121 Pembunuhan
now browsing by category
Cinta Monyet
by Iman Oxal Taufik @oxalmore
Perawakan kecil, berkacamata, kurus, dan tidak pintar, kurang pergaulan pula. Wajar saja aku sering dicemooh teman sekelas. Semua cowok punya impian, begitu pula aku. Mendapatkan cinta Mira. Mira gadis tercantik di sekolahku. Tapi, mimpi tetap mimpi. aku hanya bisa melakukan satu-satunya bakatku. yaitu menggambar. Aku sering menggambar Mira, walaupun dari jauh. Aku cukup puas.
Tadi sewaktu istirahat, aku kedapatan Mira sedang menggambarnya. Aku habis dimaki olehnya. Dia bilang aku tidak layak menggambar dia. Aku pun habis dicemooh teman sekelas. Mira tersenyum sinis. Dan membiarkanku menangis.
**
Kini aku tersenyum puas dengan hasil gambarku yang begitu nyata dan bagus ini, dengan Mira di depan meja gambarku. Ternyata ide membunuhnya itu yang terbaik.
Melilit Duka
by Mahabrata Liwangi @Liwangi
Musim semi berkutat di bukuku
ceritakan masa lalu yang gemparkan awan
gemparkan transfusi darah dan nafas menyingsup bengis
Ibu sudahlah; merasa darah ayah mari kita angsur tanda duka atas bencana bandang.
04.04.11
ROSELYN
By @adelliarosa
Pagiku mendung kelabu. Dimana bercak darah yang seharusnya mengotori ranjangku? Seharusnya bercak darah itu ada kan? Sedikit saja barangkali?
**
Wanita itu bermata sayu dan berbibir merekah merah jambu. Wanita itu Roselyn. Aku memujanya, lebih dari Tuhanku. Roselyn adalah mawar, sekaligus melati. Roselyn angkuh, suci, tak tersentuh. Roselyn satu-satunya yang kupilih menjadi pendampingku. Musim salju ini, Roselyn menikah denganku.
**
Dimana bercak darah sialan itu? Dibawah bantal, dibalik selimut, diantara ceceran piyama dan celana dalam. Nihil.
**
“Maaf aku mengecewakanmu..” Bibir Roselyn bergetar. “Aku tak pernah sesuci melati, sejak berusia tiga belas. Ayahku merenggutnya dariku..” Ujarnya lirih. Terlambat, darah sudah memenuhi ranjangku. Mata sayu itu perlahan mengatup, tak pernah membuka lagi.
Tembok Berdarah
by Sigit Raharjo @sigitharjo
*
Pagi belum mengumpulkan seluruh nyawanya, saat Diah berteriak.
“Mas, ada darah di tembok !!”.
Sebercak darah tampak di tembok. Masih segar.
“Mungkin darah nyamuk”, kata Doni, laki-laki yang baru setahun menjadi suaminya. Sambil membetulkan selimut, Doni pun kembali lelap.
**
“Mas, aku telat 2 minggu”, kata Sekar kepada laki-laki bercambang itu.
“Kamu yakin itu anakku”, kata Doni.
“Bukankah setiap kali bercinta, kita selalu membuangnya di luar. Bahkan aku selalu memakai kondom ?”.
Sekar tak dapat menahan air matanya.
“Aku tak pernah melakukannya selain denganmu Mas, sumpah demi Tuhan !!”.
Doni segera mendekatinya, dan memeluk dengan lembut. “Aku akan bertanggung jawab, Sayang”
***
Rona merah meraupi wajah Diah, selepas dari toilet. Ini akan jadi kejutan yang manis buat Doni, yang sudah 2 hari dinas keluar kota, pikirnya. Sebilah testpack digenggamnya. Positif, dia hamil. Setelah menikah 1 tahun, akhirnya perutnya berisi. Dia bergegas ke kamar.
“Aaaaa…!!”.
Betapa terkejutnya dia. Di cermin hiasnya terdapat goresan darah membentuk tulisan.
“Tolong !”
Diah bergegas menelepon Doni, namunnya nada jawab dari mesin yang terdengar. Dia di luar jangkauan area.
****
“Kapan kamu akan melamarku ?”, rengek Sekar kepada Doni. “Perut ini sudah tidak bisa lagi ditutupi, Mas”.
Doni yang sedang kusut nampak seperti cucian kotor di pojok kamar.
“Sabar, Sekar. Menikah itu bukan urusan gampang. Semua harus dipersiapkan, dan rasanya aku belum siap. Bagaimana kalau kita gugurkan janin sialan di perutmu itu”.
“Mas, bagaimana pun bayi ini tidak berdosa, aku tak mau menggugurkannya”, kata Sekar sambil bergegas pergi.
*****
Malam masih tersungkur dalam dengkur, saat Diah terbangun. Dia mendengar suara tangis wanita dan bayi. Dekat sekali dengan telinganya. Bulu-bulu ditengkuknya meremang.
Suara itu semakin terdengar jelas, penuh iba. Perlahan Diah turun dari ranjangnya, mencari sumber suara itu. Suara itu muncul dari bawah ranjangnya. Dengan gemetar dia melongok ke bawah. Tak ada sesiap, namun suara tangis itu berhenti. Hanya ada bercak darah bertulis “bongkar”.
Diah semakin ketakutan, dia mulai menggeser ranjang, untuk melihat lebih jelas tulisan tersebut. Dia meraba lantai tepat di bawah ranjangnya. Ada yang aneh, seperti pernah diganti keramiknya. Akhirnya dia menghubungi Polisi.
******
Sekar tak sabar lagi, kali ini dia benar-benar memaksa Doni agar segera mengawininya.
“Kalau kau tak mau segera bertanggung, jawab aku akan laporkan polisi. Aib ini akan aku bongkar sekalian. Ayah ibuku mulai curiga, Don”
“Sabar dong, aku sedang pusing. Kerjaanku berantakan semua gara-gara kamu”
“Gara-gara aku ?. Don, kalau dulu kamu nggak memaksa aku, aku tak akan melakukannya”. Sergah Sekar tak kalah sengitinya.
“Bukankah saat itu kita sama-sama mau ?”
“Dasar laki-laki”, Sekar menampar pipi Doni. “Plaak !!”.
Doni yang mulai gelap mata, membalasnya. Dia menjambak rambut Sekar, dan membenturkannya ke tembok. Lebih dari sekali. Darah membasahi tembok. Sekar tampak terkulai tak berdaya. Nafasnya tercerabut.
