061 Bencana Alam

now browsing by category

 

Banjir!

by Andya Nita @niethaaa

Awan yang semula putih semakin lama semakin hitam. Hujan yang semula rintik-rintik, semakin lama semakin menghujam keras. Membuat udara panas yang menyengat perlahan-lahan hilang seketika. Biarkanlah hujan membasahi bumi, biarkan berkembang bunga-bunga negeri ini. Derasnya hujan meninggalkan adanya suatu harapan. Sudah saatnya bangkit dari semua mimpi-mimpi. Jangan biarkan mentari membakar hati, biarkan hujan membasahi bumi dan mimpi yang telah mati. Harusnya sadar semua cita tak akan pernah berhenti.

Hujan yang semakin deras membuat hatiku agak kacau. Bagaimana tidak, hari sudah malam tapi ayahku belum pulang dari kerjanya. Perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan terus bermunculan bagai jamur di musim penghujan. Apalagi beliau baru sembuh dari sakit. Aku nggak tahu ini salah siapa. Apa salah beliau yang sudah sibuk dengan pekerjaannya sehingga lupa pulang, atau ada sesuatu yang membuat ayahku belum sampai rumah. Untungnya ibuku sudah pulang kerja, jadi aku merasa sedikit lebih tenang.

Aku tatap langit yang menangis. Pikiranku pun terbang dengan bebas. Aku merasa sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dilahirkan di tengah-tengah keluarga ini. Ibuku mengerti keinginan anak-anaknya yang berkembang sesuai perubahan zaman, dan ayahku selalu bekerja untuk kebahagiaan anaknya yang selalu membuat rumah ini penuh tawa.

Sudah hampir satu jam, namun ayah belum juga pulang dari kantornya. Semua cemas memikirkannya. Hujan yang semula deras berangsung-angsur reda. Tetapi keredaan ini tidak membuat hatiku lega juga karena Ayah belum pulang hingga sekarang. Kondisi ayah yang baru sembuh membuat semua keluarga khawatir. Ibu mencoba menelepon semua teman ayah.

”Apa Pak Anto sudah pulang dari kantor?” tanya ibu.

”Sudah pulang dari jam 3 tadi,” jawabnya.

”Terima kasih,” sahut ibu.

Semua teman ayah sudah ditelepon tapi hasilnya nihil. Hari semakin malam, membuat semua keluarga cemas. Suara-suara dari masjid semakin terdengar. Udara dingin mencoba merasuk ke kulit, membuat perasaan semakin menggalau. Suara rintik-rintik hujan tetap nyaring di luar sana, tidak memikirkan perasaan anggota rumah. Suasana rumah yang semula ramai perlahan-lahan sepi. Tak terdengar suara tawa maupun perbincangan. Hanya terdengar suara bisik-bisik yang tidak begitu jelas. Satu fokus yang dipikirkan dan diharapkan, yaitu “Kapan ayah pulang?”. Harapan itu fokus kami.

**

”Ada sms dari ayah,” kata Nola, adikku.

”Apa isinya?” sahutku.

”Ayah belum bisa pulang, kejebak banjir di swalayan,” jawab Nola.

”Alhamdulillah, kondisinya baik-baik aja,” jawab ibuku.

Setelah mendengarkan dan mengetahui kondisi ayah, semuanya melakukan aktivitas seperti biasa. Ada yang menonton TV, mendengarkan radio, main ponsel, dan ngobrol. Tapi kebahagiaan itu cuma sementara karena di daerah lain ternyata terjadi banjir kiriman yang sudah setinggi dada manusia. Walaupun agak jauh namun banjirnya sudah sampai perumahan di sekitar tempat tinggalku.

”Keluar, keluar!!!” teriak Pak Roni. ”Banjir!! Banjir!!”

Semua orang langsung keluar rumah. Tidak lama kemudian mati lampu.

Aku berpikir, apa seperti ini banjir yang terjadi di Bojonegoro. Seperti yang kudengar, beberapa hari yang lalu terjadi banjir di Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Banjir itu menghancurkan puluhan rumah dan menghanyutkan puluhan ternak serta manusia yang juga tak luput dari dahsyatnya amukan air ini.

Semua orang langsung ingin tahu keadaan di sana. Ada yang langsung ke tempat banjir, ada juga yang mencari informasi dari orang yang melihat langsung banjir yang menghancurkan puluhan rumah itu. Kata orang, banjir di sini seperti di tahun 1992.

“Aku aja masih balita” pikirku waktu itu.

Waktu semakin malam. Jam menunjukkan pukul 21.00, dan udara dingin semakin menusuk kulit. Burung hantu pun tanpa malu-malu mengeluarkan suaranya. Suasana yang mencekam semakin mencekam di pola pikir ini. Awan hitam pun semakin menunjukkan dirinya, seakan ingin mengeluarkan tumpahan untuk terakhir kalinya.

Semakin malam semua mengkhawatirkan keadaan ayah karena kami sayang ayah. Kami tak ingin terjadi sesuatu kepada ayah. Kami hanya bisa menunggu dan menunggu dengan tidak melupakan untuk berdoa. Menunggu merupakan sesuatu yang tak menyenangkan, apalagi dengan situasi seperti sekarang ini. Bahkan, aku bisa mendengar detak jantungku yang berirama cepat.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Apa yang diharap-harapkan sejak tadi sudah ada di depan mata.Ayah sudah pulang dengan kondisi selamat tanpa kekurangan apapun.

“Alhamdulillah,” ucapku saat itu.

“Ayah pulang dengan selamat. Terima kasih, Tuhan,” syukurku.

Ayah sudah sampai rumah, langsung menceritakan semua kronologinya.

