spanyol. Ia memakai baju merah menyala sambil membawa cangkir dengan tersenyum. Ini waktu yang kurang tepat, aku bisa saja langsung menyuruhnya keluar atau memecatnya, tapi dalam keadaan genting seperti ini aku menanyakannya perlahan. “Apakah kau bisa membuat presentasi?” Wajahku merah menahan malu, ia menunduk menyanggupi. Aku ingin melompat kegirangan sambil berteriak membawa terompet, tetapi aku hanya beranjak dari kursi dan mempersilakannya duduk. Awalnya ia menolak d
an memilih untuk duduk di kursi tamu di ujung ruanganku, tetapi bagiku saat ini ia adalah dewi penyelamatku.
Dengan gesit jemarinya berkutat di atas papan laptop dan aku hanya bisa cemas sambil sesekali menatap jam dinding, namun lagi-lagi kopi yang kusesap ini membuatku tenang. Aku hanya menutup mata dan membiarkan manisnya luruh dari ujung bibir hingga kurasa mengalir menghangatkan dadaku. Baru separuh kopi itu kunikmati, wanita itu mempersilakan untuk mengecek kembali materi presentasi, secepat itukah? Tampilannya menarik dan semua foto produk serta penempatan tulisannya jauh lebih baik daripada sekretarisku yang dahulu, kini aku hanya tinggal meluncur ke gedung seberang namun masih ada satu jam lebih. Sedikit tak rela aku melirik kopi itu kami mengobrol sejenak. Namanya Cindy, ia lulusan Universitas terkemuka namun sempat menganggur selama setahun, tapi tak menyebutkan mengapa. Untuk jasanya siang ini ia kuajak untuk membantuku saat presentasi nanti. Ia mengangguk setuju dan terlihat sangat senang. Sore itu berjalan lancar, aku mengajaknya untuk makan malam namun ia menolaknya. Tanpa basa-basi aku memeluknya dan
mengucapkan terima kasih. Hal ini seharusnya tak boleh kulakukan sebagai atasan, tetapi karirku setidaknya aman dan aku menanyakan untuk menjadi sekretarisku, ia tersenyum setuju.
Beberapa bulan kemudian kami semakin dekat, kinerjanya benar-benar sempurna apalagi kopi buatannya adalah yang terbaik bagiku. Sempat kutanyakan apakah ia mau kuajak makan malam, terbaca jelas bahwa ia sedikit ragu namun aku memaksanya dan ia bersedia. Di restoran, kami banyak tertawa menceritakan kejadian-kejadian konyol di kantor, serta gosip yang bertebaran membuat mataku terbelalak. Aku mencoba menyuapinya dengan potongan buah stroberi, dengan manja ia menggigitnya dari garpu yang kusodorkan. Sepertinya aku jatuh cinta padanya. Di lift ia memelukku erat, kami berciuman, dan akhirnya aku membuka kamar di resepsionis di lantai paling bawah. Di kamar, kami bercumbu, sambil melepaskan pakaian satu persatu namun ada yang membuatku terkejut, ada yang mengeras di pangkal pahanya.
“Apakah kau sebetulnya seorang laki-laki?” tanyaku sambil menahan nafas.
“Iya Bu, sebelumnya saya memang seorang laki-laki.” Wajahnya terlihat pucat.
Jantungku terhenti sejenak menatap rambutnya yang terurai jatuh. Tak dapat menahan lagi, aku menciuminya dari dahi dan perlahan turun ke bawah.
Esok paginya secangkir kopi terhidangkan di atas meja, ada yang berbeda kali ini. Cangkir kopi itu berwarna merah jambu, aku hanya tersenyum. Bila seseorang bisa membuatku menjadi wanita seutuhnya, mengapa aku harus mendengarkan kata orang? Perlahan aku semakin menyayanginya, dan bila ini cinta, tak akan pernah aku membiarkannya pergi. Tak akan pernah aku membiarkan harus dengan persetujuan atas buku nikah hingga akhirnya kami berpisah. Yang kutahu, tertulis jelas di hatiku, Cindy 22 tahun, waria.
Cincin Pertama
by Husnan @dhehusnan
Sudah dua minggu aku memandangi cincin pemberian orang yang aku cintai, terus kupandangi. Aku belum mengatakan “ya” yang menyatakan bahwa aku menerimanya sebagai kekasihku.
Sebelumnya, aku memang termasuk wanita yang tertutup kalau masalah cinta, aku tidak pernah menghargai lelaki. Sahabat-sahabatku banyak yang curhat tentang mereka yang disakiti oleh lelaki. Sebab itu aku tidak pernah mau menerima lelaki masuk ke dalam hidupku untuk sekarang ini.
Aku bertemu dengannya di sebuah toko musik yang sering aku singgahi ketika pulang kuliah, aku gemar mendengarkan musik yang melantunkan nada-nada jazz, menurutku itu bisa membuat pikiranku tenang dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang serba kusut, termasuk aku yang kuliah mengambil jurusan kedokteran di sebuah fakultas terkenal di kota Jakarta.
Aku tidak hanya sebagai mahasiswi saja, aku juga harus membantu ayahku mengurus rumah sakit miliknya, ketika aku lulus kelak, aku akan menggantikannya sebagai pemilik rumah sakit ini. Oleh karena itu, aku tidak cukup mempunyai banyak waktu untuk memikirkan masalah cinta. Hanya sewaktu-waktu saja aku bisa berkumpul bersama teman-temanku, dan meluangkan waktu untuk sahabat-sahabatku yang ingin bercerita tentang masalah kisah cinta mereka yang kebanyakan kandas, hanya sedikit yang bahagia.
