075 Arumanis
now browsing by category
Arumanis Yang Tak Manis
Anak itu memegang arumanis, langkahnya mengejekku yang sedang duduk sendiri di taman. aku harus merampasnya, tak kan ku biarkan ia masuk ke mulut gadis itu.
Aku berlari kegirangan setelah berhasil merebut arumanis dari gadis kecil itu, aku tak peduli suara tangis anak itu terdengar kencang di telingaku, juga suara ibunya memakiku. Bagiku mendapatkan arummanis ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan.
Tiba-tiba saja aku merasa jijik menyentuh arummanis ini, kubuang segara. Aku tak mau melihat dan menyentuhnya lagi. Dadaku terasa sesak, airmataku tak lagi bisa kutahan, dengan bebas ia menari-nari di pipiku. ”Andrini maafkan ibu nak..” teriakku.
”biarkan saja, ia memang seringkali menangis karena arumanis, putri kecilnya meninggal karena keracunan arummanis.” jalas seorang suster kepada ibu dari anak yang kurebut arumanisnya tadi.
Laras
by Mumu @pramoeaga
“Mbak, nanti aku dibeliin harum manis, ya..”
“Tenang aja, pasti itu”
Aku dan Laras memutuskan berjalan-jalan ke pasar malam, selepas kerja. Sekedar menepati janjiku untuk mengajak salah satu pengamen cilik bersuara merdu yang kukenal setahun lalu itu menikmati harum manis kesukaannya.
“Berapa, Mas?”
“Lima ribu, mbak. Mau berapa banyak?”
“Dua..”
Kuberikan gulungan permen awan berwarna merah muda itu pada Laras. Ia tampak senang. Matanya berbinar terang. Tawa polosnya selalu membuat lelahku menguap tanpa sisa. Aku senang membuat Laras tersenyum. Ia gadis lucu yang kurang beruntung.
Ccciiiiiitttttt!!!!!!
Derit ban truk yang berhenti mendadak mengagetkanku. Lamunanku buyar, kutoleh ke arah suara. Sesosok gadis mungil yang menggenggam harum manis tergeletak di depannya. Tak bernyawa.
Gulali Vina
by Diana Siti Khadijah @andiana
Vina menangis meminta pada ibunya gulali yang terpajang tinggal sebungkus di sebuah kios. Ibunya bersikeras tidak mau membelikannya dan membujuk Vina dengan mengambil sebuah boneka Barbie. “Ini saja ya, Sayang?” Vina menggeleng cepat.
“Sayang, kenapa harus beli di sini? Di luar kan ada?” Vina ngotot hanya mau yang itu.
“Mbak, memangnya gulali ini siapa yang buat?” tanya Ibu pada penjaga kios.
“Seorang kakek, Bu. Sebentar lagi pembuatnya datang, Bu.” Gadis itu menjawab.
Seorang kakek mendekati mereka.
Ibu dan Vina terkejut. “Bapak?” “Kakek?”
“Hanya dengan cara ini aku dapat dekat dengan Vina setelah kauusir aku dulu,” jawab lelaki itu parau. “Aku tahu Vina suka gulali. Jangan halangi kami untuk dekat,” pintanya lemah.
Bukan Pilihan
by Emiralda Noviarti @emiralda
Kamu menyimpan nomor HPku di HPmu dengan nama ‘Cotton Candy’.
Waktu kutanya mengapa, kamu bilang, “Sayang, memang kamu kayak gulali, kan ? Kamu manis, imut-imut dan ngegemesin. Kalau nggak karena kasian sama kamu, pasti pipimu sudah habis kucubit karena gemas.”
Kamu tersenyum menggodaku. Seperti biasa, aku pura-pura merajuk. Kamu sudah hafal kebiasaanku.
“Sini, sayang..” Kamu meraihku dalam peluk.
***
Beberapa bulan kemudian, baru aku tahu. Bahwa ternyata, bukan hanya itu sebabnya.
Sebab pertama, karena kamu menyembunyikan sesuatu. Karena aku bukanlah satu-satunya.
Sebab kedua, karena ternyata, aku memang bagai gulali untukmu. Ketika datang waktunya untukmu memilih, kamu tak memilihku. Karena aku hanya gulali.
Cotton Candy. Manis. Imut-imut. Menggemaskan. Namun bukan pilihan. Hanya sekedar selingan.
Kenangan Di Arena Bermain
by Rani Amalia Busyra @kekasihpuisi
“Kenangan di Arena Bermain”
Sudah lebih satu jam, belum satu huruf pun kutulis setelahnya. Apa? Pikiranku kosong. Bahkan imajinasiku pun tak sampai.
Siang tadi Bu Ana, guru baru yang sombong, menugaskanku membuat tulisan tentang kenangan di arena bermain sebagai hukuman karena aku tertidur di kelas. Memang sederhana, tapi ini diskriminasi. Jangankan arena bermain, pergi taman seberang jalan saja aku belum pernah.
***
Setelah terbahak melihat polah lucu badut buncit yang terjatuh-jatuh dengan konyolnya karena mengejar balon, aku berjalan ke tenda sirkus, menikmati arumanis di tanganku. Ah, tenda ini benderang. Silau.
***
Headline pagi:
Didapati seorang anak panti asuhan berusia sebelas tahun pengidap leukemia meninggal dunia di tempat tidurnya.
Gulali = Sebelah Cinta
by Ramadhan Aditya @rigeladitya
“Aku mau itu! Arumanis!”
