064 Bangkrut
now browsing by category
Hilang di Meja Judi
by Andy Saputra @creandivity
Di sebuah ruangan di rumah sakit, aku tergeletak lemah. Jarum-jarum infus masih tertancap di tanganku. Ruangan itu hening, dan dingin. Kesadaranku masih belum pulih benar. Samar-samar aku melihat dua orang suster yang dengan rutin mencatat kondisiku. Bau-bau obatan ini tidak pernah kusuka sejak kecil. Terakhir kali aku masuk rumah sakit sebelum ini adalah 10 tahun lalu, karena demam berdarah. Tidak disangka, beberapa hari ini aku harus menginap di sini. Ironisnya, bisa dikatakan aku di sini karena kemauan atau salahku sendiri. Beberapa saat setelah itu, bunyi pintu berderak. Kulihat dua orang lagi masuk ke dalam. Yang satu berpenampilan necis, berjas. Yang satunya wanita berpakaian anggun. Mereka berjalan mendekatiku, sambil mengucapkan, ‘Pak, Terima kasih. Kami sungguh-sungguh tidak akan pernah melupakan jasa Bapak untuk Ayah kami. Seandainya tidak ada Bapak, mungkin Ayah kami sudah tidak terselamatkan lagi’.
***
2 bulan lalu
Di sebuah meja judi, aku duduk bersama dengan 5 orang pemain lainnya. Mereka teman-temanku, yah teman berjudi saja. Hampir setiap malam minggu aku menghabiskan waktu di sini. Aku belum punya pacar, dan tinggal jauh dengan orang tua ku karena pekerjaanku menempatkan aku di ibukota. Jadilah aku hanya menghabiskan waktu akhir pekan di sebuah kasino. Memang, bukan hanya waktu, tapi uangku pun juga turut habis di sana. Benarlah kata orang, judi itu memang jahat. Sudah membuat orang kecanduan, uang dan waktu pun habis perlahan-lahan. Untungnya saja, aku masih belum punya tanggungan apa-apa, sehingga meskipun uangku habis, tidak ada yang merasa keberatan, selain diriku sendiri. Itupun, karena aku tidak bisa berjudi lagi.
Seperti biasa, kami mulai bermain kartu. Ditemani dengan berbotol-botol bir, beberapa teman wanita yang menghibur, serta hiburan lagu yang berganti-ganti. Kadang lagu dangdut, kadang lagu rock. Selang 4 jam, ternyata bintang keberuntungan sama sekali tidak di pihakku. Hari ini aku tidak pernah menang sama sekali, bahkan kalah hingga 5 juta. Saldo di buku tabunganku pun tidak mencapai jumlah itu. Aku mulai kebingungan, bagaimana aku harus membayar hutang-hutang ini.
Belum selesai sialku, Bang Jak, pengelola kasino kecil itu menghampiriku sesaat sebelum aku pulang. Sambil membawa catatan, yang rupanya berisi daftar hutangku selama bermain di kasino ini. Dengan kekalahan hari in yang mencapai 5 juta, total hutangku resmi menembus rekor dua digit, yaitu 12 juta. Tanpa banyak basa-basi, Bang Jak meminta aku melunasi hutang ini, paling lambat 1 bulan. Upayaku meminta keringanan pun sia-sia belaka. Jawabannya adalah sebilah parang yang dingin, menempel di leherku. Aku mulai ketakutan di sana, lalu berpamitan dan berkata akan mengusahakan uang itu.
Di kamar kos, aku benar-benar ketakutan dan bingung bagaimana cara melunasi hutang sebanyak itu. Tabunganku sisa 2 juta. Gajiku selama sebulan juga hanya 4 juta saja. Baru separuh dari jumlah utangku. Aku menelepon beberapa teman baikku, namun tidak ada yang dapat membantuku sebanyak itu. Hingga suatu hari, Marco, teman baikku menelepon untuk menawarkan suatu cara cepat untuk mendapatkan uang secara halal. Sebenarnya, aku masih ragu dengan solusi itu. Tetapi, kelihatannya, itu adalah jalan terakhir yang bisa aku tempuh dalam kondisiku sekarang ini.
***
1 bulan lalu
‘Gimana, Co ? Kamu udah dapat calon pembelinya kan ? Dia jadi bayar 20 juta kan ? Aku sudah diancam sama Bang Jak nih. Bisa digorok leherku kalau batal dapat uangnya. Aku sudah janji bulan depan kulunasi sisa hutangku, karena bulan ini aku cuma bisa bayar 4 juta dulu.’ kataku di telepon kepada Marco.
‘Iya, pasti jadi kok.. Katanya lusa kamu disuruh nemuin dia, clientmu itu. Jangan sampai lupa lho kamu. Soalnya waktunya mepet banget, persiapannya butuh express banget nih. Makanya dia mau kasih kamu sebanyak itu. Tapi, jangan lupa komisiku ya. Hehe’, jawab Marco.
‘Beres. Kamu kan penyelamatku dari parangnya Bang Jak. Pasti kuberi cipratan duit deh’. ujarku.