Dia memberikanku saran ketika hendak membeli sebuah CD, katanya ini bagus, sambil mengajukan CD dengan cover Corinne Bailey Rae, aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, aku mengambil CD tersebut.
Itulah awal kami bertemu dan akhirnya berlanjut ke pertemuan selanjutnya yang hanya sekedar membahas masalah musik yang sama-sama kami sukai, kami pun memiliki hobi yang sama, yaitu nonton, itu yang aku ketahui tentangnya.
Dia hanya lelaki yang bekerja sebagai Costumer Services di salah satu Bank terkemuka di Indonesia, Robi namanya. Tingkah lakunya yang sopan dan percakapannya yang ramah, serta senyumannya yang manis, itulah yang membuat aku jatuh hati kepadanya. Hingga pertemuan kesekian kalinya, dia memberiku cincin dengan bongkahan permata serupa setetes air mata di lingkarannya. Aaaahhh, aku pun menitikkan air mata bahagia, namun aku tidak bisa menerimanya secepat itu, aku butuh waktu untuk berfikir.
Tok tok tok, pintu kamarku diketuk oleh ibu, pelan-pelan ia mendekatiku dan menyampaikan bahwa teman-temanku sudah menunggu untuk pergi kepemakaman Robi.
Om, Aku Mencintaimu!
by Husnan @dhehusnan
Di dalam kamar yang hanya diterangi sedikit cahaya lampu. Mila, seorang gadis remaja yang baru saja menginjak usia 20 tahun tak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Ia hanya memegang sebuah buku yang berisikan cerita tentangnya dan foto-foto. Sudah lima hari ia di sana, sejak kedua orang tuanya melarangnya untuk kuliah. Entahlah, Mila pun tidak mengerti kenapa ia dikurung selama itu. Ia jarang berbicara dengan ayahnya sendiri.
“Tok… Tok… Tok…” Suara pelan pintu kamarnya.
“Bolehkah ibu masuk?”
“Masuklah,” sahutnya lirih.
Pintu kamar pun terbuka, hanya separuh saja. Ibunya masuk dengan membawa makanan dan minuman untuknya.
“Makanlah sayang, walau hanya sedikit saja”.
Mila hanya terdiam, dengan tatapan kosong mengarah keluar jendela yang tirainya sedikit terbuka.
Ia sedang membayangkan. Di halaman depan rumahnya, ia sedang menghampiri kekasihnya dengan senyum merekah di bibirnya, yang hanya sekedar mampir ke rumahnya untuk memberikan sebuah hadiah, entah berupa coklat ataupun bunga secara diam-diam.
“Sayang…” Guncang ibu lembut di bahunya. “Makanlah. Ibu sudah membuatkan masakan kesukaan mu, sup ayam. Lihatlah nak”
Ia memalingkan wajahnya dari jendela pelan-pelan, karena nafsu makan yang sudah tidak ada dan badannya yang cukup lemah, ia melihat semangkuk sup ayam dengan aroma khas yang dulu pernah ia makan dengan sangat lahap bersama kekasihnya.
Ia suka sekali dengan sup ayam. Ia bahkan bisa menghabiskan dua mangkuk sup ayam sekali makan. Badannya tidak gemuk, namun dengan postur tinggi badan yang semampai, ia mungkin membutuhkan asupan makanan cukup banyak. Hanya dengan sup ayam saja ia bisa makan dengan lahap.
Dengan sangat hati-hati ibu menyuapinya.
Sesendok…. Dua sendok… Tiga sendok… Dan sendok ke empat pun ia tolak. Ibunya hanya bisa bersedih dengan mata yang sendu, meninggalkan Mila dalam kesedihan yang berlarut-larut.
Ia tidak habis pikir, mengapa orang tuanya, terutama ibunya melarangnya untuk berpacaran dengan orang yang sangat dewasa. Om Tino tidaklah begitu buruk. Dia sangat perhatian. Dia bahkan memanjakkanku seperti anaknya sendiri. Setiap kali bertemu, ia selalu memberiku kejutan-kejutan kecil, dan itu sangat romantis menurutku.
Aku hanya seorang anak gadis yang beranjak dewasa, ayahku sendiri saja jarang memberiku perhatian sebaik dan sebanyak Om Tino. Itulah yang membuatku begitu mencintainya.
***
Ini malam keenam aku berada di kamar. Kudengar suara ribut di ruang tamu. Perkelahian antara kedua orang tuaku dan seorang laki-laki dewasa. Dengan badan yang sangat lemah dan mata yang memerah, aku berusaha keluar dari kamar. Kamarku berada di atas, rumah kami tingkat dua.
Betapa terkejutnya aku, entah ini perasaan sedih atau senang. Aku melihat kekasihku, Om Tino sedang berada di ruang tamu.
Dengan suara lirih aku mencoba berteriak. “Oomm Tino…!!!”
Semua menatapku dari bawah, lalu ibu menghampiri ku.
“Sayang….” ucapnya sedih
Aku turun ke bawah sembari menatap pilu ke arah kekasihku. Dengan sangat hati-hati ibu menggandengku melewati tangga.
Kudekati Om Tino. Kedua orang tuaku membiarkan kami saling berpelukan. Tak berapa lama kemudian, ibu mendekati kami dan berusaha memisahkan kami. Dengan sisa tenaga, kucoba terus memeluk Om Tino, namum Om Tino memberiku pengertian dan melepaskanku dari pelukannya.
