113 Way Beyond The Future

now browsing by category

 

The Book

by Aditia Yudis @adit_adit

Year 2313, Day 97.

Area 9 (Ex-West Java, Banten, and Jakarta) of East Land.

Bertimpuh di tepi beranda pagi ini. Gemerlap kilauan terang cahaya matahari menembus tiang-tiang kayu di sekitar. Pucuk-pucuk pinus dan agathis bergoyang semarak oleh belaian pagi bayu. Aku di sini, setia bersamanya. Menemani, mendengarkannya berbisik, mencari tahu apa yang terjadi padanya. Dia yang selalu membiarkan aku mampir ke bibirnya.

Kini sorot matanya tenggelam di antara lembaran buku. Itu usang, tapi dia tetap memilih membaca dengan cara tradisional dibandingkan menggunakan book reader digital. Dengan bangga dia menenteng jilidan kertas tebal itu ke mana-mana, membalik tiap lembar kertas, menghabiskan waktu lebih banyak dibandingkan memakai book reader yang tebalnya tak kalah tipis dengan lembar kertas itu. Ia mencintai hal-hal klasik. Klasik adalah keindahan, menurutnya.

Sekali lagi ia meraihku dengan lembut. Memelukku penuh kehalusan. Hangat dari pori-porinya menyembur padaku. Ah, untuk kesekian kali kecup dan sentuhan bibir itu kurasakan lagi. Kami rekat dalam beberapa saat. Lebur bersama. Satu kecap dan rasa serupa.

Diriku, miliknya satu-satunya. Ingin selamanya di sisinya. Di beranda ini, rumah ini, di sampingnya, aku nyaman….

Tangannya menyibak lagi satu lembaran kekuningan itu. Lalu membenahi letak kacamata bacanya. Tertegun aku merayapi pandanganku padanya, dengan posisi lebih tingginya darinya, tatapanku leluasa meraba tiap lekuk pahatan muka itu. Dihiasi rambut hitam bergaya spike, hidung mancung dan kulit kecokelatan khas bangsa Timur. Kedua bola matanya menyiratkan kecerdasan dan sorot tajam seorang pemberani. Dipadu dengan bibirnya saat membentuk selengkung senyuman—siapa pun bisa ditaklukannya dengan itu.

Dia memilih di sini. Tempat ini. Lari.

Layar kacamatanya berubah gelap sesaat. Ia menarik satu napas panjang. Aku tahu apa artinya itu. Aku harap bukan berita buruk. Ia menutup bukunya, menarik selapis benda transparan yang dijadikannya pembatas antara halaman bukunya—lightbook. Satu jarinya menyentuh permukaan layar bening itu, lalu sebuah layar hologram besar mencuat dari sana.

Satu wajah terbentang di layar itu.

I’m coming, Ken! I’m home!”

Tak lama, dengung halus sebuah mobile capsule terhenti di halaman rumah. Selanjutnya derap boot menggaung mendaki tangga beranda. Lalu aku bisa melihat sosok itu—pemilik wajah yang tadi tersaji di layar—Arian.

Hampir tak berubah seperti terakhir kali pemuda itu datang dan membujuk Ken untuk bergabung dengannya. Rambut brunette-nya masih terpotong pendek, ia datang dalam busana kasual favoritnya—celana dan jaket kulit serta boot setinggi betis. Langkahnya mantap, tas yang tersampir di punggungnya berayun berat. Di wajahnya terlampir seringai lebar. Tujuh tahun terakhir Arian menduduki posisi kepala lab di koloni OSS P 2503, salah satu pangkalan dan laboratorium luar angkasa terbesar di Heliopause. Namun, delapan bulan belakangan dia lebih sering berada di Bumi, begitu seperti yang Ken tulis di jurnalnya.

