057 Cinta Pada Pandangan Pertama

now browsing by category

 

Happy Ending

By Irene Wiibowo @sihijau

“Hai,” ucapnya. Aku membalasnya dengan senyum dan berlalu.

Dia seorang pria yang menarik perhatianku selama ini. Pada saat dia menyapa, aku hanya bisa diam dan tersenyum? Bodoh.

“Hei, tunggu!” panggilnya menghampiriku. Aku berhenti. Sial! Jantungku berdetak cepat sekali!

“Em, sepertinya kita kenal. Aku suka ngeliat kamu! Tapi di mana ya?” Apakah dia menyadari bahwa aku suka menatapnya diam-diam?

“Mungkin aku mirip dengan temanmu?” jawabku sambil tersenyum.

Dia menatapku, memperhatikan wajahku.”Sudah, lupakan! Donny!” Kata-katanya seperti mimpi.

“Emma,” jawabku.

Nice to meet you! Kau suka nulis ya?”

How do you know?

Dia tersenyum. Sekarang aku ingat aku pernah ngobrol dengannya!

“Kau temannya Rey?”

“Ya! Di situ kita bertemu! Ya ampun!!! Aku selalu memperhatikanmu, ternyata aku memang kenal!”

Aku tersenyum. Ah, betapa bahagianya mimpi ini terwujud. Terima kasih, Tuhan.

Sosok Sempurna

by Anginbiru @B7RU

Aku melihatnya. Sosok itu begitu sempurna di mataku. Belum pernah aku melihat sosok sesempurna itu. Wajahnya begitu tampan, meskipun ada lemak menggelambir di beberapa bagian tubuhnya. Tidak, hal itu sangat tidak mempengaruhi penampilannya. Semua tetap terlihat sangat sempurna.

Sejak pertama kali aku melihatnya, hingga kini, aku terus saja tak bisa memalingkan wajahku darinya. Aku terbius. Aku terhanyut dalam buaian indera penglihatanku ini. Inilah nikmat dunia. Tak pernah sekalipun aku mengecap nikmat yang begitu sempurna.

Ingin aku mendatanginya, untuk sekedar berbicara, namun kuurungkan.

Tuhan, apa yang ia lakukan? Ia mulai membuka kemejanya. Haruskah aku memalingkan muka darinya? Tidak, ini nikmat dunia yang mungkin memang sudah seharusnya kudapat. Belum pernah aku bisa, ah.. Mimpikah aku? Ia tersenyum memandangku. Senyuman yang sangat mengundang. Haruskan aku menghampirinya? Tuhan, bantu aku. Haruskah aku beranjak dari sini dan melihatnya lebih dekat lagi?

Oh, dia mulai mengerling nakal padaku. Inikah yang disebut undangan terselubung? Tahan aku, Tuhan. Aku tahu ini salah. Tahan aku!

Tuhan, aku telah beristri! Hentikan ini semua! Hentikan, Tuhan!

Ah, mengapa dadaku mulai bergemuruh? Nafsukah ini? Marahkah aku? Tak bisa lagi kubedakan, Tuhan! Tahan aku! Tahan aku, Tuhan!

”Praaang!”

”Ada apa, mas?” tanya istriku yang langsung menghampiriku, tergopoh-gopoh.

Aku melihat pecahan kaca berserakan di depanku.

”Mas, ada apa?” tanya istriku kembali.

”Tak apa-apa, istriku,” aku tersenyum, kecut.

”Dokter Fathan datang, mas. Ia ingin memastikan apa ada keluhan setelah operasi mata kemarin. Sana, ke depan. Kubereskan pecahan cermin ini.”

Lima Detik Untuk Jatuh Cinta

by Andy Saputra @creandivity

Pesta tahun baru yang sangat ramai, di sebuah café, di pusat perbelanjaan di Surabaya, yang semakin malam semakin penuh sesak saja. Namun, aku tetap merasa kosong di tengah keramaian itu. Temanku kelihatannya tidak tega melihat muka kusut di wajahku, sambil berkata,”Kenapa kusut gitu ? Habis gini tahun baru lho. Semangat sedikit donk”. Aku hanya menggumam saja membalas, terdiam sejenak. Lalu, aku pun menyeletuk “Yah, ganti tahun nggak mengganti nasibku sih. Tetap aja jomblo forever”, dengan nada pesimis. Tawa pun tergelak di antara teman-temanku. Nasib mereka lebih beruntung, sebagian besar sudah memiliki tambatan hati.