“Tidak apa-apa sayang.” Ucapan dan Tatapannya lembut, ia pun tersenyum.
Ia seperti sudah mengetahui sesuatu dari kedua orang tuaku.
Dengan duduk berhadapan, aku di sebelah ibu, ayah berada di lain kursi di samping kami. Lalu ibu mencoba berbicara denganku perlahan yang didengarkan oleh ayahku serta Om Tino.
“Sayang, bukannya kami tidak menyetujui hubungan kalian. Tetapi, tidakkah kau lihat ada kemiripanmu dengan dia?” Dengan tolehan wajah ibu ke arah Om Tino.
Aku pun ikut melihat ke arahnya.
“Dia adalah…..” Terhenti sejenak, ibu seperti menahan nafas dan sesak di dada. “Dia adalah ayah kandung mu sayang…!!”
Betapa terkejutnya aku, seperti sebuah belati yang sangat tajam baru saja menusukku tepat di dadaku. Aku terdiam sambil memandangi Om Tino dengan linangan air mata. Memang kami mirip, bukankah kemiripan mengartikan bahwa kami berjodoh? Hanya itu yang ada di pikiranku sejak kami bersama.
“Kenapa Om gak bilang ?!”. Aku sedikit berteriak mencoba berbicara dan mencari tau.
Om Tino terdiam. Ia teringat masa lalu yang membawanya ke 21 tahun silam, ketika ia memutuskan untuk meninggalkan istrinya karena harus memilih istrinya yang lain. Istri barunya yang telah memberinya pekerjaan dan kedudukan yang cukup tinggi di perusahaan dia berkerja sekarang.
Dengan tangisan yang membuncah, aku mencoba untuk tenang, namun hatiku terlalu sakit untuk mencoba seolah-olah ini adalah kejadian yang tidak nyata, di mana aku hanya bermimpi dalam tidur-tidurku selama berada di kamar yang dipenuhi kenangan-kenangan bersama Om Tino.
Aku berlari ke atas menuju kamarku, Om Tino masih terdiam bungkam. Kedua orang tuaku pun membiarkanku.
***
Keesokan paginya, di selembar kertas dalam sebuah buku yang selama ini aku pegang, ibu membaca sebuah tulisan dengan air matanya
“Ibu, maafkan Mila jika Mila selalu berbuat salah dengan ibu. Maafkan kenakalan-kenakalan yang sering membuat ibu jengkel. Mila sangat mencintai Om Tino, Bu. Mila tidak akan pernah bisa hidup tanpa Om Tino. Mila tidak akan pernah bisa hidup berdampingan dengannya karena sebuah ikatan darah antara ayah dan anak. Mila sangat mencintai ibu, sampaikan salam dan rasa sayang Mila juga kepada ayah yang selama ini jarang berbicara dengan Mila.”
Ibu menutup buku yang berisi foto-fotoku bersama Om Tino dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Dengan pelukan di tubuhku yang sudah tak bernyawa, di tangan kirinya ibu memegang surat dokter, yang menyatakan bahwa aku sedang hamil.
Mimpi
by Vyna Arthalia @VyArthalia
Friday, April 08, 2011
Dari tadi mataku serius menatap layar Blackberry ku, padahal yang kubuka hanyalah situs jejaring sosial yang beberapa bulan terakhir ini rajin kujamah, yang membuatku bertemu dengannya lagi. Setelah sekian lama dia menghilang dari hidupku. Sebenarnya tidak begitu jelas, aku atau dia yang “pergi”, tapi kami memang saling meninggalkan. Saling menjauh dan hidup dalam lingkungan yang baru.
Aku tak sengaja bertemu dengannya, ketika dia asyik berbalas mention dengan salah satu temanku. Ya, kulihat dengan jelas nama itu layar BB-ku, @BagasRadithya, dan sejak saat itu dengan resmi aku memfollow akunnya. Dan selang beberapa hari dari itu dia balas memfollowku. Tapi sampai saat ini aku maupun dia sama sekali tak pernah saling mention. Sejak saat itu aku jadi rajin “memata-matainya”, membaca tulisannya. Dia masih Bagas yang sama, Bagas yang idealis, Bagas yang terkadang cuek, dan Bagas yang terkadang puitis. Secara tidak langsung itu membuatku kembali ke potongan-potongan kisah aku dan dia yang telah berlalu.
Entah mengapa sejak saat itu, aku aktif sekali membuka akunku. Terkadang ingin menyapanya, tapi tak punya keberanian untuk itu, dan buat apa? Begitu pula denganya, ia tak tergerak untuk menyapaku, atau mungkin dia sudah lupa? Tapi mengapa dia juga memfollowku balik, ataukah itu hanya bentuk rasa menghargai karena aku telah lebih dahulu memfollownya. Iya juga yah, umm ternyata itu bukan dari hatinya, dia masih Bagas yang dulu, seorang Bagas yang gengsi untuk memulai sesuatu.
Kenanganku terasa memaksa masuk ke fikiranku, memaksaku mengenang semua tentangnya.
Bagaskara Radithya , lelaki yang pernah membuat indah sebuah kisah, dan lelaki itu juga yang mengoyak kisah itu. Ia memilih pergi meninggalkan kisah yang tak pernah benar-benar diselesaikan olehnya. Yang lari dengan kata terakhirnya, “Maaf aku menyerah!” Kata-kata yang membuatku tak percaya lagi arti kata berjuang bersama, tak percaya lagi arti kata kesetiaan, tak ingin jatuh lagi pada hati yang akhirnya malah membenci.