Dalam kepanikan Doni mulai berpikir kemana dia akan membuang mayat Sekar. Akhirnya di membuat lobang di lantai. Dan menanam Sekar beserta anaknya di sana.
*******
Sudah seminggu, Polisi mencari di mana Doni. Polisi telah membongkar lantai di rumah Diah dan telah mememukan kerangka Sekar.
Dan di suatu pagi yang masih rabun. Polisi menggerebeg sebuah rumah kontrakan. Doni berhasil diringkus. Di kamar itu ditemukan 5 kantong plastik. Diah terpotong-potong di sana
Jakarta, 15-16 Maret 2011
Pembunuh Terbunuh
by Zadika Alexander @tantehijau
“Ssttt…”
Tanpa sempat aku menoleh, mulutku sudah dibekap. Aku mencium bau busuk dari tangan besar yang membekap mulutku. Bau apa ini? Aku mual. Aku nyaris muntah mencium bau tangan besar itu. Tapi aku tak bisa bergerak. Tangan lainnya mecengkram kedua tanganku keras.
“Tolong jangan berontak” desis suara itu.
Sial. Aku sudah pusing dengan bau tangannya, sekarang ia malah memohon kepadaku. Aku tidak bisa nafas. Hello… orang bego!!! Lain kali kalo bekep orang, cuci tangan dulu bisa? Ah kenapa aku bisa berpikiran seperti ini. Sudahlah, aku menurut saja kepadanya.
Pria itu, ya mungkin ia pria, membawaku keluar dan menuju tempat parkir. Setelah sampai di hadapan suatu mobil, kurasakan bekapan tangannya melongar. Ada udara sedikit yang melegakan masuk ke dalam rongga hidungku. Aku sudah siap-siap untuk berteriak ketika kurasakan hentuman keras di punggungku.
“BUK!!!”
*
Sebuah sinar silau membangunkanku. Aww. Kepalaku sakit. Sepertinya pria itu memukul tengkuk belakangku hingga pingsan. Pelan-pelan aku membuka mataku. Kulihat bayangan tubuh kurus dihadapanku.
“Sudah sadar?” terdengar suara sinis wanita
Kupicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Pencahaya Cahaya lampu yang menyorotku membuat mataku semakin berkunang-kunang. Suara siapa ya itu? Aku tidak mengenalinya.
“Tahu kenapa dibawa kemari?” ucap wanita itu lagi
Aku menggeleng pelan. Wajah wanita itu tidak bisa kulihat karena ia berdiri tepat di belakang lampu sorot itu. “Dimana ini?” ucapku serak
Terdengar tawa parau dari balik lampu sorot. Aku menghela nafas kesal. Memang ada yang lucu?
“Lucu. seharusnya kamu kenal tempat ini lebih baik dibandingkan diriku” Wanita itu keluar dari bayangan. Wajah tirus dengan make up berlebihan.
Aku melihat sekeliling dan berusaha mengingat. Sakit akibat pukulan masih nyeri membuatku susah berkonsentrasi. Aku masih tetap tidak ingat ini ada dimana.
“Sudah ingat” ucap wanita itu lagi.
Aku menggeleng perlahan. “Saya belum pernah kemari.”
Wanita kurus itu menghentakkan kakinya kesal. Ia mendengus kesal dan berbalik meninggalkanku. Ia membanting pintu ruangan dan seketika lampu sorot juga ikut meninggalkanku.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
*
Aku tidak tahu kapan aku benar-benar sadar, kapan aku bermimpi. Semuanya gelap. Aku tidak bisa melihat apapun di ruangan ini. Mereka yang menculikku tidak memberiku makanan ataupun minuman. Aku hanya dibiarkan duduk dengan keadaan terikat. Kepalaku pening, aku tidak bisa berpikir. Aku hanya bisa mengingat, Nero.
***
Pria itu bernama Nero. Dia bukan siapa-siapaku. Dia hanyalah Nero. Tapi, seperti raja bernama Nero yang membakar Yunani, Nero membakar semangatku. Aku masih ingat alasan utamaku melanjutkan pendidikan lanjutku, aku ingin lebih dekat dengan Nero. Lebih dekat dengan dunia yang digeluti Nero.
Sayangnya ketika aku memasuki sekolah itu, Nero sudah lulus. Aku sempat bertemu beberapa kali dengan Nero, tapi itu hanya sekilas saja. Ketika ku lulus, aku mengetahui Nero bergabung di sebuah yayasan untuk anak jalanan. Tanpa ragu, akupun ikut bergabung. Harapanku, aku bisa terus melihat Nero. Sayangnya harapanku tidak begitu terwujud.
Petir menggelegar dan hujan turun deras ketika aku lagi-lagi termenung. Sendirian. Sendirian lagi, dan lagi, dan lagi. Handphoneku berbunyi. Kulirik dan terlihat nama Bara. Kuhela nafasku perlahan. Kuharap ini adalah panggilan tugas, bukan nasihat percintaan lagi.
Aku lupa kapan pertama kali kenal dengan Bara. Sebelum kenal dengan Nero atau sesudah ya? Ah! Kenapa aku terus memikirkan Bara? Dia tidak lebih dari sekedar klien. Only a client! Iya itu harus kutanamkan dalam benakku.
Dalam lamunan, kuingat samar-samar pertengkaranku hampir kurang lebih sebulan yang lalu dengan Bara. Pria itu sama seperti namanya, mengandung api. Ia selalu bisa saja menyulut api kemarahan dalam diriku.
*
“Ini tugasmu berikutnya” ucap Bara dengan dingin sambil menyerahkan folder hitam kepadaku
Kubuka folder itu dengan perlahan. Didalamnya ada beberapa foto berada di folder itu. Foto-foto dari seorang wanita. Kuperkirakan umurnya tidak lebih dari 30 tahun. Wanita itu lumayan manis, walau kulitnya putih pucat. Ia seperti habis digigit darahnya oleh vampir.
“Namanya Kayana” ucap Bara “Gw ingin lo membunuhnya”
Nafasku tercekat. Kurasakan jantungku berdetak semakin cepat. Apa kata Bara? Membunuh? Aku hanyalah seorang photographer, dan dia memintaku membunuh?
“Apa?”
Bara mengeluarkan selembar kertas dan menaruhnya hati-hati dihadapanku. Kertas itu adalah cek dari salah satu bank terkenal. Cek bernilai seratus juta rupiah.
