060 Perjuangan

now browsing by category

 

It Was Only Last Night

by Novita Poerwanto @LVCBV

It was only last night.

She was finishing her last chapter of her very first book. The book she had been putting so much of her tiny life into. It had been two years.  Two years that had freezed the moon from taking turns with the smirking sun. Two years that had snatched any dews from her lavender bushes. Two years that had ceased her ever striking long legs from strolling through the garden, barefooted. She had lost so much weigh since the day she started writing. Her arms were as small as her husband’s golf stick, and her cheekbones were as hollow as his stares. It had been too long since he even tried to stare. He never stared. He hardly dared to..

The faint smell of water lily still lingered. It was from her old clothes and nostalgies, well kept in her ivory wardrobe. The wardrobe she had never come close to since the day she started writing. Her laptop was on her lap. Flipped open. Not a letter. Not even one. She knew it would not be easy, the last chapter. She pushed it aside, grabbing a salmon spread non fat crackers from the supper tray. The spread was way too tidy. The new butler was trying to impress her, so she guessed. She felt like telling him that she hated tidy spread, but on second thought she decided not to sweat it for now. She had become indifferent to dissapointments, and she choosed to swallow some with lowest disturbance instead of triggering another series of dissapointment.  She had learned to outsmart pain.

The door was held open, as usual. As such, he would not need to knock, whenever he felt checking on her. She knew he had never missed a single day. Checking on her. Even when he thought she was sound asleep.  Then she knew  he would try to peek on her writing. But she was no fool.  She always had all her files locked with password only God and herself could tell.

It was almost midnight. She typed the last sentence, and smiled, with tears welling down her cold cheekbone. She read the whole page all over again and broke into a piercing hysteria, a resolving sob, and a stilled silence.

It was only last night.

He had a tough day, convincing a buyer to give his company a second chance. He could not afford to lose that multi national client who had been supporting his business for over 20 years. After hours of apologies and make up proposals, they said they would strongly consider. He felt like firing the interns for passing wrong slides and quotations to the board during the meeting this very morning. In an instant he remembered her.  He ran into the lobby and called the driver.  There was no place he’d rather be than with her. Even though he could only get as close to staring her face while she slept, or checking on her while she was writing. She must’ve fallen asleep by the time he got home. He wished that she knew he had never missed a single day not checking on her. He knew he should’ve taken his chance to stare at her and apologize, even at the risk of her locking herself up for months. He wished he could put things back to where it used to be. It was only one night. One foul night, 2 years ago. He could barely remember what was it like. He was drunk, and bankrupt.  And she, the woman from the club, she knew too well how to soothe his bruised ego. She was well-trained. And he was into deep. ‘Shit’ they said what it was.

It was one foul night..

It was only last night.

She let him stare at her. And to her own surprise he came even closer. He kissed her. It did not last more than a second. The next thing she felt was her chest was burning. Was it from love or regret, she could not tell. She did not want to. In a split second everything was beaming, glowing as they were, exactly 20 years ago, walking down the aisle of water lilies. Holding a bucket full of dreams and romance. Staring sheepishly. French-kissing what the future might hold and most of all, embracing vows. “…through sorrow and joy, in sickness and in health, til death do us apart”

And there it was on her laptop screen.

“…through sorrow and joy, in sickness and in health, til death do us apart”

Menunggu Rina

by Andy Saputra (@creandivity)

Terkadang hidup ini memberikan ironi yang tidak masuk akal. Bahkan, para jenius yang paling jenius sekalipun belum tentu bisa menjelaskan fenomena hidup yang aneh ini. Salah satu hal yang absurd itu bernama cinta. Jika kita melihat balapan, yang tercepatlah yang akan menang. Jika kita bermain sepak bola, yang paling banyak mencetak gollah yang akan menang. Namun, tidak demikian dengan yang namanya cinta. Belum tentu yang mengenal cinta lebih dulu yang akan mendapatkannya. Belum tentu yang berusaha paling keras yang mendapatkannya. Dan yang paling mengerikan adalah hal tersebut terjadi padaku.

