062 Kecelakaan

now browsing by category

 

Bacakan Buku Cerita Untukku, Ayah!

by Husnan @dhehusnan

@rubicombro: BACAKAN BUKU CERITA UNTUKKU, AYAH! – Tak seperti dulu, kini ia mau, dengan air mata, keras sekali, di depan jasad ku.

Sudah 5 tahun ibu pergi meninggalkan ayah dengan lelaki lain. Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak ada waktu untuk istri ataupun anaknya. Aku seorang anak tunggal, seorang perempuan, berusia 7 tahun. Dengan usia segitu aku sudah harus menanggung beban pikiran layaknya anak-anak dewasa.

Kalau siang sampai sore, aku ditemani bibi yang mengurus rumah tangga kami. Ia tidak menginap di rumah, karena ia pun harus mengurus keluarganya. Ia seorang wanita tua yang berusia 60 tahun, namun masih memiliki semangat yang tinggi untuk menafkahi keluarganya. Suaminya sudah tidak dapat bekerja, 20 tahun silam suaminya ditabrak mobil yang melaju kencang dan tidak mau bertanggung jawab, sehingga menghilangkan kedua kakinya serta membutakan matanya.

Satu bulan lagi aku genap berusia 8 tahun. Aku ingin di temani ayah. Setiap malam, ketika aku hendak tidur, aku selalu meminta ayah untuk membacakan sebuah cerita pendek hingga aku terlelap. Kalau belum tertidur biasanya aku meminta ayah untuk menambah sebuah cerita lagi, atau menyanyikan sebuah lagu—atau bahkan sampai tiga buah lagu— hingga akhirnya aku terlelap. Namun, karena kesibukan ayah yang begitu padat, membuat badan dan pikirannya capek, ia membaca dengan nada rendah karena lelah.

Pernah aku memintanya untuk membacakan sebuah cerita yang sedikit panjang di hari liburnya, namun ia masih saja berkutat dengan urusan kantornya, sehingga ia pun selalu berada di ruang kerjanya. Bibiku tidak bisa membaca, ia hanya keluarga miskin yang buta huruf.

****

Seminggu sebelum hari ulang tahunku, aku sudah mengingatkan ayah untuk meluangkan waktunya, agar bisa menemaniku di malam ulang tahunku. Ia tidak tau apa yang aku inginkan. Aku hanya bilang padanya untuk meluangkan waktu untukku.

Kepada bibi aku bercerita, bahwa aku hanya ingin ditemani ayah semalaman di kamar sambil membacakan sebuah buku dengan cerita panjang, serta tidur bersama dan memelukku. Sudah sejak lama ayah tidak menemaniku tidur. Biasanya ketika ibu tidak berada di rumah, karena main gila dengan lelaki lain, ayah selalu mau menemaniku tidur.

Siang hari, aku ingin membeli sebuah buku di toko yang pernah aku singgahi sebelum-sebelumnya dengan bibi untuk membeli buku. Aku sengaja mengumpulkan uang jajan sekolahku agar dapat membeli buku tebal itu. Aku terlihat sangat girang dengan buku yang aku pegang. Aku sudah membayangkan ayah akan membacakan buku ini tepat di malam ulang tahunku. Segera aku berlari keluar menghampiri bibi di toko sebrang jalan yang sedang sibuk membeli peralatan rumah tangga kami yang masih kurang. Tanpa melihat kanan kiri, karena senangnya, aku berlari cepat. Sebuah mobil melaju dengan cepat, sekejap membuat tubuhku tersungkur dengan simbah darah di sekujur tubuhku. Mobil itu pun berhenti, sang pemiliknya meminta bibi untuk menghubungi ayahku, namun tak ada jawaban dari ayah, ia mungkin sedang rapat dengan rekan sekerjanya.

Lalu aku pun diangkat, hendak dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, aku sudah sangat tidak berdaya, dengan mata yang sedikit terbuka aku menggenggam sebisa mungkin tangan bibi, dan menangis. Bibi pun menangis, dan ternyata Tuhan sudah menyiapkan buku-bukuNya untuk dibacakan kepadaku, aku pun mati.

Bibi hanya bisa terus menangis dan menyesali kenapa ia tidak menemaniku tadi, pada saat aku membeli buku. Bibi terus menangis dengan menciumi tangan dan memeluk tubuhku yang sudah kaku. Isakan dan jeritan bibi terdengar sangat keras, bibi sangat menyayangiku.

****

Setelah senja pun ayah pulang ke rumah yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang melayat. Ayah bingung. Tanpa berbicara apa-apa, hanya memandang pilu. Orang-orang di rumah kami pun hanya terdiam membiarkan ayah masuk dan melihat tubuhku yang terbaring dan tertutupi kain dengan wajah pucat pasi.

Dengan tangisan membuncah ayah berjalan menuju ke arahku. Ia menangis sambil mengatakan kata-kata sesalnya yang selama ini sibuk dengan urusannya sendiri. Di sebelah mayatku, tergeletak sebuah buku. Bibi mendekati dan memberi tahu apa yang aku inginkan di saat ulang tahunku, yang tinggal seminggu ini. Dengan khidmat dan air mata yang diiringi isakan, di depan jasad ku, ayah membaca buku itu dengan lantang.  Bibi pun masih menangis, dan semakin menjadi.

Di atas sana, dengan senyuman aku mendengarkan ayah membaca cerita.

JANJI

Lily Mirza – @lymirza

“Kakak janji akan memainkan lagu ini saat menyambutmu kembali nanti.”

Dia menatapku dalam. Melihat ke matanya, seakan Aku membaca kalimat lain, “Kuharap masih bisa melihatmu saat kau kembali nanti.”

* * *

Akhirnya Aku mendapatkan gelar sarjanaku. Setelah 4 tahun menimba ilmu di negeri orang, Aku kembali ke kota kelahiranku, Palembang.

Tak sabar lagi ingin menagih janji pada Kak Jo. Dia pasti sudah menungguku di rumah. Sengaja Aku merahasiakan kepulanganku pada Kak Jo. Aku juga tak menghubunginya selama sebulan terakhir. Aku ingin memberinya kejutan.

Ah! Kakakku itu, kakak kesayanganku.

Kak Jo yang menjagaku sejak orangtua kami meninggal karena kecelakaan.

Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Dia yang mengajariku banyak hal, dan Aku suka sekali saat mendengarkannya bermain piano. Kata Kak Jo, dulu Ayah juga suka memainkan piano dan mengiringi Ibu bernyanyi. Wah, Aku membayangkan bahagianya jika mereka masih hidup, dan kami bernyanyi bersama di akhir pekan.

Hush.! Berhentilah berandai-andai.

“Jenny!”

Ada yang memanggilku. Aku mencari asal suara.