***
Itulah kisah hidupku selama 2 bulan terakhir. Leherku akhirnya lolos dari parang Bang Jak karena aku berhasil mendapatkan uang yang kubutuhkan. Masih ada sisa uang dari yang kudapat, walaupun harus kubagi sedikit dengan Marco, dan sebagian besar kugunakan untuk membayar hutang pada Bang Jak sesudah aku keluar dari rumah sakit. Sesaat sebelum meninggalkan rumah sakit, aku menyempatkan diri menengok Om Tomo. Anak Om Tomo adalah pria berjas yang berterima kasih kepadaku sebelumnya, dan baru sekarang aku melihat orang yang sudah kuselamatkan. Setelah itu, aku berpamitan. Di depan pintu keluar, dokter berkata , ‘Pak, ingat ya pantangan dan obat-obatnya selama sebulan ini. Dan juga, tolong mulai hidup sehat sejak sekarang Pak. Jangan lupa, ginjal bapak hanya tersisa satu sekarang. Dijaga baik-baik ya Pak’, sambil melambaikan tangan kepadaku.
Terpanggang Kenyataan
By @adelliarosa
Aku terpekur meratapi jasad suamiku yang terbujur kaku dihadapanku. Mengenaskan, tubuhnya hangus terpanggang. Seandainya tidak ada masalah dan PHK setahun yang lalu, tentu semua ini tidak pernah terjadi.
Kehidupan rumah tanggaku sangat berkecukupan, bahkan mewah. Suamiku yang seorang area manager suatu bank terkenal membuat kami terlena. Hampir setiap hari, Ardan suamiku menghadiahiku dan anak-anakku dengan berbagai benda-benda mahal. Mulai dari perhiasan, gadget teranyar, sepatu-sepatu bermerk, baju-baju mahal serta kami selalu makan di restoran kelas atas.
Aku ingat permintaan Dewi, anak sulungku yang duduk di kelas 2 SMA kepada Ardan, suamiku di suatu waktu, “Pa, teman-teman Dewi sudah naik mobil, masa Dewi diantar jemput mama terus?” rengeknya. Ardan yang sedang sibuk dengan laporan akhir tahunnya hanya menengok sekilas, kemudian menuliskan jumlah rupiah dengan nominal besar di atas buku ceknya lalu memberikannya pada Dewi. “Pilih sendiri mobil yang kau inginkan. Ajak mamamu membelinya, minta beliau untuk mendaftarkanmu ke sekolah mengemudi,” kata Ardan, kemudian kembali menekuri laporannya.
Aku sempat terperangah melihat nominal angka di selembar cek itu, 400 juta rupiah! Dengan mudahnya suamiku memberikan uang sebesar itu pada Dewi, demi sebuah mobil! Tanpa pertimbangan dan persetujuanku, seperti biasanya. Dewi pun dengan girangnya memilih sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat dengan uang itu.
Hari-hari berikutnya giliran si kembar Andre dan Aldo yang merengek minta dibelikan IPad keluaran terbaru. Padahal untuk ukuran anak SMP, benda itu masih belum dibutuhkan. Seperti biasa, suamiku dengan mudahnya meloloskan permintaan mereka.
Suatu malam, aku yang tak tahan dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiranku mengenai betapa mudahnya suamiku mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Meskipun dia adalah area manager, tapi tidak mungkin sebesar itu penghasilannya, sampai bisa setiap saat menuruti kemauan anak-anak yang kadang tidak masuk akal.
Aku memasuki ruang kerja Ardan yang terlihat sangat berantakan. Sudah lumayan lama aku tidak pernah memasuki ruangan ini. Ardan jatuh tertidur di atas mejanya dan mendengkur halus. Laptopnya masih berpendar menyala dan tampak rekening suamiku di sana. Rupanya dia tadi melihat jumlah tabungannya melalui internet. Penasaran, aku membuka salah satu fitur yang isinya posisi saldo. Luar biasa terperangah aku melihat jumlahnya. 200 trilyun rupiah! Bahkan dalam mimpipun aku tak pernah membayangkan memiliki uang sebesar itu.
“Kinanti? Aku melihatmu begitu gelisah pagi ini. Ada apa?” kata Ardan saat aku menyiapkan sepiring sarapan paginya. Ya, aku memang sangat gelisah mengingat jumlah saldo di rekeningnya tadi malam. “Tidak mas. Aku baik-baik saja,” kilahku, sekuat tenaga menyimpan rasa ingin tahu didalam hatiku. Aku akan menanyainya nanti malam, sepulang kerja.
Malam memang sudah lama datang, namun Ardan tak kunjung pulang. Ketiga buah hatiku sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Sudah lewat tengah malam dan ponselnya mati. Aku cemas, dan jatuh tertidur kelelahan menunggu Ardan pulang. Paginya, aku bagai disambar petir mendengar kabar dari rekan kerja Ardan, bahwa ia sedang diinterograsi di kepolisian atas dugaan fraud! Ya fraud! Penyalahgunaan keuangan bank tempatnya bekerja! Dengan kata lain korupsi, atau bahkan mencuri. Tidak main-main jumlahnya mencapai 500 trilyun rupiah! Bergegas aku mendatangi kantor polisi dan menemukan suamiku meringkuk di sel tahanan.
Pontang-panting aku menghubungi semua kolega keluarga kami, agar paling tidak suamiku bisa keluar dari tahanan. Semua tabunganku dan milik anak-anak dan juga tabungan Ardan terkuras untuk mengembalikan dana bank yang Ardan salah gunakan. Pengacara dari berbagai kolega kukerahkan untuk membebaskan Ardan. Untunglah, beberapa minggu kemudian Ardan kembali bebas. Namun, kami tidak akan menikmati kekayaan seperti dulu.