Beginilah cerita cintaku. Sejak lama aku memendam rasa dengan teman bermainku, Rina. Kami sudah berteman sejak kecil, sejak kami masih belum mengenal apa itu cinta. Wajar saja kami berteman baik, toh kami bertetangga. Rumah kami hanya dipisahkan tembok setebal beberapa centimeter. Kami bersekolah di tempat yang sama, sejak taman kanak-kanak, hingga kami mengenakan toga, meskipun kami masuk ke fakultas yang berbeda.

Panah cinta Cupid mulai menusuk hatiku sejak 5 tahun lalu, ketika kami baru mulai menjadi mahasiswa. Baiklah, aku akan jujur. Sebelumnya, aku memang sudah merasakan getaran kecil ketika menghabiskan waktu bersamanya ketika sekolah kami mengadakan kegiatan kemah dan kami sekelompok di sana. Karena sudah berteman sejak kecil, tentu tidaklah mengherankan bahwa kami menjadi lebih dekat satu sama lain. Tapi, teman-teman tidak semudah itu membiarkan kami berdua. Berbagai siulan, gurauan, dan candaan mengiringi aku dan Rina, yang selalu disebut sebagai pasangan sejak kecil. Aku hanya bisa tertawa kecil saja menanggapinya, sementara dalam hatiku sangat berbunga-bunga.

Hambatan cintaku pertama kali muncul saat Rina didekati oleh senior kami di universitas. Namanya Albert. Kapten tim basket sekolah, salah satu anggota senat mahasiswa, dan beragam kekerenan mahasiswa lainnya yang bisa membuat seorang mahasiswi junior kesengsem. Aku sudah mulai merasa terganggu. Setiap kali aku main ke rumahmu, seperti dulu, kamu pun tetap menerima aku. Namun, perhatianmu tidak lagi tertuju padaku. Lebih banyak ke handphone-mu, yang aku tahu tersimpan banyak SMS dari si kakak senior yang keren itu.

Dasar jiwa remaja masih membara. Aku pun tidak sebegitu relanya menyerahkan Rina untuk Albert. Aku benar-benar memutar otak untuk memutuskan hubungan mereka. Mumpung belum jadian, pikirku. Maka, dimulailah hari-hari dengan penuh pikiran jahat untuk menjauhkan Rina dan calon kekasihnya itu. Setelah berpikir keras, akhirnya aku menemukan cara yang agak gila. Aku tahu bahwa Albert akan mengundang Rina dalam suatu acara sekolah di hari Valentine. Nah, itulah kesempatan emasku. Eureka!!

Tanggal 14 Februari, aku mulai menyiapkan aksi. Nomor handphone palsu sudah siap. Rencana sudah matang. Hey, aku ini remaja cowo, bung! Mana mungkin aku rela pujaan hatiku kau ambil begitu saja. Sebentar lagi, aku akan memulai rencana jahat ini. Sebelum itu, aku masih menyempatkan diri untuk berdoa. Ada dua hal dalam isi doaku. Yang pertama, tentu saja agar Tuhan memaafkan kejahatanku ini. Yang kedua, aku memohon agar aksiku dapat berjalan lancar kali ini.

Jam 6 malam. Aku mengirimkan pesan pendek untuk Albert, memberitahukan bahwa aku, anak junior bernama James, ingin menanyakan ruangan basket untuk latihan sebentar. Aku memintanya menemaniku ke hall basket sebentar. Toh, dia kan kapten tim. Tentu dialah yang paling tahu hall itu. Aku sudah mengetahui sifatnya. Pastilah dia menyanggupi permintaan dari junior. Mungkin dia terlalu baik. Samar-samar aku melihatnya dari jauh, memberikan gerakan kepada Rina untuk menunggunya di sini sebentar saja. Mungkin ini yang diucapkannya,”Sebentar yah. Ada junior yang meminta bantuanku. 15 menit lagi aku kembali”.

Sayangnya, Albert tidak kembali lagi ke pesta itu. Aku menguntitnya hingga ke hall basket. Dan ketika dia memasuki ruangan besar itu, aku tersenyum kecil, mengeluarkan sebuah kunci dari kantongku. Dalam hati pun aku masih sempat meminta maaf. Aku terpaksa melakukannya. Terpaksa atau tidak, aku tidak ingin membicarakannya. Maka, ruangan itupun terkunci, dan terdengar suara teriakan sang kapten basket yang bernada kebingungan, ketakutan, meminta untuk dikeluarkan.