Bibirnya Ken tertarik di kedua ujungnya, mengulaskan senyuman tipis. Matanya mengarah lurus pada sosok yang berjalan mendekat padanya. Mereka sahabat sejak kecil, korban perang dunia ke-5, sama-sama kehilangan orang tua dan Arian lebih beruntung dibanding Ken, karena Ken keturunan dua ras berbeda—membuatnya menjadi buronan. Pada masa perang itu, antara Barat dan Timur, saling ingin menguasai dan memurnikan ras mereka masing-masing—Race Hunter. Aku belum lahir masa itu, tapi aku curi baca ketika Ken membuat catatan-catatan.

“Aku pulang saat yang tepat ya?”

Sekarang kedua sahabat itu berdiri berhadapan, dekat dan saling lekat menatap. Layar hologram dari lightbook Ken menyusut.

Welcome…. Sama seperti enam belas tahun yang lalu kan? Ketika pertama kali kita tersesat dan diselamatkan hutan ini. Aku hanya membayar hutang.”

“Kamu menyelamatkan hutan ini, Ken,” ujar Arian meletakkan satu tangan ke bahu Ken. “Hampir mustahil untuk dilacak. Kamu menyembunyikannya dengan sempurna.”

Ken mengangguk.

My offer is always open for you―

Seringai timbul di bibir Ken sebelum memotong perkataan Arian, “Iris’s offer, Ar.”

Seembus napas panjang terdengar menderu dari Ken. Iris, sebuah organisasi Internasional—gabungan dari ilmuwan East dan West yang bertujuan untuk melestarikan kehidupan manusia di jagad raya, mengkoloni planet baru, menumbuhkan hutan di planet lain, dan berusaha menjangkau tiap jengkal semesta.

Aku tahu tentang Iris karena aku sering ikut curi baca e-wallpaper yang sedang dibaca Ken pagi begini biasanya. Ken dan Arian direkrut oleh Iris sejak umur keduanya 14 tahun. Tapi, Ken melarikan diri dari Iris setelah sepuluh tahun bekerja di sana. Membuat kloning atas dirinya sendiri dan membunuhnya, lalu menyembunyikan hutan ini di balik sebuah sistem hologram canggih yang sekaligus berfungsi sebagai shelter—tak bisa diendus satelit, semua jenis gelombang tertolak dan dari luar hanya terlihat sebagai tanah tandus hasil terbakar. Hanya Arian yang tahu.

Akan tetapi di balik itu semua, Iris memiliki satu goal penting yang harus dilaksanakan dalam sepuluh tahun ke depan. Mereka butuh Ken untuk itu—a biological weapon specialist. Iris bukan hanya sudah memintanya dengan sopan untuk kembali, tapi sekarang sudah menaikkan kadar untuk memburunya. Salah satu alasannya adalah Ken dan hutan tempatnya tinggal sekarang menyimpan satu rahasia yang dibutuhkan para ilmuwan Iris untuk menciptakan senjata tersebut. Satu sentuhan akhir untuk senjata mereka dan Iris percaya, Ken bisa menyempurnakannya.

Setelah perang dunia ke-5 berakhir dua puluh tahun lalu, populasi meledak hebat. Dunia sesak. Gedung berkali-kali lipat tingginya dari masa awal abad ke-21. Pada akhirnya, hal tersebut berimbas pada banyak hal negatif—kemiskinan, kekerasan, kelaparan, kejahatan dan lainnya. Bumi harus dibersihkan dan ditata ulang. Penghancuran sisa manusia yang ada di Bumi tak akan berefek banyak bagi keberlanjutan hidup manusia, karena Iris sudah menyimpan bibit-bibit unggul manusia, lewat teknologi cloning dan bayi tabung, populasi manusia bisa diatur dengan mudahnya. Begitu menurut para punggawa Iris dengan dukungan dari government dari East Land dan West Land.

Sekali lagi, aku memang belum lahir saat semua di atas kuceritakan, tapi aku tahu dari ikut membaca jurnal Ken saat dia menulisnya.

Ken merengkuhku lagi. Mendaratkan bibirnya singkat padaku. Hanya sesaat sampai dia melepaskan hangatnya dariku.

You’ve finished it.” Arian menyimpulkan senyum. “Tell me.