Rumah mewah, mobil dan harta yang lain sudah habis terjual. Itupun belum menutup semua uang yang harus dikembalikan pada bank yang menuntut Ardan. Seumur hidup, kami akan menanggung cicilan kepada bank, atau Ardan akan kembali dipenjara.
Kehidupan kamipun kembali dimulai, dan sangat berat. Ketiga anak yang terbiasa dengan hidup mewah mulai merengek menjalani kehidupan kami yang melarat di sepetak rumah kumuh di pinggiran kota. Dewi bahkan meninggalkan rumah dan memilih menjadi istri simpanan pengusaha kaya di usianya yang bahkan baru memasuki 17 tahun, dan belum tamat SMA. Tak dihiraukannya aku berlutut untuk menahannya. Si kembar semakin ugal-ugalan dan menjadi preman di terminal. Sementara aku yang biasanya hanya duduk manis di rumah membaca majalah wanita, kini harus banting tulang menjadi buruh cuci, dan Ardan menjadi tukang parkir. Kehidupan kami semakin memburuk sampai suatu ketika perubahan itu datang.
Ardan pulang membawa sejumlah uang yang cukup besar, dia mengatakan dia menjadi perantara penjualan mobil dan mendapat komisi. Si kembar mendukung pernyataan Ardan, aku seperti biasa tak pernah berhak untuk bertanya. Sekalinya aku bertanya, Ardan akan naik pitam. Aku tidak ingin Andre dan Aldo menyaksikan pertengkaran kami. Aku selalu memilih diam.
Ada keanehan yang terjadi, Ardan memilih tidur menyendiri bersama si kembar di kamar depan. Melarangku memasuki kamarnya. Dia selalu mengunci kamar jika sedang tidak di rumah dan jika malam tiba, dia memasuki kamar bersama si kembar dan aku selalu mencium bau terbakar dari sana.
“Jaga lilinnya! Jika nyalanya berkelip seperti tertiup angin, cepat kalian tiup sampai padam! Jangan biarkan lilin itu padam sendiri,” sayup-sayup kudengar suara suamiku memerintahkan pada si kembar. Aku mengintip dari lubang kunci dan aku tak melihat adanya suamiku, hanya ada si kembar sedang menghadap lilin kecil yang cahayanya menari-nari di ruangan kamar yang gelap. Itulah malam terakhir aku mendengar suara suamiku, sebelum menemukannya terpanggang dibakar massa, dalam wujud setengah manusia setengah binatang. Celeng.
Bukan Aku yang Salah
by Susy Haryani @susyillona
Malam itu polisi menggrebek rumah kami, mereka membawa ayah pergi dari rumah entah apa kesalahan yang dilakukan ayah waktu itu.
Ibuku menangis, menggenggam erat tangan ayah seakan ia tak pernah rela ayah meninggalkan rumah bersama para polisi itu.
Saat itu usiaku 8 tahun, harusnya aku memang sudah mengerti tentang apa yang terjadi di rumahku tentang apa yang baru saja dialami oleh ayah. Tapi aku hanya diam mematung tak bertanya atau mencari tahu apa yang terjadi.
Usai kepergian ayah aku menggandeng ibu masuk ke kamar, ku lihat ibu menangis air matanya seperti hujan yang tumpah dari langit. Ibu mengatakan bahwa ayah difitnah oleh atasannya, ia dituduh menyelewengkan dana kantor yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar sehingga ia dilaporkan kepolisi.
Sejak saat itu kondisi ibu memburuk ia jarang memperhatikanku bahkan seringkali pulang larut malam.
Lama lama aku merasakan perbedaan pada kehidupanku dan ibu. Kami harus pindah dari rumah yang kami tinggali, rumah itu sekarang ditinggali oleh para polisi entah mengapa mereka selalu saja mengganggu hidupku. Awalnya mereka mengambil ayah yang kusayangi yang kini amat ku rindukan tapi aku tak pernah bisa menemuinya. Ibu tak pernah mengijinkanku menjenguk ayah meskipun aku sering menangis memohon agar bisa bertemu ayah. Kini mereka mengambil rumahku, rumah yang biasa ku tempati dan aku harus pindah kerumah kecil yang tidak ku suka.
**
Beberapa hari yang lalu seseorang mengajak ibuku pergi entah dia itu siapa aku tak begitu mengenalnya namun wajahnya tak asing bagiku.
Belakangan ini kuperhatikan ibu seringkali menangis sendiri, ia suka sekali membentak ku kalau makananku berceceran, ibu tak lagi mendongengkan aku cerita menjelang tidur aku dibiarkan tidur sendiri hingga pagi dan ku temukan ibu menangis lagi.
Ibu.. Aku merindukannya, orang itu tak mengembalikan ibu padaku dan kini ia mengantarkanku pada suatu rumah dimana banyak anak-anak seusiaku.
Aku senang punya teman bermain, tapi aku lebih senang jika aku kembali kerumah ku yang dulu bersama ayah dan ibu.
Aku benci polisi mereka merebut hidupku yang dulu, mereka membuatku menangis hampir tiap hari karna merindukan ayah dan ibu. Aku benci mereka.
**
Hidup ini terlalu bermisteri, kehidupan yang bahagia dan penuh tawa kini harus berganti dengan duka berkepanjangan.
Ah.. Andaikan aku bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah maka mungkin keadaan keluargaku tak akan seburuk ini.