“Banjir membuat jembatan putus, jadi putar arah. Setelah putar arah ternyata banjir juga, tapi jalannya masih dapat dilewati. Sepeda motor pun berjalan sangat perlahan. Ja ;an sebentar, berhenti lagi. Ditambah adanya truk yang semakin membuat macet dan berjalan perlahan-lahan. Arus air pun deras, bahkan ada sepeda yang hanyut tertarik arus tersebut. Berjam-jam terjebak banjir. Selama terjebak banjir banyak orang yang mengeluh karena sudah pasti pulangnya malam. Mereka yang tidak membawa alat komunikasi meminjam dari seseorang untuk menghubungi keluarganya, pasti keluarganya mengkhawatirkannya.”

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, Ayah….”

Hari semakin malam, menunjukkan pukul 23.00. Orang yang mengungsi di depan rumah pun semakin banyak, apalagi tanpa ditemani sang cahaya, membuat kondisi di sini seperti di hutan. Angin yang dingin mengikuti gelapnya cahaya membuat rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Semua orang terjaga, khawatir banjir masuk perkampungan kami.

Semua keluarga juga terjaga, termasuk orangtuaku. Adikku sudah pergi ke Pulau Kapuk, begitu pula Eyang yang akan segera menyusulnya. Tinggallah aku berdiam diri melihat ruangan yang sedikit pancara cahaya. Kedua orangtuaku keluar rumah untuk melihat keadaan. Ternyata, di sini juga merasakan penderitaan saudara kita di Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.

Aku juga ingin rekreasi ke Pulau Kapuk, tapi sayangnya mata ini tidak bisa terpejam sedikitpun.

“Ini akibat dari bobok siang”

Ya, hanya bisa main ponsel saja karena listriknya mati.

“Jam segini siapa ya yang belum tidur?” tanyaku dalam hati. “Aku coba sms-an aja deh. Mungkin Neni belum tidur.”

Aku pun dengan cepat mencari nomor Neni dan mengetik suatu pesan.

“Biasanya dia belum tidur, biasa Insomnia.”

“Hiihiihihihih”  akupun tertawa simpul kalau ingat hal tersebut.

“Semoga dia baik-baik jua. Amin.”

Akupun menekan tombol “Send

Met malam Neni…

Disana banjir g?

Moga kmu gpp

—-Anty—–

Cukup lama juga balasan dari sobatku ini.

Met malam juga……

Alhamdulillah nggak banjir

Disini hanya mati lampu.

Apa disana mati lampu?

—–Neni—–

“Wah, beruntungnya.”

Tak membutuhkan waktu lama untuk membalas sms dari sobatku, Neni.

Tapi, “Wah, baterainya kok tinggal 3? Gimana nih, listriknya juga mati. Ya sudah, tidak apa-apa, mungkin besok pagi juga sudah seperti biasanya.”

Lantas kubalas smsnya.

Disini juga mati lampu

Banjirnya nyampe dada loch….

Gini kale y,

Perasaan orang di Tuban?

——Anty——

Tak kukira, ternyata mendapatkan balasan yang begitu cepat dari Neni

Yah,,,Mungkiin aja

Sesama saudara pasti ada rasa simpati

Mungkin inilah rasanya berada di sana…

Manusia saling membutuhkan yg Lain

—-Neni—–

“Maaf, aku balesnya besuk pagi ya,” ucapku dalam hati.

Itulah sms terakhirku karena baterainya sekarang tinggal 2. Apa mau dikata, harus dimatikan. Mata ini juga merasakan ngantuk. Perlahan tapi pasti aku juga harus tidur. Orangtuaku juga sudah masuk ke rumah dan perasaanku sudah mulai tenang. Setenang air di danau.

“Selama Tuhan masih di dekatku dan orangtua masih di sisiku itu sudah cukup bagiku,” pikirku waktu itu.

Harapanku esok hari adalah keadaan dapat kembali seperti hari-hari biasanya. Aku pun tidur dengan selimut gelap dan ditemani cahaya yang berkedip-kedip seperti bintang di malam yang cerah. Untung langit juga bersahabat. Kabut yang gelap berjalan dengan pasti. Menimbulkan warna langit yang indah.

Ingin aku segera tidur dan membuka mata untuk menyambut pagi. Pagi yang cerah, penuh dengan harapan-harapan yang indah. Kupejamkan mata ini, dengan tujuan segera terbang ke Pulau Kapuk. Menikmati empuknya alas tidur, sungguh nikmat.

**

Pagi yang indah mulai menyapa. Walaupun tetap mati listrik, asal banjir tidak berjalan ke rumah ini sudah cukup untukku. Burung pun bernyanyi, sebuah pertanda cuaca untuk detik ini sangat bersahabat. Awan putih berjalan perlahan dengan berlandasakan birunya langit. Udara pun bergerak perlahan menyejukkan hati yang kalbu.

Aktivitas sudah berjalan seperti biasanya. Bagi pegawai tetap kerja, untuk orang rumahan membantu para pengungsi. Aku dan adik cuma bisa diam seperti patung. Listrik mati sampai siang jadi kerjaku cuma baca buku, main ponsel pun nggak bisa karena baterainya tinggal satu strip.

Pukul 12.00 listrik sudah bisa digunakan. Aku pun langsung mengisi baterai ponsel dan adikku langsung menonton TV. Banjir merubah segalanya. Ayah pulang siang dan kabarnya banyak rumah yang terseret banjir.

Ada juga kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, Tante dan Omku selamat dari banjir, tetapi rumah Omku terendam banjir sampai langi-langit atap, sedangkan akses jalan ke rumah tanteku terputus karena jembatannya hancur diterjang banjir.

“Sebuah cobaan dari Tuhan atau mungkin peringatan dari Tuhan karena penyebab banjir adalah manusia itu sendiri,” pikirku. Aku dengar kabar di sini tidak pernah banjir, kok sekarang banjirnya maha dahsyat. Akibat dari banjir ini beberapa rumah terseret banjir, merusak fasilitas umum, mengakibatkan korban jiwa, barang-barang berharga hilang semua. Manusia itu egois, hanya mementingkan diri sendiri. Dari peristiwa ini semua benda maupun materi berharga hanya akan binasa. Janganlah memenuhi hasrat kita tanpa memikirkan akibatnya yang ternyata menuju kita sendiri.