Aku kembali ke pesta dan menemui Rina, tentu dengan wajah tak berdosa. Kutanya, mengapa dia sendirian di sana. Jawabnya, dia sedang menunggu Albert. Tepat di saat aku menanyakan, handphone Rina berdering. Pikirku, itu pastilah SMS dari Albert. Dan benar saja, Rina cemberut seraya menunjukkan isi SMS itu padaku. “Rin, aku terkunci di ruangan basket. Aku sedang mencari bantuan. Tunggu aku yah”. Entah berapa puluh menit terlewati, Albert tidak jua muncul. Rina semakin kesal saja. Dan akhirnya, akulah yang beruntung mendampingi Rina di acara dansa.

Seperti sesuai rencanaku, hubungan Rina dengan Albert setelah peristiwa itu tidak terlalu harmonis. Apakah aku sudah berhasil mendapatkan Rina ? Ternyata masih belum. Karena, masih banyak senior-senior lain yang berdatangan menghampiri Rina, laksana bunga dikelilingi kumbang jantan. Aku pun mulai tersisihkan, hanya menjadi ‘teman baik’ saja. Sinyal “just-friend” itu pun semakin sering ditunjukkan oleh Rina.

Entah sampai kapan lagi aku harus menunggu ? Aku pun tidak tahu. Kelihatannya, aku pun harus segera mengambil keputusan terpenting dalam hidupku,setidaknya untuk saat ini. Apakah merelakan Rina dengan yang lain ? Toh dia sendiri tidak memiliki rasa apa-apa terhadapku. Dan aku pun bisa melanjutkan hidupku dengan mencari gadis idaman lain. Ataukah tetap berjuang merebut hati Rina, dimulai dengan cara menghalangi pria yang mendekatinya ? Ahh, aku masih belum dapat menjawabnya sekarang. Entahlah.

Akulah Cinta

by Tenni Purwanti @rosepr1ncess

Maknai aku sebagaimana Tuhan menciptakan aku. Resapi hadirku sebagaimana Tuhan menginginkannya untukmu. Jangan mencari kambing hitam untuk sesuatu yang bukan salahku. Dunia dan isinya punya sebab-akibat yang memang sudah dipasangkan demikian. Aku tak pernah campur tangan. Tapi aku kadang disalahkan.

Aku pernah melihat seorang ibu rela mempertaruhkan nyawa untuk membantu buah hatinya melihat dunia tanpa cacat, setelah sembilan bulan lamanya sang ibu mengandung sang jabang bayi. Mengandung dan melahirkan bukan perkara mudah. Sejak hari pertama dinyatakan janin itu tumbuh di rahimnya, sang ibu begitu hati-hati menjaga kehadiran calon puteranya. Meski adaptasi dengan kehadiran makhluk hidup dalam tubuhnya begitu rumit, hingga tubuhnya sering sakit, makan pun menjadi amat sulit, sang ibu terus berusaha agar sang malaikat kecil tetap bernafas dalam tubuhnya. Sembilan bulan mempertahankan hidup dua nyawa sekaligus, akhirnya hari itu tiba. Sang bayi lahir ke dunia dengan tangis dirinya sekaligus tangis ibunya. Tangis itu adalah tangis bahagia.

Aku juga pernah melihat seorang ayah berpeluh setiap hari, membanting tulang agar istri-anaknya tak kelaparan. Menahan caci-maki atasan yang dengan mudah menyalahkannya tiap kali ada hal yang tak berkenan. Tapi saat ia membuat prestasi, belum tentu penghargaan itu diberikan.

Aku lihat seorang sahabat, rela datang di hujan badai pada malam yang telah larut hanya untuk membawakan obat dan sebotol air mineral untuk sahabatnya. Meski lelah usai lembur di kantor, ia menyempatkan mampir untuk memastikan sang sahabat bisa tidur nyenyak.

Aku melihat banyak figur guru, yang punya kesabaran ekstra mengeja huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat agar muridnya tak lagi buta aksara. Meski imbalan tak setimpal kerja keras mencerdaskan putera-puteri bangsa, mereka rela demi sebuah kata bernama pendidikan.

