093 Gang War
now browsing by category
Hari Pembayaran
by Ricky Rinaldo @IniRickRick
Elang melangkahkan kakinya memasuki kafe itu. Beberapa mata menatapnya tajam, menyelidik. Tapi Elang terus saja berjalan ke arah bar, memesan segelas White Russian, favoritnya. Tak seberapa lama minuman itu datang, tapi Elang tidak langsung mereguknya. Dilayangkan pandangannya ke sekeliling kafe. Malam itu cukup ramai sepertinya, dan mayoritas pengunjungnya adalah pria bule. Kawasan ini memang menjadi salah satu pusat nongkrong para ekspatriat di kota ini. Tempat yang sangat strategis dan otomatis menjadi ladang uang bagi berbagai kalangan. Bahkan di kawasan ini cukup sering terjadi perkelahian antar kelompok preman yang memperebutkan daerah kekuasaan dan lahan parkir.
Tiba-tiba dari salah satu sudut kafe itu, terdengar pekikan seorang wanita, diiringin suara gelas yang pecah. Sontak seluruh pengunjung kafe itu menoleh ke arah sumber suara itu. Di situ duduk sekelompok pria yang nampaknya sudah sangat mabuk. Di samping mereka berdiri seorang pelayan wanita dengan wajah yang pucat pasi. Di lantai berserakan pecahan gelas dan sebuah pitcher minuman yang isinya sudah tertumpah kemana-mana. Wanita itu terlihat sangat takut dan ingin menangis, sementara para pria itu malah tertawa terbahak-bahak. Rupanya salah seorang dari pria itu baru saja meremas payudaranya ketika ia hendak menaruh minuman di meja mereka, karena kaget gelas-gelas dan pitcher di tangannya terjatuh. Ia merasa sangat malu, dan ingin cepat pergi dari situ. Namun tiba-tiba salah seorang dari pria itu bangkit berdiri dan menghadang langkahnya.
“Hey bodoh! Lihat apa yang sudah kau lakukan? Kau membuat sepatu kami jadi basah, sekarang kau harus tanggung jawab untuk membersihkannya!” bentak pria itu. Mendengar itu, si pelayan menjadi gugup.
“Ba, baik pak. Akan saya ambil kain lap untuk membersihkannya segera.” Jawab si pelayan.
“Hey, siapa suruh kau membersihkannya dengan kain lap? Bersihkan sepatu kami dengan rambut indahmu itu!” bentak pria itu lagi, yang disambut gelak tawa oleh teman-temannya yang berjumlah 4 orang itu. “Ayo bersihkan sekarang!” hardik pria itu, sambil menggeser meja mereka ke samping untuk memberi akses si pelayan berdiri di tengah-tengah mereka.
“Ta, tapi pak…saya” belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya, tinju si pria sudah melayang ke perutnya, sehingga membuat ia jatuh terduduk. Pria itu lalu menjambak rambutnya dan membantingkan kepalanya ke lantai di depan kaki pria yang duduk di tengah-tengah.
“Tidak ada kata tapi! Kau harus membersihkan sepatu kami semua dengan rambutmu sendiri, dimulai dari sepatu bos kami ini! Mengerti!” bentak pria itu lagi.
Wanita itu menangis terisak. Ia memandang ke arah bar, tempat semua rekan kerjanya sekarang berkumpul ketakutan. Mereka semua iba melihat perlakuan yang diterima rekan kerja mereka, namun mereka juga tidak berani melakukan apa-apa, karena itu sama saja artinya mereka mencari gara-gara dengan kelompok pria-pria tersebut.
Elang bertanya kepada bartender yang berdiri di dekatnya. “Siapa mereka itu?”
“Mereka itu penguasa baru di daerah ini bang. Yang di tengah itu namanya Armand, pemimpin mereka. Ia penguasa di daerah ini bang.” Jawab bartender itu.
Tiba-tiba kembali terdengar pekikan dari pelayan wanita tadi. Kepalanya baru saja ditendang karena ia masih belum mau membersihkan sepatu para pria itu dengan rambutnya. Dalam keadaan pusing dan juga dengan tidak adanya pilihan lain, terpaksa ia mulai membersihkan sepatu Armand dengan rambutnya. Kelima pria itu tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Elang meraih gelas minumannya dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Ia bangkit berdiri. Ia sudah tahu siapa pria itu sebenarnya. Pertanyaannya ke si bartender hanyalah sekedar untuk memastikan agar ia tidak salah sasaran. Diraihnya pena di saku si bartender. Lalu ia berjalan ke arah rombongan Armand. Tanpa basa basi, ia langsung meraih kepala pria yang membentak pelayan wanita tadi. Kepala pria itu dihantamkan ke lengan kursi didepannya. Tepat di mulutnya. Lalu Elang menendang kepala pria itu dari belakang dengan lututnya. Mulut pria itu langsung menghantam lengan kursi itu untuk kedua kalinya. Kali ini hasilnya lebih parah. Rahangnya lepas, dan gigi-giginya rontok.
