091 Balapan
now browsing by category
Kalah dan Kecewa
by Diana Siti Khadijah @andiana
Fikri dan Rizal sudah bersiap di arena perlombaan di lantai dua mall megah ini. Tamiya berbagai model berjejer di sirkuit. Lawan mereka ada lima orang. Ini babak penyisihan pertama. Mereka harus melalui dua babak penyisihan sebelum akhirnya ke final. Pemenangnya akan mewakili kota ini di tingkah nasional. Pasti keren!
Fikri memeriksa kembali tamiyanya. Semoga menang! Jantung Fikri berdegup kencang. Ini ajang pertamanya ikut lomba. Persediaan batere juga oke. Dia tersenyum puas dan meletakkan tamiyanya di garis start bersama tiga tamiya lain. Rizal menunggu dengan cemas dan gugup.
Fikri menang penyisihan pertama dan Rizal semakin tak tenang. ‘Jika aku kalah, maka aku harus menyerahkan tamiyaku dan mentraktir dia di kedai Bang Naim. Itu tak boleh terjadi!’ Dengan geram Rizal memeriksa tamiya dan sirkuitnya. Beres. Lawannya terlihat santai. Dua diantaranya anak cewek? ‘Hey! Becanda kan??? Rizal melotot. Masa aku harus melawan cewek sih?’
Karena tak tenang ketika berlomba, Rizal kalah. Hal ini membuatnya semakin emosi. Sementara Fikri bersiap di penyisihan kedua, diam-diam Rizal mendekat ke tempat Fikri menaruh tasnya. Dengan hati-hati, Rizal mengambil salah satu tamiya terbaik Fikri dan mengendurkan sebuah sekrupnya. Rizal bernafas lega mengetahui Fikri tak melihat ke arahnya. ‘Bagus, penyisihan kedua menjadi milikku!’ Rizal tertawa. ‘Dengan begitu, di final aku bisa mengalahkan dia!’
Fikri kalah di penyisihan kedua. Dia terlihat kecewa. Nilainya sama dengan Rizal. Tetapi ia segera membereskan tamiyanya untuk beraksi di final. Hari sudah sore. Lawannya ada tiga orang termasuk Rizal. Sebenarnya oleh panitia diperbolehkan mengganti tamiya asalkan masih model yang sama. Fikri menggeleng. Ia merasa tamiya yang baru saja bermain di penyisihan masih mampu berlaga di final. Di kejauhan, Rizal terperangah. ‘Apa?!! Dia tetap memakai tamiya itu??!!’
Rizal bergegas mendekati Fikri dan merayunya. “Masa untuk final, lu kagak pake yang bagusan dikit?”
“Kagak dah! Gue rasa ini masih oke. Baterenya juga baru gue ganti,” Fikri tersenyum.
“Tapi gue penasaran sama aksi tamiya ini. Katanya ini kesayangan lu?” desak Rizal. Fikri tetap menggeleng.
Merasa sia-sia menghasut Fikri, Rizal akhirnya mencoba mengendurkan sarafnya dan memikirkan langkah apa yang harus ditempuh. Waktunya sepuluh menit lagi.
Di pertengahan lomba, Rizal berusaha mengacaukan konsentrasi Fikri. “Fik, lu dapet salam kenal dari anak pindahan itu.”
“Siapa?” tanya Fikri dengan tatapan tetap pada sirkuit.
“Cathy, anak kelas sebelah.”
“Oh, dia? Iya, salam balik deh.”
Tetap tak bergeming. Rizal jengkel. Akhirnya dia melakukan hal yang paling ekstrim. ‘Kalo aku harus kalah dari dia, lebih baik sekalian dia juga gak menang!’ Maka Rizal sengaja menghalangi jalan tamiya Fikri dengan sebuah korek api di lintasan.
Suasana memanas dan ribut. Rizal dikeluarkan dari perlombaan. Fikri yang nyaris terpancing untuk marah, memilih diam. Panitia masih memberi kesempatan padanya untuk mengejar ketinggalan. Kalah. Fikri ada di tempat ketiga.
“Gue kecewa sama lu. Gue pikir kita bisa berlomba secara sportif,” ujar Fikri sambil menatap tajam Rizal dan berlalu meninggalkan mall ketika bulan masih berada di balik awan kelabu.
