187 Jogja
now browsing by category
Kisah Klasik Untuk Masa Depan
by Damay Dante @nongdamay
Hari ini pembagian raport kenaikan kelas dan berakhirlah setahun yang berat ini. Berat? Ya, mungkin untukku.
Harus mengalami masa transisi dari SMP ke SMA, pelajaran baru, teman baru dan hal-hal baru lainnya. Sebenarnya adaptasi bisa dilakukan beberapa bulan namun menjadi beda untukku karena di bulan kedua menjadi anak SMA aku jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
Dua minggu di rumah sakit dan dua minggu istirahat di rumah membuatku tidak saja ketinggalan pelajaran sehingga nilai-nilaiku sangat mengecewakan tapi juga membuatku telat beradaptasi dengan teman-teman sekelas. Bahkan sampai akhir tahun ajaran ini, belum ada teman akrabku di kelas.
Liburan ini sekolah mengadakan study tour ke Yogyakarta. Berhubung jumlah siswa dari kelasku yang ikut sesuai dengan satu buah bus, maka kami semua berada di dalam bus yang sama. Padahal beberapa kelas lain dicampur dengan kelas lainnya.
Aku naik ke bus dan mengambil posisi tempat duduk dekat kaca. Perjalanan ke Yogya panjang, aku harus dekat kaca biar bisa melihat pemandangan, pikirku. Satu persatu teman sekelasku naik ke bus, Rina menaruh tasnya di sampingku “Mila, aku duduk sama kamu ya,” langsung aku balas dengan anggukkan.
Mulanya aku tidak nyaman mengikuti study tour ini, namun selama perjalanan kami bersenang-senang, bernyanyi-nyanyi. Mulailah rasa nyaman berada di antara mereka aku rasakan.
Menjelang tengah malam, sampailah kami di Yogyakarta. Di penginapan kami dibagi beberapa kamar. Jumlah siswi di kelasku yang ikut ada sepuluh orang, sekamar berisi empat orang, lalu dua lagi di campur dengan kelas lain. Namun atas nama kebersamaan dua orang itu kami ajak ke kamar kami. “Ngga apa kita desek-desekkan tidurnya, yang penting kita bersepuluh bisa deketan,” kata Yuni. Aku tidak menyangka kalau kelas ini sekompak itu.
Keesokkan harinya kami mulai melakukan tour ke beberapa candi yang ada. Saat makan siang, kami berkumpul bersama sambil bercerita. Di sini aku mulai merasa mengenal teman-temanku. “Ke mana saja aku selama ini sampai tidak mengenal mereka?” batinku.
Malam harinya acara bebas, aku dan teman-teman sekelas berencana untuk menyelusuri malioboro yang tidak jauh dari penginapan kami. Kemudian kami naik becak menuju tempat bakpia dan mengelilingi kota Yogya di malam hari.
Kembali ke penginapan ternyata kami semua belum puas berkumpul. Akhirnya kami bersepuluh sepakat untuk malam ini akan tidur sekamar. Malam itu kami lewati dengan bercerita, curhat sampai tidak terasa sudah mendekati pagi.
***
Hari ini tepat 10 tahun yang lalu sejak malam itu dan kami masih tetap bersama. Yogyakarta memberikan kesan untuk kami dan aku khususnya, yang akan terus kamis simpan. Persahabatan.
Bersenang-senanglah karena hari ini akan kita rindukan
Di hari nanti. Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan
-sheila on 7-
Alasanku Kembali Ke Jogja
by Anginbiru @B7RU
Siang ini kawasan UGM terasa sangat lengang. Di jalan Kaliurang—yang biasanya sangat padat kendaraan pada jam kantor—tak banyak terlihat motor atau mobil yang berlalu lalang. Aku seperti raja jalanan, yang bisa dengan santainya mengendarai motorku dengan kecepatan sedang di tengah jalan.
Ya, hari ini memang H+1 lebaran. Sudah lama aku tidak menginjakkan kakiku di Jogja sejak aku diterima bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta. Seandainya tidak ada momen lebaran seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah kembali lagi ke Jogja. Selain orang tua, tak ada alasan lain yang membuatku ingin kembali ke Jogja. Meskipun banyak teman, tapi kenangan buruk yang terjadi di Jogja membuatku ingin selalu pergi sejauh mungkin dari sini.
**
“Plak!” Sebuah tamparan keras tepat mendarat di pipiku. “Plak!” Kali ini tamparan kedua itu mengenai mataku. Aku hanya bisa diam. Tak berani berbuat apapun.
Seseorang berpakaian necis itu masih saja berdiri di depanku, memasang wajah beringasnya. Aku hanya berani menunduk. Bahkan ketika ia menyuruhku menatap wajahnya, aku tetap tak bergeming. Aku hanya bisa meremas-remas tanganku sendiri, mencoba menghilangkan ketakutanku di sana.
“Plak!” Lagi-lagi ia menamparku. Aku semakin ketakutan.
**
“Aku sayang kamu!” tuturku di sebuah kesempatan makan siang.
Lelaki itu tersenyum, dan menjawab, “Aku juga”.
Dan saat itu aku benar-benar mengagumi sosok yang sedang duduk di depanku. Ia terlihat sempurna dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Ya, meskipun aku bukan orang yang sempurna untuknya, tapi aku mencoba untuk mencintainya dengan cara yang sempurna. Mungkin sangat terdengar klise, tapi memang itu yang terjadi. Aku mencintainya utuh, termasuk segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
Ia pernah berkata bahwa ia sangat beruntung memiliki aku sebagai kekasihnya. Aku pun tersanjung. Aku hanya ingin mencoba untuk membahagiakan siapapun yang menjadi kekasihku. Aku hanya ingin ia tak pernah menyesal pernah mengenal diriku.
**
Perkenalanku dengannya memang berlangsung sangat cepat. Aku mengenalnya dari sebuah komunitas yang kebetulan sama-sama kami ikuti. Tak butuh waktu lama untuk mendapati kenyataan bahwa kami memang saling membutuhkan. Hanya satu minggu. Aku dan dia sudah saling mengikat janji untuk saling setia. Candi Prambanan lah yang menjadi saksi ikrar kami.
**
Lamunanku tiba-tiba buyar, ketika ibu menepuk pundakku.
“Makan dulu, nak. Ibu baru selesai masak semur ayam kesukaanmu,” kata ibu, tersenyum tulus.
“Nggih, Bu,” kataku sambil berjalan menuju ruang makan.
Ya, hanya ini alasanku untuk kembali ke Jogja.












D5 Creation