Kejadiannya begitu cepat sehingga Armand dan kelompoknya hanya bisa terdiam beberapa saat. Lalu setelah mereka tersadar, mereka segera menyerbu ke arah Elang. Pria pertama meraih sebuah botol minuman dan melayangkannya ke kepala Elang. Namun Elang dengan cepat menangkap pergelangan tangan yang memegang botol itu, sambil menancapkan pena, yang diambil dari bartender tadi, ke dagu si penyerang dari arah bawah hingga tembus hingga ke mulut dan rongga hidungnya. Pria itu segera terjatuh bersimbah darah.
Orang ketiga maju menyerang dengan sebuah pisau. Dengan cepat Elang kembali menangkap tangan penyerangnya dan memelintirnya, melipat siku orang tersebut, hingga pisau itu akhirnya menancap di tenggorokan orang itu sendiri. Setelah itu Elang mendorongnya ke belakang tepat ke arah temannya yang sedang menerjang maju. Mereka berdua jatuh berhimpitan. Elang segera melompat ke depan dan menginjak gagang pisau yang menancap di tenggorokan orang tadi dalam-dalam hingga tembus ke belakang dan menikam dada orang yang di bawah. Tepat di jantungnya. Keduanya diam tidak bergerak lagi.
Sekarang tinggal Armad yang sedari tadi masih duduk tenang. Elang menoleh ke arahnya. Armand terlihat begitu santai. di tangannya tergenggam sebuah ponsel yang layarnya masih menyala. Sepertinya ia baru saja menelpon seseorang.
“Kau hebat juga anak muda. Bisa menjatuhkan dengan mudah 4 orang anak buahku. Tapi, apa kau bisa mengalahkan mereka semua?” kata Armand sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Segerombolan orang, kira-kira sekitar 20 orang lebih, menyeruak masuk dan langsung mengepung Elang.
“Aku sendiri mungkin tidak bisa mengalahkan mereka semua. Tapi, apa kau tidak merasa heran? Dengan semua kekacauan ini, tidak ada satupun pengunjung kafe ini yang ketakutan dan lari keluar?” balas Elang santai.
Armand terkejut. Dia tidak menyadari hal itu sedari tadi. Segera ia bangkit berdiri dan melihat ke sekeliling. Para bule-bule yang tadi asik minum-minum di kafe itu, sekarang telah berdiri siaga dengan senjata mereka masing-masing. Dan tiba-tiba beberapa orang bule dengan badan yang sangat kekar masuk dari pintu depan dan segera mengunci pintu itu, hingga kini tidak ada lagi yang bisa keluar masuk di kafe itu. sementara para pelayan hanya bisa meringkuk ketakutan di balik meja bar.
“Kau..kau.. siapa kau sebenarnya? Apa mau mu?” tanya Armand.
“Beberapa bulan yang lalu, demi melancarkan usahamu untuk menguasai daerah ini, kau melakukan sebuah perampokan di rumah seseorang. Di rumah seorang pria yang saat itu merupakan penguasa daerah ini. Pria itu kau bunuh dengan keji. Istri dan anak perempuannya, sebelum kau bunuh, kau perkosa beramai-ramai sambil kau rekam dengan kamera. Hasil rekamannya masih beredar di internet sampai sekarang. perampokan itu kau lakukan dengan sangat bersih, sehingga polisi tidak bisa menuduhmu, meski mereka tahu perselisihan yang terjadi antara kau dan pria itu. kau lolos dari segala tuduhan, dan lalu dengan mudah bisa menguasaia daerah ini. Kau cukup pintar. Tapi kau melupakan satu hal. Pria itu, punya seorang anak lelaki, yang selama ini tinggal di luar negeri. dan ku kira tidak perlu lagi ku jelaskan siapa anak lelaki itu.” kata Elang.
