072 Badut
now browsing by category
Hanya Badut
by Tenni Purwanti @rosepr1ncess
Aku cinta anak-anak, maka aku menjadi badut. Aku ingin anak-anak di sekelilingku bahagia. Aku bisa melupakan masa kecilku yang tak bahagia karena tak mengenyam pendidikan. Tapi, akhirnya ada satu hal yang membuatku menyesal menjadi badut.
Hari ini, kau dan dia meminta berfoto denganku. Aku tahu betul kalian berpacaran karena saling menggenggam tangan, saling bercanda mesra di hadapanku.
Andai aku bukan badut, aku pasti sudah melamarmu hingga kau tak sempat berpacaran dengan lelaki itu. Tapi aku hanya badut, yang bahkan tak pernah berani berbincang denganmu, Manajerku, di luar urusan pekerjaan.
Cintaku padamu tak terbalas, setidaknya cintaku pada anak-anak terbalas. Aku lanjutkan atraksiku hingga membuat mereka tertawa, meski hatiku menangis terluka.
Andai Ini Nyata
by Sutan Ar Rum @sutan_arrum
Hai… Apa kabar?
Apakah semua senang hari ini?
Mari kita berbahagia di hari istimewa.
Sebelumnya kita ucapkan Selamat Ulang Tahun, Budi.
Semoga Tambah berbahagia, murah rejeki dan panjang umur…
Perkenalkan semuanya, panggil aku Paman DotBolidop…
Aku badut yang akan menghibur semuanya…
Badut itu sangat hebat semua orang tertawa gembira dengan tingkahnya yang aneh. Tekniknya dalam bermain bola-bola kecil itu membuat berdecak kagum. Tepuk tangan membahana di seluruh ruangan pesta. Tiba saat yag dinantikan, acara meniup lilin. Budi bersiap-siap di depan kue tart yang besar dan indah. Segudang harapan dan keingin tealah disusun Budi.
Wussss… Lilin pun mati.
Budi menghembuskan napas terakhir. Semua hanya mimpi terakhir di rumah sakit tempatnya berbaring selama setahun.
Badut Idola
by Andy Saputra @creandivity
Perkenalkan, namaku Ary. Aku remaja pemalu. Selalu memilih meja di pojok belakang di kelasku. Aku berharap tidak ada yang melihatku. Namun, teman sekelasku malah sibuk mengerjaiku kapan pun mereka sempat. Tidak hanya gurauan kasar, olokan tentang pekerjaan ayahku sebagai tukang sampah pun kerap kuterima.
Malam hari, duniaku yang sedih itu akan berubah. Aku adalah idola nomor satu di taman bermain ini. Tidak jarang pula, aku melihat teman-teman yang menghinaku malah memberikan pujian kepadaku. Untuk menjadi terkenal itu tidak sulit. Cukup dirias sedemikian rupa, memakai wig, dan melakukan berbagai atraksi konyol dan menghibur di panggung. Yang penting, jangan pernah menunjukkan wajah aslimu. Biarkanlah riasan badut ini membuatku terkenal,walau hanya untuk malam hari.
Kenangan
by Susy Haryani @susyillona
Ia tahu aku begitu takut badut. Tiap kali ada badut yang melintas saat kami berdua, ia akan memelukku dan bercerita tentang kelucuan badut saat menghibur orang-orang. Aku akan tertawa terpingkal-pingkal saat itu, dan menyadari badut itu telah berlalu.
Pernah suatu ketika ia bertanya mengapa aku takut badut. Entahlah, rasanya aku tak mau mengingat memori burukku tentang badut. Cukup saat itu saja. Lalu aku menjawabnya, ”Aku tidak butuh badut untuk membuatku tertawa karena aku telah memilikimu. Cukup kamu, tak perlu yang lain.”
Ia hanya tersenyum saat mendengar jawabanku.
Sebenarnya aku sangat tertarik dengan cerita badut, tapi aku tak pernah lagi sanggup melihat badut. Kalau saja aku tak pernah mengalami payudaraku digerayangi olehnya.
Demi
by Ika @ikavuje
“Ini kan demi kuliahmu! Apakah kau malu?” kata ayah.
“Aku juga melakukan ini untuk ayah, hanya agar aku bisa membantu ayah. Apakah ayah malu?” aku balik bertanya.
“Iya nak, ayah malu, ayah tak mampu. Ayah lemah tak berdaya, tak bisa membahagiakan kau dan adikmu,” katanya menatap bukan ke arahku. Matanya berkaca-kaca.
Betapa aku sering bertanya siapa yang jadi badut itu? Aku menduga ayahlah itu.
Teringat saat aku sedang kerja paruh waktu menjadi tenaga pencuci piring di warung pinggiran. Teman sekelasku makan di sana, mereka memperolokku, “Eh, jadi babu lo?” kata Rara. Belum usai pedihku yang itu, datang waria tua ngamen dengan gaun yang aku kenal.
Spontan kupanggil ia, “Ayah?”
“Budi?” jawabnya.
Palsu
by Emiralda Noviarti @emiralda
Berdandan sempurna, menutupi bekas sembab karena menangis berhari-hari. Berpakaian, lalu berangkat. Turun dari mobil. One, two, action!