“Kak Ricky.!” Aku mendapati sahabat Kak Jo itu berdiri di depan pagar rumahnya,,,,, menggunakan tongkat? “Kakak kenapa?” tanyaku.

“Kamu ni nyampe lebih cepat dari perkiraan. Kok nggak banyak bawaan sih?” katanya sambil mengamati barang bawaanku. Sepertinya dia tak ingin menjawab pertanyaanku.

“Yee emangnya mau bawa apaan lagi?” Aku memutuskan tak melanjutkan pertanyaanku tadi.

“Siapa tahu mau bawain oleh-oleh buat Aku. Haha.”

Aku mencibir. “Huu, rugi ah bawain oleh-oleh buat Kak Ricky. Kalo buat Kak Jo, banyak! Nanti minta aja ya sama dia. Hehe.”

Kak Ricky diam. Raut mukanya berubah. Entahlah, Aku malas menanyakannya.

“Yaudah, Kak. Aku pulang dulu ya. Udah kangen ni ama Kak Jo.”

Kak Ricky mengangguk sambil tersenyum, dan Aku pun beranjak pergi.

Sesampainya di depan rumah, kulihat pagarnya terkunci. Mungkin Kak Jo lagi pergi. Kupakai kunci yang kubawa, lalu masuk ke rumah.

“Ih, Kak Jo kok jadi jorok sih. Banyak debu dimana-mana. Kayak lama gak dihuni aja deh ini rumah,” gumamku.

Biasanya Kak Jo rajin membersihkan rumah. Kamarnya pun selalu bersih dan rapi. Makanya, Dia suka marah-marah kalau datang ke kamarku yang berantakan.

Ya sudah, Aku tunggu saja sampai Kak Jo pulang.

* * *

Sudah malam, dan Kak Jo belum juga pulang.

Aku duduk sendiri bersama hidangan makan malam yang khusus kubuatkan untuk Kak Jo.

Kutelepon ponselnya. Mati.

Huh, Kak Jo kok gitu sih. Pake dimatiin segala ponselnya.

Melihat makanan yang mulai dingin, Aku beranjak ke ruang tamu. Duduk di kursi dan mengintip keluar, siapa tahu Kak Jo tiba-tiba datang.

Tak ada!

Aku melihat sekeliling ruangan. Tatapanku berhenti saat kulihat piano Kak Jo tertutup rapi dengan kain.

“Tumben Kak Jo pergi sampe pianonya ditutupin gitu,” batinku. Dia hanya begitu kalau mau pergi jauh dalam waktu yang lama.

Aku terdiam. Mendadak hatiku tak nyaman.

Aku pergi ke rumah Kak Ricky.

“Kak, tahu nggak Kak Jo pergi kemana?” tanyaku tak sabar.

Kak Ricky diam.

“Ayo ikut Kakak.” Ditariknya tanganku, masuk ke mobil dan menyuruh supirnya mengemudi entah kemana.

“Mau kemana sih, Kak?” tanyaku lagi.

Kak Ricky diam, sampai kami tiba di depan sebuah rumah sakit.

“Kak Jo di sini? Sekarang dia kerja di sini?” Aku berusaha membuang fikiran buruk mengenai kemungkinan Kak Jo bukannya bekerja, tapi di rawat.

“Ayo.” Kak Ricky keluar dari mobil dan mengajakku masuk ke rumah sakit itu.

Sampai tibalah kami di suatu ruangan.

Aku terdiam melihat tubuh yang terbujur kaku di atas tempat tidur, lengkap dengan alat-alat medis.

“Kak Jo.”

Tangisku pecah. Tak tertahankan lagi. Aku duduk disamping tempat tidurnya, memeluknya erat seolah tak ingin kulepas. Kuciumi wajah yang lama tak kulihat itu. Damai, tak ada respon darinya.

“Kenapa nggak ngasih tahu Aku?” gumamku.

“Dua minggu yang lalu kami pergi bersama ke acara reuni SMA. Menjelang tengah malam, di perjalanan pulang, kami mengalami kecelakaan. Dari kami berenam, Jo dan Dani yang masih koma. Kamu lihat kan keadaanku sejak kecelakaan itu?” Kak Ricky menjelaskan.

Aku masih menangis. “Kenapa nggak ngasih tahu Aku?” kuulangi pertanyaan itu.

“Ponsel Jo hilang. Aku nggak tahu gimana cara ngasih tahu Kamu,” Jawab Kak Ricky.

Aku menangis semakin keras. Dulu Ayah dan Ibu direbut dariku dengan cara seperti ini. Aku takut ini juga yang akan merebut Kak Jo dariku.

* * *

Aku duduk di depan piano Kak Jo. Kudengarkan rekaman lagu-lagu yang pernah Kak Jo mainkan untukku.

Kak Jo sudah mengingkari janjinya. Dia pergi sebelum menyambutku dengan lagu yang dulu dia janjikan.

Kemarin Kak Jo dimakamkan di dekat pusara Ayah dan Ibu. Aku menangis, merasa begitu kehilangan orang yang sangat dekat denganku.

Aku menyesal telah berencana memberinya kejutan dengan tidak menghubunginya selama sebulan sebelum kepulanganku. Ternyata Aku yang dibuatnya terkejut.

“Kak, mana lagu yang Kakak janjiin dulu? Kakak kan gak pernah ingkar janji sebelumnya. Ini pertama kali lho Kak. Dan Aku gak suka janji ini gak Kakak penuhi, karena Aku udah nunggu sejak kepergianku dulu.”

Mataku menatap kosong ke piano di depanku. Perlahan kubuka kain yang menutupinya.

Apa itu?

Ada amplop putih di atas piano Kak Jo. Terbaca tulisan “Dear, My Lovely Sister.”

Kubuka segera amplop itu. Buatku! Ya, ini pasti buatku!

Ada sehelai kertas dan flashdisk di dalamnya.

Adikku sayang, nggak tahu kenapa, rasanya Kakak pengen aja nulis surat ini.

Kakak tahu Kamu lagi ngurus tugas akhirmu. Itu artinya, sebentar lagi Kamu pulang kan?!

Makanya, Kakak udah siapin lagu yang dulu Kakak janjiin buat menyambut kepulanganmu.

Tapi, Kakak takut gak bisa main langsung di saat kamu pulang. Belakangan Kakak males main. Kamu nggak ada sih, Dek, buat dengerin Kakak main.

Makanya, Kakak rekam aja ya. Kamu dengerin deh di flashdisk ini.

Lagu kesukaanmu itu, yang akan menyambut kepulanganmu kembali ke rumah ini.

Cium kangen dari Kak Jo-mu.

Aku terisak. Kak Jo menepati janjinya.

Dan Aku tak perlu lagi menagih janji itu.

