084 Kendaraan Umum Konyol

now browsing by category

 

Perjalanan ‘Panjang’

by Dian Ismarani @detakhujan

Setinggi – tinggnya tupai melompat, itu tupai ngga bakalan tinggi juga. Emang udah takdirnya segitu aja. Itulah yang dialami Inala Munawaroh, pemeran utama cerita kita hari ini. Seorang gadis yang baru saja berhenti SMA di Tasikmalaya bagian pedalaman. Kalau dicari dipeta butuh waktu sehari semalam dan tetep ngga bakal ketemu juga. Waroh, begitu panggilan umi sama bapaknya, putus sekolah karena alasan klasik: Tidak ada biaya. Bapaknya tidak ambil pusing. Teu kedah sakola jauh teuing, engkin oge uihna ka dapur (ngga perlu sekolah terlalu jauh, nanti juga kembalinya ke dapur). Sungguh filosofi manusia jaman pithecantropus erectus javanicus palelo kayatikus. Waroh Memutuskan untuk meninggalkan kampung tempat dia dibesarkan dan pergi mengadu nasib di Jakarta.

“Waroh bisa kok Mi, punya kehidupan yang baik di Jakarta. Nanti Waroh pasti pulang kalau sudah sukses“. Katanya pada umi.

Aling – aling sang umi yang juga tidak mau anaknya dijodohkan dengan bandot tua juragan kelapa sawit oleh sang bapak, dengan berat hati, derai air mata dan celengan ayam setahunnya, sang umi melepas jua Waroh ke ibukota. Hal yang dikatakan umi kepada Waroh untuk terakhir kalinya adalah : Neng, upami eta cengcelengan teu kedah dianggo balikeun deui ka umi nya! (Neng, kalau itu celengan ngga harus dipakai, kembalikan lagi ke ibu ya!) Jeddaagg! Si umi teh niat ngasih ngga? Pikir Waroh bingung.

Diantar Ayip (nama panggilan sang adik yang bernama lengkap Syaripudin), Waroh berangkat menyebrangi perbatasan. Sungai yang lumayan besar yang bisa dilalui oleh sampan untuk bisa sampai ke desa sebelah.

Teh, engke ti Tasik naik beus anu ka Jakarta“ (Kak, nanti dari Tasik naik bis yang ke Jakarta). Seru si Ayip. Waroh mengangguk. Masa iya mau ke Jakarta naik bis ke Bandung? Serunya dalam hati. Berbekal baju seadanya, celengan umi dan kertas alamat saudara jauh umi yang katanya tinggal di Jakarta, Waroh membulatkan tekadnya. Ayip cuma bisa mengantar sampai ujung sungai karena selanjutnya Waroh harus tunggu angkot kecil yang mengantarnya ke kota Tasikmalaya.

Setelah satu jam delapan belas menit,

“Tasik! Tasik!“ seperti mendapat air di tengah gurun pasir Waroh bahagia ketika akhirnya angkot itu tiba. Waroh menaikinya. Untung masih ada satu tempat duduk tersisa. Di dalamnya hampir semua penumpang tertidur.

***

“Pak, Pak!“ Waroh mencoba membangunkan si bapak yang tidur dengan tanpa dosa menyandarkan kepalanya di bahu Waroh. Si bapak menggeliat tanpa mengangkat kepalanya.

“Pak, punten atuh Pak“ Waroh semakin keras berusaha.

“Hoammmhhh, Kamu ini ya! Ganggu orang tua tidur aja! Dasar anak ngga tahu sopan santun! Ngapain saya dibangunkan! Saya masih jauh turunnya tau!“ Waroh bengong dengan repetan si bapak.

“Punten Pak, saya mah ngga peduli Bapak turun di mana. Masalahnya saya mau turun di sini dan dari tadi Bapak teh nyender di bahu saya. Takutnya kalau saya langsung turun nanti kepala Bapak jatuh ke bawah. Masih mending saya ngga mintain uang sewa bahu. Malah saya dimaki – maki. Mangga pak, terusin tidurnya. Awas kepalanya copot“ seru waroh yang langsung membungkam mulut si bapak. Waroh pun turun dari angkot sambil terkikik dan berjalan ke dalam Terminal Tasik.

“Cirebon! Sukabumi! Bandung! Jakarta! Ayo – ayo! Bu, Kemana Bu?!“ para calo bereteriak – teriak di kuping setiap pengunjung terminal. Waroh mulai sakit kepala dengan teriakan – teriakan itu.

“Bang, bis ke Jakarta di mana Bang?!“ Tanya Waroh.

“Oh, Surakarta? Ngga bisa Neng. Neng harus nyambung kalo mau ke Surakarta. Ngga ada bis langsung“.

“Jakarta Bang, bukan Surakarta“.

“Surabaya? Tasik – Surabaya sebelah dalem Neng, nanti ketemu gerbang biru lurus aja“

“Bang, saya mau ke Jakarta! Ja-Kar-Ta!“ Waroh mulai putus asa.