Feby harus menanggung beban mental yang teramat besar dicemooh tetangga dan hidup penuh kekurangan, wajar bila kini ia teramat depresi dengan musibah ini. Semoga RSJ bisa segera menyembuhkannya agar Feby kembali mengasuh anak kami Rana yang kini dititipkan di panti asuhan oleh tetanggaku. Kasihan Rana, ia masih kecil dengan gangguan mental dan kini harus hidup sendiri tanpa aku dan ibunya.
Rahasia Amelia
by Mega Dian @me_gaa
Mawarku layu, kelopaknya beguguran di taman mimpiku.
Namaku Amelia, kecantikanku jelas tak perlu diragukan lagi. Menjadi wanita panggilan, tentu bukan profesi yang kuinginkan. Sebenarnya aku mahasiswi kedokteran semester 5, anak baik-baik, model untuk beberapa majalah. Dan semua berubah saat Ayah dipecat dari pekerjaannya dan sampai saat ini belum mendapat pekerjaan pengganti. Aku harus membantu mencari nafkah. Dan kedua orang tuaku, tentu saja tak tahu pekerjaan baruku itu.
~CRING!!
Kubuka Blackberry Messenger-ku
Nadia Putri :
“Mel, Room 208 seperti biasa”
“Mr. Douglas Smith, ekspatriat, seperti pesananmu”
Amelia Chandra :
“Oke Nad, Thank You”
“Jangan lupa pesan keduaku ya”
Nadia Putri :
“Sipp, pastilah.. “
***
Aku sudah berada di depan kamar 208 ini, perasaanku selalu saja seperti ini, menginginkan ini segera berakhir.
~TING TONG
“Ya, silakan masuk. Pintunya tidak dikunci” Jawab seseorang didalam kamar itu dengan logat bule-nya yg kental.
“O-oke” Jawabku.
Jantungku berdegup kencang, kupegang gagang pintu yang tak dingin itu namun membuat sekujur tubuhku kaku. Kuputar perlahan, lalu kubuka. Mataku menyapu seisi ruangan, menemukan Doug yang tengah duduk di pojok ruangan. Dia tampan, pria paruh baya seusia Ayahku.
“Hello, I’m Amelia” Aku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“ Saya Douglas, panggil saja Doug. I can speak bahasa, jadi santai aja” Jawabnya ramah.
“Oh, oke. Kita mulai sekarang ?” Tanyaku.
“Tentu saja” Doug berdiri, lalu mulai membuka kemeja putihnya hingga aku bisa melihat dengan jelas perut six pack-nya
“Wait, aku siapkan wine dulu” Pandanganku tertuju pada sebotol wine di sampingku.
“Baiklah” Jawabnya.
Aku menuangkan Red Wine itu, lalu kita bersulang. Mungkin ini semacam merayakan pertemuan kita yang menyenangkan. Kami berciuman, Doug mulai mencumbuiku. Kecupannya sempurna mendarat di leherku, membuat gairahku naik. Kulepaskan bajuku satu per satu, lalu aku mulai melepaskan ikat pinggang di celana Doug, membuka celananya. Doug masih mencumbuku, lalu mendorongku perlahan hingga jatuh di ranjang. Lalu dia pingsan.
Selamat pagi Doug sayang,
Maaf aku meninggalkanmu terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan secangkir kopi untukmu di meja.
Semoga kamu menikmati permainan kita semalam. Oh, aku lupa kalau kau pingsan ! Ya, obat tidur semalam bekerja dengan baik.
Oh iya sayang, kau tahu ? Aku putri dari Alex Chandra. Lelaki yang kau fitnah hingga dia dipecat dari pekerjaannya. Pintaku hanya satu, sebaiknya kau mengakui kesalahanmu, agar ayahku dapat kembali lagi bekerja disana. Jika tidak kau lakukan, akan kukirim foto-foto kejadian semalam pada istrimu dan bossmu. Aku dan Nadia sudah menyiapkannya untukmu.
Love,
Amelia
***
“Ada kabar baik, aku diminta kembali bekerja. Douglas keparat itu dipecat, dia mengakui semua kesalahannya” Pekik Ayah setelah menerima telepon.
Aku, Ibu dan adikku sontak berlari memeluk Ayah.
“Aku sangat menyayangimu Ayah..” Bisikku dalam hati.
Easy Come Easy Go
by Diana Siti Khadijah @andiana
Maret 2010.
Perusahaan baru. Pemiliknya suami seorang artis terkenal. Sepertinya menjanjikan. Aku memberanikan diri melamar menjadi karyawan di sana. Gaji pertama cukup lumayan.
Juni 2010.
Mulai kisruh. Seolah ada badai yang mendadak menerjang perusahaan itu. Aura di ruanganku semakin membuatku tak nyaman. Gosip perselingkuhan si bos semakin sering terdengar. Gaji dibayar terlambat.
September 2010.
Gajiku dan tiga orang lainnya tak dibayar. Sia-sia kami memprotes. Dua karyawan dari bagian kreatif produksi baru saja dipecat. Seperti sedang menanti giliran dipenggal. Semua cemas.
November 2010.
Dari tigapuluh karyawan baru, tersisa tujuh orang. Rasanya aneh dan menggelikan. Kami melupakan nasib gaji yang tertunggak. Tanggal duapuluh, kami semua mengundurkan diri.
Desember 2010.
Hari Natal. Aku menerima BBM dari Victor. “Pak Alex tewas ditembak Bang Rojak.” Aku tertawa miris. Aku ingat pertengkaran mereka berdua sehari sebelum semuanya berakhir bulan lalu.