Malam Pernikahan

by Adellia Rosa @adelliarosa

Flatsku terletak di depan sebuah danau kecil yang indah. Sekarang sedang musim dingin, dan danau itu  membeku. Permukaannya berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari. Aku tersenyum melihat pemandangan itu, yang setiap hari kulihat dari balik jendelaku. Pagi ini semua tampak seribu kali lebih indah daripada biasanya. Semalam Robert baru saja melamarku, dan sekarang ia masih terlelap dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.

“Kau mau menikah denganku?” bisik Robert sembari berlutut. Satu tangannya meraih jemariku, tangan yang lainnya menunjukkan cincin bermata biru itu kepadaku. “Kau melamarku?” tanyaku setengah tergelak, tak percaya Robert benar-benar melakukan ini. Robert memberengut, “Kenapa kau tertawa? Aku serius Maria,” ucapnya pasti. Aku tertegun sejenak, kemudian merasa begitu bahagia sampai tak bias berkata-kata. Aku hanya mampu mengangguk, dan dengan bergetar jemari Robert memasangkan cincin bermata biru itu di jari manisku.

Dua tahun ini aku menghabiskan waktuku bersama Robert. Lelaki tampan dengan rambut cokelat dan mata hazelnya yang indah. Aku jatuh cinta pada deru nafasnya saat menciumku, pada aroma tubuhnya yang memabukkan, pada senyumannya yang cemerlang, serta pada pelukannya. Aku mencintai pria yang luar biasa, aku mencintai pria yang juga jatuh cinta kepadaku.

“Jadi kapan kau menikahiku?” ujarku sembari membelai bahu Robert yang baru saja terbangun dari tidurnya. Robert tersenyum lembut, lalu menarikku kedalam pelukannya. “Kapanpun kau siap sayangku..” bisiknya. Kamipun kembali bergumul, mencairkan suasana pagi yang beku dengan ciuman-ciuman yang membara.

**

“Jadi pernikahan seperti apa yang kalian inginkan?” Tanya seorang wedding planner yang juga sahabat Robert. Aku melirik Robert, mengangkat sebelah mataku sebagai ajakan untuk berunding. Robert mengelus punggung tanganku. “Kau yang menentukan semuanya,” katanya. “Kau serius?” tanyaku dengan mata berbinar-binar. Sejak dulu, aku memang bermimpi untuk merancang sendiri pesta pernikahanku. Robert mengecup pipiku sekilas, lalu berjalan menjauhi kami sambil menyalakan rokoknya.

“Aku ingin memakai gaun victorian berwarna gading, membawa seikat bunga mawar merah muda yang lembut. Disisiku Robert mengenakan tuksedo, dan oh ya dia pasti sangat tampan. Aku ingin rambutku disikat sehalus rambut para ratu, dan mengenakan sepasang sepatu dari beledu,” suaraku terdengar begitu nyaring dan bahagia. Amanda, nama wedding planner itu terus menerus tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Jemarinya dengan lincah mencatat setiap kata ayang meluncur dari bibirku.

“Mengingat salju akan mencair 3 bulan lagi, sempurna rasanya jika kami menikah di taman rumput terbuka. Altar perkawinan dihiasi oleh bunga mawar, dan ya aku ingin perkawinanku bernuansa pastel yang lembut. Piano terletak di sudut taman, dan para tamu berdansa dengan irama klasik yang merdu.” Amanda masih mengembangkan senyumannya dan mencatat dengan lincah. Aku memutar otak, apalagi yang kuinginkan dan belum kusebutkan. Kurasa sudah cukup, hal-hal yang lain kupercayakan pada Amanda.

“Aku akan menjadikan pernikahanmu lebih daripada yang kau impikan,” ucap Amanda optimis, tangannya mengelus punggung tanganku. “Aku percaya padamu. Kau wedding planner terbaik di kota ini, kau juga sahabat Robert. Aku yakin pernikahanku akan sempurna ditanganmu,” ucapku. Senyum lebar menghiasi wajahku. “Baiklah, kutelpon jika gaunmu sudah siap ya!” lanjut Amanda. Aku mengangguk seraya berjalan riang kearah Robert yang sudah menungguku.

**

Dua bulan yang luar biasa sibuk. Setiap hari Amanda menelponku, menanyakan detail pernikahan. Mulai dari kue pengantin, hidangan untuk tamu, mengukur badanku di penjahit gaun, memesan sepatu, mencari bunga mawar yang sesuai, menanyakan jumlah tamu yang akan kuundang, dan bahkan dia menyuruhku untuk berdiet! Katanya aku harus tampil sempurna di hari pernikahanku. Belum pernah hari-hariku segila ini. Robert merasakan hal yang sama, dia harus mengukur badannya di penjahit juga, menemani Amanda mencari sepatu yang tepat untuknya, mencari taman yang sempurna, menghubungi pendeta, dan lain sebagainya. Hampir gila kami berdua dibuatnya.

Telepon seluler Robert kembali berdering untuk ketiga kalinya pagi ini. Dia membiarkannya begitu saja. Sama, teleponku juga terus menerus berdering. “Aku masih merasa seharusnya kita mengangkat telepon itu Robert.” Kataku, menempel erat ditubuhnya. “Amanda tidak pernah membiarkan kita bebas sedikitpun sayangku. Ini pernikahan kita, aku tak menyangka kita begitu sibuk dibuatnya,” kata Robert setengah tergelak. “Aku ingin pernikahan kita sempurna sayang.. tapi tentu tidak segila ini,” ujarku, ikut tergelak bersama Robert. Robert menatap mataku serius, “Ini adalah pernikahan paling sempurna sepanjang jaman.”

**

Seminggu menjelang pernikahan. Aku dilanda stres luar biasa! Dunia tampak jungkir balik dihadapanku. Aku merasa seperti bebek buruk rupa saat mengenakan gaun pengantinku. Ibuku bahkan terus menerus menelponku menanyakan persiapan pernikahanku. Ya Tuhan, apa sebaiknya kami menikah di gereja kecil saja? Tanpa pesta? Diam-diam?

Ini bahkan sudah jauh malam dan aku tak sanggup membayangkan bagaimana pestaku nantinya. Meriahkah? Atau justru berantakan? Apakah aku akan terlihat sempurna? Syukurlah, aku memiliki Robert. Dialah satu-satunya duniaku yang normal. Tidak jungkir balik seperti yang kulihat karena pesta pernikahan. Sekali lagi, nama Amanda muncul di layar ponselku. “Maria! Demi Tuhan, kemarilah, lihat. Apakah seperti ini sepatu yang kau inginkan?” suara serak Amanda memberondong begitu aku mengatakan “Halo..”

Benar. Persiapan pernikahan ini gila! Aku memandang kosong kesekelilingku. Robert tertidur pulas disampingku. Aku mendadak tersenyum, segila apapun persiapan pernikahan ini, semuanya akan terbayar saat hari itu tiba. Saat aku menjadi Ny. Robert dan disaat itu, kami yang awalnya berdua, akan menjadi satu, dihadapan Tuhan. “Oke Amanda, besok pagi aku kesana..’ lalu aku tertidur pulas dan bermimpi pernikahanku berjalan sempurna.

