105 Pisau Cukur

now browsing by category

 

Mencukur Dosa

by Tenni Purwanti @rosepr1ncess

Aku pernah berhenti menjual diri. Aku pernah menjadi manusia normal seutuhnya. Bekerja dengan gaji pas-pasan, makan dengan uang ‘halal’ menurut agamaku, menerima caci-maki atasan setiap kali aku melakukan kesalahan, dan pasrah bekerja tanpa pujian meski pernah membuat prestasi yang membanggakan perusahaan.

Dulu aku pernah mencukur dosaku dengan pisau cukur seadanya: keimanan yang belum sempurna. Hingga saat keadaan yang demikian menghimpit, ketika Tuhan kembali menguji pertobatanku dengan cobaan, pertahanan diriku pun runtuh. Aku memutuskan untuk kembali ke dunia malam, kembali menjajakan tubuh, menjual jasa kepuasan syahwat.

Dosa itu ibarat bulu. Dosa akan terus tumbuh meski sering dicukur dengan pertobatan. Butuh pisau cukur maha tajam: keimanan maha kuat untuk mencukurnya sampai ke akar.

Dia(Mono)Log

by Vira Cla @veecla

Di kamarmu, kulihat ada pisau cukur berwarna merah jambu. Kamu bilang itu kepunyaanmu. Untuk mencukur rambut ketiak juga kemaluanmu tiap minggu. Apa perlunya kamu habiskan rambut di situ?

Kupilih pisau cukur berwarna merah jambu. Merah jambu itu warna kesukaanku. Kupakai tiap minggu untuk mencukur ketiak juga kemaluanku. Tentu saja aku ingin mereka bebas dari rambut. Lelakiku suka tubuhku yang mulus.

Aku lebih suka kamu apa adanya. Aku tak peduli dengan rambut-rambut halus di ketiakmu. Apalagi rambut kemaluan yang bahkan tak pernah kamu lihatkan padaku. Kamu tak perlu bercukur, perempuanku!

Ih, apa-apaan sih, kamu? Aku juga tak peduli apa yang kamu suka dari aku. Yang penting lelakiku tetap mau meniduriku tiap minggu.

Ala Jepang

by Teddy Andika @teddyandika

Ingin rasanya, potong rambut ala boyband Jepang. Unik. Terbayang banyak cewek-cewek mengajak kenalan. Aku pun pergi ke tukang cukur dekat rumah. Setelah menunggu, tiba giliranku,“Mau dicukur model apa mas?”

“Model boyband Jepang,” kataku mantap. Tukang cukur langsung mengambil pisau cukur. Selama dicukur, aku membaca majalah yang kubawa dari rumah. Tukang cukur sangat terampil menggunakan pisau cukurnya. Pisau cukur melaksanakan tugasnya dengan baik. Aku bisa merasakan pisau cukur, menari lincah di atas kepalaku. Mataku tak lepas dari majalah yang kubaca.

“Selesai mas.” Aku menurunkan majalah dari depan mukaku dan melihat ke cermin.

“Kok botak ?!!?” teriakku.

Tukang cukur itu menjawab tenang, “Lho, bukannya mau potong model tentara Jepang?” Aku hanya bisa kecewa.

Sebuah Kisah Pagi

by Anginbiru @B7RU

Pagi ini, selesai bercinta, lelaki itu mencukur jambang dan kumis yang sudah mulai tumbuh kasar di wajahnya. Sudah cukup lama ia berada di sana, memastikan benar, tidak ada rambut kasar yang masih tumbuh di wajahnya.

Dari kejauhan, ia tampak masih mengamati wajahnya di depan cermin, sambil menggumam dan bersiul-siul. Sesekali ia mengusap-usap janggut dan pipinya. Sekali lagi, tampak memastikan semua sesuai harapan, atau mungkin sekedar mengagumi diri sendiri.

Ia terlihat belum mengenakan sehelai pakaian pun sedari tadi. Butir-butir air masih tampak membasahi beberapa bagian tubuhnya.

Aku bangkit dari ranjang, mendekatinya, memeluknya dari belakang. Kuraba-raba dadanya, penisnya, dan ia mendesah. Lengah, kuraih pisau cukurnya, kusayat lehernya sedalam mungkin. Darah segar mengucur deras.

Yang Penting Cukuran

by Damay Iriani @nongdamay

Ini pengalaman pertamaku, diajak berlibur bersama keluarga besar pacar. Aku sudah membereskan barang bawaan dan memastikan tidak ada yang tertinggal.

Akhirnya sampai di tempat tujuan. Malam nanti rencananya akan ada makan malam sekeluarga besar. Semua bersiap-siap berdandan.

Aku pun bersiap-siap, saat akan mandi dan memeriksa peralatan mandi ternyata aku meninggalkan pisau cukurku. Aku tak kehilangan akal, aku minta tolong pesuruh untuk membelikannya. Ternyata di warung terdekat sedang habis.

Aku coba tanya ke pacarku “Mira, bawa pisau cukur ga? Aku lupa bawa nih.”

“Aku bawa sih tapi udah dipakai… dipakai buat cukur bulu ketek sayang.”

Aku diam. Lalu aku ambil dari Mira, “Ngga apa deh. Daripada aku ngga cukuran,” sambil masuk ke kamar mandi.