Armand terkejut mendengar penuturan Elang. Ia menyadari situasi seperti apa yang dihadapinya kini. Dikodenya anak buahnya agar segera menyerang. Namun ternyata tidak ada satupun yang bergerak maju. Ia heran lalu melihat ke sekeliling. Ternyata tanpa ia sadari, setiap anak buahnya telah disandera oleh para pria-pria bule itu. Di leher masing-masing anak buahnya telah menempel sebuah belati. Mereka tidak berani bergerak seinchi pun.
Dengan sebuah anggukan kecil dari Elang, serentak pria-pria bule itu mengiris leher para anak buah Armand. Dalam sekejap lantai kafe itu telah tertutupi dengan genangan darah dan tubuh-tubuh yang menggelepar menanti ajal.
Kengerian segera merasuki Armand. Selama hidupnya ia juga merupakan pria yang kejam. Namun melihat kesadisan orang di depannya ini, tak urung membuat Armand sedikit gentar juga.
“Apa kau akan membunuhku juga? Tidak semudah itu anak muda!” ucap Armand seraya meraih sebuah pistol dari balik pakaiannya dan langsung mengarahkannya ke Elang. Namun sedetik kemudian ia berteriak kesakitan seraya melepaskan pistol itu dari genggamannya. Sebuah pisau kecil kini menancap di tangannya. Ia melihat ke arah datangnya pisau itu. Terlihat seorang bule yang tersenyum kepadanya, melecehkan.
Armand menyadari bahwa kini tidak akan ada lagi jalan keluar untuknya. Namun ia juga bukan pria yang mau menyerah mati begitu saja. Dengan sisa tenaganya, ia mencabut pisau yang menancap di tangannya lalu menerjang ke arah Elang. Elang dengan mudahnya mengelak dari serangan itu sambil melayangkan pukulan dengan pinggirannya ke leher Armand. Tepat di jakun-jakun. Armand terjatuh. Pisaunya terlepas. Pukulan Armand di lehernya membuatnya sulit bernafas untuk beberapa saat. Ia terbaring di lantai kafe itu, bermandikan darah para anak buahnya, sambil berusaha mengatur nafas.
Elang dengan perlahan memungut pisau yang dijatuhkan Armand, lalu berjalan menghampiri pria malang itu.
“Membunuhmu? Kau pikir aku akan membunuhmu? Maaf, kau salah sangka. Aku tidak sebaik itu kepada pembunuh keluargaku.” Ujar Elang dingin. Lalu ia membalikkan badan Armand hingga terlentang. Armand yang masih sangat kesakitan hanya bisa pasrah. Elang lalu mengangkat kaki Armand. Ditatapnya mata Armand lekat-lekat. Ia ingin melihat ekspresi orang ini saat menghadapi apa yang akan Elang lakukan sebentar lagi terhadapnya.
Lalu dengan mantap ditancapkan pisau di tangannya ke lutut Armand, lalu mengoyak tempurung lutut itu. diraihnya kaki satunya lagi, dan dilakukannya hal yang serupa. Sementara itu matanya tidak lepas dari mata Armand. Setiap ekspresi kesakitan dan teriakan pria itu begitu dinikmatinya. Ia betul-betul ingin melampiaskan seluruh dendamnya kepada pria ini.
Armand benar-benar merasa sangat kesakitan. Ia berteriak sejadi-jadinya memohon ampun, tapi Elang sama sekali tidak peduli. Setelah kedua tempurung lutut itu terkoyak, Armand selamanya tidak akan bisa berjalan lagi.
“Itu untuk dosa mu telah membunuh keluargaku. Dan ini untuk dosa mu yang telah memperkosa ibu dan adikku!” ucap Elang seraya mengayunkan pisaunya sekuat tenaga ke arah kemaluan Armand. Armang melolong pilu, merasakan kesakitan yang teramat sangat. Sungguh saat itu dia berharap ia lebih baik dibunuh saja langsung. Tapi seakan bisa membaca pikirannya, dengan dingin Elang berkata “Jangan khawatir, aku sudah mengatur semuanya. saat ini ambulan sedang dalam perjalanan ke sini, sehingga kau akan terselamatkan sebelum mati kehabisan darah. Kau akan punya banyak waktu untuk menyesali perbuatanmu terhadap keluargaku.”