Mungkin Tuhan menguji kesabaran dan kekuatan iman kita. Banjir ini merupakan banjir kiriman dari kota tetangga, bukan karena sungainya yang dangkal atau sampah yang menumpuk di sungai walaupun akibatnya sampai juga di kotaku tercinta. Aku sebagai makhluk Tuhan hanya bisa sabar dan tawakal menerima ujian ini. Semua pasti ada hikmahnya kok.

Ayo kita atur kembali semua dari bawah. Jangan menyalahkan siapapun. Tetap masa depan dengan penuh percaya diri dan keyakinan bahwa “Hari esok pasti lebih baik”. Serta jangan mudah putus asa, harus optimis selalu. Semangat!

Kisah Basi

by Ricky Ronaldo @iniRickRick

“Bu, aku lapar.”

Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut si kecil Doni. Sebenarnya dia tidak ingin mengucapkannya, karena dia tahu ibunya sedang tidak punya uang. Tapi ada daya, tubuh kecilnya tidak sanggup lagi mentolerir keadaan itu. Sejak pagi hanya segelas air teh tanpa gula yang masuk ke perutnya, ditambah dengan bergelas-gelas air putih yang diminum doni untuk mengganjal perutnya yang lapar itu.

Sementara itu Yanti, ibu Doni, hanya bisa terdiam mendengar kata2 Doni tersebut. Dia tahu bahwa anaknya pasti sudah sangat lapar, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain secepatnya mengerjakan pesanan jahitan dari seorang teman lamanya. Untuk menenangkan hati anaknya, dia mengatakan untuk bersabar sebentar karena jahitan ini sudah hampir selesai . Dan sore ini juga dia akan mengantarkan jahitan itu ke rumah teman lamanya itu, sehingga mereka bisa mendapat uang dan membeli makanan.

Yanti lalu melanjutkan jahitannya kembali. Dia hanya bisa pasrah saja saat ini. Sejak suaminya meninggal tertimpa reruntuhan di tempat kerjanya sewaktu gempa 2 bulan yang lalu, praktis dialah yang harus menghidupi dirinya dan anak semata wayangnya. Ia tidak mendapat santunan untuk kematian suaminya, karena bos tempat suaminya bekerja juga meninggal sekeluarga. Sementara bantuan dari pemerintahan hanyalah dua bungkus mi instan dan setengah kilo beras yang pernah didapatnya. Untuk uang lauk pauk dia tidak bisa mendapatkannya, karena meskipun suaminya meninggal, rumah yang mereka tinggali sama sekali tidak mengalami kerusakan. Sehingg menurut data pemerintah, ia tidak termasuk yang harus diberi bantuan. Sejak kejadian itu, dia masih mencoba untuk bertahan dengan uang hasil tabungannya yang hanya sedikit. Sementara untuk berhutang, dia merasa malu kepada anaknya dan almarhum suaminya, karena suaminya dari dulu mengajarkan kepada anaknya, bahwa separah apapun keadaan, kita tidak boleh sampai berhutang. Makanya meskipun uang terakhirnya telah habis untuk membeli makanan kemarin, Yanti tidak mau berhutang di warung. Untungnya jahitan pesanan ini akan selesai hari ini, sehingga paling tidak malam ini anaknya akan bisa tidur dengan perut kenyang.

Sebenarnya sejak sebulan yang lalu Yanti sudah berinisiatif untuk mencari pekerjaan. Tapi karena memang kondisi di kota ini masih belum kondusif, maka tidak mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan, hingga akhirnya seminggu yang lalu dia bertemu dengan seorang sahabat SMA-nya dulu yang kemudian membuat Yanti memberanikan diri untuk menawarkan jasa keahlian menjahitnya. Untungnya sahabatnya itu mau membantu.

Akhirnya sore itu jahitan itu selesai juga, Yanti segera bersiap-siap untuk mengantarkan jahitan itu, sambil berpesan kepada anaknya untuk menunggu sampai dia kembali membawa makanan.

Yanti terpaksa berjalan kaki ke rumah sahabatnya itu, karena dia tidak mempunyai uang untuk ongkos angkot. Setelah setengah jam berjalan kaki, akhirnya Yanti sampai juga. Tapi malang, ternyata sahabatnya itu sedang tidak ada di rumah. Menurut pembantunya, majikannya itu malam nanti baru pulang. Daripada pulang dengan tangan hampa, Yanti memutuskan untuk menunggu saja di teras. Meski hatinya juga cemas memikirkan anaknya yang menunggu kelaparan di rumah.

Akhirnya pukul 22.30 WIB, sahabatnya itu pulang juga. Dia sedikit terkejut dan meminta maaf ketika tahu Yanti harus menunggu berjam-jam. Dia menawarkan untuk mengantarkan Yanti pulang, tapi karena Yanti merasa tidak mau berhutang budi terlalu banyak, Yanti menolak tawaran itu. Lalu Yanti pun segera pamit.

Di ujung gang, karena sudah mempunyai uang yang cukup, dan tidak mau lagi membiarkan anaknya menunggu lebih lama, Yanti memutuskan untuk menunggu angkot yang lewat, meskipun dia tidak yakin apakah masih ada angkot jam segitu. Sambil dilangkahkan juga kakinya menusuri jalan, dia tetap menanti jika ada mobil yang lewat berharap itu adalah angkot.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti mendadak di samping Yanti. Beberapa pria berseragam langsung melompat keluar dan menangkap Yanti. Yanti pun terkejut dan berteriak minta tolong, namun pria-pria itu tidak peduli.

“Baru dua bulan gempa, kamu sudah mulai jualan rupanya, dasar lonte!” kata seorang pria.

