172 Kecil

now browsing by category

 

Budak Belian

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Dasar anak kecil cengeng! Ayo, jangan menangis. Waktu kita sedikit. Kemasi barangmu dan segera naik ke mobil. Cepat, Handi!” teriak Pak Baron tak sabar.

Dengan gemetar, Handi memasukkan tiga kaos butut dan satu celana panjang lusuh ke dalam ranselnya. Ia nyaris lupa dengan foto buram yang tergeletak di laci kecil itu. Langkah kecilnya tergesa menuruni tangga menuju truk Pak Baron. Di dalamnya sudah ada duabelas anak seumuran dengannya. Wajah mereka semuanya panik tetapi tak berdaya. Handi duduk di sebelah anak bertopi biru.

“Kamu tahu? Kita akan dibawa ke pulau terpencil untuk dijadikan budak. Tentu saja tanpa diupah,” ujarnya tanpa diminta. Handi hendak bertanya tetapi dilanjutkan, “Tak akan ada yang bisa keluar dari sana hiduphidup.”

Ya Tuhan! Jerit Handi terkejut.

“Percuma kamu teriak atau mencoba kabur. Mobil pengawasnya saja ada empat. Mereka dibayar mahal oleh pemilik proyek. Pak Baron adalah kepala mandornya. Dia… Pamanku,” bocah itu melepaskan topinya dan tersenyum getir.

“Namaku Ega. Mungkin ini adalah percakapan kita yang terakhir. Jangan bertingkah konyol. Bapak dan Kakakku sudah menjadi korban. Aku bisa merasakan kesepian yang kaualami. Sekarang aku sama denganmu. Yatim piatu.”

“Aku Handi. Terima kasih atas penjelasannya. Aku…”

“Tak ada waktu untuk bertanya mengapa. Jalani saja. Hidup kita memang sudah diaturnya begini oleh Tuhan,” Ega menepuk pundak Handi.

Handi menengadahkan kepala dan tetiba saja ia merasa sakit yang amat sangat.

Sapa yang Berbalas

by Ika @ikavuje

Itu dia, Anggi, ia sekolah di SMA Puri Cendana, teman akrabnya Raina dan Ayu, tapi Ayu meninggal karena kecelakaan, dua minggu yang lalu. Sekarang sahabatnya hanya tinggal Raina.

Ini hari minggu, Anggi suka jalan-jalan ke mall, hanya saat beginilah aku bisa bersamanya.

Gadis ini manis sekali, aku tergila-gila, tapi kurasa ia tak  mengetahuinya. Sering kali aku tersenyum kepadanya, namun ia tak membalas.

Anggi sudah punya pacar, Alfi namanya. Pria yang manis dan ramah, rajin menjamah maksudku. Berkali-kali kupergoki mereka bermesra di mobil, dan pria ini sering mengajak Anggi ke hotel, untunglah Anggi menolak.

Anggi yang cantik, apakah kau buta? Ada aku yang lebih menghormatimu dan mencintaimu. Aku siap kau bawa kemana saja, kau gantung atau campakkan di mana saja, asal satu, terimalah cintaku, dan jangan pernah menggantiku dengan yang lain. Mau kan?

Besok sudah Senin, saatnya Anggi pergi dengan yang lain. Aku terlalu kecil untuk memuat buku pelajarannya. “Sampai jumpa hari Minggu, Anggiku. Ah, percuma, toh ia takkan dengar,” kataku saat ia menggantungku di belakang pintu.

Tiba-tiba Anggi kembali, “Hei tas kecilku, sampai ketemu hari Minggu,” katanya tersenyum.

Glek?!