Suasana mulai ramai. Ada rombongan sexy dancer yang meramaikan suasana, dengan lagu berdentum kencang, membuat adrenalin makin terpacu. Aku memesan satu gelas lagi orange juice. Sudah gelas ke-3. Sebentar lagi pergantian tahun. 5 menit lagi. Langit sudah mulai penuh dengan api-api warna warni di atas sana, menghiasi malam gelap. Tiba-tiba, mataku tertuju pada seorang wanita yang terlihat anggun dari belakang. Aku makin penasaran, ingin melihat wajahnya. Semakin tidak sabaran, semakin berdebar jantungku. Aku yakin ini karena wanita itu,bukan karena lagu yang semakin cepat iramanya.

Benar saja instingku, ketika wanita itu menoleh, wajahnya yang dihiasi senyum manis berhasil membiusku. Waktu seolah berhenti ketika secara kebetulan, keempat mata kami saling beradu pandang. 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. dan aku pun resmi jatuh cinta kepadanya. Walaupun aku belum tahu apa-apa tentang dirinya. Cahaya matanya seolah memasuki pikiranku, meminta tempat khusus di hati. Perasaanku semakin tidak karuan ketika dia melambaikan tangan, seolah mengucapkan ‘halo’ kepadaku. Senyumnya makin lebar.

Dengan memberanikan diri, aku pun beranjak dari kursiku, segera menuju wanita cantik itu, segera diikuti dengan riuhan dan siulan teman-temanku. Untung saja, Hanna, nama wanita yang berhasil membiusku itu, cukup supel sehingga masih mau berkenalan dengan orang asing macam aku. Mungkin saja, kami berada di tempat dan waktu yang tepat, dan saling membius hati satu sama lain secara ajaib. Kami pun saling berkenalan.

Tidak lama setelah obrolan pertama kami, suasana pun meledak, diiringi hitungan countdown oleh MC yang menghitung 10, 9, sampai ke angka 1. Dan, resmilah kami memasuki tahun baru. Tahun baru yang penuh dengan harapan baru. Dan harapan baruku sudah kutemukan, tepat sebelum tahun baru berganti. Sungguh malam yang tak terlupakan.

Senyum Pelangi

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Lirikan matamu menarik hati, oh senyumanmu manis sekali… Sehingga membuat aku tergoda…”

Firman bergoyang dengan noraknya. Fahmi dan Reza terkekeh melihat tingkah teman satu kos mereka itu sedang labil. Ealah…

“Jatuh cinta, Man?” tanya Fahmi retorik. Yang ditanya hanya tersenyum cuek. Ingatannya mundur ke pesta semalam…

***

Resepsi pernikahan sepupu Firman di jalan Gatot Subroto. Hotel mewah dengan fasilitas dahsyat. Firman tersenyum miris. “Iye, gue masih jomblo. Sialan.” Firman menggerutu sambil menyesap segelas Cola di meja pojok. Matanya menyisir ruangan. Siapa tahu bertemu bidadari. Halah!

Tidak ada siapapun yang menarik. Cantik tapi membosankan, banyak. Bupati dan sekwilda yang seksi. Hadoh, ini bukan di pantai gitu lho! Firman menghela nafas. Ia mengambil piring dan menyendok kambing guling. Kolesterol lagi deh!

“Ups, maaf ya,” suara seorang wanita memaksa Firman menoleh. “Maaf, ya?” ulang wanita itu tersenyum merasa bersalah. Firman menggeleng.

“Gak apa-apa, Mbak. Saya juga salah, sudah buru-buru tadi,” jawab Firman salah tingkah.

Wanita itu berlalu. Meninggalkan segaris senyum tersisa di wajah Firman. Ya Tuhan, kenapa lagi gue? Firman menggeleng cepat.

***

Firman, Fahmi, dan Reza sedang bersiap latihan futsal ketika Firman tak sengaja melihat ke arah parkir mobil. Wanita itu! Ah, sedang apa dia di sini? Firman bangkit dari duduknya. Tapi siapa yang berjalan di sebelahnya? Ah, sial! Cowoknya! Firman membuang muka dan bergegas menuju lapangan.

Selesai berlatih, lagi-lagi Firman melihat wanita yang sama. Jilbab hijau yang manis. Sedang tertawa bersama cowok yang sama di sudut lapangan. Mereka sedang menunggu giliran pemakaian lapangan.

Ah, dia melihatku dan tersenyum! Firman salah tingkah. Tetapi dengan cueknya Firman menghampiri wanita itu. “Hai, ketemu lagi nih!”

“Hai juga! Iya, kamu sering latihan di sini ya? Kok gak pernah lihat?” sapa wanita itu riang.

“Baru dua kali sih. Sebelumnya latihan di Blok M. Oh ya, saya Firman.”