Once it enters to your body, it’ll hurt you from inside. Damages your organs, destroys your blood cells. Just for one or two hours till all of your life turn to be ash. No DNA left, no blood flows. it’ll be very clean treatment for earth. You’ll love this.

Senyuman di roman muka Arian melebar.

Sedetik selanjutnya, tak lagi terdengar desau angin. Aku melihat sinar matahari yang membentuk siluet dua tubuh itu. Ken berkelit dari terjangan tiba-tiba Arian. Sejenak kedua sahabat itu saling melayangkan serangan. Namun, Ken tahu bahwa dirinya terpojok di dinding, ujung laser gun membelai kulit lehernya.

Just give it to me. I let you alive.

“Aku lelah menanggung dosa, Ar. Mereka berhak menikmati hidup, Ar, meskipun tak begitu menyenangkan bagi mereka.”

“Tidakkah kamu merasa kasihan melihat orang-orang itu menderita? Kamu di sini, di dalam sini. Dalam balutan kenyamanan yang kamu bisa nikmati sesuka hati. Kamu tidak melihat apa yang sesungguhnya terjadi di luar, Ken. You are afraid to die, Ken.”

Aku ingin memejamkan mata melihat adegan tersebut. Tetapi kedua mataku malah melotot lebar. Melihat tangan Arian yang siap menembakkan laser gun. Arian tak akan mungkin membunuh Ken. Tak akan mungkin.

Just shoot me… and everything will ends.

Arian melempar tubuh Ken ke depan hingga Ken jatuh terjerembap dan membentur pinggiran pagar beranda. Buku di tangannya ikut jatuh, lembarannya terbuka. Sebuah laser gun. Ken sudah mengukir lubang di antara tebal buku tersebut untuk menyimpan laser gun.

Moncong laser gun itu terarah pada Arian.

“Kamu takkan membunuhku, Ken. Itu berdosa.”

Ken menutup matanya. Ia sudah membunuh hampir seluruh populasi warga semenajung eks kawasan Asia Timur. Menggunakan wabah penyakit menular kreasinya. Sehingga sekarang kawasan tersebut ditutup dan dikuasai Iris, untuk diteliti lebih lanjut dan Iris pun bisa dengan leluasa menambang Catalysidium—sebuah mineral untuk sumber energi yang hanya terkandung di perut Gunung Fuji—demi  keperluan ilmu pengetahuan serta tujuan mereka.

Ken berdiri terhuyung.

Oh, you couldn’t kill me,” ejek Arian sembari menodongkan ujung laser-gun-nya lurus ke kepala Ken. “Tell me first, I’ll kill you later. As you wish, brother.

“Semua ada di dalam buku ini.” Ken mengakhiri kata-katanya dengan menarik pelatuk laser-gun-nya tanpa ragu.

Aku ingin menjerit.

Silatan cahaya merah bersilang di udara. Disusul bunyi kaca runtuh dan desis terbakar. Sinar merah itu melesat ke segala arah, tubuh Ken juga Arian. Aku yang berada di dekat Arian tak luput menjadi serangan. Bahkan tak sempat aku melihat sinar merah itu menyentuh tubuhku. Di mataku masih terlintas bagaimana tubuh Ken merosot jatuh. Darah membanjir dari lubang-lubang yang dibuat sinar kejam itu di kulit halusnya. Aku tak bisa memejamkan mata, bahkan tak bisa berteriak ketika tubuhku meledak menjadi berkeping-keping. Dan aku jatuh dalam ratusan pecahan ke lantai. Bersama dengan air yang tadi belum seluruhnya dihabiskan Ken. Kami melayang di udara, kemudian dalam beberapa detik menghujam dan tersebar di lantai kayu, tubuh Ken dan lembaran buku yang terbuka.

Air melelehkan tinta yang membentuk aksara di lembar buku itu. Aku tersenyum. Tinta itu membanjir ke luar, seperti Ken yang berdarah. Ken dengan pandangan redupnya, menyeringai kecil ketika Arian meraih buku dengan tangannya yang terluka. Kulihat merah darah yang dinodai gelapnya tinta. Tinta yang ditulis oleh Ken menggunakan racun buruan Iris.