“Saya tidak sanggup membayar gajimu, Rojak!” bentak Pak Alex.
“Tapi Bapak sanggup membeli rokok impor dan menghabiskan tiga bungkus dalam sehari! Saya tidak peduli! Besok pagi saya akan tagih lagi atau Bapak akan mati konyol,” ancam Bang Rojak sambil menggebrak meja.
Pak Alex tersenyum sinis. “Dasar orang miskin belagu. Bisa apa kamu? Beraninya cuma menggertak?”
Bang Rojak menggeleng. Jengkel. Dia beranjak sambil mendengus.
1 Januari 2011.
Victor menjemputku. Kami akan menghadiri pemakaman Bang Rojak. Dia tewas akibat diracun orang. Saksi mata mengatakan pelakunya adalah Andrew. Anak Pak Alex semata wayang hasil perselingkuhannya.
Rapuh
by Ika @ikavuje
Pernahkah kau berdoa untuk kebangkrutan ayahmu? Mungkin hanya orang gila seperti aku yang pernah. Bukan karena apa-apa, ayahku luar biasa sombongnya.
Dengan segala yang dimilikinya ia menjadikan aku bukan anak, tapi peliharaan. Kemana-mana harus dikawal, apa-apa harus diperiksa. Sangat kuno dan lebai.
Ibuku artis, maksudku ibu kedua ku. Mama sudah meninggal setahun yang lalu. Pernikahan kedua ayah, juga menjadi alasan aku membencinya.
Dua hari kemudian.
Aku terdiam. Rumah ini sepi, ayah murung di sudut ruang, rokok terus dihisapnya. Meski kudekati ia tak mau memandangku.
Ibu di sana. Ia ikut menyesap rokok ayah. Wajahnya jauh lebih tenang. Bahkan sama sekali ia tak terlihat muram.
Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi, tak seorangpun mau bicara.
Seminggu kemudian..
Aku lebih bebas, kemana saja ayah tak lagi menyuruh pengawal mengawalku, aku benar-benar senang. Hanya saja aku heran, ayah tak lagi sibuk. Ia senang di rumah. Dan terus menerus di rumah.
Aku sangat senang hingga lupa diri, sudah seminggu kami tak bercakapan. Hingga suatu sore.
“Ayah, kenapa diam saja? Kenapa gak kerja, Yah?” kataku mencoba menyapa dari belakang pundaknya.
“Kemana kamu, nak? Selama ini ayah terus memikirkanmu. Apakah kau tak pernah memikirkan ayah?” katanya parau.
“Aa… A..anu Gak kemana-mana kok yah, cuma jalan-jalan ke mall, main-main, itu aja kok, Yah,” jawabku terbata dan mendadak rasa bersalah muncul di dadaku. Perih.
Hening. Ayah menangis.
Aku berlari ke kamarku, aku tak tahan. Mengucur air mataku, mengapa selama ini aku begitu jahat. Mendoakan kesusahan ayahku. Aku bahkan tak tahu ia begitu mengkhawatirkan aku sampai demikian sedih.
Derap kaki pengawal terdengar begitu tergesa menuju kamar ayah. Aku penasaran lalu keluar, bertanya apa yang terjadi. Seperti biasa, semua pengawal seperti robot, diam seribu bahasa.
“Maaf, Bos. Kami hanya berhasil menemukannya dalam keadaan sudah tidak bernyawa.”
Ayah terduduk. Menangis sejadi-jadinya, dipeluknya figura foto dengan wajah..ku?
Tersadar aku yang terjadi. Memori otakku memutar reka adegan bagaimana kematianku. Bagaimana aku berusaha melarikan diri dari sang pengawal dan menyetir mobilku hilang kendali dan terjun ke jurang. Ya, aku rupanya sudah meninggal.
“Ayah, maafkan aku ayah..,” tangisku.
Percuma, tak ada gunanya lagi..
Sekelebat cahaya jingga keperakan mengelilingiku. Membawaku dalam kematian abadi.
Idealisme
by Damay Iriani @nongdamay
Siapa pun pasti akan merasa beruntung memiliki suami seperti abang Reno, dia sosok pria idamanku soleh, pinter, tampan dan pekerja keras. Lima tahun berumah tangga dengannya, aku seperti diberi surga dunia oleh Tuhan. Bang Reno yang perhatian, sepasang anak yang sehat serta posisi karir bang Reno yang semakin menuju puncak.
Untuk meningkatkan karirnya, Bang Reno menerima tawaran untuk ditempatkan sebagai kepala keuangan di kantor cabang yang berada di Medan. Tak ada alasanku untuk menolak ikut pindah ke Medan toh anak-anakku masih kecil dan aku pikir ini semua untuk masa depan anak-anakku.
***
Sejak awal aku tahu posisi suamiku ini rentan dengan yang namanya korupsi, semua orang menginginkan posisi ini. Tapi syukurlah dengan iman dan idealisme suamiku sampai saat ini dia masih menjadi orang yang bersih, setiap bulan aku tahu jumlah penghasilan suamiku sesuai dengan slip gajinya, jika ada uang lebih aku selalu bertanya dari mana uang tersebut dan suamiku selalu memastikan uang itu bersih.
Sampai suatu hari suamiku yang selalu menceritakan pekerjaannya kepadaku mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.