“ Yee, karunya amat sih Neng (kasian amat sih Neng). Ini mah terminal Neng. Neng kalau mau naik ke-re-ta ke stasiun. Di sini adanya cuma bis aja“. Waroh bersumpah kalau sudah sukses akan balik ke terminal ini dan membiayai operasi telinga si abang calo.

Sepuluh menit keliling terminal akhirnya Waroh melihat bis bertuliskan Tasik – Jakarta Via Puncak – Kp. Rambutan. Bis itu sepertinya bukan AC. Pasti tidak terlalu mahal, pikir Waroh. Tanpa pikir panjang ia langsung naik. Di dalam bis ternyata masih kosong. Waroh bersyukur berarti dia bebas memilih tempat duduk. Sengaja Waroh memilih paling belakang. Baru duduk, Waroh merasa amat mengantuk. Semalaman tidak bisa tidur membuat Waroh langsung terlelap.

***

“Neng, Neng!” Waroh merasa bahunya diguncang.

“Sudah sampai Jakarta ya Bang?”

“Neng mau ke Jakarta? Jangan naik bis yang lagi mogok atuh. Ini mah ampe lebaran kuda juga ga akan berangkat. Tuh liat, di luar udah gelap. Ini terminal Tasik!”

Cenat-Cenut di Pagi Hari

by Teddy Andika @teddyandika

KKKRRIINNGGG….. Entah sudah berapa kali kali alarm dari jam di pinggir tempat tidur berbunyi. Kulihat jam dengan mata setengah terpejam. Hah! Sudah jam 07.30. Telat. Nyawaku langsung kumpul seketika. Bergegas mandi dan berpakaian. Sarapan? Sudah tidak sempat. Sudah siap dan berada di dalam mobil. Ketika distarter, mesinnya diam. Dicoba berkali-kali, tetap saja mesin diam seribu bahasa.Baiklah. Artinya aku harus naik kendaraan umum. Mau naik taxi, lagi tanggal tua, dompet tidak bersahabat. Mau tidak mau metromini menjadi pilihan terakhir. Berharap dapat supir yang jago ngebut. Jadi tidak telat sampai kantor.

Semoga hari ini jalan tidak macet serta diberi kemudahan cepat sampai di kantor dan bisa ikut meeting jam 09.00. Cukup jauh dari rumah ke halte bis. Baru keluar komplek, sudah menunggu ojek langganan. Sepertinya si abang ojek bisa membaca pikiranku. Tidak sampai 15 menit, sudah sampai di halte bis. Baru menunggu kurang 10 menit, metromini yang kutunggu tiba dan kosong pula! Jarang-jarang, pagi hari metromini kosong. Perasaanku mulai tidak enak. Diberikan kemudahan kok curiga. Begitu pikirku. Aku langsung naik dan duduk dekat jendela di baris ke dua. Metromini pun melaju.

Sepertinya Tuhan mengabulkan doaku. metromini melaju kencang diselingi rem mendadak ketika supirnya mengambil penumpang. Aku menikmati saja yang penting tidak telat sampai kantor. Selama perjalanan, penumpang terus bertambah. Semua bangku mulai terisi penuh. Pengemis, tukang dagang dan pengamen silih berganti menghibur selama perjalanan.

Tiba-tiba mata menegang ketika seorang wanita dengan dada penuh berdandan lengkap memakai baju warna kuning ketat, rok mini biru terang, tas, stoking hitam dan sepatu cukup tinggi, naik ke metromini. Aneh saja sepagi ini dengan dandanan dan baju seperti itu. Tunggu dulu. Ada yang aneh dari mukanya. Dia bukan wanita. Ternyata waria. Dia mengeluarkan kerincingan dari dalam tasnya. Serasa seorang diva, dia pun menyanyi dengan kenesnya di depan penumpang. Beberapa penumpang tersenyum ketika waria tersebut sesekali berteriak manja, ketika metromini ngerem mendadak. Entah dia nyanyi apa karena suara, musik dan goyangannya tidak nyambung. Ah, sudahlah. Namanya juga cari duit. Aku sudah menyiapkan uang kecil untuk diberikan kepadanya.

Setelah nyanyi 3 lagu, dia mulai beraksi untuk meminta uang kecil atas usahanya menghibur kami. Dia menyodorkan kantong dari bungkus pewangi cucian, mulai dari bangku terdepan. Begitu uang kecil dimasukkan, dia mengedipkan sebelah mata dan dengan genitnya mengucapkan, ”Terima kasih ya cciiinnnn!”

Sampailah dia di dekatku. Anak perempuan berseragam SMA, yang duduk di sebelahku, hanya memberikan senyuman kepadanya. Ketika ia hendak menyodorkan kantung uangnya kepadaku, tiba-tiba metromini ngerem mendadak. Dia kehilangan keseimbangan. Badannya terpelanting ke arahku. Tangannya mendarat dengan sukses di selangkanganku dan mencari pegangan di burungku. Mataku melotot kaget campur enak…eh, maksudnya sakit. Belum lagi dadanya yang montok tepat menutupi mukaku. Sempurnalah sengsara membawa nikmat buatku.