“Gw tahu lo butuh uang cepat, bukan?” desis Bara “It’s just a simple thing. You only have to give this to her”
Bara menunjukkan botol kecil berwarna putih kehadapan wajahku. Racun. Botol itu pasti berisi racun. Tubuhku mengeras. Aku tidak bisa bergerak.
Bara mengambil kursi dan duduk dihadapanku. “Kayana itu penghalang bagimu, Ve. Membunuhnya itu menguntungkanmu”
Aku mengangkat wajahku dan menatap Bara tajam. “Maksudmu?”
“Dia calon istri Nero” Bara tertawa keras. Kurasakan tawa itu menghinaku.
“Darimana lo tahu?”
“Karena gw hidup di dunia nyata, tidak seperti diri lo yang hidup di dunia mimpi. Mimpi akan Nero!” desisnya
Aku membuang muka. Ini gila. Ini sungguh gila. Mana mungkin aku harus membunuh?
Bara mendekatkan cek itu kehadapanku. “Sudahlah, Ve. Terima ini. Cek ini sudah bisa lo cairkan mulai besok. Dan lo punya waktu seminggu untuk meracuni Kayana”
Bara bangkit dari duduknya dan meninggalkanku.
*
Kubaca perlahan sms singkat dari Nero. Aku hanya bisa berkomunikasi lancar dengannya melalui tulisan, termasuk sms. Hanya sms kali ini bernada lain.
‘Bisa kita bertemu? Aku merindukanmu.’
Aku menghela nafas. Tatapanku beralih ke arah cek dan botol berwarna putih yang terletak di meja kamarku.
***
Ah… Aku ingat. Wanita itu. Wanita itu Kayana. Wanita yang seharusnya aku racuni.
Pintu itu dibuka dan serberkas sinar membuat mataku tiba-tiba buta sesaat. Wanita itu kembali. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Ia mendekatiku dan mengacungkan senjata kearahku.
“Seharusnya kamu membunuhku. Sesuai dengan perintah Bara.” Ucapnya serak.
“Maksudmu? Kamu ingin aku membunuhmu?”
Wanita itu tertawa keras. “Kamu kira aku ngga tahu? Aku tahu kau adalah pelacur kecil yang berselingkuh dengan tunanganku, Nero. Kaulah satu-satunya alasan Nero mau menerimaku. Karena kau, maka Nero mau kupaksa menikah denganku. Dan karena dirimu, Nero menyuruh Bara untuk membunuhku.”
Aku terdiam. Senjata itu masih terarah ke wajahku. Wanita itu sepertinya telah siap menembakkan peluru ke wajahku.
“Jadi sekarang kau ingin membunuhku?”
Wanita itu tertawa pelan. “Kurang lebih seperti itu.”
Senjata itu berbunyi. Spontan aku menutup mataku. Mungkin inilah kisah akhir hidupku, akhir dari duniaku. Aku tidak merasakan apapun. Sunyi. Apakah aku sudah mati? Ketika aku membuka mataku, yang kulihat adalah wanita itu tergeletak dihadapanku. Darah berceceran di sekeliling tubuhnya.
Pria itu berdiri dihadapanku sekarang. Ia tersenyum. Senyumnya menakutkan. Ia mengarahkan senjata itu kearahku, dan…
***
Laut Terakhir
by Chandra Wily @chandrawily
Kini aku datang lagi, kutepati janjiku. Dengan susah payah kukunjungi kau sampai ke alam ini. Kuikuti arah angin yang membawa ombak menuntun tubuh lunglaiku kemari. Aku ber-dejavu lagi. Masih kulihat gambaran saat kau merayuku di tepian laut ini tempo dulu. Kamu memetik gitarmu, menyanyikan lagu “Satu Hati” milik Dewa 19. Suara sumbangmu membuatku tertawa, tersipu malu. Angin menyapa kita, sesekali menggelitik ubun–ubun dan telinga. Kau genggam tanganku sangat erat, kau nyatakan perasaan cinta.
Burung–burung camar dan kepiting jadi saksi kita. Kau memberiku sebuah cincin emas bukan 24 karat, yang lantas kau pasangkan di jari manisku. Kau ciumi keningku, hangat. Sempat kita perhatikan matahari yang terbenam. Sempat kita senandungkan bersama pujian–pujian kepada Tuhan. Dan masih sempat kita berjanji untuk menjaga cinta kita selamanya.
Lautan ini, menjadi tempat awal hidup baru kita. Kini, ketika kurasakan ragamu menjauh. Aku masih akan menepati janji. Janjiku dan janjimu juga. Tak akan lelah aku tersenyum untukmu. Meski hujan membuat kaku, meski panas mengeringkannya.
Sekarang, kudapati hatimu telah terisi oleh wajah lain. Wajah bukan aku. Tahukah kamu betapa aku dengan susah payah menjunjung janji kita? 40 siang, 39 malam aku terombang-ambing di lautan. Mengharap bumi membawaku ke hatimu lagi. Dan yang kutemukan adalah hampa. Kau telah bersama yang lain. Kau buat janji suci yang nyata bersama seorang bukan aku. Kau ciptakan seorang bocah laki–laki dari rahim belahan jiwamu. Kau hapus segala masa lalu tentangku.
Jika Tuhan masih akan mengijinkan, aku akan selalu mengunjungimu pada malam–malam dimana kau belum mandi wajib. Aku akan datang saat pasanganmu tengah menstruasi. Aku datang disaat buah hatimu menangis sekeras–kerasnya di tengah malam. Dan saat itu, akan ku perdengarkan rintihanku. Akan kunyanyikan lagi senandungmu yang dulu untukku. Akan ku perdengarkan kicau burung camar dan denging suara kepiting. Akan kuperlihatkan dalam ilusimu gambaran matahari yang terbenam. Dan akan kubuktikan bahwa aku masih di sini, bersamamu. Aku masih bertahan dalam pengkhianatanmu. Semuanya masih belum akan berubah. Meski telah kau renggut paksa kesucianku. Meski kau hilangkan nyawaku. Meski kau berusaha lenyapkan jasadku. Satu hal, laut tak akan membenamkan aku. Aku masih terombang–ambing di laut kita. Temui aku, ikat aku dalam janji nyatamu. Dan jasadku tak akan pernah membusuk di lautan.
Sorry, Mama Katy
(Charlie II)
Angel menyambutku dengan ciuman hangat dan segelas kopi kental. “Kamu terlihat sangat kacau, darling. Ada apa?” Dia menuntunku ke sofa ruang keluarga. Kami belum menikah. Hm, akan. Rencananya dua bulan lagi.
