181 Arab

now browsing by category

 

Fatima

by Yuya @yuyaone

Duduk di depan meja riasnya. Seorang wanita. Cantik. Kulitnya putih. Hidungnya mancung. Matanya indah, dengan bulu mata lentik dan alis yang lebat. Tipikal keturunan Arab. Kamu tahu artis sinetron Nabila Syakieb? Secantik itulah dia.

Hanya saja, jalan hidupnya tak secantik parasnya. Ada dendam dalam hembusan nafasnya, keluar dari dua lubang hidungnya yang mancung itu. Ada tatapan kebencian, terpancar dari kedua matanya yang indah itu. Aku yang menularkan kebencian itu.

Dia membenci Fatima. Sekedar mendengar nama Fatima saja membuat telinganya sakit.

“Nama itu terlalu Arab, aku tidak suka,” katanya.

“Memang kenapa kalau Arab? Kenapa harus tidak suka?” tanyaku.

“Aku tak benci Arab. Aku hanya benci wajahku yang seperti Arab. Aku benci Fatima!”

Harusnya aku tak perlu bertanya, aku sudah tahu reaksinya akan seperti apa.

“Fatima, bukankah nama itu indah. Nama yang Rasulullah berikan untuk putrinya. Begitu pun dengan Arab, negeri tempat para nabi berasal.”

“Oh begitukah? Negeri para nabi berasal? Ah, justru kini aku tahu alasan Tuhan mengutus para nabi ke tanah Arab! Aku benci Fatimaaa..!”

Reaksinya semakin menjadi. Dengan  tangannya ditutup kedua kupingnya sambil berteriak-teriak. Dilemparkannya barang-barang di atas meja ke arah cermin hingga pecah, kacanya berserakan di lantai.

Aku hanya bisa tersenyum. Aku berhasil. Bukankah aku sudah bilang, aku yang menebarkan virus kebencian dalam dirinya.

“Aku juga benci. Aku benci lelaki Arab itu, Fatima..” ucapku lirih.

Namaku Sumiyatun. Aku tak secantik dia. Wanita jawa dengan kulit coklat dan wajah yang biasa saja. Samar-samar aku masih melihat dirinya. Lalu, lama-kelamaan semuanya menjadi gelap. Kemudian yang tersisa hanya aku, terbaring di atas lantai marmer. Dingin, mendadak terasa dingin. Bukan dinginnya lantai marmer yang kurasa. Dingin sesuatu yang basah. Cairan keluar dari tubuhku. Merah. Cairan ini adalah darah, pelan merambat, menggenangi tubuhku yang diam. Aku sekarat.

Yang aku ingat, laki-laki itu bernama Faruq. Laki-laki Arab. Salah satu anak dari majikanku di Riyadh ini. Usianya baru 17 tahun. Namun kelakuannya seperti iblis yang ribuan tahun mendiami neraka jahanam. Aku tidak ingat berapa kali dia telah memaksaku memuaskan nafsu binatangnya. Yang aku ingat, atas sepengetahuan ibunya, dia mendorongku dari lantai empat rumah ini. Hingga akhirnya aku di sini, terkapar, mati bersama janin dalam perutku yang urung menjadi Fatima.

Min Zhulumati Ila Nur

by Johan Mahardi @jpmahardi

Beauty

Tulang pipinya tinggi dan warna kulitnya kuning kecoklatan seperti wanita semenanjung Italia. Rambutnya brunette, ada tahi lalat di bawah telinga kanannya. Baru kali ini aku melihatnya begitu terbuka, dengan t-shirt dan celana pendek. Peluhnya berkilat-kilat di seluruh permukaan kulit. Satu-dua bulir keringat masih melintas di dahi dan lehernya.

Namanya Farha. Ia menyeka wajah dan lehernya dengan handuk.

“Asma and Shereen are waiting. Yalla!” ajaknya sambil menepuk bahuku, lalu beranjak masuk ke ruang ganti pakaian. Aku mengikutinya.

Dari ruang ganti aku menuju lobby, menunggunya hingga selesai berpakaian dan berdandan.

“Ta’al! Let’s go!“ katanya begitu keluar ke lobby dan langsung berjalan ke pintu depan.

Seluruh tubuhnya sekarang terbungkus abaya dan kerudung hitam, lengkap dengan cadar. Hanya tas ranselnya yang masih kukenali, berwarna kombinasi biru tua dan kuning dengan tulisan besar Fitness First. Wanginya semerbak. Bentuk alis dan matanya selalu memukau, bermaskara, bak mata bidadari.

Ability

Kendaraannya sama seperti kebanyakan orang Qatar, Land Cruiser 4WD warna putih, 4500 cc. Cara berkendaranya pun sama: melaju 100 km per jam, sesuai dengan batas kecepatan di rambu lalu lintas, kadang-kadang lebih, lincah bergerak ke kanan dan kiri menyalip mobil-mobil yang melaju lebih lambat.