In the end, we die together.

Kembali Alami

by Ricky Rinaldo @IniRickRick

Malam telah larut saat sesosok manusia mengendap-endap dalam kegelapan, di samping gedung penyiaran. Sosok itu diam sesaat, memastikan keadaan di sekelilingnya aman. Senyum puas muncul di wajahnya. Ia berhasil menyusupkan sebuah data di komputer utama departemen penyiaran ini. Besok tepat tengah hari, seluruh dunia akan menyaksikan acara yang berbeda dari yang biasanya. Acara yang akan merubah seluruh tatanan hidup di muka bumi ini.

Setelah memastikan keadaan aman, ia mulai menyalakan jetpacknya. Ini merupakan versi protype yang belum keluar di pasaran. Tidak berbunyi dan tidak memancarkan nyala api. Sehingga tidak akan terdeteksi di kegelapan malam. Tak berapa lama, ia sudah jauh terbang meninggalkan gedung penyiaran tersebut.

Sinar matahari perlahan mulai memenuhi kamar Elang. Ia mengerjap silau. Ia merutuk dalam hati, menyadari bahwa ia lupa mematikan timer pada kaca jendela kamarnya, sehingga kaca jendela itu otomatis mengurangi kadar gelapnya dan membuat sinar matahari tembus dan memenuhi seluruh kamar.

“Kaca, jendela, gelap!” ujar Elang lantang. Menyuarakan perintah kepada komputer rumah agar kembali memblokir sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela. Dalam sekejap kamar itupun kembali gelap gulita.

Elang mencoba kembali tertidur, namun pikirannya sudah terlanjur terbangun. Akhirnya ia hanya berbaring dalam gelap tanpa berbuat apa-apa. Ingatannya melayang, melacak kembali apa yang sudah terjadi pada dirinya dalam beberapa waktu terakhir ini.

Dimulai dari ketidak sengajaan Elang menemukan sebuah benda kuno, yang belakangan diketahui bernama DVD. Itu adalah sebuah kepingan yang digunakan oleh masyarakat kuno untuk menonton film. Awalnya Elang tidak begitu peduli dengan benda itu. ia hanya menyimpannya saja sebagai salah satu koleksi biasa. Hingga suatu hari Emma, rekan kerjanya, mengatakan padanya bahwa ia baru saja mendapat sebuah benda kuno yang digunakan untuk memutar keping DVD. Maka mereka pun mencoba untuk menyatukan kedua alat itu, dan melihat bagaimana hasilnya. Awalnya mereka kebingungan untuk mengoperasikan alat tersebut. Namun setelah mendapat informasi dari banyak pihak, sedikit bantuan dari seorang teman yang terobsesi dengan benda-benda kuno, akhirnya mereka bisa menonton film yang terkandung di DVD tersebut.

Mereka sangat terkejut melihat film tersebut. Film itu sangat menggugah pikiran dan tubuh mereka. Berisikan adegan-adegan yang terlarang dan beresiko mematikan. Sesuatu yang sangat barbar dan menjijikkan bagi masyarakat sekarang ini. Tapi sepertinya masyarakat kuno di dalam film itu sangat menimatinya. Mereka terlihat begitu hidup. Elang dan Emma terpancing untuk mencoba melakukan hal-hal seperti yang tersaji di dalam DVD itu. Pada awalnya mereka merasa sangat tidak nyaman, dan merasa takut. Jika saja pemerintah dunia saat ini mengetahui apa yang mereka lakukan, mereka pasti akan langsung dihukum. Namun setelah beberapa saat mencoba, akhirnya mereka mengerti mengapa manusia kuno sangat menikmati setiap ritual ini. Dan tidak lagi peduli akan ancaman pemerintah tersebut.