**

Besok, pestaku akan digelar. Bunga-bunga musim semi mulai bermekaran. Taman sudah dipersiapkan, lengkap dengan piano putih dan bunga-bunga bernuansa pastel yang lembut. Altar pernikahan terlihat cantik dan mempesona. Aku puas melihat hasilnya, dan malam memang belum terlalu larut, Amanda mengajakku ke kafe dan kami terus berbincang-bincang.

“Besok hari pentingmu Maria. Kuucapkan selamat!” Kata Amanda bersemangat sambil menyorongkan segelas kopi ke arahku. Aromanya sungguh menggoda. “Terimakasih Amanda, kau membantuku mewujudkan semuanya,” aku tersenyum tulus, dan kami berpelukan. Kami sudah menjadi sepasang sahabat sekarang. “Pulanglah, kau tidak ingin ada kantong mata di matamu kan besok? Pagi-pagi benar aku akan datang membawakan gaunmu dan membawa beberapa tukang rias. Persiapkan harimu!” ucap Amanda. Kulihat binar kebahagiaan ikut mengisi wajahnya. Aku ikut tersenyum bahagia, lalu melambaikan tanganku dan mulai berjalan menuju flatsku.

**

Syukurlah aku tidak bangun kesiangan, setelah tidur yang kurasakan sedemikian panjang. Hari masih gelap rupanya, matahari belum juga menampakkan sinarnya. Aku bersiap menunggu kedatangan Amanda dan beberapa tukang riasnya. Robert bahkan sudah tidak ada diranjang, mungkin dia sedang bersiap memakai tuksedonya, di flatsnya sendiri. Aku tak ingat saat pulang semalam apakah ada Robert disini atau tidak. Sepertinya aku begitu kelelahan, dan langsung tertidur begitu badanku menyentuh ranjang bulu angsaku.

Satu jam, dua jam, tiga jam. Amanda tak kunjung datang, bahkan aku tak bisa menghubungi Robert. Sepertinya tanganku menembus setiap benda yang kusentuh. Ah aku berimajinasi karena kelelahan. Panik mulai melandaku, ini hari pernikahanku! Kemana perginya semua orang? Aku menatap danau yang sudah tidak membeku dihadapanku. Mendadak tersadar suasana begitu terasa sepi, dan tubuhku terasa begitu ringan seakan melayang.

Robert datang bersama Amanda dengan wajah berduka dan berlinangan air mata. Amanda membawa bingkisan gaun ditangannya. “Robert, kau yakin mau kesini?” bujuk Amanda lirih. “Hey! Ada apa ini! Robert! Ini hari pernikahan kita kan?” teriakku. Robert bergeming. “Amanda! Mana tukang riasmu? Lihat matahari mulai muncul! Pernikahanku sebentar lagi!” Amanda juga membisu, airmata tak henti-hentinya membanjiri kedua pipinya. Ada apa ini?

“Maria..” bisik Robert terluka dan berlinangan airmata, meredam teriakan dan pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari bibirku. Dipeluknya selembar bajuku yang berlumuran darah. Bajuku! Baju yang kukenakan semalam. Pandanganku berkunang-kunang. Kurasakan diriku memudar perlahan. sayup-sayup kudengar suara reporter tivi lokal menayangkan berita kecelakaan semalam.. “Seorang gadis muda berambut pirang tewas tertabrak minibus yang meluncur dengan kecepatan maksimum didepan jalan flatsnya di seberang danau. Menurut kepolisian, gadis malang bernama Maria  tersebut ditemukan dengan kondisi tubuh remuk dan mengenaskan. Keluarga korban…..”

Aku yang Aneh

by. Adyta Purbaya / @dheaadyta

Kau boleh menganggapku aneh. aku tidak pernah suka dengan yang namanya keramaian. Bunyi bising itu sangat menganggu bagiku.

jangan harap menemukan ku di Mall, Bioskop, atau tempat hiburan lainnya saat liburan. Aku akan lebih memilih berdiam diri di dalam kamar sempit ku, membaca buku, sepanjang hari.

Aku suka membaca buku, tapi tidak apabila di perpustakaan.

Oke, perpustakaan tidak pernah bising. Tapi aku benci keraiaman. Perpustakaan ramai, banyak orang. Aku tidak suka.

Aku lebih suka membaca buku di dalam kamar ku, sekali lagi, meski sempit. Tapi jauh dari bising, apalagi keramaian..

Tapi sekarang,

aku sudah sangat jauh dari kebisingan. Aku bahkan (mungkin) tidak akan pernah terganggu dengan keramaian lagi.

Seminggu yang lalu, sebuah truk menabrak tubuhku yang hendak menyebrang jalan. Sangat kencang. dan, Sakit.

Aku lupa apa yang terjadi setelahnya. aku tidak ingat apapun. Hanya sakit yang terasa.

Dan ketika aku tersadar kemudian.

Semua nya Gelap dan Hening..

Aku buta… dan tuli…

Kecelakaan itu merusak indera pendengaran dan penglihatan ku.

Haruskah aku bersyukur? Karena akhirnya sekarang aku tidak akan pernah terganggu karena bising dan keramaian?

Firasat

by Bunga S. Putri @bunga_sp

Kemarin samar – samar aku melihat seekor burung terbang melintas di kepalaku kemudian ia menjauh dan seketika jatuh dan mati. Hari ini bayanganku terlihat sedang bermain layang – layang dan seketika talinya putus. Layang – layangku menjauh terbawa angin. Jauh semakin tak terlihat lagi sampai akhirnya hilang entah kemana. Aneh pikirku, apa maksud dari semua ini. Pertanda apa ini ya Tuhan. Mudah – mudahan bukan sesuatu yang buruk, batinku.

Suamiku, Yoga tak pernah percaya akan hal – hal yang berbau tidak pasti seperti yang aku rasakan. Aku yang terbawa pikiran terus tentang bayangan samar yang aku lihat, sementara ia hanya menganggapnya angin lalu semata. Sudahlah akupun tak mau ambil pusing. Aku berusaha melupakan semua secara perlahan. Tapi bayang – bayang itu tetap menghampiri benakku dan aku mulai merasa tidak nyaman dengan semua ini. Burung kecil yang tiba – tiba jatuh dan mati. Serta layang – layang yang putus dan menghilang.

***

Tiga bulan berlalu sejak bayangan aneh menghantuiku. Belakangan ini sudah tidak lagi muncul. Tidak ada hal buruk terjadi padaku atau Yoga. Aku lega.

“Mas, aku hamil.” – ucapku memberi kejutan saat Yoga sampai di rumah sepulang kerja.