You look nervous,” katanya sambil menoleh ke arahku sebentar.
This is the way we drive…” ia tertawa renyah.
Matanya tak nampak di balik kacamata hitam pekat. Membuat seluruh wajahnya nyaris tertutup warna hitam sama sekali.

Mobil berbadan besar dan berat memang lebih aman bagi wanita. Tetapi, dengan tenaga 4500 cc dan jalan yang lebar, mulus, dan lurus, tak ada yang bisa menahan godaan untuk menekan pedal gas sedalam mungkin. Hanya ketika melewati speed camera kecepatan mobil sedikit berkurang.

Lambaian pelepah pohon-pohon kurma di tepi jalan menandakan angin bertiup sangat kencang. Termometer di dashboard menunjuk angka 36 derajat celcius, padahal hari sudah mulai beranjak senja. Setiba di depan Landmark Mall, lahan parkir sudah penuh sesak hingga mobil-mobil mulai parkir di pinggir jalan.

We will park here,“ katanya sambil menoleh ke kanan.
Aku menengok mengikuti arah wajahnya, tapi tak ada tempat parkir disitu.

Mobil menepi pelan, lantas naik ke trotoar. Off-road. Melaju di dataran pasir berbatu-batu, berguncang-guncang, lalu berhenti seketika di tengah situ. Debu mengepul dari roda-rodanya yang berhenti mendadak.

Aku membuka pintu dan melangkah keluar. Angin bertiup kuat, panas menggelegak. Pasir yang terbawa terbang terasa seperti ditaburkan ke wajah. Beruntung gadis Arab ini mengenakan cadar dan abaya melindungi tubuhnya.

Mindset

Hanya satu menit berjalan dari tempat parkir ke pintu mall sudah membuat keringat bercucuran di balik pakaian, deras, bagaikan berada dalam sauna. Namun kemudian udara berubah sejuk di dalam mall.

Setelah melewati Zara, United of Benetton, dan Gap, gerai Starbuck nampak di sudut mall. Asma dan Shereen sudah duduk di sofa lebar berwarna ungu. Di meja tergeletak beberapa buku, lembar-lembar kertas, sebuah iPhone, iPad, dan dua mug berlogo Starbuck.

Asma mengenakan celana jeans dan atasan kaus berlengan panjang warna hijau. Kerudungnya berwarna cerah, kombinasi hijau muda, kuning dan salur-salur merah. Ia berasal dari Mesir. Sedangkan Shereen, dari Libanon, nampak selalu paling menarik perhatian, mulai dari rambut pirangnya yang tergerai, lipstik merah, hingga hak tinggi di sepatu birunya. Badannya yang molek terbungkus t-shirt pink ketat. Sensual.

We’ve been waiting for you, my dear,” sambut Shereen sambil tersenyum. Aksen British-nya enak didengar.

Asma pun menyapa dan menggeser posisi duduknya untukku.

How’s your country, Asma? Any good news?”

Asma menghadapkan layar iPad-nya ke arahku. Headline berita tentang Mesir dari Al Jazeera – English edition.

Bahrain, Yemen, Syria, and Libya are on the edge now. You will hear more of them very soon,” jawabnya.

I can tell you the story of my country if you want. We’ve been there, more than ten years ago…

Topik menarik untuk memulai jamuan kopi. Berselancar di iPad, menelusuri krisis demi krisis dari Asia Tenggara, ke Amerika, Yunani, sampai Timur Tengah. Sekadar pemanasan sebelum menu diskusi utama.

Vision

Mall selalu padat di hari Jumat. Lelaki dan perempuan dari berbagai kebangsaan, beragam bahasa, berbeda warna kulit dan cara berpakaian, silih berganti mengunjungi Starbuck. Hanya kami yang tak beranjak, asyik sendiri dan ribut di sudut.

Empat jam dan dua mug Toffee Nut Latte berlalu. Buku-buku terbuka lebar, kertas-kertas berlogo Qatar University berserakan. Kini jemariku bersiap di layar iPad, menunggu Farha menyimpulkan hasil kerja kami.

“Thayib. We will start the preamble with something like this,” matanya melirikku. Aku mengangguk.

We could not argue about woman roles before we talk about woman as human being,” paparnya memulai, lambat, seperti mendikte.

Human has basic needs and rights for freedom and opportunity. Freedom from fear. Freedom of choice. Freedom to speak, to express mind and feelings. Opportunity to get education, to get job, to participate in politics, and many more.” Ia berhenti dan melirikku lagi.

Once the basic needs and rights are saved and guaranteed equally, then we can start to discuss about woman roles as mother, wife, and daughter, in comparison to man roles as father, husband, and son…

Aku memandang Asma dan Shereen bergantian, memastikan. Mereka pun mengangguk setuju.

Aku mulai mengetik dengan tanggal di awal catatan: 22 April 2011.

****