Berawal dari Elang dan Emma, lalu mereka secara diam-diam mengkonversikan isi DVD itu ke media film jaman sekarang, lalu menyebarkan ke beberapa kenalan mereka yang bisa dipercaya. Lalu perlahan tapi pasti, kelompok itu makin membesar. Lalu mereka semua sepakat untuk membuka pengetahuan kuno ini, pengetahuan yang dilarang oleh pemerintahan dunia saat ini. Mereka ingin seluruh dunia tahu apa yang telah berusaha dihapuskan oleh pemerintah, padahal itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang harusnya diketahui oleh seluruh manusia.

Di tengah lamunannya, Elang dikejutkan oleh suara komputer rumahnya, yang memberi tahu bahwa ada panggilan holophone untuknya. Setelah mengetahui siapa yang menghubuni, Elang mengizinkan holophone itu ditampilkan di kamarnya. Dalam sekejap tampilan hologram 3 dimensi tersaji di kamarnya. Muncul sosok Emma.

“Hey, kau masih tidur jam segini? Bagaimana tadi malam? Apakah lancar? 10 menit lagi siaran akan mulai ditayangkan. Kau pasti ingin melihatnya bukan?” cerocos Emma tanpa jeda.

“Semua sudah beres. Kita lihat saja sebentar lagi. Kita lihat saja bagaimana reaksi dunia dan pemerintah nantinya.” Jawab Elang.

“Baiklah, jangan lupa nanti sore kita ada pertemuan. Aku cabut dulu. Bye.” Kata Emma, dan hologram dirinyapun segera buyar.

Elang bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela. “Kaca, jendela, satu arah!” perintahnya ke komputer rumah. Dalam sekejap kaca jendelanya berubah menjadi cermin satu arah. Ia leluasa melihat ke luar, sementara orang dari luar tidak akan bisa melihat ke dalam.

Elang menatap ke sebuah layar besar yang terpasang di gedung seberangnya. Berbagai iklan layanan masyarakat yang dikeluarkan oleh pemerintah tayang silih berganti. Dulu elang merasa pemerintah dunia ini begitu bijaksana. Mereka berhasil mempersatukan seluruh dunia, sehingga tidak ada lagi perang antar negara. Karena semua berada dalam satu pemerintahan. Lalu mereka juga berhasil menemukan sumber energi baru yang tidak lagi merusak alam. Mereka juga berhasil mengontrol populasi manusia sehingga tidak lagi membludak.

Manusia dilarang untuk melakukan kontak fisik, karena bisa menyebabkan timbulnya penyakit. Manusia yang diketahui melakukan kontak fisik akan segera ditangkap. Kelahiran diatur dengan melakukan kloningan DNA yang disusun oleh para ilmuwan. Sehingga tidak ada lagi yang namanya kelahiran alami. Setiap keluarga yang ingin punya anak harus membayar sejumlah uang untuk bisa memberi DNA mereka untuk dijadikan seorang anak.

Selama ini masyarakat begitu patuh akan hal tesebut, mereka begitu percaya bahwa sentuhan fisik adalah sangat menjijikkan. Namun sebentar lagi hal itu akan berubah. Elang telah mengganti file siaran hari ini dengan file yang berisi rekaman dari film DVD kuno yang dia temukan. Sebentar lagi seluruh manusia akan mengetahui indahnya kelahiran alami. Indahnya sentuhan fisik dan indahnya kehidupan yang serba alami.

Layar besar itu memulai hitungan mundur sebagai pertanda untuk seluruh masyarakat agar menghentikan sejenaknya aktifitas mereka, dan memperhatikan tayangan yang dibuat oleh pemerintah. Biasanya tayangan ini berisikan doktrin dan perintah-perintah kepatuhan. Bagi warga yang diketahui tidak menonton tayangn itu, akan dianggap tidak mau patuh, lalu dihukum. Sebuah aturan yang bagus, dengan begini bisa dipastikan seluruh dunia akan menyaksikan tayangan hari ini yang lain dari biasanya.

Senyum Elang tersungging ketika layar besar itu mulai menampilkan rekaman film itu. bisa dilihat di luar kebingungan orang-orang menyaksikan tayangan yang berbeda. Dimulai dari munculnya nama-nama manusia kuno yang tidak dikenal. Lalu muncul sebuah tulisan besar yang menampilkan judul film tersebut. “Lord of G-String” lalu mulai lah adegan-adegan di film itu.