Lamunanku membawaku pada hari dimana kami bertengkar hebat di teras kostanku. Ketika aku menjerit menyuruhnya benar-benar pergi dari hidupku, ketika itu aku merasa tak lagi mengenalnya. Aku tak mengenal Bagas yang dulu, Bagas yang setia, yang begitu memujaku, yang selalu bilang “Aku ada untukmu”. Saat itu matanya memerah marah, dengan keras berkata “Aku lelah mengikuti semua pintamu. Aku lelah kamu doktrin, aku lelah mendengar tangisanmu yang menyalahkan aku dengan alasan-alasan itu saja”.
Oh God, dadaku terasa sesak mendengar pengakuan-pengakuan darinya.
Aku membanting pintu keras-keras dan berlari ke kamarku. Aku tak peduli melihat teman-teman kostanku, menatap curiga ingin tahu. Lalu aku masuk ke kamarku dan menangis sampai subuh.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah perjuangan mendapatkan hatiku. Tidak mudah untuk meyakinkan hatiku. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan, butuh pembuktian, dari aku yang masih enggan berpacaran. Dia sabar menanti dan membuktikan, dia ingin aku, dan hanya aku. Dia bilang aku yang pertama dan untuk yang terakhir, lalu aku menyerah, aku menyerah untuk jatuh hati kepadanya. Tapi ternyata itu tak sama lagi ketika cinta sudah tak lagi terasa manis. Tak ada kata sukarela, tak bisa berjuang untuk mempertahankannya. Lalu baiklah, aku mengizinkannya pergi menjauh .
Dan ketika aku membaca namanya lagi di layar BB-ku, membuat rindu yang luar biasa menyengat setelah tiga tahun kami berpisah. Setelah ia pergi tiba-tiba, setelah kata terakhir melalui telepon tengah malam itu, “Maaf, aku menyerah” dan membuat airmata membasahi wajahku. Tapi mengapa aku masih bisa merindu? Harusnya rasa itu telah terkubur oleh waktu. Ah, tapi rindu itu hal yang wajar, namanya juga telah lama tak bertemu.
Brrrrt..
Alarmku membangunkanku, lagi lagi aku terbangun dari mimpi yang aneh. Aneh banget, karena mimpi ini berlangsung terus menerus beberapa hari ini, seperti serial bersambung di mimpi-mimpiku. Aku mimpi Bagas mendekatiku lagi dan yang paling parah semalam aku bermimpi aku dilamar olehnya. Gila kaaaan? Apa artinya ini? Aku bahkan sudah melupakannya dan dia masih dengan pacarnya yang dulu. Mungkin karena aku memfollow akun twtiternya, membuat bayangan tentang dia bermunculan lagi, atau mungkin dia merindukanku, jadi aku bisa memimpikannya berturut-turut malam ini.
Gilaa nih, kayanya sekarang aku jangan terlalu sering ngebaca timeline-nya Bagas deh, sampai-sampai ke bawa mimpi gini. Tapi aneh banget mimpi itu berturut-turut dan ceritanya seperti bersambung. Huh, gak ngerti apa yang aku rasain sekarang, karena dari tadi aku senyum-senyum sendiri ngebayangin adegan di mimpi tadi yang masih terekam di otakku.
Brrrtttt. BB-ku bergetar yang sengaja kupasang profil silent sejak dari kantor kemarin.
“Hallo Mbak Inge” ujar suara lembut dari seberang sana.
“Iya dek”.
“Mbak, hari ini kita jadi ketemuan di Soerabi Enhaii ya jam 4”.
“Oh ya, hampir aja mbak lupa, Ta. Sip sip!”
“See you there, Sist,” jawabnya segera mematikan ponselnya tampak terburu-buru.
Pukul 16.00
Aku sudah sampai duluan di Soerabi Enhaii di kawasan Kambang Iwak. Tempatnya cukup nyaman buat nongkrong. Teduh, asri, karena tepat berada di Kambang Iwak dalam bahasa Palembang, ya dalam bahasa Indonesianya sih Kolam Ikan ya seperti danau buatan yang dikelilingi pohon mahoni tua. Yah, teduh sekali. Yah, aku memang sering ke tempat ini hanya untuk menghabiskan sore, ngobrol sama Mitha, kadang malah aku sendirian, hanya untuk baca buku, atau browsing. Ya, kebetulan juga daerahnya tak terlalu jauh dari rumahku. Biasanya aku bisa bersepeda sore ke tempat ini.
“Sorry, Sist. Aku telat.” Tiba-tiba sosok mungil Mitha yang ceria sudah duduk di sampingku.
“Lagi sibuk ngehayal ya, Mbak? Sampe gak sadar aku udah di sini,” tanyanya sambil tertawa renyah.
“Ah, kamu nya sih kelamaan. Jus semangkaku aja udah mau abis,” ujarku berpura-pura ngambek.
“Tinggal pesen lagi sih mbakku, that’s on me!”
“Yeee, yang lagi banyak duit nih kayanya.”
“Kalo gitu aku pesen serabi oncom jamur, spaghetti sama es kelapa muda deh.”
“Ahhh, itu mah maruk apa laper ya mbak?”
“Ehh, ada cerita apa nih? Aku udah tahu nih, kalo nih anak traktir, pasti nih ada maunya.”
“Ihhh, mba Inge tau aja deh isi hati adek kesayangannya,” ujarnya manja.