Selesai berkata itu, Elang pun segera beranjak menuju pintu keluar meninggalkan
Armand yang merintih kesakitan. Namun ia ditahan oleh pria bule yang tadi melempar pisau ke tangan Armand. Pria itu menatap Elang dengan tatapan meminta izin dari Elang untuk melakukan sesuatu. Elang hanya mengangkat bahunya, memberi izin. Pria itu tersenyum lebar. Ia segera berlari ke arah bar. Para pelayan yang sedari tadi bersembunyi di sana beringsut ketakutan. Namun bukan mereka yang pria itu incar. Pria itu mencari-cari di rak minuman. Lalu mengambil sebotol minuman. Ia segera beranjak menghampiri Armand yang masih terbaring lemah, kesakitan. Dituangkannya minuman didalam botol itu ke wajah Armand. Lalu segera menyalakan pemantik api dari sakunya. Dalam sekejap api pun menyala di wajah Armand. Kembali terdengar teriakan memilukan dari Armand. Pria itu tersenyum girang melihat hasil karyanya. Lalu ia pun keluar dari kafe itu dengan wajah puas.
Sementara itu Elang telah sampai di luar kafe. Sebuah mobil telah menunggunya di sana. Elang segera masuk ke bangku belakang mobil itu. Di situ telah menunggu seorang wanita bule yang cantik. Elang mencium wanita itu lembut. Wanita yang beberapa tahun lalu terpikat oleh wajah tampan Elang, lalu mengajak Elang ke negara asalnya, Italia. Wanita yang ternyata adalah putri dari seorang kepala keluarga mafia. Wanita yang membuat Elang harus melalui berbagai macam tantangan untuk mendapat restu dari ayahnya. Wanita yang kini bersuamikan satu-satunya kepala keluarga mafia di Italia yang tidak berdarah Italia sama sekali.
Mobil itu pun melaju meninggalkan kawasan tersebut, diiringi oleh beberapa mobil lain, yang mengangkut para anggota mafia, yang khusus dibawa Elang ke kota ini demi menuntaskan dendamnya. Dari kejauhan terdengar suara sirine ambulan dan polisi berbarengan menuju ke kafe yang baru saja mereka tinggalkan. Besok pagi semua orang pasti akan dihebohkan oleh berita ini. Tapi pada saat itu, mereka semua akan sudah berada di dalam perjalanan mereka kembali ke Italia.
Elang tersenyum puas. Arwah keluarganya sekarang bisa tenang di akhirat. Semuanya sudah dibayar. Lunas!
Tantangan Berbeda
by Diana Siti Khadijah @andiana
Keiko memperhatikan gerak gerik Toshio dengan hati-hati. Kekasihnya itu sedang gelisah. Sepucuk surat tantangan di meja kerjanya telah mengusik ketenangan sore ini.
Surat dari Ichiro, ketua Yakuza di Nagoya, yang menuntut balas akibat kematian adiknya di tangan anak buah Toshio. Sebuah kesalahan. Nafas Toshio tersengal. Selintas, ia menatap Keiko yang sedang membaca majalah di kamar.
Perlahan Keiko mendekati Toshio dan memijat lembut bahunya. Pria itu memejamkan mata karena lega. Berat dan penatnya perlahan surut. Ia menatap kekasihnya dengan manja. Bagai anak kucing yang kedinginan dan kelaparan. Ia mendadak lupa dengan surat sialan itu.
Keiko menuntun Toshio ke kamar dan perlahan menutup pintu untuk sekadar mencumbunya. Mungkin lebih. Persetan dengan surat itu!
Menteng Madness
by Dian Harigelita @harigelita
Pelayan itu menghampiriku dengan senyum dikulum. Segelas bir dijunjung tinggi melampaui orang-orang yang asik berdansa.
“Malam, Pak. Ini dari wanita di pojok sana.” dengan dagunya ia menunjuk sudut klub. Di sana, di bawah lampu EXIT, seorang wanita bersandar pada tembok. Tangannya terlipat di dada, sebatang rokok terselip di jemarinya. Ia mengenakan blus putih tanpa lengan dan rok merah menyala dibebat ban pinggang hitam. Mengingatkanku pada Minnie-nya Mickey.
“Restletingmu, Bung.” bisik pelayan itu sebelum beranjak pergi. Aku terkejut dan melongok ke bawah. Ah, restletingku tidak kenapa-kenapa. Ketika kumenengadah, pelayan itu sudah ditelan kerumunan, pun Minnie Mouse tadi.
Bir itu tak kusentuh. Modus kejahatan di kota ini semakin tak bisa diprediksi. Selembar serbet kertas bertulisan digunakan sebagai tatakan. ‘Call Me!’ tertera di atas sekumpulan angka ponsel. Seperti jaman jebot saja. Aku mengirimi nomor itu sebuah SMS.