Kini masyarakat akan sadar nikmatnya sentuhan fisik. Nikmatnya bereproduksi dengan cara alami. Jaman baru kan tiba. Terima kasih pada para manusia kuno yang menyisakan peradabannya untuk kita.

Year 3000

by Ryan Pradana @ry4nn_

13 Mei 2010

Pagi ini aku bangun tidur dengan firasat yang aneh. Firasat yang mungkin baru pertama kali kurasakan seumur hidupku. Firasatku mengatakan bahwa hari ini, hidupku akan berubah. Aku tak tahu apakah perubahan ini akan selamanya atau hanya sementara. Pokoknya berubah. Aku menunggu momen itu dengan jantung berdebar kencang. Sangat kencang. Karena aku sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi.

Pagi hingga siang, pikiranku sama sekali tak tenang. Suara sepelan apapun pasti akan meningkatkan kewaspadaanku. Seolah pendengaranku meningkat 100 kali. Suara radio maupun tayangan televise tak ada yang mampu mengusir rasa was – was di hatiku. Menjelang jam makan siang, ibu pulang berbelanja. Aku membantunya menyiapkan makan siang. Sampai makan siang usai, tetap tak ada yang terjadi. Meski demikian, aku makan siang dengan kewaspadaan yang tetap tinggi.

Sore harinya, masih tak ada hal aneh yang terjadi. Menjelang maghrib, ayah pulang kerja. Aku lalu membantu ibu menyiapkan makan malam. Tetap tak ada yang terjadi. Lambat laun aku merasa bahwa firasat yang kurasakan dari tadi pagi, rupanya hanya sesuatu yang tak perlu kurisaukan. Karena sampai makan malam habis pun tetap tak ada kejadian apa – apa. Menjelang tengah malam, aku masuk ke kamar untuk tidur. Namun, di atas tempat tidur ada kotak berukuran sedang yang terbungkus kertas coklat. Kubaca tulisan disitu, bertuliskan namaku. Ah, rupanya berasal dari kakakku, karena tertulis pengirimnya adalah kakakku yang baru saja menjalani hidup baru dengan istrinya. Kado tahun baru, mungkin.

Aku segera membuka pembungkusnya dan membuka kotak itu. Ah, rupanya kaset video game. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera memainkannya. YEAR 3000. Itu judul gamenya. Aku penasaran, game ini semenarik apa. Sepuluh menit pertama, kurasakan game ini sangat mengasyikan. Tentang seorang bocah yang tak sengaja terlempar ke tahun 3000. Namun di sepuluh menit kedua, kurasakan ada yang aneh pada tubuhku. Pandanganku berkunang – kunang dan seperti tersedot ke alam lain. Bukan ke dalam video game. Seperti.. Ke masa depan. Ya, aku tersedot ke masa depan! Year 3000!

21 Agustus 3000

Aku berjalan sendiri di kota ini. Di tahun 3000. Bingung? Pastinya! Kota ini masih kota yang sama seperti yang kutinggali. Hanya berbeda tahun. Berbeda 990 tahun tentunya membuat kota ini membuatku pangling. Semua hal sudah jauh berbeda. Pakaian, kendaraan, gedung – gedung bertingkat, jalanan, semua berbeda. Pakaian di tahun ini sudah menyerupai pakaian astronot. Berwarna perak, tebal dan kurang menarik. Meskipun tanpa helm seperti astonot pada umumnya. Kendaraan yang lalu lalang juga tak lagi bervariasi seperti tahun 2010. Di tahun ini, kendaraan yang berada di jalan hanya berjenis mobil, bis dan satu kendaraan umum besar, yang berbentuk seperti bis double decker, hanya saja bentuknya lebih futuristis. Tak ada sepeda, tak ada becak, bajaj, bahkan sepeda motor. Oh ya, dan semua kendaraan itu tidak berada pada jalan raya. Melainkan MELAYANG! Ya, melayang seperti yang biasa kita lihat di film – film. Hebatnya lagi, kita tak usah pusing – pusing lagi cari tempat parkir apabila kita ingin berhenti di suatu tempat. Semua kendaraan pribadi yang kita bawa, dapat dengan mudah dijadikan dalam bentuk kapsul. Lalu tinggal kita taruh ke dalam kantong. Sangat praktis bukan? Aku melihat orang – orang itu meng”kapsul”kan mobil mereka, seperti mudah dan menyenangkan.