“Ini aku mau kasih liat draft novelku, tolong dibaca dan komennya ya. Segera yaaa mbak cantik.”
“Tuh kan pasti nih. Udah nyangka aku pasti gitu.”
“Ahhh mbak kan kamu selalu tau isi hatiku.” Ia merayuku manja.
“Oya, mba Inge ada cerita apaan nih? Kemaren di BBM katanya ada yg mau diceritain?”
“Hahaha, iya, Ta. Kamu masih inget Bagas mantan mbak kan?”
“Iya, mas Bagas kenapa mbak?” ujar Mita terlihat sangat excited mendengar ceritaku.
“Masa mbak mimpiin dia berkali-kali dan kaya cerita bersambung gitu beberapa hari ini”.
“Oh mungkin mbak lagi kangen banget sama Mas Bagas atau mungkin Mas Bagasnya yang lagi kangen banget sama mbak.”
“Ahh, ngarang banget kamu dek. Ya gak ada hubungannya sama dia sih.”
“Ihhh mbak, ngaruh lah kalo emang chemistry hatinya masih kuat, kalo dia kangen mbak ya masih berasa, dan kebawa lewat mimpi.”
“Demi apa sih dek?” tanyaku penasaran bercampur senang.
“Demi kamu dan aku. Hahaha.”
“Sialaaan, buat aku ngarep aja sih!”
“Mbaaak, panjang umur banget mbak!” ujar Mita mengejutkanku.
“Ituuu mas Bagas kan?” Mita menunjuk ke arah seorang lelaki yang mengenakan t-shirt hijau tua dan celana khaki.
“Iya, kayanya sih itu Bagas, tapi siapa tuh cewek di sebelahnya?”
“Aku gak mengenali cewenya, tapi dari tadi mereka tampak mesra. Sedari tadi mereka berpegangan tangan, sesekali sang wanita mengelendot manja.”
Dan kulihat Bagas berjalan menuju stage, aku tak tahu apa yang dia lakukan. Mataku terus mengekorinya. Dia berbisik dengan pemain keyboard, sepertinya dia ingin menyumbangkan sebuah lagu.
“Selamat sore semua,” Bagas mulai berbicara. Apa-apaan ini, apa dia mau ngasih kata sambutan, atau café ini miliknya? Well, aku juga gak tahu siapa pemilik café ini, kemungkinan dia, dan dia ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung dengan menyanyikan beberapa lagu.
“Maaf , saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk gadis manis berbaju biru di sebelah kiri. Inne Mahendra. I love you, Inne.”
Bagas pun menyanyikan lagu Grow Old With You-nya Adam Sandler. Dan setelah selesai menyanyikan lagu yang sangat mempesonaku itu, dia menghampiri wanita cantik, Inne, dan melamarnya! Dia melamar wanita cantik bernama Inne itu, di depan semua para pengunjung, dan sialnya juga di depanku. Dan dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku, atau bahkan dia tidak peduli
Oh, Gosh, mimpi itu ternyata ada benarnya dia melamar wanita, tetapi objeknya bukan aku.Ya ampun mataku tampak berkaca-kaca, entah karena terharu atau sedih atau kecewa karena tadi malam dia melamarku dalam mimpi dan kini dia melamar wanita lain dalam nyata.
Seketika mataku gelap. Bruuuk. Aku tak kuasa menahan semua. Tiba-tiba semua gelap, hilang, tak sadarkan diri.
Akhir Kisah Kita
by Uswah Hasan @uswah_hasan
Terinspirasi dari Lagu Westlife berjudul “Leaving”
“Dis, udah tidur?” Suara bariton di seberang telepon itu menghilangkan kantukku.
“Belum, kak. Ada apa?” Aku merasakan keanehan dalam berat suaranya.
“Boleh kaka ke kosan Disti sekarang?”
“Hm, iya, Disti tunggu, ya..” Aku meraih jaket merah marunku. Sambil menyalakan kompor, hendak memanaskan air, aku terus memikirkan Kak Adi yang tiba-tiba, tak biasanya datang di tengah malam begini.
Sebuah ketukan mengagetkanku yang melamun sambil mengaduk dua gelas coklat panas. Aku tahu, itu pasti Kak Adi.
Something’s different this time
It just doesn’t feel right
Have we broken in two?
Am I really gonna lose you tonight?
You come walking in
Tears in your eyes
Pretending like it’s alright
Sesosok tegap menenteng sebuah koper besar di hadapanku. Sisa air mata tak dapat disembunyikan dari wajah teduhnya, walau seulas senyum telah dicoba untuk diciptakan.
“Boleh kaka masuk, De?” Ia menyadarkanku. Aku menutup pintu sesaat setelah ia masuk.
“Kak, ini, coklat panas. Mungkin kaka kedinginan.” Aku menyodorkan segelas coklat yang kusiapkan tadi. Tak berani kutatap wajahnya.Ia menatapku yang tertunduk.
“Disti tahu, Kak, pasti bunda yang suruh Kakak.” Ia menggeleng. Aku menoleh ke arahnya.
“Tidak, Dis. Ini salah. Kita harus mengakhiri ini.” Matanya menatap lurus ke arah cangkir di hadapannya.
“Tapi, kak, kita saling cinta. Dan bunda ga ngerti itu!” Aku mencoba menarik bahunya. Ia merengkuhku ke dalam pelukannya.
“Iya, Dis. Kaka juga tahu itu. Tapi semua ini ga bisa dilanjutkan!” Air matanya kembali menetes. Kali ini membasahi rambutku.
