B 111 Kata Mei
now browsing by category
Aku Wanita Biasa yang Berjiwa Rapuh
by Kellin Fermosa @phobiaamatikus
Wanita yang rapuh, itulah gambaran nyata diriku. Rapuh, sebab suami memilih wanita lain. Rapuh, sebab suami menampariku, mencaci, aku pun kerap dikasari. Sementara aku membungkam di sudut kamar dengan berjuta sesal dan sekecup luka kekecewaan.
Rapuh, selalu. Suamiku gemar menyayat lenganku dengan mistar besi yang berujung runcing. Runcing yang mendahaga, mengiba haus darah.
Rapuh, selalu. Suamiku yang membopong wanita lain. Wanita yang tak kukenal. Asyik-masyuk mereka mendesah dalam kamarku dan suamiku. Aku tak dapat berbuat banyak. Hanya bisa melarikan diri kepadaNya dengan hati yang terkoyak.
**
“Siapa wanita itu?” Kudengar nada suaraku miris dan bergetar. Setengah mati aku melawan takut.
Tanpa basa-basi, ia menyayat-nyayat lenganku dengan runcingnya ujung mistar besi itu.
Gara-gara Wallpaper
by Kellin Fermosa @phobiaamatikus
“Siapa wanita yang berpose anggun dalam wallpaper handphone-mu ini, Sayang?” Kecurigaan Lea, kekasih Reno ternyata berhasil membuatnya jengah.
“Bukan siapa-siapa. Kenapa? Apa kau cemburu? Cemburu buta!” Hahahaha… Seketika Reno menggelak tawa besar-besar, menciptakan kejengkelan Lea. Sekonyong-konyong ia beranjak dari bangku kafe berhambur keluar. Reno tergeragap, lantas mengejar Lea dan menahan langkah kencangnya.
“Kau ini kenapa? Kau tidak mendengari penjelasanku dulu! Benar itu bukan siapa-siapa. Wanita itu hanya sepupuku yang kini bermukim di Jakarta, Nona Cantik!” Nafas Reno tersengal-sengal. Wajahnya memelas. Ia berusaha meyakini kekasihnya.
“Lantas, mengapa kau pasang wanita itu sebagai wallpaper handphone-mu?
Reno bergeming. Bungkam. Diam seribu bahasa. Ia memutar balik otaknya mencari alasan paling rasional.
“Mengapa tidak aku saja?”
Jakarta, 06 Juni 2011. Pukul: 20:30
Spesial untuk: #Mr.Elwadi
Sebuah Elegi Percintaan
by Shany Shadiq Halim
Kita bercumbu sejenak di bawah sorot remang lampu kamarmu. Tidak bercinta, hanya bercumbu ringan saja. Sesekali diselingi gelak tawa, sebab lelucon slapstick-mu yang membikin perutku nyeri.
“Stevan, aku yakin, kita dapat membangun apa yang kita cita-citakan di masa depan nanti,” desisku lembut sembari mengendus wangi maskulin di lingkar leher jenjangnya. Ia menautkan bibir penuhnya ke bibir tipisku. Mengecup lembut dan basah.
“Kau telah kujadikan dermaga terakhir, tempat ‘kan kulabuhkan seluruh hidupku,” sahutnya puitis.
“Ah, romantis sekali kau malam ini, Stevan. Namun, aku masih belum mampu meyakinkan ayah dan ibu tentang hubungan khusus kita.”
***
Steve mati dibunuh orang suruhan ayah. “Aku Stevanus, akan mencintaimu selalu, Andre Hutauruk. Kunanti kau di surga.”
Canting
by Ade Yusuf @sibangor
Kain putih yang membentang di gawangan kayu itu kini sudah bermotif bagus sekali. Di bawahnya ada canting berisi malam merah, tergeletak di atas wajan panas.
Ayahku murka sambil merusak kain yang belum selesai kulukis.
“Kau telah mencoreng mukaku dengan menjadi lelaki pembatik,” teriak ayah mengayunkan tongkat rotannya, namun ibu menghalangi tubuhku. Aku kabur.
Dalam pelarianku selama dua puluh tahun, aku berhasil melampiaskan dendam dengan menjadi pembatik terkenal. Tapi tak pernah sebersit pun berniat untuk pulang walau hari ini adalah 40 hari wafatnya.
Bagiku ayah sudah lama mati. Sejak ia mencoba menghancurkan mimpiku dan memisahkanku dengan ibu.
Kupandangi motif itu lekat. Bukan motif biasa. Menyerupai simbol yang berisi pesan, “Maafkan ayah. Kutitipkan ibu padamu.”
Rumah Keong
by Damay Dante @nongdamay
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan ini mengiringi langkahku menuju panggung untuk menerima penghargaan. Malam ini adalah malam penganugerahan “10 Arsitek Muda”. Aku mendapatkan untuk kategori ide unik.
Setelah acara usai, aku dihampiri reporter majalah interior terkenal di kota ini. Mereka akan membuat profileku di edisi mendatang.
Reporter: “Selamat untuk penghargaannya, boleh cerita dari mana anda mendapat ide membuat rumah yang unik ini?”
Aku: “Iya terima kasih, Waktu itu sebenarnya saya sedang berlibur ke pantai untuk melepas penat dari pekerjaan. Sambil duduk santai di pinggir pantai, saya mengamati sekumpulan keong yang ada. Lalu saya mendapatkan ide untuk mengaplikasikan konsep rumah keong itu menjadi rumah tinggal. Jadi berkat keong saya mendapat penghargaan ini.”
Ratu Komentar
by Damay Dante @nongdamay
Seminggu ini anakku disibukkan dengan tugas membuat maket rumah. Hari ini tugasnya dikumpulkan. Aku mengantarnya sampai ke kelas untuk membawakannya. Maklumlah, tugas ini cukup berat untuk ukuran anak SD.
Aku tidak langsung pulang, aku lihat anakku dan teman-temannya saling melihat maket rumah yang mereka buat.
Tapi aku terkejut saat seorang teman anakku berceloteh yang kurang baik, “Chika, maket kamu nggak bagus!” Aku melihat perubahan ekspresi Chika. Kemudian anak itu mendatangi teman-teman lainnya dan berkomentar, “Maket kamu kecil!”, “Maket kamu kurang oke nih!” dan komentar lainnya.
Bel berbunyi, sang guru masuk dan meminta tugas untuk dikumpulkan. Shinta nama anak yang tadi mengomentari maket teman-temannya dipanggil ke depan. Ternyata dia tidak membuat tugas.
Kenapa Jadi Gelap?
by Damay Dante @nongdamay
Seminggu meninggalkan rumah sepertinya aman-aman saja, tidak ada yang berubah secara signifikan. Namun saat menyalakan lampu ruang tamu, “Kenapa jadi ga terlalu terang, ya?”
Di tengah kebingunganku, Dino anakku masuk ke dalam rumah, “Din, kok ruang tamu mama jadi agak gelap ya?”
“Lampunya Dino ambil satu buat kamar aku, soalnya tiba-tiba mati.”
“Ya terus buat apa kamu beli lampu lagi?” sambil melihat bungkusan yang Dino pegang.
“Buat kamar aku”
“Lho, kok?”
“Iya.. pas aku pasang di kamar aku ternyata gelap, ini ruang tamu juga gelap. Jadi aku beli lampu baru aja.”
Dino ke kamarnya sesaat kemudian kembali lagi, “Nih ma, aku balikin lampunya.”
“Ya kamu pasang lagi dong, mama mau istirahat.”












D5 Creation