“ Dina, abang diajak Korupsi,” suamiku berbicara perlahan namun tetap mengejutkan aku.
“Istigfar, bang..istigfar. Kamu jangan sampe korupsi , dosa bang,” aku coba mengingatkan suamiku.
***
Ditempatkan di kantor cabang sebagai kepala keuangan akan menjadi batu loncatanku untuk mendapatkan posisi yang baik di kantor pusat. Semua kerja keras aku hanya untuk Dina dan anak-anakku.
Dina tidak keberatan saat harus menemani aku pindah ke kantor cabang, Dina juga sumber kekuatanku, kekuatanku untuk bertahan di lingkungan kerja yang sarat dengan praktek korupsi. Dina selalu mengingatkan aku untuk hal itu.
Rumor tentang korupsi atau kecurangan sering terjadi di kantor cabang yang selama ini hanya aku dengar dari teman-teman di pusat itu ternyata benar adanya. Aku bukan hanya mendengar atau melihat praktek korupsi di kantor ini tapi aku yang diajak bekerjasama melakukan kecurangan, aku diajak korupsi.
Dari awal aku sudah menegaskan bahwa aku kerja bersih dan jujur, aku tidak mau diajak bekerja sama untuk melakukan kecurangan dengan menandatangani berkas yang deretan angkanya sudah diubah. Memang sebagai kepala keuangan, aku memiliki wewenang untuk menandatangani berbagai berkas.
Mereka sudah menganggap korupsi dan persekongkolan ini wajar dan hal yang biasa terjadi, mereka terus me-lobby aku untuk melakukannya, menjanjikan sejumlah uang jika aku mau menandatangani berkas itu serta menjamin kalau praktek ini tidak akan diketahui dan dipastikan ancaman phk tidak akan kenapa kepadaku.
Sudah sebulan ini mereka terus menerus mendesakku, sampai di hari ini berkas itu ditaruh dihadapanku.
“Sudahlah, Reno. Kamu tinggal tanda tangan aja,” kata rekan kerjaku yang enggan ku sebut namanya sambil memberikan sebuah pulpen kepadaku.
“Iya, Reno. Tinggal tanda tangan terus cek ini akan kami serahkan kepadaku dan kami jamin hanya kita bertiga yang tahu hal ini. Jadi kamu aman lah Reno,” tambah rekan kerjaku satu lagi.
Ku tatap wajah kedua rekan kerjaku itu, ku lihat berkas yang ada dihadapanku lalu ku angkat pulpen yang sudah disiapkan mereka.
***
Aku masih terus menatap kertas itu tapi pikiranku sudah entah ada dimana. Kertas itu menghancurkan suamiku, aku dan mungkin masa depan anak-anakku. Kertas itu menyatakan bahwa terhitung awal bulan nanti suamiku resmi tidak menjadi karyawan perusahaan itu lagi.
“Jadi gimana bang?” tanyaku memecah kesunyian ini
“Kita harus berkemas, Din. Secepatnya kita harus tinggalkan rumah dinas ini dan kembali ke Jakarta,” jawab Bang Reno sambil terus menunduk.
“Iya bang, aku akan membereskan semua untuk mengurus kepindahan kita,” aku coba terlihat tegar dihadapan bang Reno.
Akhir minggu ini kami harus segera meninggalkan rumah dinas dan segala fasilitas yang kami nikmati selama ini, kami harus kembali ke Jakarta dan memulai semuanya dari nol lagi. Tapi bagaimana aku dan bang Reno harus memulainya lagi?
Seharusnya aku tidak harus bingung karena sudah ada setumpuk uang yang dijanjikan rekan kerja suamiku untuk persekongkolan mereka, tapi kenyataannya tidak begitu, suamiku di PHK bukan karena dia menandatangani berkas tersebut tapi karena dia tetap bertahan dengan idealismenya untuk terus jujur.
***
Saat aku mengangkat pulpen, sekilas kulihat senyum di wajah kedua rekan kerjaku. Tapi seketika ku letakkan kembali pulpen itu dan aku robek berkas dihadapan mereka. Mereka murka sejadi-jadinya kepadaku, sebelum meninggalkan ku mereka melontarkan sebuah ancaman bahwa aku akan menyesal karena tidak mau bekerjasama dengan mereka.
Ternyata mereka benar-benar menjalankan ancaman itu, mereka merancang sebuah skenario kecurangan baru dimana aku menjadi korban dalam kecurangan ini dan surat pemberhentian dari kantor pusat pun aku terima.
Aku kecewa dengan semua ini, aku tahu karirku di perusahanan ini hancur tapi aku tidak boleh terlalu lama terpuruk. Aku punya Dina dan sepasang anak yang membutuhkanku. Mereka pasti bangga karena aku di PHK bukan karena kecurangan yang aku perbuat tapi karena idealisme yang terus kupertahankan.
Sastra Wirawan
by Rani Amalia Busyra @kekasihpuisi
SASTRA
Hidup ini keras, yang tidak kreatif akan segera terinjak zaman. Akhirnya kualami juga keadaan seperti ini. Perusahaanku bangkrut karena terlena dengan satu lini produk tanpa variasi dari tahun ke tahun. Dulu memang laris manis, tapi semenjak saingan-saingan bermunculan, pasarannya menurun dan tidak dilirik lagi.