“Ayah sakit,” lanjutnya.
Aku menangis sejadinya. Beberapa bulan lalu, aku dan Kak Adi sepakat untuk pergi dari rumah dan menempuh hidup baru. Ya, aku dan Kak Adi adalah adik-kakak yang terlahir dari satu ayah, namun berbeda ibu. Ayahku melakukan poligami terhadap ibunya kak Adi. Tanpa diketahui orang tua kami, kami bertemu di kampus yang sama. Seperti kebanyakan senior, dia mengerjaiku habis-habisan, dan berujung pada rasa suka yang mendalam. Kak Adi pun berniat melamarku, tapi semua pupus ketika diketahui, bahwa kami memiliki ayah yang sama.
Aku dan Kak Adi tinggal di tempat kos. Ibuku meninggal sebulan kemudian. Kini, Ayah dan Bunda -Ibunya Kak Adi- memaksa kami untuk berpisah. Aku tahu, pasti bunda yang menyuruhnya untuk melanjutkan studi ke luar negeri, seperti yang Kak Adi ceritakan sebelumnya.
“Kakak ga tahu, De, harus berbuat apa. Kakak takut terjadi apa-apa sama Ayah.” Dia semakin mengencangkan pelukannya. Jujur, aku tidak begitu kenal pada Ayah, karna setahuku, dia bekerja sebagai pelaut yang jarang pulang. Baru kutahu, ternyata dia tinggal dengan istri pertamanya.
“Tapi, kak…” Aku meregangkan pelukannya.
“Maafkan Kakak, De.” Ia tetap memelukku erat. Air mataku menetes. Ia pasti akan meninggalkanku.
But I know you’re leaving
I know that smile
I can tell you’ve been crying
You’re gonna say goodbye
I wish I could stop you
But you’ve made up your mind
I beg you don’t go
But I already know you’re leaving
Sejenak kemudian, Kak Adi melepaskan pelukannya. Sebuah senyum terkembang kecut di bibirnya. Aku tahu, ia juga tak ingin pergi dariku.
“Kakak, minta maaf, De. Ini semua ga bisa dilanjutkan. Kakak takut kehilangan Ayah.” Ia menatapku lekat. Mataku kualihkan ke arah lain.
“De, Ayah minta kakak buat kuliah di luar negeri. Itu permintaan terakhir Ayah.” Aku masih tak ingin menatap matanya. Duka kami begitu dalam.
“Ayah ga adil, Kak. Jika saja ayah bilang dari awal kalo kita ini saudara, ga akan ada cinta kaya gini!” Aku berontak.
Kak Adi menatapku nanar. “De, dengan atau tanpa penjelasan dari ayah, kakak tetap cinta sama ade. Tapi, hubungan ini ga bisa dilanjutkan lagi. Kita udah salah, De.”
Aku menatap matanya lekat. Duka tampak jelas di sana. Aku benci harus jujur.
“Kak, kita bisa memulai itu dari awal, kan? Disti nanti akan nyusul kakak ke luar negeri. Kulai Disti sebentar lagi selesai. Bisa, kan, ka?”
Ia menggeleng lemah. “Semua tetap ga bisa, De.”
Where does the time go?
Between goodbye and hello
How did we come to this is there something we missed
Along the way
With your bags at the door
I wanna pull you in close
And hold you once more even though
Kak Adi melangkah gontai sambil menyeret kopernya. Aku menangis di sisi ranjangku. Ada dua cangkir coklat yang sudah mendingin di sampingnya. Aku terus menangis. Kak Adi menengok ke arahku seakan tak ingin pergi. Namun, keputusannya sudah bulat. Ia lebih mencitai ayah dari pada perjuangan cintanya. Suara mesin mobil yang semakin menjauh menambah kesedihanku. Seharusnya, Aku mengejarnya. Seharusnya, Aku mencegahnya. Seharusnya, aku memeluknya sepanjang malam, dan membiarkan jadwal penerbangannya terlewat. Hingga ia tak pergi. Seharusnya….
Here come the sleepless nights
Here come the tears I’m gonna cry
Here comes the last goodbye leaving us behind
Oh this can’t be right
*Untuk cinta yang telah kau perjuangkan, seharusnya, kau lebih bersabar. Seharusnya, aku lebih kuat mempertahankan ~mf*
Ranum, Anggur Di dadamu
by Adellia Rosa @adelliarosa
Senja bersemayam dengan anggunnya, saat aku melihat sesosok malaikat yang menjelma pada gadis berambut merah yang sedang bersenandung, mengayunkan-ayunkan langkahnya dengan ringan. Baju atasnya, yang terbuka di bagian bahu berlumuran getah anggur, coreng-moreng disana-sini. Tangannya memeluk sekeranjang anggur yang baru saja ia petik dari kebun kesayangannya. Gadis yang menarik, dengan mata hazel dan gigi berkilauan seperti berlian. Bukan hanya giginya yang berkilauan, namun senyumnya memang rupawan. Cemerlang.
Kakinya sehalus porselen, terpampang jelas karena rok lebar yang ia kenakan. Setengah kecewa, aku memandangnya menghilang ke balik gudang.
Aku menatap gadis itu. Gudang bukanlah tempat yang pantas untuknya, ia seolah bersinar diantara puluhan pekerja lain. Senyum tak henti-hentinya mengembang di bibirnya. Emily, bagaimana jika ibumu tau kau di kebun anggur, memetiknya sendiri, lalu bahkan memerasnya? Apalagi atasan dan rok putihmu dengan renda-renda di bagian ujungnya itu berlumuran getah anggur! Baju itu seharusnya kau pakai untuk menghadiri pesta dansa!