“Anggita! Lama nggak ketemu! Tambah cantik kamu.”
“Kamu kapan, Nggi? Sudah, pilih satu. Cantik, sukses dan populer kayak kamu. Jangan kelamaan mikir.”
Aku tersenyum, bahkan tertawa riang. Keceriaan berlebihan. Semoga tak ada yang menyadari bahwa segalanya palsu.
Setengah jam berlalu. Baiklah, bagian tersulit. Berdiri menanti giliran.
“Selamat, yaa..” Aku bahkan sempat melontarkan canda. Kalian tertawa. Entahlah apakah tawamu lepas atau sandiwara.
Aku tak ubahnya badut. Menyelubungi wajah dengan make-up tebal. Menyunggingkan senyum dan tawa riang walau dalam hati tersayat. Di resepsi pernikahanmu, yang bahkan hingga beberapa hari lalu masih mengatakan padaku, betapa kamu menyayangiku.
Bapakku Badut
by Daniel Prasatyo @daprast
Bapakku badut.
Bapakku memang perutnya gendut.
Bapakku sudah punya banyak keriput.
Bapakku hampir tak lagi berambut.
Bapakku bila di rumah tak pernah ribut.
Bapakku sedih hari ini melihat ibu cemberut.
Bapakku pulang tak membawa uang, bagaimana ibu tidak kalut?
Bapakku mencoba menghiburnya dengan menari perut.
Bapakku senang kalau kening ibu mulai berkerut.
Bapakku tahu, sebentar lagi senyum ibu akan menggelayut.
Bapakku mencoba menjelaskan mengapa penghasilannya menyusut.
Bapakku bilang, kostum badutnya sudah bau kentut.
Bapakku bilang, kostum badutnya sudah tak layak dan tak patut.
Bapakku bilang, pengunjung taman ria tak lagi menyemut.
Bapakku bilang, lebih baik ia berjualan es serut.
Bapakku lega, ketika ibu bilang dia manut.
Bapakku senang, punya istri dan anak penurut.
Keberuntungan untuk Gadis Tak Beruntung
by Inne @susterinne
Aku selalu menikmati permen cantik pemberian badut itu, setiap kali bertemu ia memberiku dua buah permen loli besar yang manis.
Pasar malam ini memang rutin diadakan satu tahun sekali. Entah kenapa aku selalu bertemu badut yang sama di pasar malam ini.
Aku menyebutnya keberuntungan untuk gadis tak beruntung.
Ini tahun ke 5 pasar malam ini ada, aku mencari-cari badut itu. Dia tak nampak, ada beberapa badut yang berpakaian dan berpenampilan sama tapi aku yakin itu bukan dia.
Aku rindu loli-loli itu.
***
Dari balik sebuah karavan, aku melihat gadis itu tersedu. Ia tak bisa melihatku lagi, ayahnya yang membuangnya di dalam sebuah kardus mie 9 tahun yang lalu.
Apakah aku masih pantas dimaafkan?
Badut Kelas
by Dian Harigelita @harigelita
Gue si badut kelas. Gue duduk di bangku kedua dari belakang, paling pinggir mepet tembok. Celetukan gue efeknya dahsyat. Dasar anak SMA yang belum sepenuhnya meluruhkan sayap beo mereka, lelucon garing pun akan menghasilkan tawa yang berlebihan.
Jam istirahat, sambil pura-pura asik mainan Twitter, gue curi foto-foto teman sekelas yang lagi nyipet. Jarum suntik bertukar tangan hanya disterilkan cairan sebotol ANTIS! Kupotret juga dua cowok yang asyik making-out di pojokan.
Enam tahun yang lalu gue pernah SMA. Di SMA Favorit ibukota. Bukan SMA kampung macam SMA Seroja ini. Demi bisa memasuki segala ‘klik’, gue pilih jadi badut kelas. Ngga apa-apa sering disetrap dan dipanggil guru BK, yang penting gue dapet berita.
Nani dan Badut
by Diana Siti Khadijah @andiana
Aku mengamati sosok menyebalkan itu dari sudut ruangan. Tingkah konyolnya justru tak menghibur. Aku sudah berargumen pada ibuku bahwa tahun ini tak usah menyewa hiburan. Cukup pergi ke panti asuhan, berdoa, membagi rejeki, lalu pulang. Beres.
Lagipula Nani tak begitu antusias dengan acaranya sendiri. Dia justru menatap benci pada orang yang sedang berusaha menghiburnya itu. Di tengah riuhnya tawa teman-teman yang hadir, kulihat Nani hanya diam. Cemberut.
Nani menghampiriku. “Mama, aku nggak suka pestanya. Sulapnya ngebosenin.” Aku mengusap kepalanya. Aku mencoba membujuknya agar kembali duduk manis.
Aku mendekati badut itu dan kutatap matanya. Ya Tuhan!
Aku menjauh dan menangis. Mantan narapidana itu… Dia rela menjadi badut hanya untuk melihat Nani. Putrinya.












D5 Creation