“Benarkah sayang? Kita akan mempunyai seorang anak? Terima kasih Tuhan, terima kasih Liana!” – jawab Yoga seraya memeluk dan mengecup keningku.

Kami memang sangat menantikan kehadiran seorang anak dalm rumah tangga kami. Ini sudah tahun kedua pernikahan kami dan kehamilanku membuat aku dan Yoga begitu bahagia. Sembilan bulan lagi akan hadir malaikat kecil ditengah kami. Tidak sabar rasanya menanti kehadiranmu nak.

Setiap bulan kulalui dengan penuh perhatian pada calon bayi kami. Begitu juga Yoga. Sampai hampir bulan kesembilan. Aku tidak tahu harus merasa sedih atau senang. Hari ini Yoga harus berangkat ke luar negeri untuk training promosi jabatan. Disatu sisi aku bangga akan loyalitas kerja suamiku sampai – sampai ia akan dipromosikan sebaga ketua direksi perusahaan. Tapi beberapa minggu lagi aku akan melahirkan buah hati yang sudah kami tunggu sejak lama. Haruskah aku sendiri tanpa Yoga? Entahlah.

“Tenang sayang. Hanya dua minggu. Dan aku pasti akan disampingmu saat bayi kita lahir.” – ucap Yoga menenangkan aku.

***

Aku tidak sabar menunggu kepulangan Yoga. Hari ini ia akan pulang dan beberapa hari lagi kami akan menimang seorang puteri. Cantik pastinya. Aku menunggu Yoga dirumah saja sambil menonton televisi. Karena dengan kehamilanku tidak mungkin aku menjemput Yoga.

“Ya Tuhan….” – aku terdiam melihat siaran televisi itu. Hanya airmata yang mengalir deras. Pesawat yang ditumpangi Yoga terjatuh di sebuah hutan. Dan dipastikan siaran berita tadi semua penumpang tewas.

Seketika perutku terasa begitu sakit. Dan semua menjadi gelap.

***

Aku sudah berada di rumah sakit ini saat terbangun. Ibuku ada disampingku.

“Kau sudah sadar Liana.” – sapa ibu.

Aku merasakan ada yang hilang dari tubuhku. Janin yang selalu kubawa selama sembilan bulan. Rahimku terasa kosong. Tidak!

“Bu mana anakku?”

Tak ada jawaban dari ibu. Ia hanya menatapku dengan tatapan pilu dan terdiam. Airmatanya menetes.

“Bu ada apa dengan anakku!”

Tetap ia tak menjawab.

“Bu tolong katakan padaku apa yang terjadi pada anakku!!” – aku semakin kacau.

“Puterimu ikut bersama Yoga nak. Relakan agar mereka tenang.”

Aku teringat bayangan – bayangan yang pernah melintas beberapa waktu lalu. Mungkinkah itu firasat buruk. Aku hanya bisa menangis dan berteriak sekarang.

Pada suatu hari..

by Aditya Nugraha @commaditya

Dia terus berlari terengah-engah, gerombolan orang di belakangnya tak mau kalah berhenti.
Seiring, handphone di kantongnya terus berdering. Reject, lalu dia terus berlari.
Beberapa saat, handphone itu kembali berdering.
“Ah dia lagi..” Gerutunya sambil terus berlari, melihat nama yang sama di layar.

SHELVI

Wanita itu tak sabar, berkali-kali hpnya bolak-balik telinga. Sesekali dia menggerutu.
“Uuh, lama banget!” Dia menelpon lagi.
Tidak diangkat.
Dia buka lagi sms kekasihnya.
“Sayang tunggu ya, sebentar lagi sampai”

PRAM

Send message. Lalu dia memacu kendaraannya.
“Sial, 10 menit lagi..”
Tanpa dia sadari, sebuah mobil menghalang saat pandangannya kembali dari handphonenya.
“Tuhan..”

ADIT

“Astaga, kecelakaan..”
Kudekati mobil itu, lalu kuambil handphone yang berdering di tangan pengemudinya.
Lumayan..”

HEI!!

Cincin yang Terpisah

by Andy Saputra – @creandivity

Aku sedang memandangi cermin di depanku. Senyum merekah lebar di sana. Ada seorang putri yang cantik, mengenakan gaun putih dilengkapi tiara kecil di kepalanya. Di belakangnya, beberapa putri lain juga terlihat bercanda menggoda sang pengantin. Melepaskan masa lajangnya hari ini. Suasana pun terlihat ikut berbahagia. Siraman sinar matahari memasuki kamar tersebut, menimbulkan bayangan silhuet jendela yang indah. Pengantin wanita itu namanya Dini. Dan layaknya segerombolan wanita-wanita yang masih muda, sifat narsisme masih ada dalam benak mereka. Kini, mereka sibuk saling mengabadikan gambar di ponsel mereka masing-masing.

“Kring-kring”, bunyi ringtone berdering dari ponsel Dini, sang putri pada hari pernikahannya itu. Sebuah video call, tertulis nama penelpon, “Alvin Sayang”. Ah, sang pengantin pria sudah tidak sabar melihat wajah istrinya ternyata. Yah, sebenarnya mereka sudah resmi menikah di Gereja tadi pagi. Hanya saja, resepsi pernikahannya masih akan dilangsungkan pada malam harinya. “Halo sayang”, itulah ucapan yang terlontar dari mulut Alvin untuk Dini, dengan mulut mencucu mesra, seolah ingin mencium Dini. Selalu romantis, dan lucu, itulah arti Alvin buat Dini. Dan seketika, riuh-riuh godaan dari teman-teman Dini mulai membahana, hingga Dini terpaksa berpindah tempat untuk bermesraan dengan suaminya.

30 menit telah berlalu. Wajah Dini semakin sumringah tatkala berkumpul kembali dengan teman-teman yang menemaninya. Yah, gombalan romantis Alvin mungkin sudah menancap di benak Dini. Namun, Alvin bukanlah tukang gombal yang besar mulut saja. Dia berani menggombal berani berbuat. Itulah yang membuat Dini jatuh hati pada gentleman itu. Ketika Alvin melakukan pendekatan dengan Dini, dia pernah berujar bahwa dia akan menembak calon kekasihnya di sebuah taman bunga, taman yang penuh dengan bunga mawar. Dan benar saja, beberapa minggu sesudahnya, Alvin meminta Dini untuk menjadi pacarnya. Settingnya di rumah Dini. Lantas, apa yang membuat Dini meleleh hatinya ? Yah, taman di rumah Dini telah disulap oleh Alvin. Semuanya penuh dengan mawar, merah dan putih. Tidak ada warna hijau sedikitpun. Sedikit nasionalis mungkin, warna merah putih. Tapi begitulah cinta Alvin kepada Dini. Merah menggelora, namun putih nan suci.