Aku terus melihat gadis itu, belingsatan. Rambut merah Emily terurai sampai ke pinggang, dan aku membayangkan bagaimana rasanya tenggelam diantara gumpalan berwarna merah terang itu. Oh! Sungguh aku ingin merengkuh pinggang itu semalaman!
Jantungku berdegup semakin kencang saat melihat jemari lentiknya memeras anggur-anggur dengan selembar kain hingga hanya menyisakan kepingan kisut yang kehilangan sari-sarinya. Untuk pakan domba tentu saja, tetapi aku tahu, jemari lentik itu terkadang memasukkan beberapa keping kisut itu kedalam bibirnya, lalu tertawa kecil sambil mengunyahnya. Betapa aku iri dengan anggur-anggur kisut yang menari di dalam bibirnya!
Setengah mengendap aku berjalan menujunya. “Em..” Bisikku tepat di telinganya, ia bergidik perlahan, menolehkan kepalanya tepat ke arahku. Mata kami bertemu, dan tatapannya membakarku, membuatku tanpa pikir panjang melumat habis bibirnya. “Aku tak akan menerima suatu bentuk penolakan, Emily!” Batinku bersorak, ramai.
Emily mematung, lalu dengan cepat merenggut kepalaku, melepaskan cengkeramanku di pinggangnya, mendorong, lalu menamparku. Setengah terisak, ia berlari meninggalkanku yang setengah terpana setengah kecewa. Meninggalkan damba yang begitu membara. Aku tak peduli berpasang-pasang tatapan takjub para pemeras anggur yang lain, hanya satu hal yang berkelebatan di dalam kepalaku. Emily!
Aku mendamba matahari, ingin menaruhnya di dadamu, membakarmu bersamaku
Senja yang lain, saat aku memutuskan menemui Emily di kebun anggur. Sangat melelahkan jika hanya mengintipnya melalui teropong bundar milikku dari kamarku di lantai dua. Lagipula aku begitu penasaran, ingin menyesap bibir merah itu sekali lagi. “Em..” Gadis itu menoleh, tatapannya tajam, menusuk tepat ke jantungku. Kebencian berkobar di matanya, membuatnya terlihat setengah malaikat, setengah iblis yang jelita. “Apa yang kau inginkan?” Ujarnya penuh kemarahan. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram keranjang anggur yang baru saja dipetiknya. “Dirimu.” Jawabku, mendekatinya perlahan. Ia bergegas untuk menjauh, namun ia mengurungkannya, lalu menatapku dengan garang. “Bagaimana mungkin?” Tuntutnya. “Entahlah. Kau menarikku begitu rupa.”
Tinggal sejengkal lagi dan aku bisa menghirup aroma anggur matang di keranjang yang di dekapnya, berpadu dengan aroma tubuhnya. Mata hazel itu masih menyala-nyala, kemarahan berkobar di dalamnya namun ia membiarkanku merengkuh kepalanya dan mendekatkan bibirku ke bibirnya. Aku meraih jemarinya yang menegang, sarat penolakan. Perlahan, dan sangat perlahan jemarinya mengendur, pemberontakannya meluntur. Waktu melambat sepersekian detik, dan ia mulai membalas kecupanku dengan liar. Dan pada detik berikutnya, ia tak mau melepaskan tubuhku yang menyatu bersamanya.
Biarkan aku memetik ranum dadamu, menyesapnya perlahan sepenuh hati
Malam yang keberapa, entah aku tak pernah menghitungnya. Aku tertawa kecil mengingat gemerisik daun-daun kering di kebun anggur, beserta muka-muka merah kami saat bersama-sama mendesah-desah. Dan desah-desah kebun anggur itu lebih sering-entah-terdengar-dari-luar-entah-tidak, di dalam sini. Di kamarku yang berhiaskan permadani sebagai alasnya. Dan cermin kuno di dindingnya, serta beberapa ornamen pelengkap seperti lukisan, guci dan lemari antik yang tak pernah kuhiraukan kehadirannya.
Emily merapikan rambut merahnya dan tanganku membelai lembut punggungnya yang masih berkilauan. Secepat kilat ia berbalik, menyeringai dan menjarah bibirku dengan rakus. “Oh! Kenapa kita saling mencinta? Oh! Aku. Ingin. Tenggelam. Bersamamu!” Teriaknya saat sedetik kemudian aku kembali bergumul bersamanya. Bulir-bulir keringat menderas di tubuhnya yang padat. Aroma anggur yang kental menyelimutinya semakin membuatku tenggelam melenguh-lenguh.
Dan seandainya matahari tetap berdiam pada tempatnya, kita akan terus bersama, tanpa jeda
Pagi berikutnya, Emily meninggalkanku dalam keadaan setengah telanjang. Perapian masih menyala dan aku sudah merasa kedinginan tanpa Emily di sisiku. Sekali lagi, aku mengintip gadisku dari teropong bundar milikku, setengah mati menahan keinginan menyusulnya ke kebun anggur, dan menari bersama Emily dibalik semak-semak. Tanpa busana.
Resah, aku mengintip Emily sekali lagi, dan bola mataku membesar melihat sesosok wanita paruh baya dengan rambut merah yang sama tampak sedang bercakap dengan Emily. Raut wajahnya tampak seperti terluka, mata birunya memerah, seolah ia mengeluarkan darah, bukan lagi air mata. Dan aku merasakan mendung kali ini mengisyaratkan firasat buruk yang menghantamku tepat ke ulu hati.
