152 Little House

now browsing by category

 

Rumah Impian

by Vira Cla @veecla

Pernah aku impikan rumah mewah penuh harta melimpah. Kala aku berharap berada di balik tembok tinggi yang menghalangi mentari menyapa pagiku. Perkampungan yang terselip di antara rumah-rumah beratap menjulang, di sanalah dahulu aku tinggal. Tak terima hidup melarat di rumah bapuk, kutekadkan untuk kelak bisa tinggal di rumah mewah penuh harta melimpah.

Tak ada malam tanpa peluh. Malam yang dingin harusnya membuatku menggigil. Tapi, sudah kubilang aku bermimpi punya rumah mewah penuh harta melimpah. Maka, malam akan selalu dengan peluh. Keringat-keringat yang mengkristal menjadi kekayaan. Mungkin saja, bukan?

Dan demikianlah, semenjak aku beranjak remaja hingga aku menjelma perempuan dewasa yang mempesona, peluh keringatku perlahan mengabulkan impianku. Di sinilah sekarang, hunianku yang mewah penuh harta melimpah.

“Plak…”

“Buk…”

Tampar sana, toyor sini. Banting sana, pukul sini. Di balik tembok-tembok yang dingin, tak ada pengayoman yang kudapat. Beginikah nasib yang harus kujalani sebagai istri simpanan? Seorang mantan pelacur yang hanya ingin merubah nasib.

Aku ingin kembali. Rumah kecil bapuk yang sesak, tapi penuh harta yang tak terganti. Bapak, Ibu, aku rindu.

Dream House

by Dian Harigelita @harigelita

It was originally the cardboard box our tape deck came in with. Mom hadn’t the heart to throw the box out, so she turned it into a playhouse, complete with doors and windows which I could lock from the inside with a rubber-band thingy she ever so cleverly designed. Every weekend, I would ‘camp-out’ in my playhouse and tune into easy-listening music on the radio. The cool DJs were my late night friends….

Well, THAT’S just about how I’ve ended up here. Enough about me, tell me how you got your jobs! I’ll be waiting for your call at YOU-ROCK! That’s 968-7625! Next up, Michael Jackson’s “One Day in Your Life”, enjoy!

Istanaku

by Andyanita @neeetha

Istanaku jauh dari keramaian
Hanya berteman dengan alam
Ilalang dan angin adalah kawan
Hujan dan panas adalah teman

Bermain dengan alam sangat menenangkan
Jauh dari bising kota yang menjemukan
Hanya kesenangan yang datang
Hanya rinai tawa berkumandang

Terserah orang bilang pedalaman
Asal jiwa tersenyum itu bukan halangan
Terserah orang bilang itu kuno
Bagiku ini bukan tentang peradaban

Terdengar kicau-kicau burung
Bagai nyanyian bidadari surgawi
Terhampar semai penuh ilalang
Istana yang aku kagumi

Angin berjalan memainkan wajahku
Awan putih sebagai payung
Alam hijau sebagai permadani
Terlukis senyuman tak henti

Ini tentang istanaku
Ini bukan tentang istanamu
Aku menikmatinya
Aku mengasihinya

Tak Seperti Itu

by Ika @ikavuje

“Aku mencintaimu.”

Itulah yang membuatnya menikahiku dan memboyongku ke rumah kecil di perbukitan. Jauh dari mall dan juga hal-hal modern yang selama ini aku gilai.

Aku tidak menyesal, karena akupun mencintainya. Dalam dan setulus hati. Melebihi kegilaanku pada belanja dan perkotaan.

Satu putri dan satu putra, dua anak kami. Mereka menjalani home schooling. Kendra dan Rira.

Suamiku adalah seorang peneliti. Pekerjaannya membutuhkan ketenangan dari hiruk pikuk kota. Menurutmu aku tertekan? Sedih? Kau mau mengalami nasib seperti aku?