Dan semua yang ada di tahun ini sepertinya menyenangkan gedung – gedung bertingkat itu, sepertinya sangat elastic dan dapat bergerak mengikuti angin bertiup. Jadi apabila kita melihat gedung – gedung itu agak lama, seolah kita sedang melihat mereka menari. Menyenangkan, bukan?

Agak lama menjelajahi kota di tahun ini, aku mulai merasa lapar. Saat merogoh kantongku, aku menemukan dua lempar uang duapuluh ribuan. Seharusnya cukup untuk membeli makanan untuk mengganjal perut, bukan? Aku lalu memasuki gerai fast food yang ternyata masih ada sejak tahun 2010. Aku mencari meja pemesanan, namun tak kutemukan. Kulihat orang – orang ,mengantri di depan vending machine. Oh bodohnya aku! Tentu saja memesan makanan lewat vending machine. Setelah tiba giliranku, segera kupencet – pencet tombol untuk memesan dan kumasukkan uang yang kubawa. Makanan  itu berhasil keluar, namun vending machine mengeluarkan suara yang sangat buruk. Seperti tersumbat. Aku yang panik segera mengambil makanan itu dan pergi dari situ. Para petugas yang berada di belakang, segera memeriksa vending machine. Salah seorang diantara mereka segera berlalri mengejarku ketika sadar bahwa uang yang kumasukkan tak cocok dengan uang yang berlaku. Aku berlari sekuat tenaga agar tak tertangkap mereka. Namun kendaraan mereka lebih canggih. Aku rasa ada semacam GPS disana. Tak butuh waktu lama akupun tertangkap. Dengan makanan yang masih di mulut. Dan aku tak sadarkan diri.

23 Agustus 3000

Aku bangun di sebuah ruangan yang sangat gelap. Beberapa detik aku merasa buta, untungnya ada sedikit cahaya yang berhasil menebus kegelapan ini. Aku seperti bangun dari tidur sangat panjang. Pikiranku langsung mengingat – ingat kejadian yang terakhir kali aku alami. Pengejaran itu! Ya, setelah aku tertangkap oleh mereka, aku langsung tak ingat apa – apa. Pingsan? Mungkin. Dan yang pasti, aku tak tahu seperti apa tempat ini. Penjara kah? Atau tempat lain yang lebih seram?

Setelah menahan lapar cukup lama, akhirnya ada seseorang yang menghampiriku di tempat ini. Orang itu membuka lubang intip dan menyemprotkan sesuatu ke dalam ruangan. Disinfektan mungkin. Mengingat mereka pasti menyadari bahwa aku ‘berbeda’. Kemudian orang itu menarik lenganku dengan amat kasar dan menyeretku ke ruangan kecil yang transparan. Aku berasumsi, tempat ini adalah lift. Lift ini naik beberapa detik kemudian berhenti. Lenganku kembali diseret olehnya menuju sebuah ruangan yang sangat besar, kaca – kaca yang sangat besar menggantikan jendela mengelilingi ruangan tersebut, ornament – ornament yang serba futuristic, dan tentu saja banyak sekali manusia yang berada disana.