Aku Menang
by Zadika Alexander @TanteHijau
Pernahkan dirimu merasa sangat cemburu kepada seseorang atas segala yang ia miliki? Well aku pernah. Hanya ada satu orang yang selalu membuatku iri. Namanya Amy. Huh!“Najis!!!”
Aku melemparkan surat undangan yang baru satu detik kupegang. Amy mengundangku ke pesta pernikahannya, lagi. Yap, lagi. Dia menikah untuk kedua kalinya, dalam satu tahun.
Aku menghempaskan badan ke singgasana kubikelku. Kulirik kesal ke undangan putih di hadapanku. Mengapa aku harus terjebak dalam situasi ini? Jika pernikahan Amy ini diketahui oleh kedua orang tuaku, pasti mereka akan berseloroh kejam.
‘Tuh kan, Amy, sahabatmu udah mau nikah lagi. Terus kapan giliran kamu? ‘
Damn!! I hate Amy!
***
Tawa itu masih teringat jelas dalam benakku, tawa Amy. Saat itu kami masih berusia remaja. Ia memang bintang sekolah. Juara kelas, juara lomba atletik dan gadis idola di SMA kami. Semua mengangguminya, tapi juga membencinya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang membencinya, bahkan ia selalu tampak jumawa ke setiap orang yang kalah darinya, termasuk dihadapanku.
Aku memang bodoh, berani taruhan bisa mengalahkannya. Hasilnya? ia mentertawakanku dengan sangat puas melihatku terengah-engah tak berdaya di belakangnya. Perutku bergejolak, mual, melihat tingkahnya yang arogan. Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Ia memang selalu lebih atletis dibandingkan diriku.
“Win… win…” ucapn Amy sambil menepuk-nepuk bahuku. “Jangan sok kuat deh, sampai kapanpun dirimu tidak akan pernah bisa mengalahkanku dalam lomba lari.”
Amy tertawa lepas sambil terus menepuk-tepuk bahuku. Aku menghindar menjahuinya.
“Baiklah. Kau memang selalu menang. Nantikan saja, suatu saat pasti aku akan mengalahkanmu.”
Amy kembali tertawa. “Aku meragukan hal itu, Win. Once a loser, always a loser!”
Amy mengedipkan mata kanannya dan berlalu dari hadapanku dengan tersenyum penuh kemenangan.
“Ingat, My!! Aku pasti bisa mengalahkanmu!!” teriakku kesal.
Amy berbalik dan tersenyum jahil. “Ok. i’ll waiting for that.”
Dan itu tidak pernah terjadi. Aku selalu kalah, bahkan di semua hal aku kalah. Termasuk urusan percintaan.
***
Amy berlari menuju diriku dan memelukku, ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruang resepsi pernikahannya. Ruangan resepsi itu sepi, bahkan terlalu sepi untuk sebuah pesta pernikahan. Antara terkejut dan bingung, aku menatap punggung Amy yang memelukku sambil tersedu. Tersedu? Amy nangis?
Aku merasakan bahu kananku lembab, ya, Amy benar-benar menangis. Aku speechless, tidak tahu harus bersikap apa atau mengucapkan apa. Setelah puas membuang air matanya di bahuku, Amy melepaskan pelukanku dan menatapku nanar.
“Makasih, Win. Terima kasih sudah datang.”
Aku mencoba menaikkan bibirku, tapi sepertinya senyumanku tidak terbentuk dengan sempurna.
“Sama-sama.” ucapku kaku.
Amy memeluk lenganku dan menarikku pelan menuju kursi terdekat. Aku menurut dan ikut duduk di sampingnya di kursi VIP.
“Mhmmm… calon suamimu mana, My?” ucapku serak.
Bendungan air di mata Amy kembali pecah, dan ia kembali memelukku. Kali ini ia menangis dengan histeris.
“Ia pergi!! Ia meninggalkanku!!! Aku kalah!!!”
Aku kembali membeku. Tidak tahu apakah harus sedih atau bahagia mendengar ucapan Amy.
***
Aku melirik kearah wanita disampingku. Wajahnya menunduk. Sedari tadi ia tidak mau menatap wajahku. Ia terus menunduk ketika dibawa oleh keluarganya untuk duduk disampingku. Sepertinya ia memang enggan duduk disampingku saat ini.