Jika kau melihat gubuk kami seperti reyot dan ringkih, maka selamat, kau tertipu. Di dalam sini sangat lengkap. Semua dinding dan perabotan rumah terbuat dari kaca, kecuali tempat tidur dan tempat duduk. Aku bahkan menonton televisi pada meja makan.

Di bawah tanah ada ruangan khusus, laboratorium suamiku. Di sanalah ia biasa kutemani bekerja. Pekerjaanku hanya sebagai penggoda saja.

Aku bisa tetap melihat mall dari lemari pakaianku. Kecanggihan masa depan diciptakan suamiku dalam rumah ini. Apa lagi yang kucari di luar sana.

Sesekali tentu boleh bila aku ingin tamasya bersama anak-anak ke pantai atau makan es krim di pusat kota, dengan suamiku juga.

Tak percaya? Perlu bukti? Silahkan berkunjung bila kau penasaran. Pintu rumah kecil kami selalu terbuka. Jangan lupa kata kuncinya ada di paragraf utama cerita ini. Aku tunggu ya.

Pulang

by Yuya @yuyaone

Pulang. Pulang hanyalah sebuah perjalanan. Sama halnya seperti pergi ataupun menuju. Hanya saja pulang memiliki tujuan yang satu. Rumah.

Entahlah, ada perasaan yang berbeda bahkan ketika aku hanya mengucap, “Aku pulang..”. Rasanya tak akan sama seperti saat ku bilang, ”Aku pergi..”. Seolah ada kekuatan asing yang menguasaiku. Sesuatu yang entah apa itu. Aku menyebutnya kekuatan rindu.

Rindu itu hidup. Hidup layaknya makhluk. Tiap orang hidup bersama rindunya masing-masing. Sesekali sesama rindu akan saling menyapa di udara. Rindu-rindu yang berbalas, menyenangkan. Namun tak sedikit rindu yang menggantung sendiri di angkasa, tak menemukan pasangannya.Rindu yang sendirian, menyedihkan.

Rindu itulah yang memaksa pulang. Saat rinduku ingin bertemu dengan rindu yang lain, rindu yang mendiami rumah. Rindu yang setia menunggu selamanya.

Ada kalanya kekuatan rindu itu begitu kuat, saat dua rindu itu bertemu di udara. Sudah pasti daya tariknya dua kali lebih hebat daripada sebuah rindu saja. Namun jangan salah, rindu yang satu pun terkadang sangat dahsyat. Bahkan bisa jadi melebihi kumpulan ribuan rindu. Sebuah rindu yang lama sendiri, frustrasi. Tak hanya terbang pelan mengawang, dia berlari, melesat hebat, menarik tuannya. Hingga sang tuan menyerah dan pasrah. Dengan ikhlas dia berkata,”Baiklah, aku akan pulang..”

Begitupun rinduku saat ini. Sepertinya dia memohon untuk bertemu dengan rindu lainnya, rindu yang setia mendiami rumah yang agung. Bahkan kuasanya atas diriku semakin menjadi-jadi saja. Terlebih di saat-saat tertentu, saat kudengar alunan azan bergema dari menara-menara masjid. Rinduku berontak.

“Tuhan, aku rindu. Aku ingin pulang..”

Pulang

by te@embunbeningpagi

Bapak Ibu, aku pulang….

Masih 5-6 jam lagi perjalanan ini kembali dimulai. Wiwik menghela nafas panjang. Baru saja menempati bangku kereta api pagi ini yang akan membawanya. Pulang.

Hampir  tujuh tahun sejak kepergiannya untuk membebaskan gelisah diri yang terus mendesak. Tanpa pamit Wiwik pergi meninggalkan orangtuanya dan rumah yang telah melindunginya sekian lama.

Pergi ke kota yang akan ditinggalkannya ini,  tanpa bekal uang yang cukup, hanya sebuah alamat dan nomer telepon seseorang yang telah berjanji untuk membebaskannya dari gelisah itu. Indra.