Aku dibawa ke sebuah benda yang sangat mirip dengan kursi, hanya jauh lebih tinggi. Kurasa, aku akan menempati kursi terdakwa, dikelilingi oleh orang – orang yang akan mengadiliku. Ya, sepertinya aku berada di pengadilan. Tak berapa lama, orang yang berperan sebagai hakim, mulai memimpin jalannya sidang. Prosesnya kurang lebih sama, ada orang – orang yang bersaksi melihatku melakukan kejahatan, yakni mencuri makanan, ada yang menanyaiku macam – macam mulai bagaimana aku bisa tiba disini dan lain sebagainya. Berasal dari masa lalu agaknya agak susah ditangkap oleh nalar mereka, sehingga aku mengarang cerita bahwa aku adalah alien dari planet lain yang terdampar. Ceritaku ini malah berdampak buruk. Sangat buruk. Paling tidak, itu yang bisa kubaca dari ekspresi mereka semua. Tak berapa lama, aku sudah dipaksa masuk ke dalam ruangan yang jauh lebih mengerikan dari ruangan tempat aku disekap sebelumnya. Campuran rasa bingung, capek, emosi, dan lapar yang menjadi – jadi membuat aku pingsan.

24 Agustus 3000

Aku terbangun dengan rasa perih yang tak terkira di perutku, mengingat aku tak makan cukup lama. Aku melihat sekeliling ruangan ini. Rupanya selain aku, ada tiga makhluk aneh yang sedang bercakap – cakap di pojok ruangan. Aku berasumsi mereka alien, dan aku juga dijadikan satu dengan mereka karena aku mengaku alien. Karena aku tak tahu bahasa mereka, jadi aku diam saja tak berusaha bergabung. Namun kemudian salah satu alien mendekatiku dan mengajakku bicara. Dia mengusai banyak bahasa, termasuk bahasa yang aku gunakan.

“Baru ya? Terdampar dimana?” tanya alien itu.

“Engg.. Di dekat gedung” aku menjawab sekenaku.

“Dengar anak baru. Kami sedang mempersiapkan rencana kabur dari sini. Kamu tahu, alien yang terdampar disini akan menjadi bahan ekperimen yang sangat sadis. Jadi kami tak ingin mati sia – sia dan lebih baik kabur dari sini. Kalau kamu mau, kamu boleh ikut dengan kami” lanjut alien itu. Wajahnya yang agak menyeramkan bagiku rupanya berbeda dengan tutur katanya yang lebmbut dan menenangkan. Dan dia mengajakku kabur! Wah, aku sulit untuk menolaknya, mengingat perlakuan dari orang – orang sini yang kasar dan sama sekali tak ramah.

“Oke, aku ikut. Lalu bagaimana caranya kita kabur?”

“Jadi setelah ini, kami akan ribut untuk mengalihkan perhatian penjaga. Kau segera keluar dari jendela yang sudah kami jebol itu” alien itu menjawab sambil menunjuk ke jendela di atas dinding.

“Kalau kamu sudah dibawah, kami menyusul. Kita akan dibantu temanku yang akan menyelamatkan kita dengan pesawatnya”

“Sepertinya ide bagus. Oke, aku siap” jawabku dengan semangat.

Ketiga alien itu langsung rebut sehingga penjaga datang. Aku segera menerobos jendela yang sudah dijebol itu, cukup susah, namun aku berhasil sampai di luar. Tak berapa lama, ketiga alien itu mengikutiku keluar penjara. Kami berempat segera berlari mengendap – endap sampai halaman penjara. Aku yang memang memiliki tubuh paling kecil, diminta untuk berjalan dulu ke satu dari dua pintu yang menuju ke luar. Setelah membuka pintu itu, tiba – tiba belasan orang mengepungku dengan pistol besar mereka. Aku kaget, dan menoleh ke para alien itu. Mereka rupanya berhasil masuk ke pintu yang kedua dan berhasil lolos, itu yang kudengar dari para penjaga penjara yang lain. Sedangkan aku, tak bisa berkutik.

“Aturan di planet ini, alien akan dijadikan bahan percobaan. Namun alien yang mencoba kabur, akan langsung kami binasakan!” setelah mengucapkan kata – kata itu, tubuhku langsung dialiri listrik berkekuatan besar dari pistol mereka. Rupanya para alien itu telah membohongiku! Ah.. aku akan membalas dendam.. Kalau hidupku ini belum.. GAME OVER!!