Yanti terkejut mendengar perkataan itu, dan segera sadar apa yang terjadi. “Bukan pak, saya bukan PSK, saya baru pulang dari rumah teman, saya bukan PSK pak!”

“Aaahh, banyak omong, selalu itu2 saja alasan kalian. Cepat naik ke atas mobil!”

“Ampun pak, benar pak saya bukan PSK pak”

“Ya,ya terserahlah, nanti saja di kantor bicaranya. Teman2mu sudah ada 4 orang lagi yang sudah kami tangkap malam ini.”

Yanti berusaha untuk berontak, dan memohon ampun, tapi para Satpol PP itu tidak mau tahu. Bagi mereka wanita-wanita yang masih berkeliaran pada jam segini, sudah pasti bukan wanita baik-baik. Segala teriakan Yanti tidak mereka gubris. Mereka langsung menaikkan Yanti ke atas mobil dan membawanya ke kantor mereka, untuk kemudian di proses dan dikirim ke tempat panti rehabilitasi.

Sementara Doni telah tertidur di rumah karena terlalu lemas menanti ibunya yang harusnya dari sore tadi sudah pulang.

Malang tak dapat ditolak

by Aditya Nugraha @commaditya

Kupandangi lagi minuman itu, aku yakin, aku berani.

2 HARI YANG LALU.
“Adit, bisa ke ruangan?” Gaya Pak Ronald agak mengesalkan, tapi memang begitulah. “Bawaan lahir..” Katanya.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, aku pun dapat memahami, performanceku yang tidak memuaskan adalah alasannya. Meskipun aku termasuk karyawan yang baik di matanya.

KEMARIN
“Sayang..” Kubuka pintu begitu saja. Mereka pun gelagapan menutupi tubuh telanjang mereka. Istriku yang cantik, tanpa busana, pun Rossa, teman sekantornya.
“Kamu kok pulang cepat?”

01.44
Suara musik menggaduh di kepala, kupandangi minumanku. “Oke..” Batinku.

Lalu seseorang tiba-tiba menyenggolku, “Maaf! Saya haus..” Sepertinya mabuk, dia lalu menegak minumanku. “Eh tapi!” Terlambat, semua dia habiskan.

“Tuhan, sebegitu hinakah aku sampai-sampai untuk matipun aku sulit?”

Bapak

by Johan Mahardi @jpmahardi
Ini akan jadi malam terakhir aku melihat parasmu, Pak.
Dihantamkannya kening Bapak sekuat tenaga ke dinding tebing.
Dentumannya nyaring, Bapak merintih, tembok cadas itu tak bergeming.
Berkali-kali hingga hanya tersisa suara gemeretak, lalu hening.
Darah berserak menggenangi wajah Bapak, di mulut, hidung, dan kuping.
Matanya mengerling sebelum badannya limbung terguling.
Nafas terakhir Bapak terhembus. Lanang mendengus.
Sudah cukup busuk dunia ini, tak perlulah kau tambah lagi dengan badan budukmu.
Bertahun-tahun ejekan, penghinaan, penolakan itu masih terngiang di telinga Lanang.
Si codet anak buruh kasar, perkerja serabutan, miskin tak berpendidikan.
Bapakmu serupa setan gentayangan, membuat anak-anak ketakutan.
Hidup mengandalkan belas kasihan orang, tak seorangpun sudi berteman, apatah lagi bertandang.

Mengapa kau buat hidupku seperti ini, Pak?

Bapak tak pernah tahu, betapa malunya aku di hadapan anak-anak sebaya.
Yang laki-laki tak mau menegur, apatah lagi yang perempuan.
Yang miskin tak hendak menyapa, apatah lagi yang kaya raya.
Kalaupun coba bersopan santun, air liur dan dahak saja yang mereka ludahkan.
Semua akibat codetku, dan wajah burukmu.

Lanang mengerang garang. Ia ludahi bangkai ayahnya, ia injak dan tendang.

Mayat itu cuma diam, layaknya mendengarkan Lanang, sesekali mengejang.

Hanya tinggal kedua matanya saja yang tak mau menutup rapat, ingin rasanya Lanang mencongkelnya dengan jari hingga mencelat.

Berdua saja mereka bertukar tatap, anak terkutuk teramat sangat.

Cukuplah balasanku atas apa yang telah kau buat pada hidupku, Pak.
***
Dua puluh tahun yang lalu, codet itu terbentuk oleh percikan lava ketika Lanang dipeluk, dibawa Bapak berlari menghindari lahar yang mengalir di lereng Kelud.
Aliran lahar memagut kaki kiri Bapak, menyulut, menyeruput jari-jemarinya sampai ke atas lutut.
Bapak menerjang, terjengkang di bebatuan membara bak arang, wajahnya ikut terpanggang.
Berguling-guling sambil tetap mendekap Lanang, badan Bapak hangus tak kepalang.
Berbulan-bulan Bapak terbaring di ruang gawat darurat, setengah sekarat.
Yang ia ingat ketika tersadar ialah, “Dimana anakku Lanang, bu perawat?”
Perawat membawakan bayi mungilnya kembali ke buaiannya, didekapnya erat.
Senyumnya semburat melihat bayinya sehat, bantat, matanya berbinar, pipinya merah, gagah, dengan luka kecil di wajah, hanya satu gurat.
“Kau selamat, anakku” bisiknya tenang. Air matanya berlinang jatuh di hidung Lanang.
Lanang terperanjat, lantas menggeliat. Tertawa-tawa riang, lepas, menggemaskan bagi siapa saja yang melihat.
Hanya tinggal kedua matanya saja yang utuh tak melepuh, namun Lanang tahu siapa pemilik tatapan teduh.
Berdua saja mereka berbagi senyuman, manis bukan buatan.

