138 Cadaver

now browsing by category

 

Ini Hari Terakhirku

by Teddy Andika @teddyandika

Dari pertama kali bekerja di rumah sakit ini, pekerjaanku memandikan mayat, sampai sekarang. Sudah tidak terhitung, berapa mayat yang kumandikan. Mulai dari bayi sampai jompo. Hari ini cukup sibuk. Setelah selesai bertugas, baru mau istirahat, sudah dipanggil untuk kembali bekerja. Orang meninggal memang tidak mengenal waktu. Baiklah, aku masuk ke ruangan pemandian mayat. Di sana, ada mayat laki-laki penuh lebam. Sepertinya aku mengenali mayat itu. Kudekati. Benar. Ini mayat aktivis yang hilang seminggu lalu. Bukankah beritanya baru tadi pagi aku tonton, dia masih dinyatakan hilang? Aneh. Dengan sejuta tanda tanya, kumandikan mayat itu. Selesai tugasku. Ketika aku membalikkan badan. Aku terkejut. Dihadapanku berdiri seorang pria tegap berseragam. DOR!!! Lantaipun memerah. Darahku.

Bunuh Diri??

by Uswatun Hasanah @uswah_hasan

Sebuah ketukan tiba-tiba membangunkanku.

“Siapa?” tanyaku.

“Dini, Mbak.”

Aku membuka pintu kamarku, itu adikku.

“Ada apa, Din?” Aku mengusap mataku yang masih mengantuk.

“Mbak, tolong Dini.” Tiba-tiba dia sesenggukan.

“Kenapa, De?” Aku merengkuhnya. Cukup risih memeluknya begini, mengingat kami jarang berkomunikasi.

“Pacar Dini, Mbak. Dia mau nikah sama perempuan lain.”

“Mbak bisa bantu apa, De?” tanyaku bingung.

“Maaf, Mbak.” Dia menyeringai.

***

Kamarku penuh dengan orang-orang, juga polisi. Ada apa ini? Aku bertanya, tapi tak satupun yang menjawab.

Aku mengingat apa yang terakhir kali terjadi.

Dini!!

Aku menemukannya sedang mengobrol dengan polisi sambil sesenggukan.

“Mba Sari bunuh diri, Pak. Dia stres karena dia akan dinikahkan dengan lelaki yang tak dicintai.”

Aku terbelalak.

Mayat Di WC

by Diana Siti Khadijah @andiana

Aku menanti Johan yang akan mengajak David yang terobsesi untuk bedah plastik menjadi lebih ‘cantik’. Mereka berdua berjanji menemuiku di sini. Tetapi hingga saat ini belum juga kelihatan. Sementara aku masih menanti mereka, padahal harus segera mengisi kuliah sebagai dosen tamu. Aku bergegas pergi.

Ada surel dari Johan. Sangat singkat.

“David tewas. Aku sedang berusaha mencari pembunuhnya. Kejadiannya tepat ketika kami janjian hendak pergi.-Johan-“

Ketika aku sampai di tujuan, aku meminta ijin ke toilet. Aku terkejut melihat mayat David ada di sana dengan fotoku di tangannya. Tak ada luka terbuka kecuali memar di leher. Tak lama Johan muncul. “Ada pembelaan, Roy?”

Dan polisi mengatakan bahwa ada sidik jariku di mayat David.

Gejolak Bawah Tanah

by Heru Sulaksono @danheru

Tidak ada yang berubah dari dirinya. Bahkan setelah dua tahun lebih istriku meninggal, bibir pucatnya masih melengkungkan senyum indah. Walau sudah berganti jenis menjadi mayat, kedahsyatannya melayaniku di ranjang tidak berkurang satu desahan pun.

Setidaknya sampai malam ini.

Selusin pasang mata tiba-tiba menatap tajam saat kami beradu nafsu. Aku terpojok di sudut ranjang. Mata-mata itu mendekat, semakin mendekat. Permintaan mereka hanya satu. Tetapi kalau aku menolak untuk menjadi pelampiasan birahi mereka, maka aku harus rela terbenam bermeter-meter di bawah ranjang.

Kini aku di dalam tanah. Bersama keduabelas mayat istri-istriku yang geram. Kesal karena aku tidak menjamah dan memuaskan nafsu mereka selama bertaun-tahun. Dan kali ini mereka tidak lagi mempunyai ampun untukku.

Menurun

by Ika @ikavuje

Dia memang ayahku. Aku jelas mewarisi semua sifat, yang baik ataupun jeleknya. Dia punya banyak sekali musuh, dan hanya aku temannya.

Kemarin kami bertengkar, ia ngotot ingin dikubur di sebelah makam ibu. Sementara dia tahu, kami tak lagi punya uang untuk pulang ke Medan. Kami bangkrut. Tapi ia tetap memaksaku berjanji.

Sudah dua bulan sejak kematian ayah, tetap belum bisa kupulangkan ia ke Medan. Sungguh ongkos mayat lebih mahal daripada manusia hidup. Dan uangku habis untuk mengawetkan agar ayah tidak berbau. Maklum, aku hanyalah buruh pabrik.

Hari ini ibu datang dan memberitahuku di mana ia menyimpan uangnya, di dalam pot bunga mawar yang selama ini disimpannya dari ayah. Ayahku yang pembunuh.

Istri Kedua

By Bunga S. Putri @bunga_sp

Ini adalah hari pernikahanku. Betapa semua terasa menyenangkan hari ini. Make up, gaun, rangkaian bunga di tangan, keluarga, teman-teman terbaik. Ah! Benar-benar hari yang sempurna.

Aku melangkah menuju altar suci. Di sana sudah berdiri Riko, mempelai pria, calon suamiku. Ia tersenyum begitu tampan menantikan aku yang sedang berjalan ke arahnya. Sungguh, tidak sabar rasanya.

***

“Aku mencintaimu, sayang,” ucap Riko, berbisik.

“Aku juga,” jawabku seraya memeluknya.

Ia mengajakku ke sebuah ruangan. Gelap.

“Sayang, aku ingin jujur padamu. Sebelum dirimu, aku sudah pernah menikah. Tapi sungguh, aku benar-benar mencintaimu.”

Aku terpaku. Kata-katanya membuatku gemetar. Kemudian ia menyalakan lampu. Sebuah kamar tidur. Bertabur bunga mawar, dan sesosok wanita cantik yang sangat pucat.

“Ia istri pertamaku.”