“Thanks for the beer.” pesan terkirim
Pip-pip!
“Meet me out front.” tertera pada balasan
Kuacuhkan.
***
Kuhidupkan mesin mobil dan menyalakan lampu taksi, siap mencari nafkah kembali. Saat melintasi tempat parkir gedung yang lengang, sudut mataku sempat menangkap beberapa transaksi terjadi. Seks dan Narkoba. Biasa. Sedikit pusing karena jalur keluar masuk parkiran yang sempit, terjal dan berputar-putar pikiranku kembali pada wanita misterius tadi. Rambutnya ikal seperti lilitan lilitan pegas hitam legam, tidak panjang sebatas bahu saja. Tungkainya yang terekspos tadi disilangkan santai, putih mulus seperti krim. Pasti nikmat menjilatinya. Aku mulai membayangkan yang tidak-tidak, ketika, ‘CIIIIIIIIIIITTTT!’
Persis di pintu keluar parkiran, wanita yang sedang kusetubuhi lewat pikiran menghadang jalan. Ia lalu membuka pintu kursi penumpang yang belum sempat kukunci. “Hei? Apa-apaan ini?!” aku berteriak padanya saat ia menghempaskan tubuhnya di sebelahku. “Tancap gas! CEPAT!!” ia malah memerintah. Baru aku hendak menyalakan argometer ia mengeluarkan sepucuk pistol dari tas genggam hitamnya yang berpayet dan merangkak ke bangku belakang. Seketika aku sadar, wanita ini tidak sedang main-main. Sepasang cahaya lampu mobil muncul dari tikungan terowongan seiring terdengarnya desingan peluru.
Aku menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Bodi bawah taksiku membentur tepian trotoar saat kami memasuki jalan besar. “Anjing!” umpatku membayangkan kerusakan yang harus ditanggung oleh tabungan asuransiku, selebihnya karena panik.
“Bisa cepet ngga sih?! Apa perlu gue gantiin?!” wanita itu membentakku.
Sial! Rutukku dalam hati. Pada saat yang sama. Mitsubishi EVO X merah menyala itu membentur bemper belakang VIOS putih kreditanku. Terdengar tembakan saat kami tiba di Bundaran HI, aku membanting setir ke kanan seakan-akan hendak lurus ke arah Sudirman. Sedan merah itu sudah berhasil menyejajariku, mulut senapan angin mengarah ke kepalaku. Aku menarik rem tangan sambil kembali membanting stir ke kiri memasuki jalan Imam Bonjol lalu melepaskannya lagi. Berhasil menangkap momentum yang pas, mobilku berbelok seolah mampu melawan hukum gravitasi.
Dalam kepanikan aku merasa seolah berada dalam film action dan sutradara memutuskan memelankan adegan ini menjadi 1000 frame per detik “Fu**! You can drift?!” aku tak mempedulikannya.
Seperti kesetanan kami membelah Jl. Diponegoro, berbelok ke kanan persis di depan kantor polisi Taman Surapati yang seharusnya verboden. Dari spion kulihat beberapa polisi yang sedang duduk-duduk hanya bisa berdiri terpana. Kuselipkan mobilku di jalan sempit di samping Masjid Agung Sunda Kelapa. Beberapa pedagang makanan sedang membereskan dagangannya menyingkir kaget. Kap belakang mobilku dipukul.
Aku membuka jendela, dan berteriak pada Bang Mamat, “Tolong, bang! Gue dikejar!”
“Siap!” Bang Mamat menjawab sigap dan memberi kode pada sisa-sisa pedagang yang sempat menegang hendak menghajarku. Mereka lantas bersikap seolah tak ada apa-apa kembali merapihkan tenda-tenda dagangan. Lampu dan mesin mobil kumatikan, saya dan wanita itu turun. Bang Mamat lantas menutup taxi dengan terpal. Di ujung jalan mobil terlihat Mitsubishi melesat. Aku menghela nafas lega. Lalu menoleh ke wanita yang menyebabkan kekacauan ini.
“Bisa tolong jelaskan, ada apa ini Bu?” ucapku sinis memandangnya dari bawah ke atas. Kesal sambil berusaha menyembunyikan nafas masih tersengal juga detak jantung yang berantakan.