Aku juga melihat pecinta-pecinta alam yang menanam pohon setiap hari, berharap bumi akan lebih baik. Mereka berusaha memberi warisan paling berharga untuk kelangsungan hidup generasi selanjutnya. Bukan lagi sesumbar selamatkan bumi yang mereka sampaikan, tapi tindakan nyata, yang meski sederhana tapi punya dampak luar biasa.

Aku juga pernah tahu, banyak negarawan yang menempatkan negerinya sebagai prioritas. Perang terhadap korupsi, kolusi, atau nepotisme adalah harga mati, karena mengabdi adalah kata kunci. Meski jumlahnya tak lagi banyak, aku percaya negarawan masih ada dan akan terus ada.

Kemudian aku miris ketika mendapati kenyataan ada ibu yang membuang anaknya setelah dilahirkan karena anak itu tak pernah diinginkan. Aku miris melihat sang ayah yang menikah lagi dan menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya. Aku tak rela seorang sahabat mengutuki sahabatnya karena membuka aib dirinya di depan umum, padahal mereka telah saling percaya bertahun-tahun. Aku tak sudi politisi-politisi busuk itu memakan uang rakyat hingga banyak yang mati sekarat hanya demi kepentingan diri dan golongannya. Aku tak mau ada peperangan antar suku, apalagi antar bangsa, demi sebuah harga diri yang seharusnya saling dihargai, bukan diperebutkan. Aku lantas menjerit melihat darah berceceran dari urat nadi yang dipotong seseorang karena ulah kekasih yang melukai perasaannya. Aku tak bisa mengerti mengapa luka batin harus diakhiri dengan melukai tubuh.

Aku diciptakan Tuhan agar damai hadir di dunia. Segala pengkhianatan itu, luka itu, perselisihan dan perang, terjadi bukan karena adaku, melainkan karena aku tak ada. Jadi jangan salahkan aku. Karena aku hanyalah satu kata, yang kemudian dijabarkan menjadi puluhan, ratusan, bahkan ribuan kata oleh manusia. Padahal yang paling tahu aku secara hakiki hanyalah Tuhan. Mendekatlah pada Tuhan maka kau akan mengenalku utuh dan sanggup mempersembahkan aku kepada dunia.

Akulah Cinta.

Ce Crépuscule

by Aditya Mahapradnya   @aditm

Yogyakarta, 1996.

Aku masih digenggam kepedihan.

Ya.  Sejak dari beberapa tahun yang lalu hingga saat ini, aku masih dipatuki ketraumaan untuk menjalani suatu hubungan.

Masih berkelebatan di kepalaku tentang sakitnya dikecewakan.  Jujur, aku sudah mencoba berkali-kali untuk mengeleteki perih dan menyulam semangat baru dalam tiap-tiap langkah hidup.  Tetapi tetap saja, aku belum terlalu kuat dan berjiwa ksatria untuk mengamputasi kekelabuan.  Aku masih terlalu lemah, daya gedorku untuk meruntuhkan jiwa-jiwa yang tenggelam masih sangat rapuh.

Aku pura-pura tegar saat dulu ia mengucapkan selamat tinggal di Cengkareng.  Aku masih ingat, beberapa hari sebelum ia berangkat, kami berdua dengan angkuh bersumpah akan melawan jarak yang terlihat seperti pencuri kecil.  Sumpah dalam hal apa pun.  Dan aku bersumpah, seketika itu bulir-bulir air mataku yang saat itu kutahan dengan sekuat-kuatnya, tiba-tiba membuat kaos di sekitaran leherku kuyup.

Aku ingat, saat itu kami harus berpisah.  Ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Bordeaux, menemani kakaknya yang menerima beasiswa S2 di Université Montesquieu.  Ayahnya khawatir bila kakak perempuannya itu tinggal sendirian di negara asing.  Oleh karena itu, ia ditugasi menemani, setidaknya kakaknya itu tak sendirian di sana.

Aku tahu, aku tak bisa menentang keputusan ayahnya.  Itu urusan keluarganya.  Tetapi yang pasti, aku lebih senang bila ia tetap di sini saja, dan menyuruh orang lain untuk menggantikan tugas menemaninya itu.  Hubungan kami sudah terjalin sekitar lima tahun.  Seperti ada dinding tebal yang perlahan coba dibangun ketika aku mendengar kabar itu darinya.