Aku menatap Angel sambil menggeleng lemah. “Kasus ini rumit atau aku yang tidak bisa fokus?” aku balik bertanya.
“Masih tentang Charlie? Bocah malang. Aku memikirkan nasibnya. Siapa yang tega berbuat seperti itu padanya? Apakah dia sudah mandi, bagaimana makannya, susu apa yang diberikan oleh penculiknya? Oh, Bunda Maria! Semoga dia baik-baik saja,” Angel mendesah berat dan mulai menangis. Aku bisa memahaminya. Angel adalah Ibu baptis Charlie.
“Terakhir kali aku bertemu dengannya ketika anak itu sedang bersama Nancy dan Lucy di taman tiga minggu yang lalu. Seandainya saja aku tak pergi ke Boston, tak mungkin seperti ini!” Angel menyalahkan dirinya sendiri. Aku memeluknya. Angel pergi ke Boston untuk menemui kakaknya yang dirawat karena kecelakaan dan baru pulang tiga hari yang lalu.
“Tak usah menyalahkan diri seperti itu. Sudahlah, kamu tidur saja. Aku mau menyelesaikan sedikit lagi. Nanti kususul,” Marcel mengecup kening Angel lembut dan menghabiskan kopinya.
Kubuka laptopku dan mulai mencoba memecahkan misteri sialan ini. Kertas dari Jason itu mengusikku. 234 NL 890. Hanya itu. Maksudnya apa? Kucoba semua kemungkinan.
234: Mr. Kent lahir pada tanggal 23 April. Atau Nancy yang lahir pada tanggal 4 pukul 23. Mungkin kombinasi? Mr. Kent punya dua anak dan usia istrinya 34?
NL sepertinya lebih mudah. Nancy dan Lucy. Apa lagi dugaanku? Bahwa Mr. Kent pernah tinggal di Netherland? Atau nama gadis Katy: Katrine Norah London?
890 lebih kuduga sebagai waktu pernikahan Mr. Kent. Agustus 1990. Atau… PING! Aku terkejut. Apa-apaan sih? Siapa juga yang menggangguku tengah malam begini? Nama Alvin yang tertera.
‘Marcel, aku gak bisa tidur. Sepertinya ada yang mengawasiku. Dari tadi kulihat banyak orang di halaman apartemen. Kulihat dari jendela kamar, banyak mobil polisi dan ambulans. Ada yang terluka. Atau terbunuh?’
Tulisan itu membuyarkan konsentrasiku. Alvin orang yang paranoid. Sesuatu yang tak ada hubungannya dengan dia, selalu dibesar-besarkan.
‘Tidur saja. Jika masih sulit, aspirin mungkin bisa membantumu. Kau harus tidur, Vin. Pagi nanti jangan lupa.’
‘Baiklah, kucoba saranmu. Thank you!’
Aku menjadi sedikit pening. Sebaiknya istirahat dahulu. Sudah dua hari tidak tidur.
**
Sudah sejam Alvin terlambat. Aku mulai resah. Tak biasanya. Kucoba hubungi ponselnya. Tak aktif. BBM juga tak dibalas. Ada apa ya? Aku berpikir lebih baik ke apartemennya. Mungkin dia baru bisa tidur Subuh tadi, efek dari insomnianya.
Langkahku terhenti melihat kerumunan orang di sana. Polisi, ambulans, orang-orang yang bergunjing. Dari semalam? Rasanya tak mungkin. Aku mendekat dan mencoba melihat ke arah kantong mayat. Dua orang polisi mencegahku. “FBI,” ujarku memperlihatkan tanda pengenal.
Kubuka kantong mayat itu dan aku terkejut. “Alvin?” desisku tak percaya. Aku bergegas ke kamarnya. Berantakan. Blackberry, celana jeans, kemeja, laptop, asbak, sampah junk food… ASBAK? Alvin tidak merokok. Siapa tamunya semalam? Dua gelas bekas cola. Hm, jelas ada tamu semalam. Sepertinya sebelum dia meneleponku.
Buntu. Untuk sementara ini. Alvin, yang kuharap bisa menjadi saksi, malah terbunuh. Tetapi siapa pelakunya? Aku memeriksa Blackberrynya. Terakhir dia BBM dengan Sebastian dan aku. Sms dari Ibunya yang tinggal di New Jersey. Panggilan masuk dari Sebastian. Aku tak akan curiga apa pun pada Sebastian kecuali isi BBM itu adalah… ‘Jangan bicara pada Marcel atau kau mati.’
Dan tentu saja Alvin mati sebelum dia bicara padaku. Sebastian paranoid. Tetapi mengapa? Apa ada hubungannya dengan Charlie? Ketika aku hendak membuka laptopnya, Sebastian datang. “Marcel. Sedang apa kau di sini? Ah, ya tentu saja. Anggota FBI yang rajin. Bukankah seharusnya kau menyelidiki alien?” tawa Sebastian sinis. Aku tersenyum tipis tak menghiraukan.
“Aku mau mengambil laptop Alvin. Semua data keuangan Cafe ada di sini,” ujar Sebastian mengulurkan tangannya dan segera kutepis.
“Ini masih dalam penyelidikan. Sebaiknya kau pergi dari sini. Lagipula, tak mungkin kau tak punya copy laporannya, kan?” tanyaku tenang.
“Oh ya, memang ada juga. Tetapi laporan kemarin belum ada padaku,” suara Sebastian terdengar memaksa.
“Maaf, tetap tak bisa. Tunggu sampai penyelidikan selesai. Toh kamu pasti masih menyimpan catatan manualnya kan?” aku menahan gerakan Sebastian dan menyuruh salah satu polisi untuk mengamankan laptop Alvin. Kulihat mata Sebastian berkilat marah. Aku tak menggubrisnya dan berlalu.
**
Aku membuka surel dan mendapat sebuah yang baru. Dari Sebastian. Sebuah link. Aku menahan nafasku melihat Gambar yang membuat darahku mendidih. Angel diculik dan setengah telanjang!
Blackberryku berbunyi. Voice note dari Sebastian. “Kamu sudah melihatnya, Marcel? Jangan main-main denganku. Berhentilah menyelidiki kematian Alvin.”
Aku semakin bingung. Lantas apa hubungannya Alvin dan Charlie?
Aku mampir ke Cafe Mama untuk menikmati kopi seduhan Alvin, sebenarnya. Tetapi sejurus kemudian aku insyaf, dia sudah tak ada. Aku telanjur ke sini. Maka, penuh basa-basi aku meminta mochacinno. Sesuatu yang tak biasa. “Bukan kahlua?” tanya Jason. Aku menggeleng. Kahlua racikan Alvin tak ada yang menandingi.