4 tahun sudah berlalu sejak hari itu. Kini mereka akan menyatukan diri, membentuk sebuah keluarga kecil yang baru. Sambil menatap cincin pernikahan yang ada di jarinya, Dini mulai tersenyum sendiri. Membayangkan keluarga kecilnya, anak-anak yang lucu, rumah kecil nan nyaman, taman yang ditanami berbagai macam pohon kecil dan bunga. Siapa yang tidak ingin memiliki itu semua ? Betapa beruntungnya dirinya, pikir Dini.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa. Sama halnya dengan hari-hari biasa di bumi, matahari pun tak kuasa bertahta di siang hari terus menerus. Senja mengantarkan sang surya ke peraduannya. Hari sudah semakin gelap. Dan kini Dini bingung. Kekasih pujaannya tidak bisa dihubungi, sementara 1 jam lagi mereka sudah harus menghadiri resepsi pernikahan mereka. Gelisah tampak jelas di matanya. Jangan-jangan ada sesuatu hal yang terjadi pada Alvin ? ataukah ini hanya salah satu kejutan Alvin yang romantis lagi buat dirinya ? Entahlah.

Tidak bisa menunda waktu lagi, petugas-petugas EO acara resepsi ini meminta Dini segera bersiap-siap dulu, membetulkan make-upnya, merapikan gaun, dan lain-lain. Serangkaian prosesi yang melelahkan, pikirnya. Belum lagi muncul suaminya. Mana bisa dia duduk diam dan tenang, membiarkan rambut dan wajahnya diperindah, sementara hatinya gundah gulana.

Tidak lama kemudian, Dini telah siap. Siap secara lahiriah. Namun, batinnya semakin berdegup kencang. Semakin tegang, cemas, semua bercampur menjadi satu. Temannya yang melihat menjadi cemas juga, segera membuka televisi untuk mencairkan suasana. Pertama kali dibuka, terlihat acara ‘News Update’, yang menampilkan berita-berita terbaru saat itu juga. Mereka melihat berita tentang kecelakaan mobil. Temannya segera mengganti channel sambil berkata, “Pamali Din, hari pernikahan nonton kecelakaan gitu”.

Namun, Dini tidak pernah lupa. Mobil Mercy hitam, dengan bunga mawar berwarna merah itu. Mobil yang mengangkutnya ke Gereja tadi siang, untuk meresmikan pernikahannya di mata Tuhan. Dia pun semakin histeris, sambil berteriak,”Eh, kembalikan channel tadi. Itu mobil yang aku naiki tadi pagi!!!”. Teman-temannya segera terperanjat, seraya mengembalikan channel ke berita kecelakaan tadi. Dini pun langsung berdiri, mendekati televisi.

Mendengarkan kata reporter itu, melihat sendiri kecelakaan yang menjungkir-balikkan mobil itu, membuat Dini hancur seketika. Dia jatuh lunglai, dengan lutut masih menopang badannya. Air mata segera meleleh dari kedua matanya. Melunturkan semua riasan nan ayu. Dia melihat sesuatu yang tidak diinginkannya. Seorang pria di dalam mobil itu, samar-samar terlihat mengenakan cincin yang serupa dengan cincin di jari Dini. Tatapan Dini sejenak kosong, menatap ke cincin di jarinya.

Apakah selama ini semua yang dialaminya hanyalah mimpi indah yang berujung kenyataan pahit ? Ataukah kecelakaan tersebut hanya mimpi buruk dari sejumlah kenyataan hidup yang indah ? Dini tidak tahu dengan pasti. Kesadarannya mulai menghilang, seiring dengan pudarnya mimpi indahnya. Hitam. Kelam.

Dering

by Naomi Arsyad @NaomiArsyad

“Kring.. Kring”

“Kriiiiiiiiing… Kriiiiiiiiiing”

Entah sudah berapa kali aku meneleponnya. Tapi suaranya yang hangat itu tak pernah menyapaku. Kenapa? Kucoba lagi, lagi dan lagi. Nihil.

Kemarin tanggal 31 Desember. Ia tidak datang ke pesta pergantian tahun. Padahal Aku sudah menunggunya. Aku ingin bilang sesuatu yang sudah kusimpan sendiri selama ini. Tapi tidak, dia tidak muncul di pintu. Tidak, aku tidak dapat melihat senyumnya malam itu. Kupandangi kue coklat favoritnya dikulkas dan lilin “17” tergeletak disampingnya. Mana dia? Jika malam ini dia tak datang, aku tak akan pernah punya keberanian lagi untuk mengatakan hal ini.

“Kriiiiiiing” Ponselku berdering lagi, tapi bukan kamu, sayang. Bukan, ini hanyalah teman-teman yang bertanya apakah kau datang? Apa aku sudah mengatakannya padamu? Tapi jawabanku masih sama,”Tidak, dia tak disini.”

Kembang api yang menghiasi langit malam saat itu sungguh cantik. Paling tidak, kealpaan bintang-bintang masih bisa ditolerir. Aku sedih, kecewa, bingung. Seluruh emosi itu bercampur aduk dalam dadaku. Aku ingin berteriak,”Dimana kamu? Apa kamu masih membenciku?”

“Kriiiing…Kriiiiiiing”

Saat ini aku masih terus menekan tombol hijau di ponselku. Berjalan tak tentu arah, menunggu suaramu balas menyapaku. Tapi toh semua sia-sia. Huh, cara mengawali tahun yang buruk. Kenapa kamu tak berhenti membenciku? Kamu membenciku kan? Kalau tidak, kau tak akan membiarkanku kehilangan kesabaran, kehilangan harga diri karena akhirnya, akulah yang berusaha setengah mati ingin bicara padamu.

“Kriiiiiiiiiiiiiiiiiing…”

Itu suara dering ponselmu. Ponselmu? Kenapa aku bisa mendengarnya? Ah! Itu kamu! Sedang apa kau berbaring di tengah jalan seperti itu? Kenapa orang-orang mengelilingimu? Kenapa banyak cairan merah di kaki mereka? Kenapa? KENAPA?

Aku berlari ke sampingmu, mendorong orang-orang yang hanya menatapmu dan tak berani menyentuh ponselmu yang tak kunjung berhenti menjerit. Seperti hatiku, tak dapat berhenti menjerit melihat keadaanmu

“Maaf.”, katamu, “Aku tidak pernah membencimu, aku terlalu malu untuk bilang kalau Aku mencintaimu”

Dering ponselmu berhenti, bersamaan dengan berhentinya detakan jantung orang yang paling kucintai. Detak jantung orang yang ternyata juga mencintaiku, berhenti, setelah genap 17 tahun berdetak.

Kutekan tombol hijau di ponselku, meneleponmu.

“KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNGGGG”

Kutatap mata yang kosong dipangkuanku. Berharap sinarnya kembali lagi, mengangkat teleponnya dan mendengarkan suaraku mengatakan hal yang selama ini kusimpan sendiri,”Aku juga mencintaimu.”

