B 111 Kata Mei

now browsing by category

 

Percintaan di Meja Gambar

by Hajral Sofi @HajralSofi

Kita melukis bersama. Kau melukis di selembar kertas kanvasku, aku melukis di selembar kertas kanvasmu.

**

Kau mendongakkan kepalamu manja. Menagih sekecup kehangatan dari sebuah ciuman bibir. Aku tak menolaknya. Umur yang benar terpaut jauh, sedikitpun tak mengurungkan niatku untuk tetap menjaga keutuhan, keharmonisan hubungan kita. Sepasang insan yang tengah digerayangi kasih dan sayang.

Setelah puas kita mengulum masing bibir, kau menyelonjorkan kedua kakimu. Menagih sedapnya pijatan-pijatan hangat dari jemari lincahku. Seketika jemariku menari, mengitari betis hingga kedua lututmu. Bahkan jemariku menjalar, memijat mesra itumu. Sekarang kau menagih sebuah uluman. Kurang ajar sekali! Batinku.

**

Kita kerap menghabiskan waktu bersama di meja gambar itu. Sekedar melukis, juga berciuman, dibarengi mesra-mesraan. “Aku mencintaimu ayahku.”

TanjungPinang, 09 Juni 2011. WIB.

Aku Wanita Biasa yang Berjiwa Rapuh

by Kellin Fermosa @phobiaamatikus

Wanita yang rapuh, itulah gambaran nyata diriku. Rapuh, sebab suami memilih wanita lain. Rapuh, sebab suami menampariku, mencaci, aku pun kerap dikasari. Sementara aku membungkam di sudut kamar dengan berjuta sesal dan sekecup luka kekecewaan.

Rapuh, selalu. Suamiku gemar menyayat lenganku dengan mistar besi yang berujung runcing. Runcing yang mendahaga, mengiba haus darah.

Rapuh, selalu. Suamiku yang membopong wanita lain. Wanita yang tak kukenal. Asyik-masyuk mereka mendesah dalam kamarku dan suamiku. Aku tak dapat berbuat banyak. Hanya bisa melarikan diri kepadaNya dengan hati yang terkoyak.

**

“Siapa wanita itu?” Kudengar nada suaraku miris dan bergetar. Setengah mati aku melawan takut.

Tanpa basa-basi, ia menyayat-nyayat lenganku dengan runcingnya ujung mistar besi itu.

Kepergian Sahabatku, Tessa

by Kellin Fermosa @phobiaamatikus

Aku menghirup aroma kenangan. Entah siapa yang menebarkan, barangkali aku sendiri.

**

Di tengah sepetak ruang sunyi ini, berjejer kokoh sepasang meja gambar lucu yang saling berhadapan. Tempat aku dan Tessa, sahabatku yang mengidap peyakit kanker hati di usianya yang masih 12 tahun, bersama melukis. Melukis apa saja. Melukis kehidupan, semangat, dan masa depan.

“Aku ingin pergi jauh, jauuuuuh sekali. Rasa-rasanya aku akan melakukan perjalanan jauh itu ke surga yang dijanjikan tuhan.” Tessa berucap.

“Kalau begitu aku ingin ikut!” sahutku sumringah.

Tessa menyambut sahutanku dengan bibir manyun.

“Tak boleh, kau tetap disini. Kirimi aku lukisan masa depan aku dan kau ke surga.”

Aku menangis, lantas mendekapnya.

“Biar aku lelap dalam dekapmu.”

Gara-gara Wallpaper

by Kellin Fermosa @phobiaamatikus

“Siapa wanita yang berpose anggun dalam wallpaper handphone-mu ini, Sayang?” Kecurigaan Lea, kekasih Reno ternyata berhasil membuatnya jengah.

“Bukan siapa-siapa. Kenapa? Apa kau cemburu? Cemburu buta!” Hahahaha… Seketika Reno menggelak tawa besar-besar, menciptakan kejengkelan Lea. Sekonyong-konyong ia beranjak dari bangku kafe berhambur keluar. Reno tergeragap, lantas mengejar Lea dan menahan langkah kencangnya.

“Kau ini kenapa? Kau tidak mendengari penjelasanku dulu! Benar itu bukan siapa-siapa. Wanita itu hanya sepupuku yang kini bermukim di Jakarta, Nona Cantik!” Nafas Reno tersengal-sengal. Wajahnya memelas. Ia berusaha meyakini kekasihnya.

“Lantas, mengapa kau pasang wanita itu sebagai wallpaper handphone-mu?

Reno bergeming. Bungkam. Diam seribu bahasa. Ia memutar balik otaknya mencari alasan paling rasional.

“Mengapa tidak aku saja?”

Jakarta, 06 Juni 2011. Pukul: 20:30
Spesial untuk: #Mr.Elwadi

Sebuah Elegi Percintaan

by Shany Shadiq Halim

Kita bercumbu sejenak di bawah sorot remang lampu kamarmu. Tidak bercinta, hanya bercumbu ringan saja. Sesekali diselingi gelak tawa, sebab lelucon slapstick-mu yang membikin perutku nyeri.

“Stevan, aku yakin, kita dapat membangun apa yang kita cita-citakan di masa depan nanti,” desisku lembut sembari mengendus wangi maskulin di lingkar leher jenjangnya. Ia menautkan bibir penuhnya ke bibir tipisku. Mengecup lembut dan basah.

“Kau telah kujadikan dermaga terakhir, tempat ‘kan kulabuhkan seluruh hidupku,” sahutnya puitis.