Ada sesuatu yang janggal kembali terjadi. Aku tak melihat Sebastian. Biasanya mulut bawelnya sudah memenuhi bar dan dapur. Tetapi ini kok sepi? Seperti mengetahui kebingunganku, Jason berkata, “Sebastian sakit.” Itu saja dan keningku langsung berkerut.
“Rasanya baru tadi sore aku mendengar suaranya di voice note. Kok bisa?” Jason mengangkat bahu cuek. Dia kembali melayani pelanggan. Dengan tergesa aku menghabiskan minumku dan menuju rumah Sebastian.
Sepi. Tetapi kulihat lampu ruang keluarga dan dapur menyala. “Bas? Are you there? Bas? Any body home? Hey, Bas! Answer me!” Hm, tak biasa. Sebastian selalu menggerutu bila aku memanggilnya Bas. Kali ini tak ada jawaban. Aku mengintip ke kamarnya. Berantakan. Khas Sebastian. Tak ada yang mencurigakan. “Bas? Where are you?” Kucoba mencari ke kamar mandi dan menemukan Sebastian terkapar dengan darah yang terus mengalir dari telinga dan hidungnya. Dahinya berlubang. “Oh, shit!” Aku segera menelepon kantor dan ketika aku hendak menelepon Cafe seketika kuurungkan niat. Aku mencurigai Jason.
Sudah banyak korban. Charlie belum ditemukan. Aku menghubungi Mr. Kent. Sibuk. Kukirim BBM dan surel. Berharap dia membacanya dan memberiku ijin untuk menggeledah kamar Charlie. Mungkin terlambat. Tetapi setidaknya aku mencoba.
**
Mr. Kent mengijinkan aku. Maka di sinilah aku pagi ini. Kamar Charlie. Sudah dirapikan. Yang kutuju hanya satu. Buku menggambarnya. Di sanalah Charlie biasa menuangkan apa yang ada dalam benaknya. Gambar dia bersama Nancy dan Lucy di taman tanggal 12 Januari. Itu yang terakhir. Dia diculik tanggal 14 Januari.
Di gambar itu Charlie sedang bermain pasir. Ah, ini membuatku tertarik. Seorang lelaki di bawah pohon maple. Di sudut kanan atas ada tulisan 234 NL 890. Hey, ini kan tulisan yang diberikan Jason?
Aku mencari Katy. “Katy, aku mau bertanya sesuatu padamu. Ini, gambar Charlie yang terakhir. Ada angka dan huruf di sini. Kamu mengerti maksudnya?” Aku menunjukkan kertas itu pada Katy.
Katy mengambilnya dan memperhatikan dengan seksama. Ia menggeleng. “Entahlah. Aku juga tak mengerti, Marcel.”
Nancy yang sedang mengunyah sarapannya meminta kertas itu dan berkata dengan mulut penuh,” Aku tahu ini. 234890 itu nomer teleponnya Uncle Jason dan Uncle Sebastian. NL itu North Lamb. Mama tahu kan apa itu?” Nancy balik bertanya pada mamanya yang tiba-tiba gelagapan. Aku menangkap itu.
“Mama tidak tahu, Manisku,” jawab Katy lembut namun matanya kebingungan.
“Hm, Katy. Aku memintamu datang ke kantorku nanti setelah makan siang. Atau kau mau makan siang di kantorku? Baiklah, ajak Nancy dan Lucy. Sampai ketemu nanti pukul sebelas ya? Take care, Sweetie,” kukecup kening Nancy dan dia membalasnya dengan mulut penuh oatmeal. Anak yang manis.
Aku menuju ruanganku dengan riang gembira. Sepertinya kasus ini menuju akhir. Akhirnya… Aku segera memanggil sekretarisku untuk mengosongkan semua jadwalku hari ini.
Katy datang terlambat limabelas menit. “Aku harus membeli kudapan untuk Nancy. Bagaimana, ada kabar tentang Charlie?” Katy memberi alasan yang tak masuk akal.
“Kamu kan biasa membeli kudapan itu di minimarket bawah, Katy. Mengapa sekarang sebelum ke sini?” tanyaku penuh minat. Katy tersenyum minta disudahi saja percakapan itu.
“Hai Nancy. Kamu dan Lucy duduklah di sofa. Bagus, anak manis. Katy, duduklah dahulu.
Aku siapkan berkasnya ya?”
Tanpa sepengetahuan Katy, aku memasang perekam yang juga terhubung ke ruangan Mr. Kent di kantornya. “Katy, boleh aku tahu apa atau siapa North Lamb?” yap, belum apa-apa aku sudah memberi pertanyaan menjebak.
“Sudah kubilang, Marcel. Aku tak tahu,” Katy menjawab enggan.
“Hanya jawaban itu yang kuperlukan, Katy. Bekerjasamalah denganku agar Charlie bisa ditemukan. Bukankah kau ibunya?”
“North Lamb. Aku tak tahu,” jawab Katy sambil duduk dengan gelisah.
“Atau aku akan membantumu menjawabnya?” tanyaku memainkan bolpen.
“Menurutmu?” tantang Katy.
“Ini analisaku. Selama ini, kau tahu bahwa Charlie anak indigo, bukan? Dengan gayanya sendiri, dia bisa ‘membaca’ apa yang kita sembunyikan darinya. Charlie dekat dengan Alvin. Yang kutahu mereka selalu berdua untuk becanda di taman, kan? Mungkin kau tahu jika Alvin juga indigo. Dia tahu siapa penculik Charlie. Itu sebabnya dia terbunuh. Agar penculiknya tetap aman.
“Tetapi ketika aku mengetahui Sebastian juga terbunuh, awalnya aku cukup kaget. Tetapi ini ada kaitannya dengan Jason. Kamu juga tentu tahu jika mereka..ehm…intim. Ya, kamu tahu maksudku. Tetapi aku pun tahu sejak dulu bahwa Sebastian sebenarnya biseks. Dia… Menyukaimu, bukan? Suamimu tak tahu ini. Aku, tentu saja dari sumber yang dapat dipercaya. Instingku.
“Aku sedikit menebak-nebak tulisan di gambar Charlie. Ternyata nomer telepon Jason dan Sebastian. Dan… North Lamb. Sungguhkah kau tidak tahu, Katy? Yakinkah kau tidak mengetahui ini?