“First of all, don’t you dare call me ‘Bu’. I’m still 23. Second, seharusnya lo berterima kasih ke gue. Those guys were gonna kill you.” ia mengangkat rambut ikalnya dan mengipas-ngipasi tengkuknya dengan tangan. Pistol sudah masuk kembali ke dalam tas.
“Lho? Emang salah gue apaan?” protesku. Langkahku terhenti.
“Inget-inget lagi deh. Penumpang-penumpang lo sebulan belakangan ini. Lo ngerasa ada ‘main’ sama siapa aja?”
“Maksud lo dengan ‘main’? Kayaknya lo salah orang deh. Biar ganteng gini, gue bukan penganut free sex. Mungkin cuma cewek or cowok yang bete gara-gara gue tolak ajakannya.” aku menghidupkan rokok sambil melangkah ke halaman mesjid yang dijaga keluarga gue turun temurun.
“Oh. Mungkin juga.” ia juga mengeluarkan rokoknya menyelipkannya di sela bibirnya lalu menghentikan langkahku. Ditempelkannya ujung rokoknya dengan ujung rokokku yang menyala, menghisapnya dalam-dalam. Erotis banget.
“Mereka ngga terima ditolak lantas pengen ngerjain lo kali.”
“SMS gue sampe?” aku tiba-tiba teringat.
“SMS?” alisnya terangkat sebelah. Seksi.
Ia mengambil HP dari tas kecilnya. Melirik layarnya.
“Ngga ada sms..”
“Oh, bisa jadi beneran gue dikerjain. Tapi lo sendiri ngapain pake acara nolongin gue. Kenal juga ngga.”
“Lo emang ngga kenal sama gue yang ini. Tapi gue yang ini..” ia mengeluarkan pashmina dari tas kecilnya untuk dikenakan seperti kerudung.
“Astaga.. Ukhti Aminah?” mendadak aku jengah menatap pakaian yang dikenakannya. Mengalihkan pandangan ke anak-anak kucing yang sedang memainkan bangkai kecoa.
Ukhti Aminah adalah salah satu peserta pengajian yang rajin ikut diskusi malam hari sambil menyantap sate Padang di halaman mesjid setiap Jum’at malam.
Ia tergelak.
“Gue masih abu-abu, Al. Kalau malam emang begini masih. Gue udah sering liat lo di Immigrant. Trus kebetulan banget tadi gue denger selentingan-selentingan pelayan-pelayan yang berniat ngerjain Ali si supir. Gue langsung klik kalo yang mereka maksud itu elo.” ia berbicara sambil menunduk, memainkan ujung sepatunya pada ubin.
“Pelayan yang mana? Kampret banget! Emang salah gue apaan?” dengan berang kulempar rokok yang masih setengah.
“Ngga usah dipikirin, ntar biar orang-orang gue yang beresin. Katanya lo nolak si Adam, anaknya yang punya bengkel inex Minggu lalu.”
“Maksud lo dengan ‘orang-orang gue’ itu apa? Eh, maksud ‘Ukhti’ apa?”
“Maksud ukhti,” sengaja ditekankan pada kata ‘ukhti’ dengan lirikan menggoda, lalu mengeluarkan pistolnya lagi.
Merasakan bahaya, aku berdiri dan perlahan melangkah mundur.
Diarahkannya pistol itu ke wajahku. Habislah aku. Dalam hati aku mengucap
‘Allahuakbar.’
“Ukhti?”
“Any last words?” wajahnya seperti orang psycho, menyeringai lebar. Matanya tajam menghunjam.
“Ukhti?”
“Iya Ali ganteng, ngga seharusnya lo nolak permintaan adik kesayangan gue tiga minggu lalu. Gue paling ngga suka ada yang bikin nangis adik gue. Jadi anggap aja ini balasan yang setimpal ya?”
“Dor!” aku menutup mata. Berpikir jangan-jangan otakku mati duluan hingga panas peluru tak sempat dilaporkan kulit dahi pada otak.
Tapi masih kurasakan kakiku berpijak di atas ubin.
Saat aku membuka mata, Ukhti Aminah sudah terkapar tak bernyawa. Matanya menatap kosong sosok yang berdiri memegong pistol menaunginya. Adam?
“Maafin gue, Kak. Gue tau lo sayang banget sama gue. Tapi gue udah capek direcokin kakak terus.”
Ia melangkahi mayat Aminah dengan teramat santai lalu menghampiriku.
“Halo, gue Adam. Masih inget kan?” tegurnya centil sambil memutar-mutar pistol dengan jari tengahnya.
***












D5 Creation