Senyuman dari Balik Puing

by Ekastri @ekastri

Malam itu bayangan bulan yang melingkar sempurna tampak sangat elok dari jendela kecil di rumah tua tempat aku menunggu Aldo kekasihku.

Sudah hampir setahun ini  aku dan Aldo menjalani hubungan kami secara sembunyi-sembunyi. Meskipun kami saling mencintai, tapi latar belakang keluarga kami yang berbeda, membuat orang tuanya tak setuju Ando menjalin kasih denganku. Aldo adalah putra satu-satunya dari keluarga kaya dan terpandang di kotaku. Sedangkan aku hanya anak seorang buruh kecil.

Rumah tua ini merupakan tempat favorit kami berjumpa. Letaknya yang terpencil dan bentuk bangunannya yang tertutup, membuat kami dapat bertemu dan melepaskan rindu  tanpa perlu khawatir orang luar akan mengetahuinya. Rumah tua ini adalah salah satu rumah milik keluarga Aldo yang lama tak dihuni. Meskipun tak berpenghuni, kondisinya masih terawat. Ada seseorang yang ditugasi oleh orang tua Aldo untuk rutin membersihkannya.

***

Seperti malam-malam yang lain, lagi-lagi aku datang terlalu awal ke rumah tua ini. Keinginan untuk dapat melepaskan rindu dengan Aldo selalu membuatku ingin segera berada di rumah ini. Dalam keheningan malam tiba-tiba aku merasakan bumi tempatku berpijak bergetar hebat dan sebuah balok kayu jatuh menimpa kepalaku. Kegelapan pun menyelimuti seluruh pengelihatanku.

Aku tak tau telah berapa lama aku tergeletak tak sadarkan diri di lantai rumah tua ini. Ketika sadar aku masih merasakan sakit di kepalaku, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkramnya.

Rupanya semalam telah terjadi gempa. Kini aku terkurung seorang diri dalam rumah ini, seluruh jalan keluar tertutup oleh reruntuhan batu. Berbagai cara kucoba untuk dapat keluar dari rumah ini. Mulai dari berteriak sekuat tenaga dengan harapan ada orang lewat yang mendengarnya. Sampai usaha menyingkirkan bebatuan yang menutupi jalan keluar. Tapi karena kondisiku yang lemah semua usaha yang telah kulakukan sia-sia belaka.

Setelah beberapa hari terkurung di rumah tua ini, badanku mulai terasa lemas. Tak ada sesuap makanan pun yang masuk ke perutku sejak aku terjebak di sini. Dan tak ada air yang dapat kuminum sama sekali di rumah ini. Tenggorokanku yang kering serasa semakin panas karena tak ada setetes air pun yang membasahinya.

Dalam kondisi yang sangat lemah aku hanya dapat pasrah menunggu Aldo datang menyelamatkanku. Hanya dia yang tahu keberadaanku di rumah ini.

***

Sore itu, sayup-sayup kudengar suara Aldo memanggil.

‘Rika.. Rika… di mana kau?’

‘Aldo.., kau kah itu?’ kukerahkan seluruh tenaga untuk menjawab panggilannya. Tubuhku yang lemah tergeletak di lantai, suaraku terdengar lirih dan serak.

‘Rika.., maafkan baru sekarang datang menjemputmu.’

Begitu kulihat wajahnya, senyumku pun langsung mengembang. Entah kekuatan dari mana aku langsung berdiri dan memeluknya erat.

‘Rika, mari ikut aku pulang.’

‘Pulang!! Kamu yakin??’

Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku lalu menggenggam tangannya dan mengikutinnya dari belakang. Sebelum meninggalkan ruangan ini, mataku menyapu semua sudut ruangan, aku ingin mengenangnya untuk terakhir kali.

Di dalam ruangan kulihat tubuhku tergeletak kaku di lantai. Seulas senyum terlukis di wajahku yang sudah pucat.

Setinggi Dada Orang Dewasa

by Dian Utami @dianids

Roy, kamu lagi dmana? Sy dpt info di jl perjuangan ada banjir stinggi dada org dwasa, ada 1 korban tewas, sy otw ksana.

Pesan singkat dari Pak Hardi barusan cukup mengagetkan Roy. Kemarin ia baru saja meliput banjir di kawasan elit itu dan tidak ada tanda-tanda banjir setinggi dada orang dewasa. Ya, ada banjir memang, tapi hanya setinggi pinggangnya dan kemarin tidak ada korban jiwa, entah hari ini.

Roy segera memacu Satria-nya menuju Jl. Perjuangan dan langsung mencari-cari ketua warga setempat di lokasi evakuasi warga. Di sana ia mendapati Pak Hardi tengah berbincang dengan Bang Jali, koordinator penganganan banjir yang ditugasi oleh SAR. Setelah mengisyaratkan kehadirannya di lokasi, Roy tidak bergabung dengan Pak Hardi, ia segera menanyai warga dan mencari tahu kebenaran info yang ia peroleh.

“Pak Iman, Pak Iman.. masih ingat saya? Saya Roy yang kemarin meliput banjir di daerah sini.” Roy mengenali salah satu warga yang kemarin ia wawancara.

“Oh, Roy. Iya, saya ingat.” Senyum khas menghias wajah Pak Iman ketika ia menyambut jabatan tangan Roy.

“Bagaimana kondisi warga saat ini Pak? Keluarga Bapak?”

“Alhamdulillah, keluarga saya baik sekarang. Mereka sudah saya suruh menginap di rumah adik saya. Tinggal saya saja di sini, berjaga-jaga dengan warga yang lain. Seperti yang kamu lihat Roy, kondisi warga ya begitu-begitu saja. Tidak banyak yang dilakukan Pemkot dengan kondisi kami. Justru bantuan banyak mengalir dari LSM-LSM. Kemarin kamu sudah bicara kan dengan LSM-LSM itu?”