“Kau suka?”
“Sangat!”
“Ini, satu untukmu satu untukku. Hei, tahu tidak gulali ini bisa dianalogikan dengan apa?”
“Hmm?”
“Dasar, kau malas berpikir kalau sedang asik dengan kesukaanmu. Menurutku, bisa dikatakan dengan sebelah cinta. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, tak terbalas. Seperti menepuk angin, asa yang hanya terus menjadi harap.”
“Hmm? Kok?”
“Coba lihat, begitu besar, lembut, manis, merah muda, cantik. Begitu menggoda bukan? Seperti kamu yang sudah tergoda sedari tadi.”
“Lalu?”
“Ketika kaupegang, begitu ringan. Ketika kaugigit, hampa. Ketika kaukecap, tak selembut yang kaukira. Manis, memang, sangat malah. Dan itu bisa membuatmu sakit gigi, bila berlebihan memakannya.”
“???”
“Tuhan tak suka dengan sesuatu yang berlebih-lebihan.Sederhanalah dalam mencinta.”
Sepenggal Kisah Arum Manis
by Daniel Prasatyo @daprast
Digantung di dalam plastik bening.
Berlomba-lomba dengan saudara-saudaraku, untuk tetap mengembang menggemaskan, menggoda siapa saja yang lewat di depan kami. Kamu.
Ditukar dengan rupiah.
Berpindah ke tangan kananmu. Tangan kirimu menggandengnya, kekasihmu.
Dibawa keliling kota.
Kalian bercengkerama di atas sepeda motor. Tangan kananmu memegang kemudi, tangan kirimu menggenggam tangan kiri kekasihmu. Tangan kanannya mendekapku.
Dibuka, dinikmati bersama.
Kauambil sejumput, kausuapkan padanya, pada bibir merahnya. Diambilnya sejumput, disuapkannya padamu, pada bibir gelapmu.
“Enak ya, San, arum manisnya…,” katamu.
Dia berdiri. Menamparmu. Memakimu. Berlalu.
“Putri! Maafkan aku! Aku tak sengaja, aku…,” kau berusaha menjelaskan.
Dia tak lagi mau mendengarmu. Dia sudah naik taksi, pulang berlinang air mata.
Dan aku tercampakkan di tepi jalan.
Belum Habis
by Te @embunbeningpagi
Arum manis,
Arum yang Manis… Selalu manis.
Nama yang selalu manis.
Kuingat karena senyummu yang manis.
Meski kamu hitam, tidak merah muda seperti arum manis.
Selamat tinggal Arum yang manis.
Kelak kita bertemu lagi.
Salam manis untuk Arum yang Manis
Raka.
Empat kali empat sama dengan enam belas
Sempat tidak sempat harap dibalas.
Tersenyum aku membaca surat itu.
Kesekian ratus bahkan ribuan kali. Surat berwarna merah jambu dari masa kecilku.
Kulipat lagi hati-hati.
Raka pengirimnya.
Dahulu dia pindah ke kota lain dan menulis surat untukku.
Benci.
Hanya dia yang selalu mengejekku Arummanis. Arum yang manis.
Tapi semua berlalu.
Besok pagi aku menikah.
Raka dan Arummanis adalah masa lalu.
Arummanis belum habis.
Arumanis Terakhir
by Adyta Purbaya @dheaadyta
“Ini untukmu…”
Dia menyerahkan sebungkus arumanis.
Aku tersenyum sangat lebar. Kekasihku ini selalu romantis memang.
Lalu kami mulai bertukar cerita tentang banyak hal hingga malam semakin larut.
“Kamu tidur gih, udah malem” katamu
Aku memasang wajah tidak rela.
Meskipun mengantuk tapi aku yakin bisa tahan mengobrol dengan mu hingga pagi.
Aku bergelayut manja di tanganmu.
“Ayo dooong, jangan bikin aku jadi tambah ngerasa berat gini” kamu mengelus lembut kepalaku.
Aku tidak ingin malam ini berakhir. Tolong. Aku tidak ingin pagi menjelang, dan kamu pergi.
“Aku juga harus istirahat. Besok acaranya jam 7 pagi. Kamu tentu tidak mau aku mengantuk saat ijab kabul kan?”
Dadaku sesak.
Mulai besok, aku akan menyebutmu kakak ipar.
Benang Peri
by Vira Cla @veecla
Saint Louis World’s Fair pada tahun 1904, Morrison dan Wharton menggelar dagangannya. Sesuatu yang manis, berwarna pink, dan seperti gumpalan awan. Sesuatu yang akan disukai anak-anak. Tapi, Morrison dan Wharton belum menamainya.
“Apa namanya, ya?” tanya Morrison. “Awan manis?” usul Wharton ragu. Morrison menggeleng. “Tak ada awan berwarna pink,” kata Morrison. Wharton tergelak.
“Aha! Kita namai Benang Peri saja?” usul Wharton lagi. “Anak-anak pasti tertarik membeli penganan dari peri. Peri baik hati selalu memberikan sesuatu yang manis. Benang dari peri akan dipintal oleh anak-anak menjadi selubung kebaikan. Kau setuju?”
“Wow, baik! Aku segera menuliskannya di papan. Kita akan menjual Benang Peri, kawan!”
Akhirnya, Benang Peri laku terjual. Morrison dan Wharton pun bahagia.












D5 Creation