“Katy dear, terlalu sederhana bila kau tidak mengetahui hal ini. Sebenarnya Charlie tidak diculik, kan? Dia kau sembunyikan di rumah Jason. North Lamb adalah tulisan di balik jaket Jason. Aku baru menyadarinya setelah Nancy memberitahu kita tadi pagi. Mungkin dia tak tahu ada tulisan itu di jaket karena tulisan yang sama ada di tas Charlie yang ikut hilang bersamanya. Mengapa aku bisa sedetail itu tahu? Karena aku pernah melihat tas itu ketika membantu Charlie membongkarnya untuk mengambil mainannya.
“Dan mengapa aku sampai pada kesimpulan bahwa Charlie ada pada Jason? Aku melihatnya di taman ketika aku mengajak Nancy dan Lucy pulang. Di mobil, Nancy bilang bahwa Jason sering bermain dengannya dan Charlie di taman. Lucy menyukai Jason. Ah, hal yang rumit. Tetapi Lucy tak tahu bahwa Jason… Gay. Maka dengan mudah Jason membawa Charlie dan menyuap Lucy untuk tidak mengatakan apa pun kecuali bahwa Charlie diculik seseorang.
“Sederhana, kan? Tetapi mengapa suamimu tidak bisa menduga ke arah sana? Dia percaya padamu. Dia mencintaimu. Tetapi kau mengkhianatinya karena kau sedang berselingkuh. Ah, jangan marah dulu. Mengapa? Karena aku tahu. Aku pernah melihatmu berdua dengan Mr. Robertson di restoran milik Mr. Kiyosaki. Mungkin kalau sekadar makan malam, tak akan aku pedulikan. Tetapi jika kulihat kalian berdua berciuman dengan penuh nafsu?
Mr. Robertson menyerahkan kasus ini padaku, karena dia ingin selamat. Masalah ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu, Mr. Robertson, dan suamimu. Aku fokus pada penculikan Charlie dan pembunuhan Sebastian dan Alvin. Ada pertanyaan?”
Katy memandangku penuh kebencian. Aku tersenyum dan mendekat pada Nancy. Kugendong dia dan kucium pipi merahnya.
“Charlie ada di rumah Jason. Selama ini dia tak ke mana-mana. Lagi pun, mengapa kamu tak terlihat panik atau apalah ketika kehilangan seorang anak? Kamu hendak memeras suamimu sendiri, Katy. Aku kecewa padamu. Kupikir kamu adalah ibu dan istri yang baik.
“Mengapa aku bisa menebak di mana Charlie? Aku melewati rumah Jason dan melihatnya sedang makan roti di ruang tamu. Di hari yang sama, aku melihat Jason datang ke kantor suamimu. Untuk apa? Memerasnya, tentu saja.
“Kupikir bahwa Jason itu ular. Dia membantumu menyembunyikan Charlie, tetapi dia juga membantuku memecahkan kasus ini dengan tulisannya Charlie. Hm, kamu benar-benar bermain api, Katy.
“Sekarang, maafkan aku harus menahanmu dan Jason atas tuduhan persekongkolan perencanaan penculikan dan tentu saja pembunuhan. Berat sekali, Katy. Aku sudah menghubungi suamimu untuk segera datang ke sini. Bagiku, kasus ini selesai.”
Katy mendengus kesal dan tak bisa berkutik karena tiba-tiba banyak polisi di ruangan Marcel.
-TAMAT-
Munchausen By Proxy
By Bunga S. Putri @bunga_sp
Adikmu masuk rumah sakit. Segera pulang!
Sms dari ibu. Inka, adikku, entah sudah untuk keberapa kalinya ia masuk rumah sakit. Sebulan yang lalu di kamarnya, tiba – tiba saja ia mengejang, matanya melotot, dan berteriak – teriak kepanasan. Padahal sebelumnya hanya meminum susu hangat. Hari ini entah karena apa. Setiap kali masuk rumah sakit tidak pernah ada penyakit serius yang terdiagnosa oleh pihak rumah sakit.
***
Setiap malam menjelang aku selalu merasa esok adalah hari kematianku. Susu hangat itu membuat tenggorokanku begitu terbakar. Cairan itu juga membuat kepalaku seperti akan terpecah berkeping – keping. Mungkinkah hanya karena susu buatan ibu, tidak mungkin ibu meracuniku. Rasa sakit itu akan hilang saat ibu memelukku dan mendongeng sampai aku terlelap dipeluknya.
Saat pagi datang, ibu memberiku beberapa butir vitamin ( katanya ) agar aku selalu sehat. Tetapi setelah meminumnya, tatapanku seperti berkunang – kunang, kata ibu itu hanya reaksi vitamin sesaat.
***
Inka terbaring lemas, lagi dan lagi, dokter tidak menemukan penyakit yang serius. Menurut hasil tes, Inka hanya tidak memiliki daya imun yang cukup kuat pada tubuhnya. Airmata Ibu terlihat menggenang di matanya. Aku memeluk tubuh Inka.
“Itu apa bu? Bukan obat dari dokter kan?”
“Ini vitamin yang biasa adikmu minum, ia selalu merasa lebih baik dengan ini, ya kan Inka sayang?”
Inka mengangguk. Ibu membantu Inka untuk meminumkan beberapa butir vitamin itu.
“Kepalaku sakit bu.” – Keluh Inka beberapa saat setelah meminum vitamin dari tangan ibu.
“Tenang nak, sudah biasa bukan? Hanya sesaat sayang.” – Ibu menenangkan sambil mengelus kening Inka.
***
Munchausen by proxy syndrome. Biasa di derita oleh seorang ibu. Akan sangat tidak terjamah penglihatan kita karena ia bersikap seperti ibu normal yang begitu menyayangi anaknya. Namun, dengan berbagai cara ia akan membuat si anak sakit. Dengan cara apapun!
Sempat terlintas di pikiranku artikel singkat yang tadi siang kubaca. Atau jangan – jangan ibuku… Ah! Tidak mungkin!
Belakangan ini, Inka semakin sering sakit. Vitamin, suplemen makanan, susu dan lain – lain begitu banyak di dapur, semua berlabel ‘Inka’. Ya Tuhan! Benarkah penyakit itu diderita ibu. Rasanya tidak mungkin, tapi…
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kutelusuri lebih detil lagi mengenai sindrom itu, penyebabnya dan pertandanya, benar – benar menuju ibu. Kepalaku mendadak pening, lebih baik kulanjutkan besok saja, pikirku. Aku harus bertindak! Dalam hatiku.