“Ah, romantis sekali kau malam ini, Stevan. Namun, aku masih belum mampu meyakinkan ayah dan ibu tentang hubungan khusus kita.”

***

Steve mati dibunuh orang suruhan ayah. “Aku Stevanus, akan mencintaimu selalu, Andre Hutauruk. Kunanti kau di surga.”

Lukisan Anji

by Shany Shadiq

04-06-2011

“Lihat, apa yang kaulukis? Lukisan abstrakkah? Aku tidak mengerti kau melukis apa!” desisku seraya membenahi pernak-pernik lukis yang berserakan di meja gambar bergambar Hello Kitty itu. Sekilas, lukisan itu tampak seperti pria dewasa yang tengah menyusu payudara sesosok wanita. Lantas aku menampar adikku, Anji. Ia merintih kesakitan. Kurang ajar sekali! Batinku. Belajar dari mana bocah 6 tahun ini melukis sesuatu yang berbau vulgar seperti itu? Aku merampas kerah bajunya dan menariknya kasar. Seketika kepalanya terdongak, wajahnya memerah. “Ngg..nggak kok kak, itu.. it…,” Anji terbata-bata tak dapat melontarkan sepotong kalimat pun.

02-06-2011

Anji mengintip dari celah pintu kamar. Ia menyaksikan ibunya yang tengah berselingkuh dan menyusui sesosok lelaki di tepi ranjang.

Canting

by Ade Yusuf @sibangor

Kain putih yang membentang di gawangan kayu itu kini sudah bermotif bagus sekali. Di bawahnya ada canting berisi malam merah, tergeletak di atas wajan panas.

Ayahku murka sambil merusak kain yang belum selesai kulukis.

“Kau telah mencoreng mukaku dengan menjadi lelaki pembatik,” teriak ayah mengayunkan tongkat rotannya, namun ibu menghalangi tubuhku. Aku kabur.

Dalam pelarianku selama dua puluh tahun, aku berhasil melampiaskan dendam dengan menjadi pembatik terkenal. Tapi tak pernah sebersit pun berniat untuk pulang walau hari ini adalah 40 hari wafatnya.

Bagiku ayah sudah lama mati. Sejak ia mencoba menghancurkan mimpiku dan memisahkanku dengan ibu.

Kupandangi motif itu lekat. Bukan motif biasa. Menyerupai simbol yang berisi pesan, “Maafkan ayah. Kutitipkan ibu padamu.”

Rumah Keong

by Damay Dante @nongdamay

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan ini mengiringi langkahku menuju panggung untuk menerima penghargaan. Malam ini adalah malam penganugerahan “10 Arsitek Muda”. Aku mendapatkan untuk kategori ide unik.

Setelah acara usai, aku dihampiri reporter majalah interior terkenal di kota ini. Mereka akan membuat profileku di edisi mendatang.

Reporter: “Selamat untuk penghargaannya, boleh cerita dari mana anda mendapat ide membuat rumah yang unik ini?”

Aku: “Iya terima kasih, Waktu itu sebenarnya saya sedang berlibur ke pantai untuk melepas penat dari pekerjaan. Sambil duduk santai di pinggir pantai, saya mengamati sekumpulan keong yang ada. Lalu saya mendapatkan ide untuk mengaplikasikan konsep rumah keong itu menjadi rumah tinggal. Jadi berkat keong saya mendapat penghargaan ini.”

Ratu Komentar

by Damay Dante @nongdamay

Seminggu ini anakku disibukkan dengan tugas membuat maket rumah. Hari ini tugasnya dikumpulkan. Aku mengantarnya sampai ke kelas untuk membawakannya. Maklumlah, tugas ini cukup berat untuk ukuran anak SD.

Aku tidak langsung pulang, aku lihat anakku dan teman-temannya saling melihat maket rumah yang mereka buat.

Tapi aku terkejut saat seorang teman anakku berceloteh yang kurang baik, “Chika, maket kamu nggak bagus!” Aku melihat perubahan ekspresi Chika. Kemudian anak itu mendatangi teman-teman lainnya dan berkomentar, “Maket kamu kecil!”, “Maket kamu kurang oke nih!” dan komentar lainnya.

Bel berbunyi, sang guru masuk dan meminta tugas untuk dikumpulkan. Shinta nama anak yang tadi mengomentari maket teman-temannya dipanggil ke depan. Ternyata dia tidak membuat tugas.

Kenapa Jadi Gelap?

by Damay Dante @nongdamay

Seminggu meninggalkan rumah sepertinya aman-aman saja, tidak ada yang berubah secara signifikan. Namun saat menyalakan lampu ruang tamu, “Kenapa jadi ga terlalu terang, ya?”

Di tengah kebingunganku, Dino anakku masuk ke dalam rumah, “Din, kok ruang tamu mama jadi agak gelap ya?”

“Lampunya Dino ambil satu buat kamar aku, soalnya tiba-tiba mati.”

“Ya terus buat apa kamu beli lampu lagi?” sambil melihat bungkusan yang Dino pegang.

“Buat kamar aku”

“Lho, kok?”

“Iya.. pas aku pasang di kamar aku ternyata gelap, ini ruang tamu juga gelap. Jadi aku beli lampu baru aja.”

Dino ke kamarnya sesaat kemudian kembali lagi, “Nih ma, aku balikin lampunya.”

“Ya kamu pasang lagi dong, mama mau istirahat.”