Seseorang itu bernama Indra, sosok yang dikenalnya lewat sebuah iklan lowongan kerja di koran. Mencoba melamar, dan dijawab oleh Indra, yang bekerja sebagai HRD di perusahaan itu. Wiwik akan pergi menemuinya meski belum pernah melihatnya.

Indra sungguh-sungguh memenuhi janji, hingga satu setengah tahun saling mengenal Wiwik pun rela satu tempat tinggal bersamanya. Meski tanpa ikatan pernikahan. Mereka saling membutuhkan dan itu cukup. Hidup memang keras di kota ini, Indra sebenarnya telah memiliki keluarga yang bahagia, tapi Indra masih menginginkan Wiwik.

Wiwik tak pernah menuntut Indra. Dia hanya butuh pembebasan gelisah dirinya, sebuah pembuktian cita-cita kepada orangtuanya.

Bapak Ibu, aku rindu…

Kereta telah berjalan 2 jam lalu. Untung saja bangku sebelah tak berpenumpang. Gerbong ini sepi, tak penuh, bukan musim libur. Menghela nafas lagi, melanjutkan bayangan kelu kerinduan.

Bagi seorang yang tak pernah pulang 7 tahun itu waktu yang sangat lama untuk melewatkan kenangan, bahkan sebuah restu tiap tahun dari orangtua. Wiwik memang tak pernah pulang. Ada banyak alasan yang menghentikan semua keinginan pulangnya. Jika itu alasan uang, mungkin sedikit benar, bagi Wiwik takkan pernah cukup, meski bagi beberapa orang uang yang dimiliki Wiwik saat ini sangat cukup untuk bekal pulang.

Alasan pembuktian sebuah cita-cita mungkin tidak juga, toh Wiwik kini menjabat di bagian penting dari perusahaan itu.

Mungkin Indra sebagai alasan. Hubungannya dengan Indra adalah sebuah kegelisahan baru yang ingin ditutupinya. Setelah Indra meninggal setahun lalu, Wiwik baru menyadari bahwa sesungguhnya dia mencintai Indra.

Masih jelas tergambar saat menerima berita kepergian Indra. Ditutupnya pintu kamar, gelap tanpa lampu, seharian menangis tanpa suara, hingga sakit memeluk erat di hati. Dan keesokannya berkerudung hitam, mengenakan kacamata hitam, Wiwik ke tempat pemakaman Indra. Tanpa terlihat, dia melihat istri Indra dan 2 anak mereka. Wiwik menangis diam bersama mereka dari kejauhan. Lirih mengucapkan selamat jalan kepada Indra.

Kembali menghela nafas.

Dua jam lagi akan tiba.  Wiwik kelelahan dalam kesedihan dan memutuskan untuk tidur. Perjalanan masih panjang.

Ibu, aku memanggilmu dalam rinduku…

Menggeliat. Wiwik bangun dari kelelahan. Sebentar lagi kereta api akan tiba di stasiun Tugu. Wiwik pun bersiap, mengemasi bawaan. Menurut Harno sahabatnya dari desa, perjalanan Wiwik diteruskan dengan bis TransJogja menuju terminal Jombor.

Kini sudah ada bis TransJogja. Wiwik telah melewatkan banyak hal. Bahkan bencana gempa dan letusan gunung pun hanya dibacanya dari koran nasional. Tanpa ada keinginan pulang.

Kereta api telah tiba. Wiwik mencoba mencari halte yang dimaksud Harno, dia mendapatkan dan beruntung jalur bis yang dimaksud tepat waktu. Nyaman.

Ibu telah meninggal, 3 tahun setelah Wiwik meninggalkan desa itu. Harno yang memberi kabar, dan juga memohonnya untuk pulang. “Kasihan Bapak,” katanya kepada Wiwik. Bersikeras. Entah mengapa dia selalu saja menahan keinginan untuk pulang.

“Ibu, aku juga rindu tapi aku tak sanggup pulang dan bersujud mencium kaki ibu. Aku terlalu kotor dan tak layak sebagai anak Ibu,” lirih dalam hati.

Aku pulang….

