122 Penculikan

now browsing by category

 

Rampas Bara

by Mahabrata Liwangi @Liwangi

malam merancang kompas ke arah utara
di sana aura harta mengajak tersenyumku
tahu mengapa?
karena ada banyu yang luas

arungkan bantal dalam wajah tuan
maaf malammu menjadi gusar
petiklah senarmu
karena buah keras telah kulumat sekali teguk

03.04.11

Charlie Diculik!

(Charlie I)

Mama’s Cafe.

Sudah pukul sembilan malam, tetapi cafe ini semakin ramai. Ini hari Rabu. Seperti biasa, Alvin dan Johan sebagai bartender akan menyajikan kopi khas yang sungguh menggugah. Hanya setiap Rabu malam. Entah mengapa. Tak ada yang tahu resepnya kecuali mereka dan Sebastian, si pemilik cafe.

Aku meminta kahlua dengan sedikit es pada Alvin. “Tumben minta kahlua. Berantem sama Angel ya?” tanya Alvin centil. Bantender berpenampilan kemayu itu tahu betul jika aku memilih kahlua, artinya ada yang tak beres. Aku tersenyum.

“Bukan, Vin. Kasus baru,” jawabku enggan. Dia pun tahu aku sedang tak ingin diganggu. Dia menawarkanku untuk pindah ke sofa di sudut cafe itu. Di sana memang lebih nyaman. Aku beranjak dengan malas. Alvin membawa setoples kacang mede keju. Hahahaha, kalau ini memang sengaja dia bawa dari rumah. Buatan ibunya. Dia pun tahu aku sangat suka kacang mede keju.

Aku memejamkan mata. Penat. Kulepaskan kacamataku dan menaruhnya perlahan di meja. Kulonggarkan dasi dan meluruskan kaki. Sangat lelah.

**

Sehari yang lalu. Di ruanganku.

“Marcel! Bereskan ini!” suara Mr. Robertson mengagetkanku yang sedang menulis laporan tentang kasus pencurian berlian istri walikota minggu lalu. Mr. Robertson melempar sebuah map hijau. Oh, shit!

Aku membukanya dan menemukan foto Charlie, anak bungsu Mr. Kent. “Penculiknya meminta tebusan lima juta dolar. Sudah seminggu dan tak ada perkembangan yang baik dari kepolisian,” suara Mr. Robertson terdengar ketus.

Aku menangkat alis dan bersiul. Aku menatap bosku dan dia malah melotot. “Kamu tahu jawabannya, Marcel! Cuma kamu yang bisa!” Aku mengangkat bahu dan kulihat Mr. Robertson segera berlalu dan membanting pintu ruanganku.

Damn you, Peter,” desisku pelan sambil menatap tubuh kurusnya menjauh dari pandanganku. Aku membuka berkas yang diberikan Mr. Robertson tadi. Ah, Charlie diculik ketika sedang bermain di taman dan keadaan sepi? Mungkin kalau ramai, itu wajar. Tetapi sepi? Dia hanya bersama baby sitter dan Nancy, kakaknya. Aneh.

Aku menutup laptop dan menyambar jaketku. Pulang.

**

Tadi pagi. Di taman.

Aku mengunyah sandwich tuna pedasku sambil menatap ke arah bak pasir di depanku. Penuh mainan dan anak-anak usia balita. Ada Nancy dan baby sitternya. Tanpa Charlie. Mereka tak tahu aku di sini.

Tak sengaja aku melihat ke arah gerobak burger pada arah jam sembilan. Ada Johan di sana. Tumben. Dia tak suka burger dan ini waktunya dia ke cafe, bukan? Aku mengamati gerak-geriknya kaku. Bukan Johan yang biasa. Matanya… Matanya mengawasi sesuatu. Atau seseo… Kulihat ke arah Nancy. Ya Tuhan!