***

Walau dengan tertatih-tatih, dan dengan kegetiran yang setiap saat menghinggapi, perlahan,  akhirnya aku berhasil membuang jauh segala kekelaman tentang Sekar.

Aku masih sering bertemu dengannya, walau tak pernah lagi bertegur sapa.  Aku mengajar sastra di Universitas Gajah Mada sedangkan ia mengajar filsafat.  Ia kembali pulang ke Yogyakarta, setelah sebelumnya tinggal di Paris dan bercerai dengan suaminya.  Aku pun sudah memperjelas keberhasilanku mengubur kekelabuan, dengan menikahi seorang perempuan dan dikaruniai satu orang anak.

Aku bersumpah, setiap kali kami berpapasan dan saling menatap, aku melihat kekelabuanku itu di dalam matanya.

Aku bisa 7x Lipat

by Damay Iriani @nongdamay

“ Kamu lagi ngapain, Syaza?” ucap Rian mengawalin telponnya malam ini.

“ Hahaha…,” aku tertawa mendengar Rian memanggil aku dengan sebutan ‘kamu’. “Rian, lo kenapa sih? Kok tiba-tiba manggil ‘kamu’? Biasanya juga ‘elo’ ?” tanyaku kepada Rian.

“Kenapa Syaza? Memang kamu ngga suka ya kalau aku manggil kayak gitu?”

“ Udah ah Rian, pake elo –gue aja ngobrolnya… Aneh,” jawabku.

Obrolan antara aku dan Rian malam ini berlangsung seru seperti malam-malam sebelumnya, tapi malam ini lebih seru karena Rian bertahan menggunakan kata ‘aku-kamu’ sedangkan aku bertahan juga dengan kata ‘gue-elo’. Walaupun sesekali aku ikut terbawa cara bicara Rian dan aku ikut menggunakan kata “aku-kamu” dan saat itu Rian akan menertawakan aku. Rian memang selalu berusaha mendapatkan apa yang dia mau.

***

Baru sebulan ini aku mengenal Rian. Dia satu kampus denganku, hanya saja kami berbeda fakultas. Kegiatan kampus yang melibatkan semua lembaga mempertemukan kami. Sejak saat itu aku dan Rian menjadi dekat. Setiap malam Rian menelpon aku, berbagi cerita, menemani aku melewati malam sampai aku tertidur baru dia akan mematikan telponnya.

Hingga saat ini Rian belum tahu status aku yang sebenarnya. Aku sebenarnya sudah memiliki kekasih hati. Ya, kekasih hati yang sudah hampir sebulan menghilang tanpa memberi kabar berita. Kekasihku ini sesuka hati pergi dan kembali tapi aku tetap berusaha bertahan dengannya.

***

Syaza berhasil membuka pintu hatiku yang sudah 2 tahun ini tertutup sejak kisah cintaku berakhir dramatis. Aku suka pada Syaza sejak pertama kali melihatnya. Dia sosok perempuan aktif di kampus dan aku senang bisa kenal dan dekat dengannya.

Menelpon Syaza di malam hari menjadi kebiasaan baruku. Bercerita dengannya sampai dia tertidur setiap harinya, setelah aku memastikan Syaza tidur aku akan mencurahkan perasaanku kepadanya. Aku menginginkan Syaza menjadi milikku tapi aku merasa ada sesuatu yang belum aku ketahui dari Syaza.

***

Malam ini aku harus mengatakan kepada Rian kalau aku sudah memiliki kekasih. Aku tidak mau memberikan harapan kepada Rian walaupun sebenarnya aku suka pada Rian. Obrolan malam ini Rian buka dengan kata-kata “aku-kamu”. Ah, kamu benar-benar tidak pernah menyerah, Rian.

“Rian, aku mau kasih tahu sesuatu ke kamu,” tanpa sadar aku menggunakan kata yang Rian inginkan “aku-kamu”.

“Nah, kan, kamu kebawa juga pake aku-kamu, udah ikutin aja. Apa za?” suara Rian terdengar senang karena dia berhasil mempengaruhiku.

“ Aku sebenernya sudah punya pacar,” dalam satu tarikan napas aku ucapkan.

Sunyi. Tak ada jawaban dari seberang sana. Aku ingin berbicara lagi, tapi… Biarlah, aku akan menunggu sampai Rian bereaksi.