“Iya, Pak.” Roy tahu bahwa Pak Iman bukanlah orang yang mudah diperdaya. Pak Iman menyadari sepenuhnya bahwa LSM-LSM yang memberikan bantuan kepada mereka memiliki misi terselubung. Pak Iman pun mewanti-wanti beberapa warga agar berhati-hati.

“Oya, Pak. Saya dengar ada satu korban jiwa. Benarkah?”

“Benar. Salah satu warga meninggal dunia tadi pagi. Tidak ada yang menyangka jika banjir kembali naik setelah hujan semalam. Kami pun tidak menyadari ada warga yang meninggal, sampai ditemukan satu jasad mengambang.”

“Mmm.. bagaimana dengan keluarga korban, Pak.”

“Kebetulan korban yang meninggal saat ini tinggal sendiri, keluarganya masih di kampung lepas lebaran kemarin. Tapi kami sudah menghubungi keluarganya dan mengurusi jenazahnya. Insya Allah keluarganya sampai sini sore nanti.”

“Apa sebenarnya yang menyebabkan ia meninggal, Pak?”

“Hmm.. ia tidak bisa berenang, kebetulan saat air masuk ke rumahnya tinggi air sudah menenggelamkannya. Tidak ada warga yang bisa menyelamatkan, karena saat itu tidak ada warga yang tahu.”

“Saya turut prihatin, Pak. Tapi bukankah banjirnya hanya sampai sepinggang saja? Kok sampai tenggelam?”

“Sangat kebetulan sekali, korban yang meninggal bukanlah seorang yang memiliki tinggi rata-rata seperti kebanyakan lelaki dewasa. Ia bertubuh kecil, seperti Ucok Baba.” Pak Iman menjelaskannya diikuti helaan napas panjang.

Setinggi dada orang dewasa, dalam hati Roy bergumam.

Ikhlas

by Te @embunbeningpagi

Tak ada nada sambung.

Dicobanya lagi. Tetap sama saja,

Dikirimnya sebuah pesan.

“Ran, kamu baik2 saja?”

Tak terkirim.

Raka bangkit dari duduk, digenggamnya hape itu. Berjalan mondar-mandir, pikiran tak terarah. Gelisah.

Layar televisi masih menayangkan berita gempa di DIY dan Jateng. Raka tahu ada Rani di Bantul. Meski Raka belum pernah mengunjungi bertemu lagi sejak 2 tahun lalu. Hanya sebuah nomer komunikasi saja.

Kembali Raka duduk. Menatap nanar televisi itu. Berulang menayangkan foto-foto yang miris. Rumah hancur, korban berjatuhan, penduduk panik.

Menghela panjang. Dicobanya lagi menekan nomer Rani. Masih sama.

“Rani, semoga kamu baik-baik saja…” dalam gumam Raka.

Seminggu berlalu, koran, televisi masih memberitakan gempa itu. Nama para korban pun di tampilkan. Raka pun selalu melihat. Tak ada nama Rani di sana.

Raka semakin gelisah. Dia tak mungkin ke Bantul mencari Rani. Hanya nomer yang dia miliki. Rani selalu menghindarinya. Bahkan untuk menerima maaf darinya.

Sesal yang dalam. Rindu. Takut. Kuatir.

Mendesah lagi.

“Rani, kamu dimana?”

“Andai kamu membalas pesanku saja…”

Dua minggu berlalu.

Dalam gelisah Raka mencoba kembali menghubungi Rani.

Terdengar nada sambung. Lama. Tak diterima

Senang tapi resah.

Sekali lagi.

Lama. Tak diterima.

Akhirnya sebuah pesan dikirim.

“Ran, aku mendengar gempa itu. Kamu baik-baik sajakah. Aku mencarimu. Aku ingin tahu kabarmu. Ran, jawablah. Maafkan aku.”

Terkirim.

Tapi belum terbalas.

***

Sebuah pesan masuk.

Rani membaca dan gemetar, menggugu. Ada pesan Raka.

Dibaca lagi.

Sesal dan rindu menyeruak di hati. Menangis.

Lama tak segera ditulis pesan. Hanya digenggam erat.

Sebuah pesan dibalas.

“Raka, aku baik, selamat dari bencana itu. Terima kasih sudah mencariku. Tetapi sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi, seperti pintamu 2 tahun lalu. Aku sudah memaafkanmu, Raka.”

Terkirim.

Air mata pun jatuh.

Sakit.

Tak sesakit kala mengetahui harus kehilangan sepasang kakinya. Tertimpa balok besar saat gempa itu.

Terbaring. Mendekap hape itu. Ikhlas.

Empat Puluh Delapan Jam Kemudian

by Nuna @no3na

Ibu masih belum bisa berkata-kata, wajahnya muram, basah kuyup oleh airmata yang seakan berhulu di tubuhnya, mengalir deras tanpa henti. Abang masih sibuk dengan telepon selulernya, menghubungi ke sana ke mari. Sebagian hanya meninggalkan suara tut…tut…tut…atau suara rekaman operator perempuan tak berperasaan yang cuma bisa bilang “nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan.”

“Sudahlah Bu, izinkan aku ke sana. Daripada di sini tanpa berita, tanpa kepastian begini. Tak satu pun nomor telepon bisa dihubungi.” Abang berkata membujuk Ibu yang masih sesenggukan, tangannya menggengam tangan Ibu. Aku, hanya bisa memandangi dari jauh.

Lama, mungkin sekitar 5 menitan, akhirnya Ibu mengangguk, dengan sangat berat, aku tau itu. Abang langsung mencium tangan Ibu. Bangkit dari duduknya, bergegas masuk kamar. Kurasa ia langsung mengepak baju-bajunya. Dari kamar ia masih sempat berbicara kepada Ibu, setengah berteriak “Aku mungkin agak lama Bu, sekitar dua mingguan. Teman-temanku juga banyak yang belum bisa aku hubungi.” Ibu, makin deras air matanya.