212

by Lia Sirait @echieLIA

Kami sangat gembira dengan kemenangan kami sebagai Juara Tim Debat antar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik se-provinsi. Hari ini baru saja kami sepakat mengenakan t-shirt kemenangan Tim ke kampus.

Sore hari, setelah hampir semua anggota tim selesai kuliah kami sepakat untuk berkumpul di sekitar tangga gedung D kampus. Lusi, Luki, Noel, Che, Yanto, Rey sudah berkumpul lebih dulu, Nesia, Sari, dan aku menyusul setelah mampir ke Sekretariat Fakultas sebentar, dan akhirnya yang paling akhir muncul Ita.

“Aduh, gue gak biasa pakai kaos ngepas badan begini.” Ita datang sambil mengoceh.

“Woy! Udah paling telat pakai acara protes segala.” Kata Rey menyahut ocehan Ita.

“Ah, gak kekecilan kok. Jatohnya bagus di badan lo. Itu kan ukuran “M”, kita pesan sesuai ukuran yang kalian pilih masing-masing lho.” Kata Sari sambil memandangku karena kami berdualah yang mengurus pemesanan t-shirt ini.

Perdebatan kecil ukuran baju Ita itu pun selesai begitu saja ketika acara sesi foto dimulai. Tidak ada kamera profesional, kami cukup memakai kamera dari ponsel kami masing-masing. Berbagai gaya andalan kami peragakan di tangga, juga di bangku samping tangga.

Kami cukup kompak, dengan tim yang baru terbentuk beberapa bulan ini. Mungkin karena sebagian besar dari kami satu angkatan di kampus. Ada tiga orang saja yang beda angkatan, Okky dan Alfi senior kami, juga Suryo junior kami, kebetulan ketiganya tidak ikut sesi “narsisme” ini.

Jika debat kaos Ita tadi dilanjutkan bisa jadi sangat panjang. Maklum kami kan anggota tim debat yang siap mempertahankan argumen masing-masing kepala atau berdasarkan keterpihakan. Dua kubu saja yang biasanya muncul dalam debat, kubu pro dan kubu kontra. Selain itu anggota tim debat ini terdiri dari berbagai suku ada Batak, Ambon, Cina, Jawa, Manado dan Sunda, jadi gaya debat kami lengkap.

Che ada keperluan bertemu dosen, Yanto sebagai pacarnya mau mengantarnya ke ruangan dosen. Yang lain tidak mau berpisah, dan kami pun berbondong-bondong mengikuti langkah Che dan Yanto.

Hari ini dari cerah sampai mendung kami habiskan di kampus. Kami tertawa bersama, dari berguyon, saling ledek sampai cukup serius membicarakan materi kuliah dan buyar lagi karena selalu saja ada yang bercanda di tengah pembicaraan kami. Dan, Ita seringkali menjadi bahan guyon kami hari ini.

Saat Che dan Yanto masuk ke ruangan dosen, kami menunggu di ruang tunggu sekretariat. Sempat kena tegur karena suara kami terkadang cukup membisingkan ruangan dua kali empat meter itu.

Setiap dosen yang lewat kami sapa, saat itu sudah agak sepi karena jam perkuliahan rata-rata sudah habis pulkul tiga sore.

Urusan Che dengan sang dosen pun selesai, kami beramai-ramai turun menggunakan elevator. Dan di dalam lift pun kami membuat keributan, sibuk berfoto di ruang seluas satu meter kuadrat itu. Ada Ibu Margaret dosen kami, tapi malah kami ajak foto bersama hingga ia salah tingkah. Untung saja lift tersebut tidak sampai rubuh akibat kehebohan kami, usianya pasti cukup tua karena ruang dosen berada di gedung tertua kampus kami.

Setelah sempat ke kantin yang mulai sepi, untuk beli minuman sambil duduk-duduk beberapa dari kami pun berpisah. Nesia ada kuliah tambahan, karena pulang bersama aku dan Sari menunggu Nesia ditemani Rey dan Noel.

Akhirnya kami pun pulang dengan kelelahan menemani keceriaan masing-masing. Beberapa teman yang pulang lebih dulu mungkin sudah berleha-leha di tempat tinggal mereka. Aku dan Nesia bertetangga dan kami sampai rumah sekitar pukul tujuh malam.

Foto-foto di kampus kulihat-lihat lagi sambil merebahkan diri di atas tempat tidur. Tiba-tiba sebuah sms masuk, dari Ovi salah satu teman kampus yang adalah teman baik Ita. Ovi memberitahu bahwa Ita mengalami kecelakaan. Tentu saja aku terhentak dan langsung duduk dengan panik. Tidak berapa lama kabar itu sudah menyebar di antara teman-teman kampus. Aku dan Nesia pun saling berkabar lewat telepon.

Kabarnya Ovi mendapat sms dari tantenya Ita, bahwa Ita mengalami kecelakaan saat turun dari bis. Ia ditabrak motor, dan langsung saja dibawa ke rumah sakit terdekat.

Tentu saja ini kabar buruk yang mengagetkan, khususnya bagi aku dan teman-teman tim debat yang terakhir bersama-sama Ita di kampus. Masih kuingat aku tertawa saat anak-anak yang lain berguyon tentang Ita, apakah itu pertanda kecelakaan ini.

“Apakah sore tadi adalah saat-saat terakhir kami bersama Ita?” tiba-tiba terlintas di benakku.

Belum lagi tiba-tiba teringat t-shirt­ yang menurut Ita kekecilan baginya justru menjadi pakaian yang melekat pada kecelakaan yang menimpanya.

“Lo yakin gak bisa ikut ke rumah sakit?” tanyaku pada Nesia di telepon.

“Iya, gue memang masih agak pusing, tapi gue juga khawatir keadaan Ita. Apalagi anak-anak berharap kita bisa jenguk dan kasih kabar ke mereka.” Jawab Nesia.

Nesia kurang enak badan, apalagi ia sempat kuliah tambahan hingga sore yang  membuat aku sebenarnya tidak tega untuk mengajaknya. Tapi teman-teman mendelegasikan aku dan Nesia untuk menjenguk dan melihat keadaan Ita lebih dulu karena lokasi rumah kami paling dekat dengan rumah sakit tempat Ita dirawat. Untung saja Alex salah satu teman baik kami berbaik hati untuk menjemput. Ya aku salut dengan teman-teman, jika ada musibah semua cepat tanggap.

Dalam perjalanan kami pun terus berkabar-kabaran, menjawab sms-sms beserta titipan doa dari teman-teman yang lain. Bahkan, Luki menyebar sms agar melakukan doa angkasa yakni doa bersama saat tengah malam untuk kepulihan Ita.