Senja mendadak berubah menjadi kelabu, dengan bulir-bulir pilu yang meluruh di balik kelopak matamu
“Kenapa kau menangis?” Tanyaku perlahan, membenamkan kepalanya ke dadaku, Emily memelukku, erat. Sungguh, terlalu banyak air mata yang ia keluarkan, seolah ia ingin menenggelamkan diri di baliknya. Emily membisu, mengusap air mata dengan ujung jarinya. “Entahlah, aku merasa ada yang salah dan aku merasa sangat buruk.”
Aku terdiam, memandangnya dari ujung kepala, sampai kakinya. Sempurna. Kukunya memang kehitaman, akibat memeras anggur setiap hari dan itu sama sekali bukan masalah. Tidak ada yang salah. Ia masih serupa malaikat. Sempurna. Menawan. Dengan senyum cemerlang di bibirnya. Mendadak aku tersadar, ada sesuatu yang membuatnya terlihat buruk. Aku. Iya, AKU. “Pergilah, aku tak akan mengganggumu.” Ujarku, menjauhkan diri dari puncak kepala yang biasa kukecupi. Emily melihatku, dan aku melihat badai yang berkecamuk dalam matanya. “Dan bagaimana jika aku tak mau pergi?” Tuntutnya garang. Ah Emily, jika kau mulai garang begini, kau tak ubahnya setengah malaikat setengah iblis. Memikat. Sepenuh hati aku kembali menenggelamkan diriku di dalam bibirnya, menulikan telinga dari gedoran-gedoran di balik pintu kayu setebal 5 senti milikku.
Kini bibirku beralih dari merah jambu menjadi ungu, larut bersama anggur-anggur yang tak hentinya membiusku sampai bisu: bibirmu
Aku masih menatap bulir-bulir hujan yang menderas di kedua mata Emily saat mengecupi pipiku, lalu memakaikan gaun terbaik di badanku yang sudah kaku. Malam itu, aku menulikan kedua telingaku pada gedoran pintu, dan tenggelam dalam deru peluh menggebu bersama gadis pemetik anggur yang merupakan saudara kembarku. Dan aku bahkan mengabaikan wanita berambut merah dengan mata birunya yang berubah menjadi merah karena sarat kepedihan, dan juga amarah: IBU. Aku juga membisu, masih terbius manisnya bibir Emily di bibirku saat ibu meraung murka, lalu mendorong kami ke bangku kayu. Satu hal yang ia lupakan, bangku kayu itu patah di ujung-ujungnya, meninggalkan sebuah paku besar berkarat, yang kini beralih tertancap di dahiku. Setidaknya aku masih bisa tersenyum melihat Emily yang menangisi jasadku. Emily, gadis dengan ranum anggur di dadanya.
Cerpen ini diikutsertakan dalam pameran bersama karya-karya lainnya dari Tugitu Unite ~sekumpulan seniman-seniman Solo~ di Commonroom, Bandung.
Posted with WordPress for BlackBerry.
Bayang Mencandu Layang
by Mahabrata Liwangi @Liwangi
Selayang wajahmu meliuk gairah di depan tubuhku
kau menari dengan diam pada sebuah dinding tua
matamu berbicara pada bening terang
tentang mau dan sapa
Sapalah manusia yang ingin kau sapa
aku pilih wajahmu dalam sebentuk rangkaian menggebu
dari detak tak menentu
kau saksikan suara mercusuar hatiku tak henti menyala
Dari balik wajahmu ada bayang anggun
berkelit naluri
menyapa esok;
semoga saja kulayangkan taji
03.04.11
Antara Ada dan Tiada
by Bathin Bonia @bathinbonia
Hujan deras turun lagi. Entah apa yang dapat kulakukan di saat seperti ini. Bosan!
Baiklah aku mau jalan-jalan sebentar. Ya, aku suka berjalan di bawah guyuran air hujan, karena menurutku itu bisa menenangkan pikiran. Langkahku terhenti. Mataku terbelalak melihat sosok di depan ku. Tangannya menyambut hangat tubuhku yang seketika berada dalam dekapnya..
Persis seperti saat itu, kami berjalan bersama di bawah guyuran hujan. Berkejaran dan sesekali berpelukan. Saat itu, lima tahun yang lalu hari dimana kami merayakan kelulusan SMA.
Di saat yang lain sedang asyik menikmati pesta, kami malah lebih memilih bermain hujan.
Kubiarkan hujan membasahi wajahku hingga tak terlihat airmata yang menetes di pipi.
“Aku tak mau kau tahu kalau aku sedih karena kau akan pergi, sayang. Kejarlah cita-citamu, raih masa depan cerahmu walau harus tanpa aku.”
Lima tahun yang lalu kekasihku pergi. Ia harus melanjutkan studi ke luar negri. Jarak yang sangat jauh tarpaksa menghancurkan hubungan kami, tapi tidak untuk cintaku. Aku tetap mencintainya.
Handphone ku berdering.
Telpon dari sahabatku.
Detak jantungku seketika terhenti. Raungan tangisku bersautan dengan petir. Kacau!
Senyum itu, senyum yg abadi. Kekal.
Tubuhnya tetap kekar
Terbaring nyaman di atas dipan
Terbalut kain putih lambang kesucian
Menuju persinggahan terakhirnya
Selamat jalan, sayang.












D5 Creation