Ketika sadar, semua sudah terlambat. Rekening perusahaan habis terpakai untuk pesangon karyawan dan membayar hutang kepada para pemasok. Rumahku pun disita, karena isi rekening perusahaan tidak cukup menutupi hutang tersebut. Biarlah, ini jadi pelajaran dalam hidupku untuk tidak cepat puas dan terlena akan kejayaan sesaat.
Aku memiliki istri dan seorang anak perempuan. Istriku tidak pernah mengeluh dan berlapang dada dengan keadaan kehidupan kami yang berubah drastis memburuk seperti ini. Terima kasih, Sayang. Anakku berumur 4 tahun dan sedang lucu-lucunya, pemikirannya kritis pula. Maafkan Papa buah hatiku. Papa janji akan segera mengubah keadaan menjadi lebih baik dan memberikan segala yang terbaik untuk membesarkanmu.
Dari lingkungan elit, kami pindah ke pinggiran kota. Ke rumah kontrakan yang hanya punya 4 ruangan; ruang depan, kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Yang tersisa dari kejayaan masa lalu adalah sebuah laptop dan sedikit uang di rekening pribadi. Keduanya tidak kumasukkan dalam daftar kekayaan, karena memang dari awal aku menganggap ini adalah hak pribadiku utuh. Mereka tidak berhak mengetahuinya, apalagi mengambilnya
Laptop kupertahankan karena ini merupakan modal utamaku dalam bekerja. Mendesain rencana bisnis dan menulis. Uang di rekening sementara dapat menopang uang makan dan membayar kontrakan selama aku mencari pekerjaan. Maka dari itu hidup kami tidak terlalu terdesak. Syukurlah…
Ah, ternyata aku masih bisa bersyukur, Tuhan.
Pagi sudah benderang. Saatnya aku berdiri dari renunganku di atas sajadah. Kukecup istriku yang sedang menyeduh teh di dapur, kemudian aku duduk di ruang depan, ruang duduk keluarga sekaligus ruang tamu, dan mengetik surat-surat lamaran serta menulis. Ya, menulis.
Pintu depan terbuka lebar, dan udara pagi masuk. Segarnya.
WIRAWAN
Kepalaku pusing! Hidup semakin hari semakin susah. Perusahaan tempatku bekerja bangkrut dan kini aku luntang lantung mencari pekerjaan lagi. Surat lamaran sudah kusebarkan ke banyak perusahaan. Namun sudah lebih satu bulan belum ada satupun panggilan.
Persediaan uang sudah hampir habis, itupun dirampok oleh dua ibu-ibu yang kesetanan dan masuk ke kamar kostku dan membawa lari dompet berisi sisa pesangonku. Ketika kukejar, mereka sudah menghilang di lorong-lorong sempit pemukiman kumuh. Sial! Kalau begini lama-lama aku bisa mati. Tak mungkin aku membebani ibu di kampung dengan meminta kiriman uang, beliau saja sudah susah di sana.
Pagi ini sepi, orang-orang sudah sibuk di tempat pekerjaannya masing-masing, aku berjalan tak tentu arah dipenuhi fikiran kalut. Saat melewati sebuah rumah yang pintunya terbuka, aku melihat seorang bapak-bapak sedang berkonsentrasi pada laptop di hadapannya. Seketika aku membayangkan berapa jumlah uang yang kudapat jika menjual laptop itu. Sangat lumayan.
Kulihat keadaan sekitar, kanan dan kiri.
SASTRA
Seorang pemuda tiba-tiba masuk ke rumah kami. Serta merta ia meninju mukaku dan mengambil laptop yang sedang kupakai. Sambil mengatasi rasa sakit yang berdenyut di kepalaku, kutangkap kakinya, kutarik dan ia terjungkal. Mendengar keributan, anak istriku dating, terkejut dan berteriak.
“Tolooong!!! Toloooong!!! Ada maliiiiiiing!!”
Pemuda itu panik dan kebingungan.
WIRAWAN
Perempuan dan anak ini ribut sekali!
“Hei! Diam!!!”
“Tolooong!!! Toloooong!!! Ada maliiiiiiing!!”
Kesal, kuraih vas bunga, kulempar ke arah wanita itu dan aku segera berlari.
SASTRA
Vas bunga itu menghantam kening istriku. Ia berteriak kesakitan. Kepalanya bocor dan darah bercucuran. Beberapa orang berdatangan tergesa, namun pemuda itu telah hilang.
Istriku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Uang di dompetku habis membayar uang muka rumah sakit. Belum lagi sisanya. Nanti kubayar memakai uang di rekening yang sudah menipis.
Tuhan, aku tahu ini cobaanmu. Namun terasa tubi. Tunjukkan jalan. Beri aku kekuatan melewatinya.
Indralaya, 6 Januari 2011
Awan Kelabu Milik Anna
by Trias Susanti @triassusanti
Kujejaki jalanan tanpa menyapa teriknya mentari..
Anna mulai menyusuri jalanan. Tak henti-hentinya dia mengelap peluh yang membasahi kemeja putihnya. Sepatu berhak lima senti pun seolah sudah tak mampu menopang raganya.
“Ke mana lagi aku harus mencari?” gumamnya.
Berulang Anna menatap lembaran ganda di tas hitamnya. Lembaran itu:
“Segera keluarkan aku dari sini Anna!”
“Aku belum menemukan tempat untuk meletakkan tidurmu.”
Kembali membaca tinta hitam yang terurai di atas lembaran itu.
….