Ingin sekali aku mendekat, memeluknya, dan membisikkan “jangan menangis lagi Bu…”

***

“Bang, di sini ada sepuluh titik tenda perawatan darurat dan lebih dari dua puluh titik posko pengungsian. Mau dicari satu-satu?” Reno menatap Abang sambil mengelap keringatnya. Baju mereka dan para relawan lainnya sudah entah berwarna apa. Bau menyengat di mana-mana. “Aku punya feeling dia selamat, Ren…” Abang menarik napas lalu akhirnya menepuk pundak Reno lembut, “begini saja, kau cari kabar teman-teman kita, aku saja yang mencari Kiki di tenda-tenda perawatan dan posko, oke? Kabari aku kalau ada petunjuk apapun.” Reno mengangguk lalu berlalu. Mereka berpisah setelah memberi info ke teman-teman satu tim.

Aku mengikuti langkah mereka dengan pandanganku, dari jauh. Ya, Tuhan… bagaimana caranya memberi petunjuk tenda mana yang harus dituju Abang?

***

Empat puluh delapan jam kemudian…

“Maaf Mas, perempuan dengan ciri-ciri yang Mas sebutkan kemarin memang kami rawat di sini. Tapi tadi pagi ada tim rescue asing yang memiliki ambulan dan bisa menempuh perjalanan dengan medan yang berat, telah membawa beberapa korban yang agak parah ke rumah sakit yang masih berfungsi di Ibukota. Jaraknya sekitar 3 jam dari sini. Dicoba saja Mas. Kondisi perempuan itu memang parah, dia koma sejak dibawa relawan ke sini.”

Abang tersenyum, ada sedikit lega di wajahnya yang entah sudah berapa hari tak tersentuh air. “Terima kasih Pak, terima kasih banyak atas informasinya. Saya gak tau ini tenda ke berapa yang sudah saya datangi. Sekali lagi terima kasih atas informasinya. Saya permisi.” Mereka bersalaman. Abang langsung mencari jalan agar bisa ke Ibukota secepatnya.

Aku juga, tersenyum lega, dari jauh. Aku yakin Abang pasti mampu menemukanku… Kiki, adiknya, satu-satunya, dan membawa mayatku pulang menemui Ibu.

Kenangan Pahit Sang Reporter

by Andy Saputra @creandivity

Musik klasik masih mengalun nan merdu. Suasana remang-remang di sebuah cafe nan anggun. Masih belum banyak orang di sini. Senja belum tiba, tapi matahari seolah sudah mau berpaling. Awan gelap mulai berdatangan. Mendung. Ditemani bunyi geledek sesekali. Keramaian kecil itu sama sekali tidak mengganggu Tasya, yang duduk di salah sudut di dalam cafe itu. Tangannya masih cekatan mengetikkan kata demi kata di laptopnya. Sesekali, dia terhenyak, terdiam dalam keheningan. Entah apa yang diketikkannya. Yang jelas, itu pastilah berkaitan dengan hal yang memantik emosinya. Mimik wajahnya tidak bisa berbohong.

Beberapa waktu berlalu, hujan pun turun. Ingatan Tasya kembali ke beberapa tahun silam. Saat itu, dia masih bekerja sebagai reporter untuk sebuah stasiun televisi. Berjiwa muda, senang dengan petualangan, suka menemui hal dan orang-orang baru. Syarat yang cocok untuk menjadi reporter, bukan ? Hari-harinya dipenuhi dengan warna-warni hidup yang tak pernah menjemukan. Mencari narasumber yang susah ditemukan, mengorek informasi yang sensitif, bahkan meliput langsung dari daerah yang dilanda peperangan adalah hal yang biasa, namun selalu memberikan sensasi yang baru bagi Tasya.

Suatu hari, teleponnya berdering. Bosnya menanyakan apakah dirinya siap meliput di daerah bencana alam. Tasya, seperti biasa, selalu menyanggupinya dengan antusias. Tidak lama setelah menutup teleponnya, Tasya melakukan ritual biasanya, menelepon orang tua untuk meminta izin. Seperti biasa, Ibunya hanya menjawab,”Hati-hati di sana. Jangan membahayakan diri kamu sendiri. Kerjaan bisa dicari lagi, nyawa ini cuma satu, Nak.” Sebenarnya, dari lubuk hati yang terdalam, Ibunya tidak rela Tasya bepergian ke tempat di mana Tasya harus mempertaruhkan nyawanya. Kehilangan sang suami saja sudah cukup berat. Namun, Tasya terlampau keras kepala. Sang Ibu pun menyerah, hanya bisa mendoakan dari jauh saja.

Malam itu juga, Tasya dan 3 orang kru lainnya bertolak ke daerah yang baru saja diterjang gempa bumi hebat. Sesaat setelah mereka sampai di tempat tujuan, mereka terpana melihat reruntuhan dan retakan bangunan-bangunan di sana. Layaknya kota yang baru saja dijungkir-balikkan. Mayat-mayat mereka yang kurang beruntung masih terlihat. Tim penyelamat masih berusaha mencari korban yang selamat. Tim lainnya mulai menyisir dan mengangkut mayat-mayat di tempat. Bau busuk menyerbak, suasana pilu menyayat hati siapa saja. Samar-samar terdengar tangisan yang melolong, mengiris hati. Tanpa membuang waktu, segera saja rombongan ini mencari spot yang tepat, dan melakukan live report untuk acara berita di TV.

Dini hari, rombongan kru memutuskan untuk beristirahat. Kegelapan malam makin membuat situasi mencekam, seolah hawa kehidupan tersedot entah ke mana, nyaris tidak ada. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Beberapa jam kemudian, keheningan pecah. Banyak suara riuh gemuruh, teriakan-teriakan menyelamatkan diri mulai ramai. Tasya terbangun, terkejut. Tanah tempat mereka berdiam seolah-olah menari, menggelinjang. Retakan-retakan muncul dari tanah. Getaran yang dahsyat. Spontan Tasya berteriak,”Teman-teman, lari! Ada gempa susulan”. Seketika, rombongan pun terbangun dari mimpi mereka, berhamburan menyelamatkan diri. Entah bagaimana caranya, mereka berusaha berlari, berlompatan, menuju tempat yang paling ramai.