***
Wanita paruh baya. Tewas mengenaskan di dapur rumah. Dari mulutnya keluar busa, matanya membelalak, pada lehernya menggaris bekas tali. Itu Ibuku. Aku hampir pingsan melihat kondisi ibu. Sementara di rumah hanya ada aku dan Ibu, Inka masih terbaring di rumah sakit.
Pada ujung tali penjerat ada sebuah kertas kecil bertuliskan; Tubuhku lelah, bu.
Percintaan Malaikat dan Iblis
by Denis Raditya @M0N0L09
Gulita raksasa menyelimuti, pekat dan kelam. Sunyi. Dikala itu aku menanti kekasih, yang mana aku selalu menjadi musuh dari kebaikan. Selimut neraka jahanam yang mencerca tuhan. Aku mencari, terus mencari, hingga ke dasar kulit manusia sekalipun.
Panggil aku “D” berupa singkatan Devil. Aku bosan!! Hampa dan renta melakoni mandat. Jenuh resah gemuruh seakan badai menghempas sesatku. Aku hanya bisa berjalan, berlari, terbang ke angan makhluk tak berdosa. Mencari celah merusak, bongkar iman. Tapi semua itu tak memuaskan birahiku. Tak ada pasangan hidup, mungkin aku terlalu jelek atau terlalu jahat sebagai IBLIS.
Dia mengutus utusannya menghampiriku, membisikkan kata Api kepadaku. Tuhan berencana menepisku dari tempatnya yang agung. Tuhan cemburu. “M” sebut saja itu untuk utusanNya, angel.
M menatap dalam ke lubuk imanku, seolah aku beriman kepadaNya padahal tidak. Aku laknat, khianat, penuh dusta dan nista. Berlangsung 3 abad M memperhatikanku, dia selalu meliuk-liuk di celah hujan kala senja, meratapi kegiatanku yang aku jadikan pencitraan memang karena aku ingin diperhatikannya. Menunggu saat dia menyapa.
“D, sudah habis waktuku untuk mengawasimu” ujarnya. Sudah waktuku?? Gumamku saat dia berkata itu. Jangan, bertahanlah disana M, masih bergumam dalam hati. “Tak ada guna, kau tetap seperti itu.. Kau memang lain daripada yang lainnya, hanya kau terlalu telanjang dan aku dapat memahami deritamu”.
“M, kumohon jangan pergi.. A..a..aku.. Menyukaimu”. Memang iblis tak pernah basa-basi, tertawa kecil dalam hati atas ucapanku padanya. “Ég elska þig” aku mencoba berbicara dengan bahasanya. Butuh beberapa abad mempelajari bahasa Malaikat.
Mendengar kisah-kasih kita itu tuhan murka, ia mengutus seribu milyar utusan panglimanya khusus untuk memenjarakanku dan menghukum M. Kami menghilang, berlari menjauhi semesta. Antar galaxy kami sembunyi, terpisah demi kasih yang nista. Kami tak peduli, hanya resah akan hadirNya.
Setelah beratus abad kami menghilang, bertemu kembali di semesta nypton. Galaxy yang dulu pernah kami buat berdua khusus tempat pertemuan rahasia. Tuhan memang telah mengawasi nypton sejak dulu, hanya saja saat ini kami memodifikasinya kembali dan butuh waktu cukup lama. Kami bertemu, “nypton, terimakasih” ujarku. “M, malaikatku, terkasih dalam kesunyian yang merindu, aku mencintaimu selalu tak pernah terkikis sedikitpun”. “D, aku juga telah lama merindu, dendam kasih ini akan kulapiaskan sekarang juga”. Kamipun bercinta layaknya manusia hina penuh nafsu birahi. Percintaan kami disaksikan para bintang yang membisu, rembulan tersipu malu, matahari cemburu tak mengadu.
100 abad pun belum cukup memuaskan hasrat kami, percintaan rindu yang telah lama hilang kini bertemu kembali. Sedangkan tuhan masih iri pada kita. 1 milyar panglimanya terseok-seok mencari tempat persembunyian kami, Nypton. Melihat percintaan kami rembulan pun terharu, bintang mempunyai ide gila yang aku suka, matahari pun menyetujui akan hal itu. “Bunuh saja!!” Ujar bintang. Aku tersentak, bingung, resah, bergejolak riang, mendendam. Berpikir keras melawan sang maha. Aku sesat, memang tercipta seperti itu. Pola pikir yang terbentuk memang seperti itu, jangan dicela.
Sejenak ide itu pun di jalankan di abad depan.
1 abad kemudian…
M kembali padaNya.. Tanpa wajah dosa menunduk ke maha pengampun, ia bingar. Gundah gulanah berharap mengkosongkan pikiran agar tak terbaca. Tanpa ragu sang maha memangku dan meminang M kepangkuan seperti biasa anak kesayangannya. Rindu kehilangan juga ia rasakan atas M. Aku melihat dari kejauhan menunggu waktu prajurit yang berjaga terlelap. 10 windu kutunggu dan tibalah waktunya ketika M masih di pangkuan sang maha. Aku melangkah kecil perlahan dengan terbang rendah. “Inilah waktunya” berbicara kecil. Tak pikir panjang langsung kuhujam dia dengan sebilah api yang menjulur dari lidahku yang membara, dapat membunuh 1000 nyawa sekalipun dari radius jutaan mil.
“Aku yakin dia punah, si abadi yang renta”. Sekilat mungkin kuhempaskan pedang binar merahku menyala. M mengerti kode ku sebelumnya, dia menghindar jauh terbang ke arahku. Menjauhi cahaya merah itu agar aman. Setelah merah mengenainya, ternyata tak setitikpun membuatnya bergeser dari tempat duduk nya, maha. Semua hilang begitu saja, merah berubah padam, sirna.
Tak banyak bicara, sang maha menghempasku jatuh tergopoh di bawah dunia terkelam paling dasar. “Sungguh kuat” ujarku. M ketakutan, keringatnya pun membasahi bumi menjadi lautan yang mengamuk melahap daratan yang tandus. Dalam kilatannya, aku punah hilang sekejap. Masih sempat sebelum punah aku menggenggam tangan M, dia mencoba meraihku. Tapi apa daya, dia pun menjadi punah karena kilatanNya menyebar hingga yang tersentuh akan sirna, hilang. Kami berdua hilang ke alam lain, alam kepunahan yang tuhan pun enggan menghampiri. Tuhan bersedih, menangis deru akan hilangnya M. Pangkuan kesayangannya. Dan dia tidak sadar bahwa;
KAMI LEBIH BAHAGIA DI ALAM KEPUNAHAN, KAMI LEBIH ABADI DARI SANG MAHA ABADI. KEABADIAN CINTA.