Kami yang Duduk dalam Diam

by Novita Poerwanto @LVCBV

Kami hanya duduk berhadapan dalam diam. Aku tahu betul ia sedang memandangiku. Sesekali didongakkannya kepalanya untuk melihat ke arah jalan. Entah siapa yang sedang dinantikannya. Aku berusaha tak ambil pusing. Setidaknya sekarang ia sedang berusaha membuatku merasa istimewa. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat padaku. Mendadak aku mulai merasa gelisah dan mengubah letak kursiku.

Ia menunggu. Tanpa bicara. Lalu kembali mendekat. Hembus napasnya semilir pada tengkukku. “Diminum kopinya, keburu dingin.” Aku hanya mengangguk sembari menambahkan ‘terima kasih’ yang nyaris tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri. Dia menggeser kursiku tepat di belakangku, lalu meletakkan kedua tangannya pada bawah dagu dan atas tengkukku. Pelan saja. “Cukup mas? Atau mau dicukur lebih pendek lagi?”

Silet

by Ika @ikavuje

Luka segaris di nadi pergelangan tangan sebelah kiriku melemahkanku dan menyebabkan samarnya pandanganku. Ini bunuh diriku, entah yang ke berapa kali.

Lagi–lagi aku menemukan diriku di ruang gawat darurat, dengan selang oksigen di hidungku dan pemandangan sama yang mulai membosankan, ada ayah, adikku Donny, dan dia, wanita yang membuat hidupku bagai neraka. Ibu tiri.

Ayah tak tahu, bahwa aku sudah dijual ibu, demi sekerat berlian di kalungnya, dan menambah beberapa koleksi sepatunya. Entah mengapa ayah menikahi wanita ini, dan entah mengapa aku tak mati-mati.

Jam berkunjung telah habis. Tiba saatnya semua berpamitan pulang. Lalu wanita itu mendekatiku, sambil tersenyum manis ia berbisik lirih, “Seharusnya kau berdoa agar bisa bicara anak manis.”

Tubuh Wanita

by Irene Wibowo @sihijau

Lebat. Aku malu.

Kutatap tubuhku di depan cermin.

Ini aku? Lebat.

Kulihat pisau cukur tergeletak di atas meja rias di samping cermin.

Ini aku? Lebat, pikirku lagi. Semua orang ingin menjadi sempurna dengan tubuhnya..

Memalukan. Sekarang, aku harus berubah.

Tubuhku, inilah saatnya membuat dia berpaling menatapku dan melihat aku nyata sebagai seseorang.

Aku harus siap! Bagaimana bila terluka?

Tidak, tidak akan terluka.

Cantik itu sakit.

Kuambil pisau cukur di atas meja.

Kugerakkan tanganku.

Sedikit demi sedikit, aku mulai mencukur.

Aku harus jadi cantik.

Selesai. Tubuhku, kau tidak lebat lagi.

Hanya ada kulit putih kecoklatan yang menutupinya.

Kau sudah sempurna, tubuhku.

Seorang wanita di depan cermin, itulah aku.

Cantik, mulus, tanpa bulu.

Kesetiaan Pak Imron

by Diana Siti Khadijah @andiana

Pohon beringin yang rindang dan teduh. Pak Imron sedang sibuk siang ini. Sudah lima orang yang dilayaninya. Tumben banyak yang rela mengantri di sini. Padahal jika berdiri  agak menjauh, baru terasa terik dan kehausan.

Sejak tahun 1975, Pak Imron setia dengan pekerjaannya. Pendidikannya hanya sampai SMP. Ikut pamannya ke Tangerang untuk mencoba mengadu nasib menjadi buruh pabrik. Tetapi fitnah mencuri menyebabkannya dipecat. Pantang menyerah, dia belajar mencukur pada tetangga kontrakannya.

Menikah dan memiliki dua orang anak, Pak Imron tetap tak berubah. Ramah, sopan, rajin, dan rendah hati. Meski banyak yang menawarkan untuk membuka barber shop, dia menolak dengan halus. “Di sini gelandangan bisa nyukur tanpa mereka jadi sungkan,” ujarnya tersenyum tulus.

Kecupan dalam Wine

by Trias Susanti @triassusanti

Dua gelas wine telah kuteguk di cafe malam itu. Terengkuh tubuhku di sofa merah. Pandangan sayu menerawang sudut cafe.  Sejenak mengingat dia, dia lelaki perayuku. Mengumandangkan kata pujaan.

“Kamu cantik sekali sayang” bisiknya sembari mengecup rambutku. Membelai halus benang mahkota. Menggenggam erat jemariku. Dan menatap bola mutiara pelupukku. Seketika aku terpejam. Hanyut akan nada rayuan lelakiannya.

Terasa  getaran nadi jiwaku. Menyatu mengukir malam dengan satu kecupan. Kecupan lelakiku. Terjebakkah diriku pada alunan percintaan. Akan kutautkan hati ini. Untuk dia..
Kurasakan tegukan wine bersamanya bersama kecupan.

Terdengar:

Kriiiinggg…
“Iya adik, Daddy besok pulang kok”

Teriris menjejakkan luka.

Kutanggalkan hatiku dan kurendam dalam wine ketigaku. Tak lupa kugoreskan gelas kaca dengan Kecupan Malam.