Alex, Nesia dan Aku tiba di rumah sakit. Menurut informasi dar Ovi, Ita ada di kamar 212. Segera saja kami cari lift menuju lantai dua. Kami tidak menemukan ruang rawat inap. Kami turun lagi dan rumah sakit ini cukup sepi tidak ada yang bisa kami tanya, akhirnya kami naik lagi dengan menggunakan tangga. Sambil terus berkabar-kabaran dengan Ovi kami menemukan kamar 212, tapi itu adalah kamar rawat inap Ibu bersalin. Akhirnya kami bertanya pada informasi, tapi tidak ditemukan nama Ita di situ.

Kami pun mendesak Ovi untuk mencoba hubungi lagi keluarga Ita meminta informasi yang benar. Saat itu kami terima sms dari tantenya Ita yang diteruskan dari ponsel Ovi, isinya: “Iya Ovi, Ita ada di kamr 212 Wiro Sableng”. Mungkin maksud tantenya Ita ingin menekankan, bukankah memang 212 adalah tanda milik Wiro Sableng yang tokoh pendekar itu? Ya mungkin karena ada beberapa gedung di rumah sakit ini, jadi bisa saja kami salah masuk gedung.

Cukup lelah karena saat kami seharusnya istirahat di rumah malah naik turun tangga di rumah sakit, dan sibuk berkabar-kabaran dengan teman-teman.

Sampai akhirnya kami mendapat kabar. Kami dapat kabar buruk, buruk bukan karena Ita kritis tapi justru sebaliknya Ita dalam keadaan sehat bugar bersama tantenya. Mungkin ia sedang tertawa, atau apakah dia langsung menyesal, kami tidak tahu.

Yang pasti aku cukup kecewa, apalagi Nesia, belum lagi Alex yang jauh-jauh datang menjemput.

Tak satu pun dari kami yang menyadari bahwa ini hanyalah permainan April Mop dari Ita. Bagaimana mungkin ia bisa bermain-main atas nama nyawa yang mengakibatkan kepanikan teman-teman baiknya. Bahkan, bisa-bisanya tantenya Ita ikut andil berperan, yang membuat kami cukup yakin dengan berita kecelakaan yang kami terima.

Aku, Nesia dan Alex lunglai. Seharusnya kami bersyukur bahwa Ita teman kami baik-baik saja, tapi rasa jengkel dan kecewa ini sudah bercampur dengan kelelahan kami. Belum lagi harus mengabari teman-teman lain yang menanti kabar dari kami. Konyol rasanya.

Tanggal 1 April akan berakhir beberapa jam lagi, tapi justru diwaktu-waktu itu saat kami tak peduli dengan April Mop, kami malah menjadi korban permainan yang jadi tidak lucu.

Ita mungkin tidak pernah menyangka begitu peduli teman-temannya terhadapnya, ia mungkin sempat tertawa saat tahu kami terjebak dalam permainannya. Tapi yang pasti permintaan maaf di kampus keesokan harinya agak sulit diterima, untuk beberapa lama beberapa teman memilih untuk sementara menghindar dari Ita.

Skenario di Hari Jumat

by Zahrani Ariyani @zahranoii

Pagi hari di hari jum’at, aku masih menikmati bunga tidurku, tiba tiba ada suara bising didekatku, semakin keras dan semakin keras. Sangat mengganggu.
“Pepeng calling” tulis layar itu. dengan malas aku jawab ” Halo…” ,
Pepeng : “nin, ayo kita pulang ke jakarta sekarang!”
Aku : ” hah? Sekarang? Kenapa? Katanya malem aja, gw baru bangun nyeet”
Pepeng : “udah cepetan gw tunggu sekarang di kantin sekolah”
Aku : ” ah bawel lu, yaudah iya, tunggu!”

Aneh, sambil bersiap penuh tanya. #keanehan ke-1
Setiba di kantin, sangat jarang aku lihat kantin seramai ini, hmm tapi kenapa semua melihat kearahku?
Pepeng : “wooii nin, ayoo berangkat sekarang, naik bis aja, gk mungkin dapet travel klo dadakan gini”
Aku: ” hah? Ya udah lah, terserah aja”

Aku pamit, semua teman temanku sendu, sambil berpesan untukku agar hati hati di jalan. Hmm #kenanehan ke-2.

Kami tiba di terminal bis bandung jam 13.00, sampai terminal bis jakarta 15.30, tidak terlalu banyak percakapan di bis antara aku dan pepeng karena aku sudah terlanjur kesal dan merasa aneh.

Pepeng ” nin, temenin gw ke supemarket situ bentar ya”
Aku ” oke ”

Dalam perjalanan menuju supermarket itu, seperti ada yang memanggil namaku dari arah parkiran. Ternyataa itu tanteku, dia menawariku untuk diantarnya pulang, tanpa ragu aku menyetujui dan meninggalkan pepeng sendiri ke supermarket itu.
Aku ” peng, gw duluan yaa, daaa”
Pepeng ” oke nin, hati hati ya”

Kenapa terlalu banyak orang yang bilang hati-hati padaku hari ini. #keanehan ke-3 .
Selama perjalanan aku terlalu banyak melamun, tanpa sadar aku berada di tempat yang asing, ini bukan arah kerumahku, entah dimana.
Tante :” nin, temenin ke rumah sakit sebentar ya, mau jenguk orang sebentar”
Aku : “hmm oke tan”
Tante: ” gimana kabar ibu nin?”
Aku : ” baik tan, tapi katanya ibu sempet keracunan makanan senin kemarin”
Tante : “oooo gitu..”

Lalu hening. beberapa meter lagi sampailah ke rumah sakit.

Tante : “gini nin, sebenernya yang mau di jenguk itu ibu kamu, tadi pagi ibu kecelakaan di benhil pas mau berangkat kerja”

Aku : ” apa tan?”. sekelilingku seperti berputar, semuanya kosong, aku bingung. hapeku bergetar, banyak sms masuk. Semuanya memintaku untuk sabar. “Sabar ya nin, yang kuat ya nin.” .
Aaaaaaaaah! Kenapa? Kenapa semua orang tau, tapi aku baru tau. Pipiku basah, isak tangis keluar dari kerongkongku. Aku bingung. Skenario apa ini?

Aku dituntun ke ruang ICU. Aku lihat Seorang wanita terbaring lemah, penuh luka, memar dan selang dimana mana. Aku lari menghampirinya, memeluknya, Memandang wajahnyaa yang tidak lagi melihat ku. Dokter memintaku mundur, ayahku mengikuti dokter, sepupuku menahanku. Air mataku tidak berhenti membanjiri wajahku. Beberapa menit kemudian, aku lihat garis lurus yang tidak lagi bergelombang, bunyi tanda bahwa tidak ada lagi nyawa, menggambarkan semuanya berakhir. Suasana duka menyelimutiku, berakhir sudah skenarionya. “Selamat jalan bu, tunggu aku disana”