Aku beranjak dan mendekati Nancy. “Halo, Sweetie! Apa kabar? Om kangen sama kamu. Hey, Lucy! Nancy, om mau mengajakmu minum coklat panas. Mau? Lucy, kamu ikut kami. Telepon Mrs. Kent kalau kita akan pergi,” aku menggendong Nancy dan menyuruh Lucy untuk membereskan mainan gadis kecil berpipi montok itu.

Dari ekor mataku, kulihat Johan terkejut dan tak sadar menjatuhkan burgernya. Aku tersenyum tipis.

Aku mengantarkan Nancy pulang setelah mentraktirnya segelas cokelat panas. “Hai, Marcel. Terima kasih kau mengantar Nancy. Maaf aku sedang tak bisa menemanimu. Aku harus ke kantor polisi. Ini sudah sembilan hari dan…” suara Mrs. Kent yang terdengar panik membuatku serba salah.

“Katy, please. Aku yang harus meminta maaf sudah mengganggumu. Baiklah, aku permisi. Harus segera ke kantor. Ada kasus yang harus kutangani,” aku sedikit membungkuk.

“Ah, Marcel. Itu… Kamu… Maukah… ini tentang Charlie,” suara Katy memohon dengan sangat. Aku menatap mata hijaunya yang penuh kecemasan. Aku sengaja tak memberitahu keluarga Mr. Kent bahwa akulah yang mengurus semuanya.

“Semua tergantung Mr. Robertson, Katy. Permisi,” jawabku standar dan segera berlalu. Aku tak tahan melihat kesedihan itu.

**

Sore, di kantor Mr. Kent.

Aku tak bermaksud menemuinya. Kuhampiri meja satpam. Menanyakan lokasi kantin. Basa basi. Aku sudah terlalu sering ke sana. Aku sedang memperhatikan CCTV. Aku mengangguk pada satpam bertubuh tambun itu dan berjalan dengan sedikit tergesa ke arah kantin. Sekarang aku benar-benar ke sana karena Johan. Ya, dia yang kulihat pantulannya di layar CCTV. Mau apa dia ke sini?

Kubuntuti dia hingga ke kantin. Dia duduk di meja dekat jendela. Menyalakan rokok namun ditaruhnya di asbak. Aku pura-pura sibuk dengan Blackberryku. Seseorang menghampiri Jason. Aku tak terkejut. Mereka tampak serius. Untung posisiku berlawanan dengan mereka. Aku mengawasi dari kaca kantin. Adakah hubungan antara Jason dengan semua kecurigaanku? Atau ada yang terlewat?

Jason terlihat agak gugup. Tak sampai sepuluh menit, pertemuan itu selesai. Aku pun turut beranjak dan mengikuti Jason. Ia berjalan sangat cepat. Seolah takut ada yang membuntutinya, ia berulang kali menengok. Ia tak melihat siapa pun. Tentu saja. Aku ada di seberang jalan. Dia tak akan curiga.

Sudah kuduga. Dia pasti ke taman. Seperti tadi pagi. Di sana sudah ada seorang pria berkacamata hitam dan bertopi warna abu-abu. Seandainya aku bisa memungkiri bahwa itu bukanlah… Sebastian!

Ada apa antara Jason, Sebastian, dan… Mr. Kent? Penculikan itu tipuan? Atau pemerasan? Mengapa menjadi sekonyol ini? Apa yang kulewatkan? Alvin! Kuncinya ada pada Alvin! Dia pasti mengetahui sesuatu! Kuingat-ingat… Besok jadwal dia off. Bagus! Aku harus membuat janji malam ini dengannya.

**

Alvin mendekatiku. “Kok kacang medenya nganggur? Nih, Alvin bawain tiramisu cake buat Marcel. Aku melirik sedikit ke arah Alvin. Baru aku sadari malam ini dia memakai kaos dengan gambar wayang kiriman dari Angel. Aku tersenyum.