“Salsabila. Panggil aja Acha,” sambut Acha. “Dan ini Ardi, kakakku.”

Oh, kakaknya? Firman merasa berdosa sudah berburuk sangka.

***

Senyum Acha selalu menghiasi warna hari-hari Firman. BBM,  twitter, FB, telepon… Setiap hari. Berjuta pelangi memenuhi ruang hatinya. Hanya gara-gara seulas senyum di antrian gubuk somay….

Itu Kursiku!

by Damay Dante @nongdamay

Hari ini jadwal kursus bahasa Inggrisku, jam menunjukkan 17.05 itu berarti aku sudah telat 5 menit masuk ke kelas, aku coba berlari menyelusur koridor menuju kelas. Kelas 308 itu kelasku term ini, kucoba mengintip dari kaca untuk memastikan pelajarannya belum dimulai, tapi aku terkejut.

Saat aku mencoba mengintip, terlihat satu sisi dari ruangan kelas itu, loh kenapa ada seseorang yang bukan salah satu teman sekelasku yang duduk di kursi andalanku itu. Perasaananku bercampur aduk antara bingung kenapa ada orang asing di kelas itu, ragu takut salah masuk kelas dan kesal karena kursiku ada yang mendudukinya.

***

Hanya disana satu-satunya kursi yang kosong, mau tidak mau aku harus diduduk disana apalagi tes dadakan dari guruku 10 menit lagi akan dimulai. Aku mencoba belajar cepat untuk tes kecil ini. Saat aku membuka-buka diktat, tiba-tiba ada sebuah suara, awalnyaku pikir bukan menuju padaku ternyata itu maksudnya ke aku.

“ Maaf, boleh berdua ngga baca diktatnya. Aku lupa bawa diktat hari ini”

Hah, ternyata orang yang menduduki kursiku itu yang berbicara. Dalam hati aku membatin,
“udah tau mau kursus kok bisa-bisanya ngga bawa diktat” . Tapi atas dasar kemanusiaan walaupun aku masih kesal dengannya, aku geser diktat itu sedikit agar dia bisa membawa. Aku tetap tidak menoleh kepada dia sampai dia kembali berbicara

“ma’kasih ya, oh iya kita belum kenal, Aku Adit”

Sebenernya aku malas untuk mengangkat kepala dan menoleh kepadanya tapi kembali atas nama kesopanan, ku angkat kepalaku dan menoleh kepada dia sambil mengulurkan tangan “ Rizka”

Oh tuhan ternyata dia sangat tampan, aku seketika terkesima dengan ketampanannya. Kalau saja suara guruku yang menyuruh kami menutup diktat karena tes akan segera dimulai, mungkin aku masih terus menatap wajah Adit.

***

Pertandingan Basket antar SMA Se-Jakarta membuat jadwal latihan ditambah, itu instruksi dari pelatihku. Sebenarnya bagiku ditambah jadwal latihan tidak masalah bagiku yang menjadi masalah aku harus mengganti jam kursu bahasa Inggrisku.

Itu yang membuatku ada dikelas ini, canggung rasanya harus beradaptasi di kelas yang baru. Sembarang kursi aku duduki, dan seketika aku ingat bahwa aku lupa membawa diktat. Ya semoga sang guru akan memaklumi aku.

Eh ada seorang yang datang terlambat, dia duduk disebelahku. Kenapa dia masuk dengan tampang yang sangat kesal. Wah, ternyata ada tes dadakan di kelas ini, benar-benar tidak beruntung aku. Sudah dikelas baru, tidak bawa diktat dan ada tes dadakan pula.

Aku coba menegur seseorang disebelahku untuk berbagi diktat, agar aku dapat sedikit belajar untuk tes ini. Tapi mengapa ia tidak mau menoleh, dia hanya mengeser diktatnya saja kepadaku. Aku coba mengajaknya berkenalan dan akhirnya dia menoleh juga. Ternyata namanya Rizka, senyumannya manis sekali saat dia menyebut namanya.

Itu awalnya aku berkenalan dengan wanita yang sekarang sudah 3 tahun ini menemaniku, akhirnya aku tau kenapa dia masuk ke dalam kelas dengan wajah kesal itu karena aku menduduki kursi andalannya. Sejak itu aku dan Rizka menjadi dekat, aku senang bersama dia. Saat aku menyatakan cinta kepadanya, Rizka memberikan sebuah pertanyaan kepadaku,

“ Adit sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku?”

“ Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihat kamu dengan wajah kesal karena kursinya aku dudukin”

Dan pernyataan cintaku kepada Rizka pun diterima…