Bis TransJogja telah sampai di terminal Jombor. Wiwik pun telah keluar dari pintu terminal itu. Hari semakin sore.

“Den Wiwik?” sebuah suara dari andong yang tepat berhenti di depannya.

“Pakde Tarjo?” Wiwik mengenali laki-laki tua didalam andong itu. Dia bapaknya Harno, sahabatnya.

“Naik Den, saya antar. Harno memberitahu saya bahwa den Wiwik akan pulang,” Pakde Tarjo berucap dalam bahasa jawa yang halus. Wiwik pun segera naik.

“Den, saya ikut berbela sungkawa ya, Bapak den Wiwik meski sudah hampir 40 hari lalu.” Wiwik hanya terkesiap. Dia sudah tahu Bapak telah meninggal, tapi ucapan bela sungkawa dari Pakde Tarjo seolah membuka duka Wiwik yang dikubur.

“Terima kasih Pakde. Maaf sudah merepotkan Pakde dan Bude Tarjo, juga Harno. Oya, Pakde Bude dapat sungkem dari Harno,” Wiwik berkata juga dalam bahasa Jawa halus.

Perjalanan masih 30 menit lagi. Sebentar lagi dia pulang. Andong Pakde Tarjo yang mengantarkan ke rumahnya.

Dusun Cimpling. Tinggal sedikit lagi jarak yang membawanya. Rumahnya sudah terlihat. Kecil di tengah hamparan sawah yang menguning. Rumahnya masih sendirian, tetangga terdekat hanya Pakde Tarjo, itu pun berjarak hampir 150 m. Puncak gunung Merapi masih terlihat. Cantik.

“Hoooop…”Pak Tarjo menghentikan andongnya. Wiwik segera turun dan segera mengucap teri ma kasih.

“Den Wiwik, tidak apa-apa sendirian? Nanti malam biar simboknya Harno yang menemani, agar besok dapat membantu persiapan 40 hari Bapak ya.”

“Iya Pakde, terima kasih.”

Pakde Tarjo segera berpamitan dan berbalik kembali ke rumah.

Wiwik memandangi rumah kecilnya. Berkelebatan semua bayang kenangan masa kecil, masa keras kepalanya. Memasuki rumah seperti tersedot dalam arus lorong waktu. Ditelusurinya setiap ruang, membelai tiap dinding. Disentuhnya pigura foto Bapak dan Ibunya. Air mata yang tertahan, menggenang mengalir dalam kerinduan.

“Andai saja aku pulang sebelum semuanya pergi, pasti aku bersujud memohon restu. Andai saat itu…”

Suara Ilahi memanggil dari kejauhan. Wiwik bergegas mengambil air Wudhu. Di tengah ruangan rumah dibentang alas. Sholat yang pertama ketika dia kembali ke rumah ini. Ada doa kerinduan bagi Bapak Ibu, memohon ampun. Juga bagi Indra. Cinta yang tak dimiliki.

“Bapak Ibu, Wiwik sudah pulang.”

Rumah Pelangi

by Irene Wibowo @sihijau

Kotak beratap dengan dua jendela. Antar ruang hanya sebatas tembok tipis. Setiap sudut dinding dipenuhi banyak warna, seakan menggambarkan keindahan warna dari pelangi yang terpancar di langit biru.

Nyatanya, sekarang hanya mimpi.

“ KAU GILA!” teriak si perempuan tua.

“ KAU YANG GILA! KAU UDAH MENYAKITI AKU!” balas teriak si lelaki.

“ APA? KAU YANG MULAI! LIHAT KAU NANTI!”

Teriakan tak pernah berhenti. Hanya ada aku di sudut rumah yang kecil dan mulai sepi ini. Tidak ada lagi makan bersama. Tidak ada lagi canda tawa. Hanya ada luka yang saling berlomba untuk digoreskan. Hingga hitam meliputi tanpa kata maaf terucap.

“ KEBAKARAN! “ teriak orang –orang di sekitar rumah itu.