Sayangnya, nasib Tasya sedikit kurang beruntung. Kakinya tersangkut sebuah rongsokan mobil. Rekan-rekannya berusaha menyelamatkan dirinya, membantu mengangkat rongsokan itu. Malang, saat itu pula, bumi kembali mengamuk hebat. Getaran gempa yang lebih dahsyat muncul. Bayangan hitam segera menyeringai di atas mereka. Tasya hanya mendengar rekannya berteriak, “Lariiiii!! Toko itu mau roboh!”. Pandangan matanya mulai gelap. Tengkuknya terasa sangat dingin. Dia hanya pasrah saja, tubuhnya terkulai lemah di sana. Dalam benaknya, sekelabat bayangan ibu dan adik-adiknya muncul. Lalu hitam kelam. Ingatannya tentang bencana itu hanya sampai di sana.

“Klap”, bunyi laptop ditutup. Lamunan Tasya terputus oleh kehadiran seorang pria tegap, di dadanya terpampang logo sebuah penerbit. Tasya berdiri, memperkenalkan diri, “Perkenalkan, Tasya, mantan reporter, dan sekarang jadi penulis freelance”. Bunyi gemeretak kecil muncul.

Pria tersebut balas mengenalkan diri, “Hai Tasya, namaku Tomy. Hari ini kita interview sebentar ya”. Mata Tomy sejenak pun melongok ke bawah, melihat kedua bilah metal yang tertanam di bawah lutut Tasya, pengganti sepasang kakinya.

Mengukir Cinta Di Merapi

by Bunga S. Putri @bunga_sp

“Sampai merapi meletuspun kamu tidak akan pernah bisa meminang puteriku!” – Begitu teriakkan ayah pada Raka, kekasihku.

Aku yang seorang dokter dan Raka hanya petugas administrasi puskesmas. Aku tinggal di Jogjakarta. Sedang Raka tinggal di sebuah desa kecil dekat lereng gunung merapi. Kami tak sengaja dipertemukan. Aku mengenalnya saat sedang dinas di puskesmas desa dimana Raka tinggal. Selama enam bulan aku disana aku mengenal pria yang begitu memberi banyak pelajaran hidup untukku. Raka yang begitu supel, apapun ia kerjakan untuk menghidupi ibu dan adiknya. Ayahnya sudah lama meninggal. Sampai dibulan ke empat aku akhirnya menjalin hubungan dengannya. Dengan diam – diam tanpa sepengetahuan ayah atau siapapun.

Seusai enam bulan aku kembali ke Jogja. Sesekali aku mengunjungi Raka di lereng merapi. Kadang Raka mengunjungiku di rumah sakit. Tentunya dengan diam – diam. Sampai suatu hari Raka tidak lagi nyaman dengan kondisi hubungan kami. Malam itu ia tiba – tiba datang ke rumahku mencari ayahku dan mengutarakan niatnya untuk menikah denganku. Sontak ayah geram dan membentaknya dengan kalimat kasar. Aku hanya bisa menangis di kamar yang terkunci dari luar. Ayah tak akan pernah mengizinkan hubungan kami. Karena ayah berniat menjodohkan aku dengan anak rekan kerjanya dari Amerika.

“Siapkan rumah mewah beserta isinya untuk mas kawin. Baru kau bisa menikah dengan puteriku!” – ayah berteriak di depan Raka dan membanting pintu.

Sungguh perlakuan yang tidak adil untuk Raka. Ia memang bukan pria kaya raya. Tapi kami saling mencintai. Dan itu cukup untuk kami. Memang sepertinya terlalu naif. Tapi aku yakin bisa menjalaninya dengan Raka.

Komunikasiku dengan Raka terputus. Ayah pelakunya.

***

Aku menyusuri jalan penuh debu. Puskesmas tempatku mengukir kenangan bersama Raka kini tinggal kerangka. Sejak meletusnya merapi. Aku masih mencari Raka. Ia tak pernah ditemukan. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana. Setiap sudut di desa itu sudah kutelusur. Tapi hasilnya tetap nihil. Hanya air mata yang tak henti menemani. Raka, kamu dimana..

Berbulan – bulan aku mencari, Raka tetap tidak ditemukan. Aku putus asa. Tak ada gairah hidup rasanya. Tapi aku ini seorang dokter. Banyak orang membutuhkan aku, aku harus bangkit. Aku tidak bisa berlarut seperti ini. Aku selalu berdoa. Semoga Raka tenang dimanapun ia sekarang.

***

Hari ini pernikahanku. Aku dipaksa menikah tepatnya. Aku benar – benar tidak punya pilihan selain menuruti perintah ayah. Raka tak jua kembali. Mungkin takdir menentukan lain. Benarkah aku memang ditakdirkan untuk pria yang sama sekali tidak aku cintai ini? Sungguh tidak adil, pikirku. Disaat yang lain menangis bahagia karena terharu. Aku menangis karena sedih harus menjalani hidupku dengan pria yang tidak aku cintai. Sebentar lagi seluruh hidupku akan berubah. Beberapa saat lagi aku akan menjadi istri. Dan suamiku, bukan Raka.

Disaat upacara pernikahan akan dimulai. Suara klakson mobil begitu kencang memekik telinga. Kami semua terdiam sesaat. Kami serentak melihat kearah beranda. Seseorang keluar dari mobil mewah berplat nomor B. Pria tampan dengan pakaian yang terlihat begitu rapi. Itu Raka!

“Hari ini aku akan menikah dengan puteri bapak. Rumah mewah kami di Jakarta menunggu untuk ditinggali.”