Russalka
by Adellia Rosa @adelliarosa
Gadis itu berambut panjang. Kemilauan, basah. Entah oleh keringat atau sejenisnya. Ia menari dengan anggunnya di bawah siraman cahaya purnama, di sebuah padang rumput hutan pinus berlatarkan sebuah rawa. Ia tak hanya menari, namun juga bersiul dengan merdunya. Desiran angin seakan ikut berdansa bersamanya. Ia mendadak berhenti, menengokkan kepalanya yang cantik kearahku, entah bagaimana ia tahu ada aku, di belakangnya. “Mau bergabung denganku?” Tanyanya, merdu. Matanya memancarkan warna hijau cemerlang. Giginya berkilauan seperti mutiara. Aku mengangguk, menyambut uluran tangannya.
**
Malam begitu sunyi saat aku termenung di tepi rawa hutan pinus. Purnama menggantung sempurna di hamparan permadani langit malam. Seharusnya malam ini indah, seandainya tidak pernah ada gadis kecil yang tertidur lelap di pangkuanku. Gadis kecil yang seharusnya tidak pernah lahir. Aku mengusap linangan air mata yang menganak-sungai di pipiku. “Maaf..” Gumamku, saat air mulai membanjiri mata, telinga dan hidung gadisku. Matanya yang hijau bersinar redup, kemudian menghilang bersama jeritannya. Di dasar rawa. Satu-satunya yang kusesalkan hanyalah gadisku ini belum sempat merasakan urapan air suci pendeta. Baptis.
**
“Siapa namamu?” Tanyaku pada gadis belia yang terus saja menari di hadapanku. Gadis bermata hijau cemerlang dengan rambut basahnya yang berkibar tertiup desah angin. “Russalka” jawabnya. Suaranya murni, bening seperti denting lonceng tertiup angin.
**
Tuhan, aku hamil. Benar. Aku. Hamil. Gadis pemerah susu sapi ini hamil. Samuel. Iya. Samuel si pewaris tuan tanah. Samuel sang putra bangsawan. Aku jatuh cinta, sama, ia juga jatuh cinta. Kami bercinta, bersenggama di pondok mawarnya. Tuhan!
**
“Menarilah bersamaku, kemarilah..” Russalka menempelkan tangannya yang mungil ke tanganku. Menariknya ke tengah padang rumput yang temaram, disinari purnama yang seperti pualam. Tangan Russalka memelukku erat. Ini adalah pelukan terhangat dalam hidupku. Hangat sekaligus basah. Tangan Russalka seperti terus menerus berair, rambutnya juga tak kunjung mengering.. Ah.. Russalka..
**
“Ini ambillah, seribu keping emas. Maafkan aku Rossie..” Suara Samuel laksana belati yang merobek jantungku. “Lalu bayi ini?” Tanyaku ragu-ragu. Airmata seperti menenggelamkan mataku sendiri. “Rossie, aku tak akan mencemari secangkir susu dengan setitik noda. Kau tahu maksudku.” Jawab Samuel, melangkah keluar dari pondok mawarnya, sekalipun tak pernah menoleh kebelakang.
**
Pagi itu begitu berkabut, saat aku berpatroli mengayuh sepeda tuaku. Aroma pinus segar menggelitik hidungku. Orang-orang tampak begitu ramai mengerubungi sesuatu. Tak pernah sekalipun hutan pinus ini menjadi begitu populer. Paling-paling hanya satu-dua penyadap getah karet yang sering berada disini.
Mereka mengerumuni apa sih? Aku memacu sepeda tuaku menuju kerumunan itu. Hatiku mencelos. Itu pria ketiga yang tak bernyawa. Kejadian yang sama, persis bulan lalu saat purnama. Meski bukan di hutan ini, namun posisinya sama! Seakan tidur dalam pelukan yang damai, bahagia sampai mati! Kondisi mayatnya juga sama! Biru, layu! Seperti direndam air semalaman, namun mereka sama sekali kering. Ah! Benarkah dongeng tentang arwah air itu?
**
Aku menjalani hidup jauh dari keluargaku. Kenyang hujatan, cacian, makian. Keping emasku dirampok. Pun kesucian anak gadisku. Maaf. Aku. Terpaksa. Menggadaikan anak gadisku. Seharusnya tak kuijinkan ia lahir ke dunia. Seharusnya tak perlu aku berpura-pura bisa merawatnya. Sendirian. Tanpa Samuel. Bagaimanapun, gadisku sudah tenang bersamaNya. Maaf. Aku terpaksa. Tak ada pilihan bagi kelas pekerja hina untuk memiliki anak gadis. Sudah cukup aku tersiksa melihatnya bekerja, melayani lelaki petani yang dengan rakus meraup tubuh mungilnya. “Tuhan, terimalah gadisku, meski ia tak pernah merasai dinginnya air sucimu. Baptis ia dalam surgamu..” Doa terakhirku. Darah segar merembes mengaliri pergelangan tanganku.
**
Aku masih berdansa bersama gadis yang bernama Russalka. Entah mengapa, aku merasa dingin, begitu dingin. Seakan diselimuti air tak kasat mata. Dalam temaram rembulan aku melihat Russalka berkilau kehijauan, matanya berpendaran. Bibirnya terus saja menyenandungkan pujian-pujian seperti pembaptisan..
**
Notes:
Dalam Slavic Mythology, Rusalka adalah roh dari anak perempuan yang meninggal sebelum dibaptis,atau dibunuh ibunya dengan cara ditenggelamkan, mereka tidak akan menggangu jika manusia tidak mendekati, roh anak tersebut akan bergentayangan di sungai sekitar hutan memohon agar dibaptis supaya mereka tenang di alam baka.
Tempat hidupnya tepat di perairan dimana dia mati, pada malam hari Rusalka bisa keluar dari air, memanjat pohon, menyanyikan lagu dan menyisir rambutnya atau bergabung dengan rusalka lain untuk menari di padang rumput.
Mata rusalka menyala seperti api berwarna hijau, rambutnya berwarna kehijauan dan selalu basah,menurut beberapa legenda, jika rambut rusalka kering, maka ia akan mati , suka menggoda laki-laki, dengan menariknya melalui tarian dan nyanyiannya,lalu menenggelamkannya, laki-laki yang tergoda oleh rusalka akan mati dalam pelukannya.












D5 Creation