Sebagai bahan pertimbangan saya sertakan identitas dan daftra riwayat hidup,
Nama : Ayunna Bintariani
Tmpt/Tgl Lahir : Bandung, 26 Juli 1979
Alamat : Jl. Antasari B2, xxx
No. Telepon :081323xxxxxx
Demikian ….
Terasa muak mengitari rangkaian tinta hitam itu. Anna merasa letih tak menemukan ladang penghidupannya kembali. Andai saja gedung putih itu tak menjadi arang, Anna masih berkicau di meja meeting itu. Semua sudah lewat, melewati segala kehidupan Anna yang semakin tertiup angin tak menentu arah.
Diamnya Anna termangu akan nasibnya bergantung pada awan yang tak biru baginya, namun kelabu. Dan kini semakin senja, jingga dan menghilangnya mentari berubah gelap, segelap kehidupan Anna.
Kembali ke rumah…
Sepi tak terdengar suara. Waktu melambai pada Anna dan mencibir:
“Kau tak berhasil lagi Anna?”
Anna melempar pandangan dengan satu bola matanya ke arah waktu dan berkata:
“Jangan cepat berputar, aku lelah kau kejar!”
Tertuju pintu lain. Ada senyum dibaliknya, merajuk manja ke arahnya…
“Sayang…”
“Mama, susu…”
Anna: memeluk dan mengusap lembut.
Bergejolak di hati, gedung itu bangkrut dan membendung aliran susu buah hatiku. Andai saja aku bisa menggantinya dengan air mataku yang tak pernah kubeli.
“Iya sayang…”
Beranjak pergi, kudapat susu cair melalui jendela kedai mbak Sus. Dan saat kembali botol kosong didekapan anakku yang bermain mimpi.
Kakakku Cantik
by. Adyta Purbaya / @dheaadyta
Gadis cantik itu kakakku.
Aku selalu suka setiap saat dia mengenakan seragam kerja biru tua, dan syal kuning itu. Cantik, anggun.
Dia seorang banker. Cita-citanya sejak kecil.
Dia bilang banker itu anggun.
Dulu aku tidak tahu apa artinya itu, tapi setelah melihat kakakku, aku tahu apa yang dimaksud anggun. Seperti dia.
Kakakku pintar, lulus S1 Akuntansi hanya dalam waktu 3,7 tahun. Cumlaude.
Aku masih ingat hari ketika kami menghadiri upacara wisudanya.
Saat itu kakak juga tampak cantik.
Kakakku memang selalu cantik. Tak peduli baju apa yang ia kenakan.
Kakakku seorang pekerja keras, dia selalu berusaha keras untuk semua apa yang dia inginkan.
Termasuk cita-citanya.
Aku juga masih ingat jelas tangis bahagianya saat dinyatakan lulus bekerja di bank itu.
Dia bahkan membicarakannya sepanjang waktu. Dan aku tak pernah bosan mendengarnya.
Aku suka setiap cara kakakku berbicara. Suara jernihnya, ekspresi lucunya.
Dia bekerja setiap hari. Berangkat subuh pulang malam, dan tak pernah mengeluh.
Bahkan dia tetap cantik meskipun dandanannya sudah luntur, wajahnya berminyak, baju dan jilbab yang sudah kusut.
Senyum manisnya membuat dia selalu terlihat cantik.
Gadis itu kakakku.
Sudah hampir dua bulan dia berada di sini, mama bilang kakak lebih baik di sini. Meski sejujurnya aku ingin kakak tetap di rumah, menemaniku. Tapi aku tahu, kakak harus berada di sini.
Aku menatap kakakku miris, perih.
Bahkan dalam kondisi seperti ini pun dia tetap terlihat cantik. Yah. walaupun minus senyum manis yang biasanya tak pernah lepas ia sunggingkan.
Aku pun masih ingat jelas kejadian itu, dua bulan yang lalu, saat dia pulang dari bank tempat dia bekerja, dengan selembar surat di tangannya.
Surat pemutusan hubungan kerja.
Dia di-PHK.
Dia menangis sepanjang malam, dan tidak mau makan apa pun. Matanya bengkak, wajahnya bersimbah air mata. Itu pertama kali aku melihat kakakku tidak cantik.
Waktu itu aku tidak tahu apa artinya PHK, dan kenapa surat yang dibawa kakak membuatnya menangis sepanjang malam.
Mama sudah menjelaskan, tapi aku tetap belum mengerti.
Hingga akhirnya ketika aku melihat kakak tidak pernah berangkat kerja lagi, dia tidak pernah mengenakan seragam biru favorite-nya lagi.
Kakak menangis setiap hari. Membanting apa saja yang bisa dibanting.
Kakak tidak mau makan. Dia melempar semua makanan yang aku bawakan untuknya.
Hingga akhirnya, semua kesadarannya menghilang. Dia sering mengamuk tiba-tiba, dan sejurus kemudian tertawa kencang. Atau bisa saja dia tiba-tiba menangis histeris, dan beberapa saat kemudian dia terdiam dengan pandangan kosong.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi mama dan Ayah memutuskan membawanya ke sini.
Di sini banyak orang yang seperti kakak. kadang menangis, kadang tertawa.
Tapi tidak ada yang cantik seperti kakak. Mereka semua menakutkan, sementara kakak tidak.
Bahkan dalam kondisinya yang begitu pun, kakak masih terlihat cantik.
Aku sayang kakak.
Kakak cepat sembuh!
…..












D5 Creation