Kuhembuskan nafas pelan-pelan agar tidak terdengar seperti helaan nafas kesal. Telapak tanganku sudah mendingin karena menunggu wanita itu keluar dari kamarnya. Tapi ketika ia sudah disampingku, perasaanku semakin malah tidak enak. Aku merasakan penolakan yang kuat dari wanita disampingku, menolak menikah denganku.
Ya. Akhirnya kudapatkan juga wanita yang mau kunikahi. Wanita yang diidam-idamkan oleh kedua orang tuaku. Wanita yang selama ini menjadi musuhku, Amy.
“Sudah siap mas Windu?” tanya pak penghulu dengan senyum penuh makna.
Aku mengangguk ragu-ragu.
“Koq anggukannya kurang meyakinkan nih?” tanya sang penghulu dengan penuh canda.
Aku tersenyum malu. Kualihkan pandanganku ke Om Wirya, Ayah Amy. Pria itu tersenyum lebar dan langsung menjabat tanganku erat.
Amy, sekarang aku mengalahkanmu…
Lesat
by Adellia Rosa @adelliarosa dan Rendy Doroii @doroii
Aku tidak boleh terlambat. Sainganku kali ini banyak. Susah payah aku melesat berusaha melewati semua rivalku, saling dorong, saling sikut, saling tendang. Saling telan kalau perlu!
Kalau aku tidak segera sampai, matilah aku. Mati sebagai pecundang. Si tolol yang tak pernah menang. Di sekitarku, semua musuhku sudah melesat secepat kilat dengan suara mendesing-desing. Aku sempoyongan. Hampir ambruk, namun kukuatkan diriku. Aku bergerak semakin cepat.
Peluhku bermunculan, walau terpaan udara kencang, tapi ketegangan ini mencekam. Aku melirik pada sebelah kiriku. Ah, aku mengenalnya. Walau terbalut kostum serba putih itu, aku mengenalnya. Ia saudaraku. Ia berada disini dengan tujuan yang sama denganku. Memenangkan pertandingan ini. Sayang sekali kami tidak berada di tim yang sama. Sehingga harus bersaing seperti ini. Ia melaju kencang. Aku menambah kecepatanku. Semua cepat. Berlalu. Terlihat kencang. Sayang jalur yang berbelok itu tak terlihat olehku. Aku terkejut. Terlambat.
Tergelincir aku oleh lajur jalur yang liat. Seketika aku merasa lumpuh. Satu, dua, lima, sepuluh! Mereka terjatuh! Hebat! Beberapa lainnya masih melaju dahsyat. Ah! Mana kakiku! Kenapa aku berdiri saja tidak mampu? Bangun! Jeritku sendiri. Mencoba melentingkan semangat yang seharusnya berapi-api.
Aku kembali mengejar rival-rival di depanku. Mereka memaksakan segalanya demi garis akhir yang semakin dekat. Beberapa tampak melemah, entah mengapa. Mungkin karena aku yang semakin melaju. Ah, kakakku berada di depanku, dibayangi oleh tiga rivalku. Aku memaksa melaju. Garis akhir tampak bersinar. Aku mengejar walau tersengal. Seketika kakakku berhenti. Tiga rival terpelanting jatuh. Tak menyangka manuver diam di hadapan mereka. Aku melaju paling depan. Sekilas senyum berkilat kulihat. Kakakku tersenyum padaku.
Bodoh! Buat apa dia berhenti? Tidak ada dua tempat di garis akhir. Menang atau mati! Menang atau mati! Riuh rendah suara di kepalaku memaksaku menerjang. Aku berusaha melewatinya, berpura-pura tidak melihat. Kalau kau jantan kau harus berjuang! Inginku berteriak menampar wajahnya. Tanpa kusangka-sangka dia menyambar lenganku, memegangnya erat. Bisa kulihat dari sudut mataku, beberapa yang lain sudah begitu dekat.
Kakakku mulai menyeretku, mengajakku melesat bersama. Adakah tempat disana untuk dua pemenang?