“Syaza, kenapa kamu bilang itu ke aku?”

“Karena kalau kamu emang suka sama aku, aku ngga mau kamu berpikir kalau aku itu masih sendiri.”

“Ya, mungkin aku terlalu PeDe berpikir kamu masih sendiri, tapi kamu terlihat seperti single Syaza. Kamu ada di kampus dari pagi sampai malam, kamu bisa aku telpon sampe kamu tidur, terus kalau kamu punya pacar kapan kamu ketemu pacarmu dan telponan dengan pacarmu?”  kata-kata Rian yang panjang itu sekarang berbalik menohok aku. Rian punya alasan untuk menyimpulkan kalau aku itu sendiri.

“Udahlah, pokoknya pacarku ada,” jawabku sambil menahan rasa sakit ini.

“ Syaza, kita sudah deket, kan? Aku mau kamu cerita ke aku. Kenalkan aku sama cowo kamu ya, Syaza?” Kembali aku dikejutkan kata-kata Rian.

“ Aku ngga tahu Rian, aku ngga tau cowoku ada di mana, lagi ngapain…aku ngga tahu. Dia ngga menghubungi aku hampir sebulan ini,” jawabku sambil terisak.

“ Kamu digantungin sama cowo kamu Sya? Syaza, denger aku ya, di sini aku berbicara sebagai pria. Kamu itu perempuan luar biasa menurut aku karena kamu cantik, pinter, baik jadi ngga semestinya kamu diginiin.”

Belum sempat aku menjawab Rian melanjutkan omongannya, “Aku mau ketemu sama cowo kamu Syaza. Aku mau bilang ke dia kalau dia udah ngga sanggup buat jagain kamu, biar cowo lain yang jagain kamu.”

Rian terus berbicara, “Tapi Sya, saat di luar sana ada pria yang sanggup membahagiakan kamu selain cowo kamu, maka aku akan memberikan 7 kali lipat dari yang cowo-cowo di luar sana bisa kasih ke kamu, karena kamu layak untuk dapatkan itu”

Aku terdiam, aku hanya bisa menangis sampai aku tertidur.

***

Semenjak malam ini, aku tersadar kalau aku patut untuk diperjuangkan, bukan untuk disia-siakan. Aku berani ambil keputusan untuk putus dengan pacarku dan, benar kata Rian, aku akan mendapatkan pria yang akan memperjuangkan aku, menjaga aku dan memanjakan aku.

“Udah siap sayang, aku sebentar lagi aku sampe rumah kamu ya?”

“Iya, udah siap Rian….”

Ya, Rianlah pria itu. Setelah obrolan malam itu, hampir setahun Rian menunjukkan perjuangannya untuk mendapatkan aku. Di diri Rian aku temukan lagi kebahagiaan dan kepercayan yang sempat hilang. Dan yang terpenting dia benar-benar membuktikan omongannya bahwa dia akan memberikan 7 kali lipat dari pada pria lain…

Tak Lekang Oleh Waktu

by Diana Siti Khadijah @andiana

Ada satu cinta dan masih tersimpan di hati

Ada satu rindu dan menggantung di langit tanpa tepi

Ada satu asa dan menanti untuk dipilih

Meski beragam rasa datang menghampiriku

Tiada mampu taklukan satu yang membisu

Tak akan kulepas hingga yakin tak lagi membiru

Cukup sudah jiwaku terbelenggu perih dan sepi

Bertahan pada satu yang akan kucari hingga mati

Mungkin jalan akan terjal dan penuh duri

Hanya akan membuatku lebih cepat berlari

Sudah cukup aku sering terluka karena mencinta

Tak ingin salah hingga akhirnya meradang duka

Maka aku di sini terdiam dengan segenggam doa

Berharap Tuhan dengar dan sampaikan pada dunia

Aku memang tak sempurna dan jangan meminta

Hanya ada satu cinta yang akan kutunggu dengan setia

Meski mungkin Tuhan belum tentu menjawabnya

Aku tetap di sini merelakan waktu mengurainya

Mungkin dunia akan tertawa melihatku

Mungkin cibiran dan caci maki akan menghantamku

Mungkin banyak air mata yang akan melukaiku

Hanya akan membuatku semakin sabar menantimu

Menunggumu. Sepenuh jiwa. Berharap satu jawaban.

