124 Pemerasan

now browsing by category

 

Jalan Terakhir

by Diana Siti Khadijah @andiana

Surat ancaman itu lagi. Ini sudah yang ketiga dalam sebulan. Rumahku harus dikosongkan karena akan disegel oleh bank. Kecerobohanku menaruh surat-surat rumah di tempat yang mudah dicari oleh suamiku. Padahal rumah ini milik adikku. Kami hanya diminta mengurusnya selama dia tugas di Fukuoka.

Aku menganggapnya ancaman, bukan lagi teguran. Setelah melalui telepon, sms, dan datang malam hari, sekarang surat resminya di tanganku. Aku kebingungan. Mendapatkan uang limapuluh juta dalam sebulan?

Tak akan ada yang percaya jika aku diperas oleh suami sendiri. Suamiku bilang uang itu untuk memulai usaha ternak kambing. Ternyata untuk kawin lagi.

Aku menemui Mama Lisye. “Aku butuh uang.” Tak lama, seorang pria tambun muncul dan mengajakku ke kamar.