“Vin, besok ikut aku jalan yuk?”

“Ke mana?”

“Ikut sajalah. Kutunggu di taman tempat kita biasa jogging. Mau?” Alvin mengangguk dan tersenyum kenes. Dia tak pernah menolak bila jogging di taman penuh pohon maple itu. Romantis, katanya suatu ketika. Blah!

“Vin, besok pagi tolong bawa pakaian ganti ya?”

“Lho? Emang mau ngapain? Berenang?” tanyanya polos.

Aku menggeleng dan tatapan mataku hanya mengatakan agar dia diam. Terlalu banyak bicara bisa membuat Sebastian dan Jason curiga. Sebelum aku ke sini, Jason berulang kali menatapku aneh. Bibir Alvin membulat. Dia minta ijin untuk kembali bertugas. Padahal aku tahu, dia menghindari semburan kejengkelanku.

Sudah tengah malam. Cafe ini malah semakin ramai. Kudengar kalau seseorang sudah memesan khusus malam ini untuk Pesta Bujang. Hm, waktunya pulang. Angel pasti menungguku.

Ketika aku hendak menyerahkan kartu kreditku pada Jason, dia menatapku tajam dan menyerahkan secarik kertas. Aku bertanya dengan mataku dan dia hanya menggeleng. Aku mengangkat bahu. Kuputuskan segera bergegas dan menyetir pulang.

Lampu merah. Kualihkan pandangan pada kertas di dashboard yang diberikan Jason. Hanya ada angka dan huruf acak. Itu pun tak jelas. Mendadak aku sangat penat. Kukirim BBM pada Angel untuk membuatkan aku kopi. Kasus ini menyebalkan!

–bersambung—

Tentang Kita

by Denis Raditya @M0N0L09

Berawal dari mimpi, kisah kita dimulai. Ketika kau lewat, aku sedang menyelimut malam. Berharap tak ada sinar menerpaku. Ku takut, resah, gulana. Tapi kau menenangkanku, mencoba membuatku percaya akan sinar itu. Cinta, itu yang kau ajarkan padaku. Butuh 3 abad, 3 tahun, 3 bulan, 3 hari, 3 jam, 3 menit, dan 3 detik untukku memahami arti itu. Tapi kau tak pernah gersang menanam rasa indah itu di kebun hatiku. Selalu berusaha, itu yang kusuka. Aku mendambamu kasih.

Setelah aku mengenal cinta, betapa indahnya dunia. Dirubungi pelangi yang berkicauan warna-warni. Senandung sunyi menjadi notasi nada di nadi kita. Saling mendekap dalam genggaman rindu yang tak berkesudahan. Terlampiaskan oleh asmara yang tak pernah padam.

Jiwaku terselamatkan dari kegelapan. Tersadari ketika kau menanam rasa indah itu di benakku. Kau menculik hatiku, ragaku, segalaku untuk bersamamu dan aku mensyukuri itu. Terkadang kita pun saling menculik ketika malam tiba, dimana kita saling menghangatkan kisah kasih kita.

Tuhan berang akan kita, mencari rindu yang menghilang dari atas permukaan. Ia turun patroli mencari celah kita bersembunyi. Kita saling menculik, tak takut dosa, hina, ataupun cerca dan siksa. Cinta menguatkan kita dari hal itu. Kita berbeda, kita yakin, kita bisa, kita cinta. Giliran tuhan pun yang menculikmu, mengembalikanmu ke pos yang telah tersedia memang untukmu. Aku berang, berencana balas dendam akan tuhan, menculikmu kembali ke pangkuanku. Memadu rindu yang lama telah terpendam.

Hanya kau bidadari yang aku nanti. Walaupun percintaan malaikat-iblis tak direstui, biarkan aku ajari Tuhan tentang mencinta. Hiraukan dosa dan nista. Perjalanan kita abadi, lebih dari tuhan-tuhan sebelumnya dan lainnya.