Tak sempurna aku. Hanya ada satu cinta. Sederhana.

Hanya Tuhan yang mampu memisahkan.

Antara aku dan mimpiku.

Menantimu memilihku.

#gimmefive

Detak Jantungku Untukmu

by Mega Dian @me_gaa

“Hello, Bey, besok aku berangkat ke Singapura,” bisik Ardi di ujung telepon sana.

“Hah? Ngapain? Kok nggak cerita dulu sebelumnya, Bii?” rengekku.

“Aku nemenin Papa, ada urusan di sana. Besok ikut nganter ke Bandara Soekarno Hatta jam 10 ya, Bey?” Suara lembutnya membuatku tak dapat protes lagi.

“Baiklah Bii, istirahat sana. Nite, muwaaahhh.”

See you, I love you bey...”

***

“AKU TETAP SAJA TAK TERIMA !!!” Pekikku saat mendengar kabar yang dibawa Rani.

Tangisku pun pecah, merusak suasana keheningan malam. Rani, adik Ardi, yang sedari tadi di depanku mencoba menenangkanku. Semacam merasa bersalah.

“Sabar ya, mbak Karin, Mas Ardi pasti baik-baik saja,” ucap Rani menenangkanku.

Ardi pergi ke Singapura ternyata bukan untuk mendampingi Papa, tapi mencari donor untuk jantungnya. Ardi tak pernah mengatakan dia mempunyai penyakit jantung yang harus segera membutuhkan donor. Dan saat ini sedang tak ada donor jantung untuk golongan darah AB seperti golongan darah Ardi dan Aku. Sedangkan penyakit jantungnya semakin parah. Sekarang dia sudah pulang dan tergolek lemah di RSCM, menunggu keajaiban ada jantung yang dapat menjadi donor untuknya.

***

Bak penuh es batu sudah kusiapkan, aku masuk ke dalamnya. Kugoreskan pisau yang kubawa dari dapur perlahan memotong nadiku. Segera aku menelpon Rani dan ambulance. Suara sirine ambulance RSCM yang membawaku sayup sayup kudengar, harapanku satu-satunya semoga operasinya berhasil. Dan semuanya sunyi dan gelap seketika.

Apa Itu Cinta?

by Tunggul Tauladan @tauladan

Menemukan jawab di sela mimpi, cinta butuh keberanian itu.

Apa itu cinta?

Kejadian luar biasa yang sanggup menggetarkan diri tiap anak Adam yang sempat merasainya? Keinginan untuk memberi sebuah penghambaan tanpa syarat. Penyerahan total.

Apa itu cinta?

Semenarik mekar bunga di musim dinginkah? Atau hal jamak layaknya rotasi bumi dan terbitnya mentari di pagi hari?

Apa itu cinta?

Kegilaan yang menuntut konsekuensi seutuhnya dari awal mata melihat hingga peraduan menimang mimpi?

Apa itu cinta?

Ke-absurd-an yang dihargai tiap insan di kolong jagad ini? Hingga dalam diri manusia rela berdesakan untuk sekadar menyelipkan rasa ini dalam hatinya.

Apa itu cinta?

Kelegaan yang melambungkan tiap sufi sampai titik trance? Hingga dunia tak sempat barang sedetik jua dikecupnya.

Apa itu cinta?

Pertemuan dua hati yang mengucap ikrar nyata untuk saling beradu pandang. Melempar senyum dan membariskan beribu kata mesra.

Apa itu cinta?

Kekekalan yang tak berpenghabisan? Layaknya inti sebuah atom yang terpecah menjadi proton dan neutron atau bahkan lebih kecil lagi dengan partikelnya?

Apa itu cinta?

Nyanyian merdu membius tiap kalbu yang sempat merasainya. Dengan jiwa dan air mata?

Apa itu cinta?

Ah… semua bualan ini hanya seonggok celoteh semu yang tak bisa aku bendung. Padahal barang secuil pun aku tak tahu apa itu cinta. Yang kutahu hanya kamu. Dan kamu adalah cintaku. Aku tak butuh pengandaian. Aku tak butuh gambaran. Aku tak butuh penjelasan.

Cukup kamu. Karena kamu adalah cintaku. Dan itu cukup bagiku.