Langsung semetromini tertawa melihat adegan tersebut.

Selangkanganku langsung cenat-cenut. Kepala pusing mencium aroma parfum dari dadanya yang penuh. Buru-buru kuangkat badanya. Takut ada yang foto kejadian tersebut lewat handphone lalu disebarkan lewat internet. Bisa-bisa aku kena undang-undang pornografi. Si Waria langsung berdiri dan membereskan pakaiannya sambil tersenyum nakal. Saking malunya, aku langsung berdiri dari tempat duduk, untuk segera turun. Sebelum turun, aku tetap memberikan uang kepadanya. Dia menerimanya dan kemudian memasukan ke kantong bajuku sambil berkata dengan nada genit, ”Ngga usah bayar bang, kan udah sama-sama enak.“

Aku langsung melompat turun diiringi tawa para penumpang sambil berpikir mimpi apa semalam.

Motor Ojeknya Vita

by Diana Siti Khadijah @andiana

Jadi tukang ojek kadang enak kadang nggak. Banyakan sih nggaknya. Kepanasan, kehujanan, sepi penumpang, dipalak preman, bensin habis, ban kempes, dan ditodong bini buat belanja sayur. Haduh!

“Bang Boim! Ayo, aku sudah telat ke sekolah nih!” suara Vita –langgananku- mengagetkan.

“Eh iya, Non! Abang sampe kaget nih! Yuk deh! Capcus!” aku menyalakan mesin motor.

Baru berjalan satu kilometer, ban motor kempes. Terpaksalah aku mencari tukang tambal ban.

“Kenapa sih bannya?” tanya Vita.

“Kempes,” jawabku singkat.

“Kenapa kempes?” tanyanya lagi.

“Nggak tau, Non.”

“Kenapa nggak tau? Harus tau dong, Bang. Kena paku ya? Atau ada silet? Oh, ada gunting di jalan tadi ya?” Mulai bawel dah!

“Kalo ditambal, bisa jalan lagi?” Vina tetap bertanya dan menjawabnya sendiri. “Hm, iya dong! Kan udah nggak kempes lagi. Iya kan, Bang?”

Aku hanya tersenyum tipis. Aku menyerahkan sejumlah uang pada tukang tambal ban dan segera menyalakan mesin. “Bayar berapa tadi, Bang? Mahal nggak?”

“Nggak kok, Non.”

“Bagus deh! Soalnya kalo mahal, kasian Abang. Nanti nggak bisa beli makanan buat ade Yusuf.” Deg!

Aku menoleh pada Vita. Anak sekecil ini bisa merasakan apa yang orang dewasa rasakan? Dia bisa memahami kesulitanku. Ah, jadi ingat Yusuf, anak bungsuku.

“Bang, jangan ngelamun! Nanti kena paku lagi lho! Nanti ditilang polisi lho! Eh, awas nanti ada makhluk luar angkasa yang menghukum Abang karena ngelamun,” celoteh Vita sok tahu. Aku tertawa.

Berhenti di lampu merah. Motor bebek bututku bersanding di sebelah motor gede. “Bang Boim! Kalo nanti udah punya uang banyak, ganti motornya kayak gitu ya?” Vita menunjuk ke motor senilai ratusan juta itu. Aku nyengir.

“Pasti keren deh, ngojek pake motor itu. Nanti pasti disewa sama presiden,” ujar Vita sok tahu.

“Ahahahaha, mana mungkin?”

“Jangan ketawa, Bang. Abisan, motor Abang ini harus direnovasi. Udah butut,” Vita semakin membuatku tertawa.

“Reparasi, maksud Non Vita? Kok renovasi? Memangnya rumah?”

“Yah, apapun deh!  Trus klaksonnya ganti kayak tukang eskrim itu tuh!”

“Lho?” Lampu kembali hijau dan motor-motor lain saling membunyikan klakson dengan super nyaring.

“Iya, biar motor-motor laen pada diem! Abis berisik banget!” Aku mengangguk pura-pura setuju.

Sampai di gerbang sekolah Vita, dia kembali menyeletuk, ”Bang Boim! Nanti siang jangan lupa ya!”

“Apaan Non?”

“Jemput aku sudah ganti motor gede itu ya?”

“Lho, mana bisa cepet kayak gitu?”

“Bisa aja. Minta sama Doraemon dong! Yuk ah!”

Aku melongo. Ngaco deh!

**

Ketika menjemput Vita, kulihat dia terpana melihat penampilan baru motorku. “Bang Boim, kita mau ikutan karnaval ya?”

“Lho, katanya butut. Jadi abang poles dikit.”

“Kenapa warna warni pelangi seperti permen. Kayak anak teka aja.”

“Kan bagus? Ngejreng gitu?” aku ngotot membela diri meski hati ingin tertawa.

Vita mengelilingi motorku dengan takjub lalu protes, “Kok nggak ada gambar Princessnya?”

Aku kehabisan kata pembelaan.