Gerbang kemenangan semakin dekat. Beberapa milidetik lagi aku sampai. Dan kakakku masih menyeretku. Aku tak mengerti. Bukankah harusnya dia bertanding denganku. Mengapa kali ini membantuku. Sial, konsentrasiku pecah olehnya. Sebuah kelebat putih muncul membayangi ekor mataku. Tubuhku mulai lelah. Tak mampu lagi bertanding. Tapi kakakku tetap menyeretku. Memaksaku. Pandanganku kabur.
**
Butuh waktu cukup lama bagiku untuk membuka mata. Terang. Silau sekali. Aku mengedipkannya beberapa kali. Entah dimana aku kini. Tapi aku tenang. Kakak masih memegang erat tanganku. Tapi ada orang yang memisahkan kami. Orang itu lalu menarikku, memegang kakiku, dan memukulku. Aku menjerit. Teriakkan keras membahana semesta. Udara sejuk menusuk masuk tubuhku. Ya, menusuk. Rasa sakit di dada terasa. Aku menangis, tapi tidak seperti bayi umumnya. Ah, ya. Itu dia. Aku terlahir tidak normal. Aku cacat. Entah apa yang terjadi. Tapi paru-paruku mengempis. Tak mampu menampung udara masuk. Aku menangis, megap mencari udara. Gagal. Aku gagal bernapas. Maaf kak, ini sia-sia.
**
Saat kurasakan tubuhku mulai kuyu kehabisan tenaga, kakakku makin mencengkeramku, enggan melepaskanku. Semakin kuat. Erat. Hingga akhirnya aku terhempas ke dalam garis akhir bersamaan dengan kakakku. Sial, akhirnya aku sampai juga di garis itu! Ovarium. Itu yang disebut-sebut sebagai nama tempat ini. Seketika senyumku terbit Tapi aku resah. Tak seharusnya aku menggapai garis akhir. Tak seharusnya aku bertahan. Tak seharusnya aku menang. Tak seharusnya aku terlahir nanti. Semoga bukan bayi buruk rupa yang kelak kujelma!
Sirkuit Penuh Luka
by Rendra Jakadilaga @therendra
Taruhan selalu paling ramai ketika hari hujan seperti ini. Selain jalan yang licin menambahkan bumbu thrill ke balapan kami, hujan juga menciptakan atmosfer yang menggairahkan adrenalin untuk sekedar bergolak dua tiga ombak. Motor mungilku sudah kupermak habis: penambahan speed booster tanpa merek yang kudapat dari pasar gelap sudah diuji keandalannya, pengurangan berat bodi dan pemasangan penyetabil getaran. Nyaris 12 juta untuk aksesoris sendiri. Uang sebegitu bisa kudapat kembali dengan memenangkan balapan sekali ini saja. Aku pasti menang. Aku selalu menang.
Aku mengecek mesin, bensin, dan hal-hal remeh lainnya. Masih ada lima menit untuk memastikan bahwa semua sudah pada setelan terbaik. Helm gambar tokoh kartun Doraemon ini membuatku terkenal sebagai “Motor Baling Bambu”. Ini balapan ilegal, karenanya kami semua tidak ada yang menampakkan wajah sejak memasuki sirkuit. Lampu-lampu aba-aba tampaknya sedang dites, tadi sempat mati karena korslet kena hujan.
***
“Motor kakak bagus sekali!” Roid, anak tetangga sebelah, mengomentari. Roid ini bagiku seperti adik yang tak pernah kumiliki. Pada usia 16, dia sudah menyamai tinggi badanku. Beda 8 tahun tak menghalangi keakraban kami.
“Hem. Iyalah. Udah banyak kakak ongkosin juga sih!” jawabku. Keluargaku memang paling kaya di radius 6 kilometer. Roid dan ratusan tetangga lain bahkan takkan menyamai harta Papa kalaupun mereka bergabung.
Aku ingat, akulah yang mengajari Roid mengendarai motor. Ia lihai, tapi tidak selihai aku.
“Kapan-kapan aku mau minjam motor kakak untuk ikut balapan di Rawa Tengah,” ucapnya suatu hari. Itu balapan ilegal yang selalu kumenangi. Aku buru-buru mengalihkan pembahasan ke arah lain.
***
Aku sudah bersiap di sadel motorku. Deru mesin menunggu tarikan gasku seperti musik di telinga. Mendayu tapi membangkitkan semangat. Bau asap knalpot dengan bahan bakar paling murni inilah aroma favoritku. Adrenalinku perlahan-lahan naik. Lampu aba-aba, dalam gerakan lambat perlahan-lahan berubah warna. JALAN!
Aku menarik gas sedalam-dalamnya. Motor mungil itu seperti melayang di antara motor-motor gede yang sok macho tapi lajunya kayak keong itu. Hujan menderas. Tiba-tiba, air seperti tirai tebal yang berat dan sulit ditembus. Motorku masih laju, tapi ia melambat sedikit, karena suhu pembakarannya tidak bisa maksimal. Dingin.
Aku masih paling depan, kira-kira dua setengah detik di depan motor kedua. Kilasan pemandangan cuma berlalu kejap di sisi-sisian helm. Mungkin, hanya mungkin, aku beberapa kali mendapati kilasan masa lalu, seperti ketika kita hendak menyongsong kematian. Dua putaran lagi!
***
“Aku mau ikut balapan, kak! Emak butuh duit untuk berobat Tohir,” keluh Roid minggu lalu. Keluargaku bisa saja memberi bantuan dana cuma-cuma. Ayah tidak sepemurah itu. Uangku sudah habis untuk biaya modifikasi motor ini.
“Aku ndak bisa ngasih kamu ikut balapan, Id. Kamu masih kecil. Lawan-lawan sudah jago-jago semua!” aku menjelaskan. Roid tampak kesal.
“Aku aja yang balapan untukmu!” kataku akhirnya. Hadiahnya untuk Roid, janjiku. Ia berbinar kembali dan memelukku. Lengan kecilnya nyaris meremukkan rusukku.
***
Balapan ini bukan lagi untuk kemenanganku. Bebannya bertambah. Aku harus memenangi balapan demi hadiah uang agar Roid bisa membawa adiknya ke Rumah Sakit. Operasi berat, katanya.
Putaran terakhir, hujan makin deras. Garis finis sudah terlihat. Sebelas detik lagi!
7 Detik. Enam. Li… DHUARRRR!!!
Aku terlempar ke atas. Ada yang meledak di dalam mesin motorku. Aku merasakan keras dan panasnya tekanan ledakan itu. Aku masih belum bisa merangkai logika tentang apa yang terjadi. Tubuhku mendarat di aspal basah, terjerembab dengan wajah dulu. Kaca pelindung depan helm pecah menghantamku. Aku masih merasakan kakiku bergerak sekitar sedetik dua, lalu salah satu ban motorku melenting tepat di tengah punggungku. Aku mendengarkannya patah. Tapi, aku tak merasakannya lagi. Beberapa motor yang tak dapat menghentikan lajunya terpaksa melindasku beberapa kali.
***
Roid tertegun.
Wajah pucatku sepertinya membangkitkan rasa bersalahnya. Tubuhku yang kaku tak dapat bergerak lagi, juga. Mungkin. Roid menangis setitik-setitik. Aku tak tahu ia menyesalkan kematianku atau uang hadiah yang tak jadi ia terima. Atau tertular oleh bundaku yang sejak pagi tak henti meraung.
Roid mendekat ke mayatku yang baru saja selesai dishalati. Ia berbisik terisak.
“Kak Andien,maafkan Roid… Gara-gara Roid, kak Andien terpaksa meninggal dunia. Harusnya Roid saja…”
“Harusnya Roid tidak mengutak-utik bahan bakar khusus kakak. Teman kakak tidak bilang bahwa motor kakak akan meledak seperti itu. Teman kakak tidak bilang bahwa kakak bisa mati karenanya… Maafkan Roid kak… Roid terpaksa”
“Roid ditawari mereka uang empat kali lipat lebih banyak, kalau mau mengutak-utik motor kakak”
Roid menyeka airmatanya. Ia menyunggingkan senyum. Bukan senyum yang puas atau seringai menang, tetapi senyum yang sayup-sayup sedih. Senyum yang seolah menyanyikan serenada untuk kekasih yang pergi.
***
“HAHAHAHA. Kau naif sekali! Tidak ada uang untukmu!!!” hardik lelaki muda itu. Pistol meletus. DOR! DOR! DOR! Tiga kali.
Mayat Roid ditemukan oleh warga tiga hari kemudian. Airmatanya belum kering.












D5 Creation